• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENGELOLA STRES INDIVIDU

Dalam dokumen Perilaku Organisasi (Halaman 86-99)

BAB 9

tanggung jawab dan loyalitas terhadap perusahaan. Selain itu, dampak stress kerja juga berpengaruh pada individu karyawan itu sendiri.

Karyawan akan mengalami kebosanan, depresi, lekas marah dan mudah mengalami kecelakaan kerja serta kurang konsentrasi (Gibson et al dalam Andriani, 2001 : 3).

Stress kerja terjadi karena adanya tuntutan pekerjaan yang tidak seimbang dengan kemampuan individu. Seseorang akan mudah mengalami stress apabila kurang mampu mengadaptasikan keinginan dengan kenyataan. Hal ini akan dapat menimbulkan gangguan, baik secara fisik maupun psikis. Dalam usaha mengatasi stress tersebut, ada yang berhasil, namun ada juga yang gagal.

DEFINISI STRESS DAN STRESSOR

Stress dapat digambarkan sebagai perasaan tegang, gelisah atau khawatir. Istilah stress sendiri telah didefinisikan secara harfiah dalam berbagai literatur. Akan tetapi hampir semua definisi dapat ditempatkan ke dalam dua kategori, stres dapat didefinisikan sebagai suatu stimulus atau suatu respon.

Stress adalah suatu bentuk reaksi emosi dan fisiologis yang terjadi dalam merespon berbagai tuntutan baik dari dalam maupun dari luar organisasi (Greenberg, 2011: 186). Definisi yang lain menjelaskan bahwa stress merupakan dimoderasi oleh perbedaan individu, yang merupakan konsekuensi dari setiap tindakan, situasi, atau peristiwa yang memberikan tuntutan khusus terhadap seseorang (Ivanchevich, dkk, 2011 : 243).

Stress perlu dipandang sebagai respon dari seseorang terhadap suatu kondisi stimulus (tindakan, situasi, kejadian) atau apa yang disebut sebagai stressor. Stressor merupakan suatu kejadian atau situasi eksternal yang secara potensial dapat membahayakan seseorang (Ivanchevich, 2011:243). Sementara itu Greenberg (2011:186) mendefinisikan stressor sebagai berbagai tuntutan, baik fisik maupun psikologis yang dihadapi selama kehidupan.

Para ilmuwan seringkali membedakan stressor berkaitan dengan seberapa lama stressor tersebut berpengaruh terhadap individu. Stressor tersebut dibedakan menjadi 3 kategori, yang meliputi : (Greenberg, 2011:

186)

1. Stressor akut

Merupakan stressor yang membentuk perubahan secara tiba-tiba yang dapat membahayakan individu baik secarsa fisik maupun psikologis yang memaksa seseorang untuk membuat penyesuaian yang tidak diinginkan. Contohnya seseoran yang bertugas dalam shift kerja yang berbeda-beda, memaksa untuk bangun pagi sekali dan makan pada waktu yang berubah-ubah. Ketika keseimbangan tubuh terganggu, maka individu tersebut akan bereaksi secara fisik (menjadi kelelahan) dan secara emosional (menjadi mudah mengeluh)

2. Stressor episodik

Merupakan hasil dari pengalaman beberapa stressor akut dalam jangka waktu yang pendek. Dalam kata lain, individu tersebut mengalami beberapa pengalaman stress dalam kehidupannya. Contohnya ketika

sepanjang minggu seseorang ketidaksetujuan yang serius dengan rekan kerjanya, ia juga kehilangan rencana penjualan dalam jumlah yang besar, dan bahkan menumpahkan air pada kertas-kertas kerjanya yang penting.

3. Stressor kronik

Merupakan stress yang paling ekstrem, karena berkepanjangan dan memiliki pengaruh jangka panjang terhadap tubuh dan jiwa.

Adapun pengaruh waktu dari ketiga stressor tersebut dapat dilihat pada gambar berikut ini :

Sumber : Greenberg.J. 2011. Behavior in organization.Pearson Education Limited

MODEL STRES

Pekerjaan merupakan bagian terbesar dari kehidupan individu, dan aktifitas pekerjaan dan non-pekerjaan merupakan hal yang sangat berkaitan. Model yang ditunjukkan di Gambar dirancang untuk membantu

mengilustrasikan hubungan antara stressor organisasi, stres, dan hasil yang terjadi.

GAMBAR. Model stressor, stres, dan hasil

Sumber : Ivanchevich, dkk. 2001. Organizational Management and Behavior. Mc. Graw Hill International

Pengalaman stres yang berhubungan dengan pekerjaan dan yang tidak berhubungan dengan pekerjaan menciptakan hasil : perilaku, kognitif dan fisiologis. Hubungan antara stres dan hasil (individu dan organisasi) tidak selalu secara langsung, demikian juga dengan hubungan antara stressor dan stres. Hubungan ini dipengaruhi oleh moderator stress.

Perbedaan individu seperti usia, mekanisme dukungan sosial dan kepribadian diperkenalkan sebagai moderator potensial. Moderator adalah suatu atribut berharga yang memepengaruhi sifat suatu hubungan.

Sementara sejumlah moderator merupakan hal yang sangat penting, kita memusatkan tiga moderator yang akan mewakili kepribadian, perilaku Tipe A dan dukungan sosial.

Pencegahan stres dan manajemen stres dapat diawali oleh individu atau organisasi. Tujuan dari sebagian besar program pencegahan adalah untuk mengurangi frekuensi kemunculan, intensitas, dan dampak negative dari stres. Manajemen stres berusaha untuk menghilangkan atau meminimalkan konsekuensi negative dari stres.

PENYEBAB-PENYEBAB TERJADINYA STRESS DI TEMPAT KERJA Stress bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Contohnya stress bisa disebabkan oleh permasalahan personal, seperti anggota keluarga, permasalahan keuangan atau bahkan penyakit yang diderita. Sementara itu, dalam lingkup pekerjaan, stress bisa disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain : (dalam Greenberg, 2011 : 190) :

1. Lingkup pekerjaan

Beberapa pekerjaan, seperti polisi, pemadam kebakaran, perawat UGD, memiliki kecenderungan mengalami stress yang lebih tinggi bagi para pemegang pekerjaannya. Beberapa hal dalam lingkup pekerjaan yang dapat menyebabkan timbulnya stress antara lain ketika pemegang pekerjaan mengalami banyak hal yang berkaitan dengan pengambilan keputusan, mengawasi peralatan secara terus menerus, bekerja di dalam kondisi yang kurang menyenangkan atau mengerjakan tugas-tugas yang kurang terstruktur.

2. Konflik antara tugas dan non-tugas

Seseorang mungkin akan mengalami konflik ketika menghadapi permasalahan yang berkaitan dengan tugas dan permasalahan yang tidak berkaitan dengan tugas, seperti keluarga, pada saat yang bersamaan.

3. Pelecehan seksual

Pelecehan seksual ini adalah segala bentuk kontak maupun komunikasi yang mengarah pada sekusal, terutama pada wanita. Tentu akan menjadi sulit bagi seorang pekerja untuk bekerja ketika ia merasa mendapat perhatian yang tidak diinginkan. Pelecehan seksual ini bisa menjadi penyebab terjadinya turnover.

4. Ambiguitas peran

Kondisi ini terjadi ketika seseorang menghadapi ketidakpastian peran dalam pekerjaan mereka. Kebanyakan orang tidak menyukai kondisi peran yang tidak pasti ini dan cenderung menyebabkan stress, namun

seringkali mereka tidak bisa menghindarinya 5. Overload dan underload

Overload terjadi ketika seseorang diharuskan mengerjakan tugas yang melebihi kemampuan yang bisa dilakukannya. Overload ini seringkali menjadi penyebab stress dalam berbagai bidang pekerjaan. Sebaliknya kondisi dimana seseorang hanya mengerjakan sangat sedikit pekerjaan uga dapat menyebabkan timbulnya stress karena akan mengalami kebosanan.

6. Tanggung jawab terhadap orang lain

Beberapa pekerjaan, seperti sebagai manajer, memiliki kaitan yang tinggi dengan kepentingan orang lain. Secara umum, seseorang yang memiliki tanggung jawab terhadap orang lain mengalami tingkat stress yang lebih tinggi daripada yang tidak.

7. Kurangnya dukungan sosial

Penelitian menunjukkan bahwa ketika individu percaya bahwa mereka merasakan pertemanan dan dukungan dari orang lain di tempat kerja, kemampuan mereka untuk mengurangi dampak stress cenderung meningkat. Dengan demikian, dukungan sosial dapat menjadi media yang baik untuk mengurangi dampak negatif dari stress.

Sementara itu, Ivanchecich, dkk (2011 : 246-249) juga menjelaskan tentang stressor di tempat kerja. Beberapa stressor yang paling signifikan antara lain :

a. Partisipasi

Partisipasi merujuk pada sejauh mana pengetahuan, opini dan ide

seseorang dimasukkan dalam proses pengambilan keputusan. Bagi beberapa orang, partisipasi merupakan bagian yang penting dari bekerja dalam organisasi. Kelompok dan organisai yang tidak mendorong atau memungkinkan partisipasi akan menjadi sumber frustasi kepada mereka yang menghargai partisipas. Demikian pula, orang lain akan merasa frustasi dengan penundaan yang sering kali dihubungkan dengan pengambilan keputusan partisipatif.

b. Hubungan Intrakelompok dan Interkelompok

Hubungan yang buruj didalam dan antarkelompok dapat menjadi sumber stres. Hubungan yang buruk mungkin mencakup rasa saling percaya yang rendah, kurangnya kohesivitas, kurangnya rasa saling mendukung dan kurangnya minat dalam mendengarkan dan berhadapan dengan masalah yang dihadapi oleh sebuah kelompok atau anggota kelompok.

c. Politik Organisasi

Tingkat perilaku politik yang tinggi dalam organisasi dapat menjadi sumber stres bagi banyak karyawan. Politik kantor secara konsisten dinyatakan sebagai stressor utama dalam organisasi. Aktivitas politik dan pergaulatan kekuasaan dapat menciptakan friksi, meningkatkan persaingan disfungsional antara individu dan kelompo dan meningkatkan stres.

d. Budaya Organisasi

Organisasi memiliki kepribadian yang berbeda. Kepribadian dari suatu organisasi dibentuk terutama oleh para eksekutif puncaknya. Suatu tim

eksekutif yang bersifat otokratis dan tiran mampu menciptakan budaya yang dipenuhi dengan rasa takut.

e. Kurangnya Umpan-Balik Kinerja

Informasi umpan-balik kinerja harus disediakan dn jika hal tersebut ingin disampaikan dengan suatu cara yang meminimalkan stres, ia harus menggunakan system komunikasi dua arah yang terbuka.

f. Kesempatan Pengembangan Karir yang Tidak Mencukupi

Stressor kesempatan pengembangan karir merupakan aspek dari lingkungan organsasi yang mempengaruhi persepsi seseorang mengenai kualitas dari kemajuan karirnya. Variable karir mungkin berperan sebaga stressor ketika mereka menjadi sumber kekhawatiran, kegelisahan, kegelisahan atau frustasi.

g. Pengurangan Jumlah Karyawan

Pengurangan jumlah karyawan pada umumnya dihubungkan dengan pengurangan sumber daya manusia melalui pemberhentian, atribusi, pemindahan atau pensin dini. Ketika beberapa organisasi berusaha untuk memotong biaya, sejumlah karyawan benar-benar diberhentikan atau takut akan diberhentikan.

h. Stressor Nonpekerjaan

Stressor di luar pekerjaan disebabkan oleh faktor-faktor di luar organisasi. Stres yang dihasilkan di luar tempat kerja mungkin akan mempengaruhi pekerjaan seseorang, perilakunya secara umum dan kinerjanya. Perbedaan antara pekerjaan dan nonpekerjaan tidak jelas dan saling tumpang tindih dan oleh karena itu menjadi hal yang

signifikan dalam setiap pembahasan atau analisis dari stres.

Gibson dkk (1996:343) membagi model stress di tempat kerja dalam 4 kategori yaitu : lingkungan fisik, individu, kelompok dan organisasi. Model ini juga menghadirkan lima kategori potensial terhadap stress, terutama pada akibat yang mempengaruhi penampilan kerja

Gambar. STRESS DAN KERJA : SEBUAH MODEL KERJA

Sumber : Gibson,dkk.1996. Organisasi –Perilaku, Struktur, Proses.,Binarupa Aksara

MENGHADAPI STRESS

Terdapat dua jenis cara untuk menghadapi stress (dalam Ivanchevich, dkk, 2011:250), yaitu berfokus pada masalah dan emosi.

Pertama, Problem-focused coping merupakan tindakan yang diambil oleh seorang individu untuk menghadapi orang, situasi atau peristiwa yang penuh tekanan.

Tipe menghadapi stres yang kedua adalah emotion-focused coping merupakan tindakan yang diambil oleh seseorang untuk memperingan emosi yang penuh tekanan. Tindakan berpusat pada menghindari atau melarikan diri dari seseorang, masalah atau peristiwa.

AKIBAT-AKIBAT DARI STRESS

Efek dari stres banyak dan bervariasi. Beberapa efek bersifat positif, seperti motivasi diri dan stimulasi untuk memuaskan tujuan individu. Akan tetapi, beberapa konsekuansi stres bersifat merusak, kontraproduktif dan bahkan secara potensial berbahaya.

Ivanchecich, dkk (2011 : 251-256) melihat akibat dari stress ini dari 2 sisi, yaitu bagi individu dan bagi organisasi.

Akibat bagi individu

Stres dapat menghasilkan konsekuensi psikologis berupa kegelisahan, frustasi, apatis, percaya diri yang rendah, agresi dan depresi.

Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM-IV) merupakan alat diagnostik yang digunakan untuk mendeteksi depresi. DSM-IV menunjukkan bahwa diagnosis dari depresi memerlukan kehadiran mood

yang menurun atau minat yang menurun di semua atau hampir semua aktifitas, psikomotor yang tampak melambat, perubahan selera makan atau berat badan yang signifikan, perubahan waktu tidur, kelelahan atau hilangnya energy, kesulitan dalam berpikir atau berkonsentrasi, perasaan tidak berharga, perasaan bersalah yang berlebihan, atau berpikir untuk bunuh diri atau mati. Tanda-tanda ini harus berlangsng terus-menerus selama dua minggu.

Beberapa hasil stres bersifat kognitif. Hasil kogniif mencakup konsentrasi yang buruk, ketidakmampuan untuk mengambil keputusan yang benar atau sama sekali tidak mampu mengambil keputusan, hambatan mental, dan penurunan rentang perhatian. Efek lain stres bersifat perilaku, seperti kecenderungan untuk mengalami kecelakaan, perilaku impulsive, penyalahgunaan alcohol dan obat terlarang, serta temperamen yang meledak-ledak. Terakhir, hasil fisiologis dari stres mencakup detak jantung yang meningkat, tekanan darah yang naik, keringat, rasa panas dingin dan tingkat glukosa serta produksi gas asam lambung yang meningkat.

Burnout merupakan proses psikologis yang dihasilkan oleh stres pekerjaan yang tidak terlepaskan dan menghasilkan kelelahan emosi, perubahan kepribadian dan perasaan pencapaian yang menurun. Burnout cenderung menjadi masalah tertentu di antara orang yang pekerjaannya memerlukan kontak yang mendalam dengan dan/atau memiliki tanggung jawab atas orang lain.

Gambar 9.3 Indikator burnout

Sumber : Ivanchevich, dkk. 2001. Organizational Management and Behavior. Mc. Graw Hill International

Suatu tingkat keterlibatan yang tinggi, identifikasi atau komitmen terhadap pekerjaan atau profesi seseorang merupakan penyebab burnout.

Hampir tidak mungkin seseorang akan lelah tanpa memberikan banyak usaha. Oleh karena iti, ironi dari burnout adalah bahwa mereka yang paling rentan terkena adalah yang paling berkomitmen terhadap pekerjaan mereka; jika semua hal lain dianggap sama, komitmen pekerjaan yang lebih rendah memperendah kemungkinan terjadinya burnout.

Penelitian mengidentifikasikan empat faktor yang pada umumnya merupakan kontributor penting terhadap burnout : tingkat beban kerja yang tinggi, pekerjaan (atau karir) yang buntu, birokrasi dan pekerjaan tulis menulis yang berlebihan dan komunikasi serta umpan-balik yang buruk, terutama berkenaan dengan kinerja pekerjaan. Sebagai tambahan, faktor yang berkontribusi terhadap burnout adalah konflik peran dan ketidakjelasa, kesulitan dalam hubungan interpersonal dan system penghargaan yang tidak didasarkan atas kinerja.

Akibat Bagi Organisasi

Terdapat banyak dan beberapa konsekuensi organisasi mengenai stres, mereka memiliki fitur yang serupa : Stres menyebabkan organisasi mengeluarkan banyak uang. Stres yang berlebihan meningkatkan ketidakpuasan kerja. Ketidakpuasan kerja dapat dihubungkan dengan sejumlah hasil disfungsional, termasuk peputaran karyawan, absen yang meningkat dan kinerja pekerjaan yang menurun.

Penurunan dalam kualitas kinerja akan menimbulkan lebih banyak biaya bagi suatu organisasi daripada penurunan kuantitas. Ketidakpuasan

konsumen dengan barang atau jasa berkualitas rendah dapat memiliki efek yang signifikan terhadap pertumbuhan dan profitabilitas organisasi.

MODERATOR STRESS

Ivanchevich, dkk ( 2011 : 256) menjalaskan tentang berbagai faktor dapat menyeimbangkan hubungan antara stressor, stres dan akibatnya.

Moderator adalah suatu kondisi, perilaku atau karakteristik yang mempengaruhi hubungan antara kedua variabel. Tiga tipe moderator antara lain :

a. Kepribadian

Kepribadian merujuk pada serangkaian karakteristik, temperamen dan kecenderungan yang relatif stabil, yang membentuk kemiripan dan perbedaan dalam perilaku orang. Beberapa aspek kepribadian yaitu Big Five Model, Locus of Control, Self-Efficacy.

Model kepribadian Big Five dibuat dari lima dimensi : extroversion, emotional stability, agreeableness, dan openness to experience.

Dari semua itu, emotional stability yang paling jelas berhubungan dengan stres. Mereka memiliki nilai tinggi pada dimensi ini lebih mungkin untuk mengalami mood positif, merasa diri mereka dan pekerjaan mereka baik.

Jika memiliki nilai rendah pada dimensi agreeableness, memiliki kecenderungan untuk bersifat antagonis, tidak simpatik, dan bahkan kasar terhadap orag lain. Conscientiousness merupakan dimensi Big Five yang secara konsisten berhubungan dengan

kinerja dan keberhasilan pekerjaan. Sejauh kinerja yang baik mengarah pada epuasan dan penghargaan lai, mereka yang memiliki nilai tinggi dalam conscientiousness cenderung tidak mengalami stres dalam pekerjaan. Terakhir, yang memiliki nilai tinggi dalam keterbukaan terhadap pengalaman (openness to experience) lebih siap untuk berhadapan dengan stressor yang dihubungkan dengan perubahan karena mereka lebih mungkin untuk memandang perubahan sebagai suatu tantangan dan bukan ancaman.

b. Pola Perilaku Tipe A

Seseorang dengan pola perilaku Tipe A memiliki karakteristik sebagai berikut :

• Secara kronik berusaha untuk menyelesaikan sebanyak mungkin hal dalam periode waktu yang sangat singkat.

• Agresif, ambisius, kompetitif dan penuh energi.

• Berbicara dengan meledak-ledak, mendorong orang lain untuk menyelesaikan apa yang meraka katakana.

• Tidak sabar, tidak suka menunggu dan menganggap menunggu sebagai membuang waktu yang berharga.

• Sibuk dengan tenggang waktu dan berorientasi pada pekerjaan.

• Selalu berjuang dengan orang, hal dan peristiwa.

Sebaliknya, Orang Tipe B memiliki dorongan yang kuat, ingin mencapai berbagai hal dan bekerja keras, tapi dia memiliki gaya penuh percaya diri yang memungkinkan dia untuk bekerja dengan

kecepatan yang tetap dan tidak bertanding melawan waktu.

c. Dukungan Sosial

Dukungan sosial didefinisikan sebagai rasa nyaman, bantuan atau informasi yang diterima seseorang melalui kontak formal atau informal dengan individu atau kelompok. Dukungan sosial bisa berbentuk dukungan emosi (mengekspresikan kekhawatiran, mengindikasikan kepercayaan, meningkatkan harga diri, mendengarkan), dukungan penilaian (menyediakan umpan-balik dan afirmasi), atau dukungan informasi (memberikan nasihat, memberikan saran, menyediakan pengarahan).

Dukungan sosial merupakan hal yang efektif sebagai moderator stress karena dukungan sosial menyangga dampak negative dari stressor dengan menyediakan tingkat perkiraan, tujuan serta harapan dalam situasi yang menyedihkan dan mengancam.

PENCEGAHAN DAN MANAJEMEN STRES

Stress dapat disebabkan oleh berbagai faktor dan kondisi yang untuk menghilangkan keseluruhan penyebab tersebut sangatlah tidak mungkin. Namun demikian, tetap masih ada hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi atau meminimalkan efek yang merugikan dari stress tersebut.

Beberapa hal dapat dilakukan oleh organisasi untuk meminimalkan efek negatif dari stress. Berapa program perbaikan yang ditargetkan mencakup : (Ivanchevich, dkk, 2011:260)

• program pelatihan untuk mengelola dan mengatasi stes

• merancang ulang pekerjaan untuk meminimalkan stressor

• mengubah gaya manajemen sehingga memasukkan lebih banyak dukungan dan bimbingan untuk membantu pekerja mencapai tujuan mereka.

• Jam kerja yang lebih fleksibel dan perhatian yang diberikan kepada keseimbangan kehidupan kerja/keluarga dan kebutuhan seperti perawatan anak dan orang tua lanjut usia.

• Komunikasi dan praktik team-building yang lebih baik.

• Umpan balik yang lebih baik atas kinerja pekerja dan ekspektasi manajemen.

Gambar berikut ini menyajikan program manajemen strs orgnisasi dapat ditargetkan. Program mungkin dirancang untuk:

(1) mengidentifikasikan dan memodifikasi stressor kerja

(2) mendidik karyawan dalam memodifikasi dan memahami stress serta dampaknya

menyediakan dukungan bagi karyawan untuk menghadapi dampak negative dari stress

GAMBAR. Target Program Manajemen Stres Organisasi

Sumber : Ivanchevich, dkk. 2001. Organizational Management and Behavior. Mc. Graw Hill International

Pencegahan stress berfokus pada mengendalikan atau menghilangkan stressor yang mungkin menimbulkan respon stress.

Manajemen stress berisi prosedur yang membantu orang mengatasi strs secara efektif atau mengurangi stress yang dialami.

Memaksimalkan kesesuaian orang-lingkungan

Stress merupakan konsekuensi dari interaksi antara suatustimulus lingkungan (suatu stressor) dan respons individu. Stress mungkin dipandang sebagai konsekuensi dari hubungan antara individu dan lingkungan kerja.

Kesesuaian orang-lingkungan terjadi ketika terjadi kesesuaian antara individu dengan lingkungan tempat kerjanya. Ketika seoran pekerja merasakan kesesuaian antara dirinya dan organoisasinya, ia akan memiliki tingkatan yang lebih tinggi pada komitmennya terhadap organisasi, kepuasan kerja dan kesesuaian, dan akan cenderung mengalami tingkatan stress yang lebih rendah.

Para peneliti mengidentifikasi adanya beberapa tipe yang berbeda ada kesesuian orang-lingkungan, yaitu : (Ivanchevich, dkk, 2011:260)

1. Kesesuaian orang-organisasi : tingkatan dimana pekerja dan organisasi saling sesuai dan memiliki kebutuhan yang saling sesuai pula. Seorang pekerja yang tidak memiliki kesusuaian dengan organisasi tempatnya bekerja akan cenderung lebih mudah mengalami stress dan sangat mungkin akan meninggalkan organisasi.

2. Kesesuaian orang-pekerjaan : keseusian antara kemampuan, keterampilan dan pengalaman pekerja dengan p[ersyaratan yang ditetapkan oleh organisasi. Bila terjadi ketidaksesuaian antara kemampuan individu dengan ketentuan organisasi, maka stress akan dapat terjadi

3. Kesesuaian orang-karir : tingkatan dimana individu dapat memilih karir yang tepat. Ketika individu memiliki kekecawaan terhadap karirnya, maka stress akan dapat terjadi.

4. Kesesuaian orang-kelompok: terjadi bila kesesuaian antara individu dengan kelompok kerjanya. Ketidaksesuaian seseorang dengan kelompok kerjanya akan dapat menimbulkan stress bagi pekerja.

Program pencegahan dan Manajemen stress organisasi.

Beberapa dari program ini berfokus pada persoalan atau masalah yang spesifik, seperti penyalahgunaan alcohol atau obat terlarang, konseling karir, relokasi pekerjaan, atau burnout. The united states postal service, misalnya telah mengembangkan suatu program pencegahan kekerasan ditempat kerja. Program ini yang merupakan program yang paling lengkap yang pernah ada. Menyajikan usaha untuk mengurangi jenis kekerasan terhadap karyawan yang telah menjadi cirri organisasi tersebut dimasa lalu.

a. Program Bantuan Karyawan (EmployeeAssistance Programs, EAPS) Awalnya dibentuk sebagai program penyalahgunaan alcohol, saat ini program bantuan karyawan (employee assistance program) dirancang untuk menangani berbagai masalah yang berhubungan dengan strs, baik yang berhubungan dengan pekerjaan maupun tidak, termasuk kesulitan emosional dengan perilaku, penyalahgunaan obat terlarang, masalah pernikahan dan keluarga dan masalah pribadi lainnya. Program bantuan karyawan cenderung didasarkan pada pendekatan medis tradisional

dalam melakukan pengobatan, elemen program umum meliputi:

Diagnosis, karyawan yang bermasalah eminta bantuan; staf program bantuan karyawan berusaha mendiagnosis masalah

Pengobatan, konseling atau terapi pendukung disediakan. Jika staf program bantuan karyawan didalam perusahaan tidak mampu membantu, karyawan mungkin dirujuk kepada professional yang sesuai.

Penyaringan, pemeriksaan periodic karyawan, yang memiliki pekerjaan yang penuh tekanan disediakan untuk mendeteksi indikasi awal masalah

Pencegahan, pendidikan dan persuasi digunakan untuk menyakinkan karyawan yang memiliki risiko tinggi bahwa sesuatu harus dilakukan untuk membantu mereka mengatasi stress secara efektif.

b. Program kesehatan.

Program ini sering disebut program promosi kesehatan, berfokus pada keseluruhan kesehatan mental dan fisik karyawan. Secara singkat, setiap aktivitas organisasi yang dirancang untuk mengidentifikasikan dan membantu mencegah atau memperbaiki masalah kesehatan spesifik, bahaya kesehatan, atau kebiasaan kesehatan yang negative, hal ini tidak hanya mencakup identifikasi penyakit tapi juga modifikasi gaya hidup.

Contohnya adalah pengidentifikasian dan pengendalian hipertensi, pemberhentian, perilaku merokok, kebugaran dan latihan fisik, nutrisi dan pengendalian pola makan, serta manajemen stress pribadi dan pekerjaan.

Dalam dokumen Perilaku Organisasi (Halaman 86-99)