BCA membukukan kinerja usaha positif yang diraih melalui langkah proaktif dalam mengelola portofolio kredit, menjaga kualitas kredit, mendukung kebutuhan keuangan para nasabah
berkualitas, meningkatkan kapabilitas perbankan transaksi, dan terus
mengembangkan bisnis anak-anak usaha
42
PT Bank Central Asia Tbk Laporan Tahunan 2015
global tersebut turut mendukung perekonomian Indonesia serta berperan sebagai salah satu penyeimbang dampak negatif dari fluktuasi harga-harga komoditas pada periode tersebut. Namun demikian, pada tahun 2013, pergerakan modal global yang mengalir ke pasar negara berkembang mulai berfluktuasi sejalan dengan antisipasi pasar atas rencana the Fed untuk menormalisasi suku bunga. Pada Desember 2015, the Fed mulai menaikkan suku bunga acuan jangka pendek sebesar 25 bps setelah cukup lama berada pada tingkat yang sangat rendah. Tekanan semakin bertambah ketika otoritas moneter Tiongkok tanpa diduga melakukan devaluasi mata uang Yuan, sehingga memicu terjadinya gejolak di pasar keuangan Indonesia maupun global.
Selama tahun 2015, ketidakstabilan arus modal global ke Indonesia memberikan tekanan pada nilai tukar Rupiah dan menyebabkan stagnasi realisasi penanaman modal di Indonesia. Situasi arus modal ini diperburuk oleh masalah struktural pergeseran transaksi berjalan dari kondisi surplus menjadi defisit secara material, yang terlihat pertama kali pada tahun 2012, sebagai akibat dari pelemahan ekspor komoditas-komoditas unggulan serta tingginya ketergantungan perekonomian nasional terhadap barang impor dan penggunaan jasa luar negeri. Defisit transaksi berjalan menambah tekanan pada nilai tukar Rupiah. Mata uang Rupiah terdepresiasi sebesar 10,2% pada tahun 2015 dan secara total terdepresiasi 29,0% sejak akhir tahun 2012.
Di sektor Pemerintah, realisasi belanja negara tahun 2015 lebih rendah dari yang diperkirakan sebelumnya. Setelah pemilihan umum nasional pada semester kedua 2014, kabinet kerja Joko Widodo memerlukan waktu untuk menyelesaikan perencanaan anggaran, menerapkan konsolidasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat dan mendorong realisasi anggaran belanja negara. Secara keseluruhan, isu-isu ekonomi dan politik dalam negeri serta faktor-faktor ekonomi makro telah menciptakan lingkungan ekonomi yang kurang kondusif yang menyebabkan pelemahan daya beli dan belanja domestik, hingga akhirnya membatasi pertumbuhan PDB Indonesia.
Dalam menanggapi situasi ekonomi yang terjadi, Pemerintah Indonesia mengambil langkah-langkah strategis untuk mendukung perekonomian Indonesia dan mengembangkan landasan yang kokoh bagi pertumbuhan ekonomi jangka
panjang. Berbagai program kerja serta serangkaian paket kebijakan ekonomi dan peraturan baru diterapkan dalam upaya untuk menggerakkan perekonomian Indonesia. Paket- paket ekonomi ini difokuskan untuk memperbaharui program subsidi BBM, program pembangunan infrastruktur strategis, pelayanan investasi satu atap, kebijakan satu peta untuk pembenahan status pertanahan dan hutan, pembentukan kawasan ekonomi khusus, serta berbagai program stimulus untuk segmen Usaha Kecil & Menengah (UKM). Selaras dengan perubahan kebijakan Pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan meninjau rencana kerja dan anggaran bank, dan melakukan diskusi secara proaktif dengan sektor perbankan guna menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan risiko. Bank Indonesia melakukan pengawasan terhadap situasi ekonomi makro secara hati-hati di sepanjang tahun 2015 serta mempertahankan tingkat suku bunga acuan untuk meredam ketidakpastian arus modal global dan mengarahkan defisit transaksi berjalan pada level yang rendah. Di sisi lain, Bank Indonesia juga menurunkan batasan giro wajib minimum bank untuk mendukung posisi likuiditas bank. Langkah-langkah prudent ini dilakukan oleh Pemerintah beserta regulator keuangan dalam mengarahkan agar Indonesia terhindar dari krisis ekonomi dan keuangan, serta sebagai upaya dalam membangun struktur ekonomi yang stabil.
Secara keseluruhan, BCA melihat perekonomian Indonesia telah mengalami penyesuaian-penyesuaian struktural yang tidak mudah pada tahun 2014-2015. Kami percaya bahwa kebijakan Pemerintah dapat mengatasi berbagai tantangan tersebut dan kami tetap optimis terhadap prospek jangka panjang perekonomian Indonesia. Sumber daya manusia dengan populasi usia produktif yang besar, kekayaan sumber daya alam, pertumbuhan kelas menengah, stabilitas sistem politik dan berbagai program kerja dan upaya Pemerintah merupakan daya tarik investasi Indonesia.
KINERjA BCA 2015: FoKuS PADA KuALITAS
Perlambatan pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga yang diiringi dengan ketatnya kompetisi serta peningkatan kredit bermasalah, telah memberi pengaruh terhadap industri perbankan Indonesia di tahun 2015. Di tengah berbagai tantangan industri perbankan, BCA kembali berhasil mempertahankan posisinya sebagai salah satu bank terkemuka di Indonesia, membukukan kinerja usaha yang positif dan senantiasa memberikan nilai tambah
43
PT Bank Central Asia Tbk Laporan Tahunan 2015 bagi para pemegang saham. Hasil tersebut diraih melalui
pelaksanaan berbagai program kerja yang bertujuan untuk menjaga kualitas kredit, mendukung kebutuhan kredit para nasabah berkualitas, meningkatkan kapabilitas BCA di bidang perbankan transaksi, dan terus mengembangkan bisnis anak-anak usaha.
Penyaluran Kredit Secara hati-hati
Meskipun masih dalam kisaran yang terkendali, kualitas kredit sektor perbankan secara keseluruhan mengalami tekanan pada tahun 2015, terutama di sektor komoditas pertambangan serta sektor-sektor yang terkait. Guna mengantisipasi penurunan kualitas kredit, serta berdasarkan revisi pedoman restrukturisasi yang dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan, sektor perbankan Indonesia secara proaktif melakukan restrukturisasi kredit dan meningkatkan pencadangan untuk kredit bermasalah.
BCA menerapkan pendekatan yang berhati-hati dalam penyaluran kredit melalui penerapan kebijakan manajemen risiko kredit yang prudent guna menjaga kualitas kredit dan meminimalkan peningkatan kredit bermasalah. Aktivitas penyaluran kredit terutama diarahkan untuk memenuhi permintaan kredit yang riil dan sehat dari nasabah berkualitas yang memiliki rekam jejak di semua segmen kredit.
Segmen korporasi masih memegang peran penting dalam mendorong pertumbuhan portofolio kredit Bank di tahun 2015. Pada semester pertama terdapat pelunasan kredit yang cukup besar oleh sejumlah nasabah korporasi sejalan dengan perlambatan aktivitas usaha. Namun, pada semester kedua, permintaan kredit di sektor korporasi mengalami peningkatan lebih besar seiring mulai lebih aktifnya kegiatan usaha yang ditandai dengan tingkat konsumsi domestik yang lebih tinggi menjelang akhir tahun. Selain itu, dengan mempertimbangkan risiko nilai tukar valuta asing yang lebih tinggi, nasabah korporasi berusaha untuk meminimalisasi eksposur dalam mata uang asing dengan mengkonversi pinjaman mata uang asing dari bank lain ke fasilitas kredit BCA dalam mata uang Rupiah. Peraturan Pemerintah yang mewajibkan penggunaan Rupiah untuk transaksi di wilayah Indonesia turut berperan terhadap peningkatan kebutuhan modal kerja dalam mata uang Rupiah.
Pada segmen kredit konsumer, di tahun 2015 BCA menawarkan produk kredit pemilikan rumah dan kredit
kendaran bermotor dengan tingkat suku bunga yang atraktif untuk mendorong pertumbuhan kredit konsumer Bank, disamping tetap menjaga kebijakan manajemen risiko yang ketat. Langkah terukur ini dijalankan setelah meyakini terjaganya kualitas kredit di segmen konsumer, dimana rasio kredit bermasalah tetap stabil dan berada pada level yang rendah. Kredit komersial & UKM tumbuh moderat pada tahun 2015, dipengaruhi oleh kondisi ekonomi Indonesia.
Pencegahan terjadinya penurunan kualitas kredit segmen kredit komersial merupakan fokus utama BCA baik dari sisi unit bisnis maupun unit risiko.
BCA melakukan pengawasan secara intensif terhadap keseluruhan portofolio kredit dan mengambil langkah- langkah proaktif untuk menangani masalah yang mungkin timbul apabila terdapat indikasi penurunan kualitas kredit.
Sistem peringatan dini (early warning system) secara berkala terus diperkuat agar dapat mengidentifikasi adanya penurunan kualitas kredit, sehingga BCA dapat mengambil langkah antisipasi apabila diperlukan. Restrukturisasi kredit secara dini diterapkan sebagai langkah preventif terhadap kredit-kredit yang berpotensi memiliki masalah namun masih memiliki prospek pemulihan kualitas.
Portofolio kredit BCA tercatat sebesar Rp 387,6 triliun pada tahun 2015, tumbuh 11,9%, terutama ditopang oleh penyaluran kredit di segmen korporasi pada semester kedua 2015. Secara keseluruhan, sampai dengan akhir tahun 2015, kualitas kredit Bank dapat terjaga dengan baik, dimana rasio NPL BCA tercatat sebesar 0,7%, di bawah rata-rata industri perbankan sebesar 2,5%. Secara umum, kami menyadari bahwa kredit bermasalah merupakan lagging indicator, dan masih memiliki kemungkinan akan meningkat dalam waktu dekat sehingga berpotensi memberikan tekanan terhadap kinerja Bank. Namun demikian peningkatan tersebut diperkirakan masih dalam tingkat yang terkendali sesuai risk appetite Bank.
Pengembangan Franchise Perbankan Transaksi
Perbankan transaksi merupakan pusat dari semua aktivitas bisnis BCA. Kami terus memperkuat jaringan dan menjaga reputasi sebagai salah satu bank transaksi yang terkemuka di Indonesia. Kenyamanan, keamanan dan keandalan sistem perbankan transaksi BCA merupakan modal utama dalam menjaga kepercayaan nasabah.
44
PT Bank Central Asia Tbk Laporan Tahunan 2015
berdiri : duduk :
Rudy Susanto
Direktur Subur Tan
Direktur Armand Wahyudi Hartono
Direktur Dhalia Mansor Ariotedjo
Direktur Eugene Keith Galbraith
Wakil Presiden Direktur kiri ke kanan
Direksi
45
PT Bank Central Asia Tbk Laporan Tahunan 2015
berdiri : duduk :
Jahja Setiaatmadja
Presiden Direktur Anthony Brent Elam Direktur
Suwignyo Budiman Direktur
Henry Koenaifi
Direktur Erwan Yuris Ang Direktur Independen
46
PT Bank Central Asia Tbk Laporan Tahunan 2015
BCA terus meningkatkan kemampuan jaringan multi-channel Bank dengan melakukan pengembangan yang cepat pada platform perbankan elektronik. Dalam beberapa tahun terakhir, Bank mengarahkan nasabah untuk meningkatkan penggunaan solusi internet banking dan mobile banking sebagai channel transaksi yang lebih nyaman dan mudah digunakan, dibandingkan jaringan kantor cabang maupun ATM. Upaya ini menunjukkan hasil yang positif di mana peningkatan volume transaksi di internet banking dan mobile banking lebih cepat dibandingkan pertumbuhan volume transaksi kantor cabang dan ATM. Perkembangan teknologi internet dan telekomunikasi yang sangat pesat serta adaptasi masyarakat Indonesia yang cukup tinggi telah menjadi katalis keberhasilan BCA dalam area tersebut.
Kinerja mobile banking semakin terlihat solid dalam beberapa tahun terakhir setelah BCA melakukan integrasi internet banking ‘KlikBCA’ dan mobile banking ‘m-BCA’ melalui mobile app dengan branding BCA Mobile. Perkembangan ini sejalan dengan upaya BCA untuk meningkatkan efisiensi operasional dimana struktur biaya internet dan mobile banking jauh lebih rendah dibandingkan kantor cabang maupun ATM.
Sementara itu, jaringan kantor cabang dan ATM tetap memiliki peranan penting, dimana jumlah nilai transaksi melalui jaringan tersebut masih signifikan. BCA senantiasa berupaya meningkatkan kualitas layanan serta memperluas jangkauan di dua jaringan ‘tradisional’ ini. Saat ini BCA mengoperasikan 1.182 kantor cabang dan 17.081 ATM di seluruh Indonesia, masing-masing meningkat sebesar 25,5%
dan 99,1% dalam kurun waktu 5 tahun terakhir.
Kedepannya, kami melihat bahwa pendekatan layanan multi- channel yang didukung jaringan kantor cabang tradisional dan diperkuat oleh layanan perbankan digital akan menjadi tren utama di sektor perbankan. BCA memahami bahwa pengembangan kapabilitas dan kapasitas infrastruktur teknologi informasi merupakan fondasi penting untuk transisi perbankan elektronik BCA ke tahap selanjutnya.
BCA berupaya secara aktif memanfaatkan perkembangan tren perbankan digital dan teknologi yang sangat dinamis di sepanjang tahun. Pada tahun 2015, beberapa inisiatif baru di layanan perbankan elektronik telah diluncurkan, antara lain ‘Sakuku’ suatu produk uang elektronik berbasis server, serta ‘Laku’ dan ‘Duitt’ yang merupakan layanan perbankan nirkantor untuk ekstensifikasi di luar basis nasabah yang ada. Berbagai investasi jaringan perbankan dilakukan secara
terukur yang didesain untuk menciptakan keseimbangan antara manfaat jangka panjang dengan biaya investasi yang dikeluarkan.
Keunggulan di bidang perbankan transaksi telah memungkinkan BCA untuk memiliki sumber dana inti yang berkelanjutan, berupa dana rekening transaksi yaitu dana giro dan tabungan (Current Accounts and Saving Accounts - CASA).
Meskipun terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi, BCA mampu meningkatkan saldo CASA secara keseluruhan sebesar 7,1% menjadi Rp 360,3 triliun. CASA tetap menjadi kontributor utama basis pendanaan BCA dimana porsi CASA mencapai 76,1% dari total dana pihak ketiga. Kami melaporkan bahwa layanan perbankan transaksi BCA tetap kokoh, sebagaimana tercermin pada pertumbuhan pendanaan CASA yang stabil dan berkelanjutan di sepanjang tahun 2015.
Pengembangan Bisnis Anak-anak usaha
Keunggulan BCA dalam layanan perbankan transaksi telah menghasilkan basis nasabah yang luas. Hal ini menjadi landasan kuat bagi perkembangan bisnis inti Bank, sekaligus menjadi peluang untuk mengembangkan produk dan layanan keuangan baru melalui anak-anak usaha Bank.
Di samping BCA Finance, entitas anak yang bergerak di bidang pembiayaan kendaraan bermotor roda empat, dan BCA Finance Ltd., entitas anak di bidang remittance yang telah beroperasi lebih dari 15 tahun, BCA melakukan investasi pada beberapa anak-anak usaha yang relatif baru, sebagai upaya untuk memberikan layanan keuangan yang lebih beragam. Anak-anak usaha baru tersebut bergerak di bidang asuransi umum, asuransi jiwa, sekuritas, perbankan Syariah dan pembiayaan kendaraan bermotor roda dua.
Secara keseluruhan, perkembangan anak-anak usaha BCA memberikan kontribusi yang positif terhadap kinerja bisnis Bank. BCA Finance telah bertumbuh menjadi salah satu perusahaan pembiayaan kendaraan bermotor roda empat terbesar di Indonesia, dan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap profitabilitas BCA. Entitas anak BCA Syariah telah membukukan kinerja yang baik dan mulai masuk dalam kategori bank syariah BUKU II dengan modal diatas Rp 1 triliun pada tahun 2015. CS Finance yang bergerak di bidang pembiayaan kendaraan bermotor roda dua juga menunjukkan kinerja bisnis yang positif dan terus membangun sistem pendukung dan kapasitas manajemen
47
PT Bank Central Asia Tbk Laporan Tahunan 2015 risiko. BCA Sekuritas terus memperkuat landasan bisnis di
bidang sekuritas melalui bisnis underwriting dan brokerage.
Entitas anak di bidang asuransi umum, BCA Insurance, mencatat kemajuan yang berarti melalui peningkatan pendapatan premi dan pengembangan sinergi usaha dengan produk kredit pemilikan rumah dan kredit kendaraan bermotor BCA. BCA Life, yang mulai beroperasi pada triwulan keempat tahun 2014, fokus untuk membangun landasan operasional yang solid dan memperkuat sistem pendukung bisnis dalam pengembangan produk-produk asuransi jiwa.
BCA meyakini bahwa masih terdapat potensi bisnis yang cukup besar bagi anak-anak usaha untuk bertumbuh di bidang usahanya masing-masing. Di tahun-tahun mendatang, BCA akan terus mendukung pertumbuhan bisnis dan meningkatkan sinergi bisnis antara masing- masing anak usaha dengan bisnis utama Bank, dengan tetap memperhitungkan risiko-risiko yang mungkin timbul di setiap bidang usaha yang dimasuki BCA.
TANTANGAN yANG DIhADAPI PADA TAhuN 2015 SERTA TARGET VS PENCAPAIAN
Seperti yang telah kami sampaikan di atas, perekonomian Indonesia dan industri perbankan Indonesia menghadapi tantangan–tantangan yang tidak mudah di tahun 2015.
Profitabilitas industri perbankan Indonesia mengalami tekanan sebagai dampak dari perlambatan pertumbuhan aset produktif dan dana pihak ketiga, serta penurunan kualitas kredit. Meskipun demikian, BCA berhasil mencatat pertumbuhan Laba Bersih sebesar 9,3% menjadi Rp 18,0 triliun di tahun 2015, dan menghasilkan Return on Asset dan Return on Equity yang lebih tinggi dari perkiraan.
Pencapaian kinerja keuangan BCA sejalan dengan keberhasilan dalam menjaga kualitas kredit dan mempertahankan kinerja bisnis intinya pada tahun 2015.
Perbankan transaksi BCA kembali dapat mempertahankan pendanaan yang berkelanjutan dari rekening transaksional dan memelihara likuiditas BCA secara kokoh. Hal ini memungkinkan BCA untuk menurunkan tingkat suku bunga maksimum deposito secara bertahap pada tahun 2015, sehingga menurunkan cost of funds.
Ditopang oleh pertumbuhan kredit dan penurunan cost of funds, pendapatan bunga bersih BCA tumbuh cukup baik pada level 12,0% menjadi Rp 35,9 triliun pada tahun 2015.
Sementara itu, BCA berupaya meningkatkan pendapatan operasional selain bunga baik dari provisi dan komisi (fee-based income) perbankan transaksi maupun dari aktivitas tresuri pada semester II 2015. Untuk menopang profitabilitas lebih lanjut, upaya–upaya efisiensi terus dilakukan dalam menekan kenaikan biaya operasional, namun BCA tetap berkomitmen untuk terus melakukan berbagai investasi jaringan maupun teknologi informasi yang merupakan bagian signifikan dari keseluruhan biaya operasional. Faktor pelemahan nilai tukar Rupiah juga turut berkontribusi atas kenaikan biaya-biaya pengadaan jaringan elektronik maupun software yang berhubungan erat dengan pergerakan mata uang US Dollar. Secara keseluruhan, BCA dapat mengendalikan rasio efisiensi biaya (cost efficiency ratio) pada level 46,5% di tahun 2015, dibandingkan dengan 44,2% di tahun 2014.
Menutup tahun 2015, BCA membukukan kredit sebesar Rp 387,6 triliun, meningkat 11,9% berada pada kisaran target pertumbuhan sebesar 10%-12%. Sedangkan dana pihak ketiga tumbuh menjadi Rp 473,7 triliun, naik sebesar 5,8%
pada tahun 2015, di bawah target kisaran pertumbuhan dana pihak ketiga yang sebesar 8%-11%. Sejalan dengan melonggarnya likuiditas perbankan Indonesia dan upaya BCA untuk menyeimbangkan profitabilitas, BCA tidak berkompetisi secara agresif dalam penghimpunan dana deposito, sehingga total dana pihak ketiga lebih rendah dari anggaran awal. Secara keseluruhan, posisi keuangan BCA terjaga dengan baik. BCA membukukan tingkat NPL yang rendah sebesar 0,7%. Rasio Loan to Funding Ratio (LFR) terjaga pada posisi yang sehat sebesar 81,1%, berada pada kisaran bawah rasio yang direkomendasikan oleh regulator.
Sementara itu, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio – CAR) mencapai 18,7%, lebih tinggi dari persyaratan minimum yang ditetapkan oleh Bank Indonesia, serta siap menyambut potensi revisi regulatory benchmark berdasarkan perkembangan metode perhitungan BASEL.
48
PT Bank Central Asia Tbk Laporan Tahunan 2015
dan tanggung jawab Satuan Kerja Kepatuhan, Satuan Kerja Manajemen Risiko dan Divisi Audit Internal untuk memperhitungkan risiko terintegrasi.
Kami merasa bangga bahwa upaya-upaya BCA dalam menerapkan tata kelola perusahaan telah menciptakan landasan yang kokoh bagi organisasi BCA untuk terus bertumbuh. Selain itu, masyarakat maupun kalangan profesional juga memberikan apresiasi dan pengakuan atas upaya tersebut. Hal ini tercermin dari berbagai penghargaan yang diterima oleh BCA diantaranya ‘Top 10 Public Listed Companies’ dan ‘The Best Responsibility of The Board’ dalam ajang The 7th IICD Corporate Governance Award.
PERuBAhAN KoMPoSISI ANGGoTA DIREKSI
Direksi BCA terdiri dari 10 anggota yang memiliki deskripsi pekerjaan, pembidangan tugas dan tanggung jawab masing-masing. Komunikasi dan koordinasi yang efektif terjaga baik di antara anggota Direksi dalam membahas tanggung jawab secara individu dan strategi bisnis Bank secara keseluruhan. Dalam menjalankan tugasnya, pada tahun 2015 Direksi menyelenggarakan 40 rapat sebagai mekanisme pengambilan keputusan serta tukar pendapat antar anggota Direksi.
Ikhtisar Keuangan BCA (dalam miliar Rupiah)
2015 2014 Δ %
Total Aset 594.373 553.156 7,5%
Kredit 387.643 346.563 11,9%
Dana Pihak Ketiga 473.666 447.906 5,8%
Pendapatan Bunga Bersih 35.869 32.027 12,0%
Pendapatan Operasional selain Bunga 12.007 9.346 28,5%
Beban Operasional (21.714) (18.393) 18,1%
Laba Sebelum Pajak 22.657 20.741 9,2%
Laba Bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk 18.019 16.486 9,3%
EPS (dalam Rupiah) 731 669 9,3%
Rasio-Rasio Keuangan Utama (tidak konsolidasi)
2015 2014 Δ bps
ROA 3,8% 3,9% (10)
ROE 21,9% 25,5% (360)
NIM 6,7% 6,5% 20
LFR 81,1% 76,8% 430
NPL 0,7% 0,6% 10
Cost Efficiency Ratio (CER) 46,5% 44,2% 230
CAR (risiko kredit, pasar dan operasional) 18,7% 16,9% 180
PENINGKATAN KuALITAS PENERAPAN TATA KELoLA PERuSAhAAN
BCA menyadari pentingnya Tata Kelola Perusahaan yang Baik dalam mendukung kinerja bisnis serta memberi nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan. Direksi dan Dewan Komisaris beserta seluruh karyawan Bank memiliki komitmen yang tinggi untuk mewujudkan sebuah organisasi yang transparan, akuntabel, bertanggung jawab, wajar dan independen.
BCA menerapkan Tata Kelola Perusahaan yang Baik dengan mengacu pada ketentuan dan peraturan yang berlaku. Praktik Tata Kelola Perusahaan yang Baik terus disempurnakan sesuai dengan best practices, termasuk Road Map Tata Kelola Perusahaan Indonesia yang dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan dan ASEAN Corporate Governance Scorecard.
Sebagai upaya untuk terus memperbaiki struktur tata kelola perusahaan, dengan mengacu kepada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan, BCA sebagai salah satu konglomerasi keuangan menerapkan struktur tata kelola perusahaan terintegrasi pada tahun 2015. Penerapan tersebut meliputi pembentukan Komite Tata Kelola Terintegrasi, penyusunan Pedoman Tata Kelola Terintegrasi dan penyesuaian tugas
49
PT Bank Central Asia Tbk Laporan Tahunan 2015 Direksi melaksanakan tugasnya dalam mengimplemen-
tasikan program kerja sesuai dengan visi dan misi BCA dan dengan berpegang pada tata nilai utama perusahaan.
Mengacu pada tata kelola perusahaan yang telah dirancang secara prudent, para komite eksekutif di bawah Direksi secara proaktif memberikan kontribusi sesuai dengan bidang tugas dan tanggung jawab masing-masing.
Komposisi Direksi BCA mencerminkan keberagaman anggotanya, baik dalam hal pendidikan, pengalaman kerja maupun keahlian, dan masing-masing memiliki kompetensi yang diperlukan untuk mendukung peningkatan kinerja perusahaan.
Kami sampaikan bahwa pada tahun 2015 tidak terdapat perubahan komposisi anggota Direksi. Profil Direksi dapat dilihat pada bagian Data Perusahaan, halaman 570-573 pada Laporan Tahunan ini.
PENILAIAN KINERjA KoMITE-KoMITE DI BAwAh DIREKSI Per 31 Desember 2015, terdapat 7 Komite Eksekutif yang membantu Direksi, yaitu Asset & Liability Committee (ALCO);
Komite Kebijakan Perkreditan; Komite Kredit; Komite Manajemen Risiko; Komite Manajemen Risiko Terintegrasi;
Komite Pengarah Teknologi Informasi; dan Komite Pertimbangan Kasus Kepegawaian.
Kami melaporkan bahwa pada tahun 2015 komite- komite tersebut telah menjalankan tugasnya dengan baik, memberikan opini yang bermanfaat dan obyektif kepada Direksi, yang pada akhirnya membantu pelaksanaan tugas Direksi secara efektif dan sistematis.
Asset & Liability Committee (ALCO) menerapkan strategi terhadap aset dan liabilitas untuk menjaga posisi likuiditas BCA sekaligus memberikan tingkat profitabilitas yang optimal bagi Bank dengan tingkat risiko yang terkendali. Komite Manajemen Risiko telah memastikan bahwa kerangka kerja manajemen risiko mampu memberikan perlindungan yang memadai terhadap risiko yang dihadapi oleh BCA.
Komite Kebijakan Perkreditan telah merekomendasikan beberapa kebijakan perkreditan, termasuk pengaturan wewenang persetujuan kredit untuk kredit korporasi dan komersial. Komite Kredit telah membantu Direksi dalam mengevaluasi aplikasi kredit sesuai dengan kebijakan
kredit yang berlaku. Komite Pengarah Teknologi Informasi telah mengkaji dan membuat rekomendasi mengenai rencana strategis penerapan teknologi informasi sesuai dengan rencana bisnis BCA. Komite Pertimbangan Kasus Kepegawaian telah memberikan rekomendasi kepada Direksi mengenai penyelesaian kasus-kasus pelanggaran yang dilakukan pegawai berdasarkan fakta-fakta yang diperoleh serta prinsip kesetaraan dan keadilan. Komite yang baru dibentuk, Komite Manajemen Risiko Terintegrasi, merumuskan dasar-dasar manajemen risiko yang terintegrasi, termasuk penyempurnaan profil risiko yang terintegrasi.
Komite-komite tersebut melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan kewenangan yang tertuang dalam pedoman kerja setiap komite.
TANGGuNG jAwAB SoSIAL PERuSAhAAN
Sebagai korporasi yang bertanggung jawab, BCA senantiasa memastikan bahwa produk dan layanan yang ditawarkan dapat memberi manfaat bagi masyarakat luas. Kami merasa bangga bahwa BCA dapat memfasilitasi beragam kebutuhan layanan perbankan untuk masyarakat Indonesia.
Sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan usaha, BCA aktif terlibat dalam berbagai kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility – CSR).
BCA berupaya untuk memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat Indonesia melalui berbagai inisiatif di bidang pendidikan, kesehatan, serta pelestarian budaya dan lingkungan hidup. Dalam menjalankan inisiatif tersebut, BCA berkolaborasi dan melibatkan institusi-institusi terkemuka yang kompeten di bidangnya, termasuk diantaranya WWF, UNICEF, Palang Merah Indonesia dan beberapa universitas terkemuka di Indonesia.
Di bidang pendidikan, beragam program dikembangkan sebagai implementasi peran aktif BCA dalam mendukung pengembangan pendidikan generasi muda Indonesia sebagai penerus masa depan bangsa. BCA meyakini bahwa sumber daya manusia sangat menentukan keberhasilan pembangunan suatu negara karena dengan penduduk yang berkualitas dan kompeten, berbagai potensi ekonomi dan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia dapat diolah dan dikelola dengan baik. Untuk mencapai tujuan tersebut, BCA menyelenggarakan berbagai program pendidikan di