62
PT Bank Central Asia Tbk Laporan Tahunan 2015
63
PT Bank Central Asia Tbk Laporan Tahunan 2015 Perbankan Korporasi BCA mengalami pelemahan
permintaan kredit dan penurunan utilisasi plafon kredit pada paruh pertama 2015 sejalan dengan menurunnya pendapatan sejumlah besar nasabah korporasi. Pada semester kedua 2015, permintaan kredit korporasi mulai membaik ditopang adanya peningkatan aktivitas ekonomi dan realisasi belanja Pemerintah yang lebih agresif, serta adanya peningkatan konsumsi domestik mendekati akhir tahun. Menutup tahun 2015, portofolio kredit korporasi BCA tercatat sebesar Rp 141,3 triliun, tumbuh 17,2%.
Pertumbuhan portofolio kredit korporasi memegang peran penting dalam mendorong peningkatan portofolio kredit BCA secara keseluruhan.
BCA menerapkan pendekatan yang berhati-hati dalam penyaluran kredit korporasi kepada nasabah berkualitas yang telah memiliki rekam jejak yang teruji. Kebijakan internal yang dirancang untuk menjaga portofolio kredit tetap terdiversifikasi telah membantu BCA dalam meminimalkan eksposur risiko atas penurunan kinerja suatu industri di tahun 2015. Kebijakan kredit yang prudent ini memungkinkan Grup Perbankan Korporasi untuk mempertahankan portofolio kredit yang berkualitas dengan NPL yang relatif rendah bahkan di tengah kondisi penyaluran kredit yang kurang kondusif.
Pertumbuhan yang Sehat dan Berkelanjutan
BCA membangun dan menjaga hubungan yang erat dengan nasabah segmen korporasi sehingga menghasilkan pertumbuhan kredit korporasi jangka panjang yang berkelanjutan. Kredit korporasi merupakan salah satu komponen utama portofolio kredit BCA secara keseluruhan.
Memanfaatkan posisi likuiditas yang kokoh dan permodalan yang solid, BCA berkomitmen untuk mendukung kebutuhan nasabah korporasi dalam melewati siklus ekonomi dengan tetap memperhatikan prinsip kehatian-kehatian dalam penyaluran kredit. BCA mengutamakan penyaluran kredit kepada nasabah berkualitas yang telah menjalin hubungan baik dengan Bank dan merupakan perusahaan-perusahaan terkemuka di masing-masing sektor industrinya.
Dalam kurun waktu lebih dari 10 tahun, BCA telah membangun hubungan jangka panjang yang solid dengan nasabah-nasabah korporasi. Sejalan dengan pertumbuhan usaha para nasabah korporasi, kebutuhan kredit dan berbagai layanan perbankan korporasi juga berkembang.
Hubungan yang saling menguntungkan ini pada akhirnya memberikan peluang cross-selling produk dan layanan keuangan seperti treasury, trade finance dan cash management, di samping mendukung pertumbuhan portofolio kredit korporasi. Lebih lanjut, basis nasabah korporasi BCA terus bertambah seiring dengan berkembangnya usaha beberapa nasabah segmen komersial menjadi skala usaha korporasi. Dengan tumbuh bersama untuk membangun hubungan jangka panjang, BCA dapat lebih memahami usaha nasabah guna mengukur potensi risiko usaha yang dihadapi dengan lebih akurat. Melalui strategi pertumbuhan bersama nasabah, BCA dapat membukukan peningkatan portofolio kredit korporasi yang sehat dan berkelanjutan.
Didukung oleh Relationship Manager yang andal dan berpengalaman, BCA secara efektif memberikan layanan terbaik kepada para nasabah korporasi. BCA mengelompokkan Relationship Manager ke dalam tim-tim berdasarkan keahlian masing-masing, yang kemudian ditugaskan pada sektor-sektor industri atau kelompok debitur tertentu. Para Relationship Manager secara proaktif membangun komunikasi dan berupaya memahami nasabah serta faktor-faktor yang dapat mempengaruhi usaha mereka. Pendekatan ini memungkinkan BCA untuk mengantisipasi kebutuhan spesifik para nasabah dan dapat bertindak cepat apabila mereka menghadapi kesulitan usaha maupun keuangan. BCA terus mengembangkan kemampuan para staf terkait manajemen risiko kredit dan pemahaman sektor industri guna mencapai kinerja perbankan korporasi yang solid.
64
PT Bank Central Asia Tbk Laporan Tahunan 2015
Perbankan Korporasi
BCA telah menjadi salah satu bank utama penyalur kredit korporasi di Indonesia. Pada tahun 2015, segmen korporasi memegang peran penting dalam mendorong pertumbuhan portofolio kredit BCA secara keseluruhan. Kredit korporasi tumbuh 17,2% dan tercatat sebesar Rp 141,3 triliun pada akhir tahun 2015, dimana sebagian besar penyaluran kredit terjadi pada semester kedua. Peningkatan permintaan kredit korporasi pada paruh kedua 2015 ini didorong oleh sedikit membaiknya situasi perekonomian dengan adanya paket- paket kebijakan Pemerintah serta meningkatnya realisasi belanja Pemerintah dan peningkatan konsumsi domestik menjelang akhir tahun. Selain itu, terdapat kebutuhan nasabah korporasi untuk mengkonversi pinjaman mata uang asing dari bank lain ke dalam pinjaman Rupiah dari BCA di tengah tren melemahnya nilai tukar Rupiah.
Pinjaman mata uang Rupiah juga semakin diperlukan untuk memenuhi kebijakan Pemerintah baru yang mewajibkan semua transaksi di Indonesia untuk menggunakan mata uang Rupiah.
Per Desember 2015, kredit modal kerja berkontribusi 46,9%
terhadap total portofolio kredit korporasi, sedangkan kredit investasi memberikan kontribusi sebesar 53,1%. Kredit modal kerja tercatat sebesar Rp 66,3 triliun per 31 Desember 2015 atau tumbuh 16,7%, sedangkan kredit investasi meningkat 17,7% menjadi Rp 75,0 triliun. Pertumbuhan kredit investasi pada umumnya merupakan indikasi bahwa permintaan terhadap produk-produk perbankan korporasi Bank lainnya, baik pinjaman maupun layanan transaksi keuangan, akan meningkat di tahun-tahun mendatang.
BCA akan senantiasa memanfaatkan posisinya sebagai penyedia kredit yang unggul untuk lebih memperkuat bisnis di sisi liabilitas Bank.
Mempertahankan Kualitas Kredit
BCA senantiasa menjaga kualitas kredit melalui pengawasan secara cermat portofolio kredit korporasi di setiap tahapan pemberian fasilitas kredit, sampai dengan tahap pelunasan kredit. Secara keseluruhan, penerapan manajemen risiko yang prudent di setiap sektor industri memungkinkan BCA untuk mempertahankan kualitas portofolio kredit korporasi yang terdiversifikasi. Portofolio kredit korporasi BCA terdiversifikasi dengan baik ke berbagai sektor industri, dimana porsi terbesar adalah pada industri Perkebunan dan Pertanian, Bahan Kimia dan Plastik, dan Telekomunikasi. Kecuali sektor Perkebunan dan Pertanian, eksposur pada setiap industri tersebut di bawah 10% dari total portofolio kredit korporasi. Per akhir tahun 2015, 10 portofolio kredit korporasi terbesar berdasarkan sektor industri mencakup 61,3% dari total kredit korporasi BCA.
Diversifikasi yang merata dapat membantu Bank untuk menghindari risiko konsentrasi kredit.
BCA secara rutin melakukan analisa industri yang komprehensif serta memantau keseluruhan portofolio kredit dengan seksama. Hal ini memungkinkan BCA untuk mengembangkan portofolio kredit korporasi serta memitigasi risiko-risiko yang dihadapi sektor perbankan akibat pelemahan kinerja pada sektor-sektor industri tertentu. BCA secara proaktif menganalisa tren-tren industri dan mengambil langkah-langkah penyesuaian portofolio kredit untuk meminimalisasi eksposur pada industri- industri yang berisiko.
10 Portofolio Kredit Korporasi Terbesar Berdasarkan Sektor Industri
Sektor Industri 2015 2014
Perkebunan dan Pertanian 10,5% 11,2%
Bahan Kimia dan Plastik 7,8% 7,3%
Telekomunikasi 7,5% 5,5%
Pembangkit Energi dan Tenaga Listrik 5,8% 6,3%
Transportasi dan Logistik 5,6% 5,9%
Pariwisata 5,5% 4,5%
Bahan Bangunan dan Besi Konstruksi Lainnya 5,1% 4,3%
Pembiayaan Konsumen 4,9% 5,7%
Makanan dan Minuman 4,5% 4,6%
Properti dan Konstruksi 4,1% 4,5%
Total 61,3% 59,8%
65
PT Bank Central Asia Tbk Laporan Tahunan 2015 Dalam beberapa tahun terakhir, sektor komoditas
mengalami tekanan akibat rendahnya harga komoditas global sejalan dengan perlambatan ekonomi di negara- negara kawasan Eropa dan Tiongkok. BCA relatif tidak memiliki eksposur langsung pada sektor pertambangan batu bara terutama karena karakteristik khusus industri tersebut, dimana pada umumnya pembiayaan yang dibutuhkan adalah pinjaman dalam mata uang US Dollar.
Sebagai Bank yang fokus pada pemberian pinjaman dalam mata uang Rupiah, BCA membatasi pinjaman US Dollar sehingga mengurangi eksposur Bank pada sektor pertambangan.
Meskipun BCA tidak memiliki eksposur langsung secara material pada industri pertambangan, BCA terus mewaspadai dampak tidak langsung atas pelemahan harga batu bara dan komoditas pertambangan lainnya terhadap kelangsungan bidang usaha lainnya. Contohnya, bidang usaha jasa angkutan laut dan sungai mengalami kesulitan keuangan sejalan dengan penurunan volume pengangkutan hasil tambang. BCA secara proaktif melakukan restrukturisasi kredit dan menahan eksposur untuk industri ini selama beberapa tahun terakhir. Eksposur BCA pada sektor sarana transportasi dapat dikendalikan, tercatat sebesar Rp 2,2 triliun atau 1,6% dari total portofolio kredit korporasi BCA.
Dalam beberapa tahun terakhir, BCA meminimalisasi penyaluran kredit untuk industri perhotelan dengan mempertimbangkan cepatnya pertumbuhan pembangunan hotel baru di Indonesia serta semakin ketatnya kompetisi di sektor tersebut. Kredit pada industri ini diberikan secara terbatas kepada debitur yang berpengalaman di bidang tersebut serta pada debitur yang memiliki usaha utama yang mapan dengan pendapatan yang stabil, sebagai alternatif sumber pembayaran kewajiban kredit apabila diperlukan.
Penyaluran kredit dalam mata uang asing dilakukan dengan menerapkan standar kehati-hatian yang dirancang untuk mengurangi potensi risiko fluktuasi nilai tukar mata uang Rupiah terhadap US Dollar. BCA sejak lama menerapkan kebijakan penyaluran kredit US Dollar hanya kepada nasabah korporasi dengan pendapatan utamanya dalam mata uang US Dollar. Lebih lanjut, BCA menerapkan batasan penyaluran kredit dalam US Dollar yang ketat sejalan dengan mayoritas porsi pendanaan BCA yang berupa mata uang Rupiah. Pada akhir tahun 2015 portofolio kredit korporasi dalam mata uang asing tercatat 11,7%
dari total kredit, sedangkan porsi mayoritas sebesar 88,3%
merupakan kredit dalam mata uang Rupiah.
66
PT Bank Central Asia Tbk Laporan Tahunan 2015
Dengan langkah cermat dan hati-hati, BCA berhasil menjaga rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loans – NPL) kredit korporasi pada level yang relatif rendah sebesar 0,3%
di akhir tahun 2015, relatif sama dibandingkan posisi akhir tahun 2014. Dalam upaya mencegah terjadinya NPL, BCA secara proaktif melakukan diskusi terkait restrukturisasi kredit dengan memantau portofolio kredit korporasi secara berhati-hati.
Kredit Sindikasi
Kondisi ekonomi yang kurang kondusif di tahun 2015 telah membatasi partisipasi BCA dalam penyaluran kredit sindikasi, yang berdampak pada rendahnya pencairan kredit sindikasi apabila dibandingkan dengan tahun 2014. Namun demikian, dalam jangka panjang BCA tetap memandang penting untuk menjaga posisinya sebagai salah satu pemain utama di bidang kredit sindikasi di Indonesia. Selain memberikan pendapatan bunga, peran aktif BCA dalam pinjaman sindikasi berkontribusi dalam peningkatan fee-based income termasuk peluang cross- selling dan peningkatan hubungan kerja sama dengan nasabah.
BCA menyelesaikan kredit sindikasi sebesar Rp 25,9 triliun pada tahun 2015, turun 42,8% dibandingkan Rp 45,2 triliun pada 2014. Pada tahun 2015, total partisipasi kredit sindikasi yang dibukukan oleh BCA mencapai Rp 4,2 triliun, dibandingkan Rp 7,7 triliun pada tahun sebelumnya. Dalam kredit sindikasi, BCA dapat berperan sebagai sole arranger atau sekaligus sebagai agen fasilitas, agen jaminan, atau agen rekening dana sementara, baik kepada debitur maupun kepada non-debitur.
Pembiayaan infrastruktur termasuk salah satu sumber permintaan pembiayaan sindikasi sejalan dengan rencana Pemerintah untuk mempercepat pembangunan infrastruktur. Kredit sindikasi untuk infrastruktur pada tahun 2015 diantaranya ditujukan untuk pembangunan prasarana dan sarana kereta api dari pusat kota Jakarta menuju bandar udara Soekarno-Hatta sepanjang 36,3 km, serta pembiayaan pengembangan usaha untuk salah satu perusahaan telekomunikasi dan entitas- entitas anaknya. Selanjutnya, BCA telah menuntaskan penyaluran kredit sindikasi tol Cikopo-Palimanan (Cipali) yang pembangunannya selesai pada tahun 2015. Sebagian besar sumber pendanaan proyek tersebut berasal dari kredit sindikasi 21 bank yang dipimpin oleh BCA.
Di sektor swasta, BCA melakukan pembiayaan sindikasi ke debitur produsen pakan ternak terkemuka di Indonesia dan juga ke debitur-debitur yang bergerak di industri konsumer.
Atas peran aktif BCA dalam penyaluran kredit sindikasi, berdasarkan data Bloomberg, BCA tercatat sebagai salah satu peringkat teratas dalam loans book runner di Indonesia untuk periode 2015. BCA menerima penghargaan ‘Best Project Finance Deal of the Year di Asia Tenggara’ dari majalah Alpha Southeast Asia atas proyek kredit sindikasi pembangunan sarana kereta api untuk bandara Soekarno- Hatta sebesar Rp 2,1 triliun (USD 152 juta), dalam perannya sebagai joint arranger bersama dengan tiga bank papan atas lainnya.
Layanan Berbasis Komunitas Bisnis
BCA secara aktif menyalurkan kredit di sepanjang mata rantai (value chain) dengan fokus kepada jaringan-jaringan komunitas bisnis yang menghubungkan nasabah korporasi dengan nasabah komersial dan UKM. Layanan berbasis komunitas ini menyediakan fasilitas pembiayaan kredit bersama-sama dengan layanan cash management maupun layanan transaksi lainnya.
Platform layanan cash management terus disempurnakan untuk meningkatkan kemampuan BCA dalam memanfaatkan berbagai peluang di sepanjang rantai suatu industri. Di tahun 2015 BCA mengembangkan aplikasi internet banking, KlikBCA Bisnis Integrated Solution (KBB-IS) yang berisi modul-modul baru untuk semakin melengkapi layanan corporate cash management secara lebih holistik dalam memenuhi kebutuhan nasabah-nasabah korporasi.
Melalui layanan cash management, BCA menyediakan kemudahan bagi nasabah korporasi dan para pemasoknya dalam mengatur aktivitas transaksi pembayaran sehari- hari sehingga proses pengelolaan uang tunai dapat berjalan dengan lebih efisien.
BCA terus meningkatkan penetrasi pasar cash management bagi nasabah korporasi dan komersial, serta komunitas bisnis melalui upaya peningkatan basis nasabah dan portofolio kredit dalam komunitas tersebut.
Dengan melemahnya peningkatan pendapatan bunga karena melambatnya pertumbuhan kredit, fee-based income menjadi semakin penting untuk menopang profitabilitas BCA. Layanan cash management menjadi salah satu
Perbankan Korporasi
67
PT Bank Central Asia Tbk Laporan Tahunan 2015 sumber fee-based income yang diharapkan terus meningkat
di masa mendatang dan akan memperkuat posisi dana giro dan tabungan (CASA) BCA.
Di tahun 2015, BCA mengembangkan pengelolaan transaksi pada industri transportasi sebagai salah satu bisnis yang potensial. Dengan semakin tingginya kebutuhan untuk melakukan perjalanan menggunakan sarana transportasi udara, BCA menyadari pentingnya memberikan kemudahan bertransaksi bagi agen-agen tiket yang menawarkan jasa pemesanan layanan penerbangan, dan untuk itu BCA telah mengembangkan layanan-layanan khusus untuk industri ini. Di segmen migas, BCA melanjutkan layanan cash management pada rantai usaha Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum (SPBU), dimana sebagian besar SPBU di Jakarta telah menjadi merchant BCA dan melakukan pembayaran ke prinsipal melalui sistem yang disediakan oleh BCA. Beberapa komunitas lainnya yang dikelola BCA antara lain komunitas pasar modal, komunitas pasar berjangka, komunitas semen, komunitas telekomunikasi, komunitas pupuk dan komunitas pasar modern.
Guna meningkatkan hubungan dengan nasabah, BCA menyelenggarakan berbagai business event seperti benchmarking trip, workshop, sosialisasi informasi solusi bisnis terbaru, capital market expo, dan business gathering yang dapat meningkatkan wawasan dan pengalaman, serta mempererat hubungan antar anggota komunitas.
Melangkah ke Depan
BCA optimis dalam menjaga kualitas portofolio kredit termasuk di segmen korporasi. Kami melihat kredit korporasi masih akan menjadi pendorong utama pertumbuhan kredit BCA pada tahun 2016.
BCA akan terus mendukung para nasabah korporasi yang berkualitas dengan senantiasa memberikan layanan perbankan terbaik. Menjadi keinginan kami bahwa BCA dan para nasabah dapat terus tumbuh bersama-sama dalam melalui periode yang penuh tantangan ini. Saat laju perekonomian Indonesia kembali bergerak dengan cepat, BCA bersama-sama dengan nasabahnya akan memperoleh manfaat dari skala usaha yang dikembangkan.
Perbankan korporasi akan meningkatkan kerja sama serta sinergi dengan unit-unit bisnis BCA lainnya dan anak-anak usaha dalam memenuhi kebutuhan nasabah yang semakin beragam. Kerja sama dengan bank-bank asing di kawasan Asia akan terus diperluas guna menangkap peluang dari meningkatnya aktivitas transaksi antar negara dengan memberikan layanan trade finance, valuta asing dan cash management. Lebih lanjut, melalui referral dari bank-bank asing tersebut, seperti dari Thailand, Jepang, Korea Selatan, Malaysia dan Filipina, BCA menjajaki peluang permintaan kredit baru dari para grup usaha investor asing yang berencana melakukan investasi langsung di Indonesia.
Ke depan, BCA akan tetap mempertahankan komitmennya dalam memenuhi kebutuhan nasabah korporasi melalui penyediaan layanan perbankan transaksi dan produk pembiayaan yang berkualitas.
68
PT Bank Central Asia Tbk Laporan Tahunan 2015