1. Pendahuluan (1-2). Anda semua sudah sangat memahami bahwa latarbelakang pemberian gelar “Ompui” oleh orang Batak kepada I.L.
Nomensen itu merupakan suatu tanda penghormatan orang Batak yang setinggi-tingginya kepada rasul orang Batak itu atas wibawa, kharisma serta segala teladan yang baik yang ditunjukkannya bagi keberhasilan misi kekristenan di tanah Batak. Kalau pada tahun 1881, badan misi RMG (ketika Nomensen kembali ke Eropa dalam rangka cuti tugas di tanah Batak) memberi gelar penghormatan kepadanya melalui mengangkatnya menjadi:
“Overseer: pengawas” (asal-usul sebutan Ephorus yang kemudian gelar ini menjadi nama jabatan tertinggi dalam gereja Batak) pemberian gelar ini juga menandakan penilaian lembaga misi RMG atas dedikasi pelayanan yang sangat baik dari Nomensen di wilayah kerja (tanah Batak) badan zending RMG. Sudah dijelaskan kepada anda bahwa metode kerja lembaga misi (RMG) dan para misionarislah yang merupakan satu-satunya ujung tombak bagi keberhasilan pengkristenan di tanah Batak. Metode kerja misi melalui pengkristenan perorangan yang kemudian berubah menjadi pengkristenan massal semuanya menjadi kekuatan bagi berdirinya jemaat-jemaat Kristen di tanah Batak (lih. Andarlumbantobing, hl. 77). Secara khusus terhadap pengkristenan massal, metode ini sering terjadi berkat pendekatan para misionaris kepada penduduk secara berkelompok. Model pendekatan ini menghasilkan penerimaan orang Batak kepada kekeristenan menurut kelompok kampung yang sekaligus didiami oleh sekelompok marga (ciri khas utama komunitas social kemasyarakatan Batak). Latarbelakang ini pulalah yang mendasari adanya jemaat-jemaat membawa nama kampung atau nama marga-marga tertentu, seperti misalnya: jemaat Sipoholon I-V, jemaat Lintongnihuta, jemaat Simarangkir, jemaat Hutabarat, jemaat Rurajulu Sihombing, dan lain sebagainya. Tegasnya dapat dikatakan bahwa hingga tahun 1930: orang-orang Kristen dari suku Angkola, Mandailing, Simalungun, Toba, Pakpak-Dairi telah dikumpulkan secara bersama dalam satu gereja Batak yang secara sepakat mengambil nama HKBP (lih. Pedersen, hl. 70).
2. Walau nampak ironis, namun sudah merupakan fakta yang tidak dapat disangkal bahwa senjata yang sangat ampuh bagi perkembangan gereja Batak: konflik turut mendukung perkembangan gereja di tanah Batak (lih. P.B.
Pedersen, hl. 72-73). Melalui uraian poin 1 di atas, oleh para misionaris dan kebanyakan orang Kristen Batak, awalnya di dalam nama HKBP terkandung suatu harapan bahwa organisasi ini akan menjadi satu-satunya gereja yang
mempersatukan semua suku, kebudayaan dan bahasa Batak kecuali Karo (5 etnis saja: sebab kekristenan Batak Karo lahir dari hasil misi NZG Belanda).
Ternyata selanjutnya harapan ini tidaklah terwujud, sebab keinginan setiap suku untuk berdiri sendiri di dalam organisasi gereja masing-masing sangat mengacaukan setiap cita-cita akan suatu gereja Batak. Sebenarnya, tahun 1911: jemaat Kristen Batak sudah membentang dari Selatan (Angkola- Mandailing) hingga ke Timur (Simalungun-Pematangsiantar). Dan jemaat- jemaat ini sudah dibagi ke dalam lima distrik, yakni: Distrik Angkola (sekarang Distrik Tapanuli Selatan), Distrik Silindung, Humbang, Toba-Hasundutan, Simalungun-Oostkust: pantai Timur Sumatera Timur yang sekarang sebagai Distrik V Sum-Tim bergabung dengan Pakpak-Dairi. Pembagian distrik ini sangat didasari pada pertimbangan etnografis adat istiadat di wilayah distrik yang kepemimpinan dan tanggungjawab keseluruhan pengembangan dan pengelolaan pelayanan di setiap distrik dipercayakan kepada konferensi PI pada misionaris. Artinya, melalui konferensi ini para misionarislah yang paling bertanggungjawab secara keseluruhan (ke dalam dan ke luar) bagi pelayanan menyeluruh di wilayah jemaat pelayanannya. Rasa kesukuan yang amat dalam di masing-masing etnis Batak, mempengaruhi sikap gereja Batak kemudian mengembangkan wilayah distrik (dari 5 distrik) ini diperluas menjadi tigabelas distrik sesudah tahun 1940. Selanjutnya nyata bahwa HKBP tidak pernah dapat menyatukan semua gereja-gereja (etnis) Batak.
Namun antusiasme anggota-angota HKBP dan dedikasi yang tidak kenal takut menjadi factor menentukan dalam perkembangan gereja Batak di seluruh tanah Batak bahkan hingga ke berbagai wilayah Indonesia. Ini dibuktikan dengan berdirinya gereja-gereja Batak di berbagai daerah (lih. 125 Tahun HKBP, hl. 30), misalnya di: Pematangsiantar 1907 ; Medan, 1912 ; Pangkalan Brandan, 1918 ; Batavia (Jakarta), 1919 ; Padang, 1922 dan lain sebagainya.
3. Sudah ditegaskan pada poin 2 di atas bahwa modal dasar bagi perkembangan gereja dan kekristenan di tanah Batak masa tahun-tahun berikutnya adalah tingginya semangat dan dedikasi orang Batak Kristen berperan dalam memperkenalkan panggilan Tuhan kepada saudara-saudaranya yang belum masuk menjadi Kristen. Semangat inilah yang pertama sekali nampak pada munculnya lembaga PI Batak pertama yakni: PMB (Pardonganon Mission Batak: Badan Pekabar Injil Batak) tanggal 2 Nopember 1899. Berdirinya lembaga ini diprakarsai oleh Pdt. Henok Lumbantobing (yang ketika itu ia berkedudukan di Pearaja Tarutung) di mana perkembangan kekristenan di tanah Batak sangat didukung oleh lembaga PMB ini, terutama di daerah Samosir, Samosir, demikian di daerah Pakpak-Dairi. Dapat dikatakan bahwa lembaga ini adalah merupakan organisasi kerohanian pertama bagi orang Batak yang peranan dan partisipasinya sangat berjasa bagi kegiatan gereja waktu itu. Hal yang serupa bagi munculnya semangat gerakan nasionalisme (secara nasional dengan gerakan Budi Utomo, 1908) orang Batak, ini ditandai dengan berdirinya satu organisasi masyarakat Kristen yang pertama sekali di tanah Batak yakni: “Hatopan Kristen Batak-Persekutuan Kristen Batak”
tahun 1917 di mana berdirinya organisasi ini di prakarsasi oleh Mangihut Hezekiel Manullang. Lembaga ini berdiri adalah sebagai usaha orang Batak mempertahankan diri (khususnya mempertahankan status tanah adat/tradisional Batak) dari tekanan pihak kolonial Belanda yang berencana membuka Tapanuli buat perkebunan teh dan karet. Penduduk merasa dirugikan secara material dan moral melalui pembukaan perkebunan itu, melalui dukungan dan koordinasi HKB mereka berhasil menggagalkan perkebunan Belanda di Tapanuli, usaha ini terutama berlangsung di daerah Pahae dan Silindung. Melalui uraian ini, hendak ditekankan pengalaman awal orang Kristen Batak (gereja) bahwa inilah pengalaman pertama orang Kristen Batak di bidang kerohanian dalam hubungannya dengan bidang politik kemasyarakatan setelah kekristenan yang dapat dinilai secara positif.
Maksudnya, melalui HKB orang Batak sudah mengungkapkan pandangan dan aksi mereka tanpa melibatkan jemaat dan gereja, sekalipun mereka adalah anggota jemaat itu sendiri. HKB berpendirian bahwa anggota jemaat atau gereja dari sudut misinya di dunia ini, itu tidak mungkin melibatkan diri dalam aksi social politik yang mungkin mempunyai aliran politik yang berbeda-beda. Di pihak lain, melalui PMB jemaat atau gereja menganggap bahwa menjadi anggota jemaat itu tidak sama dengan organisasi politik.
Dalam kesadaran rohani dan politis yang seperti ini, agaknya orang Kristen Batak awalnya sudah paham bahwa mereka adalah bagian integral (tidak terpisahkan) dari dimensi social hidup bergereja pada waktu itu. Penting di ingat, HKB sebagai organisasi orang Batak yang bersifat gerakan nasional sejak awal mereka sudah memulai dan mengakhiri rapat-rapat (pertemuan) dengan menyanyikan nyanyian rohani dan berdoa (lih. 125 tahun HKBP, hl.
31), dua organisasi ini akan lebih panjang lebar dijelaskan pada Tema Bab di depan.
4. Di tengah perubahan dan perkembangan yang sangat cepat dialami oleh gereja masa kurun waktu 1911-1936, untuk pemantapan diri gereja juga melakukan pembenahan diri pada bidang organisasi dan khususnya bidang jabatan dalam gereja. Di bawah ini diuraikan beberapa usaha dilakukan oleh gereja membenahi diri pada bidang kepemimpinan dalam tubuh jemaat (lih.
Andar Lumbantobing, hl. 85, juga 125 tahun HKBP, hl. 31-32) yakni:
1920: Majelis jemaat dibentuk di tiap jemaat yang anggotanya terdiri dari 3 golongan yakni: pertama, pendeta, guru, evanggelis dan Helper.
Kedua, para penatua (sintua). Ketiga, para kerkbestur yakni beberapa anggota jemaat yang khusus bertugas mengelola keuangan jemaat.
1922: Sinode pertama diadakan buat seluruh jemaat yang terhimpun dalam gereja Batak. Sebelumnya, sejak tahun 1881 pertemuan ini hanya berbentuk musyawarah selesai konferensi tahunan para misionaris RMG.
1925: Tahun ini sinode Agung gereja Batak diadakan, dan pada saat ini gereja Batak diresmikan namanya menjadi “Huria Kristen Batak”
(Gereja Kristen Batak).
1929: Beberapa keputusan penting dalam bidang organisasi gereja diputuskan, yakni: pertama, nama “Huria Kristen Batak”
disempurnakan menjadi “Huria Kristyen Batak Protestan” (HKBP – seperti nama gereja sekarang). Nama ini sekaligus mengungkapkan identitas ajaran gereja yang beraliran Protestan. Kedua, Tata gereja Baru disyahkan. Melalui TG ini, jenjang kepemimpinan dan pelayanan ditetapkan (sampai sekarang jenjang ini nampak tidak berubah).
Ephorus adalah sebagai pemimpin tertinggi dalam gereja. Untuk menjembatani komunikasi dari pusat ke jemaat-jemaat setempat, maka jemaat dibagi atas beberapa resort (pusat-distrik: resort-jemaat).
TG ini berlaku thun 1930 dan akan diperbaharui tiap 10 tahun . Ketiga, majelis pusat untuk pertama sekali dibentuk dan disyahkan untuk masa pelayanan 4 tahun. Ini kemudian diperpanjang menjadi 6 tahun.
1931: HKBP ditetapkan memiliki badan hukum sendiri melalui SK pemerintah tertanggal 11 Juni 1931 No. 48 sebagaimana ditetapkan dalam lembaran pemerintah 1932 No. 360. Pengakuan ulang pemerintah RI tanggal 2 April 1968 No. Dd/P/DAK/d/135/68.
5. Corak teologi dan kesalehan orang Kristen Batak. Satu identitas yang tidak dapat diabaikan dalam perkembangan gereja Batak hinga masa pertengahan abad 19 adalah adanya identitas (corak) kesalehan dan teologi orang Kristen Batak yang dipengaruhi oleh corak kesalehan para misionaris itu sendiri yang berasal dari Eropa, di mana untuk ini mereka sangat memamfaatkan struktur/tatanan masyarakat Batak yang bersifat komunal (persekutuan yang erat diikat oleh marga). Identitas ini nampak melalui beberapa peraturan dan tata jemaat yang ditetapkan oleh para misionaris dan berlaku dalam gereja Batak. Di bawah ini, dicantumkan beberapa informasi yang berhubungan dengan pernyataan ini (lebih luas informasi tentang pokok ini lih. J.R. hutauruk, Menata Rumah Allah) yakni:
- Peraturan dan tata ibadah 1866: Oleh Nomensen konsep ini belum dinamakan seagai Tata Gereja, tetapi hanya sebagai peraturan ibadah jemaat. Dikatakan demikian sebab, Nomensen baru membentuk persekutuan ibadah jemaat dari hasil misi PI-nya, yang melaluinya ia merasa penting untuk mengatur persekutuan dan ibadah jemaat yang baru didirikannya itu. Oleh karena itu, melalui perasturan jemaat dan tata ibadah 1866, Nomensen menetapkan dan mengangkat beberapa pelayan gereja yang dapat membantu dirinya melangsungkan iabdah secara teratur dan rapi. Oleh karena itu ia mengangkat seorang guru, empat orang penatua, tiga orang diakon, seorang diakones dan seorang guru untuk anak-anak. Pembagian tugas dari masing-masing yang membatunya ini pun ditekankannya, misalnya: penatua bertugas untuk mengamati kehidupan setiap anggota jemaat kemudian menegor dan memperingatkan mereka bila ada yang berbuat tidak sesuai dengan tuntutan kekeristenan sebagaimana diajarkan Nomensen. Dalam keadaan darurat, awalnya penatua bertugas memimpin ibadah jemaat, mengamati
perlakuan anggota jemaat dalam ibadah. Bila ada yang ribut, segera penatua memperingatinya dan jika peringatan ini diabaikan maka penatua berhak menyampaikan tegoran. Dan jika kesalahan yang sama berulang setelah beberapa kali ditegor, maka jemaat itu dilarang iokut dalam perjamuan Kudus atau dikucilkan dari persekutuan jemaat. Lebih luas peraturan jemaat tahun 1866 ini semuanya berisi tentang aturan-aturan yang menyangkut hidup persekutuan dan ibadah jemaat.
- Hukum Sipil Untuk Orang Kristen Batak tahun 1867. Hukum sipil ini dibuat untuk mengatur hal-hal yang menyangkut perkara-perkara duniawi atau lebih khusus yang menyangkut kehidupan masyarakat. Dasar pikiran teologis para misonaris menekankan ini, mereka dipengaruhi oleh corak teologi Martin Luther yang membedakan perkara-perkara rohani sebagai tugas gereja dan perkara-perkara duniawi sebagai tugas raja. Kemudian dalam tradisi gereja Lutheran sebagai denominasi warisan dari teologi M.
Luther, “teori dua kerajaan” (kerajaan rohani dan kerajaan duniawi) nampak sulit diterapkan bagi masyarakat Batak dalam misi oleh misonaris. Sebab dari dalam dirinya sejak semula, orang Batak tidak dapat membedakan unsur keagamaan dari unsur keduniawian. Bagi orang Batak, implikasi pemahaman ini nampak pada posisi kepemimpinan ini Nomensen di perkampungan Huta Dame yang didirikannya di mana ia berfungsi sebagai pemimpin bidang kerohanian sekaligus bertindak sebagai “raja Huta”, walau nyata selanjutnya peran kepemimpinannya ditonjolkan Nomensen dirinya sebagai pemimpin rohani yakni sebagai
“guru” semata-mata.
- Tata Gereja tahun 1881. Peraturan ini disusun oleh Nomensen bersama dengan para misionaris lainnya, yang pada kesimpulannya mereka menamakannya sebagai: “peraturan jemaat, gereja dan Sinode untuk gereja sending injili di tanah Batak-Sumatera, tahun 1881”. Isi inti dari peraturan ini mencakup aturan kehidupan pelayan pribumi dalam: “Gereja Zending Injili di Tanah Batak”. Dalam peraturan ini para misonaris masih menempatkan para pelayan pribumi dalam jenjang terendah hierarki gereja dan semuanya ditempatkan pada jenjang pembantu para pendeta utusan (misionaris). Para pekerja pribumi ini dibedakan atas dua bagian yakni: yang bergaji dan tidak bergaji. Pekerja yang bergaji adalah: guru Injil, guru sekolah dan parapendeta. Yang tidak bergaji adalah para sintua (penatua). Melalui TG 1881, struktur kepemimpinan gereja disusun berdasarkan pola piramida: dari beberapa jemaat filial (cabang) ke jamat induk (resort), kemudian jemaat distrik, sampai akhirnya Sinode Tahunan.
Semua tenaga yang memimpin mulai dari tingkat resort, distrik hinggakepusat semuanya dipegang oleh misonaris Jerman. Ini artinya, segala kendali kepemimpinan gereja masih terikat pada para misionaris RMG dan pelayan pribumi hak kierarkinya masih dibatasi.
- Peraturan Jemaat tahun 1907-1912. Melalui peraturan ini semakin nampak perkembangan gereja Batak dalam bidang rumusan tata jemaatnya. Munculnya peraturan jemaat tahun 1907, peraturan ini dinamakan sebagai: “Aturan ni Ruhut di Angka Huria di Tonga-tonga
ni Halak Batak”. Isi peraturan ini masih sebagai pengembangan dari peraturan jemaat tahun 1906 yang mencerminkan corak kesalehan dan pola teologi para misonaris Eropa. Tahun 1912, kemudian diterbitkan peraturan yang khusus mengatur soal kepemimpian para pekerja Injil di gereja Batak. Uraian isi peraturan gereja tahun 1907, yakni mengatur soal: tindakan ibadah, Pembaptisan, Perjamuan Kudus, Sidi, Pernikahan dan Pemakaman. Isinya memberi petunjuk yang berkenaan dengan tingkah laku, persiapan dan larangan. Petunjuk-petunjuk itu antara lain:
a. Sebelum ibadah, lonceng gereja dibunyikan sebanyak dua kali ; setelah lonceng pertama para sintua memperingatkan jemaat masuk ke dalam gereja
b. Pada waktu nyanyian pertama (dinyanyikan 3 ayat) gereja masih dibuka; setelah votum/doa pintu ditutup dan baru kemudian dibuka setelah nyanyian berikut
c. Setiap pintu masuk gereja harus dijaga sintua agar binatang (asu:
anjing) tidak memasuki gereja saat kebaktian
d. Kotbah harus dipersiapkan dengan baik yang melaluinya jalan keselamatan dapat diberitakan bagi kehidupan jemaat
e. Perjamuan Kudus: roti dan anggur disajikan. Roti dan anggur yang tersisa harus dibawa kembali ke rumah pendeta. Jikalau ada orang yang sakit memintanya, dengan alasan melaluinya mereka mengharapkan kesembuhan, permintaan itu harus ditolak. Alasannya, untuk menghindarkan pemahaman yang bersifat magis terhadap makanan roti itu. Yang harus dipakai dalam PK adalah angggur tidak boleh tuak, karena tuak dianggap sangat bersifat duniawi dan tuak juga merupakan minuman sehari-hari yang memabukkan orang Batak.
f. Pada setiap pemakanan/kuburan dianjurkan menanam pohon pisang
g. Setiap subuh hari paskah, diadakan ibadah dikuburan. Hal ini dianggap perlu untuk mengukuhkan harapan orang-orang yang hidup akan kebangkitan orang mati.
h. Perkawinan dibedakan dalam tiga kategori yakni, pertama:
perkawinan bagi orang yang mempunyai “nama baik” yang tetap menjaga kesuciannya. Dalam perkawinan jenis ini, mempelai diperkenankan memakai perhiasan sebagai tanda mereka tidak bercela. Kedua, Upacara perkawinan secara hikmat di muka umum.
Ini dilangsungkan oleh seorang pendeta utusan atau pendeta Batak di dalam gereja. Kedua mempelai harus melalui upacara Sidi dan tidak terkena disiplin gereja. Ketiga, upacara perkawinan yang dilakukan di kampung halaman sintua atau mempelai. Upacara peneguhan pernikahan cukup dilakukan dengan hanya mendoakan perkawianan itu saja. Perkawinan jenis ini terjadi bila salah satu mempelai masih sipelebegu (kafir) atau baru mulai belajar agama Krisaten. Juga bila mempelai telah melakukan tindakan salah dalam perkawinan (sedang manjalani hukuman disiplin gereja).
Dari corak kesalehan dan teologi yang dipengaruhi oleh corak kesalehan para misonaris ini, hal yang dapat dikatakan bahwa: Tata Gereja disusun para misonaris RMG, itu sangat tidak dapat dipisahkan dari paham paramisonaris itu sendiri tentang keselamatan yang mereka pandang sebagai keselamatan untuk perorangan. Jadi makna yang paling esensil dari TG 1907 adalah penaklukan sempurna orang Kristen Batak kepada kekuasaan zending.
6. Kemandirian Gereja Batak. Dalam bukunya: “Indigenous Church”
(Pempribumian Gereja), Henry Venn (1860) telah mengungkapkan prinsip dasar yang sangat penting dicapai oleh sebuah gereja menuju kemandiriannya. Prinsip ini dikemukakan Henry Venn melalui pengalaman misi gereja Anglikan Inggris di Afrika (Nigeria) dalam memandirikan gereja sebagai hasil misi anglikan di sana. Prinsip kemandirian gereja ini, oleh Henry Venn menyebutnya sebagai: kemampuan membiayai/mendanai diri sendiri (self Supporting) ; kemampuan memimpin/ mengatur diri sendiri (self Government) ; kemampuan melakukan PI sendiri (self Propagating). Tiga bentuk kemampuan inilah yang dipakai sebagai barometer (ukuran) mengukur sebuah gereja bertanggungjawab (dewasa) atas diri sendiri lepas dari asuhan satu lembaga misi tertentu. Dalam gereja Batak ini dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Mandiri dalam dana (self Supporting). Sejak semula, para misonaris (kuhus Nomensen) telah berusaha membina kesadaran jemaat Kristen Batak ikut memikul biaya yang dibutuhkan bagi pengelolaan jemaat.
Usaha ini ditempuh melalui cara: mewajibkanjemaat memberi persembahan/iuran kepada gereja. Dana ini kemudian dipakai untuk membiayai bidang pelayanan umum (pendidikan, kesehatan, dll dengan membangun prasarana berikut gaji guru) jemaat di samping sumbagan dana dari lembaga misi RMG
b. Mandiri dalam bidang kepemimpinan (self Government). Secara bertahap para orang Kristen Batak dipersiapkan untuk ikut melayani dan mengurus jemaat, mulai dari tingkat penatua, guru Injil, guru jemaat setempat, dan hingga ke pendeta. Mereka diharapkan kelak dapat memimpin gereja Batak.
c. Mandiri dalam misi (self Propagating). Orang Batak dibimbing dapat melakukan PI ke luar, kepada orang-orang yang masih menganut kepercayaan suku atau agama lain. Inilah yang nampak melalui berdiri dan seluruh kegiatan PMB.