• Tidak ada hasil yang ditemukan

ISLAM DAN POLITIK INDONESIA

Dalam dokumen PDF repository.umj.ac.id (Halaman 70-76)

2

ISLAM DAN POLITIK

K

risis politik hingga kini masih menyelimuti Turki, seiring dengan gagalnya pemilihan presiden beberapa waktu lalu.

Dan bila sedikit ditarik ke belakang, tanda-tanda bakal terjadinya krisis sebenarnya sudah mulai terbaca selepas Partai Keadilan dan Pembangunan, Party (AKP) berhasil memenangkan Pemilu 2002 dengan memperoleh suara 34,2 persen. Puncak dari krisis tersebut muncul ketika Menteri Luar Negeri Abdullah Gul, calon kuat dari AKP gagal terpilih sebagai presiden lantaran mendapat boikot dari partai sekuler, Partai Rakyat Republik (CHP).1 Dari dua kali pemilihan presiden selalu saja tidak memenuhi quorum lantaran boikot CHP. Bahkan upaya melakukan amandemen konstitusi untuk pemilihan presiden langsung yang telah mendapat persetujuan parlemen pun mendapat ganjalan dari Presiden Turki yang secara konstitusional mempunyai hak veto.2

Kenapa gagal? Konon ada kekhawatiran cukup kuat di kalangan elite dan pendukung Turki sekuler, yang tercermin melalui wakil- wakilnya di parlemen, termasuk militer dan Dewan Nasional yang bertugas mengawal ideologi sekuler Mustafa Kemal Attaturk.

Kekhawatiran tersebut cukup beralasan. Selain kemenangan AKP yang cukup fantastis, juga posisi jabatan strategis di Turki nyaris dikendalikan semua oleh AKP. Perdana Menteri dan Menteri

1 Dalam perkembangannya, setelah melalui proses politik yang panjang, Abdullah Gul akhirnya benar-benar terpilih sebagai Presiden Turki pertama dari kalangan Islam semenjang kelompok sekuler merebut kekuasaan politik di Turki 83 tahun yang lalu atau tepatnya tahun 1924.

2 Krisis politik di Turki berhasil diatasi seiring dengan terpilihnya Abdullah Gul sebagai presiden Turki, yang merupakan presiden pertama dari kelompok Islam politik setelah semenjak “kelompok sekuler” berkuasa di Turki sejak lebih dari 80 tahun yang lalu.

Beda Turki dengan Indonesia

Luar Negeri misalnya dipegang AKP. Andai Abdullah Gul terpilih sebagai presiden, maka nyaris sempurna Turki dikuasai AKP.

Kasus Turki ini cukup menarik, apalagi kalau pembacaan atas kasus ini dikaitkan dengan Indonesia. Ada beberapa kesamaan antara Turki dengan Indonesia. Dari sisi populasi, Indonesia dan Turki sama-sama dihuni mayoritas muslim. Akan tetapi, baik Indonesia maupun Turki tidak mendasarkan pada “ideologi” Islam.

Betapa pun keduanya sama-sama tidak berideologi Islam, namun sebenarnya ada proses yang membedakan dalam pembentukan ideologi nasional. Dan hal inilah yang menurut hemat penulis menarik untuk diurai lebih jauh, sehingga bisa menjadi pembelajaran kita semua, utamanya dalam menyikapi keberadaan ideologi Pancasila yang dinilai sebagai bentuk final bagi bangsa Indonesia.

Ideologi Bottom Up dan Top Down

Kalau kita mendikotomi atas dasar mainstream varian relasi agama dan negara, sebenarnya Turki dan Indonesia dapat dikate- gorikan sebagai varian negara sekuler, yaitu negara yang mencoba memisahkan negara dan agama intoto, meski secara terang-terangan Indonesia tidak mau disebut sebagai negara sekuler, tapi sebagai negara Pancasila.

Pembenarannya, selain dalam konstitusi tidak disebutkan secara eksplisit bahwa Indonesia adalah negara sekuler, juga secara realitas agama menempati posisi sentral dalam kehidupan kebangsaan dan kenegaraan. Karena posisinya yang demikian, Eka Dharmaputra lebih suka menyebut sebagai relasi simbiosis mutualisme, di mana antara agama dan negara terjadi relasi timbal balik.3 Sementara Komaruddin Hidayat menyebutnya sebagai negara sekuler “malu- malu”.

Dipilihnya Pancasila sebagai ideologi nasional, diperoleh tidak dengan cara-cara diktatorial-represif, sebagaimana yang terjadi di

3 Sebagaimana dikutip dari Ma’mun Murod Al-Barbasy, Menyingkap Pemikiran Politik Gus Dur dan Amien Rais tentang Negara, Jakarta: Rajawali Press, 1999, hal. 63-64.

Turki. Tapi melalui permusyawaratan panjang yang melelahkan dan melibatkan berbagai komponen bangsa, baik di BPUPKI maupun sidang-sidang di Konstituante jelang Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

Bahkan dalam proses ini tidak jarang ditempuh melalui voting.

Tercatat voting misalnya pernah dilakukan sebanyak tiga kali, yaitu pada persidangan Konstituante antara tanggal 29 Mei— 2 Juni 1959. Voting terjadi ketika sidang membahas perlu tidaknya Piagam Jakarta dimasukkan dalam Muqadimah UUD 1945. Usulan partai Islam ini mendapat sokongan antara 199-210 suara. Sedang yang menolak antara 263-269 suara. Atas usul KH. Idham Cholid dan KH.

Saefuddin Zuhri, melalui Dekrit Presiden, Soekarno memasukan rumusan: “Kami berkeyakinan bahwa Piagam Jakarta 22 Juni 1945 menjiwai UUD 1945 dan merupakan sutu rangkaian kesatuan dengan konstitusi tersebut”.

Terlepas bahwa dalam hal penetapan Pancasila sebagai dasar negara sempat terjadi pasang surut, namun semua prosesnya berlangsung secara bottom up. Ketika Piagam Jakarta—yang dinilai Kasman Singodimedjo sebagai gentlemen agreement—masuk dalam Muqadimah UUD 17 Agustus 1945, kemudian dihapus sehari kemudian pada 18 Agustus 1945 sampai kemudian diperdebatkan kembali pada sidang-sidang Konstituante hingga Dekrit Presiden semuanya berlangsung melalui permusyawaratan yang elok di lingkup elite bangsa.

Hal inilah yang membedakan Indonesia dengan Turki. Meski Turki secara tegas menyebut sebagai negara sekuler, namun dalam hal penetapan ideologi termasuk perubahan sistem pemerintahan menjadi republik tidak dilakukan secara demokratis dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat, tapi prosesnya bersifat top down dengan pengawal utama Dewan Nasional dan militer.

Pada awalnya, sebagai imbalan atas perubahan sistem peme- rintahan, Islam ditetapkan sebagai agama negara. Tapi karena domi- nasi sayap sekuler, tahun 1928, artikel 2 Konstitusi tentang posisi Islam sebagai agama negara pun dihapus dan pada 1937 prinsip sekularisme dimasukkan ke dalam konstitusi. Dengan perubahan ini maka Konstitusi Turki Pasal 1 secara tegas menyatakan bahwa negara

Beda Turki dengan Indonesia

Turki adalah negara republik, nasionalis, kerakyatan, kenegaraan, sekularis dan revolusionis.

Sebelumnya, Kemal Attaturk telah menghapuskan institusi agama, seperti Biro Syaikh al-Islam, Kementerian Syari’at dan Mahkamah Syariat di tahun 1924. Pernikahan tidak lagi menurut syariat tetapi menurut hukum sipil. Sekolah-sekolah agama ditutup dan pendidikan agama ditiadakan di sekolah-sekolah.4

Konsekuensi Demokrasi

Meski Turki dan Indonesia sama-sama penganut ideologi sekuler—tentu dengan ciri pembedanya, tapi karena mekanisme pembentukannya yang berbeda, maka ketika muncul kecenderungan yang kuat dan bermaksud mengubah ideologi nasional, penyikap- annya pun semestinya berbeda.

Sebagai negara yang penentuan ideologinya menggunakan mekanisme yang demokratis, maka di Indonesia sepertinya tidak diperlukan lagi adanya ruang publik guna membicarakan kembali perubahan ideologi nasional. Selain Pancasila dinilai sebagai

“ideologi tengah” yang tepat bagi Indonesia yang heterogen dari sisi apa pun, juga karena agama tidak diposisikan secara peripheral.

Sebaliknya, agama justru menduduki posisi yang begitu sentral.

Sebagai bentuk kompensasinya, negara semestinya mengakomodir dan mengapresiasi keinginan-keinginan warga negaranya yang bermaksud menerapkan ajaran agamanya, selama tidak bertentangan dengan ideologi nasional dan dalam konteks terwujudnya kebaikan bersama (maslahat-i al-ammah, public good).

Sementara Turki sebaliknya. Meski dari sisi agama terbilang cukup homogen karena dianut mayoritas muslim, namun sebab penentuan ideologinya tidak ditempuh melalui mekanisme yang demokratis dengan melibatkan seluruh elemen bangsa, maka tidak tepat bila menyebut ideologi sekuler sebagai bentuk final.

Sebagai konsekuensinya, apalagi bila dikaitkan dengan demo- krasi, semestinya Turki perlu membuka kran bagi upaya-upaya

4 Lihat dalam Suyuthi J. Pulungan, Fiqh Siyasah : Fiqh Siyasah: Ajaran, Sejarah dan Pemikiran, Jakarta: Rajawali Press, 1995, hal. 180-182.

terhadap pembahasan kembali ideologi negara sampai betul-betul terbentuk ideologi nasional yang merupakan hasil kesepakatan bersama dari berbagai elemen bangsa. Sehingga ke depan krisis politik yang bersifat ideologis seperti yang terjadi saat ini tidak bakal terulang kembali di Turki. Semoga!

MASLAHAT DAN MAFSADAT

Dalam dokumen PDF repository.umj.ac.id (Halaman 70-76)