Kumpulan Khutbah Jum'at & Hari Raya | 107
17
108 | Dr. Khairul Hamim, MA.
Hadirin kaum muslimin rahimakumullah
Salah satu kenikmatan yang dianugrahkan Allah swt kepada hambanya adalah rasa syukur. Nikmat inilah yang akan menggolongkan seseorang apakah termasuk manusia kufur atau sebaliknya pandai bersyukur. Untuk menjadi hamba yang senantiasa bersyukur, pertama-tama harus memahami apa makna dan hakekat syukur itu.
Al-Raghib al-Asfahani dalam bukunya al-Mufradat fi Gharib al-Quran mengatakan bahwa syukur adalah gambaran kenikmatan yang diterima seseorang yang tercermin dalam penampilannya.
Arti dasar dari kata syukur adalah membuka, sedangkan kata kufur berarti menutup. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesi syukur adalah rasa terima kasih menampakkan nikmat Allah sedangkan kufur adalah menyembunyikan nikmat Allah
Dengan demikian, syukur ialah bagaimana menampakkan nikmat sesuai dengan fungsi dan kegunaannya melalui petunjuk al-Qur’an dan al- Hadis.
Allah swt berfirman Surah al-Dhuha:11
ْث ِّد َحَف َكِّبَر ِةَمْعِنِب اَّمَأ َو
Dan terhadap nikmat tuhanmu maka hendaklah menyebutnya dengan bersyukur.
Nikmat menurut Iman Ghazali adalah setiap kebaikan yang dapat dirasakan kelezatannya dalam kesenangan hidup.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Bagaimanakah kita menyikapi nikmat yang diberikan Allah swt, selama ini ? Apakah kita banyak bersyukur atau malah kufur?
Secara jujur, syukur kita dalam kehidupan sehari-hari masih belum optimal, sebab banyak ucapan dan sikap kita yang mengandung pengingkaran atas nikmat, terkadang sejak
Kumpulan Khutbah Jum'at & Hari Raya | 109 bangun tidur wajah kita sudah ditekuk, napas yang keluar bukan kelegaan tapi desah keluhan, kata yang terlontar bukan pujian tapi umpatan, bekerjapun dengan cemberut. Padahal saat kita tidak bersyukur, hati kita terasa sempit dan hidup semakin sumpek, segalanya juga terasa suram, kitapun kehilangan kekuatan untuk meraih yang terbaik dalam kehidupan ini.
Karena itu kita sangat perlu menghayati bagaimana bersyukur yang benar.
Hadirin kaum muslimin rahimakumullah
Rasulullah pernah bertanya kepada seorang laki-laki bagaimana keadaanmu pagi hari ini? Baik jawab laki-laki itu, namun Rasulullah mengulangi pertanyaannya begitu juga orang tersebut mengulangi jawaban yang sama, hingga pada yang ketiga kalinya laki-laki itu menjawab keadaanku baik serta aku memuji syukur kepada Allah swt. Barulah Rasulullah saw berkata jawaban itulah yang aku inginkan darimu
Bersyukur berarti menghargai nikmat yang telah kita terima dan memuji Allah swt sebagai dzat yang maha pemberi nikmat. Nnamun, seringkali manusia tidak bisa merasakan nikmat itu apalagi memuji sang pemberi nikmat. Yang lebih sering muncul adalah keluhan tentang kekurangannya, kurang ini dan kurang itu, merasa badan semua sakit, padahal hanya sedikit sakit, sudah punya rumah tapi terasa sempit, punya kendaraan tapi merasa tidak memadai. “Apa yang mau disyukuri segalanya serba kurang” begitu dalih kebanyakan orang.
Boleh saja seorang menginginkan sesuatu yang lebih baik, karena memang hidup kita harus berkembang. Tetapi jangan sampai kita lupa mensyukuri yang sudah ada karena diperbudak keinginan, jika yang sudah ada disia-siakan dan yang diinginkan belum tentu didapat, kapan hidup akan bahagia?
Sebenarnya dengan mulai mensyukuri yang ada, kita mengikat nikmat itu agar tidak lepas dan menumbuhkannya menjadi lebih banyak lagi, tapi bila menyia-nyiakannya dan
110 | Dr. Khairul Hamim, MA.
mengeluhkan yang belum ada, sama saja menceburkan diri sendiri dalam kesengsaraan.
Hadirin kaum muslimin rahimakumullah
Ada kiat sederhana dari rasulullah saw agar kita bisa bersyukur, yaitu selalu melihat orang yang berada di bawah dalam urusan duniawi, tapi dalam amal kebaikan, lihatlah orang-orang yang berada diatas, pandanglah orang yang lebih bawah darimu (dalam hal dunia) dan jangan kalian pandang orang yang lebih atas darimu, hal ini lebih cocok bagimu agar kalian tidak merendahkan nikmat Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu. Sebagaimana H.R. Bukhori “kemuliaan seseorang tidak diukur dari dunia yang dimiliki, tetapi dari amal kebaikan yang dilakukan.
Dengan mengikuti kiat hakiki ini kita akan menghargai karunia Allah dan memujinya. Kalau kita tidak mensyukuri dengan benar apa yang ada ditangan, bagaimana berharap sesuatu yang belum dipegang! Itulah sebabnya Allah swt menegur manusia dalam firman-Nya S. Al-baqarah: 243
َنو ُر ُك ْشَي ل ِساَّنلا َرَثْكَأ َّنِكلَو ِساَّنلا َلَع ٍل ْضَف و ُذَل َللها َّنِإ
Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.
Bila kita menyadari betapa besar karunia Allah swt untuk kita, maka lisan kita akan gemar memuji-Nya, Diapun mengingat kita dengan melimpahkan nikmat-Nya, dada kita pun akan terasa lapang dan rasa bahagia pun mengalir di hati.
Alhamdulillah firman Allah swt Surah al-Baqarah: 152
ِنو ُرُفْكَت لَو ِل اوُر ُك ْشاَو ْمُكْرُكْذَأ ِنوُرُكْذاَف
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.”
Kumpulan Khutbah Jum'at & Hari Raya | 111 Betapa banyak orang yang terpesona dengan nikmat tapi mengabaikan sang pemberi nikmat, bahkan banyak juga yang memanfaatkan pemberiannya untuk mendurhakai-Nya
Berbagai nikmat membuatnya lupa diri maunya hanya bersenang-senang untuk mereguk kenikmatan duniawi saja, yang dipikirkan bukannya menjalankan amanah tetapi bermegah-megahan. Mereka lupa bahwa semua nikmat dan karunia itu adalah cobaan yang harus dipertanggungjawabkan dan semestinya kenikmatan itu membuat mereka makin berhati-hati di hadapan Allah swt.
Allah berfirman dalam al-Qur’an Surah al-Naml: 40
مَّنِإَف َر َك َش ْنَم َو ُرُفْكَأ ْمَأ ُر ُك ْشَأَأ ِن َوُلْبَيِل ِّبَر ِل ْضَف ْنِم ا َذَه
ٌميِرَك ٌّيِنَغ ِّبَر َّنِإَف َرَفَك ْنَم َو ِهِسْفَنِل ُر ُك ْشَي
“Ini Termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku Apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). dan Barangsiapa yang bersyukur Maka Sesungguhnya Dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan Barangsiapa yang ingkar, Maka Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.
Sedikit atau banyak nikmat yng ada, kita syukuri dengan benar yaitu dengan melakukan amal saleh dan mentaati yang member nikmat. Kalau nikmat yang sedikit saja tidak mampu mensyukurinya maka nikmat yang banyak justru menjadi penyebab datangnya azab dan laknat.
Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Takasur: 8
ِميِعَّنلا ِن َع ٍذِئَم ْوَي َّنُلَئ ْسُتَل َّمُث
Artinya: “Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan yang kamu megah-megahkan didunia itu.
112 | Dr. Khairul Hamim, MA.
Satu lagi nikmat yang sangat besar yang harus kita syukuri yaitu kekuatan, supaya kita bisa memanfaatkan segala nikmat dari Allah swt untuk melakukan amal kebaikan dan beribadah kepada-Nya
Jika kita telah ditolong oleh Allah untuk bisa meraih nikmat kekuatan tersebut, maka berusahalah agar berbuat lebih baik lagi untuk Allah, sehingga Allah swt berkenan memberikan kita rasa nikmat yang luar biasa ketika kita beribadah kepada- Nya.
Akhirnya marilah kita syukuri nikmat beribadah itu agar Allah swt berkenan menyambut kita sebagai hamba yang diridoinya. Itulah jalan lurus dan sekaligus nikmat tertinggi yang diberikan kepada para nabi, para syuhada dan shalihin yang senantiasa kita mohonkan kepada Allah swt. sesuai dengan firman Allah Q.S al-Fatihah ayat 6-7:
ْمِهْيَلَع َتْمَعْنَأ َنيِذَّلا َطا ِص ۞ َميِقَت ْسُْلا َطا ِّصلا اَنِدْها
۞ َيِّلا َّضلا ل َو ْمِهْيَلَع ِبو ُضْغَْلا ِ ْيَغ
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah engkau anugrahkan nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.”
ِهْيِف َمِب ْمُكاَّيِاَو ْيِنْعَفَنَو .ِمْيِظَع ِنَاْرُقْلا ِف ْمُكَلَو ْ ِل ُللها َكَراَب
ُهَّنِا ُهَت َو َلَت ْم ُكْنَم َو ْيِّنِم َلَّبَقَت َو .ِمْيِكَ ْلا ِرْك ِّذلا َو ِةَي َلْا َنِم
ْ ِل ِمْيِظَعْلا َللهاُرِفْغَت ْساَو ا َذَه ِلْوَق ُلْوُقَا .مْيِلَعْلا ُعْيِم َّسلاَوُه
ُتاَنِم ْؤُلا َو َ ْيِنِم ْؤُلا َو ُت َمِل ْسُلا َو َ ْيِمِل ْسُلا ِرِئا َسِل َو ْم ُكَل َو
. ِمْيِحَّرلا روُفَغْلا َوُه ُهَّنِا ُه ْوُرِفْغَت ْساَف
Kumpulan Khutbah Jum'at & Hari Raya | 113