• Tidak ada hasil yang ditemukan

URGENSI RADIKALISASI PANCASILA

Dalam dokumen PDF repository.umj.ac.id (Halaman 104-109)

URGENSI RADIKALISASI

hukum, das sollen, Pancasila juga dipahami dan ditempatkan sebagai segala sumber hukum, dan karenanya produk hukum tidak boleh bertentangan dengan Pancasila.

Sementara das sein, Pancasila di(ter)campakkan begitu saja.

Sekadar alat untuk “menakut-nakuti” masyarakat, sebagaimana terjadi selama kurun waktu hampir 40 tahun (selepas Dekrit Presiden 1959 sampai lengsernya Orde Baru 1998). Pancasila dikenal dan hanya diperingati secara seremonial belaka setiap tanggal 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila. Sementara miskin sekali upaya-upaya untuk menghadirkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam konteks kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.

Pancasila selalu “dikampanyekan” sebagai ideologi yang tangguh yang berhasil mengalahkan komunisme, sehingga dirasa penting adanya Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap tanggal 1 Oktober.

Pancasila sebagai dasar negara dalam arti bahwa secara substantif hampir tidak ada kaitan lagi antara sistem nilai yang terkandung dalam Pancasila dengan norma-norma kehidupan bernegara, berbangsa, dan bernegara. Tidak sedikit kebijakan nasional, baik yang dituangkan dalam undang-undang maupun regulasi lainnya terasa begitu dipengaruhi oleh pertimbangan-pertimbangan pragmatis yang jauh dari filosofis-ideologis (Pancasila), berjangka pendek, tanpa idealisme, dan tidak jarang juga tanpa moralitas.

Pancasila telah benar-benar hanya menjadi ideologi mengambang (floating ideology) yang kerap diplesetkan sebagai “ideologi yang bukan-bukan”, yaitu ideologi yang bukan kapitalistik dan bukan komunistik, juga bukan ideologi islamik.

Jika mau jujur, realitas praksis saat ini, maka kita akan mendapati bahwa kebanyakan anak bangsa saat ini yang tidak lagi mempunyai kebanggaan terhadap Pancasila. Bahkan tidak jarang pada diri sebagian anak bangsa ini ada yang mencibir Pancasila. Mengapa hal ini bisa terjadi? Keabstrakan Pancasila yang menyebabkan itu terjadi. Sebagai ideologi, Pancasila nyatanya tidak mampu menjadi

“jalan” (al-shirat) yang mampu mengantarkan masyarakat Indonesia ke arah yang lebih baik.

Urgensi Radikalisasi Pancasila

Orde Baru telah berhasil, tidak saja membuat bangsa ini a-historis, tapi juga a-ideologis, yang berdampak hingga saat ini.

Misalnya secara simbolik, ada beberapa partai yang ada saat ini seakan emoh mengusung secara tegas Pancasila sebagai ideologi partai.

Tentu konteks simbolik ini jangan dipahami seperti pada masa Orde Baru yang menjadikan Pancasila sebagai asas tunggal yang bersifat memaksa dan represif, di mana semua partai politik dan bahkan keseluruhan ormas diharuskan mencantumkan Pancasila sebagai asas bagi semua partai politik atau ormas. Yang diharapkan tentu pencantuman Pancasila sebagai ideologi dengan penuh kesadaran, sebagai konsekuensi mereka hidup di Indonesia yang berideologikan Pancasila

Sementara secara praksis juga terjadi “persekongkolan” di antara para elit politik yang bukan didasarkan pada “persekongkolan kebangsaan”, yang berbasis pada ideologi (Pancasila) dan bertujuan untuk mewujudkan kemaslahatan bersama (maslahati al-ammah), melainkan “persekongkolan kepentingan” yang bersifat pragmatis dan sesaat untuk kepentingan segelintir atau sekelompok orang, dengan mengabaikan kepentingan yang lebih besar, yaitu kepentingan nasional (national interest).

Radikalisasi Pancasila

Menilik beragam problem kebangsaan yang terjadi saat ini, mendesak dan menjadi keharusan untuk melakukan radikalisasi Pancasila. Radikalisasi dalam konteks ini tentu dimengerti sebagai bentuk transformasi dari sikap pasif, apatis atau masa bodoh kepada sikap atau aktivisme yang lebih radikal, revolusioner atau militan dalam memosisikan, memahami, dan mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila. Das sollen, sebagai ideologi Pancasila begitu apik, namun pada tataran das sein Pancasila tak mampu diterjemahkan dengan baik, tidak mampu memberikan efek atau dampak positif yang berarti bagi kemajuan bangsa. Pancasila hanya Sekadar kumpulan sila-sila yang nyaris tak bermakna apa pun. Pancasila hanya fasih ketika dipidatokan oleh pejabat-pejabat negara dari pusat sampai

daerah, namun gagap pada tataran aplikasi (action). Penerapannya penuh manipulatif, bergantung pada kepentingan sesaat yang melingkupinya.

Realitasnya saat ini tengah terjadi kegersangan dan pendangkalan moral (akhlak), menipisnya rasa nasionalisme dan rasa memiliki Indonesia di kalangan anak bangsa. Selain tentu minimnya pendidikan agama, tidak adanya lagi Pendidikan Moral Pancasila (PMP) di sekolah-sekolah juga menjadi salah satu penyebab terjadinya kegersangan moral dan menipisnya rasa nasionalisme.

Sebagian besar masyarakat belum secara menyeluruh memahami makna kebhinnekaan Indonesia. Kerap terjadinya konflik sektarian menunjukkan belum selesainya pemaknaan atas kebhinnekaan bangsa kita. Di sinilah letak pentingnya untuk melakukan radikalisasi Pancasila.

Dalam konteks radikalisasi Pancasila, tentu tidaklah penting memperdebatkan soal posisi Pancasila, apakah sebagai fondasi atau pilar. Yang lebih penting dari semuanya adalah bagaimana kita mampu menghadirkan nilai-nilai Pancasila hadir dalam realitas kehidupan di tengah-tengah masyarakat. Nilai-nilai Pancasila hadir dalam kehidupan bernegara. Pancasila menjadi “kekuatan moral”

bagi elit-elit politik negeri ini dalam membuat kebijakan-kebijakan politik.

Secara das sollen maupun das sein Pancasila harus bisa berjalan ber iringan. Pancasila sebagai ideologi negara harus diletakkan secara benar dalam praktik bernegara. Setiap kebijakan negara harus sungguh-sungguh mencerminkan dan mendasarkan diri pada nilai-nilai Pancasila. Sebagai ideologi, Pancasila jangan lagi dibawa ke dalam bentuk yang abstrak, sehingga hanya akan ditafsir beragam tanpa bangunan fondasi tafsir yang memadahi. Pancasila mesti bisa menyentuh kehidupan sehari-hari dan sungguh-sung- guh “membumi” di dalam sanubari bangsa ini. Pancasila harus benar-benar dihadirkan pada ranah publik dengan wajah yang

“membebaskan” dan berpihak pada kepentingan rakyat banyak, bukan sebaliknya, berpihak bagi segelintir elit bangsa ini.

Urgensi Radikalisasi Pancasila

Upaya melakukan radikalisasi Pancasila tidak akan pernah berhasil tanpa adanya keteladanan dari elite dan pimpinan negara ini, keteladanan dari tokoh masyarakat dan tokoh agama. Apa pun bentuk dasar negara Indonesia, jika tidak diamalkan, maka tak akan berarti apa pun. Di sinilah dibutuhkan adanya keteladanan politik.

Semoga!

Dalam dokumen PDF repository.umj.ac.id (Halaman 104-109)