D. BENTUK USAHA BADAN HUKUM
3. Koperasi
1) dinyatakan pailit;
2) menjadi anggota Direksi atau anggota Dewan Komisaris yang dinyatakan bersalah menyebabkan suatu perseroan dinyatakan pailit;
atau
3) dihukum karena melakukan tindak pidana yang merugikan keuangan negara dan/atau yang berkaitan dengan sektor keuangan (Pasal 93 ayat (1) UUPT).
Dewan Komisaris adalah organ perseroan yang bertugas melakukan pengawasan secara umum dan/atau khusus sesuai anggaran dasar serta memberikan nasihat kepada Direksi. Perseroan yang bidang usahanya mengerahkan dana masyarakat, menerbitkan surat pengakuan utang, atau Perseroan Terbuka wajib memiliki paling sedikit dua orang Komisaris. Orang yang dapat diangkat menjadi Komisaris adalah orang perseorangan yang mampu melaksanakan perbuatan hukum, kecuali dalam waktu 5 tahun sebelum pengangkatannya pernah:
a) dinyatakan pailit;
b) menjadi anggota Direksi atau anggota Dewan Komisaris yang dinyatakan bersalah menyebabkan suatu Perseroan dinyatakan pailit;
atau
c) dihukum karena melakukan tindak pidana yang merugikan keuangan negara dan/atau yang berkaitan dengan sektor keuangan (Pasal 110 ayat (1) UUPT).
Untuk memahami pengertian Koperasi dengan baik; perlu dibedakan antara Koperasi dari segi ekonomi dan Koperasi dari segi hukum. Koperasi dari segi ekonomi adalah perkumpulan yang memiliki ciri-ciri khusus berikut ini.
1) Beberapa orang yang disatukan oleh kepentingan ekonomi yang sama.
2) Tujuan mereka baik bersama maupun perseorangan adalah memajukan kesejahteraan bersama dengan tindakan bersama secara kekeluargaan.
3) Alat untuk mencapai tujuan itu adalah badan usaha yang dimiliki bersama, dibiayai bersama, dikelola bersama.
4) Tujuan utama badan usaha itu adalah meningkatkan kesejahteraan semua anggota perkumpulan.
Apabila Anggaran Dasar perkumpulan yang memiliki ciri-ciri khusus tersebut disahkan dan didaftarkan oleh Pejabat Koperasi setempat menurut ketentuan Undang-Undang Perkoperasian, maka perkumpulan itu disebut Koperasi dari segi hukum. Setiap Koperasi dari segi hukum, adalah badan hukum, dan ini diatur dalam Pasal 9 Undang-Undang No. 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian.
b. Cara mendirikan koperasi
Sebagaimana yang diatur dalam UU Perkoperasian, pendirian koperasi dilakukan dengan prosedur sebagai berikut.
1) Rapat pembentukan Koperasi
Sekurang-kurangnya 20 orang pendiri mengadakan rapat pembentukan Koperasi, dari rapat tersebut dibuat berita acara yang memuat catatan tentang hasil kesepakatan, jumlah anggota dan nama mereka yang diberi kuasa untuk menandatangani akta pendirian. Akta pendirian tersebut memuat Anggaran Dasar Koperasi.
2) Surat permohonan pengesahan
Para pendiri mengajukan surat permohonan pengesahan pendirian Koperasi yang dilampiri dengan akta pendirian dan petikan berita acara rapat kepada Pejabat yang diangkat oleh dan mendapat kuasa khusus dari Menteri Koperasi.
3) Pengesahan dan pendaftaran akta pendirian
Pengesahan akta pendirian diberikan dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan setelah diterima permintaan pengesahan oleh pejabat yang berwenang. Akta pendirian yang telah disahkan itu didaftarkan dalam buku daftar umum yang disediakan untuk keperluan itu di kantor Pejabat
dengan dibubuhi tanggal dan nomor pendaftaran serta tanda tangan pengesahan Pejabat. Tanggal pengesahan akta pendirian berlaku sebagai tanggal resmi berdirinya Koperasi. Sejak tanggal pengesahan itu, Koperasi yang bersangkutan memiliki status badan hukum.
4) Pengumuman dalam Berita Negara
Setiap akta pendirian yang sudah disahkan diumumkan oleh Pejabat dengan menempatkan dalam Berita Negara.
c. Perangkat organisasi koperasi
Menurut ketentuan Pasal 21 UU Perkoperasian, perangkat organisasi Koperasi terdiri dari Rapat Anggota, Pengurus, dan Pengawas. Rapat Anggota merupakan pemegang tertinggi dalam tata kehidupan Koperasi.
Dalam Pasal 24 UU Perkoperasian ditentukan bahwa Rapat Anggota diambil berdasarkan musyawarah untuk mencapai mufakat. Apabila tidak diperoleh keputusan dengan cara musyawarah, pengambilan keputusan dilakukan berdasarkan suara terbanyak. Dalam hal dilakukan pemungutan suara, setiap anggota mempunyai hak satu suara. Rapat Anggota diadakan paling sedikit sekali dalam 1 (satu) tahun. Rapat Anggota untuk mengesahkan pertanggungjawaban pengurus diselenggarakan paling lambat 6 (enam) bulan setelah tahun buku lampau.
Menurut ketentuan Pasal 23 UU Perkoperasian, Rapat Anggota menetapkan:
1) anggaran dasar;
2) kebijaksanaan umum di bidang organisasi, manajemen, dan usaha Koperasi;
3) pemilihan, pengangkatan, pemberhentian pengurus dan pengawas;
4) rencana kerja, rencana anggaran pendapatan dan belanja Koperasi, serta pengesahan laporan keuangan;
5) pengesahan pertanggungjawaban pengurus dalam pelaksanaan tugasnya;
6) pembagian sisa hasil usaha;
7) penggabungan, peleburan, pembagian, pembubaran Koperasi.
Menurut ketentuan Pasal 29 UU Perkoperasian, Pengurus dipilih dari dan oleh anggota Koperasi dalam Rapat Anggota. Pengurus merupakan pemegang kuasa Rapat Anggota. Untuk pertama kali susunan dan nama anggota pengurus dicantumkan dalam akta pendirian. Masa jabatan paling lama 5 (lima) tahun. Persyaratan untuk dipilih dan diangkat menjadi anggota pengurus ditetapkan dalam Anggaran Dasar.
Pengurus Koperasi berwenang mewakili Koperasi di muka dan di luar pengadilan, memutuskan penerimaan dan penolakan anggota baru serta pemberhentian anggota sesuai ketentuan Anggaran Dasar. Di samping itu, pengurus juga berwenang melakukan tindakan dan upaya bagi kepentingan dan kemanfaatan Koperasi sesuai dengan tanggung jawabnya dan keputusan Rapat Anggota. Segala kegiatan pengelolaan Koperasi dan usahanya dipertanggungjawabkan oleh pengurus kepada Rapat Anggota.
Untuk kepentingan pengelolaan Koperasi, pengurus dapat mengangkat Pengelola yang diberi wewenang dan kuasa untuk mengelola usaha. Dalam hal pengurus bermaksud untuk mengangkat Pengelola, maka rencana pengangkatan tersebut diajukan kepada Rapat Anggota untuk mendapat persetujuan. Pengelola bertanggung jawab kepada pengurus.
Menurut ketentuan Pasal 38 UU Perkoperasian, Pengawas dipilih dari dan oleh anggota Koperasi dalam Rapat Anggota. Oleh karena itu, Pengawas bertanggung jawab kepada Rapat Anggota. Sedangkan persyaratan untuk dapat dipilih dan diangkat sebagai anggota Pengawas ditetapkan dalam Anggaran Dasar.
Pengawas bertugas melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kebijaksanaan dan pengelolaan Koperasi, membuat laporan tertulis tentang hasil pengawasannya. Dalam pelaksanaan tugasnya itu Pengawas berwenang meneliti catatan yang ada pada Koperasi dan mendapatkan segala keterangan yang diperlukan. Pengawas harus merahasiakan hasil pengawasannya terhadap pihak ketiga. Untuk melaksanakan pengawasan, Koperasi dapat meminta jasa audit kepada akuntan publik. Permintaan jasa audit ini dilakukan dalam rangka peningkatan efisiensi, pengelolaan yang bersifat terbuka, dan perlindungan bagi pihak yang berkepentingan.