• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lahirnya Sebuah Era Baru

Dalam dokumen SUARA KARYA 1971-1974 (Halaman 61-74)

BAB IV ORDE BARU

A. Lahirnya Sebuah Era Baru

Di penghujung tahun 1965, terjadi sebuah peristiwa yang menggegerkan rakyat Republik Indonesia. Sebuah kelompok bernama Dewan Revolusi Indonesia beramai-ramai menuju kawasan Menteng, Jakarta Pusat. 1 Oktober 1965 pukul 03.15 WIB, kelompok ini menyasari

105 Martin Sitompul, Asal-usul Istilah Orde Baru, https://historia.id/politika/articles/asal-usul-istilah-orde-baru-DAoE7, (Diakses pada 29 Januari 2019 pukul 21.44 WIB).

rumah sekelompok pejabat pemerintahan. Incaran mereka adalah Menteri Pertahanan A.H Nasution, Panglima Angkatan Darat (AD) Letnan Jenderal (Letjen) Achmad Yani, dan lima Staf Umum AD, yakni Mayor Jenderal (Mayjen) S. Parman, Mayjen Mas Tirtodarmo Harjono, Mayjen R. Suprapto, Brigadir Jenderal (Brigjen) Soetojo Siswomihardjo, dan Brigjen Donald Ishak Pandjaitan. Namun Nasution berhasil melarikan diri ke rumah Duta Besar Irak dan yang tertembak adalah putri Nasution dan ajudan pribadinya. 106

Pukul 07.15 WIB, Dewan Revolusi Indonesia mengumumkan penangkapan ini melalui siaran Radio Republik Indonesia (RRI) pusat.

Mereka memaksa sang penyiar untuk membacakan sebuah dokumen tentang penangkapan para jenderal tersebut. Sang penyiar mengumumkan bahwa jenderal-jenderal ini (yang dikenal dengan nama Dewan Jenderal) diduga akan melakukan kudeta terhadap Presiden Soekarno. Dewan Jenderal ini juga akan melakukan pameran kekuatan pada hari Angkatan Bersenjata yang bertepatan pada 5 Oktober 1965.107

Peristiwa penculikan para jenderal ini kemudian dikenal dengan nama Gerakan 30 September 1965 (G30S). Dari sinilah, nama Soeharto selaku Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) muncul sebagai Panglima AD pengganti Letjen Achmad Yani.

Penggantian Soeharto bukan disepakati sendiri. Pukul 08.00 WIB, Umar Wirahadikusumah selaku Panglima Kodam V Jaya yang memiliki pasukan terbesar di Jakarta langsung memosisikan dirinya di bawahan

106 John Roosa, Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto, (Jakarta: Institut Sejarah dan Sosial Indonesia dan Hasta Mitra, 2008), 53-55.

107 John Roosa, Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto, 52-53.

Soeharto. Kemudian, para Jendral AD yang selamat dari peristiwa penculikan itu melakukan rapat darurat di Gedung Kostrad yang menyimpulkan bahwa Soeharto akan mengisi jabatan sebagai Panglima AD. Sedangkan Nasution sendiri hadir di gedung itu pada pukul 18.00 WIB.108

Sebelumnya, Soeharto tak dikenal oleh para petinggi militer saat itu. Karir militer pertama Mayor Soeharto terjadi ketika ia ditugaskan di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) di Bandung pada Oktober 1959. Pada akhir 1960, ia naik pangkat menjadi Brigadir Jenderal dan ditempatkan di Markas Intelijen sebagai Deputi I Kepala Staf Angkatan Darat. Kemudian pada 1961, Soeharto dilantik menjadi pemimpin satuan tentara bernama Kostrad. Januari 1962, ia naik pangkat menjadi Mayor Jenderal yang diberi tugas untuk memimpin Operasi Mandala yang tujuannya adalah merebut Irian Barat dari Belanda.

Langkahnya sebagai Panglima AD pengganti Achmad Yani menjadi perhatian kalangan masyarakat.109

Langkah pertama Soeharto selaku pimpinan AD adalah menelepon para perwira ABRI, seperti Resimen Pangkalan Angkatan Laut (Men/Pangal) Laksamana Madya Laut R.E. Martadinata, Resimen Pangkalan Angkatan Udara (Men/Pangu) Laksamana Madya Udara Omar Dhani, Resimen Panglima Angkatan Kepolisian (Men/Pangak) Inspektur Jenderal Polisi Sutjipto Judodijardjo, untuk memberitahu bahwa perannya adalah mengambil alih kepemimpinan AD. Ia juga

108 John Roosa, Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto, 79-80.

109 Julie Southwood dan Patrick Flanagan, Teror Orde Baru: Penyelewengan Hukum dan Propaganda 1965-1981, (Depok: Komunitas Bambu, 2013), 41-42.

memberitahu kepada mereka agar jangan menggerakkan pasukan masing-masing tanpa seizin Soeharto.110

Berbeda dengan Soeharto yang bergerak cepat, Soekarno menganggap bahwa peristiwa G30S adalah peristiwa yang biasa terjadi dalam revolusi. Langkah pertama yang dilakukan Soekarno bukanlah mencari tahu siapa dalang peristiwa ini.111 Soekarno memilih untuk memanggil para petinggi, seperti Men/Pangal, Men/Pangak, Panglima Kodam V Jaya, Jaksa Agung, dan Wakil Perdana Menteri II untuk melaporkan keadaan saat itu. Namun, Panglima Kodam V Jaya Umar Wirahasikusumah tak berada di kantor. Dirinya tengah menemui Soeharto selaku Pangkostrad di markasnya. Panggilan Soekarno pun lantas ditolak Soeharto ketika Komisaris Besar Polisi Sumirat menghadapnya. Soeharto menuturkan bahwa Panglima Kodam V Jaya tak bisa menghadap karena Panglima AD sedang tak ada di tempat. Oleh karenanya, Soeharto menyuruh Sumirat agar perintah Soekarno harus mendapat instruksi darinya. Presiden Sukarno jelas tidak senang mendapat jawaban seperti itu dari Panglima Kostrad. Sebab berdasarkan Pasal 10 UUD 1945, Presiden Indonesia memegang kekuasaan tertinggi atas AD, AL, dan AU. 112

Setelah mengambil alih RRI dan menyampaikan pengumumannya pada pagi hari, kelompok G30S kembali menyiarkan pengumuman pada siang hari. Isinya adalah pembentukan Dewan Revolusi Indonesia yang terdiri dari orang-orang pendukung G30S.

110 Peter Kasenda, Hari-Hari Terakhir Sukarno, (Depok: Komunitas Bambu, 2013), 81.

111 Salim Haji Said, Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto, (Bandung: Penerbit Mizan, 2016), 9.

112 Peter Kasenda, Hari-Hari Terakhir Sukarno, 81-82.

Pengumuman ini sendiri berbentuk dokumen tertulis yang dibacakan dengan tanda tangan dari Ketua Dewan Revolusi Indonesia Letnan Kolonel Untung.113

Soeharto pun melancarkan serangan balik. Ia menuntut dua batalion di Lapangan Merdeka untuk menyerahkan diri. Dirinya mengancam jika G30S tidak menyerahkan diri pada 18.00 WIB, maka Soeharto bersama pasukannya akan menyerang batalion ini. Soeharto sendiri menggunakan pasukan Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat yang berasal dari Cijantung, Jakarta Timur. Ancaman itu kemudian berhasil dan tak menggunakan senjata sama sekali.

Selanjutnya, Soeharto melancarkan serangannya pada Gedung RRI, Telekomunikasi, dan Halim Perdana Kusuma sebagai markas kelompok G30S. Padahal, Soekarno saat itu tengah berdiskusi dengan kelompok G30S untuk menghindari pertikaian. Soekarno pun memilih menyingkir ke Istana Bogor demi menghindari gempuran yang dilancarkan Soeharto.

Pada akhirnya, G30S tamat dan semua pelakunya berpencar melarikan diri menghindari serangan Soeharto.114

Peristiwa G30S ini menjadi awal peralihan kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto. Soeharto yang mulai menancapkan taringnya di kursi rezim memutuskan bahwa Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah dalang di peristiwa tersebut. Menurutnya, PKI mengadu domba pada kalangan AD agar turut ambil bagian dalam kudeta yang mengancam

113 Peter Kasenda, Hari-Hari Terakhir Sukarno, 83-87.

114 John Roosa, Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto, 80-84.

keamanan. Selain itu, Soeharto juga menuduh bahwa PKI lah yang menyiksa sekaligus membunuh enam jenderal di Lubang Buaya.115

Sebenarnya ada banyak versi mengenai dalang dari peristiwa G30S ini. Jusuf Wanandi dalam memoarnya bercerita, ada beberapa tafsiran terkait kejadian ini. Poin pertama, memang PKI-lah yang berperan dalam peristiwa tersebut. Ada juga yang bilang Soeharto adalah dalang dari peristiwa kudeta ini. Versi lain mengatakan bahwa G30S merupakan masalah internal yang terjadi di AD.116 Sedangkan ada juga teori yang menyebutkan bahwa Central Intelligence Agency (CIA, Badan Intelijen Amerika Serikat) turut andil dalam gerakan tersebut.117

Terlepas dari siapapun dalangnya, Soeharto terus memanfaatkan momen G30S untuk memunculkan namanya dalam sejarah Indonesia. Ia memulainya lewat pemberitaan propaganda yang disebarkan di media massa. 4 Oktober 1965, para wartawan ramai berkumpul di Lubang Buaya untuk menyaksikan pengangkatan mayat para jenderal. Soeharto menyatakan, luka sayatan yang terdapat pada mayat itu adalah ulah dari Pemuda Rakyat dan Gerwani (kelompok simpatisan PKI). Media massa pun gencar memberitakan bahwa sebelum jenderal wafat, mereka disiksa terlebih dulu oleh Gerwani dan Pemuda Rakyat. Macam-macam

115 Julie Southwood dan Patrick Flanagan, Teror Orde Baru: Penyelewengan Hukum dan Propaganda 1965-1981, 2. Lihat juga pengakuan Soeharto tentang peristiwa G30S dalam R.E. Elson, Suharto: Sebuah Biografi Politik, (Jakarta: Pustaka Minda Utama, 2005), 242-243.

116 Jusuf Wanandi, Menyibak Tabir Orde Baru: Memoar Politik Indonesia 1965-1968, 46-47.

117 Keterlibatan Amerika Serikat dalam gerakan tersebut terdiri dari beberapa faktor. Pertama, Amerika Serikat sangat tidak menyukai ideologi Komunis. Kedua, nasionalisme radikal Soekarno terhadap negara asing juga menjadi momok mengerikan bagi Amerika. Ketiga, hubungan AD dengan Amerika Serikat memang sudah terjalin.

Lihat penjelasan keterlibatan Amerika Serikat yang dijabarkan oleh Julie Southwood dan Patrick Flanagan, Teror Orde Baru: Penyelewengan Hukum dan Propaganda 1965-1981, 1-46.

penyiksaannya sendiri berupa pencungkilan mata, sundutan rokok, hingga penyayatan alat kelamin. 118

Propaganda yang disulutkan media massa, terutama pers berlatar militer seperti Harian Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha119, membuahkan hasil. Sebagian besar rakyat Indonesia ikut terpengaruh dan membenci PKI beserta simpatisannya. Aksi menentang PKI dimulai dari Aceh, kemudian berlanjut ke wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Rentetan pembunuhan terhadap kader PKI dan simpatisannya terus dilakukan hingga Jawa Barat, Bali, hingga Sumatera Utara.120 Sepanjang akhir 1965 hingga 1966, diperkirakan para tentara sudah menghabisi lebih dari 1,5 juta orang, baik kader PKI maupun simpatisannya.121

Soekarno bukan tak diam melihat ketika mendengar aksi pembunuhan besar-besaran terhadap kader dan simpatisan PKI. Dalam pidatonya pada 27 Oktober 1965, Soekarno menyatakan bahwa revolusi Indonesia seharusnya adalah revolusi kiri yang berarti adalah memenuhi kebutuhan rakyat. Setelah mendengar pembunuhan yang terjadi di daerah, ia menyatakan bahwa revolusi justru bergerak ke kanan.

118 Amurwani Dwi Lestariningsih, Gerwani: Kisah Tapol Wanita di Kamp Plantungan, (Jakarta: Kompas, 2011), 69-70.

119 Pemberitaan tentang peristiwa G30S hanya dikabarkan oleh dua media tersebut. Sejak 1 Oktober 1965, terdapat 46 dari 163 surat kabar yang dilarang terbit.

Alasannya, mereka dituduh terlibat dan mendukung kelompok G30S ini. Lihat di Akhmad Zaini Abar, 1966-1974: Kisah Pers Indonesia, 55. Lihat juga peran AD dalam mengatur pemberitaan G30S di John Roosa, Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto, 29-30.

120 Tragedi Pembantaian terhadap kader dan simpatisan PKI melibatkan banyak orang. Mulai dari pemuka agama, sipil, hingga tentara. Bahkan, keluarga sendiri juga menjadi target pembunuhan karena korban adalah simpatisan PKI. Narasi pembunuhan terhadap PKI ini bisa dilihat dalam Kurniawan et al., Pengakuan Algojo 1965: Investigasi Tempo Perihal Pembantaian 1965, (Jakarta: Tempo Inti Media Tbk, 2013), 1-174.

121 John Roosa, Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto, 5.

Menurutnya, itu merupakan sebuah awal dari malapetaka terbesar di Indonesia.122

Soekarno menilai, pembunuhan massal yang terjadi di Jawa Tengah dan Jawa Timur turut melibatkan orang-orang yang tak bersalah.

Ia menyatakan kepada para mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) untuk memperlakukan korban sesuai dengan nilai Islam. Menurutnya, banyak mayat-mayat dari simpatisan PKI yang tak sekadar dibunuh secara brutal, tetapi para jagal PKI ini meninggalkan saja mayat yang sudah dibunuh. Soekarno menyarankan kepada para mahasiswa HMI agar memberitahu masyarakat di daerah untuk memperlakukan mayat sesuai ajaran Islam, yakni dikuburkan secara layak.123

Keterlibatan media massa juga tak lepas dari pengamatan Soekarno. Lagi-lagi lewat pidatonya, ia mengkritik pemberitaan media yang menyantumkan peran Gerwani dalam menyilet alat vital para jenderal dan penyiksaan jenderal-jenderal lewat kursi listik. Menurutnya, pemberitaan itu tak masuk akal karena bisa menimbulkan kebencian terhadap PKI. Ia meminta para wartawan untuk menyebarkan peristiwa yang sebenarnya dan memberitakan hal-hal yang positif untuk membangun bangsa. Namun, peran AD dalam memblokade media massa jauh lebih kuat. Hingga akhirnya, kritik Soekarno pun tak menjadi bahan pemberitaan dalam media massa.124

122 Julius Pour, Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan, dan Petualang, (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2010), 268-269.

123 Harold Crouch, Militer dan Politik di Indonesia, (Jakarta: Sinar Harapan, 1986), 169-174.

124 John Roosa, Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto, 279-281.

Pembelaan mati-matian Soekarno terhadap PKI bukan tanpa alasan. Ia sadar, kekuasaannya sudah menemui ujung tanduk. Saat itu, AD sudah mulai berani melawan perintahnya. Padahal, status Soekarno sendiri adalah panglima tertinggi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Gagasannya tentang Nasionalis-Agamis-Komunis (Nasakom) masih dipegang kuat untuk menjaga keutuhan RI. Oleh karenanya, ia menilai bahwa PKI menjadi penyeimbang untuk menghadapi ABRI karena sikap loyalnya terhadap Presiden Soekarno.125

Namun, hubungan AD di bawah naungan Soeharto dengan Presiden Soekarno justru makin meruncing. Soeharto lewat militer memiliki koalisi baru dengan cara menggandeng mahasiswa untuk menyusun kekuasaan. Mahasiswa yang anti Komunis pun membentuk suatu kelompok bernama Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI).

Lewat KAMI, gerakan mahasiswa semakin gencar. Demonstrasi semakin menjadi ketika para mahasiswa menyatakan tiga tuntutan kepada Soekarno yang kemudian dikenal dengan nama Tri Tuntutan Rakyat (Tritura) pada 12 Januari 1966. Isi dari tuntutan itu adalah bubarkan PKI, perombakan Kabinet Dwikora, dan turunkan harga barang. Tritura digerakkan secara masif lewat kertas selebaran, demonstrasi, hingga coretan-coretan di tembok.126

Melihat tuntutan mahasiswa yang semakin keras, Soekarno menerbitkan Keputusan Presiden No. 41/Kogam/1966 yang isinya

125 Harold Crouch, Militer dan Politik di Indonesia, 169-174.

126 Lihat tulisan Abdul Mun’im DZ, Gerakan Mahasiswa 1966 di Tengah Pertarungan Politik Elit dalam Muridan S. WIdjojo et al., Penakluk Rezim Orde Baru:

Gerakan Mahasiswa ‘98, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1999), 29-30. Lihat juga narasi tentang demonstrasi mahasiswa yang berisi kritikan terhadap pemerintah Soekarno sepanjang Januari 1966 dalam Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, (Jakarta: LP3ES, 1989), 159-209.

adalah pembubaran KAMI. Namun, gerakan mahasiswa semakin keras lewat pembentukan Laskar Arief Rahman Hakin yang terdiri dari gabungan 42 perguruan tinggi yang berada di Jakarta. Keadaan ini membuat Soekarno untuk menyelenggarakan sidang kabinet dengan tujuan mempertimbangkan tuntutan mahasiswa.127

Sidang untuk pembaruan Kabinet Dwikora pun dimulai pada 11 Maret 1966 yang bertempat di Istana Negara, Jakarta. Dalam sidang itu, semua anggota Kabinet dipanggil. Hanya Soeharto yang tak datang waktu itu dikarenakan sedang sakit flu. Saat sidang tengah berjalan, pengawal Soekarno melaporkan adanya sebuah pasukan tak dikenal dalam lingkaran demonstrasi. Takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, Soekarno pun meninggalkan sidang itu dan pergi meninggalkan Istana Merdeka menuju Istana Bogor. Sidang Kabinet pun diteruskan oleh Wakil Perdana Menteri II J. Leimena.128

Di Istana Bogor, Soekarno pun didampingi oleh Soebandrio, Chaerul Saleh, Hartini, dan dikawal oleh beberapa pasukan Tjakrabirawa (Pasukan Pelindung Presiden, sekarang disebut Paspampres). Adanya pasukan tak dikenal itu, Soeharto pun mengirimkan sebuah pesan lewat Pangdam Jaya Mayjen Amir Mahmud, Menteri Perindustrian Dasar Mayjen Muhammad Jusuf, dan Demobilisasi Mayjen Basuki Rahmat.

Mereka diutus Soeharto untuk memberitahu Soekarno agar memberikan perintah untuk memulihkan keadaan yang semakin karut marut dan menemui Soekarno di Istana Bogor. Dari perkumpulan di Istana Bogor,

127 Suharsi dan Ign. Mahendra K, Bergerak Bersama Rakyat: Sejarah Gerakan Mahasiswa dan Perubahan Sosial di Indonesia, (Yogyakarta: Resist Book, 2007), 72- 74.

128 James Luhulima, Menyingkap Dua Hari Tergelap di Tahun 1965: Melihat Peristiwa G30S dari Perspektif Lain, (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2007), 169-170.

lahirlah sebuah keputusan yang sekarang dikenal dengan Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) yang ditandatangani sendiri oleh Soekarno.

Setelah mendapatkan Supersemar, ketiga jenderal itu pulang kembali ke Jakarta dan menyerahkan surat itu kepada Soeharto.129

Melalui Supersemar, langkah pertama yang dilakukan oleh Soeharto adalah membubarkan PKI. Kemudian, Soeharto juga mengganti anggota kabinet Dwikora yang disempurnakan dengan anggota baru versi Soeharto. Anggota Kabinet Dwikora yang diganti pada 17 Maret 1966 yakni:

1. Dr. Soebandrio (Wakil Perdana Menteri I/Menteri Kompartemen Luar Negeri)

2. Dr. Chaerul Saleh (Wakil Perdana Menteri III/Ketua MPRS) 3. Ir. Setiadi Reksoprodjo (Menteri Urusan Listrik dan

Ketenagaan)

4. Sumardjono (Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan) 5. Oei Tjoe Tat SH (Menteri Negara yang diperbantukan pada

Presidium Kabinet)

6. Ir. Surachman (Menteri Pengairan Rakyat dan Pembangunan) 7. Jusuf Muda Dalam (Menteri Urusan Bank Sentral/Gubernur

Bank Indonesia)

8. Armunanto (Menteri Pertambangan)

9. Sutomo Mardopradoto (Menteri Perburuan) 10. Astrawinata SH (Menteri Kehakiman) 11. Mayjen Achmadi (Menteri Penerangan)

12. Drs. Moch. Achmadi (Menteri Transmigrasi dan Kooperasi)

129 Harold Crouch, Militer dan Politik di Indonesia, 208-213.

13. J. Tumakaka (Menteri/Sekjen Front Nasional)

14. Mayjen Dr. Sumarno (Menteri/Gubernur Jakarta Raya) 15. Letkol. Inf. Imam Sjafie (Menteri Khusus Urusan

Keamanan)130 16.

17.

Kemudian Soeharto mengganti mereka dengan anggota baru yang terdiri dari:

1. Sri Sultan Hamengu Buwono IX (Wakil Perdana Menteri I) 2. Adam Malik (Wakil Perdana Menteri II/Menteri Luar Negeri

dan Hubungan Ekonomi Luar Negeri)

3. Dr. Roeslan Abdulgani (Wakil Perdana Menteri III) 4. Idham Chalid (Wakil Perdana Menteri IV)

5. Dr. J. Leimena (Wakil Perdana Menteri V) 6. Wirjono Prodjodikoto SH (Menteri Kehakiman)

7. Sumarsono SH (Menteri Urusan Bank Sentral/Menteri Koordinator)

8. Drs. Frans Seda (Menteri Perburuhan)

9. Mayjen Dr. Ibnu Sutowo (Menteri Pertambangan)

10. Ir. Sutami (Menteri Listrk dan Ketenagaan/Menteri Koordinator)

11. Ir. PC Harjosudirdjo (Menteri Pengairan Rakyat)

12. Brigjen Drs. A. Sukendro (Menteri Transmigrasi dan Koperasi)

130 Peter Kasenda, Hari-Hari Terakhir Sukarno, 152-153.

13. Sjarif Thajeb (Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan/Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pendidikan) 14. K.H. A. Sjaichu (Menteri/Sekretaris Jenderal Front Nasional) 15. Mayjen Basuki Rachmat (Menteri Dalam Negeri/Gubernur

DKI Jakarta)

16. Letjen Hidajat (Menteri Pos dan Telekomunikasi)131

Perombakan Kabinet Dwikora yang dilakukan oleh Soeharto ini ditengarai karena 15 orang itu merupakan pendukung Soekarno dan juga simpatisan PKI. Dengan Supersemar yang ada di tangan Soeharto, para elit pemerintahan Soekarno tak bisa berbuat apa-apa. Sebab, Soekarno sendiri yang menandatanginya. Perlahan tapi pasti, peran Soekarno dan pendukungnya tergantikan oleh Soeharto.132

Kekuasaannya yang meningkat drastis tetap membuat Soeharto was-was. Ia mengganggap Supersemar belum cukup untuk melanggengkan kekuasaanya. Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) menyelenggarakan sebuah sidang pada 21 Juni 1966 untuk meninggikan keputusan Supersemar. Sebab, Supersemar sendiri berawal dari keputusan presiden yang bisa dicabut kapan saja.

Mengingat, Supersemar adalah sebuah upaya khusus untuk melindungi pemimpin RI dari segala bahaya yang mengancam kekuasaan. Lewat sidang MPRS pada 21 Juni hingga 5 Juli 1966, status Supersemar dinaikkan ke dalam Ketetapan MPRS No.5/MPRS/1966. Ketetapan itu juga menuntut laporan pertanggungjawaban Soekarno dalam

131 Peter Kasenda, Hari-Hari Terakhir Sukarno, 153-154.

132 Peter Kasenda, Hari-Hari Terakhir Sukarno, 156.

Nawaksara133 yang tak mencantumkan sikapnya kepada peristiwa G30S.134

Enam bulan berlalu, Soekarno kembali membuat laporan khusus yang isinya adalah pendapatnya tentang G30S. Namun, tuntutan mahasiswa semakin menjadi lantaran mereka ingin Soekarno dicopot dari jabatannya sebagai Presiden RI. MPRS menganggap bahwa peran Soekarno gagal dalam menciptakan keamanan dan ketertiban di negara Indonesia. Pada 12 Maret 1967, MPRS mencabut status Soekarno sebagai Presiden RI seumur hidup lewat Ketetapan MPRS No.XXXIII/MPRS/1967.135 Setahun kemudian, berakhirlah sudah kepemimpinan Soekarno sebagai Presiden RI. Ia resmi digantikan Soeharto melalui Sidang MPRS pada 27 Maret 1968 dan ditetapkan dalam ketetapan MPRS Nomor XLIV Tahun 1968. 136

Dalam dokumen SUARA KARYA 1971-1974 (Halaman 61-74)