• Tidak ada hasil yang ditemukan

Semangat Kebersamaan dalam Multikultural

E. Keadilan Multikultural dalam Pendidikan Islam

3. Semangat Kebersamaan dalam Multikultural

228Budiarto, Yohanes, Rani P.W., Peran Keadilan Distributif, Keadilan Prosedural dan Keadilan Interaksional Perusahaan terhadap Komitmen Karyawan pada Perusahaan (Studi pada Perusahaan X), Jurnal Psikologi Vol. 3, No. 2. 2005.

229Nursaid. Perempuan dalam Himpitan Teologi dan HAM di Indonesia. (Yogyakarta:

Pilar Media, 2005).

230 AE. Priyono. Peri-feralisasi, Oposisi, dan Integrasi Islam di Indonesia (Menyimak Pemikiran Dr. Kuntowijoyo), dalam Kuntowijoyo, Paradigma Islam Intepretasi untuk Aksi.

(Bandung: Mizan, 1993), h. 35

101

Perkembangan terakhir menunjukkan, Intensitas dan ekstensitas konflik sosial di tengah-tengah masyarakat terasa kian meningkat. Terutama konflik sosial yang bersifat horisontal, yakni konflik yang berkembang di antara anggota masyarakat, meskipun tidak menutup kemungkinan timbulnya konflik berdimensi vertikal, yakni antara masyarakat dan negara. Konflik sosial dalam masyarakat merupakan proses interaksi yang alamiah, karena masyarakat tidak selamanya bebas konflik.

Persoalannya menjadi konflik sosial dan berkembang dalam masyarakat tidak lagi menjadi sesuatu yang positif, tetapi berubah menjadi destruktif bahkan anarkis, seperti sejumlah konflik sosial dalam masyarakat telah berubah menjadi destruktif bahkan cenderung anarkis. Kasus Ambon, Poso, Maluku, GAM di Aceh, Papua dan berbagai kasus yang menyulut kepada konflik yang lebih besar dan berbahaya.

Konflik sosial berbau SARA (terutama agama) ini tidak dianggap remeh dan harus segera diatasi secara memadai dan proporsional agar tidak menciptakan disintergrasi nasional. Banyak hal yang patut direnungkan dan dicermati dengan fenomena konflik sosial tersebut. Fenomena konflik sosial merupakan peristiwa yang bersifat insidental dengan motif tertentu dan kepentingan sesaat, atau bahkan justru merupakan budaya dalam masyarakat yang bersifat laten. Realitas empiris ini juga menunjukkan bahwa masih ada problem yang mendasar yang belum terselesaikan. Menyangkut penghayatan terhadap agama sebagai kumpulan doktrin di satu pihak dan sikap keagamaan yang mewujudkan dalam perilaku kebudayaan di pihak lain.231

Kemajemukan masyarakat lokal tersebut bukan saja bersifat horisontal (perbedaan etnik, agama), tetapi juga sering berkecenderungan vertikal, maksudnya terpolarisasinya status dan kelas sosial berdasar kekayaan dan jabatan atau prestasi pekerjaan. Seperti: (1) perkembangan ekonomi pasar membuat beberapa kelompok masyarakat tertentu, khususnya dari etnik

231Nawari Ismail dan Muhaimin, (Pendamping), Konflik Umat Beragama dan Budaya Lokal, Bandung: CV. Lumbuk Agung, 2011), h. 179-182.

102

tertentu yang memiliki tradisi dagang, naik peringkatnya menjadi kelompok masyarakat yang menimbulkan kecemburuan sosial masyarakat setempat yang mandeg perkembangannya; (2) kelompok masyarakat etnis dan agama tertentu, yang semula berada di luar mainstream, yaitu berada di pinggiran, mulai menembus masuk ke tengah mainstream, hal ini dapat menimbulkan gesekan primordialistik, apalagi bila ditunggangi kepentingan politik dan ekonomi tertentu seperti terjadi di Ambon, Poso, Aceh dan Papua.

Upaya bersama dalam menyikapi sebuah multikulturalisme adalah dengan menjalankan asas gerakkan multikulturalisme menjadi sebuah ideologi yang dianggap mampu menyelesaikan berbagai masalah yang berkaitan dengan multikulturalisme, yaitu dengan asas-asas sebagai berikut:

(1) Manusia tumbuh dan besar pada hubungan sosial di dalam sebuah tatanan tertentu, dimana sistem nilai dan makan di terapkan dalam berbagai simbol- simbol budaya dan ungkapan-ungkapan bangsa; (2) Keanekaragaman Budaya menunjukkan adanya visi dan sisitem makan tang berbeda, sehingga budaya satu memerlukan budaya lain. Dengan mempelajari kebudayaanlain, maka memperluas cakrawala pemahaman makna multikulturalisme; (3) Setiap kebudayaan secara Internal adalah majemuk, sehingga dialog berkelanjutan sangat diperlukan demi terciptanya persatuan.232

Dalam masyarakat multikultural seperti Indonesia, paradigma hubungan dialogal atau pemahaman timbal balik sangat dibutuhkan, untuk mengatasi ekses-ekses negatif dari suatu problem disintegrasi bangsa. Paradigma hubungan timbal balik dalam masyarakat multikultural mensyaratkan tiga kompetensi normatif, yaitu; (1) kompetensi kebudayaan; (2) kemasyarakatan dan kepribadian.233

Pertama, kompetensi kebudayaan adalah kumpulan pengetahuan yang memungkinkan mereka yang terlibat dalam tindakan komunikatif membuat interpretasi-interpretasi yang dapat mengkondisikan tercapainya konsesus

232Nawari Ismail dan Muhaimin, (Pendamping), Konflik Umat Beragama dan Budaya Lokal, Bandung: CV. Lumbuk Agung, 2011), h. 179-182.

233HustonSmith, Agama Agama Manusia, (Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 2001)

103

mengenai sesuatu. Kompetensi kemasyarakatan merupakan tatanan-tatanan sah yang memungkinkan mereka yang terlibat dalam tindakan komunikatif membentuk solidaritas sejati. Kompetensi kepribadian adalah kompetensi yang memungkinkan seorang subjek dapat berbicara dan bertindak dan karenanya mampu berpartisipasi dalam proses pemahaman timbal balik sesuai konteks tertentu dan mampu memelihara jati dirinya sendiri dalam berbagai perubahan interaksi.

Kedua, Semangat kebersamaan dalam perbedaan sebagaimana terpatri dalam wacana Bhineka Tunggal Ika perlu menjadi roh atau spirit penggerak setiap tindakan komunikatif, khususnya dalam proses pengambilan ekputusan politik, keputusan yang menyangkut persoalan kehidupan bersama sebagai bangsa dan negara. Jika tindakan komunikatif terlaksana dalam sebuah komunitas masyarakat multikultural, hubungan diagonal ini menghasilkan beberapa hal penting, misalnya: (1) Reproduksi kultural yang menjamin bahwa dalam konsepsi politik yang baru, tetap ada kelangsungan tradisi dan koherensi pengetahuan yang memadai untuk kebutuhan konsesus praktis dalam praktik kehidupan sehari-hari; (2) Integrasi sosial yang menjamin bahwa koordinasi tindakan politis tetap terpelihara melalui sarana-sarana hubungan antar pribadi dan antar komponen politik yang diatur secara resmi (legitemed) tanpa menghilangkan identitas masing-masing unsur kebudayaan; dan (3) Sosialisasi yang menjamin bahwa konsepsi politik yang disepakati harus mampu memberi ruang tindak bagi generasi mendatang dan penyelarasan konteks kehidupan individu dan kehidupan kolektif tetap terjaga.

Secara konstitusional negara Indonesia dibangun untuk mewujudkan dan mengembangkan bangsa yang religius, humanis, bersatu dalam kebhinnekaan. Demokratis dan berkeadilan sosial, belum sepenuhnya tercapai. Konsekuensinya ialah keharusan melanjutkan proses membentuk kehidupan sosial budaya yang maju dan kreatif; memiliki sikap budaya kosmopolitan dan pluralistik; tatanan sosial politik yang demokratis dan struktur sosial ekonomi masyarakat yang adil dan bersifat kerakyatan.

104

Dengan demikian semboyan Bhinneka Tunggal Ika yaitu satu nusa, satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang kokoh, beranekaragam budaya, etnik, suku, ras dan agama, yang kesemuanya itu menjadikan Indonesia menjadi sebuah bangsa yang mampu mengakomodasi kemajemukkan, menjadi suatu kekuatan yang tangguh.

Sehingga ancaman disintegrasi dan perpecahan bangsa dapat dihindari.234 F. Kesimpulan

Pendidikan Islam multikulturalisme merupakan wahana penting dan media yang efektif untuk mengajarkan norma, mensosialisasikan nilai dan menanamkan etos kerja di kalangan warga masyarakat yang setara dan adil.

Pendidikan Islam multikultural merupakan instrument untuk memupuk kepribadian bangsa, memperkuat identitas nasional dan memantapkan jati diri Bangsa. Pendidikan dapat menjadi wahana strategis untuk membangun kesadaran kolektif sebagai warga dengan mengukuhkan ikatan sosial, tetap menghargai keragaman budaya, ras, suku-bangsa, agama, sehingga dapat memantapkan keutuhan nasional, meningkatkan kualitas manusia Indonesia yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian mandiri, tangguh, cerdas, kreatif, disiplin, beretos kerja, professional, bertanggung jawab, produktif, sehat jasamani dan rohani, sehingga terwujudnya kesetaraan dan keadilan di masyarakat melalui pendidikan Islam multikultural.

G. Saran

Pendidikan Islam multikultural sebagai wahana strategis membangun kesadaran kolektif warga mengukuhkan ikatan sosial, menghargai keragaman budaya, ras, suku bangsa, agama, sehingga semua warga merasa setara dan adil dalam upaya menjaga keutuhan negara dan bangsa. Dengan demikian

234 AE. Priyono. Peri-feralisasi, Oposisi, dan Integrasi Islam di Indonesia (Menyimak Pemikiran Dr. Kuntowijoyo), dalam Kuntowijoyo, Paradigma Islam Intepretasi untuk Aksi.

(Bandung: Mizan, 1993), h. 35

105

disarankan jika ingin masyarakat merasa setara dan adil, maka tingkatkan pemahaman dan implementasi pendidikan Islam multikultural.

DAFTAR PUSTAKA

A. Suradi, Pendidikan Islam Multikultural Tinjauan Teoritis dan Praktis di Lingkungan Pendidikan. Yogyakarta: Penerbit Samudra Biru, 2018.

A. Nurkolis. Konsep Pendidikan Islam Multikultural dalam Pemikiran IR.

Soekarno. Surakarta: IAIN Surakarta.

Abudin Nata, Ilmu Pendidikan Islam dengan Pendekatan Multidisipliner.

Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2009.

AE. Priyono, Peri-feralisasi, Oposisi dan Integrasi Islam di Indonesia (Menyimak Pemikiran Dr. Kuntowijoyo), dalam Kuntowijoyo, Paradigma Islam Intepretasi untuk Aksi. Bandung: Mizan, 1993.

Ali, Achmad, Menguak Tabir Hukum (Legal Theory) dan Teori Peradilan (Judicial Prudence) Termasuk Interpretasi Undang-undang (Legisprudence). Jakarta: Kencana, 2009.

Al-Imam Abul Fida Isma’il Ibnu Katsir ad-Dimasyqi, Terjemah Tafsir Ibnu Katsir. Bandung: Sinar Baru al-Gensindo, 2002.

Allen, J.P.B. and H.G. Widowson, Teaching the Communicative Use of English. In C.J. Brumfit and K. Johnson (Eds). The Communicative Approach to Language Teaching. Oxford: Oxford University Press, 1983.

Azra, Azumardi. (2013). Identitas dan Krisis Budaya, Membangun

Multikulturalisme Indonesia, from

http://budpar.go.id/agenda/precongress/makalah/abstrak/58%20 azra.html.

Baharun, Hasan dan Robiatul Awwaliyah, Pendidikan Multikultural dalam Menanggulangi Narasi Islamisme di Indonesia. Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Volume 5 Nomor 2.

2017.

Budiarto, Yohanes, Rani P.W., Peran Keadilan Distributif, Keadilan Prosedural dan Keadilan Interaksional Perusahaan terhadap Komitmen Karyawan pada Perusahaan (Studi pada Perusahaan X). Jurnal Psikologi Vol. 3, No. 2. 2005.

Choirul Mahfud, Pendidikan Multikultural. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006.

106 Data Pusat Statistik (BPS). Tahun 2015.

Fuad, Ismail, Konsep Pendidikan Multikultural dalam Pendidikan Islam.

Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2009.

Hasan Baharun dan Robiatul Awwaliyah, Pendidikan Multikultural Dalam Menanggulangi Narasi Islamisme di Indonesia, Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Volume 5 Nomor 2.

2017.

H, Acmat, Pendidikan Kewarganegaraan. Yogyakarta: Paradigm, 2010.

Ismail Fuad, Konsep Pendidikan Multikultural dalam Pendidikan Islam Jakarta:

UIN Syarif Hidayatullah, 2009.

Julaiha, Siti, Internalisasi Multikulturalisme dalam Pendidikan Islam. Journal Dinamika Ilmu Vol. 14. No 1, Juni 2014.

Kaelan, Pendidikan Pancasila. Yogyakarta: Paradigma, 2010.

Khairiah, K., Kesempatan Mendapatkan Pendidikan dalam Kajian Tingkat Pendidikan dan Pendapatan Keluarga. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2018.

Mahfud, Choirul, Pendidikan Multikultural. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006.

Martono dkk., Hidup berbangsa dan Etika Multikultural. Surabaya: Forum Rektor Simpul, 2003.

Notonegoro, Pancasila Secara Utuh Populer. Jakarta: Pancoran Tujuh, 1975.

Nursaid, Perempuan dalam Himpitan Teologi dan HAM di Indonesia.

Yogyakarta: Pilar Media, 2005.

Nurkolis, Ahmat, Konsep Pendidikan Islam Multikultural dalam Pemikiran IR.

Soekarno, Surakarta: IAIN Surakarta, 2017

Payiz Zawahir Muntaha dan Ismail Suardi Wekke, Paradigma Pendidikan Islam Multikultural: Keberagamaan Indonesia dalam Keberagaman, Journal Intizar, Volume 23, Nomor 1. 2017.

Suradi, Ahmad, Pendidikan Islam Multikultural Tinjauan Teoritis dan Praktis di lingkungan pendidikan, Yogyakarta: Penerbit Samudra Biru, 2018.

107

Sunoto, Analisis Iklim Organisasi dan Pengembangan Karir Terhadap Komitmen Organisasional Guru dengan Mediasi Kepuasan Kerja (Studi pada Dinas KB dan KS Kabupaten Pati). Semarang: STIE STIKUBANK.

2008.

Siti Julaiha, Internalisasi Multikulturalisme dalam Pendidikan Islam, Journal Dinamika Ilmu Vol. 14. No 1. 2014.

Undang-undang No. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia (HAM) Undang-undang No. 7 Tahun 1984 tentang Ratifikasi atas Konvensi

Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Dikriminasi Terhadap Perempuan.

Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1999 yang merupakan ratifikasi atau konvensi Internasional tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi rasial.

Zawahir Muntaha, Payiz dan Ismail Suardi Wekke, Paradigma Pendidikan Islam Multikultural: Keberagamaan Indonesia dalam Keberagaman, Journal Intizar, Volume 23, Nomor 1. 2017.

Zuhairini, dkk., Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1991.

Zuhairini, dkk., Metode Khusus Pendidikan Agama. Surabaya: Usaha Nasional, 1983.

Zuhairini, dkk., Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 1991.

108 BAB VI

KARAKTERISTIK DAN BENTUK PENGEMBANGAN PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI INDONESIA

A. Pendahuluan

Pendidikan multikultural merupakan pendidikan yang menghargai perbedaan. Sehingga nantinya perbedaan tersebut tidak menjadi sumber konflik dan perpecahan. Sikap saling toleransi menjadikan keberagaman yang dinamis, kekayaan budaya yang menjadi jati diri bangsa yang patut untuk dilestarikan. Pendidikan multikultural merupakan proses pengakuan setiap kebudayaan berada pada posisi yang sejajar dan setingkat, tidak ada kebudayaan yang lebih tinggi dari kebudayaan yang lain, anggapan kebudayaan tertentu lebih tinggi dari kebudayaan yang lain melahirkan fasisme, nativisme dan chauvinisme.235

Pola pengembangan pendidikan multikultural di Indonesia perlu dikelola dengan baik, jika dikelola secara efektif diharapkan dapat memperkaya kebudayaan dan peradaban yang bersangkutan sehingga nantinya terwujud masyarakat yang makmur, adil, dan sejahtera saling menghargai perbedaan.

James Banks menyebutkan pendidikan multikultural merupakan suatu rangkaian penjelasan yang mengakui dan menilai pentingnya keragaman budaya dan etnis dalam bentuk gaya hidup, pengalaman sosial, identitas pribadi, kesempatan pendidikan dari individu, kelompok, ataupun negara.236

Pendidikan multikultural adalah ide, gerakan pembaharuan pendidikan dan proses pendidikan untuk mengubah struktur lembaga pendidikan agar peserta didik laki-laki dan perempuan, siswa berkebutuhan khusus merupakan anggota dari kelompok ras, etnik dan kultural yang bermacam-macam memiliki kesempatan yang seragam dalam mencapai prestasi akademik di sekolah.237

235Fuad, Ismail, Konsep Pendidikan Multikultural dalam Pendidikan Islam. (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2009).

236Banks, James, Teaching Strategies For Ethnic Studies, (Newton: Allyn and Bacon, 1984).

237Yaya Suryana dan A. Rusdiana, Pendidikan Multikultural, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2015), h.196

109

Pendidikan multikultural fokus pada karakteristik kelompok yang berbeda. Tilaar menyebutkan karakteristik adalah syarat-syarat yang perlu dipertimbangkan berkenaan dengan kekhasan yang membedakan seseorang dengan orang lain.238 Selanjutnya Tilaar menyebutkan pendidikan multikultural memiliki ciri khas manusia budaya dan menciptakan masyarakat budaya (peradaban).239 Sedangkan yang lain menekankan masalah sosial (khususnya tentang penindasan), kekuasaan politik dan pengalokasian sumber ekonomi. Makna lain membatasi pada karakteristik sekolah lokal dan yang lain memberi petunjuk tentang reformasi semua sekolah tanpa memandang karakteristiknya.

Neto menyebutkan tujuh karakteristik pendidikan Islam multikultural, sebagai berikut: (1) pendidikan antiracist (pendidikan yang tidak membenci orang lain); (2) pendidikan dasar. Hak dasar bagi semua peserta didik untuk terlibat dalam akademis (kebutuhan yang diperlukan oleh semua peserta didik); (3) penting untk semua peserta didik (semua peserta didik berhak dan membutuhkan pendidikan yang inklusif dan ketat); (4) luas (pendidikan multikultural membahas menembus seluruh pendidikan, termasuk sekolah, lingkungan fisik, kurikulum, dan hubungan sesama); (5) pendidikan untuk keadilan sosial; (6) pendidikan sebagai proses (peserta didik dan pendidikan dalam proses pendidikan melibatkan masyarakat dalam meningkatkan prestasi belajar, lingkungan belajar, preferensi belajar, dan variabel budaya);

(7) pedagogik kritis dalam berfikir kritis peserta didik oleh budaya, bahasa, keluarga, sekolah, artistic dan pengalaman pendidikan.240

Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik membahas lebih lanjut berkenaan dengan makna dan implikasi pendidikan multikultural, seperti implikasi pendidikan multikultural, sejarah dari pendidikan multikultural,

238H.A.R Tilaar, Multikulturalisme: Tantangan-tantangan Global Masa Depan dalam Transformasi Pendidikan Nasional. (Jakarta: Grasindo, 2004), h. 123.

239H.A.R Tilaar. Ibid., h. 123.

240 Petty Pertanda. Tujuh Karakteristik Pendidikan Multkultural Neto, Baca Juga: AE.

Priyono. Peri-feralisasi, Oposisi, dan Integrasi Islam di Indonesia (Menyimak Pemikiran Dr.

Kuntowijoyo), dalam Kuntowijoyo, Paradigma Islam Intepretasi untuk Aksi. (Bandung: Mizan, 1993), h. 35.

110

karakteristik problematika pendidikan multikultural di Indonesia dan bentuk pengembangan pendidikan multikultural di Indonesia dengan judul: makna dan implikasi pendidikan multikutural, karakteristik problematika dan bentuk pengembangan pendidikan multikultural di Indonesia. Dengan menggunakan metode pendekatan kualitatif deskriptif.