Kegiatan Belajar 1
Hukum Perjanjian
Berdasarkan kelemahan-kelemahan tersebut maka beberapa sarjana kemudian memberikan batasan pengertian perjanjian. Subekti memberikan pengertian perjanjian sebagai berikut. “Suatu perjanjian adalah suatu peristiwa di mana seorang berjanji kepada seorang lain atau di mana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal”.
Menurut Sudikno Mertokusumo, ”Perjanjian adalah hubungan hukum antara dua pihak atau lebih berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum”. Maksudnya bahwa dua pihak tersebut sepakat untuk menentukan peraturan atau kaidah atau hak dan kewajiban yang harus mereka laksanakan. Kesepakatan tersebut untuk menimbulkan akibat hukum yaitu hak dan kewajiban. Dan apabila hak dan kewajiban tersebut dilanggar maka akibat hukumnya bagi si pelanggar akan dikenakan sanksi.
Kemudian R. Setiawan yang menerjemahkan overeenkomst sebagai persetujuan menyatakan bahwa ”persetujuan adalah suatu perbuatan hukum di mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya atau saling mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih.” Menurutnya penggunaan istilah persetujuan tersebut lebih tepat mengingat KUH Perdata menganut asas konsensualisme atau dengan kata lain overeenkomst pada asasnya terjadi dengan adanya kata sepakat dan kata sepakat itu timbul karena adanya kesesuaian kehendak di antara para pihak.
Dari beberapa perumusan mengenai perjanjian di atas maka tersimpul adanya unsur-unsur perjanjian sebagai berikut.
1. Adanya dua pihak atau lebih.
2. Adanya kata sepakat di antara para pihak.
3. Adanya akibat hukum yang ditimbulkan berupa hak dan kewajiban atau melakukan suatu perbuatan.
Berdasarkan unsur-unsur perjanjian tersebut, penulis berpendapat bahwa perjanjian adalah suatu perbuatan hukum antara dua pihak atau lebih yang saling mengikatkan dirinya untuk menimbulkan hak dan kewajiban.
Penggunaan istilah perbuatan hukum lebih tepat, hal ini disebabkan jika menggunakan istilah peristiwa hukum pengertiannya cenderung merupakan sesuatu hal yang tidak dikehendaki (walaupun ada kalanya sesuatu itu dikehendaki) oleh para pihak padahal dalam perjanjian hak dan kewajiban yang timbul memang dikehendaki oleh para pihak. Sedangkan apabila menggunakan istilah hubungan hukum maka pengertiannya terlalu luas sebab
hak dan kewajibannya timbul selain karena perjanjian juga karena undang- undang.
Hukum perjanjian menganut sistem terbuka artinya bahwa setiap orang boleh mengadakan perjanjian mengenai apa saja baik yang sudah ada ketentuannya dalam undang-undang maupun yang belum ada ketentuannya, asalkan tidak melanggar undang-undang, ketertiban umum dan kesusilaan.
Konsekuensi dari adanya sistem terbuka tersebut bahwa hukum perjanjian bersikap sebagai hukum pelengkap. Artinya bahwa pasal-pasal yang terdapat dalam buku III KUH Perdata boleh dikesampingkan berlakunya manakala para pihak telah membuat ketentuan sendiri. Dan sebaliknya apabila para pihak tidak menentukan lain maka berlakukah ketentuan yang terdapat dalam buku III KUH Perdata. Dikatakan sebagai hukum pelengkap karena pasal- pasal dari hukum perjanjian itu dapat dikatakan melengkapi perjanjian- perjanjian yang dibuat secara tidak lengkap. Biasanya para pihak yang mengadakan suatu perjanjian tidak mengatur secara terperinci semua persoalan yang bersangkutan dengan perjanjian itu karena para pihak hanya menyetujui hal-hal yang pokok saja dengan tidak memikirkan soal-soal lainnya.
Di samping bersifat sebagai hukum pelengkap, hukum perjanjian juga bersifat konsensuil artinya perjanjian itu terjadi sejak saat terjadinya kata sepakat di antara para pihak mengenai pokok perjanjian. Maka dalam hal ini perjanjian itu dapat dibuat secara lisan saja dan dapat juga dalam bentuk tertulis berupa akta jika dikehendaki sebagai alat bukti.
Sedangkan sifat hukum perjanjian yang lain adalah obligatoir maksudnya bahwa dengan adanya perjanjian tersebut hanya menimbulkan hak dan kewajiban saja bagi para pihak dan belum mengakibatkan berpindahnya hak milik tersebut. Hak milik baru berpindah setelah terjadinya penyerahan atau levering.
Untuk mengetahui hubungan antara perjanjian dengan perikatan maka akan diuraikan sedikit mengenai perikatan.
Perikatan berasal dari bahasa Belanda ”verbintenis.” Verbintenis sendiri berasal dari kata kerja verbinden yang berarti mengikat. Ada sarjana yang menerjemahkan verbintenis sebagai perikatan, perutangan. Dalam modul ini penulis setuju menggunakan istilah perikatan sebagai terjemahan verbintenis, karena untuk istilah perutangan sering kali memberikan kesan bahwa ada suatu utang-piutang uang antara para pihak. Mengenai perikatan diatur di dalam buku III KUH Perdata, tetapi tidak ada satu pasal pun di dalamnya
yang memberikan definisi perikatan. Oleh karena itu, para sarjana memberikan definisi sendiri.
Subekti mendefinisikan perikatan adalah suatu perhubungan hukum antara dua orang atau dua pihak berdasarkan mana pihak yang satu berhak menuntut suatu hal dari pihak yang lain, dan pihak yang lain berkewajiban untuk memenuhi tuntutan itu.
Menurut Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, “perutangan adalah merupakan hubungan hukum yang atas dasar itu seseorang dapat mengharapkan suatu prestasi dari seseorang yang lain bila perlu dengan perantaraan hakim.”
Menurut Abdul Kadir Muhammad yang mendefinisikan perikatan sebagai suatu hubungan hukum yang terjadi antara orang yang satu dengan orang yang lain karena perbuatan, peristiwa, atau keadaan.
Dari beberapa definisi yang dikemukakan oleh para sarjana di atas, dapat disimpulkan bahwa perikatan adalah suatu hubungan hukum antara dua pihak atau lebih, dalam lapangan hukum harta kekayaan, di mana pihak yang satu berkewajiban untuk memberikan prestasi kepada pihak lain dan pihak yang lain berhak atas prestasi tersebut.
Dengan demikian maka dapat diketahui bahwa suatu perjanjian mempunyai hubungan dengan perikatan karena perjanjian itu menerbitkan perikatan. Dengan diadakan suatu perjanjian maka akan menimbulkan hubungan hukum antara dua pihak yang dinamakan perikatan, di mana pihak yang satu berhak menuntut suatu hal dan pihak yang lain berkewajiban untuk memenuhi tuntutan tersebut. Oleh karena itu, perjanjian merupakan salah satu sumber dari perikatan di samping sumber-sumber lain. Hal ini ditegaskan dalam Pasal 1233 KUH Perdata yang menyatakan bahwa “tiap- tiap perikatan dilahirkan baik karena perjanjian, baik karena undang- undang.”
Mengenai hal ini Subekti berpendapat bahwa perikatan mempunyai pengertian yang abstrak sedangkan perjanjian merupakan suatu hal yang konkret atau merupakan suatu peristiwa. Beliau juga menyatakan bahwa perikatan yang lahir dari perjanjian memang dikehendaki oleh kedua belah pihak yang membuat perjanjian sedangkan perikatan yang lahir dari undang- undang diadakan oleh undang-undang di luar kemauan para pihak yang bersangkutan.
Mengenai perjanjian diatur di dalam Bab II Buku III KUH Perdata yang berjudul tentang Perikatan-perikatan yang Dilahirkan dari Kontrak atau Perjanjian. Buku III KUH Perdata tersebut memuat 18 titel. Titel I–IV memuat tentang perjanjian pada umumnya dan titel V–XVIII memuat tentang perjanjian-perjanjian khusus.