• Tidak ada hasil yang ditemukan

PLURALITAS GEREJA-GEREJA BATAK

Dalam dokumen Silabus Sejarah Gereja Batak I (Halaman 95-112)

Sebagaimana bertambahnya minat dan rasa antusiasnya orang Batak terhadap kekristenan, demikian dengan banyaknya badan misonaris yang bekerja di tanah Batak: keadaan ini sangat mempengaruhi dan menentukan pluralitas gereja-gereja Batak. Unsur pluralitas ini juga sangat didukung oleh perbedaan-perbedan kulturil budaya antara suku-suku (etnis) Batak itu sendiri. Di bawah ini diuraikan aspek pluralitas gereja-gereja Batak.

A

GEREJA KRISTEN PROTESTAN INDONESIA (GKPI)

Latarbelakang lahirnya GKPI. Setidaknya ada dua versi dapat menjelaskan tentang lahirnya GKPI sebagai salah satu denominasi dalam gereja Batak.

Versi pertama: versi menurut HKBP (sebagai gereja induk pemisahan jemaat ini). Versi kedua, adalah versi menurut GKPI (setidaknya menurut pendiri gereja ini lahir pada awalnya yang diwariskan hingga ke para elit tokoh gereja ini masa sekarang) sendiri.

Lahirnya GKPI Menurut Versi HKBP

1. Denominasi ini lahir adalah sebagai hasil dari terjadinya konflik intern HKBP tanggal 30 Agustus 1964. Konflik intern itu terutama dipicu oleh pergantian pimpinan dan kepengurusan pusat HKBP tahun 1962, di mana Synode Agung (SA) HKBP tanggal 16-23 tahun 1962 telah mensyahkan berlakunya TG HKBP untuk tahun 1962-1972, di mana TG ini disusun oleh Sekretaris Jenderal HKBP waktu itu yakni Ds. T.S. Sihombing dan oleh T.S. Sihombing, susunan TG ini telah mengalami banyak perubahan dari TG tahun

menyangkut system pemilihan pimpinan dan seluruh fungsionaris HKBP.

Dalam TG yang lama, yang mencalonkan Ephorus dan Sekjend untuk ditetapkan oleh SA adalah Rapat Pendeta HKBP. Yang memilih anggota Majelis Pusat adalah Synode Distrik, keadaan ini didukung oleh system yang sudah sejak lama masing-masing Distrik memiliki utusan menjadi anggota majelis pusat. Demikian halnya dengan pemilihan terhadap Praeses dipilih oleh synode Distrik masing-masing. Namun oleh TG tahun 1962 hasil konsep Ds. T.S. Sihombing, seluruh unsur pimpinan dan fungsionaris, termasuk para Pareses ini dipilih langsung oleh SA HKBP dengan masa jabatan selama enam tahun. Selanjutnya, SA HKBP 1962 berhasil memilih fungsionarisnya yang baru periode 1962-1972 dengan formasi: Ephorus Ds. T.S. Sihombing serta sekretaris Jenderal adalah Ds. G.H.M. Siahaan, yang pada akhirnya hasil keputusan ini menjadi polemik yang sangat berkepanjangan di dalam gereja waktu itu. Polemik (masalah yang tidak terselesaikan) ini diperkuat oleh kebijakan mutasi pertama fungsionaris HKBP ketika telah terpilih menjadi Ephorus dan Sekjend. Mutasi ini menyangkut kepada jumlah 50 orang pendeta yang pada akhirnya sebagian besar mereka tidak mengindahkan SK mutasi ini. Konsistensi keadaan ini sangat mempengaruhi banyaknya masalah intern timbul di jemaat-jemaat di mana pokok yang dipersoalkan bahwa sebagian jemaat mendukung pendeta lama untuk tetap bertahan di tempat pelayanan sebelumnya dan sebagian mendukung SK mutasi pendeta yang baru ditempatkan. Konflik ini sangat berpengaruh terhadap munculnya dua kali kebaktian minggu di satu-satu jemaat yang berkaitan dengan SK mutasi pendetanya. Untuk menyelesaikan masalah local jemaat yang bermasalah ketika itu, pimpinan HKBP terpilih tahun 1962 menerapkan kebijakan memberhentikan pendeta yang tidak mau patuh kepada realisasi SK mutasinya. Namun justru cara ini bukanlah merupakan jalan keluar yang baik bahkan sangat memperuncing persoalan di dalam gereja. Sikap yang pro dan kontra akhirnya menjadi sangat tajam berlangsung, jemaat yang mendukung tidak patuh terhadap realisasi mutasi pendeta akhirnya memutuskan sikap putus hubungan dengan pucuk pimpinan HKBP. Ketika itu masih dicoba berbagai usaha agar mempertahankan supaya skisma tidak berlangsung di dalam gereja HKBP, namun dari banyaknya usaha dilakukan semuanya tidak mengarah pada kesatuan gereja.

2. Penetrasi (Perkembangan) Konflik selanjutnya. Persoalan gereja akibat konflik di atas, pada akhirnya semakin meluas dan semakin didukung oleh berlangsungnya konflik lain di lembaga Universitas HKBP Nomensen. Bulan September 1963, Pdt. Dr. Andar Lumbantobing (menjabat sebagai Rektor) dan Drs. H.M.T Ompusunggu (wakil Rektor) diberhentikan oleh St. T.D.

Pardede yang ketika itu menjabat sebagai Ketua Yayasan Universtas HKBP Nomensen, di mana pemberhentian ini dilakukan sebab keduanya dinilai menentang kebijaksanaan yayasan Universitas. Pada saat itu, Andar Tobing dan H.M.T. Oppusunggu notabene adalah dua orang Majelis Pusat HKBP di mana sikap mereka terhadap yayasan Universitas dianggap sebagai ketidak

patuhan kepada pimpinan Pusat HKBP. Melalui alasan ini, tanggal 15 Oktober 1963 dengan didahului oleh pernyataan dua orang tokoh ini menyatakan putus hubungan dengan HKBP maka rapat Majelis Pusat HKBP memutuskan untuk memberhentikan mereka dari jabatan rektorat dan kedudukan mereka dicela oleh Majelis Pusat ketika itu. Bersamaan dengan masalah mutasi beberapa orang pendeta ditambah dengan masalah Universitas HBP Nomensen, keadaan ini mempengaruhi banyaknya muncul pihak-pihak oposisi kepada pucuk Pimpinan HKBP di luar jemaat. Dua di antaranya adalah pertama, “Panitia Penghubung Hasadaon HKBP” (PPH- HKBP), badan ini dipimpin oleh Abner Situmorang yang ketika itu ia menjabat sebagai Bupati Simalungun. Kedua, “Panitia Panindangi Reformasi (PPR-HKBP)” diketuai oleh mantan anggota Majelis Pusat yakni J.B.

Simatupang dan Pdt. M. Hutauruk. Awalnya, gagasan mereka sangat baik untuk membantu pucuk Pimpinan HKBP menyelesaikan masalah yang terjadi di dalam gereja. Namun, hasilnya tidaklah memuaskan sebab menurut Pimpinan HKBP ketika itu, kedua badan ini sangat memaksakan kehendak masing-masing kepada Pimpinan HKBP dengan menyatakan diri sebagai badan yang setingkat dengan Pimpinan HKBP dalam hal mengambil keputusan bersama untuk penyelesaian masalah yang terjadi. Atas sikap seperti ini, Pimpinan HKBP tidak mengakui badan ini dan tanggal 19 Oktober 1963 setiap pendeta yang masuk ke badan ini dikeluarkan dari HKBP. Reaksi jemaat kemudian sangat meluas melalui kebijakan pucuk Pimpinan ini. Guna memperkecil resiko atas persoalan demi persoalan terjadi, maka tanggal 10 Nopember 1963 disyahkanlah lembaga baru di dalam gereja sebagai mana dinamakan “Dewan Keutuhan HKBP”, di mana tujuan lembaga ini merubah personalia Majelis Pusat termasuk Pimpinan HKBP. Dewan ini mengusulkan agar segera diadakan SAI tanggal 13 Januari 1964. Oleh pimpinan HKBP, mereka melihat gagasan ini sangat mengarah pada perpecahan gereja.

Melaluinya tanggal 19 Nopember 1963, pucuk pimpinan mengeluarkan surat penggembalaan kepada setiap jemaat, isinya: “menghimbau seluruh warga HKBP agar segala pikiran dan usul untuk menggalang kesatuan HKBP sebaikanya disampaikan melalui mejelis-majelis jemaat HKBP”. Usul dewan keutuhan HKBP untuk mengadakan Sai ini tidak diterima oleh pimpinan HKBP.

3. Embrio GKPI. Sebagaimana dijelaskan di atas, dengan tidak dicapainya jalan damai di dalam gereja dan dalam hubungannya dengan konflik yang terjadi di HKBP, maka tanggal 19 April 1964 lembaga-lembaga ini kemudian mempersatukan diri dalam wadah: “Dewan Koordinasi HKBP 1950”. Wadah ini ditokohi Pdt. Dr. Andar Lumbantobing bersama Pdt. Dr. S.M. Hutagalung.

Sikap dua pimpinan lembaga ini, mereka berusaha sebagai pucuk Pimpinan tandingan di dalam gereja dan menyatakan diri bahwa gereja kembali ke system TG 1950. Alasannya sebab, TG yang baru (1962-1972) telah menimbulkan kegawatan besar di dalam tubuh HKBP. Melalui terbentuknya

“Dewan Koordinasi HKBP 1950” ini dengan dipimpin oleh Pdt, Dr. S.M.

Hutagalung, maka ini berarti bahwa lembaga gereja lain yang setara dengan

organisasi HKBP telah lahir di dalam organisasi HKBP. Tanggal 2 Juli 1964,

“Dewan Koordinasi HKBP 1950” ini bersama dengan anggota-anggotanya, mereka mengadakan “musyawarah besar” dan mengeluarkan pernyataan- pernyataan yang isinya sebagai berikut:

a. Tidak menerima Majelis Pusat HKBP yang sekarang (periode 1962-1972) sebagai langkah ke arah kembalinya keutuhan seluruh HKBP, dan wadah ini menuntut mereka supaya segera diganti.

b. TG supaya jiwanya kembali ke TG 1950

c. Susunan dan cara pembentukan Majelis Pusat HKBP yang baru, supaya disesuaikan dengan jiwa TG HKBP 1950.

d. Sebelum terbentuk Majelis Pusat HKBP yang dimaksud dalam poin c, maka “Dewan Koordinasi Patotahon HKBP” melanjutkan pelayanan terhadap semua jemaat yang telah tergabung dalam dan yang akan menggabungkan diri pada “Dewan Koordinasi Patotahon HKBP” tersebut.

Segala tindakan oposisi “Dewan Koordinasi HKBP 1950”, selanjutnya dibicarakan pada SA HKBP 19-25 Juli 1964 di Parapat. SA ini dihadiri oleh utusan mereka yang diwakili oleh Pdt. H.P. Pakpahan. Pandangan golongan opisisi ini dituangkan dalam sebuah keputusan Synode yang kemudian mengangkat sebuah panitia yang bernama: “Panitia Khusus SA HKBP 1964 (PKC)”. Anggota PKC ini terdiri dari 8 orang dari HKBP, orang dari pihak Dawan Koordinasi HKBP 1950, mereka dilantik oleh Ephorus HKBP tanggal 23 Juli 1964. Dengan terbtnuknya PKC ini, maka seluruh golongan oposisi setelah SA tersebut semakin tidak mungkin. Ini berarti mereka harus mengambil keputusan: apakah tetap berada di dalam HKBP atau keluar dari HKBP ? Dampak dan pengaruh oposisi sebelumnya di dalam gereja semakin dibatasi pengaruhnya setelah pengumuman Gubernur SUMUT ketika itu (Kol.

Ulung Sitepu) membatasi dan melarang segala polemik HKBP baik umum, tulisan maupun lisan. Pengumuman ini mempertegas sikap HKBP ketika itu untuk membicarakan bahwa setiap masalah HKBP harus diselesaikan di dalam wadah PKC ini, mereka yang tidak patuh akan ditindak berdasarkan peraturan pemerintah yang ada. Tanggal 19 Agustus 1964, golongan opsisi yang menjadi anggota PKC ini ternyata mengundurkan diri. Bersamaan dengan pengunduran diri ini, PKC mengumumkan agar setiap jemaat HKBP yang mengadakan kebaktian terpisah mulai tanggal 23 Agustus 1964 melakukan kebaktian sesuai aturan HKBP. Pengumuan ini dinilai menguatkan keputusan Gubernur SUMUT ketika itu, namun akhirnya keputusan ini juga tidak terlalu ampuh bagi penyelesaian masalah. Tanggal 30 Agustus 1964, Dewan Koordinasi Patotahon HKBP melangsungkan kebaktian minggu di pekarangan rumah Dr. Luhut Lumbantobing di Pematangsiantar. Setelah kebaktian ini, diadakanlah rapat yangmemutuskan membentuk gereja baru yang mereka namakan sebagai “Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI)”. Pimpinan gereja yang baru ini ditetapkan:

Pdt. Dr. Andar Lumbantobing sebagai Bishop yang pertama dan Pdt. S.M.

Hutagalung sebagai Sekretaris Jenderalnya.

Satu hal yang sangat penting diketahui bahwa: seluruh golongan oposisi yang sebelumnya ada di dalam PKC (GKPI) tidaklah terhimpun dalam satu kesepakatan. Sebab tanggal 25 Juli 1965, sebagian dari mereka juga membentuk sebuah gereja yanglain yang mereka beri nama sebagai: “HKBP Luther (HKBP-L)” dan basis jemaat mereka ada di Lumbansiagian Tarutung.

Kelompok ini diketuai oleh Pdt. J. Sinaga. Perkembangan populasi gereja ini tidaklah begitu berarti hingga sekarang. Selanjutnya “HKBP-L” ini, berubah menjadi “Gereja Kristen Lutheran Indonesia (GKLI)” yang sampai sekarang masih diketuai oleh Pdt. J. Sinaga.

Lahirnya GKPI Menurut Versi GKPI Sendiri

4. Oleh para pelopor/pendiri gereja ini, GKPI dideklarasikan berdiri sebagai salah satu denominasi gereja Batak di SUMUT, ini terjadi tanggal 30 Agustus 1964. Menurut mereka, lahirnya GKPI adalah sebagai akibat dari berbagai masalah yang terjadi di seputar organisasi gereja HKBP: dalam hal ini konflik demi konflik sangat berkaitan dengan adanya perubahan AP HKBP 1962- 1972. Pada satu pihak, ada keinginan akan pembaharuan pada AP HKBP, pelayanan dan keinginan akan pembaharuan kepengurusan dalam kepemimpinan HKBP. Namun, pada sisi lain adanya sebagian orang yang berkeinginan untuk tetap mempertahankan dan menekankan supaya HKBP kembali kepada AP-HKBP 1940-1950. Dengan demikian dapat dipahami bahwa lahirnya GKPI adalah karena HKBP mengalami konflik internal yang telah merebak sejak tahun 1962 yang tidak terselesaikan melalui forum-forum perdamaian dan hal itu berdampak luas pada aspek persekutuan, kepemimpinan dan pelayanan gereja.

5. Menurut S.M. Hutagalung (lih. S.M. Hutagalung, Kata Sambutan Sinode Am Islam GKPI, 1966): “adanya badan-badan/Panitia, anggota dalam gereja yang telah kita tinggalkan yang secara keyakinan dan berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah menghendaki suatu pembaharuan aturan huria/gereja, pelayanan rohani yang berdasarkan kasih, pengurus yang perteliti (cermat) dan diperbaharui. Dan keputusan SG HKBP (Juli 1964) di Parapat yang menentang adanya badan-badan panitia tersebut”. Selanjutnya dikatakan oleh S.M. Hutagalung bahwa keputusan Pantja Tunggal I SUMUT tanggal 14 Agustus 1964 yang ditanda tangani oleh GUBSU/Kep. Daerah SUMUT (pada waktu itu: Ulung Sitepu) yang melarang Organisasi atau lembaga-lembaga dalam lingkungan HKBP yang bertentangan dengan peraturan HKBP yang berlaku”. Bila pernyataan ini disimak selanjutnya, bahwa berdirinya GKPI adalah merupakan bagian dari masih berlangsungnya semangat gerakan kemandirian dalam gereja Batak, dan peristiwa tahun 1962 sebagai peristiwa yang cukup penting bagi lartarbelakang berdirinya GKPI sebab sangat membawa perubahan bagi HKBP, perubahan-perubahan itu termasuk bidang organisasi. Hal ini ditandai dengan disetujuinya AP HKBP yang baru oleh SA HKBP 16 – 23 Juni 1962, bahwa berbagai hal dalam TG

HKBP mengalami perubahan dari TG HKBP yang lama (1940-1950) termasuk perubahan berbagai jabatan dan kepemimpinan di HKBP.

Perubahan dalam AP HKBP antara lain ada tiga hal yakni:

Pertama, menyangkut jabatan kerk bestuur diganti menjadi jabatan penatua.

Pada tahun 1920, Ephorus J. Warneck pernah mengundang warga gereja, tokoh masyarakat tradisi dan pejabat pemerintah yang mempunyai pengaruh, jujur dan saleh untuk turut dilibatkan dan ambil bagian dalam berbagai kegiatan pelayanan gereja dan memberikan tugas dan jabatan kerk bestuur dan sintua yang juga duduk sebagai anggota majelis pusat.

Kedua, perubahan AP HKBP yang berhubungan dengan synode distrik.

Peranan synode distrik dalam AP yang baru dilimpahkan atau dialihkan kepada rapat resort, khususnya mengenai pemilihan utusan ke SG.

Sebelumnya (sejak tahun 1911) wilayah pelayanan di HKBP dibagi atas beberapa distrik dan juga adanya synode distrik. Peranan distrik sangat penting dalam hubungannya dengan SA.

Ketiga, anggota Majelis Pusat dalam AP HKBP dipilih oleh SA. Sejak tahun 1929, anggota Mejelis Pusat, merupakan perwakilan dari tiap-tiap distrik yang dipilih leh synode distrik. Perubahan itu dimaksudkan untuk menghindari dualisme kepemimpinan antara Praeses dan anggota Majelis Pusat dalam satu-satu Distrik.

Keempat, perubahan tentang SA dalam AP HKBP, dari satu tahun menjadi sekali dalam dua tahun. Sejak tahun 1881, telah dikenal adanya pertemuan tahunan dari seluruh wakil jemaat. Sejak tahun 1929 dengan terbentuknya majelis pusat, maka synode tahunan ditingkatkan menjadi synode untuk pengambilan keputusan gerejani. Perubahan itu dimaksudkan untuk memberikan lebih banyak kesempatan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kerja masing-masing. Perubahan sebagaimana dipaparkan di atas mendapat tantangan dari sebagian warga dan tokoh HKBP sebab perubahan AP itu dianggap belum saatnya bagi HKBP. Konsep AP tersebut sebelumnya telah pernah ditolak oleh sidang dewan pendeta di Parapat dan SG HKBP tahun 1961, masyarakat dan tokoh tokoh gereja.

Berdasarkan paparan di atas, memperlihatkan bahwa era kemandirian HKBP diwarnai oleh berbagai konflik internal HKBP yang telah mengganggu dan mempengaruhi kehidupan persekutuannya.

6. Konflik di tubuh HKBP diawali dengan perubahan AP HKBP yang diputuskan pada SG HKBP 1962. Lahirnya GKPI disebabkan oleh dua hal, yakni: kasus penolakan perubahan anggaran dasar dan anggaran RT, AP HKBP yang diputuskan dalam SA bulan Juni 1962 dan perubahan fungsi, istilah dan jabatan kerk bestuur ke jabatan sintua. Konflik dalam HKBP sebagaimana

disinggung di atas disebabkan perubahan dalam AP HKBP antara lain:

jabatan kerk bestuur menjadi sintua biasa. Perubahan itu dinilai belum saatnya, dan dianggap merugikan kerk bestuur. Penghapusan synode distrik dan synode resort. Perubahan penentuan utusan ke SA dari distrik dilimpahkan secara langsung ke rapat resort. Perubahan ini dianggap telah mengurangi kekuasaan pendeta distrik. Demikian juga disebabkan oleh masalah pemutasian pendeta yang dianggap tidak berdasarkan pada peraturan yang sah dan pemutasian itu dilihat sebagai tindakan sentimen dari Epohorus yang berkuasa. Sehingga terjhadi sikap perlawanan dari 22 orang pendeta yang berakibat terjadinya tindakan pemecatan. Alasan terhadap adanya tindakan pemecatan yang dilakukan oleh pimpinan pusat HKBP adalah disebabkan atau sebagai akibat pembangkangan (indispliner) terhadap keputusan pimpinan. Demikian juga dengan masalah yang berkaitan dengan pemilihan petinggi HKBP dan pertentangan antara rektor UHN dengan pimpinan Yayasan UHN, telah mengakibatkan pemecatan rektor dan wakilnya. Selain daripada pemecatan tersebut, TD Pardede yang juga ketua pengurus Yayasan UHN diangkat menjadi tugas rangkap sebagai Presiden UHN.

Masuknya tokoh awam yang menjadi unsur pimpinan dalam gereja dalam struktur fungsional parhalado pusat kekuasaan Ephorus yang semakin luas memberi makna pengumpulan dan penumpukan kekuasaan atau kepemimpinan yang mengarah kepada absolutisme dan bersifat proteksionisme adalah suatu kenyataan dari keadaan gereja yang primordial.

Penumpukan dan penggunaan kekuasaan menimbulkan adanya situasi krisis dan sikap ketidakpuasan yang dimanipestasikan dalam bentuk kelompok perlawanan seperti: Panitia Panindangi Reformasi (PPR), Panitia Penghubung Hasadaon (PPH) HKBP, Deaan Keutuhan (DK), Dewan Koordinasi Patotahon (DKP) HKBP. Dimensi kekuasaan menjadi sangat penting untuk melegalisasi berbagai kebijakan yang dimungkinkan berdasarkan AP yang baru. Kep[emimpinan gereja seperti penumpukan kekuyasaan Ephorus merupakan pengaruh Hierarki Zending yang Patriarkhal di dalam jabatan gereja Batak. Konflik yang terjadi di tubuh HKBP adalah karena adanya sikap ketidakpuasan yang terjelma dalam tiga kelompok yakni kelompok pendeta, kelompok kaum awam yang menuntut reformasi (pembaharuan) dalam tubuh HKBP dan kelompok mahaguru UHN. Ketiga kelompok ini menyatu sebagai kelompok oposisi di HKBP yang dikenal sebagai sebutan Dewan Kehormatan. Modernisasi manajemen berkaitan dengan sistem pemusatan kekuatan Ephorus yang lebih luas, hubungan antara pendeta yang lebih luas, hubungan antara pendeta dengan pemimpinnya yang mirip dengan pola pengelolaan pemerintahan serta disebabkan faktor tradisional genealogik kemargaan. Penyelesaian konflik mengalami kebuntuan dan pada puncaknya, pemerintah berada pada pihak pemegang kekuasaan (power holder) HKBP dengan membuat larangan kepada kelompok tersisih. Tidak diperbolehkannya kelompok tersisih melakukan kegiatan dengan mengatasnamakan HKBP, telah mendorong

kelompok tersebut untuk membentuk organisasi gereja yang baru, yang diberi nama GKPI. Lahirnya GKLPI adalah disebabkan oleh sikap ketidakpuasan dari anggota setempat atas pelayanan gereja, khususnya dalam bidang kerohanian. Tetapi juga dan terutama disebabkan oleh gagalnya panitia kerja khusus bentukan SG Istimewa HKBP bulan Juli 1964 di Parapat untuk mengupayakan perdamaian dan keutuhan. Pembentukan panitia kerja khusus oleh SG Istimewa HKBP mengindikasikan adanya persoalan intern yang berkaitan dengan masalah organisasi yang bertitik pangkal pada AP HKBP. Keluarnya SK Pantja Tunggal SUMUT No. 13911/II/8 tanggal 14 Agustus 1964 yang antara lain mengacu pada Keputusan SG HKBP tanggal 23 Juli 1964 di Parapat dan gagalnya Panitia Kerja Khusus menjalankan tugas yang diembankan oleh Synode atasnya, menjadi dorongan lahirnya GKPI. Sebelumnya kebaktian minggu atau pun kebaktian Evanggelisasi (Kebaktian Malam) dalam tubuh HKBP telah terpisah di berbagai tempat.

Pemisahan itu disebabkan konflik yang berkepanjangan dan telah merebak dengan melibatkan warga jemaat. Tanggal 23 Agustus 1964, kelompok yang memisahkan diri dalam kebaktian ini mengadakan kebaktian yang pertama bagi organisasi gereja yang baru, yaitu atas nama GKPI di gedung kebaktian gereja Bala Keselamatan, Jln Merdeka Pematangsiantar. Tanggal 30 Agustus 1964 adalah kebaktian kedua yang berlangsung di pekarangan rumah Dr.

Luhut Lumbantobing Jln. Simarito No. 6 Pematangsiantar. Pada saat itulah GKPI resmi memilih kepengurusannya. Bulan Oktober 1964, berkaitan dengan momentum hari Reformasi Martin Luther disusunlah konsep TG GKPI dan konsep itu diterima sebagai TG GKPI yang pertama. Tahun 1966, diadakanlah Synode Am GKPI yang pertama.

7. Alasan Teologis Berdirinya GKPI. Tentang pokok ini menarik mengutip pernyataan J.R. Hutauruk mengatakan: “HKBP pecah bukan karena perbedaan bahasa, suku atau dialek, karena HKBP secara etnis, identik dengan Batak Toba. Mungkinkan karena usaha mencari kebenaran ajaran yang relevan buat kehidupan gerejani seperti terjadi dulu di tengah-tengah umat Kristen di benua Eropa Kuno ? Tetapi harus ada penyebabnya. Mencari dan menemukan penyebabnya perlu dilakukan bersama oleh seluruh umat Kristen Batak demi pembaharuan identitas gereja-gereja Batak. Dengan berangkat dari pertanyaan itu, dan gagasan untuk mencari jawaban sebagaimana di atas, akan membawa kita untuk memahami kembali konsepsi tentang gereja yang kudus. Salah satu hal yang tidak dapat diabaikan dalam bagian ini adalah apa yang dikemukakan oleh F.H. Sianipar:

“satu-satunya faktor yang dapat mentransformir pengertian kolektifisme dengan isi yang baru yang benar menyehatkan dan menghidupan hanyalah pengertian persekutuan di dalam Tuhan yaitu yang hampir tidak ada di dalam pietisme dan moralisme. Pada hal, pengertian inilah merupakan salah satu faktor yang turut menentukan relevannya dari metode (bahkan isi) dari teologi bagi masyarakat Batak”.

Sebelum berdirinya GKPI, Dr. A. Lumbantobing dan Dr. S.M. Hutagalung memberikan pandangannya ketika dimintai pendapatnya sehubungan dengan adanya gagasan dan banyaknya dorongan dari warga dan tokoh-tokoh gereja untuk memisahkan diri dari HKBP, untuk membentuk satu organisasi gereja yang baru. Pandangan kedua tokoh tersebut dapat dikutip sebagai berikut:

Dr. A. Lumbantobing:

Tidak sependapat dengan pendirian utusan-utusan itu. Menurut pendapat beliau, pemisahan diri dari satu gereja untuk mendirikan suatu gereja yang baru, tidak sesuai dengan dogma dan hukum teologi: badan Kristus adalah tunggal (satu). Dan tidak dapat dipecah-pecah. Dalam penjelasan itu beliau menerangkan tentang perpecahan gereja di negeri Belanda pada permulaan abad 19 yang dipimpinpin oleh dua orang ahli teologi Prof. Dr. Abraham Kuyper dan Prof. Dr. Hoedemaker. Penjelasan beliau itu diakhiri dengan keterangan bahwa bagi beliau belum ada alasan yang kuat untuk memisah diri dari HKBP.

Dr. S.M. Hutagalung:

Sebelum mengemukakan pendirian, terlebih dahulu menekankan: bahwa jemaat Kristus adalah satu di dalam Kristus, akan tetapi di dalam perkembangan organisasi-organisasi gereja menurut sejarah maka semua organisasi gereja yang ada sekarang adalah perkembangan/perpecahan dari gereja. Setertusnya beliau mengatakan kalau di suatu huria (gereja) kepercayaanmu dan imanmu untuk mendekati Tuhan terhalang oleh perbuatan-perbuatan peraturan-peraturan dan ancaman-ancaman dari pengurus huria itu, kalau saudara tidak berhasil dalam usaha tersebut dan kepercayaanmu terus menerus terhalang dan tidak beroleh damai dan kegembiraan lagi di dalam jemaat tersebut, maka saudara harus meninggalkan gereja sedemikian sesuai dengan keyakinan pada saat ini.

Saya sendiri belum melihat suatu alasan yang dapat saya pakai untuk mempertanggungjawabkan pengunduran dri saya dari HKBP secara mutlak.

B

GEREJA KRISTEN PROTESTAN ANGKOLA – GKPA

1. Gambaran Umum. Denominasi ini merupakan gereja yang resmi dimandirikan oleh HKBP, oleh karena itu sejarah gereja GKPA tidaklah terpisahkan dengan sejarah HKBP sejak awalnya. Untuk mendukung pernyataan ini, anda masih ingat di awal pertemuan tentang diskusi tema:

perintisan lembaga misi RMG di Prau Sorat demikian dengan Rapat Koordinasi Misi para (empat orang) Misionaris tanggal 7 Oktober 1861 di Sipirok, juga dalam hubungan tibanya Nomensen pertama sekali di Sipirok tahun 1962. Hanya, kesimpulan yang nyata dapat dikatakan bahwa perkembangan misi kekristenan (gereja) di daerah Silindung (Tapanuli Utara

Dalam dokumen Silabus Sejarah Gereja Batak I (Halaman 95-112)