BAB IV ORDE BARU
B. Menciptakan Stabilitas Politik
Nawaksara133 yang tak mencantumkan sikapnya kepada peristiwa G30S.134
Enam bulan berlalu, Soekarno kembali membuat laporan khusus yang isinya adalah pendapatnya tentang G30S. Namun, tuntutan mahasiswa semakin menjadi lantaran mereka ingin Soekarno dicopot dari jabatannya sebagai Presiden RI. MPRS menganggap bahwa peran Soekarno gagal dalam menciptakan keamanan dan ketertiban di negara Indonesia. Pada 12 Maret 1967, MPRS mencabut status Soekarno sebagai Presiden RI seumur hidup lewat Ketetapan MPRS No.XXXIII/MPRS/1967.135 Setahun kemudian, berakhirlah sudah kepemimpinan Soekarno sebagai Presiden RI. Ia resmi digantikan Soeharto melalui Sidang MPRS pada 27 Maret 1968 dan ditetapkan dalam ketetapan MPRS Nomor XLIV Tahun 1968. 136
pemuka agama, menghancurkan simpatisan PKI hampir di seluruh Indonesia yang jumlahnya diperkirakan mencapai 1,5 juta orang.137
Perlu diketahui, penolakan AD terhadap PKI dimulai ketika adanya pergolakan pada 1948. Saat itu, PKI di bawah naungan Musso memberontak kepada Pemerintahan RI yang dipimpin Soekarno.138 AD pun menilai bahwa jika PKI sangat berbahaya. Prinsipnya adalah, membunuh atau dibunuh. Konflik antara PKI dengan AD pun berlanjut lewat isu agrarian. Pada 1965, wilayah tanah di bagian Jawa Tengah dan Jawa Timur dikuasai oleh kalangan pemuka agama, sedangkan petani miskin cenderung lebih abangan. Propaganda AD pun semakin larut ketika mereka menyatakan kepada masyarakat bahwa Komunis tak bertuhan. “PKI Anti Tuhan”, “Aidit Setan”. Slogan-slogan di dinding itu cukup untuk meruncingkan hubungan AD dengan PKI saat itu.
Puncaknya pun terjadi ketika terjadinya G30S. AD menganggap bahwa peristiwa itu didalangi oleh PKI.139
Dampak dari peristiwa G30S terhadap PKI terus berlanjut. Di bawah naungan Soeharto, anti-komunis seolah menjadi sebuah agama resmi negara. Propaganda anti komunis terus dilekatkan lewat museum, monumen, upacara, film, buku, hingga tanggal-tanggal yang membuat rakyat membenci Komunis hingga akhir kepemimpinannya pada tahun 1998. 140
137 Julie Southwood dan Patrick Flanagan, Teror Orde Baru: Penyelewengan Hukum dan Propaganda 1965-1981, 79-99. Lihat juga narasi pemberangusan terhadap PKI di bahasan sub bab sebelumnya.
138 Julie Southwood dan Patrick Flanagan, Teror Orde Baru: Penyelewengan Hukum dan Propaganda 1965-1981, 28-30.
139 Julie Southwood dan Patrick Flanagan, Teror Orde Baru: Penyelewengan Hukum dan Propaganda 1965-1981, 83-90.
140 John Roosa, Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto, 9-13.
Soeharto selaku pewaris kepemimpinan dari Orde Lama memang tak setuju dengan ideologi Komunisme. Namun, ia juga tak menyukai sistem Demokrasi Terpimpin yang diterapkan Soekarno. Selain itu, ia juga tak mau golongan Islam kembali berpolitik lewat Partai Masyumi, yang sebelumnya sudah dibubarkan oleh Soekarno. Soeharto lebih memilih kembali kepada Pancasila sebagai sebuah ideologi negara.
Soeharto pun mengesahkannya lewat lobi politik yang kemudian tercantum dalam Ketetapan MPRS No. XX/MPRS/1966. Isinya adalah peranan Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 sebagai sebuah cita-cita bangsa Indonesia yang menjadi dasar negara Indonesia. Pancasila tak boleh diubah oleh kelompok manapun karena akan bertentangan dengan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.141
Penegasan Soeharto terhadap Pancasila bukanlah sebuah alasan.
Setelah menumpas Komunisme lewat G30S, ia mendapat sebuah usulan dari kelompok Islam yang berasal dari Partai Masyumi. Mereka menginginkan agar pembahasan mengenai penerapan syariat Islam dalam Pembukaan UUD 1945 kembali dikaji. Kelompok ini juga menginginkan untuk kembali mendirikan Partai Masyumi sebagai wadah berpolitik untuk umat Islam. Walaupun naiknya Soeharto menjadi Presiden RI dibantu oleh Kelompok Islam ini, Soeharto dengan tegas menolak usulan tersebut. Sebagai gantinya, Soeharto membentuk sebuah partai baru bernama Partai Muslimin Indonesia (Parmusi).142 Soeharto juga melarang para petinggi Masyumi untuk kembali berpolitik dan terpilih ke dalam anggota parlemen di pemilu nanti. Dalam artian,
141 Peter Kasenda, Soeharto: Bagaimana Ia Bisa Melanggengkan Kekuasaan Selama 32 Tahun?, (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2013), 90-93.
142 Martin van Bruinessen, Rakyat Kecil, Islam, dan Politik, (Yogyakarta:
Penerbit Gading, 2013), 291.
Soeharto tak menginginkan adanya wacana negara Islam yang digagas oleh kaum Islam. Soeharto lebih menginginkan prinsip negara sekuler ketimbang negara yang bersyariat Islam.143
Soeharto sendiri bukan berarti tak memiliki partai politik.
Sebagai militer, ia tergabung ke dalam Sekretariat Bersama (Sekber) Golongan Karya (Golkar). Awalnya, Golkar bukanlah sebuah partai politik. Golkar hanyalah sebuah organisasi yang digagas oleh Angkatan Darat pada 20 Oktober 1964. Golkar mewadahi berbagai organisasi yang terdiri dari berbagai kelompok, seperti organisasi pemuda, wanita, sarjana, buruh, tani, dan juga nelayan.144 Sekber Golkar ini ditujukan agar bisa berpartisipasi dalam kegiatan berpolitik. Terlebih, mereka ingin meredam dominasi PKI dan menjadi alat ketika berhadapan dengan Presiden Soekarno. Namun setelah Soekarno tumbang dan penguasa baru berasal dari kalangan militer, maka Golkar menjadi sebuah legitimasi baru untuk menampung masyarakat sipil. Golkar juga berfungsi sebagai wadah untuk para kelompok yang pro terhadap Soeharto. 145
Pada 1966, Golkar masih diisi oleh orang-orang pro Soekarno, seperti Brigjen Djuhartono, Imam Pratignyo, dan JK Tumakaka, yang semuanya duduk di dalam Dewan Pengurus Pusat (DPP) Golkar.
Karenanya, Golkar masih menggunakan istilah-istilah yang sering diagungkan Soekarno dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah
143 Peter Kasenda, Soeharto: Bagaimana Ia Bisa Melanggengkan Kekuasaan Selama 32 Tahun?, 74-75.
144 Partai Golkar, Sejarah Partai, https://partaigolkar.or.id/sejarah, (Diakses pada 4 Desember 2018 pukul 16.16).
145 Jusuf Wanandi, Menyibak Tabir Orde Baru: Memoar Politik Indonesia 1965-1968, 126.
Tangga Organisasi (ADART). Waktu itu, Sekber Golkar adalah organisasi yang berdasarkan Pancasila dan Manifesto Politik (Manipol).
Sedangkan dalam tujuannya, Sekber Golkar ditujukan kepada Masyarakat Sosialis Indonesia. Setelah diadakan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) I Golkar pada 9-11 Desember 1966, Soeharto dan Nasution maju sebagai Pembina Sekber Golkar. Barulah pada Munas II yang diselenggarakan pada 2-7 November 1967, petinggi sebelumnya pun mulai diganti. Brigjen Djuhartono diganti oleh Mayjen Suparto Sukowati sebagai Ketua Umum. 146
Untuk menyelesaikan misinya dalam pemerintahan RI, Soeharto membutuhkan beberapa penasihat. Pada 1966, Soeharto membentuk sebuah Staf Pribadi (Spri) yang ditugaskan untuk membantu urusan ekonomi, politik, maupun intelijen di dalam atau luar negeri. Soeharto menunjuk Mayjen Alamsjah Ratu Perwiranegara sebagai Koordinator Spri. Alamsjah pun menambahkan draf untuk menambah anggota Spri.
Dari sana, terpilih beberapa orang untuk membantu Soeharto, yakni:
1. Mayjen Alamsjah Ratu Perwiranegara (Koordinator Spri) 2. Mayjen Soenarso (Bidang Politik)
3. Kolonel Sudjono Humardani (Bidang Ekonomi) 4. Kolonel Slamet Danusudirjo (Bidang Pembangunan) 5. Kolonel Abdul Kadir (Staf Organisasi dan Administrasi) 6. Brigjen Surjo Wiryohadipuro (Bidang Keuangan
7. Kolonel Yoga Sugama (Urusan Intelijen Dalam Negeri) 8. Letkol Ali Moertopo (Urusan Intelijen Luar Negeri)147
146 Peter Kasenda, Soeharto: Bagaimana Ia Bisa Melanggengkan Kekuasaan Selama 32 Tahun?, 139-140.
147 David Jenkins, Soeharto dan Barisan Jenderal Orba: Rezim Militer Indonesia 1975-1973, (Depok: Komunitas Bambu, 2010), 27-28.
Penunjukan para perwira tentara bukan tanpa alasan. Soeharto menggunakan jasa mereka karena kedekatannya ketika masih bertugas sebagai tentara. Alamsjah misalnya, ia merupakan teman dekat Soeharto saat masih menjalankan misi di Markas Besar AD pada 1960. Sementara Yoga Sugama, Ali Moertopo, dan Sudjono Humardhani pernah menjadi pembantu Soeharto ketika masih bertugas sebagai Panglima Kodam Diponegoro, Jawa Tengah, pada akhir 1950 dan kembali bersama saat menjabat di Kostrad. Ali Moertopo sendiri pernah bertugas sebagai unit intelijen khusus untuk menyelesaikan konflik dengan Malaysia semasa menjadi Pasukan Operasi Khusus (Opsus) pada 1964.148
Tak hanya dari kalangan militer, Soeharto juga menambahkan orang-orang sipil untuk menjadi pembantu pribadinya. Mereka adalah Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, Sadli, dan Emil Salim yang bertugas di bidang Ekonomi. Sedangkan di bidang politik ada Sarbini Sumawinata, Fuad Hasan, Hariri Hadi, Delian Noer, dan Sulaeman Sumardi. Pembantu Soeharto ini bertugas di Jalan Merdeka Barat Nomor 15 yang sebelumnya adalah Rumah Dinas Wakil Perdana Menteri di zaman Soekarno, Soebandrio. 149
Namun, keberadaan Spri Soeharto tak bertahan lama. Hal ini dikarenakan adanya kritik dari mahasiswa dan media massa. Walaupun
148 David Jenkins, Soeharto dan Barisan Jenderal Orba: Rezim Militer Indonesia 1975-1973, 27. Lihat juga keterlibatan Ali Moertopo dalam menyelesaikan hubungan diplomatik dengan Malaysia di Tempo, Intel Diplomat Modal Semangat, dalam Majalah Tempo edisi Khusus Rahasia-Rahasia Ali Moertopo tanggal 14-20 Oktober 2013, 58.
149 Petrik Matanasi, Pembantu-Pembantu Khusus daripada Soeharto, https://tirto.id/pembantu-pembantu-khusus-daripada-soeharto-cFxD, (Diakses pada 16 Januari 2019 pukul 23.32 WIB).
Spri dibubarkan pada Juni 1968, para anggotanya masih berada di lingkaran pemerintahan. Februari 1968, Alamsjah diangkat menjadi Sekretaris Negara yang bertugas untuk mengawasi kinerja staf resmi presiden. Yoga Sugama dialihkan menjadi Wakil Kepala Bakin yang kemudian naik menjadi Ketua Bakin di tahun yang sama. Sementara Surjo Wirjohadipuro, Sudjono Humardhani, dan Ali Moertopo kemudian dijadikan Asisten Pribadi (Aspri) Soeharto, yang sejatinya adalah perpanjangan tangan dari Spri.150
Polemik mengenai ideologi politik Soeharto kembali terjadi ketika ia memiliki perbedaan pendapat dengan Nasution selaku Ketua MPRS. Menjelang Sidang MPRS untuk menetapkan Soeharto sebagai Presiden RI secara penuh, pembahasan tentang Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) menjadi sebuah adu argument yang panjang. Isu-isu GBHN yang akan dibahas Nasution melalui Sidang MPRS adalah pelarangan orang untuk pindah agama, pembentukan kabinet bersama parlemen, dan kabinet harus mendapat dukungan penuh dari rakyat, dalam artian adalah partai politik. Fraksi Nasution memandang, apabila amandemen UUD 1945 bisa diterima ketika sidang umum, maka MPRS bisa melihat bagaimana kemampuan Soeharto saat menjabat sebagai Presiden RI. Oleh karenanya, apabila Soeharto gagal, maka pada tahun 1971 Soeharto bisa dicopot dari jabatannya selaku Presiden RI.151
Jusuf Wanandi dalam memoarnya menilai, GBHN yang digagas oleh Nasution akan menjadi beban terhadap Soeharto ketika resmi dilantik menjadi Presiden. Bersama Ali Moertopo dan Sudjono
150 David Jenkins, Soeharto dan Barisan Jenderal Orba: Rezim Militer Indonesia 1975-1973, 28.
151 Jusuf Wanandi, Menyibak Tabir Orde Baru: Memoar Politik Indonesia 1965-1968, 108-114.
Humardhani, Jusuf meyakinkan Soeharto bahwa ini akan menjadi perangkap apabila gagal untuk dijalankan. Jusuf memandang bahwa fraksi Nasution yang berhaluan kanan memang bertentangan dengan kubu Jusuf yang diisi oleh kelompok Nasionalis-Kristen. Akhirnya, Soeharto berhasil menang dan menolak gagasan yang diluncurkan oleh Fraksi Nasution pada Sidang MPRS tahun 1968 itu.152
Peran Aspri Soeharto lainnya terjadi saat perebutan Papua dari cengkraman Belanda melalui Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969.
Awal sengketa Papua antara Belanda dengan Indonesia sebenarnya dimulai pada 1962, yakni ketika Soekarno menjabat sebagai Presiden RI.
Soeharto yang saat itu menjadi Panglima Pasukan Operasi Mandala.153 Pada 1967, Soeharto menunjuk Ali Moertopo selaku pihak intelijen untuk melihat kondisi di wilayah Irian Barat. Mei 1967, Ali pun mengirimkan Jusuf Wanandi beserta tim untuk mencari fakta di Irian Barat.154
Selama seminggu, Jusuf mendapati kondisi Irian Barat yang memprihatinkan. Di sana, ia mendapati bahwa kondisi penduduk mengalami krisis. Hal ini dikarenakan ulah Angkatan Bersenjata yang
152 Jusuf Wanandi, Menyibak Tabir Orde Baru: Memoar Politik Indonesia 1965-1968, 115.
153 Pasukan ABRI yang bertugas untuk merebut Irian Barat dari Belanda.
Sebelumnya, Indonesia dan Belanda sudah melakukan perundingan untuk mengakui kedaulatan wilayah Indonesia lewat Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda pada 1949. Namun, perjanjian itu mengecualikan Irian Barat dari wilayah kedaulatan Indonesia. Sehingga terciptalah Operasi Perebutan Irian Barat. Istilah Tri Komando Rakyat (Trikora) dimunculkan dari Pidato Soekarno yang isinya adalah merebut Irian Barat. Lihat penjelasan tentang Operasi Mandala lewat laporan Petrik Matanasi, Sejarah Pidato Trikora dan Ambisi Sukarno Kuasai Papua, https://tirto.id/sejarah- pidato-trikora-dan-ambisi-sukarno-kuasai-papua-db2m, (Diakses pada 17 Januari 2019 pukul 2.19 WIB).
154 Jusuf Wanandi, Menyibak Tabir Orde Baru: Memoar Politik Indonesia 1965-1968, 119.
menjarah semua persediaan. Mulai dari makanan, alat-alat listrik, hingga botol bir dibawa ke luar Irian Barat. Laporan Jusuf tentang kondisi Irian membuat Ali Moertopo segera memutuskan untuk mengirimkan barang- barang untuk kebutuhan penduduk. Ali mencari bantuan dana lewat perusahaan perkapalan dengan cara menyelundupkan karet dan barang lain, baik itu yang masuk atau keluar dari Indonesia. Dari penyelundupan itu, Ali berhasil mengumpulkan U$17 juta yang uangnya tersimpan di bank Malaysia dan Singapura. Setelah mendapat restu dari Soeharto, Ali menggunakan dana ini untuk mengirimkan bantuan ke Irian Barat berupa makanan, tembakau, hingga merek bir yang disukai oleh penduduk Irian Barat.155
Selain mengirim bantuan, Jusuf juga melakukan berbagai konsolidasi demi menarik hati masyarakat Irian. Mula-mula, ia menggunakan pemuka Gereja Katolik Romo Jesuit Sunandar untuk menjembatani umat Protestan dan Katolik. Mereka diyakinkan oleh Romo Jesuit bahwa Indonesia adalah negara Pancasila yang nantinya akan merangkul mereka yang beragama minoritas. Selain itu, Jusuf juga menyuruh relawan mahasiswa untuk melakukan perbaikan fasilitas di Irian. Dengan bantuan Ali Moertopo, ia mengirimkan lebih dari 250 mahasiswa untuk memperbaiki rumah, membagikan kebutuhan pokok, mengkondisikan transportasi, hingga bersikap ramah kepada masyarakat Irian Barat.156
Hal ini terus menerus dilakukan selama kurang lebih dua tahun.
Usaha Jusuf dan Ali Moertopo tak sia-sia. Pada Penentuan Pendapat
155 Jusuf Wanandi, Menyibak Tabir Orde Baru: Memoar Politik Indonesia 1965-1968, 119-120.
156 Jusuf Wanandi, Menyibak Tabir Orde Baru: Memoar Politik Indonesia 1965-1968, 120-121.
Rakyat (Pepera) 1969, sebuah dewan yang terdiri dari 1.025 orang yang mewakili setiap kabupaten di Irian memilih bergabung dengan Indonesia. Soeharto kemudian mengirimkan tim khusus untuk melobi negara anggota PBB agar setuju dengan keputusan Pepera sebelum disidangkan di Kantor PBB yang ada di New York, Amerika Serikat.
Kemudian, Ali Moertopo selaku Intelijen Urusan Luar Negeri pergi ke New York untuk menemui sejumlah delegasi di New York dan Washington DC. Sidang PBB pun memutuskan bahwa Irian Barat kembali ke kedaulatan Indonesia dan disepakati oleh mayoritas negara anggota PBB.157
Pemilu pertama pada 1971 menjadi tantangan Soeharto selanjutnya. Soeharto membutuhkan dukungan masyarakat agar kembali dipilih. Dalam menghadapi pemilu itu, sebenarnya Soeharto menggaet militer yang pada dasarnya anti partai politik. Militer sendiri menganggap bahwa partai politik adalah sebuah pesaing dalam mencapai kekuasaan, menimbulkan keresahan pada rakyat, dan mengganggu integritas ABRI. Namun, Soeharto menyiasatinya dengan menggunakan Golkar sebagai kendaraan politik dalam melanggengkan kekuasaanya di Pemilu 1971 tersebut.158
Soeharto memulai pemanasan melalui perintahnya kepada sebuah kelompok yang terdiri dari kalangan mahasiswa Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Kelompok ini yakni Mashuri, Sumiskum, Soelistio, dan Jusuf Wanandi. Jusuf mengaku, kehancuran Soekarno karena tak adanya partai politik untuk melanggengkan kekuasaannya. Ia
157 Jusuf Wanandi, Menyibak Tabir Orde Baru: Memoar Politik Indonesia 1965-1968, 121-122.
158 Peter Kasenda, Soeharto: Bagaimana Ia Bisa Melanggengkan Kekuasaan Selama 32 Tahun?, 140.
tak mau hal itu kembali terjadi kepada Soeharto. Soeharto pun menyetujui ide kelompok ini. Ia menyarankan agar mereka tergabung ke dalam Golkar sebagai tim sukses kemenangan Soeharto. 159
Bersama tim itu, Jusuf Wanandi segera mengelola Badan Pengendalian Pemilu (Bappilu) Golkar. Jusuf menyaring 50 orang yang terdiri dari kelompok aktivis mahasiswa. Setelah diseleksi, mereka akan disebar ke beberapa daerah untuk mengkampanyekan Golkar. Tim ini merangkul kekuatan dari Pertahanan Sipil (Hansip) yang memang dikelola oleh militer. Hansip diarahkan untuk berkeliling dari rumah ke rumah untuk mengajak masyarakat. Mereka melakukan sosialisasi bahwa Golkar adalah jalan untuk menuju era pembangunan dan keamanan nasional. Tak hanya itu, para hansip ini juga mengatakan bahwa jika tidak ada yang memilih Golkar, maka akan dicap sebagai anti militer, bahkan juga dicap sebagai pro PKI. 160
Selain hansip, mereka juga menyelenggarakan hiburan dengan menggaet bintang film, penyanyi, hingga model. Sembari mengadakan acara hiburan, Bappilu tak lupa menyelipkan pidato pemimpin Golkar di sela-sela acara. Para pemimpin rakyat juga diberi kesempatan untuk menaiki pesawat terbang. Hal ini ditujukan demi menaikkan perhatian masyarakat kepada Golkar. Birokrasi juga tak luput dari pengawasan Bappilu Golkar. Mereka mengandalkan Departemen Dalam Negeri dan Departemen Pertahanan dan Keamanan untuk mengadakan kampanye pada Golkar. Para pegawai pemerintahan diharuskan untuk bergabung dengan Golkar lewat Korps Pegawai Negeri (Korpri). Golkar dianggap
159 Jusuf Wanandi, Menyibak Tabir Orde Baru: Memoar Politik Indonesia 1965-1968, 125-126.
160 Jusuf Wanandi, Menyibak Tabir Orde Baru: Memoar Politik Indonesia 1965-1968, 128-129.
sebagai organisasi alternatif yang ingin memajukan pembangunan untuk Republik Indonesia. 161
Usaha mereka tak sia-sia, Golkar berhasil meraup suara hampir 63% dalam Pemilu 1971 sekaligus mendapat jatah kursi sebanyak 236 dari 360 kursi yang ada di DPR.162 Golkar menang telak dari sembilan partai lainnya, yakni NU, Parmusi, PNI, PSII, Parkindo, Partai Katolik, Perti, IPKI, dan Murba.163
Kesuksesan Tim Bappilu yang diisi oleh Jusuf Wanandi dan kawan-kawannya ini jadi perhatian Soeharto. Setelah kemenangan Golkar, Soeharto membentuk sebuah lembaga think-tank yang bertujuan untuk membantu kebijakan Presiden RI. 1 September 1971, lahirlah sebuah lembaga bernama Centre for Strategic dan International Studies (CSIS) yang dipimpin oleh Hadi Soesastro dan Clara Joewono yang keduanya berlatar aktivis mahasiswa. Kendali Soeharto terhadap CSIS ini diwakili oleh Ali Moertopo dan Sudjono Humardhani selaku Aspri.164
Kemenangan Soeharto dan Golkar dalam Pemilu 1971 tak membuat Soeharto puas. Ia merasa harus kembali menang pada Pemilu 1977 nanti. Soeharto menganggap bahwa partai politik itu adalah biang dari kekacauan stabilitas politik, terutama pada saat sistem Demokrasi Parlementer yang terjadi di masa Soekarno. Soeharto pun membuat kebijakan baru yang bertujuan untuk membagi partai ke dalam dua
161 David Reeve, Golkar: Sejarah yang Hilang, Akar Pemikiran, dan Dinamika, (Depok: Komunitas Bambu, 2013), 313-317.
162 Jusuf Wanandi, Menyibak Tabir Orde Baru: Memoar Politik Indonesia 1965-1968, 129-130.
163 Hasil Pemilu 1971 bisa dilihat di laman KPU, Pemilu 1971, https://kpu.go.id/index.php/pages/detail/2018/9/PEMILU-1971/MzQz, (Diakses pada 18 Januari 2019 pukul 21.32 WIB).
164 Jusuf Wanandi, Menyibak Tabir Orde Baru: Memoar Politik Indonesia 1965-1968, 134-136.
kelompok. Kelompok pertama diisi oleh kelompok nasionalis yang terdiri dari PNI, Partai Katolik, IPKI, Parkindo, dan Murba. Sedangkan kelompok kedua diisi oleh kelompok agamis yang terdiri dari Parmusi, NU, PSII, dan Perti. Pada 1973, Soeharto pun membentuk dua partai yang terdiri dari kelompok tersebut. Kelompok Nasionalis melebur ke dalam Partai Demokrasi Indonesia (PDI), sedangkan Kelompok Agamis melebur ke dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Dari semuanya, hanya Golkar saja yang tak kebagian jatah fusi partai ala Soeharto tersebut. Dari kebijakan ini, Golkar hanya memiliki saingan yang lebih sedikit saat Pemilu 1977 dimulai.165
Strategi politik yang digencarkan Soeharto tak bisa lepas dari pengaruh militer. Peran militer yang diterapkan Soeharto sendiri karena konsep Dwifungsi ABRI yang digagas oleh A.H Nasution pada 18 November 1958 di Akademi Militer Nasional. Awalnya, gagasan Nasution ditujukan agar militer mampu mengendalikan situasi keamanan yang lewat lembaga politik, birokrasi politik, partai politik, hingga organisasi non politik, terutama untuk melawan PKI yang saat itu menjadi musuh bersama pihak militer.166
Hingga pertengahan 1970-an, komposisi pemerintahan Soeharto didominasi oleh militer. David Jenkins pun mendata mereka ke dalam berbagai jabatan pemerintah, yakni:
1. Jenderal Maraden Panggabean (Menteri Pertahanan dan Keamanan serta Panglima ABRI)
2. Letjen Amir Machmud (Menteri Dalam Negeri)
165 Mahrus Irsyam dan Lili Romli (ed), Menggugat Partai Politik, (Depok:
Laboratorium Ilmu Politik FISIP UI, 2003), 118-120.
166 Peter Kasenda, Soeharto: Bagaimana Ia Bisa Melanggengkan Kekuasaan Selama 32 Tahun?, 6-8.
3. Letjen Yoga Sugama (Kepala Badan Koordinasi Intelijen (Bakin))
4. Letjen Ali Moertopo (Wakil Kepala Bakin) 5. Laksamana Sudomo (Panglima Kopkamtib)
6. Mayjen Leonardus Benyamin Moerdani (Asisten Intelijen Menteri Pertahanan)
7. Letjen Sudharmono (Menteri Sekretaris Negara)
8. Letjen Darjatmo (Kepala Staf Urusan Nonmiliter Menteri Pertahanan)
9. Letjen Ibnu Sutowo (Presiden Direktur Pertamina)
10. Jenderal Sumitro (sebelumnya Panglima Kopkamtib dan merangkap Wakil Panglima ABRI)
11. Letjen Sutopo Juwono (sebelumnya Kepala Bakin, dilengserkan setelah Malari 1974).167
Kemesraan Soeharto dengan militer mulai regang ketika memasuki awal 1990-an. Perubahan Soeharto dimulai ketika ia membuat organisasi Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) pada Desember 1990. Kemudian pada 1991, Soeharto melaksanakan ibadah haji bersama sang istri, Tien Soeharto. Hal inilah yang makin meruncingkan hubungan kubu sekuler-militer yang sudah terbentuk sejak 1970 hingga akhir 1980.168
167 David Jenkins, Soeharto dan Barisan Jenderal Orba: Rezim Militer Indonesia 1975-1973, 26.
168 Salim Haji Said, Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto, 122-127.