Hadis Nabi Muhammad SAW, yang artinya: Diriwayatkan dari Abi Hurairah RA, dari Nabi Muhammad SAW, Bersabda: Takutlah kalian terhadap persangkaan buruk, sesungguhnya prasangka buruk adalah seburuk- buruknya pemberitaan dan janganlah kalian mencari aib orang lain, mendengki, membenci dan saling bermusuhan. Dan jadilah hamba Allah yang saling bersaudara.77
Hadis Nabi Muhammad SAW, yang artinya: Wahai manusia sekalian, ketahuilah bahwa Tuhan kalian satu, bapak kalian juga satu, ketahuilah tidak ada keutamaan dari orang Arab terhadap non-Arab dan tidak ada keutamaan orang Arab dari orang non-Arab kecuali ketakwaannya.78
Hadis Nabi Muhammad SAW yang artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada saya Abi, telah menceritakan kepada saya Yazid berkata: telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari Dawud bin Al-Hushain dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata:
76Zubaedi, Ibid., h. 62.
77Al-Ja’fi, Imam Abi Abdillah Muhammad bin Ismail Ibnu Ibrahim bin Maghirah bin Bardazibah al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Beirut-Lebanon: Darul Kitab al-‘Ilmiyah, Juz I, 1992.
Baca Juga: Al-Bukhari, Abu Abdullah Muhammad bin Ismail, Ensiklopedia Hadits; Shahih al- Bukhari 1, Terj. Masyhar dan Muhammad Suhadi, Jakarta: Almahira, Cet. I, 2011
78Ahmad bin Hanbal. Musnad Imam Ahmad bin Hambal. Beirut Lebanon: Darul Fikr.
Baa Juga: Abdullah bin Abdul Muhsin, Ushul al-Madzahib al-Imam Ahmad, T.A.: T.P.1980
37
Ditanya kan kepada Rasulullah SAW. Agama manakah yang paling dicintai oleh Allah? maka beliau bersabda: Al-Hanifiyyah As-Samhah (yang lurus lagi toleran).79
Hadis Nabi Muhammad SAW mengajarkan untuk menciptakan perdamaian dan rasa aman bagi kehidupan seluruh umat manusia tanpa membedakan suku, agama, ras dan antar golongan. Artinya: Dari Ibnu Mas’ud r.a, sesungguhnya Rasulullah SAW Bersabda: Siapa yang menyakiti seorang kafir dzimmi, maka aku kelak yang akan menjadi musuhnya. Dan siapa yang menjadikanku sebagai musuhnya, maka aku akan menuntutnya pada hari kiamat. (H.R. Al-Khotib)
Hadis Nabi Muhammad SAW. Mengajarkan untuk menjalin komunikasi meskipun dengan non-Muslim. Artinya: Jika seorang ahli kitab mengucapkan salam kepada kalin, maka jawablah dengan Wa’alaikum.80 Hadis Nabi Muhammad SAW mengajarkan untuk bersikap adil dengan memberikan hak secara proposional. Artinya: Allah SWT berfirman, wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman terhadap diri-Ku sendiri dan Aku menjadikannya haram pula di antara kalian, maka janganlah saling menzalimi.81
Agar pemahaman pluralism dan toleransi serta berkeadilan dapat tertanam dengan baik pada peserta didik, perlu ditambahkan uraian tentang proses pembangunan masyarakat Madinah setelah hijrah, dalam hal ini dapat ditelusuri dari piagam madinah. Sebagai suatu produk sejarah umat Islam, piagam madinah sebagai bukti bahwa Nabi Muhammad SAW, berhasil memberlakukan nilai-nilai keadilan, prinsip kesetaraan, penegakan hukum, jaminan kesejahteraan bagi semua warga serta perlindungan terhadap kelompok minoritas.82
79Al-Imam Al-Bukhari, Sahih Al-Bukhari, (Lebanon: Dar Al-Kotob Al-Ilmiyah, 2008).
80Abu Zahw, Muhammad, al Hadis wa al- Muhadddisun, (Beirut: Dar alKitab al- Arabi, 1994).
81Abu Zahw, Muhammad, al Hadis wa al- Muhadddisun, (Beirut: Dar alKitab al- Arabi, 1994).
82Yaya Suryana dan Rusdiana, Ibid.,h. 341-344
38
Menurut Joko Tri Prasetya wujud kebudayaan menjadi 3 macam, yaitu:
(1) wujud kebudayaan sebagai kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya; (2) wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktifitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat; (3) wujud benda-benda hasil karya manusia.83 Nilai-nilai ini harus dimasukkan ke dalam materi kurikulum pembelajaran, sehingga melahirkan nilai-nilai berkeadilan, kesetaraan kepada peserta didik, seperti; (1) materi aqidah; (2) materi akhlak; (3) materi fiqih; dan (4) sejarah kebudayaan Islam.
Pertama, materi Aqidah. Dalam pembahasan materi tentang iman kepada Allah SWT, materi yang diusung adalah sifat-sifat Allah SWT. Dalam Asmaul Husna, diantara sifat Allah yang dibahas dan berkaitan dengan nilai multikultural, yaitu Al-Hakim (Maha Bijaksana).
Kedua, materi Akhlak. Materi akhlak memfokuskan kajiannya pada perilaku baik buruk terhadap Allah SWT, Rasul, sesama manusia, diri sendiri, serta lingkungan, penting artinya bagi peletakan dasar-dasar kebangsaan.
Sebab, kelanggengan suatu bangsa bergantung kepada akhlak. Jika suatu bangsa meremehkan akhlak maka punahlah suatu bangsa.
Ketiga, materi Fiqih. Materi fiqih dapat diperluas dengan kajian fiqih siyasah (pemerintahan). Dari fiqih siyasah ini terkandung konsep-konsep kebangsaan yang telah dicontohkan pada zaman Nabi, sahabat, ataupun khalifah-khalifah setelahnya. Keadaan masyarakat Madinah pada masa itu tidak jauh berbeda dengan masyarakat Indonesia yang juga multietnis, multikultur dan multiagama.84
Keempat, Materi Sejarah Kebudayaan Islam. Materi sejarah kebudayaan Islam yang bersumber pada fakta dan realitas historis dapat dicontohkan praktik-praktik interaksi sosial yang di terapkan Nabi Muhammad SAW. Ketika membangun masyarakat Madinah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW.
Ditemukan fakta tentang pengakuan dan penghargaan atas nilai pluralisme dan toleransi.
83Joko Tri Prasetya, Ilmu Budaya Dasar, Cet, 3. (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), h. 32
84Yaya Suryana dan Rusdiana, Ibid., h. 342-343
39 F. Kesimpulan
Teori dasar multikulturalisme berawal dari keberagaman budaya, yang menekankan kepada kesejahteraan, toleransi, kesetaraan, keadilan, kebersamaan, perdamaian dan saling menghargai. Isu multikulturalisme muncul pada tahun 2002 sebagai dampak kesadaran bahwa kesatuan bangsa dan integrasi bangsa, politik keberagaman dianggap semakin kurang relevan dengan kondisi dan semangat otonomi daerah (desentralisasi) dan kedaerahan turut meningkat reformasi politik tersebut. Multikulturalisme muncul pertama sekali di Kanada dan Australia, kemudian di Amerika Serikat, Inggris dan Jerman. Dengan mengakui keberagaman dalam masyarakat dengan mempertimbangkan keberadaan kebudayaan lainnya. Dari sini lahir tiori dasar multikuluralisme yaitu demokrasi, toleransi, kesetaraan, saling menghormati dan menghargai.