• Tidak ada hasil yang ditemukan

HAPUSNYA PERJANJIAN

Dalam dokumen BUKU MATERI POKOK HUKUM BISNIS (Halaman 70-84)

c) Ganti rugi saja;

d) Pembatalan perjanjian;

e) Pembatalan perjanjian disertai ganti rugi.

waktu perjanjian tersebut oleh Pasal 1066 ayat (3) KUH Perdata dibatasi berlakunya hanya untuk lima tahun.

3. Para pihak atau undang-undang dapat menentukan bahwa dengan terjadinya peristiwa tertentu maka perjanjian akan hapus

Misalnya, jika salah satu pihak yang mengadakan perjanjian meninggal dunia maka perjanjian tersebut akan hapus, hal ini dapat dilihat dalam perjanjian pemberian kuasa (Pasal 1813 KUH Perdata), perjanjian kerja (Pasal 1603 j KUH Perdata).

4. Pernyataan menghentikan perjanjian (opzegging)

Opzegging dapat dilakukan oleh kedua belah pihak atau salah satu pihak.

Opzegging hanya ada pada perjanjian-perjanjian yang bersifat sementara misalnya dalam perjanjian kerja, perjanjian sewa-menyewa.

5. Perjanjian hapus karena putusan hakim

Misalnya dalam perjanjian sewa-menyewa rumah, apabila pemilik rumah pada waktu menyerahkan rumah untuk disewa tidak menentukan jangka waktu berakhirnya sewa sehingga menimbulkan kesulitan untuk menghentikan sewa-menyewa tersebut maka hal ini dapat dilakukan dengan putusan Pengadilan Negeri (Pasal 10 ayat (3) PP No. 55 Tahun 1981).

6. Tujuan perjanjian telah tercapai

Apabila tujuan perjanjian tersebut telah tercapai maka perjanjian tersebut akan berakhir. Misalnya dalam perjanjian jual-beli sepeda, apabila pembeli sudah melunasi harga sepeda yang dibeli dan penjual telah menyerahkan sepeda tersebut kepada pembeli maka perjanjian tersebut telah berakhir.

7. Dengan perjanjian para pihak

Perjanjian akan hapus dengan adanya perjanjian antara para pihak yang membuatnya. Misalnya dalam perjanjian sewa-menyewa rumah dibuat perjanjian oleh para pihak yang menentukan bahwa sewa rumah tersebut berakhir 3 (tiga) tahun yang akan datang.

1) Sebutkan rumusan perjanjian menurut Pasal 1313 KUH Perdata! Apa keberatan yang dapat dikemukakan terhadap rumusan tersebut?

2) Dalam Hukum Perjanjian, apa yang dimaksud dengan asas kebebasan berkontrak? Dimanakah asas tersebut dapat diketemukan dan adakah pembatasannya?

3) Menurut asas konsensualisme kapankah perjanjian itu lahir? Adakah pengecualiannya?

4) Sebutkan syarat-syarat sahnya perjanjian dan di mana hal itu diatur?

5) Kapankah seseorang itu dianggap cakap untuk membuat perjanjian? Apa akibatnya jika orang yang tidak cakap itu membuat perjanjian?

6) Ditinjau dari akibat hukum yang ditimbulkan, perjanjian dibedakan menjadi beberapa macam, sebutkan dan jelaskan secara singkat!

7) Apa yang dimaksud dengan wanprestasi? Apa syaratnya dan kapan seseorang itu dinyatakan wanprestasi?

8) Jelaskan bagaimanakah cara memperingatkan debitur agar ia memenuhi prestasinya?

9) Sebutkan dan jelaskan apa saja sanksi yang dapat dijatuhkan bagi debitur yang melakukan wanprestasi!

10) Sebutkan apa saja yang dapat menyebabkan perjanjian menjadi hapus!

Petunjuk Jawaban Latihan

1) Menurut Pasal 1313 KUH Perdata adalah: “Suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih”.

Perumusan tersebut oleh para sarjana dianggap kurang memuaskan, karena dianggap mengandung kelemahan-kelemahan yaitu

a) Kata “…. Suatu perbuatan ….” dapat meliputi perbuatan hukum yaitu perbuatan yang dapat menimbulkan akibat hukum dan perbuatan biasa yaitu perbuatan yang tidak menimbulkan akibat hukum. Sedangkan perjanjian merupakan perbuatan hukum, karena LATIHAN

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut!

akibat hukum yang timbul dari suatu perjanjian memang dikehendaki oleh para pihak. Oleh karena itu, kata perbuatan dalam Pasal 1313 KUH Perdata tersebut lebih tepat apabila diganti dengan kata “perbuatan hukum”.

b) Pasal 1313 KUH Perdata tersebut kurang lengkap, sebab hanya menggambarkan perjanjian sepihak saja. Hal ini dapat dilihat dari perumusan: “….. satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih”. Perumusan tersebut seolah-olah memberikan pengertian bahwa di satu pihak hanya ada kewajiban, sedangkan di pihak yang lain hanya ada hak saja. Perjanjian yang demikian merupakan perjanjian sepihak. Padahal yang dimaksudkan oleh Pasal 1313 KUH Perdata termasuk perjanjian yang timbal balik. Oleh karena itu, agar dapat mencakup baik perjanjian sepihak maupun perjanjian timbal balik, maka sebaiknya perumusannya ditambah dengan kata-kata: “… atau kedua belah pihak saling mengikatkan dirinya ...”.

c) Perumusan Pasal 1313 KUH Perdata itu dianggap terlalu luas, karena dari perumusan pasal tersebut dapat termasuk di dalamnya perbuatan-perbuatan dalam lapangan hukum keluarga. Sedangkan yang dimaksudkan adalah hanya perbuatan dalam lapangan hukum harta kekayaan saja.

2) Asas kebebasan berkontrak

Asas kebebasan berkontrak ini erat sekali kaitannya dengan isi, bentuk dan jenis dari perjanjian yang dibuat. Asas ini terdapat dalam Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata yang menyatakan bahwa “semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai Undang-undang bagi mereka yang membuatnya”. Asas ini dapat disimpulkan dari kata ”semua” yang mengandung 5 makna yaitu setiap orang bebas:

a) untuk mengadakan atau tidak mengadakan perjanjian;

b) mengadakan perjanjian dengan siapa pun;

c) menentukan bentuk perjanjian yang dibuatnya;

d) menentukan isi dan syarat–syarat perjanjian yang dibuatnya;

e) untuk mengadakan pilihan hukum, maksudnya yaitu bebas untuk memilih pada hukum mana perjanjian yang dibuatnya akan tunduk.

Kebebasan berkontrak dibatasi dengan campur tangan penguasa yang bertindak sebagai pelindung terhadap pihak yang secara ekonomis lebih

lemah kedudukannya, misalnya besarnya suku bunga sudah ditentukan oleh pemerintah.

3) Menurut asas konsensualisme, perjanjian itu lahir apabila sudah tercapai kesepakatan dari para pihak mengenai hal-hal pokok yang menjadi obyek perjanjian dan tidak perlu adanya formalitas tertentu selain yang telah ditentukan Undang-undang.

Terhadap asas konsensualisme itu ada perkecualiannya yaitu oleh Undang-undang ditetapkan formalitas tertentu untuk beberapa macam perjanjian dengan ancaman batalnya perjanjian tersebut apabila tidak memenuhi bentuk yang ditetapkan, seperti misalnya:

a) perjanjian penghibahan yang berupa benda tak bergerak harus dengan akta notaris;

b) perjanjian perdamaian harus dengan bentuk tertulis;

c) perjanjian kerja di laut harus dengan akta.

4) Pasal 1320 KUH Perdata menentukan bahwa untuk sahnya suatu perjanjian harus memenuhi empat syarat yaitu

a) sepakat mereka yang mengikatkan dirinya;

b) kecakapan untuk membuat suatu perjanjian;

c) suatu hal tertentu;

d) suatu sebab yang halal.

5) Orang yang dianggap cakap untuk membuat suatu perjanjian adalah orang yang telah dewasa yaitu orang-orang yang telah mampu untuk melakukan suatu perbuatan hukum atau cakap menurut hukum.

Syarat sepakat mereka yang mengikatkan dirinya dan syarat kecakapan untuk membuat suatu perjanjian merupakan syarat subyektif dari syarat sahnya suatu perjanjian, karena menyangkut orang-orang atau subyek yang mengadakan perjanjian. Syarat subyektif ini apabila tidak dipenuhi dalam pembuatan perjanjian maka perjanjian tersebut dapat dimintakan pembatalan (vernietigbaar) oleh pihak yang lemah yaitu pihak yang tidak cakap atau pihak yang memberikan perizinan secara tidak bebas.

Yang dapat meminta pembatalan dalam hal seorang anak yang belum dewasa adalah anak itu sendiri apabila ia sudah dewasa atau orang tua atau walinya dan untuk seseorang yang berada di bawah pengampuan maka yang meminta pembatalan perjanjian adalah pengampunya.

Sedangkan untuk seseorang yang telah memberikan perizinannya secara tidak bebas maka orang itu sendiri yang dapat meminta pembatalan

perjanjian. Namun demikian selama pembatalan tersebut belum dilaksanakan maka perjanjian itu masih tetap berlaku sebagai perjanjian yang sah dan mengikat kedua belah pihak yang membuatnya.

6) Ditinjau dari segi akibat hukum yang ditimbulkan dalam perjanjian maka perjanjian dibedakan menjadi beberapa macam yaitu sebagai berikut.

a) Perjanjian obligatoir

Merupakan perjanjian yang hanya menimbulkan hak dan kewajiban di antara para pihak. Dengan kata lain, perjanjian obligatoir merupakan perjanjian yang menimbulkan perikatan.

b) Perjanjian liberatoir

Merupakan perjanjian yang isinya bertujuan untuk membebaskan para pihak dari suatu kewajiban hukum tertentu. Perjanjian ini maksudnya adalah untuk menghapuskan perikatan yang ada di antara para pihak tersebut.

c) Perjanjian kekeluargaan

merupakan perjanjian yang terdapat dalam lapangan hukum keluarga, misalnya perkawinan.

d) Perjanjian pembuktian

Para pihak bebas dan berwenang untuk mengadakan perjanjian mengenai alat-alat bukti yang akan berlaku di antara mereka. Para pihak juga menentukan sendiri kekuatan pembuktian suatu alat bukti. Perjanjian yang demikian ini sering disebut sebagai perjanjian pembuktian dan termasuk dalam perjanjian di lapangan hukum acara.

e) Perjanjian kebendaan

Perjanjian ini merupakan perjanjian yang bertujuan untuk mengalihkan atau menimbulkan, mengubah atau menghapuskan hak-hak kebendaan. Perjanjian kebendaan ini merupakan pelaksanaan dari perjanjian obligatoir.

7) Wanprestasi adalah suatu keadaan yang dikarenakan kelalaian atau kesalahannya, debitur tidak dapat memenuhi prestasi seperti yang telah ditentukan dalam perjanjian.

Adapun bentuk-bentuk dari wanprestasi yaitu a) tidak memenuhi prestasi sama sekali;

b) memenuhi prestasi tetapi tidak tepat waktunya;

c) memenuhi prestasi tetapi tidak sesuai atau keliru.

Dalam hal bentuk prestasi debitur dalam perjanjian yang berupa tidak berbuat sesuatu, maka sejak kapan debitur melakukan wanprestasi yaitu pada saat debitur berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan dalam perjanjian. Sedangkan bentuk prestasi debitur yang berupa berbuat sesuatu yang memberikan sesuatu apabila batas waktunya ditentukan dalam perjanjian, maka menurut Pasal 1238 KUH Perdata debitur dianggap melakukan wanprestasi dengan lewatnya batas waktu tersebut.

Dan apabila tidak ditentukan mengenai batas waktunya maka untuk menyatakan seorang debitur melakukan wanprestasi, diperlukan adanya surat peringatan tertulis dari kreditur yang diberikan kepada debitur.

8) Cara memperingatkan debitur agar ia memenuhi prestasinya, yaitu dengan surat peringatan tertulis yang disebut dengan somasi. Somasi adalah pemberitahuan atau pernyataan dari kreditur kepada debitur yang berisi ketentuan bahwa kreditur menghendaki pemenuhan prestasi seketika atau dalam jangka waktu seperti yang ditentukan dalam pemberitahuan itu.

9) Apabila debitur melakukan wanprestasi maka ada beberapa sanksi yang dapat dijatuhkan kepada debitur, yaitu

a) membayar kerugian yang diderita kreditur, disingkat ganti rugi Adapun wujud kerugian yang harus diganti oleh debitur dapat diperinci dalam tiga unsur: biaya (konsten) yaitu segala pengeluaran atau perongkosan yang nyata-nyata telah dikeluarkan oleh kreditur, rugi (schaden) yaitu kerusakan yang sungguh-sungguh menimpa barang atau harta benda kreditur yang diakibatkan oleh kelalaian debitur, dan bunga (interesten) yaitu kehilangan keuntungan yang akan didapat oleh kreditur jika debitur tidak lalai.

b) pembatalan perjanjian

Mengenai pembatalan perjanjian diatur dalam bagian kelima Bab I buku III KUH Perdata, karena berdasarkan anggapan Undang- undang bahwa terjadinya wanprestasi itu merupakan suatu syarat batal. Anggapan tersebut tidak benar sebab menurut Pasal 1266 ayat (1) dan ayat (2) KUH Perdata dapat disimpulkan bahwa syarat untuk pembatalan perjanjian adalah:

1) adanya wanprestasi dari debitur;

2) perjanjian harus timbal balik;

3) pembatalan perjanjian berdasarkan putusan hakim.

c) peralihan risiko

Yang dimaksud dengan risiko adalah kewajiban untuk memikul kerugian jika terjadi suatu peristiwa di luar kesalahan salah satu pihak, yang menimpa barang yang menjadi obyek perjanjian.

d) membayar biaya perkara apabila sampai diperkarakan di muka hakim

Jika sampai terjadi suatu perkara di depan hakim, maka debitur sebagai pihak yang kalah harus membayar biaya perkara.

10) Yang dapat menyebabkan hapusnya perjanjian, yaitu a) ditentukan dalam perjanjian oleh para pihak;

b) undang-undang menentukan batas berlakunya suatu perjanjian;

c) para pihak atau undang–undang dapat menentukan bahwa dengan terjadinya peristiwa tertentu maka perjanjian akan hapus;

d) pernyataan menghentikan perjanjian (opzegging);

e) perjanjian hapus karena putusan hakim;

f) tujuan perjanjian telah tercapai;

g) dengan perjanjian para pihak.

Perjanjian adalah suatu perbuatan hukum antara dua pihak atau lebih yang saling mengikatkan dirinya untuk menimbulkan hak dan kewajiban. Perjanjian merupakan salah satu sumber dari perikatan di samping sumber-sumber lain. Hal ini ditegaskan dalam Pasal 1233 KUH Perdata yang menyatakan bahwa “tiap-tiap perikatan dilahirkan baik karena perjanjian, baik karena undang-undang”. Perikatan mempunyai pengertian yang abstrak sedangkan perjanjian merupakan suatu hal yang konkret atau merupakan suatu peristiwa. Perikatan yang lahir dari perjanjian, akibat-akibatnya memang dikehendaki oleh kedua belah pihak yang membuat perjanjian.

Dalam Hukum Perjanjian dikenal adanya beberapa asas yang merupakan pedoman atau dasar aktivitasnya perjanjian. Asas-asas tersebut adalah asas konsensualisme, asas kebebasan berkontrak, asas pacta sunt servanda, asas itikad baik dan asas kepribadian. Di samping memperhatikan asas-asas tersebut, maka agar perjanjian yang dibuat itu sah harus memenuhi syarat-syarat sahnya perjanjian yang diatur di dalam Pasal 1320 KUH Perdata, yaitu

1. sepakat mereka yang mengikatkan dirinya;

RANGKUMAN

2. adanya kecakapan untuk membuat perjanjian;

3. suatu hal tertentu;

4. suatu sebab yang halal.

Perjanjian yang terdapat di dalam KUH Perdata dapat diklasifikasikan menjadi beberapa macam, yaitu perjanjian obligatoir, perjanjian liberatoir, perjanjian kekeluargaan, perjanjian pembuktian dan perjanjian kebendaan. Perjanjian yang diatur dalam Buku III KUH Perdata adalah perjanjian obligatoir, yang dapat dibedakan lagi menjadi perjanjian sepihak dan perjanjian timbal balik, perjanjian konsensuil, formil dan riil, perjanjian bernama dan perjanjian tidak bernama atau jenis baru.

Ada kalanya perjanjian itu tidak dapat dilaksanakan dengan sempurna karena adanya wanprestasi. Bentuk-bentuk wanprestasi itu meliputi tidak memenuhi prestasi sama sekali, memenuhi prestasi tetapi tidak tepat waktunya, memenuhi prestasi tetapi tidak sesuai dengan isi perjanjian. Akibat adanya wanprestasi tersebut kreditur dapat menuntut pemenuhan perjanjian dengan disertai ganti rugi atau tanpa ganti rugi, pembatalan perjanjian disertai ganti rugi atau tanpa ganti rugi, ganti rugi saja.

Selanjutnya perjanjian itu dapat berakhir karena ditentukan dalam perjanjian oleh para pihak, Undang-undang menentukan batas berlakunya suatu perjanjian, para pihak atau undang-undang dapat menentukan bahwa dengan terjadinya peristiwa tertentu maka perjanjian akan hapus, pernyataan menghentikan perjanjian (opzegging), karena putusan hakim, karena tujuan perjanjian telah tercapai dan karena adanya perjanjian dari para pihak.

1) Istilah perjanjian merupakan terjemahan dari istilah bahasa Belanda dari kata ….

A. overeenkomst B. overeenkomen C. verbintenis D. verbinden

TES FORMATIF 1

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!

2) Perjanjian merupakan salah satu sumber perikatan. Istilah perikatan itu merupakan terjemahan kata ….

A. overeenkomst B. overeenkomen C. verbintenis D. verbinden

3) Rumusan perjanjian adalah hubungan hukum antara dua pihak atau lebih berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum adalah pendapat dari ….

A. Subekti

B. Sudikno Mertokusumo

C. Sri Soedewi Masjchoen Sofwan D. Abdulkadir Muhammad

4) Sarjana yang menerjemahkan istilah verbintenis dengan istilah perutangan adalah ….

A. Subekti

B. Sudikno Mertokusumo

C. Sri Soedewi Masjchoen Sofwan D. Abdulkadir Muhammad

5) Pasal-pasal dalam Buku III KUH Perdata boleh disimpangi manakala para pihak telah membuat ketentuan sendiri, ini sesuai dengan sifat Hukum Perjanjian yang ….

A. pemaksa B. pelengkap C. konsensuil D. obligatoir

6) Suatu perjanjian yang dibuat secara sah itu mengikat mereka yang membuatnya sebagaimana layaknya UU, ini merupakan cerminan dari asas ….

A. konsensualisme B. kebebasan berkontrak C. pacta sunt servanda D. itikad baik

7) Perjanjian itu hanya berlaku bagi pihak-pihak yang membuatnya saja, kecuali ditentukan sebaliknya, ini merupakan cerminan dari asas ….

A. asas konsensualisme B. kebebasan berkontrak

C. pacta sunt servanda D. kepribadian

8) Agar suatu perjanjian yang dibuat menjadi perjanjian yang sah, maka harus memenuhi syarat ....

A. ada sepakat mereka yang mengikatkan dirinya B. ada kecakapan untuk membuat perjanjian C. suatu hal tertentu

D. semua benar

9) Suatu perjanjian yang penandatanganannya dilakukan karena adanya paksaan dari salah satu pihak, melanggar syarat sahnya perjanjian tentang ….

A. sepakat mereka yang mengikatkan dirinya B. kecakapan untuk membuat perjanjian C. suatu hal tertentu

D. suatu sebab yang halal

10) Objek perjanjian harus merupakan barang-barang dalam perdagangan, ini sesuai dengan syarat sahnya perjanjian tentang ….

A. sepakat mereka yang mengikatkan dirinya B. kecakapan untuk membuat perjanjian C. suatu hal tertentu

D. tidak bertentangan dengan UU

11) Perjanjian yang hanya menimbulkan hak dan kewajiban saja bagi para pihak adalah perjanjian ….

A. obligatoir B. liberatoir C. kekeluargaan D. pembuktian

12) Perjanjian yang bertujuan untuk mengalihkan, mengubah atau menghapuskan hak-hak kebendaan adalah perjanjian ….

A. obligatoir B. liberatoir C. kekeluargaan D. kebendaan

13) Perjanjian yang hanya menimbulkan kewajiban pada satu pihak dan hak pada pihak lainnya adalah perjanjian ….

A. sepihak B. timbal balik C. riil

D. formil

14) Perjanjian yang menimbulkan hak dan kewajiban pada masing-masing pihak adalah perjanjian ….

A. sepihak B. timbal balik C. riil

D. formil

15) Hal-hal berikut ini merupakan bentuk-bentuk wanprestasi, kecuali memenuhi prestasi ….

A. lebih awal dari waktu yang ditentukan B. tetapi terlambat

C. tetapi tidak sesuai dengan isi perjanjian D. sesuai isi perjanjian

16) Untuk dinyatakan wanprestasi perlu adanya somasi, tetapi ada bentuk wanprestasi yang tidak memerlukan somasi, yaitu ….

A. memenuhi prestasi lebih awal dari waktu yang ditentukan B. memenuhi prestasi tetapi terlambat

C. memenuhi prestasi tetapi tidak sesuai dengan isi perjanjian D. tidak memenuhi prestasi sama sekali

17) Dalam hal terjadi wanprestasi, kreditur dapat menuntut debitur ….

A. pemenuhan perjanjian dengan ganti rugi atau tanpa ganti rugi B. pembatalan perjanjian dengan ganti rugi atau tanpa ganti rugi C. ganti rugi

D. semua benar

18) Debitur dapat membela diri terhadap tuntutan karena wanprestasi dengan alasan ….

A. debitur lalai

B. debitur tidak di tempat C. kreditur tidak di tempat D. adanya keadaan memaksa

19) Apabila dirumuskan bahwa perjanjian akan berakhir pada tanggal 31 Desember 2005, maka pada tanggal tersebut perjanjian berakhir karena ….

A. ditentukan dalam perjanjian B. adanya opzegging

C. adanya putusan hakim

D. tujuan perjanjian telah tercapai

20) Suatu perjanjian yang hak dan kewajiban para pihak sudah dilaksanakan dengan sempurna, maka perjanjian tersebut akan berakhir. Ini merupakan cara berakhirnya perjanjian karena ….

A. ditentukan dalam perjanjian B. adanya opzegging

C. adanya putusan hakim

D. tujuan perjanjian telah tercapai

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.

Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 1.

Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali 80 - 89% = baik 70 - 79% = cukup < 70% = kurang

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80%, Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 1, terutama bagian yang belum dikuasai.

Tingkat penguasaan = Jumlah Jawaban yang Benar 100%

Jumlah Soal

Kegiatan Belajar 2 Asuransi

ejalan dengan cepatnya perkembangan peradaban manusia, risiko yang mengancam kehidupan di masyarakat kita dari suatu “peristiwa yang tidak tertentu” (onzeker voorval1atau evenement2) juga semakin beragam baik secara kualitas maupun secara kuantitas. Risiko-risiko tersebut dapat dikategorikan sebagai suatu ancaman kerugian atas harta benda dan juga kehilangan jiwa manusia. Dengan keadaan yang demikian maka kondisi yang akan datang (future condition) baik terhadap masyarakat secara individual maupun terhadap suatu badan usaha menjadi sulit untuk diprediksi karena suatu peristiwa yang tidak tertentu (onzeker voorval atau evenement) dapat saja terjadi setiap saat, pada hal di era modern ini segala sesuatu selalu dituntut dengan kalkulasi dan estimasi yang akurat dan profitable.

Untuk mengatasi kondisi tersebut di atas dan dapat terhindar dari kerugian sebagai akibat dari terjadinya suatu peristiwa yang tidak diinginkan tersebut, maka masyarakat baik secara perorangan atau individual maupun sebagai badan hukum dapat melakukan pengalihan risiko (transfer of risk) kepada pihak lain yang mampu mengolah risiko tersebut serta mampu menanggung sejumlah kerugian apabila terjadinya suatu peristiwa yang tidak tertentu, yaitu kepada perusahaan asuransi.

Dengan demikian maka diharapkan segala langkah dan rencana ke depan dalam kaitan dengan pengaturan financial baik untuk kebutuhan individual maupun terhadap suatu badan usaha dapat dibuat estimasi atas income projection yang lebih akurat dengan cara menganggarkan additional cost untuk biaya premi kepada perusahaan asuransi sehingga tanpa perlu lagi dibayangi oleh akibat dari ancaman risiko yang dapat timbul dari suatu peristiwa yang tidak tertentu dan dapat berakibat fatal dari segi financial.

1 H.M.N.Purwosutjipto, 2003, Pengertian Pokok Hukum Dagang Jilid 6, Hukum Pertanggungan, Cet. ke 5, Djambatan, Jakarta, hlm.1

2 Emmy Pangaribuan Simanjuntak, 1980, Hukum Pertanggungan (Pokok-pokok Pertanggungan Kerugian, Kebakaran, dan Jiwa, cet ke 4, Seksi Hukum Dagang Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, hlm. 519

S

Dalam dokumen BUKU MATERI POKOK HUKUM BISNIS (Halaman 70-84)