tempat. Adat istiadat desa tersebut sudah ada semenjak desa itu ada atau terbentuk.
Berdasarkan kewenangan yang dimiliki oleh desa tersebut, maka kepada pemerintahan desa berdasarkan peraturan per
undangundangan yang berlaku diberikan hak dan kewenangan sebagai berikut;
– Untuk menyelenggarakan pemerintahan desa sesuai dengan tugas dan fungsi dari pemerintahan desa.
– Kepada pemerintah desa juga diberikan kewenangan untuk dapat melaksanakan suatu proses pembangunan desa sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat desa itu sendiri, oleh karena itu pemerintahan desa dibantu oleh lembaga ke
masyarakatan desa (RT, RW, LPM, PKK dan Karang Taruna dan dapat dibentuk lembaga kemasyarakatan desa lainnya sesuai dengan kebutuhan) dapat membuat programprogram terkait dengan pembangunan desa baik secara phisik maupun pembangunan yang bersifat non fisik.
– Pemerintahan desa juga diberikan kewenangan untuk dapat melakukan berbagai bentuk program dan kegiatan yang terkait dengan pembinaan kemasyarakatan desa.
– dan kewenangan untuk melakukan upaya pemberdayaan ter hadap masyarakat desa berdasarkan prakarsa dari masya
rakat, hak asal usul, dan adat istiadat dari masyarakat setem
pat yang telah ada semenjak desa tersebut terbentuk.
Sehubungan dengan permasalahan dan fenomena tersebut di atas, maka tentang bentuk dan jenis dari kewenangan suatu desa telah diatur dengan jelas dan tegas dalam Pasal 19 Undang
Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, bahwa;
“Kewenangan Desa meliputi halhal sebagai berikut:
a. Kewenangan berdasarkan hak asal usul
b. Kewenangan lokal berskala Desa
c. Kewenangan yang ditugaskan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, atau Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.
d. Kewenangan lain yang ditugaskan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, atau Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota sesuai dengan ketentuan peraturan per undangundangan.
Berdasarkan pasal di atas, dapat diketahui bahwa dari sisi bentuk dan jenis kewenangan, maka desa memiliki empat ke
wenangan yang meliputi halhal sebagai berikut;
1). Kewenangan diperoleh berdasarkan hak asal usul dari suatu desa. Yang dimaksud dengan “hak asal usul” menurut penje
lasan pasal 19 huruf (a) UndangUndang Nomor 6 Tahun 2014 tentang desa adalah; hak yang merupakan waris an yang masih hidup dan prakarsa desa atau prakarsa masyarakat desa sesuai dengan perkembangan kehidupan masyarakat, antara lain sistem organisasi masyarakat adat, kelembagaan, pranata dan hukum adat, tanah kas desa, serta kesepakatan dalam kehidupan masyarakat desa.
2). Kewenangan lokal berskala desa, yang dimaksud dengan
“kewe nangan lokal berskala desa” tersebut di atas adalah suatu bentuk kewenangan untuk dapat mengatur dan meng
urus kepentingan dari masyarakat desa yang telah dijalankan oleh desa atau mampu dan efektif dijalankan oleh suatu desa atau yang muncul karena perkembangan desa dan prakarsa dari masyarakat desa, antara lain tambatan perahu, pasar desa, tempat pemandian umum, saluran irigasi, sanitasi ling
kung an, pos pelayanan terpadu, sanggar seni dan belajar, serta perpustakaan desa, embung desa, dan jalan desa.
3). Kewenangan desa yang diperoleh dari penugasan oleh Peme rin tah, Pemerintah Daerah Provinsi, atau Pemerintah
Daerah Kabupaten/Kota; dan
4). Kewenangan desa lainnya yang ditugaskan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, atau Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam proses penerapannya harus sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. Kewenangan desa yang dimaksudkan adalah dalam bentuk tugas pembantuan yang dapat ditugaskan langsung dari pemerintah, pemerintah daerah provinsi, danpemerintah daerah kabupaten/kota.
B. Penyelenggaraan Kewenangan Desa
Penyelenggaraan dari kewenangan desa dalam suatu sistem pemeritahan desa, selanjutnya juga telah diatur dalam peraturan perundangundangan tentang desa, seperti dijelaskan Pada P asal 20 undangundang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa yang mengatur dengan jelas dan tegas tentang kewenangan desa yaitu;
“Pelaksanaan kewenangan berdasarkan hak asal usul dan ke
wenangan lokal berskala Desa sebagimana yang dimaksud dalam Pasal 19 huruf (a) dan huruf (b) diatur dan diurus oleh Desa.”
Oleh karena itu, tindak lanjut dari suatu proses pelaksanaan kewenangan desa yang berdasarkan pada hak asal usul dari desa, dan juga terhadap kewenangan lokal berskala desa dapat diurus dan dikelola oleh unsur pemerintahan desa (Kepala Desa dan Badan Perwkilan Desa) itu sendiri, baik dari sisi perencanaan desa, pelaksanaan pembangunan desa, penatausahaan pelaksana
an pembangunan desa, pengawasan pembangunan desa, pengen
dalian pelaksanaan pembangunan desa, per tanggungjawaban (pelaporan) dari proses pelaksanaan pembangunan desa, serta sampai pada suatu proses penilaian (evaluasi) terhadap hasil pe lak sanaan dari kewenangan desa tersebut, sehingga dapat di
ketahui capaian pembangunan, manfaat pembangunan dan hasil dari suatu pembangunan desa.
Selanjutnya untuk pelaksanaan terhadap kewenangan tugas lain yang telah diberikan oleh unsur pemerintah, pe me rintah dae
rah provinsi, dan pemerintah daerah kabupaten/kota juga dapat diurus sendiri oleh desa yang bersangkutan, seperti yang telah dijelaskan dalam Pasal 21 UndangUndang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, yaitu; “Pelaksanaan kewenangan yang ditugaskan dan pelaksanaan kewenangan tugas lain dari Pemerintah, Peme
rintah Daerah Provinsi, atau Peme rintah Daerah Kabupaten/
Kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf (c) dan huruf (d) diurus oleh Desa”.
Selanjutnya pemerintah, pemerintahan daerah provinsi dan pemerintah Kabupaten/Kota juga memberikan penugasan kepada pemerintah desa, seperti yang dijelaskan pada Pasal 22 undang
undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa yaitu;
(1) Penugasan dari Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah kepada Desa meliputi penyelenggaraan Pemerintah Desa, pelaksanaan Pembangunan Desa, pembinaan kemasya rakat
an Desa, dan pemberdayaan masyarakat Desa.
(2) Penugasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disertai biaya.
Oleh karena itu, setiap penugasan yang berasal dari un
sur Pemerintah, Pemerintah Daerah provinsi, dan pemerintah daerah kabupaten/kota juga harus disertai atau dikuti dengan pembiayaan, agar penugasan yang diberikan kepada peme rintah desa dapat dilaksanakan sesuai dengan penugasan yang diberi
kan oleh unsur atau instansi pemberi tugas, sehingga peme rintah desa akan dapat lebih leluasa dalam menjalankan berbagai ben
tuk penugasan dari pemerintah, pemerintah daerah provinsi dan pemerintah daerah kabupaten/kota masingmasing.
C. Perbandingan Dengan UU Nomor 32 Tahun 2004.
Terkait dengan kewenangan desa, maka sebagai pem banding dapat dilihat pada pembagian kewenangan desa yang diatur oleh UndangUndang tentang desa sebelumnya yakni Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan ditindak lanjuti dengan Peraturan Pemerintah Nomor 72 T ahun 2005 tentantg Desa. Terkait dengan kewenangan desa ada sedikit perbedaan antara kewenangan desa yang diatur dalam UndangUndang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa dengan UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
Untuk lebih jelasnya tentang perbedaan dari keberadaan dan bentuk dari suatu kewenangan desa yang ada pada Undang
Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa dengan UndangUn
dang yang ada sebelumnya, yakni UndangUndangan Nomor 32 Tentang Pemerintahan Daerah, maka dapat dilihat pada tabel 6.
Berdasarkan penjelasan pada pasal 18 dan 19 huruf (a) U ndangUndang Nomor 6 Tahun 2014 tentang desa, yang di
maksud dengan “hak asalusul dan adat istiadat Desa” adalah hak yang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan kehidupan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sedangkan yang dimaksud dengan “hak asalusul” dalam kewenangan desa tersebut di atas adalah hak yang me rupakan warisan yang masih hidup dan prakarsa Desa atau prakarsa ma
syarakat Desa sesuai dengan perkembangan kehidupan masya
rakat, antara lain sistem organisasi adat, kelembagaan, pranata
dan hukum adat, tanah kas Desa, serta kesepakatan dalam ke
hidupan masyarakat Desa.
Tabel. 6. Perbandingan Kewengan Desa antara UU Nomor 6 Tahun 2014 dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004.
Kewenangan Desa Berdasarkan UU Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa
Kewenangan Desa Berdasarkan UU Nomor
32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah Kewenangan berdasarkan hak
asalusul Urusan Pemerintahan yang sudah
ada berdasarkan hak asalusul Desa
Kewenangan lokal yang ber
skala Desa Urusan Pemerintahan yang
menjadi kewenangan Kabupaten/
Kota yang diserahkan pengaturannya kepada Desa Kewenangan yang ditugas
kan oleh Pemerintah, Peme
rin tah Daerah Provinsi, atau Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.
Tugas Pembantuan dari Peme
rintah, Pemerintah Provinsi, dan/
atau Pemerintah Kabupaten/Kota
Kewenangan lain yang di
tugas kan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, atau Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota sesuai dengan ketentuan peraturan per
undangundangan.
Urusan Pemerintahan lain nya yang oleh Peraturan Per undang
Undangan diserah kan kepada Desa
Sumber: Data Olahan Penulisan
Selanjutnya yang dimaksud dengan “kewenangan lokal ber
skala Desa” adalah sutu bentuk kewenangan untuk dapat meng
atur dan mengurus kepentingan masyarakat Desa yang telah di
jalankan oleh Desa atau mampu dan efektif dijalankan oleh Desa atau yang muncul karena perkembang an Desa dan prakarsa ma
syarakat Desa, antara lain adalah tambatan perahu, pasar Desa, tempat pemandian umum, saluran irigasi, sanitasi lingkung an, pos pelayanan terpadu, sanggar seni dan belajar, serta perpustakaan Desa, embung Desa, dan jalan Desa”. Oleh karena itu Kewenang
an lokal berskala Desa me rupa kan kewenangan yang diberikan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota kepada desa untuk dapat me
ngatur dan mengurus sendiri kepentingan dari masyarakat desa setempat sesuai dengan peraturan perundangundangan.
Kepada desa juga diberikan kewenangan untuk menjalankan penugasan dari unsur Pemerintah, Pemerintah daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/ Kota, kewenangan ini dapat diterima secara langsung oleh Desa dari pemerintah, pemerintah daerah provinsi, dan pemerintah daerah kabupaten/kota yang menugaskannya, atau sistem ini yang sering disebut dengan asas Tugas Pembantuan dalam sistem pemerintahan daerah di Indo
nesia, selain asas otonomi daerah.[]
A. Asas Penyelenggaraan Pemerintahan Desa
Salah satu tingkatan pemerintahan dalam sistem peme rin
tahan di Indonesia adalah pemerintahan desa selain dari ke bera
daan pemerintahan (pusat) dan pemerintahan daerah, pemerin
tahan desa merupakan tingkatan pemerintahan yang terendah dalam sistem pemerintahan Indonesia pada saat ini. Berda sarkan Pasal 23 UndangUndang Nomor 6 tahun 2014 Tentang Desa, dinyatakan secara jelas dan tegas bahwa; “Peme rintahan Desa diselenggarakan oleh unsur Pemerintah Desa.” Hal ini menjelas
kan bahwa dalam pemerintahan desa juga terdapat dua unsur lembaga, yakni lembaga Pemerintah Desa dan lembaga Badan Permusyawaratan Desa (BPD), yang keduadua nya di sebut de
ngan unsur penyelenggara pemerintahan Desa”.
Selanjutnya dalam proses penyelenggaraan pemerintahan desa didasarkan pada beberapa asas penyelenggaraan peme rin
tah an desa, asas penyelenggaraan pemerintahan desa sudah dije
laskan dalam Pasal 24 UndangUndang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, yang menyatakan bahwa;