Indonesia merupakan negara multikulturalisme terbesar di dunia, karena kondisi kultural maupun geografis yang begitu beragam dan luas.115 Multikulturalisme menurut Islam adalah sebuah aturan Tuhan (sunnatullah) yang tidak berubah, juga tidak mungkin dilawan atau diingkari.116 Islam sangat menghargai multikulturalisme karena Islam adalah agama yang mengakui perbedaan setiap individu untuk hidup bersama dan saling menghormati satu dengan yang lainnya.
Mundzier menyebutkan Islam adalah agama universal yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, persamaan hak dan mengakui adanya keragaman latar belakang budaya dan kemajemukan.117 Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang berisi pesan-pesan yang seharusnya menjadi pedoman bagi umat manusia terhadap upaya menjaga kerukunan dan kedamaian dalam kehidupan yang multikultural.
Pertama, Al-Qur’an menyebutkan manusia diciptakan dari diri yang satu, dalam Surat Al Hujurat ayat 13, yang artinya sesungguhnya Allah SWT telah menciptakan manusia dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian dijadikan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar manusia saling kenal mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia diantara manusia disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa.118 Sesuai Surat Al Baqarah ayat 213 yang artinya manusia itu adalah umat yang satu, setelah perselisihan, maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan
115Ainul Yaqin. Pendidikan Multikultural: Cross-Cultural Understanding untuk Demokrasi dan Keadilan, Cet. 1. (Yogyakarta: Pilar Media, 2005), h. 4
116Mundzier Suparta, Islamic Multicultural Education: Sebuah Refleksi atas Pedidikan Islam di Indonesia, cet. Ke-1. (Jakarta: Al-Ghazali Center, 2008), h. 5
117Mundzier Suparta. Ibid., h. 5
118Departemen Agama Republik Indonesia, Al Qur’an dan Terjemahannya, (Surabaya:
Pustaka Agung Harapan, 2006), h. 345
55
tidaklah berselisih tentang kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan- keterangan yang nyata karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah SWT memberikan petunjuk orang-orang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya dan Allah SWT selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.119
Al-Qur’an menjelaskan pentingnya saling percaya, pengertian, dan saling menghargai, menjauhkan sifat buruk sangka dan mencari kesalahan orang lain dalam surat Al Hujurat ayat 12 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kecurigaan karena sebagian kecurigaan adalah dosa dan janganlah mencari-cari keburukan orang lain dan janganlah menggunjingkan satu dengan yang lain. Apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Bertakwalah kepada Allah SWT. Sesungguhnya Allah SWT maha penerima taubat lagi maha penyayang”.120
Al-Qur’an mengajarkan agar selalu mengedepankan klarifikasi, dialog, diskusi dan musyawarah, tidak boleh menjatuhkan vonis tanpa mengetahui dengan jelas permasalahannya, dalam Surat Al Hujurat ayat 6 yang artinya
“Hai orang-orang yang beriman jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpa suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”121
Al-Qur’an mengajarkan kepada manusia untuk tidak memaksakan kehendak kepada orang lain dalam Surat Al Baqarah ayat 256 yang artinya tidak ada paksaan untuk memasuki agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan benar dari pada jalan yang sesat, karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah SWT, maka sesungguhnya ia telah
119Departemen Agama Republik Indonesia. Ibid., h. 745
120Muhammad bin Alawi al-Maliky al-Hasany, Al Sayid, Kaidah-kaidah Ulumul Quran, (Pekalongan: Al-Asri, 2008), h. 743
121Al-Imam Abul Fida Isma’il Ibnu Katsir ad-Dimasyqi, Terjemah Tafsir Ibnu Katsir, (Bandung: Sinar Baru al-Gensindo, 2002), h. 743
56
berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha mendengar lagi maha mengetahui.122
Al-Qur’an mengajarkan manusia untuk menghindari konflik dan melaksanakan rekonsiliasi atas berbagai persoalan yang terjadi, yakni upaya perdamaian melalui sarana pengampunan atau memaafkan, membimbing kea rah kesepakatan damai dengan cara musyawarah, duduk satu meja dengan prinsip kasih saying, dalam Surat Asy Syuura yang artinya Balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah SWT. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.123
Kedua, Hadis Nabi Muhammad Rasulullah SAW tentang multicultural.
Seperti semua hamba Allah SWT adalah bersaudara, yang artinya Diriwayatkan olaeh Abu Hurairah RA dari Nabi Muhammad SAW bersabda:
Takutlah kalian terhadap persangkaan buruk, sesungguhnya prasangka buruk adalah seburuk-buruknya pemberitaan dan janganlah kalian mencari aib orang lain, mendengki, membenci dan saling bermusuhan. Jadilah hamba Allah yang saling bersaudara.124
Hadis yang lain Rasulullah Muhammad SAW menyatakan tidak ada keutamaan dari orang Arab dengan orang non-Arab. Semua suku bangsa baik Amerika, Asia, Eropa berkulit putih atau hitam sederajat saja dihadapan Allah SWT. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad yang artinya wahai manusia sekalian, ketahuilah bahwa Tuhan itu satu, bapak dan ibu kalian satu, ketahuilah tidak ada keutamaan dari orang Arab terhadap non Arab dan tidak ada keutamaan orang non Arab dari orang arab kecuali ketaqwaannya.125
Pada hadist yang diriwayatkan oleh Dari Dawud bin Al Hushain dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Ditanyakan kepada Rasulullah SAW.
122Departemen Agama Republik Indonesia. Ibid., h. 53
123Shihab, M. quraish, Membumikan al-Qur’an (fungsi dan peran wahyu dalam kehidupan maysarakat), (Bandung: PT Nizan Pustaka, 2004), h. 86.
124Imam Bukhari, Shahih Bukhari, Kitab Adab, No. 5604. Imam Muslim, Sahih Muslim, Kitab Al Bir, Wa ash-Ahillah wa Al Adab, No 4646
125Yusuf Qardhawi, Al-Qur’an dan Al-Sunnah Referensi Tertinggi Umat Islam, (Jakarta:
Robbani Press, 1997.
57
Agama manakah yang paling dicintai Allah? Maka Rasulullah SAW menjawab Al ‘Hanifiyyah as Samhah’ (Agama yang lurus lagi toleran).126
Toleransi dalam Islam dapat dilihat pada masa awal Islam, para penguasa Muslim dalam waktu relatif singkat telah menaklukkan beberapa wilayah sekitarnya seperti; Mesir, Siria dan Persia. Ketika para penguasa Muslim menaklukkan daerah tersebut, di daerah tersebut telah ada dan berkembang beberapa pusat ilmu pengetahuan. Setelah daerah tersebut dikuasai Islam, kegiatan keilmuan masih berjalan dengan baik tanpa ada campur tangan dari penguasa Muslim. Di samping itu, komunitas non-Muslim seperti Kristen, Yahudi, dan bahkan Zoroaster dapat hidup dan menjalankan ibadah mereka masing-masing dengan relatif bebas di bawah kekuasaan para penguasa Muslim. Khususnya sejarah Indonesia menunjukkan bahwa Islam masuk melalui budaya seperti para sunan yang memasukkan nilai-nilai Islam dengan tatacara menyelaraskannya dengan budaya penduduk setempat, contoh wayang merupakan tatacara sunan mengganti kebiasaan penduduk Jawa dalam membuat patung sebagai pengaruh dari Hindu-Budha.
Hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud mengajarkan manusia untuk menciptakan perdamaian dan rasa aman bagi kehidupan seluruh umat manusia tanpa membedakan suku, ras, agama, dan antar golongan, yang artinya Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, barang siapa yang menyakiti seorang kafir dzimmi, maka aku kelak yang akan menjadi musuhnya dan siapa yang menjadikanku sebagai musuhnya, maka aku akan menuntutnya pada hari kiamat.127
Rasulullah SAW mengajarkan manusia untuk menjalin komunikasi meskipun dengan nonMuslim, yang artinya “Apabila seorang ahli kitab mengucapkan Salam, maka jawablah dengan ‘wa’alaikum’”. Rasulullah juga mengajarkan manusia untuk berlaku adil dengan memberikan hak secara proporsional, yang artinya Allah SWT berfirman “Wahai hamba-hambaku,
126Ahmad bin Ali bin Hajar Al Asqalany, Fath Al Bary, cet.I. Jilid I. (Madinah Al Munawarah, 1417/1996), h. 94
127Yusuf Qardhawi, Al-Qur’an dan Al-Sunnah Referensi Tertinggi Umat Islam, (Jakarta:
Robbani Press, 1997).
58
Sesungguhnya aku telah mengharamkan kedhaliman terhadap diriku sendiri, dan aku telh menjadikannya haram pula di antara kalian, maka janganlah saling menzhalimi” (HR. Muslim).128
Berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis tersebut, maka dapat dipahami bahwa multikulturalisme pada dasarnya tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Islam memandang multikulturalisme pada dasarnya sebagai bentuk toleransi yang tinggi terhadap perbedaan yang ada selama tidak melanggar batas- batas syariat yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Tetapi yang bisa kita lihat dalam lingkungan masyarakat yang masih memegang kental tradisi adat istiadat. Keanekaragaman yang ada bukan sebuah permasalahan namun justru menjadi suatu kekayaan yang bisa saling melengkapi dalam membangun peradaban masyarakat.