• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEWENANGAN DESA

Dalam dokumen PEMERINTAHAN DESA - UIR (Halaman 64-68)

tempat. Adat istiadat desa tersebut sudah ada semenjak desa itu ada atau terbentuk.

Berdasarkan kewenangan yang dimiliki oleh desa tersebut, maka kepada pemerintahan desa berdasarkan peraturan per­

undang­undangan yang berlaku diberikan hak dan kewenangan sebagai berikut;

– Untuk menyelenggarakan pemerintahan desa sesuai dengan tugas dan fungsi dari pemerintahan desa.

– Kepada pemerintah desa juga diberikan kewenangan untuk dapat melaksanakan suatu proses pembangunan desa sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat desa itu sendiri, oleh karena itu pemerintahan desa dibantu oleh lembaga ke­

masyarakatan desa (RT, RW, LPM, PKK dan Karang Taruna dan dapat dibentuk lembaga kemasyarakatan desa lainnya sesuai dengan kebutuhan) dapat membuat program­program terkait dengan pembangunan desa baik secara phisik maupun pembangunan yang bersifat non fisik.

– Pemerintahan desa juga diberikan kewenangan untuk dapat melakukan berbagai bentuk program dan kegiatan yang terkait dengan pembinaan kemasyarakatan desa.

– dan kewenangan untuk melakukan upaya pemberdayaan ter hadap masyarakat desa berdasarkan prakarsa dari masya­

rakat, hak asal usul, dan adat istiadat dari masyarakat setem­

pat yang telah ada semenjak desa tersebut terbentuk.

Sehubungan dengan permasalahan dan fenomena tersebut di atas, maka tentang bentuk dan jenis dari kewenangan suatu desa telah diatur dengan jelas dan tegas dalam Pasal 19 Undang­

Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, bahwa;

“Kewenangan Desa meliputi hal­hal sebagai berikut:

a. Kewenangan berdasarkan hak asal usul

b. Kewenangan lokal berskala Desa

c. Kewenangan yang ditugaskan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, atau Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.

d. Kewenangan lain yang ditugaskan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, atau Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota sesuai dengan ketentuan peraturan per undang­undangan.

Berdasarkan pasal di atas, dapat diketahui bahwa dari sisi bentuk dan jenis kewenangan, maka desa memiliki empat ke­

wenangan yang meliputi hal­hal sebagai berikut;

1). Kewenangan diperoleh berdasarkan hak asal usul dari suatu desa. Yang dimaksud dengan “hak asal usul” menurut penje­

lasan pasal 19 huruf (a) Undang­Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang desa adalah; hak yang merupakan waris an yang masih hidup dan prakarsa desa atau prakarsa masyarakat desa sesuai dengan perkembangan kehidupan masyarakat, antara lain sistem organisasi masyarakat adat, kelembagaan, pranata dan hukum adat, tanah kas desa, serta kesepakatan dalam kehidupan masyarakat desa.

2). Kewenangan lokal berskala desa, yang dimaksud dengan

“kewe nangan lokal berskala desa” tersebut di atas adalah suatu bentuk kewenangan untuk dapat mengatur dan meng­

urus kepentingan dari masyarakat desa yang telah dijalankan oleh desa atau mampu dan efektif dijalankan oleh suatu desa atau yang muncul karena perkembangan desa dan prakarsa dari masyarakat desa, antara lain tambatan perahu, pasar desa, tempat pemandian umum, saluran irigasi, sanitasi ling­

kung an, pos pelayanan terpadu, sanggar seni dan belajar, serta perpustakaan desa, embung desa, dan jalan desa.

3). Kewenangan desa yang diperoleh dari penugasan oleh Peme rin tah, Pemerintah Daerah Provinsi, atau Pemerintah

Daerah Kabupaten/Kota; dan

4). Kewenangan desa lainnya yang ditugaskan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, atau Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam proses penerapannya harus sesuai dengan ketentuan peraturan perundang­undangan yang berlaku. Kewenangan desa yang dimaksudkan adalah dalam bentuk tugas pembantuan yang dapat ditugaskan langsung dari pemerintah, pemerintah daerah provinsi, danpemerintah daerah kabupaten/kota.

B. Penyelenggaraan Kewenangan Desa

Penyelenggaraan dari kewenangan desa dalam suatu sistem pemeritahan desa, selanjutnya juga telah diatur dalam peraturan perundang­undangan tentang desa, seperti dijelaskan Pada P asal 20 undang­undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa yang mengatur dengan jelas dan tegas tentang kewenangan desa yaitu;

“Pelaksanaan kewenangan berdasarkan hak asal usul dan ke­

wenangan lokal berskala Desa sebagimana yang dimaksud dalam Pasal 19 huruf (a) dan huruf (b) diatur dan diurus oleh Desa.”

Oleh karena itu, tindak lanjut dari suatu proses pelaksanaan kewenangan desa yang berdasarkan pada hak asal usul dari desa, dan juga terhadap kewenangan lokal berskala desa dapat diurus dan dikelola oleh unsur pemerintahan desa (Kepala Desa dan Badan Perwkilan Desa) itu sendiri, baik dari sisi perencanaan desa, pelaksanaan pembangunan desa, penatausahaan pelaksana­

an pembangunan desa, pengawasan pembangunan desa, pengen­

dalian pelaksanaan pembangunan desa, per tanggungjawaban (pelaporan) dari proses pelaksanaan pembangunan desa, serta sampai pada suatu proses penilaian (evaluasi) terhadap hasil pe lak sanaan dari kewenangan desa tersebut, sehingga dapat di­

ketahui capaian pembangunan, manfaat pembangunan dan hasil dari suatu pembangunan desa.

Selanjutnya untuk pelaksanaan terhadap kewenangan tugas lain yang telah diberikan oleh unsur pemerintah, pe me rintah dae­

rah provinsi, dan pemerintah daerah kabupaten/kota juga dapat diurus sendiri oleh desa yang bersangkutan, seperti yang telah dijelaskan dalam Pasal 21 Undang­Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, yaitu; “Pelaksanaan kewenangan yang ditugaskan dan pelaksanaan kewenangan tugas lain dari Pemerintah, Peme­

rintah Daerah Provinsi, atau Peme rintah Daerah Kabupaten/

Kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf (c) dan huruf (d) diurus oleh Desa”.

Selanjutnya pemerintah, pemerintahan daerah provinsi dan pemerintah Kabupaten/Kota juga memberikan penugasan kepada pemerintah desa, seperti yang dijelaskan pada Pasal 22 undang­

undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa yaitu;

(1) Penugasan dari Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah kepada Desa meliputi penyelenggaraan Pemerintah Desa, pelaksanaan Pembangunan Desa, pembinaan kemasya rakat­

an Desa, dan pemberdayaan masyarakat Desa.

(2) Penugasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disertai biaya.

Oleh karena itu, setiap penugasan yang berasal dari un­

sur Pemerintah, Pemerintah Daerah provinsi, dan pemerintah daerah kabupaten/kota juga harus disertai atau dikuti dengan pembiayaan, agar penugasan yang diberikan kepada peme rintah desa dapat dilaksanakan sesuai dengan penugasan yang diberi­

kan oleh unsur atau instansi pemberi tugas, sehingga peme rintah desa akan dapat lebih leluasa dalam menjalankan berbagai ben­

tuk penugasan dari pemerintah, pemerintah daerah provinsi dan pemerintah daerah kabupaten/kota masing­masing.

C. Perbandingan Dengan UU Nomor 32 Tahun 2004.

Terkait dengan kewenangan desa, maka sebagai pem banding dapat dilihat pada pembagian kewenangan desa yang diatur oleh Undang­Undang tentang desa sebelumnya yakni Undang ­ Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan ditindak lanjuti dengan Peraturan Pemerintah Nomor 72 T ahun 2005 tentantg Desa. Terkait dengan kewenangan desa ada sedikit perbedaan antara kewenangan desa yang diatur dalam Undang­Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa dengan Undang­Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

Untuk lebih jelasnya tentang perbedaan dari keberadaan dan bentuk dari suatu kewenangan desa yang ada pada Undang­

Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa dengan Undang­Un­

dang yang ada sebelumnya, yakni Undang­Undangan Nomor 32 Tentang Pemerintahan Daerah, maka dapat dilihat pada tabel 6.

Berdasarkan penjelasan pada pasal 18 dan 19 huruf (a) U ndang­Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang desa, yang di­

maksud dengan “hak asal­usul dan adat istiadat Desa” adalah hak yang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan kehidupan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sedangkan yang dimaksud dengan “hak asal­usul” dalam kewenangan desa tersebut di atas adalah hak yang me rupakan warisan yang masih hidup dan prakarsa Desa atau prakarsa ma­

syarakat Desa sesuai dengan perkembangan kehidupan masya­

rakat, antara lain sistem organisasi adat, kelembagaan, pranata

dan hukum adat, tanah kas Desa, serta kesepakatan dalam ke­

hidupan masyarakat Desa.

Tabel. 6. Perbandingan Kewengan Desa antara UU Nomor 6 Tahun 2014 dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004.

Kewenangan Desa Berdasarkan UU Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa

Kewenangan Desa Berdasarkan UU Nomor

32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah Kewenangan berdasarkan hak

asal­usul Urusan Pemerintahan yang sudah

ada berdasarkan hak asal­usul Desa

Kewenangan lokal yang ber­

skala Desa Urusan Pemerintahan yang

menjadi kewenangan Kabupaten/

Kota yang diserahkan pengaturannya kepada Desa Kewenangan yang ditugas­

kan oleh Pemerintah, Peme­

rin tah Daerah Provinsi, atau Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.

Tugas Pembantuan dari Peme­

rintah, Pemerintah Provinsi, dan/

atau Pemerintah Kabupaten/Kota

Kewenangan lain yang di­

tugas kan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, atau Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota sesuai dengan ketentuan peraturan per­

undang­undangan.

Urusan Pemerintahan lain nya yang oleh Peraturan Per undang­

Undangan diserah kan kepada Desa

Sumber: Data Olahan Penulisan

Selanjutnya yang dimaksud dengan “kewenangan lokal ber­

skala Desa” adalah sutu bentuk kewenangan untuk dapat meng­

atur dan mengurus kepentingan masyarakat Desa yang telah di­

jalankan oleh Desa atau mampu dan efektif dijalankan oleh Desa atau yang muncul karena perkembang an Desa dan prakarsa ma­

syarakat Desa, antara lain adalah tambatan perahu, pasar Desa, tempat pemandian umum, saluran irigasi, sanitasi lingkung an, pos pelayanan terpadu, sanggar seni dan belajar, serta perpustakaan Desa, embung Desa, dan jalan Desa”. Oleh karena itu Kewenang­

an lokal berskala Desa me rupa kan kewenangan yang diberikan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota kepada desa untuk dapat me­

ngatur dan mengurus sendiri kepentingan dari masyarakat desa setempat sesuai dengan peraturan perundang­undangan.

Kepada desa juga diberikan kewenangan untuk menjalankan penugasan dari unsur Pemerintah, Pemerintah daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/ Kota, kewenangan ini dapat diterima secara langsung oleh Desa dari pemerintah, pemerintah daerah provinsi, dan pemerintah daerah kabupaten/kota yang menugaskannya, atau sistem ini yang sering disebut dengan asas Tugas Pembantuan dalam sistem pemerintahan daerah di Indo­

nesia, selain asas otonomi daerah.[]

A. Asas Penyelenggaraan Pemerintahan Desa

Salah satu tingkatan pemerintahan dalam sistem peme rin­

tahan di Indonesia adalah pemerintahan desa selain dari ke bera­

daan pemerintahan (pusat) dan pemerintahan daerah, pemerin­

tahan desa merupakan tingkatan pemerintahan yang terendah dalam sistem pemerintahan Indonesia pada saat ini. Berda sarkan Pasal 23 Undang­Undang Nomor 6 tahun 2014 Tentang Desa, dinyatakan secara jelas dan tegas bahwa; “Peme rintahan Desa diselenggarakan oleh unsur Pemerintah Desa.” Hal ini menjelas­

kan bahwa dalam pemerintahan desa juga terdapat dua unsur lembaga, yakni lembaga Pemerintah Desa dan lembaga Badan Permusyawaratan Desa (BPD), yang kedua­dua nya di sebut de­

ngan unsur penyelenggara pemerintahan Desa”.

Selanjutnya dalam proses penyelenggaraan pemerintahan desa didasarkan pada beberapa asas penyelenggaraan peme rin­

tah an desa, asas penyelenggaraan pemerintahan desa sudah dije­

laskan dalam Pasal 24 Undang­Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, yang menyatakan bahwa;

BAB VI

ASAS PENYELENGGARAAN

Dalam dokumen PEMERINTAHAN DESA - UIR (Halaman 64-68)