• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEJARAH GEREJA BATAK KARO PROTESTAN (GBKP)

Dalam dokumen Silabus Sejarah Gereja Batak I (Halaman 115-118)

sumber daya manusia. Sampai sekarang gereja ini masih tetap dibanrtu oleh HKBP dan badan-badan gereja lain dari luar negeri.

SEJARAH GEREJA BATAK

kehadiran perusahaan-perusahaan Belanda ini, dan aksi yang mereka lakukan menolak perusahaan-perusahaan ini adalah melalui membakar gedung-gedung perkebunan Belanda.

2. Latarbelakang GBKP sebagai gereja hasil misi PI NZG. Sejak awalnya, tajamnya penolakan masyarakat Karo terhadap pendirian perusahaan- perusahaan Belanda di daerah mereka (Sumatera bagian Timur - daerah Langkat sekarang) merupakan alasan kuat bagi pemerintah kolonial untuk mendatangkan para misionaris melalui badan misi NZG dari Belanda untuk

“merngkristenkan” masyarakat Karo. Ini dapat dikatakan bahwa inisiatif pertama pengkristenan Karo, ini diprakarsai oleh perusahaan perkebunan Belanda bukan badan zending. Akibat gangguan yang dialami oleh perusahaan perkebunan itu, maka pimpinan perusahaan Belanda meminta NZG mengutus para misonaris kepada orang Karo dengan satu-satunya harapan agar masyarakat Karo dapat di “jinakkan” atas peristiwa gangguan itu. Tawaran perusahaan perkebunan itu kepada pihak badan zending RMG adalah, bahwa mereka akan menanggung semua biaya misi kepada masyarakat Karo. Awalnya, pimpinan NZG di Belanda tidak menerima permintaan ini, alasannya misi PI tidak boleh dicampuradukkan dengan urusan perdagangan (kapitalisme). Namun, sadar akan rencana pertama yang tertunda oleh pihak NZG untuk mengabarkan Injil di Karo (karena ketiadaan biaya) maka tawaran ini dianggap sebagai peluang dan kesempatan baik walau di kemudian hari setelah perjanjian ini dilaksanakan pihak perusahaan tidak melanjutkan biaya misi NZG itu karena ketiadaan biaya sebab krisis ekonomi ketika itu. Dengan keadaan seperti itu, NZG tetap melanjutkan pekerjaan misi di Karo.

3. Sejak awal perjanjian ini, misionaris pertama yang di utus ke tanah karo ialah H. C. Kruyt yang tiba di sana tanggal 18 April 1890. Tanggal inilah kemudian ditetapkan oleh GBKP sebagai hari lahir Gereja itu. H.C.Kruyt adalah anak dari J.Kruyt, seorang penginjil yang pernah bekerja di Majowarno-Jawa Timur dan abang dari A.C.Kruyt (seorang etnologi ternama) misionaris Ordo Yesuit di Sulawesi Tengah. Sebelumnya, H.C.

Kruyt bekerja sebagi kepala sekolah Guru di Tomohon, Minahasa. Dari Minahasa dia membawa empat orang guru yang diharapkan akan bisa membantu dirinya memberitakan Injil tanah Karo. Setibanya di Tanah Karo, mereka kemudian menetap di Buluh Hawar (dekat Sibolangit), sebab pemerintah Belanda belum mengijinkan mereka masuk lebih jauh ke daerah yang waktu itu belum dikuasai oleh Belanda. Tetapi Kruyt bekerja di tanah Karo hanya dua tahun, lalu ia pulang ke Negeri Belanda. Karena itu yang menjadi tokoh penginjil yang paling terkenal di tanah Karo bukanlah dirinya, melainkan J.H.Newmann yang bekerja di daerah itu dari tahun 1900 – 1949, yang oleh orang Karo menganggap Newmann sebagai rasul mereka.

Setelah H.C.Kruyt pulang, ia diganti oleh Van Wijngaarden (1892), inilah misionaris pertama yang melakukan pembaptisan pertama di Tanah Karo di mana peristiwa itu berlangsung tanggal: 20 Agustus 1893, atas 6 orang Karo

dan sampai tahun 1900 tidak lebih dari 25 orang yang di baptis menjadi Kristen. Baru setelah kedatangan Newmann penginjilan di daerah Karo mengalami perkembangan yang lebih cepat. Jika dibandingkan dengan penginjilan yang dilakukan Nommensen di Tapanuli Utara, hasil yang dicapai di Tanah Karo sangatlah lambat. Pada tahun 1926, jumlah orang Krsiten yang di baptis di Karo masih 1500 orang, dan setelah 50 tahun penginjilan itu orang Kristen karo masih berjumlah 5000 orang.

Beberapa factor yang membuat penginjilan itu kurang maju di sana ialah:

- Orang Karo melihat Zending itu sebagai sahabat perusahaan perkebunan yang mereka musuhi, karena makin mendesak mereka.

- Orang Karo tidak terdesak oleh Islam yang militan seperti halnya di Tanah Batak bagian Selatan sehingga para misionaris kurang berpacu melakukan penginjilan itu.

- Orang-orang Karo pada waktu itu belum membutuhkan zending sebagai sarana untuk menampung modernisasi.

- Orang-orang karo kurang diberi kesempatan untuk menanggung sendiri karya pekabaran Injil di daerahnya. Zending memang terus berusaha mendirikan sekolah penginjil agar dari orang Karo itu ada tenaga yang ikut membantu pekabar-pekabar Injil yang diutus oleh NZG.

Kemudian dari antara mereka tahun 1938 dipilih dua orang untuk di sekolahkan mengikuti pendidikan kependetaan di Seminari Sipoholon, Tarutung. Kedua orang itu tammat dan ditahbiskan menjadi pendeta, tahun 1941. jadi sampai Gereja itu berumur 50 tahunn yakni tahun 1940, belum ada satu orangpun pendeta Karo ditahbiskan.

Tetapi peranan Zending sangat besar dalam mendidik masyarakat Karo menyesuaikan diri dengan ekonomi modern dengan jalan menanam kentang, sayur-sayuran, buah-buahan untuk memenuhi kebutuhan kota-kota besar di Sumatera Utara bahkan dikemudian hari hasil tanaman sayur-sayuran tanah Karo telah ada di ekspor ke luar negeri. Dari sudut inilah diketahui partisipasi besar misionaris terhadap pertumbuhan dan perkembangan ekonomi masyarakat Karo hingga sekarang.

4. Terbentuknya Sinode GBKP yang pertama (1941). Sinode “Gereja Batak Karo Protestan” (GBKP) yang pertama dilangsungkan di Sibolangit tanggal 21 Juli 1941, saat sinode ini berlangsung, mereka menetapkan sebuah tata Gereja dan tata kebaktian yangbaru dan berlaku bagi Gereja itu. Pada tahun itu dua orang pendeta Karo yang pertama telah ditahbiskan, yakni Thomas Sibero dan Palen Sitepu, namun pimpinan gereja masih tetap dipengang utusan NZG. Masa bergejolaknya PDI, para pendeta Belanda itu ditawan oleh pemerintah militer Jepang tahun (1942), atas keadaan ini barulah kemandirian Gereja Karo berlangsung secara penuh. Masa perang kemerdekaan (1945-1949), ini mempengaruhi terjadinya perjuangan yang sengit khususnya di daerah Karo. Masa keadaan ini orang Kristen Karo mendapatkan tantangan sengit dari suku Melayu yang berdekatan langsung dengan mereka. Sebab baik orang Karo yang belum Kristen, maupun orang Melayu yang eusdah menjadi Islam, mereka menganggap orang-orang Kristen Karo yang

kemerdekaan Indonesia) sebagi kaki tangan Belanda, namun dalam situasi sulit seperti itu warga jemaat GBKP tetap mampu dan berhasil mempertahankan dirinya.

Perkembangan kekristenan yang lebih pesat di tanah Karo baru terjadi mulai tahun 1950-an. Pada waktu itu banyak tentara dari suku Karo yang masuk Kristen.

Misalnya tahun 1953, semua anggota satu batalyon TNI masuk menjadi Kristen.

Dalam masa lima tahun anggota GBKP berlipat empat kali jumlahnya. Pertambahan yang lebih besar lagi terjadi sejak peristiwa G30SPKI tahun 1965, pada waktu itu banyak orang Karo belum beragama dan mereka beranggapan bahwa jika tidak memasuki agama Kristen mereka akan dituduh sebagai komunis. Karena itu secara beramai-ramai masuklah orang-orang yang masih pelbegu itu menjadi Kristen, yang membuat sering terjadi pembaptisan massal. Untuk melayani pembaptisan massal itu GBKP terpaksa meminta beberapa tenaga beberapa pendeta dari HKBP, HKI, GMI, GKPS, dll. Tahun 1965 itu, ketika GBKP berusia 75 tahun, jumlah anggotanya mencapai 35 ribu orang. Kemudian gerakan penginjilan yang lebih intensif mulai dilakukan oleh GBKP menjelang tahun 1980, ketika gereja itu sudah beranggotakan 110 ribu orang. Misalnya tahun 1979, gereja itu telah menyusun suatu Pengakuan Iman yang memberi patokan iman dan anjuran bagi warga gereja di GBKP.

PERKEMBANGAN GEREJA METHODIST

Dalam dokumen Silabus Sejarah Gereja Batak I (Halaman 115-118)