BAB III PERS DAN POLITIK DI INDONESIA
C. Pers Orde Baru
kebijakan pemerintah. Mereka pun harus siap menerima konsekuensi seperti dipenjara ataupun dipaksa berhenti cetak.89
Jakarta ada harian Merdeka, Berita Indonesia (simpatisan Partai Murba), Indonesian Observer, dan Warta Indonesia. Sedangkan di Medan ada Indonesia Baru dan Waspada, di Semarang ada Suara Merdeka, di Yogyakarta ada Kedaulatan Rakyat, di Surabaya ada Suara Rakyat, dan di Bandung ada Pikiran Rakyat. Teruntuk pers militer sendiri ada Berita Yudha dan Angkatan Bersenjata. 92
Keruntuhan Soekarno sekaligus hilangnya sistem Demokrasi Terpimpin yang dimulai lewat Gerakan 30 September 1965 menjadi awal mula kebangkitan pers di masa Orde Baru. Ketika masa akhir Demokrasi Terpimpin pada 1965, surat kabar yang beredar berjumlah 111 surat kabar harian dengan total 1,4 juta eksemplar dan 84 surat kabar mingguan dengan total 1,1 juta eksemplar. Sedangkan pada tahun 1966, jumlahnya naik menjadi 132 surat kabar harian dengan total 2 juta eksemplar dan 114 surat kabar mingguan dengan total 1,5 juta eksemplar.93
Kenaikan pers ini disebabkan adanya beberapa media yang kembali terbit setelah dibredel pada zaman Demokrasi Terpimpin.
Media-media itu adalah Merdeka dan Indonesian Observer. Ada juga surat kabar baru seperti Harian Kami (1966), Angkatan Baru (1966), Angkatan 66 (1966), Mahasiswa Indonesia edisi Jakarta (1966), mingguan Mahasiswa Indonesia edisi Jawa Barat (1966), Trisakti (1966), Harian Operasi (1966), dan mingguan Abad Muslimin (1966).94
Namun, kejayaan pers di masa ini tak bertahan lama. Saat peralihan dari Presiden Soekarno ke Presiden Soeharto, Indonesia
92 Akhmad Zaini Abar, 1966-1974: Kisah Pers Indonesia, 52-53.
93 Akhmad Zaini Abar, 1966-1974: Kisah Pers Indonesia, 45.
94 Akhmad Zaini Abar, 1966-1974: Kisah Pers Indonesia, 45-46.
mengalami inflasi yang cukup tinggi. Tahun 1966, inflasi di Indonesia mencapai kenaikan hingga 660%. Tak hanya itu, Indonesia juga memiliki utang luar negeri yang jumlahnya US 2.357 juta.95
Inflasi itu pun menjadi faktor pengaruh dalam penerbitan pers di Indonesia. Sebelumnya, Pemerintah Soekarno memang membantu biaya penerbitan yang dilakukan pers Indonesia. Namun sejak inflasi, Pemerintah Orde Baru sendiri mengurangi subsidi untuk pers.96 Di berbagai wilayah Indonesia, tepatnya pada 1967, pers harian berkurang menjadi 101 buah dengan total 893 ribu eksemplar. Sementara pers mingguan berkurang ke 20 buah dengan total 908 ribu eksemplar. Hal itu pun terus berlanjut sampai pada tahun 1968-1969.97
Selain dari perubahan eksemplar, pers Indonesia di masa Orde Baru juga mengalami perubahan orientasinya kepada pemerintah. Pada masa Demokrasi Terpimpin, hampir semua pers melancarkan kritikannya kepada pemerintah Soekarno. Di masa itu, memang pemerintah seolah menyatakan bendera perang dengan pers Indonesia lewat berbagai kebijakannya. Soekarno seolah menjadi musuh bersama bagi mayoritas pers di Indonesia.98
Turunnya Soekarno yang kemudian digantikan Soeharto menjadi momentum baru bagi pers Indonesia. Soeharto menggunakan pers
95 Aria Wiratma Yudhistira, Dilarang Gondrong! Praktik Kekuasaan Orde Baru terhadap Anak Muda Awal 1970an, 30.
96 P.K Ojong menulis, subsidi yang dilakukan pemerintah kepada pers Indonesia adalah subsidi kertas. Semenjak dihapus, biaya percetakan pun ikut naik. Tak hanya itu, kenaikan biaya juga berdampak pada biaya distribusi dan biaya langganan dengan kantor berita itu sendiri. Lihat tulisan P.K Ojong dalam Akhmad Zaini Abar, 1966-1974: Kisah Pers Indonesia, 47-48.
97 Akhmad Zaini Abar, 1966-1974: Kisah Pers Indonesia, 46.
98 Lihat kritik pers Indonesia terhadap rezim Soekarno di pembahasan sub bab sebelumnya.
Indonesia untuk membentuk opini publik bahwa pemerintahan Soekarno adalah merupakan pemerintahan terburuk. Mulai dari pers nasional hingga pers mahasiswa memandang bahwa Angkatan Darat menjadi penyelamat dari sebuah rezim otoriter. Pemerintah menjadikan pers sebagai mitra dalam menyelamatkan negara Indonesia, terutama dari cengkraman komunis yang waktu itu sangat kuat. Bahkan, Soeharto memuji peran pers karena sikapnya yang lebih dewasa dan mampu mewujudkan kekuatan keempat. 99
Sebagai bentuk dukungan, Pemerintah juga menerbitkan Undang-Undang No. 11 Tahun 1966 tentang Prinsip-Prinsip Dasar Pers.
UU ini menyatakan bahwa pers nasional tak lagi dapat disensor. Selain itu, pers akan dijamin kebebasannya sebagai hak warga negara. Jika pada Demokrasi Terpimpin pers harus memiliki SIT, maka lewat UU ini surat izin itu dihapus. Akan tetapi, penerapan UU ini hanya sebatas omong kosong belaka. Pers di zaman itu tetap memerlukan SIT dari Departemen Penerangan dan Surat Izin Cetak (SIC) dari lembaga Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib).100
Seiring berjalannya waktu, pers Indonesia kembali memunculkan sikap kritisnya terhadap penguasa Orde Baru, tepatnya pada tahun 1967.
Mereka mengkritik berbagai isu-isu nasional yang dijalankan pemerintah. Hal pertama yang menjadi bahan adalah isu korupsi yang dilakukan oleh para pejabat pemerintahan. Berlanjut pada tahun 1971, isu pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang digagas oleh Tien Soeharto tak luput pula dari kritik. Menurut kalangan pers, pembangunan TMII merupakan hal yang sia-sia karena menghambur-
99 Akhmad Zaini Abar, 1966-1974: Kisah Pers Indonesia, 65-69.
100 David T. Hill, Pers di Masa Orde Baru, 34-35.
hamburkan uang. Kebijakan Penanaman Modal Asing (PMA) pada akhir 1960-an juga menjadi sasaran kritik yang dilakukan pers. Puncak kritik terjadi ketika Perdana Menteri Tanaka ke Jepang yang berujung pada demo besar-besaran di tanggal 15 Januari 1974. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan nama Malapetaka 15 Januari (Malari) 1974. Setelah Malari 1974, Orde Baru mulai bersikap represif terhadap pers dan juga mahasiswa. 101
Dalam perkembangan pers di era Orde Baru, David T. Hill membaginya ke dalam enam kelompok. Kelompok pertama adalah pers yang berhaluan radikal, yakni pers mahasiswa (Harian KAMI dan Mahasiswa Indonesia), Nusantara, dan pers yang kembali terbit setelah dibredel oleh Soekarno, yaitu Pedoman dan Indonesia Raya. Dua media ini berafiliasi dengan Partai Sosialis Indonesia (PSI). Kelompok kedua adalah kelompok media yang terbit dengan jumlah sirkulasi tinggi, seperti Kompas dan Sinar Harapan. Kelompok ketiga adalah pers di kalangan militer, yakni Berita Yudha dan Angkatan Bersenjata. Hill juga memasukan Harian Umum Suara Karya (afiliasi Golkar dan pemerintah) ke dalam kelompok ini. Kelompok keempat adalah koran- koran radikal berhaluan nasionalis, seperti El Bahar, Merdeka, dan Suluh Marhaen (afiliasi dengan PNI). Kelompok kelima adalah pers yang menyalurkan aspirasi kaum Muslim, yakni Abadi, Jihad, dan Duta Masyarakat (afiliasi dengan NU). Kelompok terakhir adalah koran bergenre hiburan dan apolitis, yakni Pos Kota. 102
Di tahun 1970, surat kabar Indonesia rata-rata hanya mampu menjual cetakannya sebanyak 20 ribu eksemplar. Beberapa media yang
101 Akhmad Zaini Abar, 1966-1974: Kisah Pers Indonesia, 163-208.
102 David T. Hill, Pers di Masa Orde Baru, 35-36.
menjual di atas 40 ribu hanya empat media saja, yakni Merdeka (82 ribu), Kompas (75 ribu), Sinar Harapan, yang kemudian mengubah namanya menjadi Sinar Pembaruan (65 ribu), dan Berita Yudha (75 ribu). Pada perkembangannya, hanya Kompas dan Sinar Pembaruan yang berhasil mengembangkan medianya menjadi sebuah industri pers yang berjaya di masa Orde Baru. Mereka berhasil mencapai masa keemasannya karena mengambil sikap berhati-hati dalam menyikapi urusan politik dan berpihak kepada kelas menengah sekuler yang tumbuh subur di masa itu.
Sedangkan untuk Merdeka dan Berita Yudha kemudian berhenti terbit karena tak mampu memenuhi kebutuhan pasar.103
Hubungan pers dengan pemerintah Orde Baru pada 1965-1974 sendiri seolah menjadi dua sisi koin yang berlawanan. Di dua tahun pertama kepemimpinan Soeharto, pers menjadi sebuah koalisi untuk menggulingkan Soekarno dan melahirkan sebuah era yang bernama Orde Baru. Namun di sisi lain, pers kembali menjadi sebuah momok menakutkan bagi pemerintah karena kritiknya yang dianggap mengganggu proses pembangunan. Gelombang pembredelan pada peristiwa Malari 1974 secara dramatis menghancurkan hubungan antara pemerintah, pers, dan juga mahasiswa.104
103 David T. Hill, Pers di Masa Orde Baru, 36-37.
104 Suf Kasman, Pers dan Pencitraan Umat Islam di Indonesia: Analisis Isi Pemberitaan Harian Kompas dan Republika, 78.
43 BAB IV ORDE BARU
Naiknya Soeharto sebagai Presiden RI menjadi sejarah baru dalam narasi sejarah Indonesia. Bergantinya rezim Orde Lama (Orla) Soekarno ke Soeharto ini dikenal dengan nama Orde Baru (Orba).
Dimulainya Orba sendiri terdiri dari beragam versi. Versi pertama yakni dari hasil Seminar Angkatan Darat (AD) di Bandung. Ada yang menyatakan Orba lahir setelah Peristiwa G30S 1965. Kemudian ada yang mengatakan Orba dimulai pada kemunculan Supersemar 1966. Ada pula yang berpendapat bahwa Orba lahir sejak Ketetapan MPRS 1967 yang isinya peralihan kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto.105
Terlepas dari berbagai versi, pergantian kekuasaan Soekarno ke Soeharto adalah lahirnya sebuah era baru dalam sejarah Presiden RI. Bab ini akan membahas tentang kemunculan Soeharto di panggung politik Indonesia pada 1965-1971. Bab ini juga membahas terkait kebijakan politik dan ekonomi Soeharto untuk melakukan konsolidasi pemerintahan yang puncaknya terjadi pada 1974.
A. Lahirnya Sebuah Era Baru
Di penghujung tahun 1965, terjadi sebuah peristiwa yang menggegerkan rakyat Republik Indonesia. Sebuah kelompok bernama Dewan Revolusi Indonesia beramai-ramai menuju kawasan Menteng, Jakarta Pusat. 1 Oktober 1965 pukul 03.15 WIB, kelompok ini menyasari
105 Martin Sitompul, Asal-usul Istilah Orde Baru, https://historia.id/politika/articles/asal-usul-istilah-orde-baru-DAoE7, (Diakses pada 29 Januari 2019 pukul 21.44 WIB).
rumah sekelompok pejabat pemerintahan. Incaran mereka adalah Menteri Pertahanan A.H Nasution, Panglima Angkatan Darat (AD) Letnan Jenderal (Letjen) Achmad Yani, dan lima Staf Umum AD, yakni Mayor Jenderal (Mayjen) S. Parman, Mayjen Mas Tirtodarmo Harjono, Mayjen R. Suprapto, Brigadir Jenderal (Brigjen) Soetojo Siswomihardjo, dan Brigjen Donald Ishak Pandjaitan. Namun Nasution berhasil melarikan diri ke rumah Duta Besar Irak dan yang tertembak adalah putri Nasution dan ajudan pribadinya. 106
Pukul 07.15 WIB, Dewan Revolusi Indonesia mengumumkan penangkapan ini melalui siaran Radio Republik Indonesia (RRI) pusat.
Mereka memaksa sang penyiar untuk membacakan sebuah dokumen tentang penangkapan para jenderal tersebut. Sang penyiar mengumumkan bahwa jenderal-jenderal ini (yang dikenal dengan nama Dewan Jenderal) diduga akan melakukan kudeta terhadap Presiden Soekarno. Dewan Jenderal ini juga akan melakukan pameran kekuatan pada hari Angkatan Bersenjata yang bertepatan pada 5 Oktober 1965.107
Peristiwa penculikan para jenderal ini kemudian dikenal dengan nama Gerakan 30 September 1965 (G30S). Dari sinilah, nama Soeharto selaku Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) muncul sebagai Panglima AD pengganti Letjen Achmad Yani.
Penggantian Soeharto bukan disepakati sendiri. Pukul 08.00 WIB, Umar Wirahadikusumah selaku Panglima Kodam V Jaya yang memiliki pasukan terbesar di Jakarta langsung memosisikan dirinya di bawahan
106 John Roosa, Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto, (Jakarta: Institut Sejarah dan Sosial Indonesia dan Hasta Mitra, 2008), 53-55.
107 John Roosa, Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto, 52-53.
Soeharto. Kemudian, para Jendral AD yang selamat dari peristiwa penculikan itu melakukan rapat darurat di Gedung Kostrad yang menyimpulkan bahwa Soeharto akan mengisi jabatan sebagai Panglima AD. Sedangkan Nasution sendiri hadir di gedung itu pada pukul 18.00 WIB.108
Sebelumnya, Soeharto tak dikenal oleh para petinggi militer saat itu. Karir militer pertama Mayor Soeharto terjadi ketika ia ditugaskan di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) di Bandung pada Oktober 1959. Pada akhir 1960, ia naik pangkat menjadi Brigadir Jenderal dan ditempatkan di Markas Intelijen sebagai Deputi I Kepala Staf Angkatan Darat. Kemudian pada 1961, Soeharto dilantik menjadi pemimpin satuan tentara bernama Kostrad. Januari 1962, ia naik pangkat menjadi Mayor Jenderal yang diberi tugas untuk memimpin Operasi Mandala yang tujuannya adalah merebut Irian Barat dari Belanda.
Langkahnya sebagai Panglima AD pengganti Achmad Yani menjadi perhatian kalangan masyarakat.109
Langkah pertama Soeharto selaku pimpinan AD adalah menelepon para perwira ABRI, seperti Resimen Pangkalan Angkatan Laut (Men/Pangal) Laksamana Madya Laut R.E. Martadinata, Resimen Pangkalan Angkatan Udara (Men/Pangu) Laksamana Madya Udara Omar Dhani, Resimen Panglima Angkatan Kepolisian (Men/Pangak) Inspektur Jenderal Polisi Sutjipto Judodijardjo, untuk memberitahu bahwa perannya adalah mengambil alih kepemimpinan AD. Ia juga
108 John Roosa, Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto, 79-80.
109 Julie Southwood dan Patrick Flanagan, Teror Orde Baru: Penyelewengan Hukum dan Propaganda 1965-1981, (Depok: Komunitas Bambu, 2013), 41-42.
memberitahu kepada mereka agar jangan menggerakkan pasukan masing-masing tanpa seizin Soeharto.110
Berbeda dengan Soeharto yang bergerak cepat, Soekarno menganggap bahwa peristiwa G30S adalah peristiwa yang biasa terjadi dalam revolusi. Langkah pertama yang dilakukan Soekarno bukanlah mencari tahu siapa dalang peristiwa ini.111 Soekarno memilih untuk memanggil para petinggi, seperti Men/Pangal, Men/Pangak, Panglima Kodam V Jaya, Jaksa Agung, dan Wakil Perdana Menteri II untuk melaporkan keadaan saat itu. Namun, Panglima Kodam V Jaya Umar Wirahasikusumah tak berada di kantor. Dirinya tengah menemui Soeharto selaku Pangkostrad di markasnya. Panggilan Soekarno pun lantas ditolak Soeharto ketika Komisaris Besar Polisi Sumirat menghadapnya. Soeharto menuturkan bahwa Panglima Kodam V Jaya tak bisa menghadap karena Panglima AD sedang tak ada di tempat. Oleh karenanya, Soeharto menyuruh Sumirat agar perintah Soekarno harus mendapat instruksi darinya. Presiden Sukarno jelas tidak senang mendapat jawaban seperti itu dari Panglima Kostrad. Sebab berdasarkan Pasal 10 UUD 1945, Presiden Indonesia memegang kekuasaan tertinggi atas AD, AL, dan AU. 112
Setelah mengambil alih RRI dan menyampaikan pengumumannya pada pagi hari, kelompok G30S kembali menyiarkan pengumuman pada siang hari. Isinya adalah pembentukan Dewan Revolusi Indonesia yang terdiri dari orang-orang pendukung G30S.
110 Peter Kasenda, Hari-Hari Terakhir Sukarno, (Depok: Komunitas Bambu, 2013), 81.
111 Salim Haji Said, Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto, (Bandung: Penerbit Mizan, 2016), 9.
112 Peter Kasenda, Hari-Hari Terakhir Sukarno, 81-82.
Pengumuman ini sendiri berbentuk dokumen tertulis yang dibacakan dengan tanda tangan dari Ketua Dewan Revolusi Indonesia Letnan Kolonel Untung.113
Soeharto pun melancarkan serangan balik. Ia menuntut dua batalion di Lapangan Merdeka untuk menyerahkan diri. Dirinya mengancam jika G30S tidak menyerahkan diri pada 18.00 WIB, maka Soeharto bersama pasukannya akan menyerang batalion ini. Soeharto sendiri menggunakan pasukan Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat yang berasal dari Cijantung, Jakarta Timur. Ancaman itu kemudian berhasil dan tak menggunakan senjata sama sekali.
Selanjutnya, Soeharto melancarkan serangannya pada Gedung RRI, Telekomunikasi, dan Halim Perdana Kusuma sebagai markas kelompok G30S. Padahal, Soekarno saat itu tengah berdiskusi dengan kelompok G30S untuk menghindari pertikaian. Soekarno pun memilih menyingkir ke Istana Bogor demi menghindari gempuran yang dilancarkan Soeharto.
Pada akhirnya, G30S tamat dan semua pelakunya berpencar melarikan diri menghindari serangan Soeharto.114
Peristiwa G30S ini menjadi awal peralihan kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto. Soeharto yang mulai menancapkan taringnya di kursi rezim memutuskan bahwa Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah dalang di peristiwa tersebut. Menurutnya, PKI mengadu domba pada kalangan AD agar turut ambil bagian dalam kudeta yang mengancam
113 Peter Kasenda, Hari-Hari Terakhir Sukarno, 83-87.
114 John Roosa, Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto, 80-84.
keamanan. Selain itu, Soeharto juga menuduh bahwa PKI lah yang menyiksa sekaligus membunuh enam jenderal di Lubang Buaya.115
Sebenarnya ada banyak versi mengenai dalang dari peristiwa G30S ini. Jusuf Wanandi dalam memoarnya bercerita, ada beberapa tafsiran terkait kejadian ini. Poin pertama, memang PKI-lah yang berperan dalam peristiwa tersebut. Ada juga yang bilang Soeharto adalah dalang dari peristiwa kudeta ini. Versi lain mengatakan bahwa G30S merupakan masalah internal yang terjadi di AD.116 Sedangkan ada juga teori yang menyebutkan bahwa Central Intelligence Agency (CIA, Badan Intelijen Amerika Serikat) turut andil dalam gerakan tersebut.117
Terlepas dari siapapun dalangnya, Soeharto terus memanfaatkan momen G30S untuk memunculkan namanya dalam sejarah Indonesia. Ia memulainya lewat pemberitaan propaganda yang disebarkan di media massa. 4 Oktober 1965, para wartawan ramai berkumpul di Lubang Buaya untuk menyaksikan pengangkatan mayat para jenderal. Soeharto menyatakan, luka sayatan yang terdapat pada mayat itu adalah ulah dari Pemuda Rakyat dan Gerwani (kelompok simpatisan PKI). Media massa pun gencar memberitakan bahwa sebelum jenderal wafat, mereka disiksa terlebih dulu oleh Gerwani dan Pemuda Rakyat. Macam-macam
115 Julie Southwood dan Patrick Flanagan, Teror Orde Baru: Penyelewengan Hukum dan Propaganda 1965-1981, 2. Lihat juga pengakuan Soeharto tentang peristiwa G30S dalam R.E. Elson, Suharto: Sebuah Biografi Politik, (Jakarta: Pustaka Minda Utama, 2005), 242-243.
116 Jusuf Wanandi, Menyibak Tabir Orde Baru: Memoar Politik Indonesia 1965-1968, 46-47.
117 Keterlibatan Amerika Serikat dalam gerakan tersebut terdiri dari beberapa faktor. Pertama, Amerika Serikat sangat tidak menyukai ideologi Komunis. Kedua, nasionalisme radikal Soekarno terhadap negara asing juga menjadi momok mengerikan bagi Amerika. Ketiga, hubungan AD dengan Amerika Serikat memang sudah terjalin.
Lihat penjelasan keterlibatan Amerika Serikat yang dijabarkan oleh Julie Southwood dan Patrick Flanagan, Teror Orde Baru: Penyelewengan Hukum dan Propaganda 1965-1981, 1-46.
penyiksaannya sendiri berupa pencungkilan mata, sundutan rokok, hingga penyayatan alat kelamin. 118
Propaganda yang disulutkan media massa, terutama pers berlatar militer seperti Harian Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha119, membuahkan hasil. Sebagian besar rakyat Indonesia ikut terpengaruh dan membenci PKI beserta simpatisannya. Aksi menentang PKI dimulai dari Aceh, kemudian berlanjut ke wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Rentetan pembunuhan terhadap kader PKI dan simpatisannya terus dilakukan hingga Jawa Barat, Bali, hingga Sumatera Utara.120 Sepanjang akhir 1965 hingga 1966, diperkirakan para tentara sudah menghabisi lebih dari 1,5 juta orang, baik kader PKI maupun simpatisannya.121
Soekarno bukan tak diam melihat ketika mendengar aksi pembunuhan besar-besaran terhadap kader dan simpatisan PKI. Dalam pidatonya pada 27 Oktober 1965, Soekarno menyatakan bahwa revolusi Indonesia seharusnya adalah revolusi kiri yang berarti adalah memenuhi kebutuhan rakyat. Setelah mendengar pembunuhan yang terjadi di daerah, ia menyatakan bahwa revolusi justru bergerak ke kanan.
118 Amurwani Dwi Lestariningsih, Gerwani: Kisah Tapol Wanita di Kamp Plantungan, (Jakarta: Kompas, 2011), 69-70.
119 Pemberitaan tentang peristiwa G30S hanya dikabarkan oleh dua media tersebut. Sejak 1 Oktober 1965, terdapat 46 dari 163 surat kabar yang dilarang terbit.
Alasannya, mereka dituduh terlibat dan mendukung kelompok G30S ini. Lihat di Akhmad Zaini Abar, 1966-1974: Kisah Pers Indonesia, 55. Lihat juga peran AD dalam mengatur pemberitaan G30S di John Roosa, Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto, 29-30.
120 Tragedi Pembantaian terhadap kader dan simpatisan PKI melibatkan banyak orang. Mulai dari pemuka agama, sipil, hingga tentara. Bahkan, keluarga sendiri juga menjadi target pembunuhan karena korban adalah simpatisan PKI. Narasi pembunuhan terhadap PKI ini bisa dilihat dalam Kurniawan et al., Pengakuan Algojo 1965: Investigasi Tempo Perihal Pembantaian 1965, (Jakarta: Tempo Inti Media Tbk, 2013), 1-174.
121 John Roosa, Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto, 5.
Menurutnya, itu merupakan sebuah awal dari malapetaka terbesar di Indonesia.122
Soekarno menilai, pembunuhan massal yang terjadi di Jawa Tengah dan Jawa Timur turut melibatkan orang-orang yang tak bersalah.
Ia menyatakan kepada para mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) untuk memperlakukan korban sesuai dengan nilai Islam. Menurutnya, banyak mayat-mayat dari simpatisan PKI yang tak sekadar dibunuh secara brutal, tetapi para jagal PKI ini meninggalkan saja mayat yang sudah dibunuh. Soekarno menyarankan kepada para mahasiswa HMI agar memberitahu masyarakat di daerah untuk memperlakukan mayat sesuai ajaran Islam, yakni dikuburkan secara layak.123
Keterlibatan media massa juga tak lepas dari pengamatan Soekarno. Lagi-lagi lewat pidatonya, ia mengkritik pemberitaan media yang menyantumkan peran Gerwani dalam menyilet alat vital para jenderal dan penyiksaan jenderal-jenderal lewat kursi listik. Menurutnya, pemberitaan itu tak masuk akal karena bisa menimbulkan kebencian terhadap PKI. Ia meminta para wartawan untuk menyebarkan peristiwa yang sebenarnya dan memberitakan hal-hal yang positif untuk membangun bangsa. Namun, peran AD dalam memblokade media massa jauh lebih kuat. Hingga akhirnya, kritik Soekarno pun tak menjadi bahan pemberitaan dalam media massa.124
122 Julius Pour, Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan, dan Petualang, (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2010), 268-269.
123 Harold Crouch, Militer dan Politik di Indonesia, (Jakarta: Sinar Harapan, 1986), 169-174.
124 John Roosa, Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto, 279-281.
Pembelaan mati-matian Soekarno terhadap PKI bukan tanpa alasan. Ia sadar, kekuasaannya sudah menemui ujung tanduk. Saat itu, AD sudah mulai berani melawan perintahnya. Padahal, status Soekarno sendiri adalah panglima tertinggi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Gagasannya tentang Nasionalis-Agamis-Komunis (Nasakom) masih dipegang kuat untuk menjaga keutuhan RI. Oleh karenanya, ia menilai bahwa PKI menjadi penyeimbang untuk menghadapi ABRI karena sikap loyalnya terhadap Presiden Soekarno.125
Namun, hubungan AD di bawah naungan Soeharto dengan Presiden Soekarno justru makin meruncing. Soeharto lewat militer memiliki koalisi baru dengan cara menggandeng mahasiswa untuk menyusun kekuasaan. Mahasiswa yang anti Komunis pun membentuk suatu kelompok bernama Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI).
Lewat KAMI, gerakan mahasiswa semakin gencar. Demonstrasi semakin menjadi ketika para mahasiswa menyatakan tiga tuntutan kepada Soekarno yang kemudian dikenal dengan nama Tri Tuntutan Rakyat (Tritura) pada 12 Januari 1966. Isi dari tuntutan itu adalah bubarkan PKI, perombakan Kabinet Dwikora, dan turunkan harga barang. Tritura digerakkan secara masif lewat kertas selebaran, demonstrasi, hingga coretan-coretan di tembok.126
Melihat tuntutan mahasiswa yang semakin keras, Soekarno menerbitkan Keputusan Presiden No. 41/Kogam/1966 yang isinya
125 Harold Crouch, Militer dan Politik di Indonesia, 169-174.
126 Lihat tulisan Abdul Mun’im DZ, Gerakan Mahasiswa 1966 di Tengah Pertarungan Politik Elit dalam Muridan S. WIdjojo et al., Penakluk Rezim Orde Baru:
Gerakan Mahasiswa ‘98, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1999), 29-30. Lihat juga narasi tentang demonstrasi mahasiswa yang berisi kritikan terhadap pemerintah Soekarno sepanjang Januari 1966 dalam Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, (Jakarta: LP3ES, 1989), 159-209.