• Tidak ada hasil yang ditemukan

WANPRESTASI DAN AKIBATNYA

Dalam dokumen BUKU MATERI POKOK HUKUM BISNIS (Halaman 64-70)

Suatu perjanjian dapat terlaksana dengan baik apabila para pihak telah memenuhi prestasinya masing-masing seperti yang telah diperjanjikan tanpa ada pihak yang dirugikan. Tetapi adakalanya perjanjian tersebut tidak terlaksana dengan baik karena adanya wanprestasi yang dilakukan oleh salah satu pihak atau debitur.

Perkataan wanprestasi berasal dari bahasa Belanda, yang berarti prestasi buruk. Adapun yang dimaksud wanprestasi adalah suatu keadaan yang dikarenakan kelalaian atau kesalahannya, debitur tidak dapat memenuhi prestasi seperti yang telah ditentukan dalam perjanjian. Adapun bentuk- bentuk dari wanprestasi yaitu

1. tidak memenuhi prestasi sama sekali;

2. memenuhi prestasi tetapi tidak tepat waktunya;

3. memenuhi prestasi tetapi tidak sesuai atau keliru.

Sehubungan dengan debitur yang tidak memenuhi prestasinya maka dikatakan bahwa debitur tidak memenuhi prestasi sama sekali. Sedangkan apabila prestasi debitur masih dapat diharapkan pemenuhannya, maka debitur dianggap memenuhi prestasi tetapi tidak tepat waktunya. Kemudian untuk debitur yang memenuhi prestasi tetapi keliru, apabila prestasi tersebut dapat diperbaiki maka debitur dikatakan memenuhi prestasi tetapi tidak tepat waktunya dan apabila prestasi yang keliru tersebut tidak dapat diperbaiki lagi maka debitur dikatakan tidak memenuhi prestasi sama sekali. Menurut Subekti, bentuk wanprestasi ada empat macam yaitu

1. tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukannya;

2. melaksanakan apa yang dijanjikannya tetapi tidak sebagaimana dijanjikannya;

3. melakukan apa yang dijanjikannya tetapi terlambat;

4. melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukannya.

Untuk mengatakan bahwa seseorang melakukan wanprestasi dalam suatu perjanjian, kadang-kadang tidak mudah karena sering kali juga tidak dijanjikan dengan tepat kapan sesuatu pihak diwajibkan melakukan prestasi yang diperjanjikan.

Dalam hal bentuk prestasi debitur dalam perjanjian yang berupa tidak berbuat sesuatu, akan mudah ditentukan sejak kapan debitur melakukan wanprestasi yaitu pada saat debitur berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan dalam perjanjian. Sedangkan bentuk prestasi debitur yang berupa berbuat sesuatu yang memberikan sesuatu apabila batas waktunya ditentukan dalam perjanjian maka menurut Pasal 1238 KUH Perdata debitur dianggap melakukan wanprestasi dengan lewatnya batas waktu tersebut. Dan apabila tidak ditentukan mengenai batas waktunya maka untuk menyatakan seorang debitur melakukan wanprestasi, diperlukan adanya surat peringatan tertulis dari kreditur yang diberikan kepada debitur. Surat peringatan tertulis tersebut disebut dengan somasi. Somasi adalah pemberitahuan atau pernyataan dari kreditur kepada debitur yang berisi ketentuan bahwa kreditur menghendaki pemenuhan prestasi seketika atau dalam jangka waktu seperti yang ditentukan dalam pemberitahuan itu.

Menurut Pasal 1238 KUH Perdata yang menyatakan bahwa: “Si berutang adalah lalai, apabila ia dengan surat perintah atau dengan sebuah akta sejenis itu telah dinyatakan lalai, atau demi perikatannya sendiri, ialah jika ini menetapkan bahwa si berutang harus dianggap lalai dengan lewatnya waktu yang ditentukan”.

Dari ketentuan pasal tersebut dapat dikatakan bahwa debitur dinyatakan wanprestasi apabila sudah ada somasi (in gebreke stelling). Adapun bentuk- bentuk somasi menurut Pasal 1238 KUH Perdata adalah berikut ini.

a) Surat perintah

Surat perintah tersebut berasal dari hakim yang biasanya berbentuk penetapan. Dengan surat penetapan ini juru sita memberitahukan secara lisan kepada debitur kapan selambat-lambatnya ia harus berprestasi. Hal ini biasanya disebut “exploit Juru Sita”.

b) Akta sejenis

Akta ini dapat berupa akta di bawah tangan maupun akta notaris.

c) Tersimpul dalam perikatannya itu sendiri

Maksudnya sejak pembuatan perjanjian, kreditur sudah menentukan saat adanya wanprestasi.

Dalam perkembangannya, suatu somasi atau teguran terhadap debitur yang melalaikan kewajibannya dapat dilakukan secara lisan akan tetapi untuk mempermudah pembuktian dihadapan hakim apabila masalah tersebut berlanjut ke pengadilan maka sebaiknya diberikan peringatan secara tertulis.

Menurut Surat Edaran Mahkamah Agung No. 3 Tahun 1963, wanprestasi yang tanpa didahului somasi dimungkinkan karena dengan diterimanya turunan surat gugat oleh tergugat yang bersangkutan dianggap sudah menerima somasi karena sebelum sidang pengadilan tergugat masih dapat berprestasi.

Dalam keadaan tertentu somasi tidak diperlukan untuk menyatakan bahwa seorang debitur melakukan wanprestasi yaitu dalam hal:

1) adanya ketentuan batas waktu dalam perjanjian (fataal termijn);

2) prestasi dalam perjanjian berupa tidak berbuat sesuatu;

3) debitur mengakui dirinya wanprestasi.

Apabila debitur melakukan wanprestasi maka ada beberapa sanksi yang dapat dijatuhkan kepada debitur, yaitu berikut ini.

1) Membayar kerugian yang diderita kreditur, disingkat ganti rugi

Adapun wujud kerugian yang harus diganti oleh debitur dapat diperinci dalam tiga unsur: biaya (konsten) yaitu segala pengeluaran atau perongkosan yang nyata-nyata telah dikeluarkan oleh kreditur, rugi (schaden) yaitu kerusakan yang sungguh-sungguh menimpa barang atau harta benda kreditur yang diakibatkan oleh kelalaian debitur, dan bunga (interesten) yaitu kehilangan keuntungan yang akan didapat oleh kreditur jika debitur tidak lalai.

Untuk mencegah agar kreditur tidak menuntut ganti rugi terlalu tinggi maka undang- undang memberi batasan tentang ganti rugi. Hal ini diatur dalam Pasal 1247, 1248, 1250 ayat (1), 1250 ayat (3) KUH Perdata.

Dalam Pasal 1247 KUH Perdata menyatakan bahwa: “Si berutang hanya diwajibkan mengganti biaya, rugi, dan bunga yang nyata telah, atau sedianya harus dapat diduganya sewaktu perikatan dilahirkan kecuali jika hal tidak dipenuhinya perikatan itu disebabkan sesuatu tipu daya yang dilakukan olehnya”.

Dalam Pasal 1248 KUH Perdata menegaskan lagi bahwa: “Bahkan jika hal tidak dipenuhinya perikatan itu disebabkan tipu-daya si berutang,

pengganti biaya, rugi, dan bunga sekadar mengenai kerugian yang dideritanya oleh si berpiutang dan keuntungan yang terhilang baginya, hanyalah terdiri atas apa yang merupakan akibat langsung dari tak dipenuhinya perikatan”.

Dari kedua pasal tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa kerugian yang harus diganti meliputi kerugian yang dapat diduga dan merupakan akibat langsung dari wanprestasi, artinya ada hubungan sebab dan akibat antara wanprestasi dengan kerugian yang diderita. Berkaitan dengan hal ini ada dua sarjana yang mengemukakan teori tentang sebab akibat yaitu sebagai berikut.

a) Conditio Sine qua Non (von buri)

Menyatakan bahwa suatu peristiwa A adalah sebab dari peristiwa B (peristiwa lain) dan peristiwa B tidak akan terjadi jika tidak ada peristiwa A.

b) Adequate Veroorzaking (von Kries)

Menyatakan bahwa suatu peristiwa A adalah sebab dari peristiwa B (peristiwa yang lain). Bila peristiwa A menurut pengalaman manusia yang normal diduga mampu menimbulkan akibat (peristiwa B).

Dari kedua teori di atas maka yang lazim dianut adalah teori Adequate Veroorzaking karena pelaku hanya bertanggung jawab atas kerugian yang selayaknya dapat dianggap sebagai akibat dari perbuatan itu dan di samping itu teori inilah yang paling mendekati dengan keadilan.

Pada Pasal 1250 ayat (1) dan ayat (3) KUH Perdata, disebutkan bahwa perikatan yang berwujud pembayaran sejumlah uang apabila terlambat bunganya maka penggantian kerugiannya adalah berujud pembayaran bunga. Cara pembayaran kerugian tersebut dihitung mulai digugat di muka pengadilan. Bunga yang harus dibayarkan menurut undang-undang yang dimuat dalam Lembaran Negara No. 22 Tahun 1848 ditetapkan 6 persen per tahun. Bunga ini disebut dengan bunga moratoir. Bunga moratoir tersebut mulai dihitung sejak dituntutnya ke pengadilan atau sejak dimasukkannya surat gugatan ke pengadilan.

Oleh karena itu, seorang debitur yang dituduh lalai dapat mengajukan beberapa alasan untuk membela dirinya, yaitu

a) mengajukan tuntutan adanya keadaan memaksa (overmach);

b) mengajukan alasan bahwa kreditur sendiri telah lalai;

c) mengajukan alasan bahwa kreditur telah melepaskan haknya untuk menuntut ganti rugi.

2) Pembatalan perjanjian

Mengenai pembatalan perjanjian diatur dalam bagian kelima Bab I buku III KUH Perdata, karena berdasarkan anggapan Undang-undang bahwa terjadinya wanprestasi itu merupakan suatu syarat batal.

Anggapan tersebut tidak benar sebab menurut Pasal 1266 ayat (1) dan ayat (2) KUH Perdata dapat disimpulkan bahwa syarat untuk pembatalan perjanjian adalah:

a) adanya wanprestasi dari debitur;

b) perjanjian harus timbal balik;

c) pembatalan perjanjian berdasarkan putusan hakim.

Hal ini ditegaskan lagi dalam Pasal 1266 ayat (3) KUH Perdata yaitu bahwa permintaan pembatalan kepada hakim ini juga harus dilakukan meskipun syarat batal mengenai tidak dipenuhinya kewajiban dinyatakan di dalam persetujuan. Apabila terjadi pembatalan perjanjian maka akibatnya menurut Pasal 1265 ayat (1) KUH Perdata yaitu dapat menghentikan perikatan; dan segala sesuatu kembali kepada keadaan semula, seolah-olah tidak pernah ada suatu perikatan.

Akibat yang kedua ini tentunya akan menimbulkan kesulitan karena kedua belah pihak akan dibawa kembali kepada keadaan semula (berlaku surut). Akibatnya menurut keputusan HR tanggal 11 Maret 1926, penyelesaiannya berpedoman pada pemenuhan hal-hal yang telah terjadi dan pemutusan untuk hal-hal yang akan datang.

3) Peralihan risiko

Yang dimaksud dengan risiko adalah kewajiban untuk memikul kerugian jika terjadi suatu peristiwa di luar kesalahan salah satu pihak, yang menimpa barang yang menjadi objek perjanjian.

Dalam perjanjian untuk memberikan suatu barang tertentu maka sejak lahirnya perjanjian tersebut segala risiko akan ditanggung oleh si berpiutang yaitu pihak yang berhak menerima barang itu. Namun dalam hal si berutang lalai untuk menyerahkan barang yang menjadi objek perjanjian maka segala risiko atas barang tersebut akan ditanggung oleh pihak si berutang yaitu pihak yang akan memberikan barang. Jadi dalam hal ini terjadi peralihan risiko dari pihak si berpiutang kepada si berutang. Hal tersebut di atas tersimpul dari Pasal 1237 ayat (1) dan (2) KUH Perdata.

Pasal 1237 KUH Perdata di atas hanya berlaku untuk perjanjian sepihak saja. Sedangkan mengenai peralihan risiko untuk perjanjian timbal balik, menurut Pasal 1460 KUH Perdata bahwa risiko dalam perjanjian jual beli barang tertentu dipikulkan kepada si pembeli, meskipun barangnya belum diserahkan. Namun apabila si penjual terlambat menyerahkan barangnya, maka segala risiko atas barang tersebut akan dialihkan dari si pembeli kepada si penjual. Jadi dengan lalainya si penjual, risiko tersebut akan beralih kepadanya.

4) Membayar biaya perkara apabila sampai diperkarakan di muka hakim Tentang pembayaran ongkos biaya perkara tersimpul dalam suatu peraturan hukum acara, yang menyatakan bahwa pihak yang dikalahkan diwajibkan membayar biaya perkara (Pasal 181 ayat I HIR). Maka untuk seorang debitur yang lalai tentu akan dikalahkan jika sampai terjadi suatu perkara di depan hakim, sebab dalam hal ini debitur berada di pihak yang kalah sehingga debitur tersebut harus membayar biaya perkara.

Dari akibat-akibat wanprestasi di atas maka menurut Pasal 1267 KUH Perdata menyatakan bahwa: “Pihak yang merasa perjanjian tidak dipenuhi, boleh memilih apakah ia, jika hal itu masih dapat dilakukan, akan memaksa pihak yang lainnya untuk memenuhi perjanjian, ataukah ia akan menuntut pembatalan perjanjian itu disertai penggantian biaya, rugi dan bunga”.

Dari pasal tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa kreditur dapat memilih antara tuntutan-tuntutan sebagai berikut.

a) Pemenuhan perjanjian;

b) Pemenuhan perjanjian disertai ganti rugi;

c) Ganti rugi saja;

d) Pembatalan perjanjian;

e) Pembatalan perjanjian disertai ganti rugi.

Dalam dokumen BUKU MATERI POKOK HUKUM BISNIS (Halaman 64-70)