• Tidak ada hasil yang ditemukan

31

founding fathers tidak alergi dengan simbol-simbol agama lain dan menghormati simbol-simbol seperti menghormati simbol-simbol agamanya sendiri,66 sebagai strategi dari integrasi sosial.

Multikulturalisme mengakui dan menghormati keanekaragaman budaya.

Hal ini membawa implikasi dalam bersikap bahwa realitas sosial yang sangat majemuk tidak menjadi kendala dalam membangun pola hubungan sosial masyarakat, penuh toleransi. Bahkan dapat tumbuh, hidup berdampingan secara damai, sikap menerima kenyataan dalam keberagaman yang melekat pada tiap-tiap identitas sosial dan politiknya.

32

teori baru yang populer dengan nama salad bowl sebagai sebuah teori alternatif yang dipopulerkan oleh Horace Kallen. Berbeda dengan melting pot yang melelehkan budaya asal dalam membangun budaya baru yang dibangun dalam keragaman, teori salad bowl atau teori gado-gado tidak menghilangkan budaya asal, tapi sebaliknya kultur-kultur lain di luar White Angso Saxon Protentant (WASP) diakomodir dengan baik dan masing-masing memberikan kontribusi untuk membangun budaya Amerika, sebagai sebuah budaya nasional. Interaksi kultural antar berbagai etnik tetap masing-masing memerlukan ruang gerak yang leluasa, sehingga dikembangkan teori cultural pluralism, yang membagi ruang pergerakan budaya menjadi dua, yakni ruang publik untuk seluruh etnik mengartikulasikan budaya politik dan mengekspresikan partisipasi sosial politik mereka.

Dalam konteks ini, mereka homogen dalam sebuah tatanan budaya Amerika. Akan tetapi, mereka juga memiliki ruang privat, yang di dalamnya mengekspresikan budaya etnisitasnya secara leluasa. Dengan berbagai teori di atas, bangsa Amerika berupaya memperkuat bangsanya, membangun kesatuan dan persatuan, mengembangkan kebanggaan sebagai orang Amerika. Namun pada dekade 1960-an masih ada sebagian masyarakat yang merasa hak-hak sipilnya belum terpenuhi. Kelompok Amerika Hitam atau imigran Amerika Latin atau etnik minoritas lainnya merasa belum terlindungi hak-hak sipilnya. Atas dasar itulah, kemudian mereka mengembangkan multiculturalism yang menekankan penghargaan dan penghormatan terhadap hak-hak minoritas, baik dilihat dari segi etnik, agama, ras, atau warna kulit.68

Multikulturalisme merupakan sebuah konsep membangun kekuatan sebuah bangsa yang terdiri atas berbagai latar belakang etnik, agama, ras, budaya, dan bahasa dengan menghargai dan menghormati hak-hak sipil mereka termasuk hak-hak kelompok minoritas. Sikap apresitif tersebut dapat meningkatkan partisipasi dalam membesarkan sebuah bangsa karena mereka akan menjadi besar dengan kebesaran bangsanya dan mereka akan bangga dengan kebesaran bangsanya itu.

68Dede Rosyada, Ibid., h. 3

33

Azyumardi Azra menegaskan bahwa Indonesia menyadari tentang kemajemukan ragam etnik dan budaya masyarakatnya. Indonesia diproklamirkan sebagai sebuah negara yang memiliki keragaman etnik tetapi memiliki tujuan yang sama, yakni sama-sama menuju masyarakat adil, makmur dan sejahtera. Akan tetapi, gagasan besar tersebut kemudian tenggelam dalam sejarah dengan politik monokulturnya di zaman Soekarno dan Soeharto.69 Soekarno telah mematikan kreativitas-kreativitas lokal daerah yang berbasis etnik dan budaya tertentu. Zaman Soeharto dengan manajemen pemerintahan yang sentralistik, sehingga falsafat Bhinneka Tunggal Ika, kemudian hanya menjadi slogan tetapi tidak pernah mewujud dalam teori ketatanegaraan. Ketika simpul-simpul yang mengikat demokratisasi itu dibuka dan dilepas zaman reformasi, maka gagasan multikulturalisme kini mengemuka dan langsung memasuki wilayah pendidikan, yang seharusnya teori-teori multikulturalismenya itu dirumuskan terlebih dahulu oleh para ahli bidang ilmu-ilmu sosial politik.

Dengan demikian, Indonesia tidak akan memiliki pretensi untuk kembali pada teori melting pot atau salad bowl. Indonesia dikuatkan oleh para ahli yang memiliki perhatian besar terhadap pendidikan multietnik yang justru menjadikan multikulturalisme sebagai common platform dalam mendesain pembelajaran yang berbasis Bhinneka Tunggal Ika, bahkan nilai-nilai tersebut diupayakan melalui mata pelajaran kewarganegaraan dan didukung pula oleh pendidikan agama Islam.70

Isu-isu politik kebudayaan mengemuka dan berkembang cepat semenjak reformasi digulirkan pada tahun 1998. Setelah isu demokrasi yang diwujudkan dalam bentuk pelimpahan sebagian kekuasaan pusat ke daerah-daerah yang dikenal sebagai otonomi daerah mulai tahun 1999, isu multikulturalisme muncul pada tahun 2002 sebagai alternatif yang kuat untuk menjadi perekat baru kesatuan bangsa. Isu multikulturalisme muncul sebagai akibat dari

69Azra, Azyumardi, Nilai-Nilai Pluralisme Dalam Islam; Bingkai gagasan yang Berserak, (Bandung: Nuansa, 2005).

70Dede Rosyada, Ibid., h. 4.

34

kesadaran bahwa kesatuan bangsa dan integrasi nasional yang selama ini dipelihara berdasarkan politik kebudayaan seragam dianggap makin kurang relevan dengan kondisi dan semangat otonomi daerah (desentralisasi) dan kedaerahan turut meningkat sejalan dengan reformasi politik tersebut.

Bhikhu Parekh, baru sekitar 1970-an multikulturalisme muncul pertama kali di Kanada dan Australia, kemudian di Amerika Serikat, Inggris, Jerman dan lainnya. Bikhu Parekh menggaris bawahi asumsi dasar yang harus diperhatikan dalam kajian tentang multikulturalisme; (1) Manusia terikat dengan struktur dan sistem budayanya sendiri dimana dia hidup dan berinteraksi. Keterikatan ini tidak berarti bahwa manusia tidak bisa bersikap kritis terhadap sistem budaya tersebut, tetapi mereka dibentuk oleh budayanya dan selalu melihat segala sesuatu berdasarkan budayanya tersebut; (2) perbedaan budaya merupakan representasi dari sistem nilai dan cara pandang tentang kebaikan yang berbeda pula. Hal ini tidak berarti menegasikan koherensi dan identitas budaya, tetapi budaya pada dasarnya adalah sesuatu yang majemuk, terus berproses, dan terbuka.71

Semenjak Presiden Soeharto turun dari kekuasaanya, Indonesia dikenal sebagai era reformasi, kebudayaan Indonesia cenderung mengalami disintegrasi. Dalam pandangan Azyumardi Azra, krisis moneter, ekonomi dan politik yang bermula sejak akhir 1997, pada gilirannya juga telah mengakibatkan terjadinya kriris sosio-kultural didalam kehidupan bangsa dan negara. Jalinan masyarakat (fabric of society) tercabik-cabik akibat berbagai krisis yang melanda masyarakat.72

Krisis sosial budaya yang meluas itu dapat disaksikan dalam berbagai bentuk disorientasi dan dislokasi banyak kalangan masyarakat kita.

Disorientasi, dislokasi, atau krisis-budaya di kalangan masyarakat kita semakin merebak seiring dengan meningkatnya penetrasi dan ekspansi

71Bikhu Parekh. What Is Multiculturalism? Dalam Jurnal India Seminar, Desember 1999.

Raz J. Ethics in Public Domain: Essays in the Morality Of Law And Politics (Oxford: Clarendon Press, 1996), h. 177.

72 Azra, Azyumardi. Mengkaji kembali secara terbuka prinsip-prinsipkeseimbangan baru di antara masyarakat yang berbeda. Menuju Masyarakat Madani; Gagasan, Fakta dan Tantangan. Cet. I; (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999)

35

budaya Barat khususnya Amerika sebagai akibat proses globalisasi yang terus tidak terbendung.

Berbagai ekspresi sosial budaya yang sebenarnya alien (asing), yang tidak memiliki basis kulturalnya dalam masyarakat kita, semakin menyebar dalam masyarakat kita sehingga memunculkan kecenderungan- kecenderungan gaya hidup baru yang tidak selalu sesuai dengan kondusif kehidupan sosial budaya masyarakat dan bangsa Indonesia. Hal ini bisa dilihat seperti, budaya McDonald, sebagai makanan instan saat ini tersebar di seluruh pelosok Indonesia,73 sehingga setiap kebudayaan dipandang sebagai entitas yang distinktif, keberadaannya harus mempertimbangkan keberadaan kebudayaan lainnya. Dari sinilah lahir gagasan kesetaraan, toleransi, saling menghargai antara satu kelompok dengan kelompok lainnya.74