Pendidikan merupakan suatu proses pengubahan tingkah laku seseorang ataupun kelompok orang dalam usaha, mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.258 Pendidikan Agama Islam (PAI) yaitu proses bimbingan dari pendidik terhadap perkembangan jasmani, rohani dan akal peserta didik kearah terbentuknya pribadi muslim yang baik. PAI merupakan alat yang dapat difungsikan untuk mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan hidup manusia (sebagai makhluk pribadi dan sosial) pada titik optimal kemampuannya untuk memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
256Ahmad Afnam Anshori, Pendidikan Islam Multikultural sebagai Konflik Agama Islam di Indonesia, Ilmu Aqidah Studi Keagamaan, Edisi 4 ,2016, h. 29.
257Andi Aco Agus Integrasi Nasional Sebagai Parameter Persatuan dan Kesatuan Bangsa Negara Republik Indonesia, Sosialisasi Pendidikan Sosialogi, Edisi 1, 2016, h. 20.
258Alwi, Hasan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. (Jakarta: Balai Pustaka, 2007).
126
Pendidikan sebagai sarana dalam membentuk kepribadian manusia seutuhnya sangat bergantung pada pemegang kebijakan dalam menentukan keberhasilan proses pendidikan yang telah berjalan di berbagai daerah, mulai dari sistem yang sederhana sampai menuju sistem pendidikan Islam yang modern. Sejarah perkembangan pendidikan Islam, baik yang bersifat operasional maupun teknis, metode, sarana dan kelembagaan serta dasar dan tujuannya harus sesuai dengan sumber ajaran Islam yaitu Al-Qur`an dan sunah.
Pendidikan Islam adalah proses bimbingan dari pendidik yang mengarahkan peserta didiknya pada perbaikan sikap mental yang terwujud dalam amal perbuatan dan terbentuknya pribadi muslim yang baik.259 Dalam konteks tujuan pendidikan Agama Islam di sekolah umum, Departemen Pendidikan Nasional (1998) merumuskan sebagai berikut;
menumbuhkembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan serta pengamalan peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT.
Mewujudkan manusia Indonesia yang taat beragama dan berakhlak mulia, yaitu manusia berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif, jujur adil, berdisiplin, bertoleran (tasamuh), menjaga keharmonisan antar personal.260 (1) Pendidikan Agama berwawasan multikultural. Maksudnya model pendidikan yang menekankan pada nilai-nilai moral, seperti kasih sayang, cinta seseorang, tolong-menolong, toleransi, menghargai keberagaman dan sikap-sikap lain yang menjunjung kemanusiaan. Untuk merancang strategi hubungan multikultural dalam pendidikan (termasuk pendidikan agama).
Presma (2004:285) menjelaskan setidaknya dapat digolongkan pada dua pengalaman, yaitu pengalaman pribadi dan pengalaman pengajaran yang
259Yaya Suryana dan Rusdiana, Pendidikan Multikultural, cet.1. (Bandung: CV Pustaka Setia, 2015), h. 319-320
260Yaya Suryana dan Rusdiana, Ibid. h. 321
127
dilakukan oleh guru (pendidik) sebagai berikut: (1) Pengamalan pribadi dapat dikondisikan dengan menciptakan suasana, seperti seluruh peserta didik memiliki status dan tugas yang sama, seluruh peserta didik bergaul, berhubungan, berkembang dan berkelanjutan bersama seluruh peserta didik berhubungan dengan fasilitas, guru dan norma kelas yang sama. (2) Pengalaman pengajaran adalah guru harus sadar keragaman siswa, bahan kurikulum dan pengajaran seharusnya merefleksikan keragaman, serta bahan kurikulum dituliskan dalam bahasa daerah atau etnik yang berbeda.
Pendidikan Islam yang berwawasan multikultural adalah suatu pendidikan yang membuka visi dan cakrawala yang lebih luas. Mampu melintas batas kelompok etnis atau tradisi budaya dan agama sehingga mampu melihat kemanusiaan sebagai keluarga yang memiliki perbedaan kesamaan cita-cita.261 Nilai-nilai pendidikan Islam berbasis multikultural (1) nilai andragogi; (2) nilai perdamaian; (3) nilai inklusivisme; (4) nilai kearifan;
(5) nilai toleransi.262 1. Nilai Andragogi
Sekolah atau pendidikan diharapkan mampu mengubah keterpurukan manusia dari berbagai sudut yang mengakibatkan diambang kehancuran.
Knowles menggambarkan peserta didik sebagai dewasa diasumsikan memiliki kemampuan aktif untuk merencanakan arah, memiliki bahan, menyimpulkan ataupun mengambil manfaat, memikirkan secara baik untuk belajar, serta mampu mengambil manfaat dari pendidikan. Fungsi guru sebagai fasilitator bukan menggurui. Oleh karena itu, relasi antar guru dan siswa bersifat multicommunication. Pendidikan menjadi sarana bagi ajang kreativitas, minat dan bakat peserta didik, visi pendidikan yang demokratis, liberatif, kemudian
261Yaya Suryana dan Rusdiana, Ibid., h. 322
262Knowles, Malcolm. Andragogy: Concepts for Adult Learning. Washington, D.C.:
Departement of Heatlth, Education and Welfare, 1975. Baca Juga: Knowles, Malcolm. The Modern Practice of Adult Education: Andragogy versus Pedagogy. (New York: Association Press, 1977). Baca Juga: Knowles, Malcolm. The Modern Practice of Adult Education: From Pedagogy to Andragogy. (Cambridge: Englewood Cliffs, 1980). Baca Juga: Knowles, Malcolm, Holton III, E.F. Swanson, R.A. the Adult Learner. (Houstan: Gulf Publishing Company, 2005).
128
menjadi kebutuhan yang pokok ketika masih memiliki satu cita-cita tentang pentingnya membangun kehidupan yang harmonis.263
2. Nilai perdamaian.
Islam sebagai agama rahmata lil'alamin memiliki misi menyebarkan kedamaian kepada semua umat manusia. Islam melarang jihad terhadap orang-orang non-muslim yang menyatakan ingin hidup rukun dan damai bagi umat Islam. Menurut Imam, damai adalah fitrah. Perdamaian Islam dibangun di atas tiga pilar, yaitu Islam, Iman dan Ihsan. Penghayatan serta pengamalan penuh Islam, Iman dan Ihsan, menjadi modal utama bagi terciptanya ketenteraman, keharmonisan dan kedamaian.264
3. Nilai Inklusivisme
Klaim-klaim sepihak sering muncul berkaitan dengan kebenaran suatu paham atau agama yang dipeluk oleh seseorang atau masyarakat, bahwa hanya agama yang dianutnya atau agama tertentu yang benar. Sementara agama lain tidak dianggap benar. Namun realitasnya terdapat beragam agama dan keyakinan yang berkembang di masyarakat pluralitas agama, keyakinan dan pedoman hidup manusia adalah fakta sosial yang tidak dapat dimungkiri.
Nurkholis Madjid memaparkan inklusivisme adalah sebuah sikap yang bertujuan menumbuhkan suatu sikap kejiwaan yang melihat adanya kemungkinan orang lain itu benar. Alasannya manusia diciptakan dalam keadaan fitrah, maka setiap orang pada dasarnya suci dan benar.265 Sejalan dengan QS Al Rum ayat 30. Tegakkan wajahmu kepada agama secara lapang dada, yaitu fitrah Tuhan yang difitrahkan kepada manusia. Tidak ada perubahan pada ciptaan Tuhan. Itulah agama yang luru, tapi sebagian besar dari manusia tidak mengetahuinya.266
263Maksum, Ali. Ajakan Suci, Pokok-Pokok Pikiran tentang NU, Ulama, dan Pesantren, (Yogyakarta: Lajnah Ta’lif Wa an-Nasyr. LTN-NU DIY, 1955), h. 270
264Imam Taufiq, Al Qur’an Bukan Kitab Teror, (Membangun Perdamaian Berbasis Al Qur’an), (Kudus: Bentang Pustaka, 2016).
265Misrawi, Zuhairi, Al-Quran Kitab Toleransi Inklusivisme, Pluralisme, Multikulturalisme, Jakarta, 2007.
266Al-Imam Abul Fida Isma’il Ibnu Katsir ad-Dimasyqi, Terjemah Tafsir Ibnu Katsir.
(Bandung: Sinar Baru al-Gensindo, 2002), QS Al Rum, ayat 30.
129 4. Nilai Kearifan
Dalam Islam, kearifan dapat dipelajari melalui ajaran sufi. Sufi berarti kebijakan atau kesucian yaitu secara membersihkan hati dari kelakuan buruk.
Sufi mengajari manusia untuk membersihkan nafsu, hati, jiwa melalui pendekatan esoteris melihat Allah tidak untuk ditakuti, tetapi untuk dicintai.267 Tidak Aku (Allah) ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.268 Kearifan lokal merupakan kebijaksanaan manusia yang bersandar pada filosofi nilai-nilai, etika, cara-cara dan perilaku yang melembaga secara tradisional.269
5. Nilai Toleransi
Istilah berasal dari bahasa Inggris, yaitu tolerance yang berarti sikap membiarkan, mengakui, dan menghormati keyakinan orang lain tanpa memerlukan persetujuan. Pendidikan agama Islam perlu segera menampilkan ajaran-ajaran Islam yang toleran melalui kurikulum pendidikannya dengan tujuan menitik beratkan pada pemahaman dan upaya untuk bisa hidup dalam konteks berbeda agama dan budaya. Toleransi adalah sikap menghargai terhadap kemajemukan.270 Toleransi diwujudkan dalam kata dan perbuatan, dijadikan sebagai sikap menghadapi pluralitas agama yang dilandasi dengan kesadaran ilmiah dan harus dilakukan dalam hubungan kerjasama yang bersahabat dengan antar pemeluk agama.
6. Nilai Humanisme
Pendidikan dan pembelajaran yang bersifat aktif-pasif serta berdasarkan minat dan kebutuhan siswa sangat penting untuk memperoleh kemajuan, baik dalam bidang intelektual emosi (EQ), afeksi, maupun keterampilan yang berguna untuk hidup praktis. Tuntunan gerakan manusia bertujuan
267Syamsu Yusuf dan Nani Sugandhi, Perkembangan Peserta Didik, (Jakarta: Rajawali Press, 2012). Baca Juga: Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran, Jakarta: Kencana, 2011).
268Al-Imam Abul Fida Isma’il Ibnu Katsir ad-Dimasyqi, Terjemah Tafsir Ibnu Katsir.
(Bandung: Sinar Baru al-Gensindo, 2002), QS Azd Zduriyat, ayat 56.
269Syamsu Yusuf dan Nani Sugandhi, Perkembangan Peserta Didik, (Jakarta: Rajawali Press, 2012). Baca Juga: Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran, Jakarta: Kencana, 2011).
270Ahmad Wahib, Greg Barton juga menyebutkan Abdurrahman Wahid, Nurcholish Madjid, Munawir Sjadzali dan Djohan Effendy sebagai Cendikiawan Muslim Neo Modernis.
Lebih jauh lihat Greg Barton.
130
dihormatinya martabat manusia.271 Humanisme merupakan sebuah aliran yang baik, sesuai dengan kemanusiaan, sehingga pikiran, rasa, situasi seluruhnya ikut menentukan baik buruknya tindakan kongkret. Menghidupkan rasa perikemanusiaan.272 Humanisme menolak sikap diskriminasi.273
7. Nilai Kebebasan
Setiap manusia memiliki hak yang sederajat di hadapan Allah SWT.
Derajat manusia tidak dibedakan berdasarkan suku, ras, ataupun agama.
Allah memiliki ukuran tersendiri dalam memberikan penilaian terhadap kemuliaan seseorang. Pendidikan adalah media kultural untuk membentuk manusia. Hubungan antara pendidikan dan manusia tidak dapat dipisahkan.
Pendidikan adalah humanisasi, yaitu sebagai media dan proses pembimbingan manusia muda menjadi dewasa menjadi lebih manusiawi.274 D. Asumsi Pendidikan Islam Multikultural
Esensi Pendidikan Islam Multikultural. (1) Pendidikan Islam Multikultural merupakan usaha komprehensif dalam mencegah terjadinya konflik antar agama; (2) Mencegah terjadinya radikalisme agama; (3) Pada saat yang sama memupuk terwujudnya sikap yang apresiatif positif terhadap pluralitas dalam dimensi dan perspektif apapun; dan (4) Pendidikan agama Islam berwawasan multikultural pluralistik memiliki visi dan misi untuk mewujudkan agama pada sisi yang lebih santun, dialogis, apresiatif terhadap pluralitas dan peduli terhadap persoalan hidup yang komunal transformatif.
Karekteristik pendidikan Islam berwawasan multikultural, yaitu: (1) belajar hidup dalam perbedaan; (2) membangun saling percaya; (3) memelihara saling pengertian (mutual understanding); dan (4) menjunjung sikap saling menghargai (mutual respect). Asumsi PAI dalam pendidikan multikultural pluralistik; (1) inovasi dan reformasi pendidikan; (2) identifikasi
271Masruri, Membuka Indera Keenam. (Solo: CV. Aneka, 2003), h. 98.
272Depdiknas, Permendiknas No 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi. Jakarta:
Depdiknas, 2006.
273 Freire, Paulo, Politik Pendidikan: Kebudayaan, Kekuasaan dan Pembebasan, terj:
Agung Prihantoro, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), h. 253.
274Yaya Suryana dan Rusdiana, Ibid.,h. 323-325
131
dan pengakuan pluralitas; (3) perjumpaan lintas batas; (4) interdependensi dan kerja sama dan (5) pembelajaran efektif dan proses interaksi275
Akar kata multikulturalisme adalah kebudayaan. Secara etimologis, multikulturalisme dibentuk dari kata multi (banyak), kultur (budaya) dan isme (aliran/paham). Secara hakiki, dalam kata itu terkandung pengakuan martabat manusia yang hidup dalam komunitasnya dengan kebudayaannya masing- masing yang unik.276 Ada banyak ilmuwan dunia yang memberikan definisi kultural dan sangat beragam, walaupun demikian ada beberapa titik kesamaan yang mempertemukan keragaman definisi yang ada tersebut, seperti pengidentifikasian asumsinya.
Asumsi pendidikan Islam multikultural dapat dikembangkan pemahaman terhadap sebuah paham tentang kultural yang beragam, saling pengertian, toleransi dan sejenisnya, agar tercipta suatu kehidupan yang damai dan sejahtera serta terhindar dari konflik berkepanjangan. Pendidikan multikultural merupakan proses kesetaraan budaya.