• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENGELOLA PERILAKU BURUK

Dalam dokumen Perilaku Organisasi (Halaman 77-86)

BAB 8

kejahatan tanpa dukungan organisasi, dan kejahatan organisasi, yang dilakukan dengan dukungan suatu organisasi.

KEMUNCULAN STUDI PERILAKU BURUK DALAM MANAJEMEN Konsep MEM telah menjadi tema di berbagai disiplin ilmu. Ini berarti sejumlah disiplin menawarkan teori, temuan penelitian, dan kerangka kerja untuk memeriksa MEM dan konsekuensinya. Gambar 8.2 menyajikan suatu model perilaku organisasi buruk dengan lengkap dan terintegrasi dari Verdi dan Weitz.

Penyebab. Empat jenis penyebab perilaku buruk, yaitu: individu, pekerjaan, kelompok, dan organisasi. Pemilihan dari karakteristik yang ditunjukkan didasarkan pada studi yang tersedia, kerangka kerja, dan pembahasan sebelumnya dari masing-masing faktor. Perilaku kerja individu yang mempersepsikan bahwa dia telah diperlakukan secara buruk akan memiliki konsekuensi negatif bagi orang tersebut (ketidakpuasan), kelompok kerja (ketidakpuasan), dan organisasi (absen yang meningkat).

Mediator. Konsep inti dalam model yang disajikan dalam Gambar 8.2 adalah “niat untuk berperilaku buruk.” Niat untuk berperilaku buruk didefinisikan sebagai perilaku yang dilakukan oleh seorang individu atau kelompok yang memiliki tujuan (dilakukan dengan sengaja) dan dapat berbahaya bagi orang tersebut dan orang lain, juga secara finansial dan sosial memerlukan banyak biaya. Niat untuk berperilaku buruk dianggap menengahi hubungan antara penyebab dengan hasil, yaitu ekspresi perilaku buruk. Niat yang diasumsikan merupakan hasil dari suatu kekutan normatif, yang merujuk pada ekspektasi seseorang mengenai bagaimana

dia harus berperilaku, dan suatu kekuatan instrumental, yang mewakili minat dan keyakinan pribadi individu. Kedua kekuatan ini dapat mempengaruhi maksud seseorang untuk berperilaku buruk dan juga jenis perilaku buruk apa yang akan digunakan.

Hasil. Lima kategori spesifik perilaku buruk: interpersonal, intrapersonal, kinerja, properti dan politik.

Biaya. Potensi biaya dari perilaku buruk karyawan terhadap individu, kelompok, organisasi dan kelompok masyarakat lain bisa besar.

Beberapa pihak merasa yakin bahwa manajer telah mendapatkan kebebasan dalam tanggung jawab biaya sosial.

Gambar 8.2 Model Perilaku yang Buruk dari Organisasi Intervensi Manajemen

Intervensi manajemen merupakan tindakan yang diambil oleh manajer (mewakili organisasi) untuk mencegah, mengendalikan, atau merespons perilaku buruk yang berbahaya. Gambar 8.2 menunjukkan tiga titik spesifik dari intervensi manajemen: A, B, dan C. Di ”A” manajemen dapat dengan hati-hati menyeleksi dan menolak mempekerjakan individu yang ”beresiko.” Manajemen juga dapat turut campur tangan pada titik penyebab yang lain (pekerjaan, kelompok, dan organisasi). Masalah dengan intervensi pada titik ini adalah bahwa orang tersebut sudah dipekerjakan. Titik intervensi yang paling efisien adalah selama tahap sebelum penerimaan.

Titik intervensi ini menawarkan manajer kesempatan dan tantangan yang berbeda. Jika dilakukan dengan benar, hal tersebut dapat mengurangi konsekuensi atau biaya dari perilaku buruk.

PERILAKU BURUK YANG TERPILIH Pelecehan Seksual (Sexual Harassment)

Pelecehan seksual merupakan bentuk agresi dan perilaku yang tidak etis. Perilaku yang buruk ini mengambil bentuk godaan seksual yang tidak diinginkan, permintaan untuk pelayanan seksual, dan tindakan fisik atau verbal lain yang bersifat seksual ketika (a) perlakuan atau penolakan tindakan seperti itu dibuat secara eksplisit atau implisit dalam proses penerimaan individu sebagai karyawan, (b) perlakuan atau penolakan tindakan semacam itu oleh seorang individu yang digunakan sebagai dasar keputusan ketenagakerjaan yang mempengaruhi individu tersebut, atau

(c) tindakan semacam itu memiliki tujuan atau dampak yang mempengaruhi kinerja pekerjaan individu atau menciptakan suatu intimidasi, permusuhan, atau lingkungan kerja yang menantang.

Mereka menyatakan bahwa pelecehan seksual dapat di kelompokkan kedalam tiga tahap: pelecehan jenis kelamin (ekspresi dan perilaku yang kasar), godaan seksual yang tidak diinginkan, dan pemaksaan seksual (pelecehan quid pro quo).

Agresi dan Kejahatan

Kata Agresi digunakan untuk mendeskripsikan banyak bentuk perilaku. Secara ringkas, agresi ditempat kerja adalah usaha dari seorang individu yang menimbulkan bahaya terhadap orang lain yang sebelumnya bekerja dengannya, atau yang pada sat ini bekerja untuknya, atau yang bekerja dalam organisasi itu sendiri. Usaha untuk membahayakan ini dilakukan dengan sengaja dan mengakibatkan cedera psikologis dan juga cedera fisik. Kerangka kerja dalam mengklasifikasikan agresi ditunjukkan dalam Gambar 8.3.

Gambar 8.3

Delapan Jenis Agresi Tempat Kerja yang Dikategorikan oleh Buss

Bullying

Bullying didefinisikan sebagai tindakan berulang, yang tidak diinginkan, yang diarahkan kepada rekan kerja yang lain, di mana hal tersebut dilakukan dengan sengaja maupun tidak sadar-jelas menyebabkan rasa malu dan tertekan, dan menciptakan lingkungan kerja yang tidak menyenangkan. Perilaku dari seseorang pengganggu (bully)

dimaksudkan sebagai tindakan kasar atau dianggap oleh korban sebagai hal yang kasar. Pengganggu (bully) dikenal memiliki tingkat agresi yang tinggi.

Penelitian organisasional mengenai bullying di tempat kerja dibagi menjadi dua: studi mengenai karakteristik dari korban dan pengganggu (bully), dan studi yang memusatkan konteks sosial di mana bullying muncul. Para peneliti telah menemukan bahwa banyak korban mempersepsikan rasa iri sebagai alasan dari kekasaran yang diarahkan kepada mereka; mereka juga memiliki keterampilan beradaptasi yang kurang, bersikap introvert, dan memiliki perasaan rendah diri. Peneliti lain menemukan bahwa orang yang berkinerja tinggi, lebih sering diganggu daripada orang yang berkinerja rata-rata.

Ketidaksopanan

Ketidaksopanan tempat kerja berhubungan dengan tindak tanduk kasar, tidak sopan, atau merendahkan orang lain. Ketika ketidaksopanan tampak jelas atau menjadi bagian dari budaya kerja, pengaruhnya dapat menimbulkan banyak biaya. Konflik dapat muncul dan mengurangi produktivitas. Ketika ketidaksopanan dalam bentuk kekerasan terus berulang, beberapa pekerja menjadi sakit secara mental atau menderita depresi. Jenis masalah ini berbiaya mahal dalam bentuk kenaikan cuti sakit dan tingginya premi asuransi kesehatan.

Untuk melawan masalah ketidaksopanan, sejumlah perusahaan menggunakan program pelatihan dan pendidikan. Tujuan dari program- program ini adalah mengajak partisipan untuk mempraktikkan etiket yang

tepat dan beradab. Manajer juga terlibat dalam mempraktikkan etiket peran, penugasan, dan penjadwalan yang lebih baik dengan karyawan mereka.

Penipuan

Penipuan didefinisikan sebagai tindakan yang disengaja untuk mengalihkan atau menyalahartikan informasi yang menyebabkan orang lain atau kelompok menyerahkan sesuatu yang berharga. Para peneliti menyimpulkan bahwa alasan paling umum kecurangan atau penipuan tersebut adalah motivasi. Konsep “wages in kind” menyatakan bahwa semakin tidak puas seorang pekerja, semakin termotivasi individu tersebut untuk melakukan penipuan.

Penipuan merupakan kombinasi dari motif dan kesempatan.

Kesempatan untuk melakukan penipuan pada umumnya diatasi melalui sistem kontrol internal. Jika check dan balances yang sesuai ada, akan lebih sulit untuk melakukan kecurangan terhadap organisasi. Untuk mengurangi kesempatan berbuat curang, seharusnya diberikan pemisahan tanggung jawab yang jelas. Penggunaan kontrol internal memang baik, tapi kontrol tersebut dapat dilangkahi oleh orang yang termotivasi dengan kuat.

Memastikan adanya keadilan, kondisi kerja yang baik, dan kepemimpinan yang adil akan mengurangi motivasi karyawan untuk melakukan penipuan.

Karyawan yang menggerutu, tidak puas, dan tidak memiliki harapan merupakan cikal bakal terjadinya penipuan.

Penyalahgunaan Obat di Tempat Kerja

Penyalahgunaan obat di antara para pekerja telah menimbulkan kerugian finansial dalam organisasi hingga mencapai miliaran dollar. Survei terhadap pekerja penuh waktu yang melaporkan penggunaan obat terlarang menyatakan bahwa mereka biasanya telah memiliki tiga atau lebih pekerjaan sebelumnya, seringkali tidak hadir ke tempat kerja, dan sebagai akibatnya dengan sukarela meninggalkan perusahaan atau diberhentikan oleh perusahaan.

Obat terlarang tidak hanya menimbulkan kecanduan, akan tetapi obat ini dapat berbahaya bagi orang yang tidak menggunakan. Organisasi perlu berusaha mengidentifikasikan tanda-tanda dari penyalahgunaan obat sebelum individu dipekerjakan. Akan tetapi, tidak terdapat pengujian yang akurat yang dapat memprediksi penyalahgunaan obat pada saat ini atau pada masa mendatang.

Cyberslacking

Penggunaan internet untuk kepentingan pribadi merupakan suatu bentuk dari bermalas-malasan secara virtual atau ”cyberslacking”. Perilaku ini menghabiskan waktu dan tenaga karyawan yang didedikasikan pada persoalan yang tidak berkaitan dengan organisasi. Cyberslacking pribadi juga dapat membebani jaringan komputer organisasi. Karyawan yang mengakses situs pornografi di kantor juga memberikan kontribusi pada perilaku pelecehan seksual. Kemampuan menghilangkan semua cyberslacking tidaklah mungkin. Akan tetapi, dengan memiliki aturan, mengkomunikasikannya, dan memberlakukannya akan mengurangi jenis perilaku buruk semacam ini.

Sabotase

Sabotase adalah suatu bentuk perilaku buruk yang mengeluarkan banyak biaya, yang berhubungan dengan merusak atau menghancurkan peralatan, tempat kerja, atau data rekan kerja atau organisasi. Sabotase merupakan ekspresi nyata dari agresi atau kejahatan. Sabotase merupakan suatu bentuk kejahatan yang ekstrem. Hal tersebut dideskripsikan sebagai perilaku buruk yang memasukkan sedikit unsur balas dendam. Orang yang melakukan sabotase berusaha untuk mengganggu atau membubarkan, menghancurkan organisasi.

Terdapat tiga jenis sabotase yaitu: orang, peralatan, dan operasi.

Dalam menyabotase orang tujuannya ialah menghancurkan karier, kemajuan, reputasi atau bidang kerja seseorang, sedangkan sabotase peralatan atau operasi melibatkan perusahaan secara fisik.

Usaha meminimalkan sabotase antara lain memperlakukan karyawan dengan adil dan jujur. Organisasi juga harus berusaha untuk mengembangkan budaya yang mendorong pembahasan masalah, keluhan, dan perasaan secara terbuka.

Pencurian

Definisi dari pencurian ialah pengambilan, konsumsi, atau transfer uang atau barang tanpa izin dari organisasi. Pencurian menyebabkan hilangnya banyak uang, merupakan tindakan spesifik, dan seharusnya segera ditangani setelah ditemukan.

Pengintai elektronik banyak digunakan untuk menghentikan atau menangkap pencuri. Organisasi juga menggunakan alat tes kejujuran atau

integritas untuk menemukan kandidat pekerja yang mungkin akan melakukan pencurian sebelum mempekerjakan mereka.

Model STEAL

Greenberg dan rekannya yakin bahwa motif yang mendasari perilaku mencuri sangatlah kompleks. Para peneliti ini megkategorikan motif di belakang pencurian sebagai prososial (membantu) atau antisosial (berbahaya). Istilah STEAL merujuk pada empat motif dibelakang perilaku pencurian: S (Support), T (Thwart), E (Even the score) dan A (Approval).

Motif Pendekatan ( Approach Motive )

Sebagian besar manajer berusaha untuk mencegah pencurian.

Akan tetapi, dalam beberapa kasus terdapat peraturan tidak tertulis yang mengizinkan (menyetujui) beberapa pencurian. Sebagai contoh beberapa manajer membiarkan pencurian yang ia temukan atau bahkan berpartisipasi didalamnya. Beberapa penelitian menemukan bahwa manajer mengizinkan pencurian sebagai bagian dari penghargaan pekerja.

Dampak dari persetujuan manajerial dapat menjadi hal yang signifikan.

Motif Dukungan ( Support Motive )

Suatu kelompok kerja dengan norma yang menyimpang tentang pencurian dapat memiliki pengaruh yang kuat terhadap perilaku pencurian. Kelompok tersebut membentuk rencana, menunjukkan bagaimana melaksanakannya, dan menghargai partisipasi dari anggota.

Rekan kerja yang berpartisipasi dalam pencurian dianggap sebagai anggota yang baik. Mencuri yang didukung oleh kelompok dan sebagai akibatnya lebih banyak pencurian terjadi. Pencuri dengan jenis dukungan seperti ini

Motif Membalas Perbuatan Orang Lain ( Even the Score Motive ) Suatu perilaku antisosial dirancang untuk menghasilkan sejumlah bentuk yang berbahaya bagi organisasi. Membalas perbuatan orang lain merupakan suatu cara untuk menyakiti organisasi karena sesuatu yang lelah dilakukan oleh organisasi (misalkan menolak permintaan, todak dipromosikan, dimarahi karena tidak menyelesaikan pekerjaan tepat waktu). Mencuri merupakan usaha untuk membawa keadilan atau keseimbangan dalam pikiran karyawan yang kecewa dan ingin membalas dendam.

Motif Menggagalkan ( Thwart Motive )

Motif menggagalkan diajukan untuk menentang norma kelompok yang mengatur pencurian. Alasan utamanya adalah menyakiti pemberi kerja dengan menyakiti anggota dari salah satu kelompok kerja. Hal ini merupakan usaha untuk menggagalkan usaha kelompok yang mengendalikan pencurian.

Privasi

Privasi ditempat kerja merupakan hal penting yang dihadapi manajer dan karyawan. Perspektif manajerial mengenai privasi dapat termasuk pengujian obat terlarang, penggledahan komputer, pengintaian dengan menggunakan rekaman kaset atau video dan memonitor perilaku diluar jam kerja. Kemunculan dan pertumbuhan internet telah menciptakan persoalan mengenai bagaimana teknologi di tempat kerja dapat mengaburkan batas antara perilaku pribadi dan perilaku profesional.

Hak privasi untuk karyawan sektor plubik ditemukan dalam Undang- undang A.S, dan pada umumnya lebih luas daripada hak privasi karyawan di sektor swasta. Pelanggaran privasi melalui peretasan (hacking) komputer menimbulkan masalah di seluruh dunia. Usaha untuk mencegah peretasan dan melindungi privasi diidentifikasikan dalam kotak Perilaku Organisasi Global.

Privasi E-Mail

E-mail digunakan secara luas diberbagai organisasi. E-mail telah menjadi pilihan alat komunikasi. Akan tetapi, perkembangan pesat sistem e-mail telah membawa sejumlah persoalan yang dapat menciptakan konflik antara manajemen-karyawan. Fourth Amendement dari Undang- Undang A.S. melindungi komunikasi tertulis dari pencarian dan penyitaan yang tidak beralasan. E-mail memiliki kecepatan yang sama seperti percakapan telepon akan tetapi memiliki sifat permanen seperti dokumen tertulis karena pesan ini dapat disimpan. Kualitas ini membuat pengadilan tidak memberikan e-mail perlindungan Fourth Amendement yang sama seperti telepon dan dokumen tertulis. Mencegah perilaku buruk dan pesan yang tidak profesional dianggap lebih penting daripada hak privasi karyawan.

Batasan Organisasi

Hubungan antara karyawan dan pemberi kerja merupakan hubungan timbal balik. Seorang pemberi kerja berharap karyawan tidak memberitahukan rahasia perusahaan, jadi apabila pemberi kerja tidak

menghormati privasi karyawan, hubungan timbal balik tidak akan terjalin.

Menguji Kebijakan

Organisasi dapat menggunakan pengujian (misalkan medis, obat terlarang, psikologis, atau detektor kebohongan) jika tes tersebut dirancang untuk meramalkan kemampuan seseorang dalam berkinerja, tidak melanggar privasi, dan bersifat rahasia. Ketika seseorang dipekerjakan, pemberi kerja dapat melakukan pemeriksaan medis hanya untuk menentukan ”kesehatan untuk berkinerja”. Tes dalam bentuk apapun seharusnya dipertimbangkan dengan hati-hati dalam hal biaya dan manfaat. Aturan kuncinya adalah untuk menentukan apakah terdapat alasan yang berhubungan dengan pekerjaan yang menyebabkan karyawan harus diuji. Jika ”alasannya” tidak jelas dan/atau signifikan, maka tes seharusnya tidak dilakukan.

RANGKUMAN

1. Perilaku buruk dalam organisasi memiliki banyak bentuk yang berbeda. Secara umum, management of employee misbehavior (MEM) merupakan tanggung jawab formal manajer. Kelompok- kelompok di mana karyawan yang berperilaku buruk berada juga memiliki peran informal dalam memperbaiki atau menghukum perilaku buruk dari rekan kerja mereka.

2. MEM memiliki tema antar disiplin. Sejumlah teori, studi, dan

model tersedia untuk menelusuri penyebab, mediator, hasil, dan biaya dari perilaku organisasi yang buruk.

3. Tujuan dari perilaku buruk untuk menengahi hubungan antara penyebab dan hasil. Tujuan ini dianggap normatif atau instrumental.

4. Manajemen dapat mengambil sejumlah tindakan untuk turut campur dalam memperbaiki atau menghentikan perilaku buruk.

Termasuk dalam pilihan manajer adalah ketika mempekerjakan (untuk mencegah masuk), turut campur yang berfokus pada pencegahan, dan turut campur dalam pencegahan masuk.

5. Daftar mengenai perilaku buruk yang mungkin dilakukan manajer maupun nonmanajer berkisar dari cyberslacking hingga pelecehan seksual dan kekerasan. Perilaku buruk tersebut jika dibiarkan akan menyebabkan hilangnya produktivitas, biaya yang lebih tinggi, dan semangat kerja yang lebih rendah.

6. Konsekuensi dari perilaku buruk termasuk perusakan /penghilangan peralatan, informasi, dan data. Juga terdapat biaya yang berkenaan dengan kesehatan yang signifikan.Tidak ada obat

“terbaik” untuk perilaku buruk. Perbedaan individu, tujuan yang berbeda, budaya organisasi yang bervariasi, dan pengetahuan serta keterampilan manajerial merupakan faktor penting untuk dipertimbangkan dalam menghadapi dan berusaha untuk memperbaiki perilaku buruk.

BAB 9

Dalam dokumen Perilaku Organisasi (Halaman 77-86)