• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan Keuangan

Dalam dokumen Buku Laporan Tahunan BCA 2015 Indonesia (Halaman 189-200)

Dana Pihak Ketiga Total Kredit

Rp Rp

76,1% merupakan dana

giro dan tabungan Pertumbuhan kredit yang

sehat dengan rasio NPL terjaga pada level yang rendah sebesar 0,7%

Dana Pihak Ketiga

(dalam miliar Rupiah)

323.428 370.274 409.486 447.906 473.666

2015 2014 2013 2012 2011

Kredit - bruto

(dalam miliar Rupiah)

202.255

256.778

312.290 346.563

387.643

2015 2014 2013 2012 2011

Pada tahun 2015

BCA kembali berhasil

mempertahankan

kinerja keuangan

yang solid, ditopang

oleh pertumbuhan

berkualitas di bidang

penyaluran kredit

maupun penghimpunan

dana serta terjaganya

permodalan dan

likuiditas pada posisi

yang sehat

188

PT Bank Central Asia Tbk Laporan Tahunan 2015

TINJAUAN EKONOMI MAKRO INDONESIA TAHUN 2015

Pada tahun 2015 perekonomian dunia secara keseluruhan memperlihatkan pertumbuhan yang lebih rendah dari perkiraan semula dimana sebagian besar perekonomian besar dunia mengalami proses pemulihan yang lambat.

Meskipun berbagai stimulus ekonomi telah diterapkan, pemulihan ekonomi Amerika Serikat relatif masih berjalan lambat, sementara Kawasan Eropa terus menunjukkan tanda-tanda ketidakstabilan.

Perekonomian dunia semakin terpengaruh oleh dampak negatif dari perlambatan perekonomian kedua terbesar di dunia, Tiongkok, yang menunjukkan penurunan aktivitas ekspor dan pelemahan arus investasi yang sebelumnya tumbuh cukup tinggi dari tahun ke tahun. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada tahun 2015 berada di bawah 7%, jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata pada periode 2006 - 2010 yang berada di atas 10%.

Secara keseluruhan, keadaan ekonomi dunia yang tidak stabil dan kurang kondusif masih menekan harga komoditas sehingga berdampak negatif terhadap kinerja ekspor Indonesia. Harga komoditas ekspor unggulan Indonesia seperti gas alam, batu bara, minyak sawit, nikel dan tembaga turun drastis dalam beberapa tahun terakhir. Harga-harga komoditas tersebut masih tertekan dan diperkirakan akan terus berada pada siklus menurun dalam jangka pendek dan menengah.

Di sisi pasar keuangan global, quantitative easing di Amerika Serikat dan kebijakan tingkat suku bunga bank sentral Amerika Serikat (Fed Funds Rate) telah mendorong fluktuasi arus modal global yang cukup signifikan di pasar emerging markets termasuk Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Derasnya arus modal ke emerging markets pada tahun 2009–2013 telah menopang kondisi makro Indonesia yang mencapai pertumbuhan di atas 6% pada periode 2010-2012.

Dengan berakhirnya quantitative easing pada tahun 2014 dan berakhirnya tingkat suku bunga terendah the Fed pada tahun 2015, negara–negara emerging markets termasuk Indonesia menghadapi tantangan tingginya ketidakstabilan arus modal global.

Tinjauan Keuangan

Berakhirnya masa commodity boom, volatilitas arus modal asing, serta realisasi belanja Pemerintah yang relatif lemah di tahun 2015 mengakibatkan dampak negatif terhadap konsumsi dalam negeri yang merupakan salah satu komponen utama penggerak perekonomian Indonesia.

Sebagai konsekuensinya, pertumbuhan PDB Indonesia pada tahun 2015 tercatat sebesar 4,8%, terendah dalam enam tahun terakhir, meski tetap merupakan salah satu tingkat pertumbuhan yang tertinggi diantara negara-negara G-20.

Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia (%)

2001 3,5

2002 4,4

2003 4,7

2004 5,1

2005 5,6

2006 5,5

2007 6,3

2008 6,0

2009 4,6

2010 6,4

2011 6,2

2012 6,0

2013 5,6

2014 5,0

2015 4,8

Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS)

Satu faktor yang memberatkan kondisi makro nasional adalah bergesernya posisi neraca transaksi berjalan dari posisi surplus menjadi defisit sejak triwulan IV – 2011 sebagai akibat dari penurunan aktivitas ekspor secara keseluruhan.

Tekanan pada defisit transaksi berjalan mulai berkurang di tahun 2015 seiring dengan menurunnya aktivitas impor dan pengurangan signifikan subsidi BBM. Pada tahun 2015, kondisi neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus sebesar USD 7,5 miliar dengan penurunan nilai impor sebesar 19,9%

dan ekspor sebesar 14,6%, sehingga mendorong perbaikan defisit transaksi berjalan pada tingkat 2,1% terhadap PDB pada tahun 2015, lebih baik dibandingkan tahun 2014 yang defisit sebesar 3,1% terhadap PDB. Meskipun demikian perlu diwaspadai risiko terjadinya peningkatan defisit transaksi berjalan jika roda ekonomi domestik kembali berputar lebih cepat, mengingat besarnya ketergantungan impor untuk konsumsi domestik serta untuk mendukung kegiatan manufaktur nasional yang membutuhkan impor barang modal maupun bahan baku dari luar negeri. Kestabilan arus investasi modal akan berperan penting bagi keseluruhan perekonomian nasional dalam menyeimbangkan defisit transaksi berjalan.

189

PT Bank Central Asia Tbk Laporan Tahunan 2015 Defisit transaksi berjalan dan tingginya permintaan

valuta asing untuk pembayaran hutang luar negeri telah memberi tekanan terhadap nilai tukar Rupiah. Lebih lanjut, ketidakpastian arah suku bunga Fed Funds Rate pada tahun 2015 menambah volatilitas mata uang Rupiah secara signifikan. Pelemahan Rupiah terhadap US Dollar ini juga sejalan dengan pelemahan sebagian besar mata uang di dunia terhadap US Dollar sebagai dampak dari kebijakan the FED. Ketidakpastian di pasar relatif berkurang setelah the FED memutuskan untuk meningkatkan suku bunga Fed Funds Rate sebesar 25 bps pada Desember 2015. Nilai tukar Rupiah sempat mencapai titik terendah pada level Rp 14.693 per 1 US Dollar pada September 2015, terdepresiasi 15,7%

dari posisi akhir tahun 2014. Namun sejalan dengan upaya- upaya proaktif regulator untuk menjaga nilai tukar Rupiah pada tingkat yang sesuai dengan fundamentalnya, nilai tukar Rupiah terus menguat dan ditutup pada level Rp 13.788 per 1 USD pada 31 Desember 2015, melemah 10,2% dari Rp 12.388 per 1 USD pada posisi yang sama tahun 2014.

Nilai Tukar Rupiah terhadap USD (dalam Rupiah)

Sumber: Bloomberg 7.000 9.000 11.000 13.000 15.000

Jul-05 Okt-06 Feb-08 Mei-09 Agt-10 Nov-11 Jun-12 Okt-13 Mei-14 Des-15 10.775

8.703 8.690 9.450

11.050 12.650

12.100

10.155 9.378 9.125

8.464 9.868

11.649 12.240

11.289 12.388 14.693

13.788

Untuk menjaga kestabilan Rupiah dan sekaligus mengendalikan defisit transaksi berjalan pada tingkat yang lebih sehat, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan BI Rate sebesar 7,5% sejak bulan Februari 2015. Pada akhir tahun 2015, Bank Indonesia menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) Primer sebesar 50 bps menjadi 7,5% dari total dana pihak ketiga bank, guna melonggarkan likuiditas sebagai upaya mendorong ekonomi.

Tekanan inflasi Indonesia berkurang signifikan seiring turunnya konsumsi domestik dan aktivitas bisnis serta rendahnya harga komoditas utama dunia. Tingkat inflasi

Indonesia pada akhir tahun 2015 sesuai dengan target yang telah ditentukan sebelumnya. Koordinasi antara kebijakan moneter Bank Indonesia dan penyesuaian kebijakan impor beberapa barang komoditas pokok turut memberikan kontribusi dalam mengelola tingkat inflasi nasional. Tingkat inflasi pada tahun 2015 berada pada level 3,4% dibandingkan periode tahun sebelumnya yang sebesar 8,4%.

Penurunan tingkat inflasi serta kebijakan tingkat suku bunga yang konstan telah mendukung stabilitas makro sepanjang tahun 2015. Dengan demikian, masyarakat dan pelaku bisnis tetap optimistis akan prospek jangka panjang perekonomian nasional.

Inflasi dan Suku Bunga BI (%)

Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia 0%

4%

8%

12%

16%

20%

Jul-05 Sep-06 Nov-07 Jan-09 Mar-10 Mei-11 Jul-12 Sep-13 Nov-14 Des-15 BI Rate Inflasi 18,38

14,55

8,338,75

5,27 5,77

2,783,43 5,80 12,75

9,75 8,508,00 9,50

12,14

7,92

7,75 6,50 6,75 5,75

7,50 7,50

4,61 3,56 4,30

5,57

3,99 3,35

7,26 8,79 8,38 8,36

Pemerintah telah mencanangkan program-program kerja dan paket-paket kebijakan di bidang fiskal untuk mendorong pergerakan ekonomi dalam jangka pendek dan menengah.

Pemerintah melakukan reformasi subsidi energi, menyusun beberapa program percepatan proyek-proyek pembangunan infrastruktur, serta memperbaiki iklim investasi, antara lain melalui percepatan proses perolehan tax allowance, tax holiday, dan izin investasi maupun pelayanan investasi terpadu satu pintu (PTSP).

BCA percaya bahwa program belanja Pemerintah dan berbagai upaya untuk menarik investasi akan terus memberikan pengaruh positif dalam jangka pendek dan menengah serta menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi ke depannya. Dalam jangka pendek, perekonomian Indonesia masih akan menghadapi berbagai tantangan di tengah ketidakpastian ekonomi global, dan

190

PT Bank Central Asia Tbk Laporan Tahunan 2015

moderat di tahun 2016. Meskipun demikian, dalam jangka panjang Indonesia memiliki prospek yang menjanjikan.

Demografi populasi usia produktif yang besar, potensi pertumbuhan masyarakat kelas menengah, kekayaaan alam yang berlimpah, dan meningkatnya investasi berbagai infrastruktur nasional merupakan pijakan utama bagi roda perekonomian Indonesia untuk tetap berputar dan bertumbuh di tengah berbagai tantangan ekonomi global.

PDB per Kapita (dalam USD)

2001 791

2002 944

2003 1.116

2004 1.167

2005 1.321

2006 1.648

2007 1.922

2008 2.245

2009 2.350

2010 2.977

2011 3.525

2012 3.751

2013 3.667

2014 3.531

2015 3.377

Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS)

TINJAUAN KINERJA PERBANKAN INDONESIA TAHUN 2015

Industri perbankan Indonesia dihadapkan pada perlambatan pertumbuhan portofolio kredit dan dana pihak ketiga pada tahun 2015. Tingkat profitabilitas juga mengalami tekanan terutama disebabkan oleh kenaikan biaya cadangan untuk kredit bermasalah dan restrukturisasi kredit, sejalan dengan melemahnya aktivitas bisnis dalam negeri. Secara keseluruhan, industri perbankan nasional masih berada pada kondisi yang baik ditopang oleh permodalan yang kuat dan likuiditas yang sehat, dengan jumlah kredit bermasalah terjaga pada tingkat yang dapat ditoleransi disepanjang tahun 2015.

pertumbuhan industri perbankan pada tingkat yang sehat dan berkelanjutan dengan menerapkan berbagai kebijakan yang berimbang dalam menghadapi tantangan ekonomi pada tahun 2015. Dengan mempertimbangkan faktor eksternal dan internal, Bank Indonesia mengelola kebijakan moneter secara berhati-hati, menjaga tingkat suku bunga secara konservatif serta mengawal likuiditas melalui pemantauan kondisi pasar dan pelonggaran GWM pada akhir tahun.

Pada tahun 2015 total aset perbankan Indonesia tercatat sebesar Rp 6.133 triliun, tumbuh 9,2% dengan tingkat pengembalian atas aset (Return on Assets – ROA) sebesar 2,3%. Portofolio kredit perbankan tumbuh 10,5% menjadi Rp 4.058 triliun pada akhir tahun 2015. Kredit modal kerja tercatat sebesar Rp 1.916 triliun, naik sebesar 9,0%.

Kredit investasi mencapai Rp 1.036 triliun atau meningkat 14,7%. Kredit konsumsi tercatat sebesar Rp 1.106 triliun pada akhir tahun 2015, naik 9,1% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan moderat ini sejalan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada pada level 4,8%. Secara keseluruhan, tingkat pertumbuhan aset dan kredit perbankan di tahun 2015 lebih rendah dari tahun- tahun sebelumnya (masing-masing sebesar 16,5% dan 22,0% CAGR 2007-2012).

Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loans – NPL) mengalami tren peningkatan dimana pada akhir tahun 2015 tercatat sebesar 2,5% dibandingkan 2,2% pada akhir tahun 2014. Kenaikan rasio kredit bermasalah disebabkan oleh menurunnya kualitas kredit usaha sejalan dengan melemahnya profitabilitas sektor bisnis.

191

PT Bank Central Asia Tbk Laporan Tahunan 2015 Ikhtisar Kinerja Sektor Perbankan Indonesia (dalam triliun Rupiah)

2015 2014 Naik / (turun)

Nominal Persentase

Total Aset 6.133 5.615 517 9,2%

Kredit 4.058 3.674 384 10,5%

Modal Kerja 1.916 1.757 159 9,0%

Investasi 1.036 903 133 14,7%

Konsumsi 1.106 1.014 92 9,1%

Dana Pihak Ketiga 4.413 4.114 299 7,3%

Giro 988 890 98 11,0%

Tabungan 1.396 1.284 112 8,7%

Deposito 2.030 1.940 89 4,6%

Pendapatan Bunga Bersih 308 274 34 12,4%

Pendapatan Operasional Lainnya 110 102 8 7,8%

Beban Operasional (285) (232) (53) 22,8%

Laba Sebelum Pajak 134 144 (10) -6,9%

Laba Bersih 105 112 (7) -6,3%

Marjin Bunga Bersih (NIM) 5,4% 4,2% N.A 120 bps

Tingkat Pengembalian atas Aset (ROA) 2,3% 2,9% N.A -60 bps

Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) 81,5% 76,3% N.A 520 bps

Kredit terhadap Dana Pihak Ketiga (LDR) 92,1% 89,4% N.A 270 bps

Kredit Bermasalah (NPL) 2,5% 2,2% N.A 30 bps

Tingkat Kecukupan Modal (CAR) 21,4% 19,6% N.A 180 bps

Jumlah Bank (dalam Unit) 118 119 (1) -0,8%

Sumber: Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Dari sisi penghimpunan dana masyarakat, dana pihak ketiga tercatat tumbuh sebesar 7,3% mencapai Rp 4.413 triliun pada akhir 2015 dari Rp 4.114 triliun pada akhir tahun 2014.

Dana giro tumbuh 11,0% menjadi Rp 988 triliun dari periode sebelumnya yang sebesar Rp 890 triliun, sedangkan dana tabungan naik 8,7% menjadi Rp 1.396 triliun pada akhir tahun 2015 dari Rp 1.284 triliun pada tahun 2014. Sementara itu dana deposito meningkat 4,6% menjadi Rp 2.030 triliun.

Tingkat pertumbuhan dana pihak ketiga tersebut lebih rendah dibandingkan tahun–tahun sebelumnya dimana dana pihak ketiga perbankan nasional tumbuh sebesar 16,4% (CAGR 2007– 2012). Rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (Loan to Deposit Ratio – LDR) sektor perbankan tercatat sebesar 92,1% pada tahun 2015.

Pendapatan Bunga Bersih sektor perbankan Indonesia meningkat 12,4% menjadi Rp 308 triliun pada tahun 2015 dari Rp 274 triliun pada tahun 2014. Pendapatan Operasional lainnya meningkat 7,8% menjadi Rp 110 triliun. Dengan demikian, total Pendapatan Operasional (Pendapatan Bunga Bersih dan Pendapatan Operasional Lainnya) naik 11,2%

menjadi Rp 418 triliun. Beban Operasional sektor perbankan,

dimana didalamnya terdapat biaya cadangan kredit bermasalah, mengalami kenaikan signifikan sebesar 22,8%

mencapai Rp 285 triliun dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp 232 triliun. Dengan demikian, Laba Bersih sektor perbankan pada tahun 2015 turun 6,3% menjadi Rp 105 triliun. Tahun 2015 merupakan tahun pertama perbankan nasional mengalami penurunan Laba Bersih dalam 5 tahun terakhir.

Posisi permodalan sektor perbankan Indonesia pada tahun 2015 tetap terjaga pada posisi yang solid, dimana rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio – CAR) sektor perbankan tercatat sebesar 21,4%, meningkat 180 bps dari 19,6% pada tahun 2014. Perubahan pengakuan laba bersih tahun berjalan dalam perhitungan CAR telah membantu kenaikan rasio CAR tersebut. Sejak tahun 2015, laba bersih tahun berjalan diakui 100% sebagai komponen modal inti, dimana sebelumnya hanya diperhitungkan 50%. Lebih lanjut, revaluasi aset yang dilakukan pada tahun 2015 dan 2016 akan semakin memperkokoh posisi permodalan bank-bank berskala besar.

192

PT Bank Central Asia Tbk Laporan Tahunan 2015

regulator akan terus menerapkan kebijakan-kebijakan moneter maupun fiskal yang prudent. Upaya-upaya tersebut diharapkan dapat berkontribusi terhadap kestabilan ekonomi serta mendukung pertumbuhan dan stabilitas industri perbankan Indonesia.

TINJAUAN KINERJA KEUANGAN BCA TAHUN 2015 Pada tahun 2015 BCA kembali mencatat kinerja keuangan yang solid, ditopang oleh pertumbuhan berkualitas di bidang penyaluran kredit maupun penghimpunan dana serta terjaganya permodalan dan likuiditas pada posisi yang sehat.

Per 31 Desember 2015 portofolio kredit mencapai Rp 387,6 triliun, meningkat 11,9% di semua segmen terutama segmen korporasi. Penerapan prinsip penyaluran kredit secara hati- hati telah memungkinkan BCA untuk mempertahankan rasio kredit bermasalah pada level rendah sebesar 0,7% dengan rasio cadangan terhadap kredit bermasalah mencapai 322,2%. Posisi permodalan terjaga pada level yang sehat dengan rasio kecukupan modal (CAR) tercatat sebesar 18,7% per 31 Desember 2015.

Perbankan transaksi tetap menjadi bisnis inti BCA dimana dana rekening transaksi (giro dan tabungan atau CASA) merupakan sumber utama pendanaan yang berkontribusi sebesar 76,1% terhadap total dana pihak ketiga. Meski di tengah kondisi ekonomi yang kurang kondusif dan perlambatan aktivitas usaha, BCA berhasil mencatat pertumbuhan dana CASA sebesar 7,1% menjadi Rp 360,3 triliun per 31 Desember 2015. Pertumbuhan CASA tersebut tercapai dengan sedikit penurunan tingkat suku bunga tabungan sebesar 20 bps. Hal ini mencerminkan keunggulan BCA dalam penyediaan sistem layanan penyelesaian pembayaran.

Desember 2015 dari Rp 111,5 triliun per 31 Desember 2014.

Kenaikan ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan tahun- tahun sebelumnya dan sejalan dengan kebijakan penurunan suku bunga deposito BCA secara bertahap pada tahun 2015. Penyesuaian tingkat suku bunga deposito pada level yang lebih rendah dibandingkan rata-rata di pasar ditujukan untuk menekan biaya dana (cost of funds) namun dengan tetap mempertahankan dana deposito sesuai dengan jumlah yang diinginkan. Dengan demikian, pada akhir tahun 2015 keseluruhan dana pihak ketiga BCA tercatat sebesar Rp 473,7 triliun, meningkat 5,8% dibandingkan dengan posisi yang sama tahun sebelumnya.

Loan to Funding Ratio (LFR) meningkat menjadi 81,1%

pada akhir tahun 2015 dari 76,8% pada akhir tahun 2014.

Penempatan aset jangka pendek diluar primary reserves tercatat sebesar Rp 67,5 triliun atau 14,2% terhadap total dana pihak ketiga pada akhir Desember 2015. Penempatan jangka pendek tersebut terdiri dari penempatan pada bank lain dan penempatan pada Bank Indonesia yang termasuk Fasilitas Simpanan Bank Indonesia, Term Deposit Bank Indonesia dan Sertifikat Bank Indonesia.

Pendapatan Bunga Bersih meningkat 12,0% menjadi Rp 35,9 triliun didukung oleh pertumbuhan portofolio kredit dan pendanaan CASA yang berbiaya rendah. Pendapatan Operasional selain Bunga meningkat 28,5% menjadi Rp 12,0 triliun pada tahun 2015, ditopang oleh kenaikan Pendapatan Provisi dan Komisi serta peningkatan pendapatan yang berasal dari transaksi swap tresuri.

Pada tahun 2015 BCA membukukan Laba Bersih sebesar Rp 18,0 triliun, tumbuh 9,3% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan tingkat pengembalian atas aset (Return on Assets – ROA) sebesar 3,8% dan tingkat pengembalian atas ekuitas (Return on Equity – ROE) sebesar 21,9%.

193

PT Bank Central Asia Tbk Laporan Tahunan 2015

IKHTISAR LABA RUGI

Profitabilitas dicapai dengan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dengan risiko bisnis.

Pendapatan Bunga Bersih (dalam miliar Rupiah)

2015 2014 Naik / (turun)

Nominal Persentase

Pendapatan Bunga 47.082 43.771 3.311 7,6%

Kredit 36.721 33.431 3.290 9,8%

Penempatan pada Bank Indonesia dan Bank-bank Lain 958 960 (2) -0,2%

Efek-efek (termasuk Efek-efek yang Dibeli dengan Janji Dijual Kembali) 5.650 5.887 (237) -4,0%

Pembiayaan Konsumen dan Investasi Sewa Pembiayaan 2.870 2.821 49 1,7%

Lainnya (termasuk bagi hasil Syariah) 883 672 211 31,4%

Beban Bunga 11.213 11.744 (531) -4,5%

Giro 1.064 1.058 6 0,6%

Tabungan 2.341 2.539 (198) -7,8%

Deposito 6.244 6.697 (453) -6,8%

Lainnya (termasuk beban Syariah) 1.564 1.450 114 7,9%

Pendapatan Bunga Bersih 35.869 32.027 3.842 12,0%

Pendapatan Bunga

Pendapatan Bunga BCA pada tahun 2015 meningkat 7,6%

mencapai Rp 47,1 triliun dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp 43,8 triliun. Peningkatan ini terutama disebabkan oleh kenaikan Pendapatan Bunga dari portofolio kredit yang berkontribusi terbesar terhadap total pertumbuhan Pendapatan Bunga.

Pendapatan Bunga Kredit. Pada tahun 2015 Pendapatan Bunga dari portofolio kredit tercatat sebesar Rp 36,7 triliun, tumbuh 9,8%, terutama disebabkan oleh meningkatnya outstanding penyaluran kredit pada tahun 2015. Imbal hasil keseluruhan portofolio kredit tercatat sebesar 10,5% pada tahun 2015, sedikit meningkat dari 10,3% pada tahun 2014.

Pendapatan Bunga dari Penempatan pada Bank Indonesia dan Bank-bank Lain. Pada tahun 2015 Pendapatan Bunga dari Penempatan pada Bank Indonesia dan Bank-bank Lain relatif stabil sebesar Rp 958 miliar. Volume rata-rata Penempatan pada Bank Indonesia dan Bank-bank Lain

meningkat namun terdapat penurunan yield pada instrumen ini sehingga Pendapatan Bunga dari investasi ini tidak mengalami peningkatan. Yield pada penempatan dana di instrumen tersebut tercatat sebesar 3,1% pada tahun 2015, turun apabila dibandingkan tahun 2014 yang sebesar 4,9%.

Pendapatan Bunga dari Efek-efek. Total Pendapatan Bunga dari Efek-efek (termasuk Efek-efek yang Dibeli dengan Janji Dijual Kembali) turun 4,0% menjadi Rp 5,7 triliun pada tahun 2015 yang disebabkan oleh menurunnya jumlah investasi pada instrumen-instrumen tersebut di atas. Pendapatan Bunga dari Efek-Efek untuk Tujuan Investasi tumbuh sebesar 13,3% menjadi Rp 3,9 triliun yang didukung oleh kenaikan Pendapatan Bunga pada Sertifikat Bank Indonesia sejalan dengan peningkatan rata-rata outstanding Sertifikat Bank Indonesia. Sementara itu, Pendapatan Bunga dari Efek- efek yang Dibeli dengan Janji Dijual Kembali mengalami penurunan 27,9% menjadi Rp 1,8 triliun sejalan dengan penurunan total outstanding efek-efek tersebut.

Pendapatan Bunga dari Efek-efek berdasarkan Jenis Instrumen Investasi (dalam miliar Rupiah)

2015 2014 Naik / (turun)

Nominal Persentase

Efek-efek untuk Tujuan Investasi 3.865 3.412 453 13,3%

Sertifikat Bank Indonesia 1.296 667 629 94,3%

Obligasi Pemerintah 1.930 2.136 (206) -9,6%

Surat Berharga Lainnya 639 609 30 4,9%

Efek-efek yang Dibeli dengan Janji Dijual Kembali 1.785 2.475 (690) -27,9%

Total Pendapatan Bunga dari Efek-efek 5.650 5.887 (237) -4,0%

194

PT Bank Central Asia Tbk Laporan Tahunan 2015

Rp 2,9 triliun pada tahun 2015. Pendapatan ini dihasilkan oleh entitas anak BCA, yaitu BCA Finance dan Central Santosa Finance, yang bergerak di bidang pembiayaan kendaraan bermotor.

Pendapatan Bunga Lainnya. Pada tahun 2015 Pendapatan Bunga Lainnya meningkat 31,4% menjadi sebesar Rp 883 miliar pada tahun 2015 dari Rp 672 miliar pada tahun 2014. Terdapat bagi hasil Syariah yang meningkat sebesar 65,5% atau Rp 146 miliar menjadi sebesar Rp 369 miliar pada tahun 2015.

Komposisi Pendapatan Bunga

12,0% 13,5%

6,1% 6,4%

2,0%

1,9% 2,2%

2015 2014

1,5%

Kredit Pembiayaan Konsumen dan Investasi Sewa Pembiayaan Lainnya

Efek-Efek Penempatan pada Bank Indonesia dan Bank-bank Lain

78,0% 76,4%

Rp 47.082 miliar Rp 43.771 miliar

Imbal Hasil (Yield) Aset Produktif

2015 2014

Kredit 10,5% 10,3%

Penempatan pada Bank Indonesia dan Bank-bank Lain 3,1% 4,9%

Efek-Efek (termasuk Efek-efek yang Dibeli dengan Janji Dijual Kembali) 6,1% 6,3%

Aset Produktif 8,6% 8,7%

Beban Bunga

Meskipun dana pihak ketiga tumbuh 5,8%, Beban Bunga BCA pada tahun 2015 mengalami penurunan 4,5% menjadi sebesar Rp 11,2 triliun. Hal ini didukung langkah proaktif BCA dalam menurunkan suku bunga sejalan dengan melonggarnya tingkat likuiditas perbankan Indonesia. Sejak Agustus 2014 dan berlanjut pada tahun 2015, BCA secara

bertahap menurunkan tingkat suku bunga produk dana terutama produk deposito. Mempertimbangkan posisi cadangan likuiditas Bank yang baik, BCA tidak mengikuti kompetisi suku bunga di pasar melainkan menurunkan suku bunga deposito di bawah level yang telah ditetapkan oleh Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS).

195

PT Bank Central Asia Tbk Laporan Tahunan 2015 Komposisi Beban Bunga

9,5% 9,0%

20,9% 21,6%

2015 2014

Giro Tabungan Deposito Lainnya

55,7% 57,0%

13,9% 12,4%

Rp 11.213 miliar Rp 11.744 miliar

Beban Bunga Giro relatif stabil sebesar Rp 1,1 triliun pada tahun 2015. Sementara itu, Beban Bunga Tabungan mengalami penurunan sebesar 7,8% menjadi Rp 2,3 triliun pada tahun 2015 dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp 2,5 triliun. Hal ini sejalan dengan penurunan tipis tingkat suku bunga tabungan pada semester I 2015.

Beban Bunga Deposito mengalami penurunan sebesar 6,8% menjadi Rp 6,2 triliun pada tahun 2015 sejalan dengan penurunan suku bunga deposito rata-rata sebesar 200 bps selama tahun 2015. Sementara itu, Beban Bunga Lainnya meningkat 7,9% menjadi Rp 1,6 triliun di tahun 2015 dimana kenaikan ini terutama didorong oleh meningkatnya premi penjaminan Pemerintah dan beban Syariah.

Biaya dana (cost of funds) BCA mengalami penurunan 30 bps menjadi 2,3% di tahun 2015 dibandingkan tahun 2014 yang sebesar 2,6%.

Pendapatan Bunga Bersih dan Marjin Bunga Bersih

Pendapatan Bunga Bersih BCA meningkat 12,0% menjadi Rp 35,9 triliun pada tahun 2015 dari Rp 32,0 triliun pada tahun sebelumnya. Peningkatan portofolio kredit serta cost of funds yang lebih rendah menjadi faktor pendorong utama peningkatan Pendapatan Bunga Bersih tersebut.

Marjin bunga bersih (Net Interest Margin - NIM) pada tahun 2015 tercatat sebesar 6,7%, lebih tinggi 20 bps dari tahun sebelumnya yang sebesar 6,5%.

Pendapatan Bunga Bersih (dalam miliar Rupiah)

32.027

35.869

2014 2015

Δ 12,0%

Marjin Bunga Bersih - NIM (%, tidak konsolidasi)

2015 6,53%

2,61% 2,31%

8,71%

8,63%

6,72%

2014

Cost of Funds Imbal Hasil (yield) Aset Produktif

Marjin Bunga Bersih (NIM)

196

PT Bank Central Asia Tbk Laporan Tahunan 2015

Pendapatan Operasional selain Bunga pada tahun 2015 tumbuh sebesar 28,5% atau Rp 2,7 triliun menjadi Rp 12,0 triliun.

Pendapatan Operasional selain Bunga (dalam miliar Rupiah)

2015 2014 Naik / (turun)

Nominal Persentase

Pendapatan Provisi dan Komisi - bersih 8.356 7.285 1.071 14,7%

Pendapatan Transaksi Perdagangan - bersih 2.107 836 1.271 152,0%

Pendapatan Operasional Lainnya 1.544 1.225 319 26,0%

Pendapatan Operasional selain Bunga 12.007 9.346 2.661 28,5%

Pendapatan Provisi dan Komisi - bersih (dalam miliar Rupiah)

2015 2014 Naik / (turun)

Nominal Persentase

Simpanan dari nasabah* 2.578 2.367 211 8,9%

Kredit yang diberikan 1.231 1.094 137 12,5%

Penyelesaian pembayaran (payment settlement) 1.395 1.339 56 4,2%

Kartu kredit 2.223 1.658 565 34,1%

Pengiriman uang, kliring dan inkaso 386 405 (19) -4,7%

Lainnya 547 426 121 28,4%

Total 8.360 7.289 1.071 14,7%

Beban provisi dan komisi (4) (4) 0 0,0%

Pendapatan Provisi dan Komisi - bersih 8.356 7.285 1.071 14,7%

* Sebagian besar merupakan pendapatan administrasi bulanan produk tabungan nasabah

Pada tahun 2015 Pendapatan Provisi dan Komisi (Fee-based Income) tetap memberikan kontribusi terbesar yaitu 69,6%

dari total Pendapatan Operasional selain Bunga, sedangkan Pendapatan Transaksi Perdagangan dan Pendapatan Operasional Lainnya masing-masing berkontribusi sebesar 17,5% dan 12,9% terhadap total Pendapatan Operasional selain Bunga.

Pendapatan Provisi dan Komisi. Pada tahun 2015 secara keseluruhan Pendapatan Provisi dan Komisi meningkat 14,7% menjadi Rp 8,4 triliun. Peningkatan tersebut terutama berasal dari pos simpanan dari nasabah serta pendapatan administrasi kredit maupun kartu kredit.

Pos simpanan dari nasabah, yang sebagian besar berupa pendapatan administrasi bulanan produk tabungan, meningkat 8,9% menjadi Rp 2,6 triliun pada tahun 2015 sejalan dengan peningkatan jumlah rekening nasabah. Pada awal tahun 2016 BCA menyesuaikan biaya administrasi bulanan produk tabungan sejalan dengan meningkatnya biaya investasi maupun biaya operasional dalam menghadirkan layanan transaksi. Sementara itu, pendapatan pada pos penyelesaian pembayaran meningkat 4,2% menjadi Rp 1,4 triliun pada tahun 2015.

Peningkatan outstanding kartu kredit dan pendapatan switching jaringan telah mendorong peningkatan pendapatan administrasi dari kartu kredit sebesar 34,1% menjadi Rp 2,2 triliun pada tahun 2015. Disamping itu terdapat reklasifikasi pencatatan pendapatan dari jaringan kartu kredit internasional, yang turut mendukung pertumbuhan pendapatan kartu kredit. Pendapatan administrasi dari portofolio kredit tercatat sebesar Rp 1,2 triliun, meningkat 12,5% dari tahun 2014.

Pendapatan Transaksi Perdagangan. Secara bersih, Pendapatan Transaksi Perdagangan mengalami kenaikan signifikan sebesar 152,0% menjadi Rp 2,1 triliun yang disebabkan oleh meningkatnya transaksi swap valuta asing terutama pada semester II 2015. Pada tahun 2015, BCA melakukan pembelian dan penempatan US Dollar pada Bank Indonesia, dan pada saat yang sama melakukan transaksi lindung nilai tukar melalui pasar swap - sell forward USD terhadap penempatan tersebut. Dari transaksi tersebut, BCA memperoleh imbal hasil (return) yang lebih baik melalui besarnya premi swap dibandingkan penempatan dana jangka pendek pada umumnya.

Dalam dokumen Buku Laporan Tahunan BCA 2015 Indonesia (Halaman 189-200)