92
sungguh-sungguh terhadap latar belakang peserta didik, baik dari aspek keragaman suku, ras, agama dan budaya.198
Dengan demikian inti pendidikan multikultural yaitu sebagai sebuah ide atau konsep, gerakan pembaruan pendidikan dan sebagai sebuah proses.
Maksudnya adalah Pendidikan multikultural sebagai sebuah ide diartikan bahwa bagi semua siswa dengan tanpa melihat gender, kelas sosial, etnik, ras dan karakteristik budaya harus mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar disekolah. Sebagai sebuah gerakan, pendidikan multikultural sebagai suatu pendidikan yang menuntut kita untuk membuka visi pada cakrawala yang semakin luas, mampu melintasi batas kelompok etnis atau tradisi budaya dan agama kita sehingga mampu melihat kemanusiaan sebagai sebuah keluarga yang memiliki baik perbedaan maupun kesamaan cita-cita pendidikan akan dasar-dasar kemanuasiaan untuk perdamaian, kemerdekaan dan solidaritas.
93
Keragaman budaya daerah memang memperkaya khazanah budaya dan menjadi modal yang berharga untuk membangun Indonesia yang multikultural. Tetapi, kondisi aneka budaya itu sangat berpotensi memecah belah dan menjadi lahan subur bagi konflik dan kecemburuan sosial. Konflik atau pertentangan sebenarnya terdiri atas dua fase, yaitu fase disharmoni dan fase disintegrasi. Disharmoni menunjuk pada adanya perbedaan tentang tujuan, nilai, norma dan tindakan antar kelompok. Disintegrasi merupakan fase dimana sudah tidak dapat lagi disatukan pandangan, nilai, Norma dan tindakan kelompok yang menyebabkan pertentangan antar kelompok.200
Dalam menghindari pertentangan, hal penting yang perlu dilakukan meningkatkan pemahaman antarbudaya dan masyarakat ini adalah sedapat mungkin dihilangkan penyakit budaya. Penyakit budaya tersebut adalah etnosentrisme, stereotip, prasangka, rasisme, diskriminasi dan scape goating.
Hal yang tidak kalah penting adalah kajian mengenai corak kegiatan interaksi sosial, yaitu hubungan antar manusia dalam berbagai pengelolaan sumber daya merupakan sumbangan yang penting dalam upaya mengembangkan dan memantapkan multikulturalisme dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara Indonesia.201
Etnosentrisme diartikan sebagai suatu kecenderungan yang melihat nilai atau norma kebudayaan sendiri sebagai suatu yang mutlak serta menggunakannya sebagai tolok ukur kebudayaan lain. Etnosentrisme adalah kecenderungan untuk menetapkan semua norma dan nilai budaya orang lain dengan standar budayanya sendiri. Stereotip adalah pemberian tertentu terhadap seseorang berdasarkan kategori yang bersifat subjektif. Pemberian tersebut bisa positif maupun negatif. Stereotip adalah keyakinan seseorang untuk menggeneralisasikan sifat-sifat tertentu, cenderung negatif tentang orang lain, karena dipengaruhi oleh pengetahuan dan pengalaman tertentu.
Konsep stereotip dalam bentuk lain disebut stigma atau cacat. Stigmatisasi
200Choirul Mahfud, Pendidikan Multikultural, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), h. 76
201Choirul Mahfud, Ibid., h. 76
94
sekelompok orang kepada kelompok lain cenderung negatif.202 Prasangka artinya anggapan yang belum tentu benar. Rasisme adalah ideologi yang didasarkan pada diskriminasi individu dan kelompok karena perbedaan ras.
Rasisme dapat juga menjadi doktrin politik.203
Diskriminasi adalah perlakuan yang tidak seimbang terhadap perorangan atau kelompok berdasarkan sesuatu, biasanya bersifat kategorikal atau atribut khas seperti ras, suku, agama atau keanggotaan kelas-kelas sosial.204Diskriminasi adalah suatu perilaku yang menunjukkan penolakan terhadap individu atau kelompok semata-mata karena keanggotaan seseorang di dalam kelompok.205 Diskriminasi adalah perbedaan perlakuan terhadap sesama warna negara yang dilakukan berdasarkan warna kulit, golongan, suku, ekonomi dan agama206
Hal-hal yang dapat dilakukan untuk memperkecil masalah yang diakibatkan oleh pengaruh negatif dari keragaman, yaitu: (1) semangat religious; (2) semangat nasionalisme; (3) semangat pluralism; (4) semangat humanism; (5) dialog antar umat beragama; dan (6) membangun suatu pola komunikasi untuk interaksi maupun konfigurasi hubungan antaragama, media massa dan harmonisasi dunia. Untuk menanggulangi maslah yang diakibatkan oleh pengaruh negatif dari keragaman, yaitu dengan menanamkan pendidikan Islam. Zuhairini menjelaskan tentang konsep kepribadian Muslim. Menurutnya pribadi Muslim bukanlah pribadi yang
202Allen, J.P.B. and H.G. Widowson, Teaching the Communicative Use of English. In C.J. Brumfit and K. Johnson (Eds). The Communicative Approach to Language Teaching.
(Oxford: Oxford University Press, 1983).
203Liliweri, Alo, Gatra-Gatra Komunikasi Antar Budaya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 2001). Baca Juga: Liliweri, Alo, Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya, (Yogyakarta: PT LKiS Printing Cemerlang, 2009). LIliweri, Alo, Prasangka&Konflik Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultural, (Yogyakarta: PT LKiS, 2005).
204Theodorson, George A. And Achilles G. Theodorson, A Modern Dictionary of Sociology, (New York, Hagerstown, San Francisco, London: Barnes & Noble Bodes, 1979).
205Sears, D.O., Freedman, J.L. & Peplau, L.A., Psikologi Sosial. (Jakarta: Erlangga, 1991).
206Alwi, Hasan, Kamus Besar Bahasa Indonesia. (Jakarta: Balai Pustaka, 2007).
95
egoistis, tetapi seorang pribadi yang penuh dengan sifat-sifat pengabdian baik kepada Tuhan maupun kepada sesamanya.207
Prinsip ajaran moral menurut Al-Quran sebagai berikut: (1) Seorang Muslim tidak boleh memandang hina kepada orang lain;208 (2) Seorang Muslim tidak boleh buruk sangka dan tidak boleh pula mengintai-intai kesalahan orang lain;209 (3) Islam menyuruh pada persatuan;210 (4) Islam melarang takabur dan sombong;211 (5) Islam melarang seorang mukmin mencari aib orang lain;212 (6) Islam menyuruh berlaku adil dan membenci penganiayaan;213 (7) Islam memperteguh tali silaturrahmi;214 (8) Islam mewasiatkan agar orang baik dengan tetangganya;215 dan (9) Islam menyeru agar orang tolong-menolong dan mementingkan orang lain. 216
Ajaran tersebut harus ditanamkan, diajarkan, dan dididikkan kepada setiap individu muslim dan muslimah agar dapat menjadi hiasan dirinya. Hasil usaha tersebut membekas pada tiap pribadi muslim dan muslimah yaitu berupa sifat-sifat yang diwajibkan oleh Islam dimiliki oleh setiap muslim.217 D. Problem Kesetaraan dan Solusinya
207Zuhairini, dkk. Metode Khusus Pendidikan Agama, (Surabaya: Usaha Nasional.
1983)
208Amrullah, Karim, Malik, Abdul Tafsir Al-Azhar Jus XXX. (Jakarta: Pustaka Panji Mas, 1987), QS. Al Hujurat ayat 13
209Amrullah, Karim, Malik, Abdul Tafsir Al-Azhar Jus XXX. (Jakarta: Pustaka Panji Mas, 1987), QS. Al Hujurat ayat 12
210Abdullah Abdul Malik, Abdul Karim, Tafsir Al-Azhar Jilid II, (Singapura: Pustaka Nasional, 1999), QS. Ali Imran ayat 103, Surat Al Anfal ayat 46.
211Republik Indonesia, Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Bandung:
CV Penerbit Diponegoro, 2007, cet. V), QS. Al Isra’ ayat 37 dan Surat Luqman ayat 18.
212Republik Indonesia, Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Bandung:
CV Penerbit Diponegoro, 2007, cet. V.), QS. Al Isra’ ayat 36.
213Republik Indonesia, Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Bandung:
CV Penerbit Diponegoro, 2007, cet. V), QS. An Nahal ayat 90, Surat Al An’am ayat 152 dan Surat Al Maidah ayat 8.
214Republik Indonesia, Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Bandung:
CV Penerbit Diponegoro, 2007, cet. V), QS. Isra’ ayat 26 dan Surat An Nisa’ ayat 1.
215Shihab, M. Quraish, Tafsir Al-Misbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2002, Cet. I, vol. VI), QS. Surat An Nisa’ ayat 36.
216Republik Indonesia, Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Bandung:
CV Penerbit Diponegoro, 2007, cet. V.) QS. Al Maidah ayat 2, Surat Al Baqarah ayat 280, Surat Ali Imran ayat 92 dan suarat Al Hasyr ayat 9
217Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), h. 202
96
Kesetaraan merupakan suatu sikap mengakui adanya persamaan derajat, hak dan kewajiban sebagai sesama manusia. Indikator kesetaraan sebagai berikut: (1) adanya persamaan derajat dilihat dari agama, suku bangsa, ras, gender dan golongan; (2) adanya persamaan hak dari segi pendidikan, pekerjaan dan kehidupan yang layak; dan (3) adanya persamaan kewajiban sebagai hamba Tuhan, individu, dan anggota masyarakat.
Problem yang terjadi dalam kehidupan umumnya adalah munculnya sikap dan perilaku untuk tidak mengakui adanya persamaan derajat, hak, dan kewajiban antarmanusia atau antar warga. Perilaku yang membeda-bedakan orang disebut diskriminasi.
Undang-undang No. 39 Tahun 1999 tentang hak asasi manusia (HAM) menyatakan diskriminasi adalah setiap pembatasan, pelecehan, yang langsung ataupun tak langsung didasarkan pada pembedaan manusia atas dasar agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa dan keyakinan politik, yang berakibat pada pengurangan, penyimpangan atau penghapusan pengakuan, pelaksanaan, atau penggunaan HAM dan kebebasan dasar dalam kehidupan baik individu maupun kolektif dalam bidang politik, ekonomi, hukum, social, budaya dan aspek kehidupan lainnya.218
Faktor penyebab diskriminasi adalah; (1) Persaingan yang ketat dalam kehidupan, permasalahan ekonomi, tekanan dan intimidasi; dan (2) Ketidakberdayaan golongan miskin. Penghapusan diskriminasi dilakukan melalui pembuatan peraturan perundang-undangan yang anti diskriminitif serta pengimplementasikannya di lapangan.219 Pada tataran operasional, upaya mewujudkan persamaan di depan hukum dan penghapusan diskriminasi rasial antara lain ditandai dengan penghapusan Surat Bukti
218Undang-undang No. 39 Tahun 1999 tentang hak asasi manusia (HAM)
219Undang-undang No. 7 Tahun 1984 tentang Ratifikasi atas Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Dikriminasi Terhadap Perempuan. Baca Juga: Undang- Undang Nomor 29 Tahun 1999 yang merupakan ratifikasi atau konvensi Internasional tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi rasial.
97
Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI) melalui Keputusan Presiden No. 56 Tahun 1996 dan Instruksi Presiden No. 4 Tahun 1999.220
Untuk mencegah terjadinya perilaku diskriminatif dalam rumah tangga, antara lain telah ditetapkan Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan Undang-Undang Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).221