Konflik masyarakat merupakan proses sosial diasosiatif yang dapat menyebabkan perpecahan dalam masyarakat karena ketidakselarasan dan ketidakseimbangan dalam suatu hubungan masyarakat. Menurut Narjdana konflik adalah akibat situasi, keinginan atau kehendak yang berbeda atau berlawanan antara satu dengan yang lain, sehingga salah satu atau keduanya saling terganggu. Berdasarkan tingkatannya konflik dapat dibagi menjadi konflik horizontal dan vertikal.353
1. Konflik Horizontal
Konflik horizontal adalah konflik yang terjadi diantara kelompok- kelompok sosial yang sifatnya sederajat. Konflik sosial horizontal dapat berupa konflik antar suku, antar ras, agama, maupun konflik antar golongan; (1) Konflik antar suku, konflik antar suku pada umumnya disebabkan oleh primordialisme yang berkembang menjadi etnosentrisme. Contoh: konflik antara suku Dayak dan suku Madura yang terjadi di Sampit, konflik antara suku-suku kecil di Papua; (2) Konflik antar ras, konflik antar ras pada umumnya disebabkan oleh primordialisme yang berkembang menjadi stereotipe. Contoh: sistem politik Apartheid di Afrika, segregasi di Amerika; (3) Konflik agama, konflik maslaah agama pada umumnya disebabkan oleh primordialisme yang berkembang menjadi fanatisme. Konflik agama dapat berupa konflik intern umat beragama misalnya konflik antar golongan pemeluk
352Supardan, D., (2004) Pembelajaran Sejarah Berbasis Pendekatan Multikultural dan Perspektif Sejarah Lokal, Nasional, Global untuk Integrasi Bangsa (Studi Kuasi Eksperimental terhadap Siswa Sekolah Menengah Umum di Kota Bandung). Disertasi PPS UPI. Baca Juga:
Supardan, Manusia, Kekerasan, Multikultural dan Transformasi Pendidikan, (Bandung: Rizqi Press, 2015).
353Yaqin, M. Ainul. Pendidikan Multikultural, Cross-Cultural Understanding untuk Demokrasi dan Keadilan. (Yogyakarta: Pilar Media, 2005).
176
Islam murni dengan golongan Ahmadiyah, maupun konflik antar umat beragama (ekstern) misalnya konflik masyarakat Ambon pemeluk Islam dengan masyarakat Ambon pemeluk Kristen; (4) Konflik antar golongan, konflik antar golongan pada umumnya disebabkan oleh semangat in group yang kuat sehingga dengan kelompok out group menimbulkan antipati.
Contoh: konflik antar pendukung partai Demokrat dengan simpatisan PDIP.
2. Konflik Vertikal
Konflik yang terjadi diantara lapisan-lapisan di dalam masyarakat.
Contoh konflik vertikal: (1) konflik antar kelas atas dengan kelas bawah, konflik antar kelas atas dengan kelas bawah dapat berupa konflik kolektif dan individual. Konflik kolektif misalnya konflik antara buruh dengan pimpinan perusahaan untuk menuntut kenaikan gaji. Konflik individual misalnya konflik antara pembantu dengan majikan yang berakibat pada kekerasan; (2) konflik antara pemerintah pusat dengan daerah, misalnya pemberontakan dan gerakan seporadis seperti OPM (Organisasi Papua Merdeka) dan GAM (Gerakan Aceh Merdeka); (3) konflik antara orang tua dan anak, konflik antara orang tua dan anak menimbulkan hambatan dalam sosialisasi nilai dan norma dan terkadang menimbulkan kenakalan remaja.354
Faktor penyebab munculnya konflik multikultural sebagai berikut; (1) faktor geografis; (2) kondisi iklim dan cuaca; (3) pengaruh budaya asing; (4) keanekaragaman suku bangsa; dan (5) keanekaragaman agama.355
1. Faktor geografis
Kondisi geografis ini mempengaruhi fenomena alam yang sering terjadi dalam wilayah tersebut. Baik secara langsung maupun tidak langsung, fenomena alam mempengaruhi kehidupan sosial dalam suatu lingkungan masyarakat. Perbedaan kondisi geografis ini menimbulkan corak hidup yang beranekaragam dalam masyarakat. Contohnya Indonesia sebagai negara
354Yaqin, M. Ainul. Pendidikan Multikultural, Cross-Cultural Understanding untuk Demokrasi dan Keadilan. (Yogyakarta: Pilar Media, 2005).
355Supardan, Manusia, Kekerasan, Multikultural dan Transformasi Pendidikan, (Bandung: Rizqi Press, 2015).
177
kepulauan memiliki banyak daerah gunung dan daerah laut, tentunya corak hidup masyarakat di daerah gunung berbeda dengan mereka yang hidup di daerah laut atau pesisir pantai.
2. Kondisi iklim dan cuaca
Kondisi geografis, kondisi iklim dan cuaca juga termasuk fenomena alam yang dipengaruhi faktor geografis dari suatu wilayah. Perbedaan iklim dan cuaca mempengaruhi pola perilaku manusia dalam menyesuaikan diri dengan iklim tersebut. Contohnya masyarakat yang tinggal di daerah yang lebih dingin menggunakan pakaian yang lebih tebal, sedangkan yang tinggal di daerah panas mengenakan pakaian yang lebih tipis.
3. Budaya asing
Penyebaran budaya antar masyarakat dari seluruh dunia ikut mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat tersebut, ditambah lagi dengan perkembangan teknologi yang pesat saat ini, maka media penyebaran budaya menjadi lebih luas dan lebih mudah dilakukan. Masuknya budaya asing dalam suatu lingkungan masyarakat, memunculkan kebiasaan baru akibat benturan budaya asing dengan budaya lokal, oleh karena itu pengaruh budaya asing merupakan salah satu pemicu munculnya masyarakat multikultural.
4. Keanekaragaman suku bangsa
Suku bangsa atau etnis adalah kelompok manusia yang anggotanya mendefinisikan diri mereka berdasarkan garis keturunan dan ciri ciri fisik yang dianggap serupa. Identitas suku ditandai dengan pengakuan dari orang lain terhadap ciri khas suatu kelompok tersebut. Contoh yang paling mudah kita ambil adalah Indonesia sebagai negara denagn suku bangsa yang beranekaragam, ada suku Bali, Batak, Aceh dan masih banyak lagi. Semua suku tersebut disatukan dalam sebuah negara sehingga membentuk kehidupan masyarkat multikultural dalam satu kesatuan yaitu NKRI.
5. Keanekaragaman agama
Agama adalah sebuah kepercayaan dan pandangan dunia yang menghubungkan manusia dengan tatanan/perintah dalam kehidupan. Agama memiliki simbol dan sejarah suci yang dimaksudkan untuk menjelaskan asal
178
usul dan makna kehidupan. Agama memiliki ikatan yang kuat dengan seseorang karena setiap agama memiliki aturan, kitab suci, dan tempat tempat suci yang mempengaruhi kehidupan penganutnya. Ada beberapa jenis agama yang ada di dunia. Penganut agama yang berbeda dalam suatu wilayah menciptakan lingkungan masyarakat multikultural. Oleh karena itu, agama merupakan salah satu faktor yang dapat memicu timbulnya masyarakat multikultural.356
6. Keanekaragaman Ras
Ras adalah suatu sistem klasifikasi yang digunakan untuk mengelompokkan manusia dalam suatu kelompok besar berdasarkan ciri fisik, asal usul geografis, tampang, dan kesukuannya. Paradigma ras sering digunakan dalam berbagai disiplin ilmu lebih menekan pada sifat biologis atau konstruk sosial seseorang. Paran antropolog dan ilmuan evolusi mengidentifikasikan istilah ras untuk membahas perbedaan genetika (biologis), sedangkan sejarawan dan ilmuwan sosial mendefinisikan ras sebagai kategori kebudayaan atau konstruksi sosial, suatu teknik tertentu orang berbicara tentang diri mereka dan tentang orang lain. Perbedaan ras dapat mejadi faktor pemicu timbulnya masyarakat multikultural.
Bentuk masyarakat multikultural terbagi dua yaitu; (1) Berdasarkan kekuatannya seperti masyarakat dengan kompetisi seimbang, masyarakat dengan mayoritas dominan (kelompok mayoritas yang dominan), minoritas yang dominan, fragmentasi (masyarakat yang terdiri dari banyak kelompok kecil dan tidak ada yang mendominasi); (2) Berdasarkan kecenderungan perkembangan dan praktik multikulturalismenya; (a) multikulturalisme isolasionis. Maksudnya kelompok masyarakat multikultural yang menjalankan kehidupannya secara otonom dengan interaksi antar kelompok yang minimal satu dengan lain; (b) multikulturalisme akomodatif. Maksudnya masyarakat yang memiliki budaya dominan yang membuat penyesuian tertentu bagi kaum minoritas. Masyarakat multikultural ini biasanya memberikan kebebasan bagi
356Parekh, Bikhu. Rethinking Multiculturalism: Keberagaman Budaya dan Teori Politik.
(Yogyakarta: Kanisius, 2008).
179
kaum minoritas untuk mempertahankan kebudayaan mereka; (c) multikultural otonomis. Maksudnya masyarakat multikultural yang hidup bersama berusaha menciptakan kesetaraan sebagai budaya mereka. Kelompok dominan yang berusaha menciptakan tingkatan tingkatan dalam kehidupan bermasyarakat ditentang dalam sistem ini; (d) multikulturalisme kritikal/interaktif. Maksudnya kelompok masyarakat multikultural yang tidak terlalu fokus dengan kehidupan kultural otonom, melainkan lebih ingin menciptakan budaya kolektif yang mencerminkan dan menegaskan perspektif masing-masing kelompok masyarakat; (e) multikulturalisme kosmopolitan. Maksudnya jenis sistem yang berusaha menghilangkan batas-batas budaya dalam kehidupan mereka, sehingga nantinya tercipta sebuah masyarakat dimana setiap indvidu tidak lagi terikat kepada budaya tertentu.357