UU Nomor 6 Tahun 2014
UU Nomor 32 Tahun 2004 (PP Nomor 72
Tahun 2005) Keterangan pemerintahan
desa.
2. Pelaksanaan pem bangunan Desa
3. Pembinaan kemasya rakatan 4. Desa
5. Pemberdayaan ma sya rakat 6. Desa
memperhatikan kelestarian ling
kungan hidup.
desa dengan kerjasama dengan pihak ketiga
Tidak diatur tentang Penyelesaian perselisihan kerjasama desa
Perselisihan ker ja sama antar desa dalam satu keca mat an, difasilitasi dan di selesaikan oleh Camat. Perse li sihan kerjasama antar desa pada kecamatan berbeda da lam satu kabupaten/
kota difasilitasi dan diselesaikan oleh Bupati/
Walikota.
Sumber: Data Olahan Penulisan
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa secara prinsip tidak ada perbedaan yang mendasar antara UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa dengan UU Nomor 32 Tahun 2004 yang ditindak
lanjuti dengan Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa, perbedaannya hanya terletak pada unsur ruang lingkup kerjasama, serta dari sisi proses penyelesai an perselisihan kerjasama antar desa.[]
A. Lembaga Kemasyarakatan Desa
Dalam upaya untuk proses pemberdayaan masyarajat desa dan untuk membantu tugastugas pemerintahan desa dalam proses penyelenggaraan pemerintahan desa, maka di desa dapat dibentuk lembaga kemasyarakatan desa sesuai dengan kebutuh
an desa, baik dalam bentuk kebutuhan masyarakat desa maupun dalam bentuk kebutuhan dari pemerintahan desa.
Lembaga kemasyarakatan desa menurut Rahyunir (2012:10) adalah: “suatu lembaga yang dibentuk oleh masyarakat desa se
tempat, yang diakui dan dibina oleh pemerintah sesuai dengan kebutuhan desa, dan berperan atau berfungsi sebagai perantara (mediating structure) dan unsur yang membantu tugas peme
rintah desa dan pemerintah daerah setempat”.
Lembaga kemasyarakatan desa keberadaannya sudah di atur dengan jelas pada Pasal Pasal 94 UndangUndang Nomor 6 Ta
hun 2014 tentang Desa, yang berbuyi sebagai berikut:
(1) Desa mendayagunakan lembaga kemasyarakatan Desa yang ada dalam membantu pelaksanaan fungsi penyelenggaraan
BAB XVI
LEMBAGA KEMASYARAKATAN
Pemerintahan Desa, pelaksanaan pembangunan Desa, pem
binaan kemasyarakatan Desa, dan pemberdayaan masyarakat Desa.
(2) Lembaga kemasyarakatan Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan wadah partisipasi masyarakat Desa se
bagai mitra Pemerintah Desa.
(3) Lembaga kemasyarakatan Desa bertugas melakukan pem
ber dayaan masyarakat Desa, ikut serta merencanakan dan melaksanakan pembangunan, serta meningkatkan pelayanan masyarakat Desa.
(4) Pelaksanaan program dan kegiatan yang bersumber dari Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, Pemerintah Dae
rah Kabupaten/Kota, dan lembaga nonPemerintah wajib memberdayakan dan mendayagunakan lembaga ke masya ra
katan yang sudah ada di Desa.
Berdasarkan ketentuan pada pasal tersebut di atas, maka terkait dengan lembaga kemasyarakatan desa dapat dijelaskan beberapa hal, yakni;
– Dalam proses pemberdayagunaan desa maka di desa dapat dibentuk lembaga kemasyarakatan desa oleh masyarakat desa setempat sesuai dengan kebutuhan desa, dan berperan untuk;
1. membantu pelaksanaan fungsi penyelenggaraan peme
rintah an desa,
2. pelaksanaan pembangunan desa, 3. pembinaan kemasyarakatan desa, 4. dan pemberdayaan masyarakat desa.
– Lembaga kemasyarakatan desa, merupakan wadah untuk partisipasi masyarakat desa serta sebagai mitra pemerintah desa.
– Lembaga kemasyarakatan desa bertugas untuk melakukan halhal sebagai berikut;
1. Ikut serta dalam pemberdayaan masyarakat desa 2. Ikut serta dalam merencanakan pembangunan 3. Ikutserta dalam melaksanakan pembangunan 4. Ikut serta meningkatkan pelayanan masyarakat desa – Pelaksanaan terhadap program dan kegiatan dari pemerintah,
pemerintah daerah provinsi, pemerintahdaerah kabuaten/
kota, dan lembaga nonpemerintah wajib mendayagunakan lembaga kemasyarakatan desa yang sudah ada di desa.
Suatu Lembaga kemasyarakatan desa/kelurahan memiliki peranan dalam membantu tugas pemerintah, khususnya peme
rintah daerah kabupaten/kota, Menurut Rahyunir (2012;245
246), bahwa;
“Lembaga kemasyarakatan desa/kelurahan memiliki:
A. Tugas, yakni;
1). Motivator masyarakat 2). Inspirator masyarakat 3). Mediator masyarakat 4). Aspirator masyarakat B. Fungsi, yakni;
1). Aspirator masyarakat 2). Motivator masyarakat 3). Mediator masyarakat 4). Inspirator masyarakat C. Kewajiban, yakni;
1). Eksekutor kebijakan
2). Stabilisator kehidupan masyarakat 3). Mediator masyarakat
Berdasarkan tugas, fungsi, dan kewajiban dari lembaga ke
masyarakatan desa/kelurahan tersebut dapat disimpulkan, bahwa peranan dari suatu lembaga kemsyarakatan desa/ke
lurahan dalam menbantu tugas pemerintah dan pemerintah
daerah kabupaten/kota adalah sebagai berikut:
1). Motivator masyarakat 2). Inspirator pembangunan 3). Mediator masyarakat 4). Aspirator masyarakat 5). Eksekutor kebijakan
6). Stabilisator kehidupan masyarakat.
Oleh karena itu, dalam menjalankan peranannya membantu tugas pemerintah dan pemerintah daerah provinsi dan peme
rintah daerah kabupaten/kota, maka lembaga kemasyarakat
an desa/kelurahan dengan pemerintah desa/kelurahan me
miliki beberapa bentuk hubungan kerja, menurut Rahyunir (2012;231), bahwa; “bentuk hubungan kerja antara lembaga kemasyarakatan desa/kelurahan dengan pemerintah, peme
rintah daerah provinsi dan pemerintah daerah kabupaten/
kota, adalah dalam bentuk hubungan kerja sebagai berikut;
1). Hubungan Konsultatif 2). Hubungan Koordinatif 3). Hubungan Kemitraan 4). Hubungan Deliberasi 5). Hubungan Mediasi
6). Hubungan Kontrol Sosial”.
Secara realita, bahwa selama ini keberadaan dari suatu lem
baga kemasyarakatan desa/kelurahan telah dirasakan oleh unsur pemerintah maupun oleh unsur masyarakat desa setempat, baik dalam membantu tugas pemerintah maupun dalam proses pem
berdayaan masyarakat desa setempat.
Oleh karena itu, kedepan lembaga kemasyarakatan desa/ke
lurahan memiliki prospek dan peluang yang sangat besar untuk dikembangkan dalam membantu tugastugas peme rintah dan pemerintah daerah (provinsi, kabupaten, dan Kota) pada masa yang akan datang, seperti dinyatakan oleh Vincent dan Clere dalam Thoha (2003:204205), yang menyatakan bahwa; “Organi
sasi civil Society ini melakukan peran yang amat penting sebagai institusi penghubung antara unsur bisnis, unsur peme rintah, dan unsur organisasiorganisai grass roots yang berpartisipasi sebagai partner (mitra) yang legitimate dalam proses memberikan pelay
anan kepada masyarakat sipil. Pada hakekatnya, Civil Society sebenarnya tidak lain artinya sebagai suatu lembaga kemasyara
katan yang ingin mendudukkan supremasi hukum dalam tatanan kenegaraan. Salah satu ciri dari civil society yang sangat menon
jol adalah demokrasi, dan wujudnya adalah lahirnya asosiasi dan organisasi otonomi dan voluntan yang berbasiskan kemasyaraka
tan”.
Oleh karena itu, lembaga kemasyarakatan yang ada pada saat ini seperti lembaga Rukun Tetangga, lembaga Rukun Warga, lembaga LPM, Lembaga PKK, Lembaga Karang Taruna, serta lembaga kemasyarakatan desa lainnya yang dapat dibentuk di desa/kelurahan perlu terus untuk dibina dan diberdayakan se
bagai mitra kerja pemerintah dalam memberikan pelayanan ke
pada unsur masyarakat, khususnya masyarakat desa.
B. Lembaga Adat Desa
Selain lembaga kemasyarakatan desa di desa juga diakui ke ber adaan dari lembaga adat desa, yang berfungsi membantu tugastugas pemerintah desa dalam hal pembinaan dan pelestari
an adat desa, keberadaan lembaga adat desa telah diatur dengan jelas pada Pasal 95 UndangUndang Nomor 6 Tahun 2014 ten
tang Desa, yang berbunyi sebagai berikut;
(1) Pemerintah Desa dan masyarakat Desa dapat membentuk lembaga adat Desa.
(2) Lembaga adat Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupa kan lembaga yang menyelenggarakan fungsi adat
istiadat dan menjadi bagian dari susunan asli Desa yang tumbuh dan berkembang atas prakarsa masyarakat Desa.
(3) Lembaga adat Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertugas membantu Pemerintah Desa dan sebagai mitra dalam memberdayakan, melestarikan, dan mengembangkan adat istiadat sebagai wujud pengakuan terhadap adat istiadat masyarakat Desa.
Berdasarkan ketentuan pada pasal tersebut di atas, maka ter
kait dengan keberadaan dan dan fungsi lembaga adat desa, maka dapat dinyatakan halhal sebagai berikut;
– Pemerintah desa bersama dengan masyarakat desa dapat mem bentuk lembaga adat desa.
– Yang dimaksud dengan lembaga adat desa adalah merupakan suatu lembaga yang menyelenggarakan fungsi adat desa dan menjadi bagian dari susunan asli desa yang tumbuh dan ber
kembang atas prakarsa masyarakat desa.
– Tugas dari lembaga adat desa adalah membantu pemerintah desa dan sebagai mitra dalam pemberdayaan , melestarikan, dan mengembangkan adat istiadat sebagai wujud pengakuan terhadap adat istiadat masyarakat desa.
Sehubungan dengan lembaga adat, maka Ter Haar dalam Soemadiningrat yang dikutip oleh Nurcholis (2011), bahwa;
“masya rakat hukum adat (adatrechtgemeenschap) sebagai kum
pul an orang yang teratur, bersifat tetap tetap serta memiliki kekua saan dan kewenangan untuk mengurus kekayaannya sen
diri berupa bendabenda, baik kelihatan maupun tidak kelihatan, sehingga menurut Ter Haar masyarakat hukum adat mempunyai tiga komponen, yakni;
1. Sekumpulan orang yang teratur
2. Mempunyai lembaga yang bersifat ajeg dan tetap
3. Memilki kekuasaan dan kewenangan untuk mengurus harta bendanya.
C. Perbandingan Dengan UU Nomor 32 Tahun 2004 Keberadaan dan pengaturan terhadap lembaga kemasyarakat
an desa/kelurahan tidak ada perbedaan yang bersifat prinsip, mendasar dan berarti antara UndangUndang yang baru yakni Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa dengan UndangUndang sebelumnya yakni UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 Ten
tang Pemerintahan Daerah yang ditindaklanjuti dengan Undang
Undang Nomor 72 Tahun tentang Desa.
Keberadaan lembaga kemasyarakatan desa/kelurahan tetap diakui sebagaimana sebelumnya, dan bentuk kelembagaan dari lembagakemasyarakatan juga sama, seperti;
1. Lembaga Rukun Tetangga (RT) 2. Lembaga Rukun Warga (RW)
3. Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM)
4. Lembaga pemberdayaan dan kesejahteraan keluarga 5. Lembaga Karang Taruna
6. Dan Lembaga lainnya yang dapat dibentuk oleh masyarakat desa/kelurahan
Sedangkan posisi lembaga kemasyarakatan desa/kelurahan bukan sebagai pelaksanaa/penyelenggaraa pemerintahan akan tetapi lembaga kemasyarakatan Desa/Kelurahan hanya bersifat
“membantu” dalam proses penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan.
Begitu juga Lembaga Adat Desa sudah ada dan sudat di atur kebaradaannya pada UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 ten tang Pemerintahan Daerah, namun pada UndangUndang
yang baru, yakni UndangUndang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa lebih dititikberatkan pada lembaga kemasyarakatan Desa/
Kelurahan.[]
A. Penataan Desa Adat
Sebagai sesuatu hal yang baru pada suatu pemerintahan desa, maka dibandingkan dengan UndangUndang sebelumnya, yakni dalam UndangUndang Nomor 6 tahun 2014 tentang desa adalah adanya “desa adat” selain dari keberadaan desa, selama ini