BAB III PERS DAN POLITIK DI INDONESIA
B. Pers Orde Lama
sendiri dikelola oleh serikat persuratkabaran di bawah pemerintah militer bernama Jawa Shimbun Kai. 63
Di masa pemerintahan militer Jepang, orang-orang Indonesia diberikan wewenang untuk menduduki jabatan staf redaksi senior yang menggantikan peran orang-orang Belanda. Sebab, kalangan terdidik Indonesia masih belum mampu menguasai bahasa Jepang dalam waktu yang singkat. Jepang juga memberikan program pelatihan bagi para jurnalis Indonesia. Dari sana, bahasa Indonesia kemudian menjadi sarana komunikasi dalam sektor birokrasi maupun pers. 64
berencana menerbitkan sebuah surat kabar untuk menyebarkan peristiwa bersejarah ini. Sebelumnya, Indonesia memiliki Kantor Berita Nasional bernama Antara yang lahir pada tahun 1937. Namun, kantor itu diambil oleh oleh Jepang untuk dijadikan Kantor Berita DO-MEI. Setelah Antara direbut kembali, kantor ini pun dijadikan kebangkitan pers Indonesia. 1 Oktober 1945, terbit Harian Merdeka yang bertujuan untuk menyebarkan proklamasi kemerdekaan RI.66 Dalam penyebaran informasi kemerdekaan Indonesia, Merdeka menjadi satu-satunya sumber informasi yang menjadi bahan berita untuk media asing. 67
Selain Diah, muncul juga sosok Mochtar Lubis yang membentuk harian Indonesia Raya (1949). Indonesia Raya menjadi media independen dan sangat keras terhadap komunis. Selain Indonesia Raya, Mochtar Lubis juga mendirikan media The Times of Indonesia (1952).
Media ini kemudian diambil alih wartawan asal Sri Lanka Charles Tambu. The Times of Indonesia adalah media di Indonesia yang menggunakan bahasa Inggris.68
Tak hanya kemunculan pers Indonesia, Pers Belanda dan Pers Cina ikut muncul setelah dilarang di masa pendudukan Jepang. Tahun 1948, Belanda menerbitkan 13 media cetak. Sedangkan Cina menerbitkan harian Sin Po dan Keng Po.69
66 David T. Hill, Pers di Masa Orde Baru, 23.
67 Pada 3 Oktober 1955, The Times of Indonesia merayakan peringatan ulang tahun kesepuluh harian Merdeka. Lewat tajuk rencananya, media yang dipimpin oleh Mochtar Lubis menceritakan tentang sejarah lahirnya Merdeka dan menyampaikan terima kasih karena telah menyebarkan informasi kemerdekaan. Lihat di Edward C.
Smith, Sejarah Pembredelan Pers di Indonesia, 93.
68 Edward C. Smith, Sejarah Pembredelan Pers di Indonesia, 93-94.
69 Edward C. Smith, Sejarah Pembredelan Pers di Indonesia, 76.
Namun, seiring berjalannya waktu, pemerintahan Soekarno mulai menyikapi peredaran pers asing seperti Belanda dan Cina.
Terlebih, saat itu kondisi pers nasional sedang mengalami ekonomi yang kembang-kempis. Di lain pihak, perusahaan Belanda tak mau menanamkan modalnya ke dalam perusahaan pers Indonesia. Hal ini menimbulkan kecemburuan dari perusahaan pers Indonesia yang saat itu tengah merintis modal, dengan pers Belanda yang kondisinya lebih stabil. 70
Puncaknya pun terjadi ketika Indonesia tengah gencar untuk merebut wilayah Irian Barat dari Belanda. Hal ini pun menjadi ancaman bagi pemerintah Belanda, termasuk perusahaan yang menangani kegiatan pers yang ada di Indonesia. Tak hanya Belanda, pers Cina pun turut terancam karena seringkali mengkritik kebijakan pemerintah Indonesia. Golongan pers Cina ini seringkali bergaung bahwa masyarakat Cina yang ada di Indonesia tak perlu berbaur dengan masyarakat Indonesia. Sebab, mereka menganggap diri mereka adalah minoritas. Pemerintah Indonesia pun merespons bahwa ideologi asing nantinya akan mengancam undang-undang dasar yang telah ditetapkan.
Lambat laun, pers Belanda dan pers Cina pun tenggelam dan tak terbit lagi.71
Pascakemerdekaan menjadi era kejayaan pertumbuhan media cetak di Indonesia. Ketika Belanda mengakui pemerintahan Indonesia secara konstitusional pada 1949 hingga 1950an, tercatat ada 75 penerbitan dengan jumlah persebarannya yang mencapai 413 ribu untuk
70 David T. Hill, Pers di Masa Orde Baru, 24.
71 Merosotnya pers Cina di Indonesia bisa dilihat di Edward C. Smith, Sejarah Pembredelan Pers di Indonesia, 76. Sedangkan mundurnya pers Belanda bisa dilihat di David T. Hill, Pers di Masa Orde Baru, 24.
masing-masing terbitan.72 Hal ini dikarenakan kemunculan pers sebagai pendukung negara dalam menyebarkan informasi kemerdekaan ke berbagai penjuru. Pers pada zaman ini seolah mendapat angin segar untuk menyampaikan ide dan gagasannya. 73
Memasuki tahun 1949-1950an, pers Indonesia memasuki era baru. Pada tahun ini, pers menjadi bagian dari sebuah corong partai politik. Bisa dikatakan, pers zaman ini menjadi pers partisan partai politik. Sebab, mereka dengan terang-terangan mendukung partai yang seidelogi dengannya.74 Dimulai pada tahun 1947, Partai Masyumi75 menerbitkan harian Abadi. Harian ini ditujukan untuk membawakan ideologi pemikiran Masyumi.76 Pada 1948, muncul juga harian Pedoman yang dibawahi oleh Rosihan Anwar. Pedoman muncul sebagai media yang mendukung Partai Sosialis. Selain itu, ada juga Nahdatul Ulama (NU)77 yang turut meluncurkan Duta Masjarakat (1951) di Jakarta. Dari
72 David T. Hill, Pers di Masa Orde Baru, 24.
73 Kasiyanto Kasemin, Sisi Gelap Kebebasan Pers, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2014), 25.
74 A.S. Haris Sumadiria, Jurnalistik Indonesia: Menulis Berita dan Feature, Panduan Praktis Jurnalis Profesional, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005), 20.
75 Awalnya, Masyumi adalah sebuah kumpulan dari organisasi Islam bernama Majelis Islam Ala Indonesia (MIAI). MIAI sudah terbentuk sejak September 1937.
Organisasi ini sendiri memiliki anggota yang berasal dari Muhammadiyah, NU, Persis, Al-Irsyad, serta organisasi Islam lain. Setelah Indonesia merdeka, pemerintah menganjurkan kepada masyarakat untuk mendirikan partai-partai politik sebagai penampung aspirasi masyarakat. MIAI pun memanfaatkan momentum ini dengan melaksanakan Muktamar Islam di Yogyakarta pada 7-8 November 1945. Muktamar yang dihadiri oleh para tokoh Islam ini kemudian melahirkan sebuah partai bernama Majelis Syuro Muslimin Indonesia dengan pemimpin pertama bernama Hasyim Asy’ari. Lihat Delian Noer, Partai Islam di Pentas Nasional: Kisah dan Analisis Perkembangan Politik Indonesia 1945-1960, (Bandung: Mizan, 2000), 10.
76 Edward C. Smith, Sejarah Pembredelan Pers di Indonesia, 76.
77 Nahdatul Ulama (NU) adalah organisasi Islam yang didirikan pada 31 Januari 1926 di Jawa Timur. Organisasi yang diinisiasi oleh Hasyim Asy’ari bertujuan untuk mewakili dan memperkokoh ajaran Islam tradisional di Hindia Belanda. Lihat lebih lengkap di Muhammad Iqbal, Nahdatul Ulama Didirikan untuk Membendung
PKI sendiri menerbitkan Harian Rakjat (1951). Sedangkan dari Partai Nasionalis Indonesia (PNI)78 membuat Suluh Indonesia (1953) sebagai corong suaranya. 79
Selain pers partisan, di era ini juga melahirkan sebuah pers mahasiswa, yang dalam istilah David T. Hill adalah pers pinggiran.
Sebenarnya, pers mahasiswa sendiri sudah muncul ketika zaman Hindia- Belanda oleh golongan terpelajar di luar negeri bernama Indonesia Merdeka. Pada tahun 1955, sebanyak 35 penerbitan pers mahasiswa muncul yang tersebar di berbagai fakultas, universitas, serta kelompok politik dan agama. Di tahun ini juga, muncul sebuah organisasi pers mahasiswa, yakni Ikatan Wartawan Mahasiswa Indonesia dan Serikat Pers Mahasiswa Indonesia. Dua organisasi ini kemudian tergabung dalam Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) pada 1958.80
Pemerintah Indonesia juga membentuk organisasi bernama Dewan Pers pada 17 Maret 1950. Organisasi yang diisi oleh orang-orang berlatar media, cendekiawan, dan pejabat pemerintah ini berfungsi untuk menghadapi pertanyaan dan majalah-majalah pers. Dewan Pers ditugasi untuk mengajukan usul tentang pergantian undang-undang pers baru untuk mengganti undang-undang pers kolonial, memberikan dasar
Puritanisme Agama, https://tirto.id/nahdlatul-ulama-didirikan-untuk-membendung- puritanisme-agama-cDLL, (Diakses pada 18 Desember 2018 pukul 22.03 WIB).
78 PNI sendiri didirikan pada 4 Juli 1927 di Bandung. Partai yang ketua pertamanya Soekarno ini berdiri dengan tujuan menampung gagasan nasionalisme dan menyatukan berbagai perbedaan yang nantinya berujung pada kemerdekaan Indonesia dari pemerintah Hindia-Belanda. Lihat Bonnie Triyana, Riwayat Berdirinya PNI¸
https://historia.id/modern/articles/riwayat-berdirinya-pni-PGj0V, (Diakses pada 19 Desember 2018 pukul 02.15 WIB).
79 Edward C. Smith, Sejarah Pembredelan Pers di Indonesia, 92-95.
80 David T. Hill, Pers di Masa Orde Baru, 138-139. Lihat juga pembentukan IPMI di Satrio Arismunandar, Zaman Bergerak! Peran Pers Mahasiswa dalam Penumbangan Rezim Soeharto, (Jakarta: Genta Press, 2005), 86.
sosial-ekonomis kepada pers Indonesia, meningkatkan mutu pers Indonesia, dan membuat aturan mengenai kedudukan wartawan, seperti gaji, perlindungan hukum, kode etik jurnalistik, dan lain sebagainya.81 Selain itu, peraturan Persbreidel Ordonnantie82 dicabut pemerintah pada Juni 1954.
Para pers partisan ini mulai melancarkan kritiknya kepada pemerintah. Dimulai pada tahun Juni 1953 yang bertepatan dengan pernikahan Soekarno dengan seorang janda bernama Hartini. Kemudian, Soekarno dikritik karena condong terhadap ideologi Komunis. Kritik tak hanya kepada Soekarno, tetapi juga menyerang perdana menteri, kabinet, pejabat daerah yang korupsi, hingga kondisi perekonomian Indonesia yang mengalami inflasi tinggi. 83
Kritik yang terus digaungkan membuat pemerintah Indonesia menerbitkan Undang-Undang Darurat (yang dikenal sebagai Keadaan Bahaya dan Darurat Militer) pada Maret 1957. Sejak diberlakukan peraturan itu, pemerintah Indonesia melakukan tindakan keras kepada para punggawa pers, seperti interogerasi, penahanan, hingga pembredelan.84
Pada 1 Oktober 1958, muncul juga Surat Izin Terbit (SIT) yang kemudian diperbarui lagi pada 1960. Kemudian, Soekarno memunculkan sebuah aturan baru bernama Pedoman Penguasa Perang Tertinggi untuk Pers Indonesia pada 12 Oktober 1960. Isinya adalah aturan yang mengharuskan bahwa pers Indonesia harus mendukung
81 Edward C. Smith, Sejarah Pembredelan Pers di Indonesia, 95.
82 Lihat penjelasan tentang peraturan ini di sub bab sebelumnya.
83 Lihat kritik-kritik yang dilontarkan oleh pers Indonesia dalam Edward C.
Smith, Sejarah Pembredelan Pers di Indonesia, 126-145.
84 David T. Hill, Pers di Masa Orde Baru, 27.
manifesto politik yang diusung Soekarno.85 Soekarno mengakui bahwa revolusi Indonesia masih belum selesai karena umur negara ini masih sangat muda. Oleh karenanya, ia membatasi kritik-kritik yang dilontarkan oleh pers agar revolusi tidak berjalan kacau.86
Tak hanya itu, muncul juga izin yang dikeluarkan oleh militer Jakarta Raya pada 1 Oktober 1960 lewat Peraturan Penguasa Perang Tertinggi No. 10/1960. Aturan yang tadinya berisi pelarangan menerbitkan berita sensasional, kemudian dirinci lagi dengan menambahkan ketentuan untuk menyesuaikan dengan syarat aspek ideologi dan kekuasaan lewat Penetapan Presiden No. 6 Tahun 1963.
Dalam Pasal 6, tertulis bahwa SIT wajib dimiliki oleh setiap media yang ada di Indonesia. Jika mereka tak memiliki izin terbit, maka media itu akan dikenakan sanksi berupa penjara maksimal setahun atau denda maksimal Rp50 ribu, juga aset yang dimiliki media itu bisa dihancurkan atau disita oleh negara. 87
Aturan yang diterapkan Soekarno ini pun berdampak pada pembredelan yang ada di Indonesia. Hal ini dialami oleh PSI dan Masyumi. Abadi pun bubar pada 1960. Sedangkan Pedoman terpaksa berhenti cetak pada 1961.88
Peran pers dalam Demokrasi Terpimpin ini pun terbagi ke dalam dua bagian. Di satu sisi, pers dibilang sebagai kawan ketika mereka menyampaikan berita-berita yang pro terhadap pemerintah. Sedangkan di sisi lain, pers dianggap sebagai lawan ketika mereka mengkritik
85 Akhmad Zaini Abar, 1966-1974: Kisah Pers Indonesia, 61-62.
86 Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat, (Jakarta: Yayasan Bung Karno, 2011), 338-339.
87 Kasiyanto Kasemin, Sisi Gelap Kebebasan Pers, 26.
88 David T. Hill, Pers di Masa Orde Baru, 27.
kebijakan pemerintah. Mereka pun harus siap menerima konsekuensi seperti dipenjara ataupun dipaksa berhenti cetak.89