33
PT Bank Central Asia Tbk Laporan Tahunan 2015
34
PT Bank Central Asia Tbk Laporan Tahunan 2015
faktor eksternal tersebut diperburuk oleh rendahnya realisasi investasi langsung asing dan belanja Pemerintah serta konsumsi domestik yang relatif stagnan. Sebagai konsekuensinya, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 4,8%, merupakan salah satu yang terendah dalam 6 tahun terakhir.
Sejak triwulan keempat 2011, posisi transaksi berjalan Indonesia telah bergeser dari posisi surplus menjadi defisit.
Bank Indonesia dan Pemerintah terus melakukan berbagai upaya untuk meredam besarnya defisit transaksi berjalan sehingga mendorong perbaikan defisit menjadi 2,1% dari PDB di tahun 2015, dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 3,1% dari PDB. Perbaikan tersebut merupakan hasil dari neraca perdagangan Indonesia yang mengalami surplus, seiring dengan penurunan impor yang lebih besar dibandingkan dengan penurunan ekspor. Namun yang perlu diwaspadai adalah risiko peningkatan defisit transaksi berjalan apabila roda ekonomi domestik kembali berputar lebih cepat, mengingat besarnya ketergantungan impor untuk konsumsi domestik dan untuk memenuhi kebutuhan barang modal dan bahan baku berbagai aktivitas manufaktur nasional. Peranan peningkatan dan kestabilan arus investasi sebagai penyeimbang defisit transaksi berjalan akan sangat membantu bagi keseluruhan perekonomian nasional.
Kondisi defisit transaksi berjalan dan tingginya permintaan valuta asing untuk pembayaran hutang luar negeri telah memberi tekanan kepada nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar. Lebih lanjut, ketidakpastian arah Fed Funds Rate telah menambah volatilitas mata uang dalam negeri secara signifikan. Keputusan untuk meningkatkan Fed Funds Rate pada Desember 2015 telah memberi para pelaku pasar sedikit gambaran atas kebijakan suku bunga The Fed kedepannya.
Sementara itu, kebijakan pemerintah Tiongkok untuk mendevaluasi nilai mata uang Yuan juga turut berpengaruh terhadap nilai tukar mata uang negara-negara Asia termasuk Indonesia. Nilai tukar Rupiah terhadap USD mencapai titik terendah pada tingkat Rp 14.693 per 1 USD di bulan September 2015. Nilai Rupiah terdepresiasi 10,2% menjadi Rp 13.788 per 1 USD pada akhir 2015 dibandingkan Rp 12.388 per 1 USD pada akhir 2014.
Bank Indonesia dan Pemerintah Indonesia terus melakukan upaya-upaya proaktif dalam menjaga nilai tukar Rupiah pada tingkat yang sesuai dengan fundamental perekonomian.
Bank Indonesia mempertahankan BI Rate sebesar 7,5%
sejak Februari 2015 sampai dengan akhir tahun 2015 untuk menjaga kestabilan Rupiah dan sekaligus mengarahkan defisit transaksi berjalan menuju tingkat yang lebih sehat.
Pemerintah telah mencanangkan berbagai program kerja dan paket kebijakan di bidang fiskal untuk mendorong pergerakan ekonomi yang lebih cepat dalam beberapa tahun mendatang. Secara khusus, Pemerintah melakukan reformasi subsidi energi; menyusun program-program percepatan berbagai proyek pembangunan infrastruktur;
mendorong perekonomian di wilayah luar Jawa melalui pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK); serta memperbaiki iklim investasi melalui percepatan proses perolehan izin investasi, tax allowance & tax holiday, dan melalui pelayanan investasi terpadu satu pintu (PTSP).
Meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan, kami optimis terhadap prospek jangka panjang perekonomian Indonesia. Kami menyambut positif upaya-upaya yang dilakukan oleh Pemerintah maupun regulator dalam mendorong aktivitas perekonomian Indonesia menuju ke arah yang lebih baik. Kami melihat bahwa secara umum masyarakat Indonesia tetap memiliki pandangan positif terhadap prospek jangka panjang ekonomi Indonesia, dan kami tidak melihat adanya panic buying terhadap mata uang asing atau pemindahan dana ke luar negeri seperti yang terjadi pada tahun 1997-1998. Pertumbuhan perekonomian Indonesia merupakan salah satu yang tertinggi dibandingkan negara-negara G-20 lainnya. Dengan latar belakang populasi penduduk usia produktif yang tinggi, kestabilan sistem demokrasi yang telah berjalan dan sumber daya alam yang berlimpah, kami meyakini bahwa Indonesia memiliki potensi ekonomi jangka panjang yang menjanjikan.
TINjAuAN SEKToR PERBANKAN INDoNESIA
Sektor perbankan Indonesia dihadapkan pada perlambatan pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga sepanjang tahun 2015 sejalan dengan lemahnya kondisi perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Portofolio kredit dan dana pihak ketiga sektor perbankan masing-masing tumbuh 10,5%
dan 7,3%, lebih rendah dibandingkan rata-rata pertumbuhan pada tahun 2007-2012 yang sebesar 22,0% dan 16,4%.
Secara keseluruhan, perlambatan kredit sektor perbankan terjadi di semua segmen dengan melemahnya pinjaman untuk kebutuhan bisnis maupun konsumsi.
Melambatnya pertumbuhan ekonomi berdampak pada meningkatnya rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loans - NPL) sektor perbankan di Indonesia, dimana pada akhir tahun 2015 mencapai 2,5%, lebih tinggi dibandingkan 2,2% di tahun 2014, serta mengakibatkan peningkatan jumlah kredit yang direstrukturisasi. Meskipun lebih tinggi dibandingkan beberapa tahun terakhir, kualitas kredit secara umum masih terkendali dimana posisi NPL sektor perbankan
35
PT Bank Central Asia Tbk Laporan Tahunan 2015 masih berada di bawah ketentuan yang ditetapkan regulator
sebesar 5%. Reformasi yang dijalankan dalam beberapa tahun terakhir serta penerapan budaya manajemen risiko di perbankan nasional jauh lebih efektif dibandingkan saat krisis 1997/1998. Kami meyakini industri perbankan akan mampu mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi perekonomian nasional.
Sebagai dampak dari perlambatan pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga, serta kenaikan biaya cadangan kredit bermasalah maupun beban operasional, sektor perbankan Indonesia menghadapi tekanan profitabilitas pada tahun 2015. Meskipun demikian, kami melihat bahwa industri perbankan nasional berada pada kondisi yang cukup solid ditopang oleh rasio permodalan yang kokoh dan ruang likuiditas yang sehat. Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio – CAR) perbankan nasional terjaga di level 21,4%, sementara posisi kredit terhadap dana pihak ketiga (Loan to Deposit Ratio – LDR) tergolong memadai sebesar 92,1%. Lebih lanjut, Bank Indonesia memberikan pelonggaran persyaratan Giro Wajib Minimum sehingga perbankan nasional memiliki fleksibilitas cadangan likuiditas yang lebih besar. Pada akhir tahun 2015 Bank Indonesia menurunkan tingkat Giro Wajib Minimum dari 8,0% menjadi 7,5%.
PENILAIAN TERhADAP KINERjA DIREKSI
Berdasarkan hasil pengawasan yang telah dilakukan pada tahun 2015, Dewan Komisaris berpendapat bahwa Direksi telah menjalankan berbagai fungsinya dengan baik dan kami menilai bahwa langkah-langkah yang dilakukan oleh Direksi selaras dengan pandangan Dewan Komisaris. Sepanjang tahun, Direksi dan Dewan Komisaris melakukan komunikasi secara aktif dalam mengambil tindakan untuk menghadapi berbagai tantangan, serta untuk memanfaatkan peluang- peluang bisnis yang ada.
Secara proaktif, Direksi telah mengutamakan pertumbuhan kredit yang berkualitas, serta menjaga posisi likuiditas dan permodalan yang solid. Investasi dan inisiatif, baik yang bersifat jangka panjang maupun jangka pendek, terus diterapkan untuk memperkuat kapabilitas bisnis dan daya saing Bank. BCA melanjutkan pengembangan produk dan layanan perbankan transaksi dan perkreditan sesuai perkembangan pasar dan evolusi kebutuhan nasabah.
Dengan menjaga fokus yang berimbang atas target-target jangka pendek maupun jangka panjang, BCA mampu untuk mencapai tujuan strategis sesuai dengan visi dan misinya.
BCA mempertahankan keunggulan di bidang perbankan transaksi melalui investasi infrastruktur perbankan secara berkesinambungan, termasuk perluasan jaringan
cabang dan penyempurnaan berbagai jaringan perbankan elektronik. Sebagai salah satu bank komersial terkemuka di Indonesia, BCA senantiasa berupaya memperluas jaringan layanan multi-channel terintegrasi untuk meraih peluang pertumbuhan bisnis di berbagai wilayah yang menjanjikan di seluruh Indonesia. Langkah strategis ini ditujukan guna mengoptimalkan kenyamanan nasabah sekaligus memberikan layanan sesuai ekspektasi nasabah BCA.
BCA mencatat pertumbuhan volume transaksi perbankan elektronik yang cukup pesat pada beberapa tahun terakhir.
Pertumbuhan tersebut terus berlanjut pada tahun 2015.
Peran perbankan elektronik menjadi semakin penting, dan pada gilirannya melengkapi peran kantor cabang dalam menyediakan solusi perbankan terintegrasi. BCA melihat pergeseran preferensi nasabah ke penggunaan perbankan elektronik dari layanan transaksi kantor cabang sebagai hal yang positif. Di samping meningkatkan kenyamanan dan kepuasan nasabah dalam bertransaksi, pengembangan perbankan elektronik, terutama layanan internet dan mobile banking, juga telah meningkatkan efisiensi operasional Bank dan menghasilkan struktur biaya per transaksi yang jauh lebih rendah dibandingkan layanan transaksi melalui kantor cabang. BCA berkeyakinan bahwa perbankan elektronik akan terus tumbuh dan menjadi fokus Bank di masa mendatang.
Dewan Komisaris melihat posisi BCA yang unggul dalam mempertahankan soliditas neraca dan profitabilitas di tahun 2015. Bertumpu pada kondisi keuangan Bank yang kokoh, Dewan Komisaris mendukung langkah strategis Direksi dalam melanjutkan aktivitas investasi di tahun 2015 dan kedepannya guna meningkatkan franchise value perbankan transaksi BCA sekaligus menciptakan efisiensi jangka panjang. Melalui jaringan transaksi perbankan yang nyaman, aman dan andal, BCA menyediakan layanan penyimpanan dana yang mapan bagi para nasabah, sehingga BCA memperoleh kepercayaan nasabah yang pada gilirannya memberikan sumber pendanaan yang stabil bagi Bank.
Keunggulan utama BCA terletak pada struktur pendanaan yang sebagian besar merupakan rekening dana transaksional giro dan tabungan (Current Accounts and Savings Accounts – CASA) yang stabil dan berbiaya bunga rendah. Dana CASA tetap merupakan porsi terbesar terhadap dana pihak ketiga Bank yang pada akhirnya memberi keunggulan kompetitif bagi BCA dalam penyaluran kredit, terutama dalam penentuan suku bunga kredit.
Dengan memanfaatkan solidnya posisi likuiditas Bank, BCA mampu menyalurkan kredit yang berkualitas. BCA memprioritaskan penyaluran kredit kepada para nasabah dengan rekam jejak yang baik guna semakin meningkatkan
36
PT Bank Central Asia Tbk Laporan Tahunan 2015
peran Bank sebagai mitra bisnis yang terpercaya dan dapat diandalkan. BCA berupaya melakukan penyaluran kredit di semua segmen sejalan dengan kebutuhan kredit yang riil dan sehat. Pada paruh kedua tahun 2015, BCA melihat permintaan kredit dari sektor korporasi mengalami peningkatan cukup signifikan seiring dengan lebih aktifnya kegiatan usaha terutama menjelang akhir tahun. Permintaan kredit korporasi yang lebih tinggi juga disebabkan adanya pengalihan fasilitas kredit dalam valuta asing dari beberapa bank lain ke fasilitas kredit BCA dalam mata uang Rupiah.
Hal ini dilakukan oleh nasabah-nasabah korporasi untuk meminimalisasi risiko nilai tukar yang berfluktuasi. Adanya kebijakan Pemerintah yang mewajibkan semua transaksi di Indonesia untuk menggunakan mata uang Rupiah juga turut meningkatkan permintaan akan fasilitas kredit dalam Rupiah.
Di segmen kredit konsumer, BCA berupaya menangkap peluang pasar pembiayaan rumah dan kendaraan bermotor melalui produk kredit pemilikan rumah dan kredit kendaraan bermotor dengan tingkat suku bunga yang kompetitif.
Pemberian pinjaman dilakukan dengan mempertahankan prinsip kehati-hatian untuk memastikan bahwa kualitas portofolio kredit konsumer tetap tinggi.
Peluang penyaluran kredit dilakukan dengan memperhatikan risk appetite dan diversifikasi portofolio pada berbagai sektor industri dan segmen kredit. Total portofolio kredit BCA meningkat 11,9% di tahun 2015, yang berasal dari pertumbuhan portofolio kredit korporasi sebesar 17,2%, kredit komersial & UKM sebesar 8,8% dan kredit konsumer sebesar 8,9%. Kualitas aset BCA dapat terjaga dengan baik, dimana rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loans - NPL) Bank tercatat sebesar 0,7%, jauh di bawah ketentuan maksimum yang diatur oleh Bank Indonesia yaitu sebesar 5% dan di bawah rata-rata sektor perbankan Indonesia yang sebesar 2,5%. Meskipun demikian, dalam jangka pendek, kami tetap mewaspadai potensi peningkatan kredit bermasalah hingga roda perekonomian Indonesia pulih kembali.
Dalam beberapa tahun terakhir BCA telah berinvestasi dan mengembangkan bisnis anak-anak usahanya. Di samping BCA Finance, yang telah dikenal luas dalam bisnis pembiayaan kendaraan roda empat, saat ini BCA telah memiliki anak-anak usaha yang bergerak di bisnis pembiayaan kendaraan bermotor roda dua; bisnis asuransi umum; bisnis asuransi jiwa; layanan perbankan Syariah;
layanan remittance; dan sekuritas. Bisnis melalui anak-anak usaha tersebut ditujukan untuk melengkapi lini bisnis inti BCA, serta memberikan solusi keuangan menyeluruh bagi
para nasabah, yang pada gilirannya akan memperluas bisnis perbankan BCA. Kami juga berharap sinergi dengan anak usaha Bank akan mendorong peningkatan fee-based income.
Dewan Komisaris melihat bahwa perkembangan ruang lingkup dan kinerja anak usaha yang stabil berjalan sesuai dengan rencana strategis BCA.
Kami melaporkan bahwa pada tahun 2015 berbagai program kerja serta inisiatif jangka pendek dan jangka panjang yang dijalankan oleh Direksi, telah mendukung BCA dalam mempertahankan kualitas kredit dan kinerja usaha yang solid, serta mendorong pertumbuhan Laba Bersih sebesar 9,3% menjadi Rp 18,0 triliun. Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio – CAR) tercatat sebesar 18,7%
dan rasio kredit terhadap pendanaan (Loan to Funding Ratio – LFR) tercatat sebesar 81,1% pada akhir tahun 2015, berada dalam kisaran target yang sehat. Sementara itu tingkat pengembalian atas aset (Return on Assets – ROA) tercatat sebesar 3,8% dan tingkat pengembalian atas ekuitas (Return on Equity – ROE) sebesar 21,9% disertai dengan rasio NPL yang terkendali sebesar 0,7%.
PENINGKATAN TATA KELoLA PERuSAhAAN SECARA BERKESINAMBuNGAN
Dewan Komisaris senantiasa memantau terselenggaranya prinsip dan praktik Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance – GCG) pada seluruh jenjang organisasi dengan mengevaluasi hasil self-assessment GCG dan mendorong penyempurnaan praktik-praktik GCG yang mengacu kepada peraturan yang berlaku serta international best practices. Prinsip-prinsip transparansi, akuntabilitas, pertanggungjawaban, independensi dan kewajaran, menjadi pedoman utama dalam pengelolaan bisnis Bank. BCA percaya bahwa penerapan praktik-praktik GCG merupakan aset penting dalam menciptakan budaya organisasi yang kokoh dan unggul guna meraih pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan serta mampu memberikan nilai tambah bagi nasabah.
Di tahun 2015, sejalan dengan peraturan Otoritas Jasa Keuangan, BCA telah membentuk Komite Tata Kelola Terintegrasi yang membantu Dewan Komisaris dalam mengevaluasi penerapan Tata Kelola Perusahaan antara lain melalui penilaian kecukupan pengendalian internal dan pelaksanaan fungsi kepatuhan di BCA maupun anak-anak usaha Bank secara terintegrasi.
Komite Tata Kelola Terintegrasi memberikan rekomendasi kepada Dewan Komisaris dalam penyempurnaan pedoman tata kelola perusahaan terintegrasi. BCA terus
37
PT Bank Central Asia Tbk Laporan Tahunan 2015 menyempurnakan tugas dan tanggung jawab satuan kerja
terkait dalam penerapan tata kelola perusahaan, audit dan manajemen risiko yang terintegrasi. Keselarasan tata kelola antara BCA dan anak-anak usahanya menjadi semakin penting sejalan dengan berkembangnya bisnis anak-anak usaha Bank. Penerapan manajemen risiko dan pengendalian internal yang efektif berperan penting dalam memitigasi dampak negatif yang dapat timbul dari berbagai macam risiko yang dihadapi setiap anak usaha.
BCA secara berkala melakukan self-assessment terhadap pelaksanaan GCG sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia.
Self-assessment tersebut dimaksudkan untuk menjaga dan meningkatkan kualitas penerapan GCG di BCA.
Kami melaporkan bahwa hasil self-assessment terhadap pelaksanaan GCG di BCA pada tahun 2015 menghasilkan peringkat komposit dengan predikat “Sangat Baik.”
Sementara itu, hasil self-assessment pelaksanaan tata kelola terintegrasi juga menghasilkan peringkat “Sangat Baik.” Komitmen pelaksanaan GCG tercermin dari berbagai penghargaan yang diterima Bank, antara lain, dari Indonesian Institute for Corporate Directorship (IICG) dan majalah SWA sebagai Perusahaan Indonesia Sangat Terpercaya, serta penghargaan dari Finance Asia sebagai salah satu perusahaan yang memiliki tata kelola perusahaan terbaik di Indonesia. Dewan Komisaris meyakini bahwa BCA memiliki struktur tata kelola perusahaan yang kokoh dan efektif dalam mendukung perkembangan bisnis Bank dan anak- anak usaha.
PERuBAhAN KoMPoSISI ANGGoTA DEwAN KoMISARIS Dewan Komisaris BCA terdiri dari lima anggota dengan tiga diantaranya adalah Komisaris Independen. Dengan pengetahuan, pengalaman dan latar belakang yang berbeda- beda, para anggota Dewan Komisaris saling melengkapi dan membentuk tim yang solid dan efektif dalam menjalankan fungsi pengawasan terhadap pengelolaan perusahaan oleh Direksi. Dalam menjalankan tugasnya, sepanjang tahun 2015 Dewan Komisaris mengadakan 47 kali rapat dan 13 kali rapat gabungan dengan Direksi.
Kami menyampaikan bahwa pada tahun 2015 tidak terdapat perubahan komposisi dalam keanggotaan Dewan Komisaris.
PENILAIAN KINERjA KoMITE-KoMITE DI BAwAh DEwAN KoMISARIS
Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, Dewan Komisaris didukung oleh Komite Audit, Komite Pemantau Risiko, Komite Remunerasi dan Nominasi, serta Komite Tata
Kelola Terintegrasi. Komite-komite tersebut bekerja dengan menjunjung standar kompetensi dan kualitas terbaik.
Komite Audit membantu Dewan Komisaris dalam rangka mendukung efektivitas pelaksanaan tugas dan fungsi pengawasan atas hal-hal yang terkait dengan laporan keuangan, sistem pengendalian internal, pelaksanaan fungsi audit internal dan eksternal, implementasi GCG serta kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sepanjang tahun 2015, Komite Audit telah menyelenggarakan 20 kali rapat, 8 kali bertemu dengan Divisi Audit, dan mengkaji 179 laporan audit internal. Sementara itu Komite Pemantau Risiko telah menyelenggarakan 10 kali rapat untuk memastikan bahwa kerangka kerja manajemen risiko telah memberikan perlindungan yang memadai terhadap seluruh risiko yang dihadapi BCA; sedangkan Komite Remunerasi dan Nominasi telah menyelenggarakan 4 kali rapat. Komite Remunerasi dan Nominasi memiliki peran penting dalam melakukan evaluasi kebijakan remunerasi Dewan Komisaris, Direksi, pejabat eksekutif, dan karyawan BCA secara keseluruhan. Pada tahun 2015, Komite Tata Kelola Terintegrasi menyelenggarakan 2 kali rapat untuk memastikan penerapan GCG di BCA dan anak-anak usaha berjalan dengan baik. Dewan Komisaris menghargai dukungan dan upaya dari ke empat komite tersebut, sehingga Dewan Komisaris dapat melakukan fungsi pengawasan secara efektif terhadap seluruh area bisnis yang dijalankan oleh BCA dan anak-anak usaha.
TANGGuNG jAwAB SoSIAL PERuSAhAAN
Kami menyadari bahwa keberhasilan BCA dalam mengembangkan bisnis, tidaklah terlepas dari dukungan dan hubungan yang harmonis dengan masyarakat. Untuk itu, BCA secara aktif memberi kontribusi terhadap masyarakat melalui aktivitas tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility – CSR). Program CSR BCA diarahkan pada bidang pendidikan, kesehatan, olah raga, serta pelestarian budaya dan lingkungan. Untuk memastikan efektivitas pelaksanaan program CSR, BCA secara aktif bekerja sama dengan institusi-institusi terkemuka termasuk WWF, UNICEF, berbagai universitas serta Palang Merah Indonesia.
Salah satu program yang aktif dijalankan oleh BCA dalam beberapa tahun ini adalah pelestarian wayang sebagai warisan budaya Indonesia. BCA bekerja sama dengan organisasi-organisasi pelestarian budaya wayang dalam menyelenggarakan berbagai kegiatan dengan tema “BCA untuk Wayang Indonesia.” Tayangan mengenai wayang di
38
PT Bank Central Asia Tbk Laporan Tahunan 2015 kiri ke kanan
berdiri : duduk :
Raden Pardede
Komisaris Independen Djohan Emir Setijoso
Presiden Komisaris Sigit Pramono
Komisaris Independen Cyrillus Harinowo
Komisaris Independen Tonny Kusnadi
Komisaris
Dewan Komisaris
39
PT Bank Central Asia Tbk Laporan Tahunan 2015 salah satu televisi nasional Indonesia yang disponsori oleh
BCA telah menemani masyarakat setiap minggunya sejak 3 tahun yang lalu.
Melanjutkan program pada tahun sebelumnya, BCA kembali menjadi sponsor utama dalam penyelenggaraan BCA Indonesian Open 2015, turnamen bulutangkis internasional yang masuk kategori Superseries Premier. Hal ini merupakan komitmen BCA untuk turut mengembangkan bulu tangkis sebagai salah satu cabang olah raga andalan di Indonesia.
Di tahun-tahun mendatang, BCA akan terus melaksanakan program CSR sebagai komitmen Bank untuk tumbuh berkembang bersama masyarakat.
PANDANGAN ATAS PRoSPEK uSAhA yANG DISuSuN DIREKSI
Kami melihat bahwa tantangan yang dihadapi perekonomian Indonesia masih akan berlanjut pada tahun 2016 sejalan dengan masih belum adanya tanda-tanda pemulihan perekonomian global. Namun demikian, kami tetap optimis bahwa Indonesia memiliki modal yang memadai dalam menghadapi berbagai tantangan global. Berbagai program dan kebijakan Pemerintah dan regulator untuk mengatasi berbagai hambatan struktural menjadi salah satu modal dasar bagi perekonomian nasional menjadi lebih berdaya saing.
Dewan Komisaris menilai bahwa langkah Direksi untuk tetap optimis sekaligus hati-hati dalam menyongsong tahun 2016 merupakan langkah yang tepat. Kami juga menghargai berbagai upaya Direksi dalam meningkatkan investasi infrastruktur perbankan, khususnya untuk perbankan elektronik dan digital banking, dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta dalam mengembangkan platform bisnis anak-anak usaha. Penyempurnaan sistem GCG, manajemen risiko dan berbagai prosedur internal
lainnya akan terus dijalankan di tahun 2016. Dewan Komisaris akan senantiasa mendukung fungsi intermediasi Bank dengan tetap mengutamakan prinsip kehati-hatian.
Secara keseluruhan, Dewan Komisaris menilai bahwa rencana kerja Bank ke depan yang disusun oleh Direksi telah mempertimbangkan berbagai peluang bisnis sekaligus risiko-risiko yang dihadapi oleh Bank. Kami berkeyakinan bahwa prospek usaha dan rencana kerja strategis Bank akan mengantar BCA untuk menjadi lebih kuat dan lebih kompetitif di masa-masa mendatang.
APRESIASI KEPADA PEMANGKu KEPENTINGAN
Atas nama Dewan Komisaris, saya ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pemegang saham, nasabah, mitra bisnis, karyawan dan seluruh pemangku kepentingan.
Keberhasilan yang dicapai oleh BCA pada tahun 2015 tidak mungkin terwujud tanpa dukungan yang berkesinambungan dari berbagai pihak tersebut. Dewan Komisaris menghargai kerja keras dan pengelolaan perusahaan yang efektif dari Direksi sehingga dapat mempertahankan stabilitas dan kinerja keuangan yang kuat sepanjang tahun 2015. Dewan Komisaris juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh anak usaha atas peran penting mereka dalam keberhasilan Bank dan kontribusi mereka terhadap pengembangan BCA secara keseluruhan.
Kami berterima kasih kepada regulator, Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia, atas arahan dan dukungan yang telah diberikan kepada BCA dan industri perbankan Indonesia.
Kami yakin bahwa dengan komitmen tanpa henti dari semua pemangku kepentingan, BCA mampu meningkatkan kinerjanya serta terus memberikan nilai tambah dan manfaat bagi nasabah dan pemegang saham, serta masyarakat Indonesia.
Djohan Emir Setijoso Presiden Komisaris Jakarta, Maret 2016 Atas nama Dewan Komisaris,