Pendahuluan
1. Dalam pelayanan jemaat, terdapat berbagai kelompok yang sering menjadi pemicu dan pencetus/penggerak conflik. Mereka disebut sebagai musuh- musuh dalam jemaat yang kalau tidak ditangani sedemikian rupa bisa mengakibatkan masalah bahkan konflik yang besar. Mereka sering melancarkan serangan kepada para pelayan dan kepemimpinan di jemaat dengan mempergunakan kekuatan dan pengaruh mereka. Tanpa bukti yang jelas dan substansial, mereka mau menyampaikan tuntutan dan serangan kepada para pelayan. Musuh-musuh utama ini sering menolak bahkan tidak mau mendengar apa yang masuk akal. Tujuan utama mereka hanyalah menimbulkan kekacauan. Sebenarnya, tidak semua konflik itu tidak sehat artinya: ada konflik yang sehat. Sangat alamiah jika ada perbedaan- perbedaan pendapat tentang pengelolaan jemaat, tentang tafsiran Alkitab dan lain-lain. Gereja adalah persekutuan orang berdosa bukan persekutuan orang yang sudah sempurna. Jika demikian, kehadiran konflik dalam persekutuan yang demikian sangatlah masuk akal. Namun yang menjadi masalah adalah jika konflik tersebut melumpuhkan dan merusak pelayanan.
Berhubungan dengan ini, ada beberapa tahapan yang harus dilakukan dalam mengatasi konflik, antara lain:
a. Menciptakan suasana yang kondusif
b. Melakukan klarifikasi persepsi dari masing-masing pihak yang terlibat dalam konflik
c. Memfokuskan analisa pada kebutuhan masing-masing individu dan kebutuhan bersama.
d. Membangun kekuatan yang positif. Di sini ajaran dan kepercayaan kita orang Kristen dipraktekkan
e. Memandang dan berharap akan masa depan yang lebih baik dan belajar dari masa lalu
f. Memunculkan beberapa opsi atau alternatif pemecahan maalah g. Mengembangkan tindakan-tindakan yang dapat dilakukan
h. Melihat dan memformulasikan kesepakatan-kesepakatan yang menguntungkan semua pihak. Untuk sampai ke tahap ini harus disepakati juga bahwa masing-masing pihak harus mau dan mampu mengalah.
2. Dalam hubungannya dengan tema ini, ada lima hal keadaan yang menjadi pokok perhatian, jika hendak ditelusuri sejarah perjalanan gereja Batak saat jatuh bangun akibat konflik yang terjadi di dalam dirinya, yakni:
a. Bibit-bibit konflik sudah bersemi sejak berdirinya jemaat di kalangan orang Batak, yakni sejak tahun 1860-an pada jaman zending RMG. Hal ini terjadi karena gereja Batak lahir dan bertumbuh di atas realitas hidup orang Batak, bukan di atas tanah yang kosong (hampa).
b. Para pelayan jemaat-terutama para pelayan penuh waktu, yakni: pendeta, guru huria, bibelvrouw, diakones, evangelist, dan sintua tidak pernah luput dari bahaya konflik yang terjadi di tengah-tengah kehidupan mereka sebagai komunitas kristiani.
c. Beberapa hal dapat dianggap sebagai titik-titik rawan dari berbagai konflik itu.
i. Apa yang harus kita lakukan agar gereja Batak (HKBP) dapat keluar dari konflik itu. Jalan terbaik bukanlah mencari siapa yang menang dan kalah tetapi supaya semangat saling memaafkan dan bersama mencari solusi
“sama-sama menang” (win win solution) saat muncul konflik itu.
j. Bagaimana kita melihat diri kita sebagai pelayan yang punya power (sederhananya: kuasa) dari segi teologis-pastoral ?
Beberapa segi inilah yang merupakan lingkaran pemikiran (pelayan HKBP sekarang secara umum) yang perlu dijalani secara spritual saat ini.
Bibit-Bibit Konflik Dalam Organisasi Gereja Batak Dan Warga Jemaat Sejak Awal
3. Terdapat berbagai bibit konflik di dalam organisasi dan warga jemaat.
Sehubungan dengan kehadiran para tokoh misionaris di tengah-tengah masyarakat Batak, di sekitar para calon baptisan muncul rasa cemburu satu sama lain. Mereka mencari posisi siapa yang terdekat pada sang misionaris, contoh klasik tentang hal ini adalah: dari masa I.L. Nomensen di Silindung adalah persaingan antara Raja Pontas Lumbamntobing dan Raja Amandari Lumbantobing. Bibit konflik juga muncul ketika tokoh misionaris mencari, memilih dan menggunakan sebidang tanah untuk dijadikan pertapakan pargodungan, pendidikan, kesehatan atau bidang diakoni sosial.
Hal ini menyangkut masalah asset jemaat/gereja. Dalam beberapa kasus, ada semacam perjanjian bahwa lahan itu bisa dipakai atau dimiliki oleh badan zending sejauh dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan zending tetapi ada juga yang tanpa perjanjian, artinya sepenuhnya dihibahkan kepada zending. Ketika zending RMG harus keluar dari Hindia Belanda (Indonesia)
terjadilah kemelut yang mengakibatkan banyaknya asset zending yang pindah tangan bukan kepada HKBP tetapi kepada orang atau kelompok yang mengambilnya. Sampai saat ini HKBP masih harus sibuk menyelesaikannya melalui jalur hukum dan jalur menang-menang (berbagai cara). Seiring dengan perkembangan waktu, jemaat itupun mempunyai satu pedoman hidup kristiani yang tertuang dalam apa yang dikenal dengan ruhut paminsongon (yang kemudian diperbaharui menjadi RPP: Ruhut Parmahanion dohot Paminsangon). Dalam menjalankannya, selalu muncul pro dan kontra karena di antara mereka ada yang merasa bahwa keputusan itu tidak benar/tidak adil, pilih kasih dan lain-lain. Apa benar tidak adil ? Kalau benar bagaimana memperbaikinya ? Kalau tidak benar, bagaimana cara untuk memberi penjelasan sehingga kesalahpahaman dapat terselesaikan ? Bibit konflik yang lain, muncul karena dipicu oleh konflik social di luar jemaat.
Seiring waktu konflik eksternal itu merasuki kehidupan jemaat sehingga menjadi konflik internal jemaat. Munculnya tokoh yang mengajak warga jemaat memisahkan diri dari zending RMG juga melahirkan konflik. Kasus Sutan Malu Panggabean misalnya muncul di Pematangsiantar yang melahirkan Huria Chisten Batak (HChB yang kemudian menjadi HKI).
Ajakan pemisahan dari tokoh-tokoh lain melahirkan Mission Batak di Medan dan Punguan Kristen Batak (PKB di Jakarta). Sementara tokoh-tokoh Simalungun juga melakukan gerakan serupa karena masalah pemakaian bahasa Simalungun untuk warga asal Simalungun di Jemaat Pematangsiantar, Kampung Kristen dan lain-lain. Pemikiran dan pemahaman baru tentang peranan gereja/zending dalam gerakan kebangsaan tahun 1917 juga melahirkan organisasi baru. Tokoh Kristen Batak yang harus dicatat di sini adalah Hesekiel Manullang yang melahirkan Hatopan Kristen Batak (HKB). Pdt. Herkules Marbun dan kawan-kawan muncul dengan semangat keandirian dengan menuntut tempat pelayanan bagi pribumi di bidang kepemimpinan, hal ini terjadi tahun 1920-an. Kemunculan yayasan pengelola pendidikan di kalangan warga jemaat juga memicu konflik. Tahun 1930-an misalnya muncul kasus Nomensen Shcoolvereeniging (Yayasan Sekolah Nomensen di Sigompulon Tarutung). Konflik yang sering muncul adalah konflik kepemimpinan Synodal (Hatopan). Konflik ini berlangsung sejak tahun 1960-an hingga tahun 1990-an. Akibatnya, tahun 1960-an, muncul perpecahan gereja yang melahirkan GKPI. Perpecahan di kalangan pelayan penuh waktu terjadi tahun 1970-an. Sementara konflik tahun 1990-an mengakibatkan korban banyak materi dan juga korban jiwa.
Bibit Konflik Dalam Kehidupan Pelayan
4. Beberapa titik rawan dalam kehidupan pelayan adalah:
a. Mutasi: sikap tidak menerima karena berbagai alasan
b. Kompleks pargodungan: Konflik di antara anggota keluarga (sang isteri, anak-anak, bahkan kerabat).
c. Pembaian tugas antara pendeta resort dengan pelayan lainnya: hal ini biasanya melahirkan konflik antara pendeta resort dengan pendeta diperbantukan, guru huria, bibelvrouw, diakones dan sintua
d. Hamauliateon (uang ucapan syukur): Ucapan syukur dalam bentuk uang yang diberikan warga jemaat dan biasanya dicatat dalam warta jemaat mingguan menjadi titik rawan munculnya konflik karena pembagiannya bisa menimbulkan masalah.
e. Penatalayanan harta/uang/administrasi gereja; hal ini juga menjadi titik rawan konflik petugas tertentu, biasanya mengelola aset gereja, misalnya bendahara huria/resort, petugas keuangan dalam berbagai bidang, lembaga atau kepanitiaan, misalnya dalam pembangunan gedung gereja atau rumah inventaris gereja (jabu huria, jabu resort).
f. Pengambilan keputusan dalam rapat jemaat/rapat resort
g. Hubungan dengan pemerintah (pilkada tingkat desa, kecamatan maupun kabupaten, juga partai politik). Titik rawan ini juga menyangkut masalah- masalah social yang menyangkut ketidakadilan, korupsi, HAM, judi/togel (dulu), lingkungan hidup, adat/kebudayaan dan lain-lain. Contoh kasusnya adalah Indorayon (kini PT. TPL–Toba Pulp Lestari).
h. Geraka sectarian dan kharismatik.
i. Gerakan-gerakan yang berbau sara, fundamentalisme, kekerasan fisik, fsikologis, ideologis dan teologis. Hal ini menyangkut juga kehidupan antar umat beragama.
j. Pemilihan pimpinan gereja dalam tingkat Synodal (hatopan).
Ambiguitas (Sikap Menduahati/Dualisme) Kekuasaan/Power Pelayan Gereja 5. Secara teoritis setiap pelayan memiliki tiga corak power/kekuasaan di dalam
jemaat, yakni:
a. Kekuasaan yang mendominasi karena keahliannya dari segi pendidikan atau materi yang diraih. Contoh: Daud ketika masih junior….!
b. Kekuasaan kharismatis yang ada di dalam diri sendiri. Contoh: Goliat …!
e. Kekuasan karena keahlian mempengaruhi orang lain. Contoh: Delila (negatif), (contoh Positif: Paulus, I.L. Nomensen), dan lain-lain …!
Ketiga kekuasaan ini bisa menumpuk dalam diri seseorang pelayan, bisa hanya satu atau dua. Sebagai seorang pemimpin, seorang pelayan dapat berperan sebagai penguasa dari atas (bos), bisa sebagai kepala keluarga (orangtua) dan biasa sebagai birokrat mewakili sebuah pranata, lembaga atau institusi. Artinya, power itu bisa tampak dalam ketiga penampilan itu.
Sebagai pemimpin, pelayan dapat mempergunakannya untuk mencapai berkat bagi pranata yang dia pimpin tetapi bisa menjadi bencana bahkan kutukan bagi pranata yang dilayani. Masalahnya, bagaimana menyikapi ambiguitas power pelayan ini, dia dapat menjadi berkat kalau digunakan untuk mencari apa yang dibutuhkan oleh pranata (jemaat/gereja) tetaspi sebaliknya akan menjadi bencana kalau dipakai untuk kepentingan pribadi (kelompok). Sebagai pemimpin, seorang pelayan diberi kebebasan untuk apa ia menggunakan power yang ada di dalam dirinya. Jika punya kuasa sebagai atasan terhadap bawahan, kekuasan itu bisa digunakan sebagai alat yang menjalin hubungan alamiah yang baik seperti hubungan ayah-anak, pelayan jauga bisa mengandalkan kuasa birokratis yang tersedia dalam struktur atau
system organisasi yang tersedia. Ketiga macam bentuk itu, bisa dipakai menjadi kebaikan, tetapi bisa juga menjadi bencana. Seorang pelayan harus siap memilih yang terbaik untuk jemaat/gereja jika benar-benar ia seorang pelayan yang melayani dan bukan pelayan yang menguasai, mendominasi bahkan meneror orang yang kebetulan adalah “bawahan”. Kalau pelayan ingin dan komit memakai power itu untuk menjadi berkat bagi warga jemaat/gereja, maka ia akan selalu bersikap arif dan bijaksana dalam mengelola konflik yang terjadi dalam jemaat yang dipimpin dengan solusi
“sama sama menang”. Sebagai teolog pelayan dapat membenarkan sikap otoriternya dengan mengambil gambar Allah yang pemarah, hakim, tuan.
Contohnya banyak bisa ditemukan dalam cerita-cerita PL. Kalau pelayan cenderung bersikap kebapaan, keibuan dalam kepemimpinan hendaknya seorang pelayan dapat mengambil gambar Allah sebagai Bapak atau Ibu.
Contohnya juga banyak dalam cerita-cerita PB. Kalau ingin bersikap sebagai juru damai, mediator di antara orang yang bertikai di tengah jemaat gerejawi yang dipimpin, lihatlah Tuhan Allah dalam diri Yesus Kristus yang telah mengosongkan dirinya itu (kenosis: lih. Fil. 2:5-11). Allah itu adalah penguasa, Tuhan, hakim, yang telah mengosongkan keilahian diriNya supaya menjadi manusia di tengah-tengah manusia yang bertikai itu. Dia menjadi hamba, pelayan, orang hukuman. Inilah gambaran yang paling mulia dan paling khas tentang bagaimana Allah menggunakan Power yang di atas para bawahan. Gambaran Allah yang ber-kenosis itu, sangat berlawanan dengan gambaran para penguasa dunia ini yang memakai power itu menjadi sumber segala macam perang, tirani atau birokrasi yang korup. Makna yang sering digunakan seperti empowerment (pemberdayaan/menyemangati), sebenarnya ungkapan ini menyimpan makna dari gambaran Tuhan Allah yang ber-kenosis sekalipun hal itu tidak memperlihatkan semua arti sesungguhnya kenosis itu. Alasannya, kalau kita menerima power-kuasa dari Tuhan Allah maka kita diberdayakan dan disanggupkan olehNya, sekaligus Allah meminta atau menuntut sesuatu dari kita. Kita dipanggil menjadi muridNya, menjadi pengikutNya untuk menjalani proses kenosis dalam perjalanan hidup leyanan kita itu. Dalam hal ini kita harus menjaga diri supaya jangan mengambil tempat Tuhan Allah dan Yesus Kristus. Jangan kita mengangkat diri menjadi seperti Tuhan Allah, atau menjadi ilah-ilah yang harus dipuja-dipuji oleh para jemaat. Melalui istilah pemberdayaan (empowerment) ini, kita diingatkan supaya melihat Tuhan Yesus yang menderita. Allah yang menderita tampak dalam peristiwa penyaliban, peristiwa penyaliban yang mempertontonkan titik nadir dari power/kuasa yang sudah korup, baik di kalangan pemimpin Jahudi maupun di kalangan pemimpin sekuler yang diwakili oleh para petinggi kekaisaran Romawi. Entah itu kaisar Agustus atau pun petinggi di Palestina yang bernama Herodes atau Filatus. Di tengah kekacauan itulah terjadi peristiwa penyaliban Tuhan Yesus Kristus yang menggunakan Power yang ada padaNya untuk tidak bersekongkol dengan power/kuasa yang disalahgunakan oleh para penguasa tersebut di atas. Tuhan Allah solider dengan orang-orang yang menderita atas penindasan dan ketidak adilan dari mereka yang telah
menyalahgunakan power atau kuasa yang mereka raih. Tuhan Allah ikut menderita di tengah-tengah manusia yang menderita itu. Apa artinya ini, di dalam hal mengelola konflik di dalam jemaat/gereja ? Sebagai pemegang kuasa, pelayan jangan ikut-ikutan menyalibkan Yesus ketika terjadi konflik di tengah pelayanan kelak. Ikutlah jejak Yesus yang rela menahan penyalahgunaan power/kuasa itu demi pepentingan pribadi dan kelompok.
Konflik dalam jemaat tidak sama makna dan artinya dengan konflik yang terjadi di dalam masyarakat atau negara, karena jemaat atau gereja adalah rumah Allah. Sepatutnyalah keluarga Allah harus seiring dengan teladan Yesus Kristus, bukan sebaliknya. Tugas dan tanggungjawab kita sangatlah mulia dan agung, karena sebagai pelayan kita berada pada jalan menuju perdamaian (rekonsiliasi) yang dari Tuhan Allah.
Dua Kepentingan: Pranata (jemaat/gereja) dan Manusia
6. Secara teoritis sebagai pemimpin, pelayan harus menggumuli masalah bagaimana cara memuaskan kebutuhan lembaga pelayanan tanpa membahayakan citraanya sebagai mana murid Yesus Kristus. Ingatlah apa yang dituntut oleh Yesus dari muridNya, yaitu ikut ber-kenosis sangat menggunakan power/kuasa itu di tengah konflik yang mengarah pada penyalahgunaan power/kuasa itu. Anda punya pengikut yang anda raih karena keunggulan anda mempengaruhi mereka untuk tujuan yang benar dan baik/kebutuhan pelayanan. Anda juga dipengaruhi oleh mereka yang punya berbagai kepentingan dan kebutuhan. Anda mungkin sudah pernah merasa terjepit dalam dua kepentingan, yaitu kepentingan jemaat/gereja dan kepentingan pribadi-pribadi anggota jemaat yang mengikut anda. Apakah anda sudah merasakan bahwa dalam ketergantungan sedemikian rupa itu, kehidupan anda dan mereka yang anda pimpin itu diuji supaya sama-sama bertumbuh secara rohani dan spritual ? Inilah tandanya anda sebagai pemimpin (gembala) yang mengasihi. Anda pasti merasakan bahwa jemaat mempunyai struktur atau system yang kadang-kadang lebih kaku, lebih lamban daripada anda sendiri sebagai manusia. Kita merasakan juga bahwa kita terjepit antara kebutuhan kita/keluarga sendiri dan tuntutan institusional dari jemaat. Kenaliah situasi jemaat di mana anda menggunakan power (kuasa) melayani. Karena terdapat jemaat/gereja yang baik maupun yang buruk seperti ada pemimpin yang baik dan ada pemimpin yang jahat/jelek.
Dan tidak semuanya pemimpin itu adalah gembala. Jangan heran kalau anda pernah merasakan tekanan jemaat atau tekanan system sebagai “gejala kejahatan” seperti pernah diingatkan oleh oleh para ahli sejarah dalam gereja. Artinya, kita harus sampai pada suatu arah pemahaman bahwa ketika kita merasakan tekanan jemaat (system) sebagai tekanan seseorang yang berada di atas kita maka pada saat itu kita mengalami bahwa power/kuasa yang tersimpan dalam system/struktur tersebut dirasakan menindas kita.
Artinya, system yang berlaku tidak luput dari kejahatan atau kecurangan.
Dengan kata lain sesungguhnya yang pertama kali dirasuki oleh kejahatan itu adalah jemaat/gereja lalu pindah kepada individu-individu yang berada pada lembaga itu. Dalam proses demikian tidak mustahil pula bahwa kejahatan
lembaga itu dapat mengubah gembala menjadi dictator atau tiran yang dikuasai oleh gairah kejahatan dan keserakahan. Gereja sebagai satu lembaga pranata di dunia ini juga tidak luput dari bahaya ini bahkan sering menjadi sasaran kejahatan system atau pranata. Dari pengalaman banyak orang pelayan di HKBP, dapat ditambahkan bahwa para pelayan ke depan harus sadar, “sebaik apapun struktur jemaat gereja, kalau perilaku pelayan/budaya berorganisasi HKBP korupt/jahat maka hasilnya akan membawa bencana bahkan kehancuran pada gereja HKBP”. Artinya, yang paling penting adalah mempersiapkan diri agar mampau berorganisasi secara sehat dan bukan secara sakit. Intinya, konflik yang terjadi sesaat atau berkepanjangan dalam sejarah HKBP menandakan bahwa alangkah lemahnya dan rapuhnya budaya berorganisasi gereja HKBP. Seolah-olah setiap pribadi pendetalah yang menjadi biang masalah, seolah-olah segala sesuatunya terletak dalam pikiran dan keputusan pribadi pendeta sehingga tidak perlu lagi membaca dan memberlakukan aturan/pedoman kerja yang berlaku. Sikap korupt yang seperti inilah bibit konflik yang paling mudah muncul dalam jemaat HKBP sepanjang sejarahnya.
Penutup: Sebagai mediator
7. Teoritis pelayanan yang menghadapi dua kelompok yang berseteru dalam jemaat, akan melihat hadirnya dua power/kuasa yang saling beradu tenaga untuk mencapai kemenangan sepihak. Pertanyaan yang muncul adalah: apa yang kemudian membuat konflik ini dapat bersifat kristiani dan konstrukltif/membangun ? Jawabannya adalah: “sikap yang mampu mengendalikan diri, kedua belah pihak yang berkonflik harus mau saling mendengarkan dengan penuh hormat”. Mereka yang bertikai ingin memahami dan menghargai kepentingan yang berbeda-beda. Mereka akhirnya memperoleh perspektif-perspektif baru yang menjadi modal dasar untuk mengembangkan solusi sama-sama menang (win-win solution).
Penting juga, bahwa menyikapi konflik sebagai pergumulan kekuasaan atas berbagai perbedaan: informasi atau keyakinan yang berbeda, kepentingan, keinginan atau nilai-nilai yang berbeda, kemampuan yang berbeda dalam memperoleh sumber-sumber yang dibutuhkan. Kelompok-kelompok yang bertikai itu sama-sama menggunakan power/kuasa. “Mereka menggunakan kekuasaan mereka baik untuk saling menaklukkan (pertarungan curang) atau untuk saling bekerjasama (pertarungan secara jujur)”. Sebagai mediator, kita mengharapkan dan mengarahkan mereka supaya melakukan
“pertarungan jujur untuk mencapai solusi-sama sama menang-melalui cara mediasi, tak perlu membawanya ke depan pengadilan negara. Mereka yang sudah menemukan jalan menuju pertarungan yang jujur itu, pasti didasarkan pada iman kristiani artinya kalau mereka yang bertikai itu berangkat dari dasar iman yang sama maka mereka menyadari keterbatasan diri mereka sehingga tidak mengklaim diri sebagai yang terbaik, paling benar, paling penting, dan lain-lain. Mereka melihat bahwa pertikaian mereka bukan melulu/sekedar menyangkut masalah perbedaan keyakinan, tetapi lebih dari itu yaitu: menjadi masalah pengungkapan iman mereka. Mereka melihat secara bersama visi kristiani
pembebasan, kebenaran dan belaskasih Allah. Untuk itulah mereka dipanggil oleh Tuhan Allah dan sekaligus punya tugas untuk menyampaikan Syalom Allah itu kepada sesama dan lingkungan hidup.