Sekadar Pengantar
Menarik membaca novel karya novelis dan feminis radikal asal Mesir, Nawal el-Saadawi, “Perempuan di Titik Nol”. Novel ini sempat mengundang reaksi cukup keras dari Pemerintah Mesir dan kalangan ulama. Bahkan golongan fundamentalis keagamaan baik Kristen maupun Islam menganggap novel ini dinilai telah menodai wilayah agama yang suci (sacred).
Dalam novel ini diceritakan seorang yang bernama Firdaus—
nama yang bersifat androgini. Firdaus merupakan anak tunggal dan perempuan dari keluarga miskin. Sebagai anak perempuan, kelahiran Firdaus tampak tidak dikehendaki oleh orang tuanya.
Menginjak remaja, pamannya berhasil memerawaninya. Ketika berumur 20 tahun, Firdaus dikawinkan dengan duda berusia 61 tahun. Pamannya “menjual” Firdaus dengan harga 100 pon sebagai mahar. Tidak tahan dengan perlakuan suaminya, Firdaus minggat dari rumahnya. Selanjutnya kehidupan Firdaus jatuh dari pelukan satu laki-laki ke pelukan laki-laki lainnya. Firdaus pun jatuh ke lembah prostitusi yang menjadikannya tidak mempunyai otoritas sama sekali atas dirinya. Sampai akhirnya muncul kesadaran untuk
“membebaskan” dirinya sebagai manusia. Bahkan Firdaus lebih bangga menyambut hukuman matinya—lantaran membunuh laki- laki yang “menidurinya”—ketimbang harus merendahkan diri dengan meminta grasi.
Cerita “Perempuan di Titik Nol” menggambarkan bagaimana nasib perempuan yang hidup dalam konstruk sosial yang pro pada
Islam dan Pemberdayaan Perempuan
patriachal. Dalam konstruk sosial yang demikian, perempuan menjadi tidak ber(di)harga(i) di mata laki-laki. Perempuan seakan menjadi warga negara kelas dua. Keberadaannya dihargai sebatas sebagai pemuas hawa nafsu. Tidak lebih dari itu. Sementara potensi- potensi sebagai manusia—lazimnya laki-laki—tidak atau bahkan dinafikan sama sekali. Konstruk sosial yang patriachal ini tercipta selain karena adat atau tradisi masa lampau, juga karena “reduksi tafsir” atas teks-teks keagamaan yang terkait dengan masalah pe- rempuan.
Secara normatif, baik yang terSurah melalui teks suci maupun realitas praksis-sosial masa Muhammad Saw. dan Khulafa-u al- Rasyiddin, Islam termasuk agama yang berhasil menempatkan perempuan pada posisi yang begitu terhormat.15 Namun dalam perkembangannya—lantaran reduksi tafsir—menjadikan posisi perempuan begitu ter(di)marjinalkan.
Perempuan Pra Islam
Ketidakberdayaan perempuan seakan telah menjadi monopoli sejarah. Sejarah peradaban manusia telah dikonstruk sedemikian rupa yang memungkinkan laki-laki tampil dominan dan menempatkan perempuan pada posisinya marjinal dan menjadi subordinat.
Berkaca pada sejarah peradaban masa lalu, perempuan “hanya”
sempat menempati posisi ter(di)hormat(i) pada masa Mesir Kuno, Mesopotamia, Elam, Phoenicia, dan Kreta16 yang ditandai dengan pembuatan beberapa peraturan yang memberikan perlindungan dan bahkan supremasi terhadap kaum perempuan.
15 Sejarah mencatat bahwa sebelum Islam hadir, praktis peradaban Arab para-Islam begitu memarjinalkan posisi perempuan. Gambaran nyata misalnya, di kalangan laki-laki ketika seorang istri melahirkan anak perempuan hal tersebut dinilainya sebagai sesuatu yang hina. Karena tidak mau terhina lantaran punya anak perempuan, maka ketika lahir anak perempuan seketika itu pula dibunuhkah anak tersebut. Karena perbuatan yang dianggap melampaui batas, sampai-sampai Allah mengabadikan peradaban jahiliyah mereka yang suka membunuh anak perempuan dalam al-Qur’an, yaitu pada QS. An-Nahl: 58-59.
16 Itu pun tidak selamanya peradaban Mesir Kuno, Mesopotamia, Elam, Phoenicia, dan Kreta menghargai perempuan. Penghargaan terhadap posisi perempuan sangat dipengaruhi dan bergantung pada figur penguasa yang berkuasa saat itu.
Namun seiring perubahan dan pertumbuhan masyarakat yang begitu kompleks, yang ditandai oleh munculnya persaingan antarkelompok, telah melahirkan dominasi laki-laki dan masyarakat atas dasar kelas—yang notabene dalam konteks saat itu—dikuasai oleh penguasa dan militer yang didominasi laki-laki. Konstruksi masyarakat pun berubah total menjadi patriarchal, dan kondisi ini berlangsung secara turun-temurun melampaui beberapa generasi yang tanpa sadar telah berubah peradaban lama yang mengapresiasi perempuan menjadi peradaban baru yang “anarchi” terhadap perempuan.
Peradaban baru ini tampil cukup dominan menguasai hampir semua peradaban yang ada saat itu, termasuk peradaban Arab pra- Islam. Di antara peradaban Arab pra-Islam yang merendahkan derajat perempuan misalnya perkawinan sesama saudara (incest) atau perkawinan dengan tukar menukar istri yang dalam bahasa arab disebut dengan nawaz al-badal. Ada juga perkawinan nawaz al- istibda, perkawinan di mana suami meminta istri bersetubuh dengan laki-laki lain agar bisa hamil. Selama istrinya belum hamil, maka suami tidak diperkenankan mendekat (baca: menyetubuhi) istrinya.
Dalam hal perceraian pun perempuan tidak mempunyai kekuatan apa-apa. Hak cerai sepenuhnya berada di tangan laki-laki. Sekalipun istri dicerai berkali-kali, suami dapat rujuk kembali kalau dia mau.17
Meski sedikit berbeda, praktik hampir serupa terjadi dalam tradisi Yunani Kuno—setidaknya tergambar dari pemikiran Plato.
Yunani Kuno yang konstruk sosialnya dibangun atas dasar kelas, di mana kelas penguasa (filosof) tidak diperkenankan mempunyai hak milik, termasuk di dalamnya hak milik atas istri dan anak, menempatkan posisi istri sebagai milik bersama yang setiap saat bisa jatuh dari pelukan satu filosof ke pelukan filosof lainnya. Logika Plato, dengan hidup tanpa istri dan anak, maka para filosof bisa secara serius mengurus negara tanpa harus dibebani oleh urusan- urusan private seperti mengurus keluarga. Sementara pemeliharaan
17 Lihat Maria Ulfah Anshor, “Perempuan dalam Islam”, dalam Jurnal Perempuan, Nomor 20 Tahun 2001, hal. 27-28.
Islam dan Pemberdayaan Perempuan
atas perempuan (istri) dan anak-anak menjadi tanggung jawab negara.
Perlakuan kejam lainnya dari tradisi Arab pra Islam berupa pembunuhan terhadap bayi perempuan. Al-Qur’an bahkan sampai mengabadikan perlakuan kejam ini dalam QS. A-Nahl: 58-59.
Tradisi ini merupakan kelanjutan dari tradisi yang ada sejak sebelum Kristen datang dan diikuti oleh orang Yahudi dan Romawi. Di kalangan Romawi membuang bayi perempuan dibenarkan bahkan secara eksplisit dikodifikasikan dalam hukum.
Pemberdayaan Perempuan dalam Teks
Islam hadir dalam masyarakat Arab yang lekat dengan budaya patriarchal. Meski kehadiran Islam terbilang cukup revolusioner dalam melakukan pembebasan manusia dari keterkungkungan tradisi jahiliyah, namun harus diakui pula bahwa Islam belum sepenuhnya mampu melakukan pembebasan secara menyeluruh. Salah satunya dalam hal pemberdayaan perempuan. Di samping banyak sandaran ayat al-Qur’an dan Hadis yang revolusioner melakukan pembelaan atas hak-hak perempuan, namun tidak sedikit pula ayat-ayat al- Qur’an dan Hadis yang seakan bersifat kontra-revolusi. Sehingga terkesan kontradiktif. Meski begitu, kesan kontradiktif tersebut mesti difahami dalam bingkai transisi perubahan masyarakat.
Islam hadir dengan membawa misi rahmatan lil ‘alamin.
Sehingga lazim bila kehadirannya juga harus mencerminkan misi tersebut. Untuk suksesnya misi tersebut, maka Islam harus adaptif, ramah dan moderat. Sebab bila kehadiran Islam secara totalitas vis a vis dengan tradisi Arab, maka resistensinya akan lebih tinggi ketimbang yang dihadapi Muhammad Saw. saat itu.
Sifat Islam yang seperti itu misalnya tercermin dalam ayat-ayat al-Qur’an yang terkait dengan proses pengharaman minuman keras (hamr). Mula-mula al-Qur’an menyatakan bahwa dalam diri hamr ada sedikit maslahah, tapi lebih banyak mafsadah. Ayat berikutnya, al-Qur’an menegaskan bahwa orang yang dalam posisi mabok karena minuman keras tidak diperkenankan salat. Baru yang terakhir al-
Qur’an menegaskan bahwa hamr adalah najis dan merupakan perbuatan syaitan (rijsum min ‘amalissyaithan).
Dalam hal yang terkait dengan pemberdayaan perempuan misalnya secara tekstual terdapat ayat-ayat atau Hadis yang terkesan merendahkan perempuan, tapi banyak juga ayat-ayat ataupun Hadis yang sangat mengapresiasi perempuan. Dalam al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang “seakan” memosisikan subordinat perempuan.
Misalnya, “kaum laki-laki adalah pemimpin atas kaum perempuan, disebabkan Tuhan telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lainnya dan karena mereka telah menafkahkan sebagian harta mereka” (QS An-Nisa: 34). Sementara terkait dengan domestifikasi peran perempuan, ada Hadis yang menegaskan, “Dan seorang istri adalah penanggung jawab di dalam rumah suaminya dan dia akan dimintai pertanggungjawabannya atas tugas dan kewajiban itu” (HR.
Bukhari dan Muslim).
Tapi dalam al-Qur’an maupun Hadis juga terdapat teks-teks yang mengapresiasi perempuan. Misalnya, “Aku telah menjumpai seorang perempuan (baca: Ratu Balqis) yang memerintah mereka dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mereka memiliki singgasana yang besar (QS. al-Naml: 23).
Beberapa ayat lainnya seperti QS. al-Nisa: 1; al-A’raf: 189; al- Zumar: 6; al-Fatir: 11, al-Mukmin: 67; QS. Al-Hujurat: 13 dan banyak lagi menjelaskan bagaimana al-Qur’an mendudukkan tentang tidak adanya perbedaan perempuan dengan laki-laki dalam hal penciptaan. Secara substantif, ayat-ayat tersebut begitu egaliter mendudukan sama perempuan dan laki-laki. Karenanya tidak perlu ada superioritas atau subordinasi antara laki-laki dan perempuan.
Bahkan dalam hal mencari ilmu, Islam juga menegaskan, “mencari ilmu hukumnya wajib bagi muslim laki-laki dan perempuan”.
Dalam soal hak waris, Islam—sebagaimana terSurah dalam QS. al-Nisa: 11—menegaskan bahwa bagian perempuan adalah setengah dari bagian laki-laki. Sepintas, secara tekstual ketentuan tersebut seakan tidak adil. Namun bila melihat konteks historis saat ayat tersebut diturunkan, di mana keberadaan perempuan dalam hal waris tidak mempunyai hak sama sekali, maka perbandingan
Islam dan Pemberdayaan Perempuan
hak waris menjadi 2 banding 1 merupakan perubahan yang sangat revolusioner untuk konteks zamannya.
Begitu juga dalam hal poligami—sebagaimana beberapa waktu lalu sempat menjadi headline hampir semua media massa, Islam hadir dengan melakukan pembatasan jumlah istri dengan hanya maksimal empat istri. Hal ini ditegaskan dalam QS. al-Nisa: 34 dan juga perintah Nabi kepada Ghailan bin Ummayah Attsaqafi untuk mengurangi jumlah istrinya dari 10 menjadi empat: “Nabi berkata kepada Ghailan bin Ummayah Attsaqafi yang masuk Islam, padahal ia mempunyai 10 istri. Beliau bersabda: pilihlah empat orang di antara mereka dan ceraikanlah yang lainnya”. Sekali lagi, dalam konteks historis saat itu, pembatasan hanya menjadi empat istri merupakan perubahan yang sangat radikal ketimbang masa sebelumnya di mana laki-laki bisa mempunyai istri dengan jumlah berapa pun yang mereka inginkan.
Dalam soal pernikahan, Islam juga mensyariatkan model pernikahan yang berbeda sama sekali dengan tradisi jahiliyyah Arab sebelumnya yang begitu merendahkan posisi perempuan. Dalam hal perceraian Islam juga memberikan hak kepada istri untuk menuntut cerai—disebut dengan khulu’—kepada suaminya karena sebab-sebab tertentu, seperti tidak diberi nafkah dalam kurun waktu tertentu, diperlakukan tidak baik oleh suaminya. Bahkan perempuan boleh menolak dinikahkan bila yang bersangkutan masih belum cukup umur (kanak-kanak).
Selain yang bersifat tekstual, tarikh Islam juga mencatat beberapa peristiwa yang mendeskripsikan keberdayaan dan peran strategis perempuan dalam konteks perjuangan Islam. Siti Khadijah binti Khuwailid misalnya selain merupakan orang pertama dari kalangan perempuan yang masuk Islam, ia juga mensupport penuh Muhammad Saw. dalam menjalankan risalah nubuwwah. Bahkan Khadijah merupakan orang yang berhasil meyakinkan ketika Muhammad Saw. masih ragu dan diselimuti rasa takut selepas menerima wahyu pertama. Ibnu Hisyam dalam al-Shirah al- Nabawiyyah mengutib pernyataan Khadijah: “tenanglah wahai anak
pamanku, dan tabahlah. Demi zat yang menguasai Khadijah, aku yakin kamu terpilih menjadi Nabi bagi umat ini”.
Peristiwa hijrah pertama umat Islam ke Habasyah (sekarang Ethiopia) untuk menemui Raja Najasi—yang Nashrani tapi sikap adilnya dirasakan oleh semua rakyatnya termasuk umat Islam yang hijrah—untuk meminta suaka politik juga diikuti oleh perempuan- perempuan seperti ummu Habibah, Ummu Abdillah binti Abi Hatsmah, Asma binti Umais.
Sejarah juga mencatat bagaimana kepiawaian A’isyah memimpin pasukan dalam Perang Jamal melawan Khalifah Ali bin Abi Thalib—
yang notabene menantu tirinya—yang dinilai lambat dalam mencari tersangka pembunuh Utsman bin Affan. Meski akhirnya menuai kekalahan, tapi sejarah mencatat bahwa istri Muhammad Saw. ini pernah tampil dalam ruang publik dengan menjadi panglima perang.
Untuk menghargai posisi perempuan misalnya, Muhammad Saw. juga senantiasa memanggil setiap perempuan tidak dengan sebutan suaminya atau menambahkan nama suaminya di belakang nama si perempuan sebagaimana terjadi saat ini dan seakan sudah menjadi hal yang lazim. Muhammad misalnya selalu memanggil Fatimah atau Fatimah binti Muhammad, dan tidak memanggil misalnya Fatimah Ali bin Thalib atau Ibu Ali bin Abi Thalib.18
Kenyataan ini menunjukkan bahwa, baik secara tekstual maupun realitas sejarah saat itu Islam telah berhasil mendudukan posisi perempuan pada posisi yang begitu terhormat. Tentu kenyataan ini tidak berarti menafikan bahwa dalam perjalanan sejarah selanjutnya melalui beberapa penguasa muslim—yang ditopang pembenaran tafsir ulama yang berpola pikir patriarchal—telah mengulang sejarah jahiliyyah yang mendudukkan perempuan pada posisi peripheral, terlebih dalam hal keterlibatan perempuan dalam ranah publik.
18 Tradisi “latah” ini misalnya seakan sudah menjadi hal yang lazim di masyarakat kita, utamanya di tingkatan pejabat negara. Seorang istri pejabat misalnya tidak pernah dipanggil namanya, tapi kerap dan bahkan selalu dipanggil dengan sebutan suaminya atau dipanggil sebagian namanya yang dirangkai dengan nama suaminya. Misalnya Ibu Tien Soeharto, Ibu Ani Yudhoyono.
Islam dan Pemberdayaan Perempuan
Reduksi Tafsir
Nah, disayangkan ayat seperti terdapat dalam QS An-Nisa: 34 maupun Hadis lainnya yang cenderung berpotensi untuk ditafsirkan guna merendahkan kedudukan perempuan yang kerap dijadikan sebagai pembenar para mufasir untuk melakukan reduksi tafsir. Kata qawwamuna misalnya yang oleh Quraish Shihab dalam Tafsir al- Mishbah ditafsiri sebagai “pengayom” oleh para mufasir yang bias gender ditafsiri sebagai “pemimpin”.19
Dengan ayat ataupun Hadis ini pula telah lahir berbagai produk kitab fiqh maupun kitab-kitab lainnya yang menempatkan kedudukan perempuan pada posisi peripheral. Kitab Uqudulijain karangan Syekh Nawawi al-Bantani misalnya—yang di pesantren seakan menjadi “kitab wajib”—di dalamnya berisikan materi yang dalam beberapa hal begitu “merendahkan” perempuan. Dalam kitab ini misalnya dicontohkan, untuk mengukur kesetiaan seorang istri terhadap suami, maka andaikan suami mempunyai bisul kemudian istri menyedot nanah yang terdapat dalam bisulnya dengan menggunakan mulutnya belum cukup dianggap sebagai bentuk ketaatan istri pada suaminya. Luar biasa bukan?
Bahkan QS al-Nisa: 34 yang diperkuat dengan Hadis yang berbunyi, “Pastilah gagal suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada seorang perempuan”, seakan menjadi pijakan para mufasir yang berpola pikir patriachal untuk membuat tafsiran pelarangan perempuan tampil sebagai pemimpin.
Dengan landasan dua teks normatif ini, al-Zamakhsyari misalnya menyebut kalau laki-laki itu lebih unggul dari perempuan.
Keunggulannya setidaknya meliputi akal (al-aql), ketegasan (al- hazm), semangat (al-azm), keperkasaan (al-quwwah) dan keberanian atau ketangkasan (al-farusiyyah wa al-ramy).20 Begitu juga al-Razi menyebut keunggulan laki-laki atas perempuan setidaknya meliputi hal keilmuan (al-ilm) dan kemampuan (al-qudrah).21
19 Lihat Tafsir Al-Mishbah Surah An-Nisa Ayat 34.
20 Pandamgan al-Zamakhsyari sebagaimana dikutip dalam KH. Husein Muhammad, Islam Agama Ramah Perempuan: Pembelaan Kiai Pesantren, Yogyakarta: LKiS— Fahmina Institute, 2004, hal. 315.
21 Ibid, hal. 315.
Padahal tidak sedikit juga para mufasir yang mencoba menafsiri dua teks normatif di atas secara kontekstual dan tentu dengan melihat asbab-u al-nuzul atau latar sejarah yang melingkupinya.
Sebut saja misalnya Syaikh Muhammad al-Ghazali. Dalam bukunya al-Sunnah al-Nabawiyyah: Baina al-Fiqh wa ahl al-Hadis, mantan aktivis Ikhwanul Muslimin ini misalnya menolak kalau persyaratan menjadi pemimpin ditentukan oleh jenis kelamin. Yang terpenting menurutnya adalah yang paling memiliki kemampuan di antara umat. Al-Ghazali kemudian mencontohkan pengangkatan asy- Syafa (perempuan) sebagai pengawas keuangan di pasar Kota Madinah oleh Khalifah Umar bin Khattab. Kekuasaan asy-Syafa meliputi semua aktifitas di pasar. Dia menghalalkan apa yang halal dan mengharamkan apa yang haram, menegakkan keadilan dan mencegah pelanggaran.22
Sementara terkait dengan Hadis di atas Ibnu Hazm ber- pendapat bahwa Hadis tersebut hanya berkenaan dengan jabatan kepemimpinan tertinggi negara. Sedangkan yang di bawahnya tidak ada kaitannya dengan Hadis tersebut.
Perlu Reinterpretasi Teks
Menyikapi realitas tafsir agama yang dominan cenderung memperdayai perempuan, maka satu hal yang mesti dan mendesak dilakukan adalah melakukan reinterpretasi atas teks yang berkenaan dengan perempuan ke arah yang lebih kontekstual. Teks-teks normatif agama yang terdapat dalam al-Qur’an maupun Hadis mesti ditafsiri secara kontekstual sesuai dengan zamannya.
Hal ini penting dilakukan, selain untuk mempertegas misi Islam: terwujudnya kebaikan bersama (maslahat-i al-ammah, public good), juga untuk mewujudkan bahwa Islam juga merupakan agama yang sangat mengapresiasi perempuan. Dengan penegasan ini, maka Islam bias disebutnya sebagai sintesis atas agama ataupun peradaban
22 Lihat dalam Syaikh Muhammad al-Ghazali. Dalam bukunya al-Sunnah al-Nabawiyyah:
Baina al-Fiqh wa ahl al-Hadits, (Terj)., Bandung, Mizan, hal. 60-74.
Islam dan Pemberdayaan Perempuan
lainnya yang mainstream tidak atau kurang memosisikan perempuan secara terhormat.
Bukan hanya itu, hasil reinterpretasi juga perlu mendapat
“kawalan” dan dikampanyekan kepada masyarakat, termasuk kampanye di kalangan komunitas perempuan. Sebab “perlawanan”
terhadap upaya mendudukan perempuan sebagai pemimpin (negara)—termasuk dukungan terhadap poligami—tidak saja datang dari kaum laki-laki tapi juga dari kalangan perempuan.
Dengan dua langkah ini, ke depan—tanpa harus bersikap latah mengikuti Barat yang tengah giat mengampanyekan “program gender”, tentu dengan kerangka dan pola pikir yang sekuler—gugatan masyarakat terhadap aktivitas perempuan pada ranah publik akan berkurang. Semoga.