Permulaan Kekristenan di Mentawai
1. Kepulauan Mentawai adalah terletak di sebelah Barat daerah Sumatrera Barat, dan terdiri dari beberapa pulau dan pulau-pulaunya yang terbesar ialah: Siberut, Sipora dan Page. Bahasa daerah di Pulau Page adalah berbeda dari bahasa daerah di Pulau Siberut. Tetapi bahasa yang dipergunakan dalam gereja adalah bahasa Page. Hal ini menunjukkan bahwa kekristenan di pulau Page lebih maju dari kekristenan di Pulau Siberut. Bagaimana kekristenan di Pulau Mentawai ini ? Menjelang tahun 1900, pimpinan RMG di Barmen mendapat sebuah kiriman berupa sebilah tombak yang disertai dengan sepucuk surat dari Syah Bandar Padang seorang Belanda. Dalam surat itu, ia menyebutkan: “dengan tombak ini orang Mentawai telah membunuh seorang awak kapal dagang. Penduduk pulau itu masih orang-orang kafir yang buas semua. Masih berapa lama lagi mereka baru sempat mendengar Injil ?” Surat inilah yang mendorong RMG mengirim misionarisnya ke Mentawai. Misionaris pertama yang diutus oleh RMG ialah, August Lett, yang tiba di Mentawai tahun 1901. Namun sebelum adanya orang-orang Mentawai yang dibaptis, August Lett dibunuh oleh orang-orang Mentawai sendiri tahun 1909, karena ia berusaha menjadi pengantara masyarakat setempat dengan pemerintah Belanda.
Pekerjaan August Lett diteruskan oleh Pdt. F. Berger yang mulai bekerja di sana tahun 1907, yang dibantu oleh seorang guru Injil yang diutus oleh Zending Batak bernama: Gr. Manase Simanjuntak.
Namun, dalam UPI itu, mereka mengadapi banyak kesulitan, a.l:
a. Daerah ini juga merupakan sarang penyakit malaria.
b. Keadaan geografis, dan hubungan lalu lintas yang sulit. Hubungan lalu lintas masih lebih banyak melalui laut dan sungai, karena perkampungan pada umumnya berada di tepi laut atau sungai.
c. Pengaruh kekafiran dan kuasa dukun sangat besar. Bagi masyarakat Mentawai:
“datu” (Sikerei bahasa Mentawai) lebih dihargai daripada seorang raja atau
antara Tuhan dengan mereka. Sikerei juga dianggap mengetahui segala- galanya, karena ia sering berhubungan dengan roh-roh atau “sanitu-sanitu”.
d. Tantangan dari pihak orang-orang Minang yang tidak menghendaki orang-orang Mentawai mengalami kemajuan. Orang-orang Mentawai diharapkan oleh orang- orang Minang yang datang berdagang ke Mentawai sebagai sumber penghasilan yang cukup besar. Karena orang-orang Metawai masih bodoh, sering mereka menyerahkan begitu saja hasil bumi mereka berupa cengkeh hanya dengan imbalan sedikit tembakau.
Setelah bergumul hampir 15 tahun, maka pembaptisan pertama baru terjadi tanggal 9 Juni 1916 yakni atas empat orang (dua pasangan suami isteri) yakni: Pomanyang dan isterinya dan Jago Mandi dan isterinya. Saat pembatisan yang pertama inilah yang ditetapkan sebagai hari lahir dari GKPM.
Dalam upaya menyebarkan Injil itu, hal-hal yang mendapat perhatian dari zending ialah:
a. Pembinaan rohani. Pembinaan ini dimaksudkan untuk memperdalam iman dan pemahaman mereka akan nilai-nilai kekristenan itu. Tetapi pekerjaan ini sangat sulit dilakukan karena kepercayaan yang lama, yakni agama Sabulungan yang menganut paham animisme telah sangat sangat sulit dilepaskan dari kehidupan mereka.
b. Usaha Pendidikan. Usaha ini dilakukan dengan mendirikan Sekolah-sekolah Dasar. Usaha pendidikan di sana sangatlah lambat sekali jika dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya. Pemerintah sangat kurang memberi perhatian kepada usaha pendidikan di sana. Sampai tahun 1957, sekolah SD yang didirikan oleh pemerintah hanya satu dalam satu kecamatan, dan sampai tahun 1970 satu-satunya sekolah tingkat lanjutan yang ada hanya SMP yang dibuka oleh sending HKBP mulai tahun 1957.
c. Usaha dibidang kesehatan. Bidang ini juga merupakan perhatian zending, sehingga sending membangun sebuah RS di pulau Sikakap, dan sebuah poliklinik masing-masing di pulau Sipora dan di Muara Siberut.
d. Mengenai kehidupan social ekonomi. Tingkat kehidupan social ekonomi sehari-hari sangat rendah, walau daerah ini mempunyai hasil yang cukup banyak seperti: kopra, rotan, cengkeh, dll. Namun yang memperoleh keuntungan yang besar dari hasil bumi mereka adalah pedagang-pedagang yang datang dari luar terutama orang-orang Minang. Sampai tahun 1957, system perdagangan di sana masih system tukar menukar barang. Mereka sering memberikan hasil bumi mereka kepada orang-orang luar hanya dengan memperoleh imbalan tembakau. Orang-orang Mentawai menganggap mereka kaya, karena di sana mereka tidak kekurangan bahan makanan berupa sagu, ketela pohon, keladi, pisang dll.
Tantangan Terhadap Gereja Mentawai
2. Gereja Mentawai juga menghadapi banyak tantangan yang datang dari luar dirinya antara lain dari gereja RK, dari agama Islam dan agama Baha’i. Gereja RK mulai bekerja di sana sesudah PD II, mereka mendatangkan kesulitan bagi zending HKBP karena “pada umumnya orang-orang yang sudah Kristen itulah yang diambil oleh RK menjadi anggotanya”. Gereka RK mempengaruhi warga Kristen ini dengan berbagai cara yang menarik antara lain, dengan membangun gereja yang besar dan bagus walau di tempat itu belum ada anggota jemaatnya. Sebelumnya, apabila zending
bentuk iuran, bantuan gotongroyong mengumpulkan bahan-bahan yang dibutuhkan seperti kayu, batu, pasir dll. Agama Islam juga dicoba dimasukkan di tengah-tenagah masyarakat Mentawai melalu orang-orang Minang yang datang ke sana. Tetapi agama Islam sulit diterima oleh orang Mentawai karena: “kebiasaan orang Mentawai yang suka makan daging babi”. Cara-cara sembahyang Islam yang sulit diikuti oleh orang-orang Mentawai itu. Adat kebiasaan mereka yang banyak bertentangan dengan kebiasaan Islam. Misalnya, ketika seorang meninggal dunia, bagi orang Islam pakaian orang yang meninggal itu tidak boleh ikut dikuburkan bersama mayatnya, sedangkan menurut kebiasaan orang Mentawai semua pakaian orang yang meninggal itu harus ikut dikuburkan, tidak boleh ada yang tertinggal, karena menurut kepecayaan mereka, roh atau hantu orang yang meninggal itu bisa tertinggal dalam pakaiannya. Suatu agama yang baru, yang bersifat sinkritisme pernah masuk ke Mentawai tahun 1953 yang dibawa oleh seorang Dokter asal Iran yang bekerja untuk pemerintah RI dan ditugaskan di daerah Mentawai, dan ia tinggal di daerah Muara Siberut. Agama yang diajarkannya disebut sebagai agama Baha’i atau Babisme. Agama ini mulai didirikan tahun 1843 di Iran oleh pendirinya yang bernama Mirza Ali Muhammad dari Shiras. Tetapi karena pengikut agama ini mengadakan pemberontakan (1848), pemerintah Iran membasmi agama ini dari negeri itu dan sang pendiri yang bergelar “Bab-ed-Din” yang memperkenalkan diri sebagai Nabi yang dipercayai oleh orang-orang Jahudi, Kristen dan Islam dihukum mati. Babisme kemudian dilanjutkan oleh pemimpin yang baru yang bergelar Baha Ullah (nabi utusan Allah). Ia adalah seorang Iran yang bernama Mirza Hussein Ali dan mengumumkan dirinya sebagai pengganti Bab-ed-Din. Kaum Baha’i mengimani hidup sederhana, pendidikan umum kesatuan semua agama, perdamaian dunia, persamaan kaum pria dan kaum wanita. Agama ini meluas ke seluruh dunia pada abad 20, dan berpusat di Willmette – AS. Hingga sekarang, banyak pemeluk agama Baha’i yang sukses di AS dan kaya raya sehingga mereka dapat membangun sebuah tempat ibadah mereka yang besar dan berlapis emas di Haifa Israel. Dan kota inilah yang kemudian dijadikan sebagai pusat agama Baha’i.
Sekitar tahun 1953, agama ini mulai masuk ke Indonesia dan sempat berkembang di wilayah Jakarta, Mentawai dan Jawa Timur. Tetapi karena ada segi-segi kegiatan mereka tidak sesuai dengan kepribadian Indonesia dan sering melawan hukum yang ada maka pemerintah Indonesia melarangnya tahun 1962. Dari sudut ajaran agama ini, dapat dikatakan bersifat sinkritis. Mereka yakin tidak ada satu pun agama yang sudah ada sebelumnya, yang bisa memonopoli kebenaran seratus persen. Mereka menolak pendapat yang mengatakan “agamaku yang paling benar”. Sebaliknya, mereka percaya tiga agama yakni :Islam, Kristen dan Jahudi” serta percaya kepada semua nabi yang dikenal oleh ketiga agama itu sejak nabi Musa, Isa (Yesus Kristus) dan nabi Muhammd SAW. Setelah agama ini dilarang oleh pemerintah Indonesia, maka agama ini menjadi hilang dari bumi Indonesia termasuk juga dari daerah Mentawai.
GKPM Sebagai gereja yang bediri sendiri
3. Tahun 1978, HKBP mengubah status gereja ini dari gereja sending menjadi sebuah gereja yang berdiri sendiri. Pada waktu itu, namanya yang lama “Paamian Kristen Protestan Mentawai” (PKPM) diganti menjadi “Gereja Kristen Protestan Mentawai” (GKPM). Setelah kemandiriannya itu, maka gereja ini dipimpin langsung oleh putera itu sendiri dengan Ephorus yang pertama: Pdt. Melki Tatubetet, STh, ia seorang alumni Fakultas theology Universitas HKBP Nomensen. Tetapi walau gereja ini dikatakan sudah berdiri sendiri, gereja ini masih bergumul pada soal dana dan
sumber daya manusia. Sampai sekarang gereja ini masih tetap dibanrtu oleh HKBP dan badan-badan gereja lain dari luar negeri.