• Tidak ada hasil yang ditemukan

LEMBAGA KEMASYARAKATAN DAN LEMBAGA ADAT DESA

Dalam dokumen PEMERINTAHAN DESA - UIR (Halaman 149-153)

UU Nomor 6 Tahun 2014

UU Nomor 32 Tahun 2004 (PP Nomor 72

Tahun 2005) Keterangan pemerintahan

desa.

2. Pelaksanaan pem bangunan Desa

3. Pembinaan kemasya rakatan 4. Desa

5. Pemberdayaan ma sya rakat 6. Desa

memperhatikan kelestarian ling­

kungan hidup.

desa dengan kerjasama dengan pihak ketiga

Tidak diatur tentang Penyelesaian perselisihan kerjasama desa

Perselisihan ker ja sama antar desa dalam satu keca mat an, difasilitasi dan di selesaikan oleh Camat. Perse li sihan kerjasama antar desa pada kecamatan berbeda da lam satu kabupaten/

kota difasilitasi dan diselesaikan oleh Bupati/

Walikota.

Sumber: Data Olahan Penulisan

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa secara prinsip tidak ada perbedaan yang mendasar antara UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa dengan UU Nomor 32 Tahun 2004 yang ditindak­

lanjuti dengan Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa, perbedaannya hanya terletak pada unsur ruang lingkup kerjasama, serta dari sisi proses penyelesai an perselisihan kerjasama antar desa.[]

A. Lembaga Kemasyarakatan Desa

Dalam upaya untuk proses pemberdayaan masyarajat desa dan untuk membantu tugas­tugas pemerintahan desa dalam proses penyelenggaraan pemerintahan desa, maka di desa dapat dibentuk lembaga kemasyarakatan desa sesuai dengan kebutuh­

an desa, baik dalam bentuk kebutuhan masyarakat desa maupun dalam bentuk kebutuhan dari pemerintahan desa.

Lembaga kemasyarakatan desa menurut Rahyunir (2012:10) adalah: “suatu lembaga yang dibentuk oleh masyarakat desa se­

tempat, yang diakui dan dibina oleh pemerintah sesuai dengan kebutuhan desa, dan berperan atau berfungsi sebagai perantara (mediating structure) dan unsur yang membantu tugas peme­

rintah desa dan pemerintah daerah setempat”.

Lembaga kemasyarakatan desa keberadaannya sudah di atur dengan jelas pada Pasal Pasal 94 Undang­Undang Nomor 6 Ta­

hun 2014 tentang Desa, yang berbuyi sebagai berikut:

(1) Desa mendayagunakan lembaga kemasyarakatan Desa yang ada dalam membantu pelaksanaan fungsi penyelenggaraan

BAB XVI

LEMBAGA KEMASYARAKATAN

Pemerintahan Desa, pelaksanaan pembangunan Desa, pem­

binaan kemasyarakatan Desa, dan pemberdayaan masyarakat Desa.

(2) Lembaga kemasyarakatan Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan wadah partisipasi masyarakat Desa se­

bagai mitra Pemerintah Desa.

(3) Lembaga kemasyarakatan Desa bertugas melakukan pem­

ber dayaan masyarakat Desa, ikut serta merencanakan dan melaksanakan pembangunan, serta meningkatkan pelayanan masyarakat Desa.

(4) Pelaksanaan program dan kegiatan yang bersumber dari Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, Pemerintah Dae­

rah Kabupaten/Kota, dan lembaga non­Pemerintah wajib memberdayakan dan mendayagunakan lembaga ke masya ra­

katan yang sudah ada di Desa.

Berdasarkan ketentuan pada pasal tersebut di atas, maka terkait dengan lembaga kemasyarakatan desa dapat dijelaskan beberapa hal, yakni;

– Dalam proses pemberdayagunaan desa maka di desa dapat dibentuk lembaga kemasyarakatan desa oleh masyarakat desa setempat sesuai dengan kebutuhan desa, dan berperan untuk;

1. membantu pelaksanaan fungsi penyelenggaraan peme­

rintah an desa,

2. pelaksanaan pembangunan desa, 3. pembinaan kemasyarakatan desa, 4. dan pemberdayaan masyarakat desa.

– Lembaga kemasyarakatan desa, merupakan wadah untuk partisipasi masyarakat desa serta sebagai mitra pemerintah desa.

– Lembaga kemasyarakatan desa bertugas untuk melakukan hal­hal sebagai berikut;

1. Ikut serta dalam pemberdayaan masyarakat desa 2. Ikut serta dalam merencanakan pembangunan 3. Ikutserta dalam melaksanakan pembangunan 4. Ikut serta meningkatkan pelayanan masyarakat desa – Pelaksanaan terhadap program dan kegiatan dari pemerintah,

pemerintah daerah provinsi, pemerintahdaerah kabuaten/

kota, dan lembaga non­pemerintah wajib mendayagunakan lembaga kemasyarakatan desa yang sudah ada di desa.

Suatu Lembaga kemasyarakatan desa/kelurahan memiliki peranan dalam membantu tugas pemerintah, khususnya peme­

rintah daerah kabupaten/kota, Menurut Rahyunir (2012;245­

246), bahwa;

“Lembaga kemasyarakatan desa/kelurahan memiliki:

A. Tugas, yakni;

1). Motivator masyarakat 2). Inspirator masyarakat 3). Mediator masyarakat 4). Aspirator masyarakat B. Fungsi, yakni;

1). Aspirator masyarakat 2). Motivator masyarakat 3). Mediator masyarakat 4). Inspirator masyarakat C. Kewajiban, yakni;

1). Eksekutor kebijakan

2). Stabilisator kehidupan masyarakat 3). Mediator masyarakat

Berdasarkan tugas, fungsi, dan kewajiban dari lembaga ke­

masyarakatan desa/kelurahan tersebut dapat disimpulkan, bahwa peranan dari suatu lembaga kemsyarakatan desa/ke­

lurahan dalam menbantu tugas pemerintah dan pemerintah

daerah kabupaten/kota adalah sebagai berikut:

1). Motivator masyarakat 2). Inspirator pembangunan 3). Mediator masyarakat 4). Aspirator masyarakat 5). Eksekutor kebijakan

6). Stabilisator kehidupan masyarakat.

Oleh karena itu, dalam menjalankan peranannya membantu tugas pemerintah dan pemerintah daerah provinsi dan peme­

rintah daerah kabupaten/kota, maka lembaga kemasyarakat­

an desa/kelurahan dengan pemerintah desa/kelurahan me­

miliki beberapa bentuk hubungan kerja, menurut Rahyunir (2012;231), bahwa; “bentuk hubungan kerja antara lembaga kemasyarakatan desa/kelurahan dengan pemerintah, peme­

rintah daerah provinsi dan pemerintah daerah kabupaten/

kota, adalah dalam bentuk hubungan kerja sebagai berikut;

1). Hubungan Konsultatif 2). Hubungan Koordinatif 3). Hubungan Kemitraan 4). Hubungan Deliberasi 5). Hubungan Mediasi

6). Hubungan Kontrol Sosial”.

Secara realita, bahwa selama ini keberadaan dari suatu lem­

baga kemasyarakatan desa/kelurahan telah dirasakan oleh unsur pemerintah maupun oleh unsur masyarakat desa setempat, baik dalam membantu tugas pemerintah maupun dalam proses pem­

berdayaan masyarakat desa setempat.

Oleh karena itu, kedepan lembaga kemasyarakatan desa/ke­

lurahan memiliki prospek dan peluang yang sangat besar untuk dikembangkan dalam membantu tugas­tugas peme rintah dan pemerintah daerah (provinsi, kabupaten, dan Kota) pada masa yang akan datang, seperti dinyatakan oleh Vincent dan Clere dalam Thoha (2003:204­205), yang menyatakan bahwa; “Organi­

sasi civil Society ini melakukan peran yang amat penting sebagai institusi penghubung antara unsur bisnis, unsur peme rintah, dan unsur organisasi­organisai grass roots yang berpartisipasi sebagai partner (mitra) yang legitimate dalam proses memberikan pelay­

anan kepada masyarakat sipil. Pada hakekatnya, Civil Society sebenarnya tidak lain artinya sebagai suatu lembaga kemasyara­

katan yang ingin mendudukkan supremasi hukum dalam tatanan kenegaraan. Salah satu ciri dari civil society yang sangat menon­

jol adalah demokrasi, dan wujudnya adalah lahirnya asosiasi dan organisasi otonomi dan voluntan yang berbasiskan kemasyaraka­

tan”.

Oleh karena itu, lembaga kemasyarakatan yang ada pada saat ini seperti lembaga Rukun Tetangga, lembaga Rukun Warga, lembaga LPM, Lembaga PKK, Lembaga Karang Taruna, serta lembaga kemasyarakatan desa lainnya yang dapat dibentuk di desa/kelurahan perlu terus untuk dibina dan diberdayakan se­

bagai mitra kerja pemerintah dalam memberikan pelayanan ke­

pada unsur masyarakat, khususnya masyarakat desa.

B. Lembaga Adat Desa

Selain lembaga kemasyarakatan desa di desa juga diakui ke ber adaan dari lembaga adat desa, yang berfungsi membantu tugas­tugas pemerintah desa dalam hal pembinaan dan pelestari­

an adat desa, keberadaan lembaga adat desa telah diatur dengan jelas pada Pasal 95 Undang­Undang Nomor 6 Tahun 2014 ten­

tang Desa, yang berbunyi sebagai berikut;

(1) Pemerintah Desa dan masyarakat Desa dapat membentuk lembaga adat Desa.

(2) Lembaga adat Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupa kan lembaga yang menyelenggarakan fungsi adat

istiadat dan menjadi bagian dari susunan asli Desa yang tumbuh dan berkembang atas prakarsa masyarakat Desa.

(3) Lembaga adat Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertugas membantu Pemerintah Desa dan sebagai mitra dalam memberdayakan, melestarikan, dan mengembangkan adat istiadat sebagai wujud pengakuan terhadap adat istiadat masyarakat Desa.

Berdasarkan ketentuan pada pasal tersebut di atas, maka ter­

kait dengan keberadaan dan dan fungsi lembaga adat desa, maka dapat dinyatakan hal­hal sebagai berikut;

– Pemerintah desa bersama dengan masyarakat desa dapat mem bentuk lembaga adat desa.

– Yang dimaksud dengan lembaga adat desa adalah merupakan suatu lembaga yang menyelenggarakan fungsi adat desa dan menjadi bagian dari susunan asli desa yang tumbuh dan ber­

kembang atas prakarsa masyarakat desa.

– Tugas dari lembaga adat desa adalah membantu pemerintah desa dan sebagai mitra dalam pemberdayaan , melestarikan, dan mengembangkan adat istiadat sebagai wujud pengakuan terhadap adat istiadat masyarakat desa.

Sehubungan dengan lembaga adat, maka Ter Haar dalam Soemadiningrat yang dikutip oleh Nurcholis (2011), bahwa;

“masya rakat hukum adat (adatrechtgemeenschap) sebagai kum­

pul an orang yang teratur, bersifat tetap tetap serta memiliki kekua saan dan kewenangan untuk mengurus kekayaannya sen­

diri berupa benda­benda, baik kelihatan maupun tidak kelihatan, sehingga menurut Ter Haar masyarakat hukum adat mempunyai tiga komponen, yakni;

1. Sekumpulan orang yang teratur

2. Mempunyai lembaga yang bersifat ajeg dan tetap

3. Memilki kekuasaan dan kewenangan untuk mengurus harta bendanya.

C. Perbandingan Dengan UU Nomor 32 Tahun 2004 Keberadaan dan pengaturan terhadap lembaga kemasyarakat­

an desa/kelurahan tidak ada perbedaan yang bersifat prinsip, mendasar dan berarti antara Undang­Undang yang baru yakni Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa dengan Undang­Undang sebelumnya yakni Undang­Undang Nomor 32 Tahun 2004 Ten­

tang Pemerintahan Daerah yang ditindaklanjuti dengan Undang­

Undang Nomor 72 Tahun tentang Desa.

Keberadaan lembaga kemasyarakatan desa/kelurahan tetap diakui sebagaimana sebelumnya, dan bentuk kelembagaan dari lembagakemasyarakatan juga sama, seperti;

1. Lembaga Rukun Tetangga (RT) 2. Lembaga Rukun Warga (RW)

3. Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM)

4. Lembaga pemberdayaan dan kesejahteraan keluarga 5. Lembaga Karang Taruna

6. Dan Lembaga lainnya yang dapat dibentuk oleh masyarakat desa/kelurahan

Sedangkan posisi lembaga kemasyarakatan desa/kelurahan bukan sebagai pelaksanaa/penyelenggaraa pemerintahan akan tetapi lembaga kemasyarakatan Desa/Kelurahan hanya bersifat

“membantu” dalam proses penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan.

Begitu juga Lembaga Adat Desa sudah ada dan sudat di atur kebaradaannya pada Undang­Undang Nomor 32 Tahun 2004 ten tang Pemerintahan Daerah, namun pada Undang­Undang

yang baru, yakni Undang­Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa lebih dititikberatkan pada lembaga kemasyarakatan Desa/

Kelurahan.[]

A. Penataan Desa Adat

Sebagai sesuatu hal yang baru pada suatu pemerintahan desa, maka dibandingkan dengan Undang­Undang sebelumnya, yakni dalam Undang­Undang Nomor 6 tahun 2014 tentang desa adalah adanya “desa adat” selain dari keberadaan desa, selama ini

Dalam dokumen PEMERINTAHAN DESA - UIR (Halaman 149-153)