Untuk memperkokoh pluralisme dan menentang adanya rasisme, diskriminasi gender dan bentuk lain dari intoleransi dan dominasi sosial, maka implementasi kebudayaan sebagai keberadaan pendidikan multikultural dituntut berpegang pada prinsip-prinsip; menawarkan beragam kurikulum yang merepresentasikan pandangan dan perspektif banyak orang, kurikulum dicapai sesuai penekanan analisis komparatif dengan sudut pandang
48Suparlan, Parsudi. Ibid., 1994
49A. Malik Fajar, Reorientasi Pendidikan Islam, (Jakarta: Fajar Dunia, 1999).
50Rahman, Abdul. Pengaruh Karakteristik Individu, Motivasi dan Budaya Kerja terhadap Kinerja Pegawai pada Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Donggala. e-Jurnal Katalogis, Volume I Nomor 2, April 2013, h. 77-86
24
kebudayaan yang beragam, dan harus mendukung prinsip pokok dalam memberantas pandangan klise tentang ras, budaya dan agama.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Suradi, Pendidikan Islam Multikultural, Bengkulu: Samudra Biru, 2018.
Asy’arie, Musa, Pendidikan Multikultural dan Konflik Bangsa, 2004.
Banks, J. A. and Cherry A. Banks. (ed), Multicultural Education: Issues and Perspective. Massachusetts: Allyn and Bacon, 1989.
Baidhawy, Zakiyuddin, Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural, Jakarta:
Erlangga, 2005
Choirul Mahfud, Pendidikan Multicultural, Yogyakarta: Pustaka pelajar, 2009 H.A.R. Tilaar, Kekuasaan dan Pendidikan, Suatu Tinjauan dari Perspektif
Kultural, Jakarta: Indonesia Tera, 2003.
Hasyim, H. A. Dardi, Yudi Hartono, Pendidikan Multikultural di Sekolah, Surakarta: UPT Penerbitan dan Percetakan UNS.
H. A. R. Tilaar, Multikulturalisme, Tantangan-tantangan Global Masa Depan dalam Transformasi Pendidikan Nasional, Jakarta: Grasindo, 2004.
H. A. R. Tilaar, Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam Era Globalisasi Visi, Misi dan Program Aksi Pendidikan dan Pelatihan Menuju 2020, Jakarta: Grasindo, 1997.
H. A. R. Tilaar, Kekuasaan dan Pendidikan, Suatu Tunjauan dari Persfektif Study Kultural, Jakarta: Indonesia Tera, 2003.
Imron, Mashadi, Pendidikan Agama Islam dalam Persepektif Multikulturalisme. Jakarta; Balai Litbang Agama, 2009.
James A Banks, “Multicultural Education: Historical Development, Dimentions and Practrice” In Review of Research in Education, vol. 19, edited by L.
Darling- Hammond. Washington D.C.: American Eductional Research Association, 1993.
James A, Bank, dan Cherry A. Mc Gee (ed), Handbook of Research on Multicultural Education. San Francisco: Jossey Bass, 2001.
25
Khadziq, Islam dan Budaya Lokal, Yogyakarta: Teras, 2009.
Koentjaraningrat, Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan, Jakarta: Pt.
Gramedia Pustaka Utama, 1974.
Libat Koentjaraningrat. 1987. Sejarah Teori Antropologi I. Jakarta: UI Press.
Maslikhah, Pendidikan Mulikultural. Jawa Tengah: PT. Temprina Media Grafika, 2007.
Parekh Bikhu, Rethingking Multiculturalism: Cultural Diversity and political Theory, Cambridge: Harvard Univercity Press. 2000.
Suprapto, Penanaman dan Sikap Guru Pendidikan Agama Islam Terhadap Nilai-Nilai Multikultural. Jurnal Penelitain Pendidikan Agama dan Keagamaan. Vol VII, No 1, Januari-Maret, 2009.
Sutarno, Pendidikan Multikultural, Kalimantan Selatan: Dinas Pendidikan dan FKIP Unlam, 2007.
26 BAB II
TEORI DASAR MULTIKULTURALISME A. Pendahuluan
Multikulturalisme merupakan sebuah ideologi yang menekankan kesederajatan dalam perbedaan kebudayaan. Multikulturalisme menjamin pentingnya saling penghormatan antara berbagai kelompok masyarakat yang memiliki kebudayaan berbeda. Penghormatan yang memungkinkan setiap kelompok termasuk kelompok minoritas untuk mengekspresikan kebudayaan mereka tanpa mengalami prasangka buruk dan permusuhan. Chairul Mahdud menyebutkan multikulturalisme adalah keberagaman budaya. Pengakuan martabat kehidupan manusia yang hidup dalam komunitasnya dengan kebudayaan unik masing-masing.51
Sidi Gazalba menyebutkan kebudayaan sebagai tata cara berfikir dan merasa, dalam seluruh segi kehidupan, dari segolongan manusia membentuk satu kesatuan sosial, pada suatu ruang dan waktu dalam multikultural.52 Realita kebudayaan terkesan tidak sederajat, kebudayaan adalah steotip dan penuh prasangka yang muncul dalam hubungan antar budaya, maka berpotensi terjadi konflik sosial dalam masyarakat majemuk. Parsudi Suparlan, multikultralisme adalah konsep yang mampu menjawab tantangan perubahan zaman. multikultural adalah sebuah ideologi yang mengagungkan perbedaan atau sebuah keyakinan yang mengakui dan mendorong terwujudnya pluralisme budaya sebagai suatu corak kehidupan, sehingga terhindar dari konflik dan perpecahan.53
Kehadiran multikulturalisme sebagai solusi dengan memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada masyarakat sesuai perspektif kebudayaan dan keyakinan keagamaan dalam masyarakat, sehingga masyarakat mengakui kesederajatan dan saling toleransi dalam keberagaman kebudayaan. Multikulturalisme adalah ideologi sebagai alat atau wahana
51Choirul Mahfud, Pendidikan Multikultural, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2009), h. 75.
52Sidi Ghazalba, Sistematika Filsafat, (Jakarta: Bulan Bintang, 1981), h.44
53Zubaedi, Pendidikan Berbasis Masyarakat, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2006), h. 6.
27
untuk meningkatkan kesamaan derajat manusia dan kemanusiaannya.54 Toleransi adalah nilai dan tradisi dalam sebuah masyarakat yang majemuk dan multikultural. Dengan toleransi, terwujudnya masyarakat yang rukun, damai, tenteram dan harmonis serta terhindar dalam suasana konfliktual yang destruktif, saling bermusuhan, penuh arogansi dan tidak stabil. Toleransi memungkinkan masyarakat multikultural bergerak maju secara dinamis dalam situasi sosial yang damai dan stabil.
Indonesia adalah negara multikultural terbesar di dunia dengan dilihat dari kondisi sosio-kultural maupun geografis yang beragam dan luas. Wacana mengenai multikultural telah memasuki babak baru. Indikasinya, diskusi tentang multikulturalisme. Khususnya di provinsi Bengkulu, baik di lingkungan tradisi akademis, maupun kebijakan publik dan multikulturalisme telah menjadi materi pendidikan, pelatihan, bahkan kursus singkat praktis. Fenomena tersebut khususnya pada Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bengkulu dibawah pembinaan Kementerian Agama, bahwa multikultural telah menjadi materi kurikulum KKNI mata kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI) multikultural, dan telah dibuka program studi Program Doktor (S-3) Pendidikan Agama Islam. Distingsi Multikultural, bertujuan mentransformasikan pendidikan dalam menginternalisasikan kesadaran terhadap nilai-nilai multikultural, sehingga dapat mengatasi konflik dan perpecahan.55 Dalam dunia pendidikan dan masyarakat pada umumnya.
Pendidikan multikultural sebagai kekhasan keilmuan pada Program Studi Pendidikan Agama Islam dilaksanakan dalam integrasi multikultural dengan kurikulum, proses membangun pengetahuan dan pengembangan budaya akademik yang unggul dan dapat memenuhi tuntutan kebutuhan keilmuan dan masyarakat, sehingga dapat membawa masyarakat kampus dalam kerukunan
54Rustam Ibrahim, Pendidikan Multikultural: Pengertian, Prinsip, Dan Relevansinya Dengan Tujuan Pendidikan Islam, (Surakarta: Universitas Nahdlatul Ulama, Jawa Tengah, 2013), h.132
55Data Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bengkulu Tahun 2019
28
dan perdamaian, tanpa ada konflik, perpecahan dan kekerasan, meski di dalamnya ada kompleksitas perbedaan dalam mimbar akademik.56
Berdasarkan fenomena tersebut di atas, masyarakat haruslah peka menghadapi perputaran globalisasi. Untuk itu, penulis menjabarkan teori dasar multikulturalisme dalam menjawab problematika kemajemukan. Bab ini membahas tentang pengertian multikulturalisme, sejarah multikulturalisme, teori dasar dan pemikiran multikulturalisme, dengan menggunakan metode pendekatan kualitatif deskriptif.