هملعو نآرقلا ملعت نم مكيرخ
A. Perencanaan Program Tahfidz Al-Qur’an
10) Perencanaan Program Pembelajaran Tahfidz a. Alokasi Waktu Pembelajaran
pembelajarannya di sini terpusat dari arahan abah Ghowi yang cukup bervariasi”.150
Merujuk pada wawancara di atas, pembelajaran diPesantren tahfidz Nahdlatul Tholabah memiliki konsep pembelajaran yang bervariasi, hal ini dibuktikan dengan adanya kolaborasi antar pemondokan yang ada di bawah naungan Nahdlatul Tholabah. Lebih lanjut, konsep pembelajaran yang dikembangkan di Pesantren Tahfidz Nahdlatul Tholabah cukup bervariasi. Pihak pengasuh terus mencari terobosan-terobosan meliputi model pembelajaran serta literatur yang digunakan. Berkaitan dengan hal tersebut, tentunya ada konsep pembelajaran yang khusus digunakan sebagai kunci utama Pesantren tahfidz Nahdlatul Tholabah dalam mengembangkan ilmu AL-Qur’an.
10) Perencanaan Program Pembelajaran Tahfidz
setiap santri menyetorkan hafalannya dalam kurun waktu 1 x 24 jam.
Secara khusus, penentuan hari efektif dan hari fakulatif tidak direncanakan secara terstruktur seperti pada sekolah formal. Program takhasus adalah program acuan dalam menentukan alokasi waktu pembelajaran, artinya setiap santri dalam waktu satu hari harus menyetorkan hafalannya.
b. Prota (Program Tahunan)
Program tahunan yang diterapkan dalam pesantren tahfidz Nahdlatul Tholabah merujuk pada alokasi target hafalan pada kelas reguler dan kelas takhasus. Di mana pada program takhasus santri direncanakan dapat menuntaskan hafalannya selama dua tahun penuh, apabila terjadi kendala maka diperbolehkan menambah waktu sesuai dengan kemampuan. Sementara itu, pada kelas reguler santri tidak diwajibkan untuk menyelesaikan hafalannya, terutama dalam kurun waktu dua tahun. Biasanya santri reguler hanya menghafal beberapa juz saja.
“Kalau untuk program tahunan ya hanya target hafal dalam kurun waktu dua tahun saja pak. Terkait program-program secara formalitas tidak terlalu difokuskan. Abah hanya ngendiko bahwa santri fokus ke hafalan, hafalan, dan hafalan. Di sela-sela hafalan ada ngaji kitabnya juga, tapi itu untuk kelas reguler. Kalau untuk takhasus difokuskan untuk hafalan dan muroja’ah pak”. Takhasus kenapa kita fokuskan ke hafalan saja, karena santri takhasus itu mereka-mereka yang sudah lulus kelas diniyah di pondok sebelumnya. Jadi mereka melanjutkan ke jenjang tahfidz.
Mangkanya di sini program tahunannya ya hanya mampu menghafal dalam kurun waktu 2 tahun, kuncinya hanya hafalan, doa, dan
meminta restu. Melalui hal itu santri yang ada di sini itu bisa cepet- cepet hafalnya”.151
Berdasarkan hasil wawancara di atas, secara terstruktur program tahunan di Pesantren Tahfidz Nahdlatul Tholabah tidak disusun seperti halnya dalam sekolah formal. Program tahunan yang difokuskan hanya pembelajaran tahfidzul Qur’an, mengingat program unggulannya adalah takhasus. Jadi, program tahunan yang digunakan pada pembelajaran Pesantren tahfidz Nahdlatul Tholabah adalah regulasi target hafalan yang merujuk pada waktu kurang lebih dua tahun.
c. Promes (Program Semester)
Program semester yang digunakan di Pesantren tahfidz Nahdlatul Tholabah secara terstruktur belum diterapkan sebagaimana penerapan promes pada pendidikan formal. Program semester dalam hal ini merujuk pada target hafalan saja pada kelas reguler dan takhasus. Setiap hari santri program takhasus harus mampu menghafal dan menyetorkan pada pilihan satu halaman, dua halaman (1 lembar), atau lebih dari 1 lembar.
Sementara pada kelas reguler batas minimalnya adalah setengah halaman, mengingat tingkat kemampuan setiap santri berbeda. Hal ini juga diungkapkan oleh Ustadz Herman Efendi dalam wawancara berikut ini.
“Semesteran kalau di pondok diniyah memang ada pak, tapi kalau untuk di Pesantren tahfidz Nahdlatul Tholabah kita tidak memakai itu. Yang menjadi acuan dalam hal ini ya target hafalan tiap harinya itu. Kalkulasinya merujuk pada target harian dan bulanan, di mana dalam kurun waktu dua tahun santri takhasus dapat menyelesaikan
151Herman Efendi, Wawancara, Jember, 13 Desember 2020
hafalannya. Akan tetapi untuk santri reguler tidak ditargetkan demikian, hanya memakai rekapan dari setoran perharinya itu”.152
Program semester dalam proses pembelajaran tahfdzul Qur’an di Pesantren tahfidz Nahdlatul Tholabah tidak memfokuskan pada rencana secara terstruktur seperti halnya dalam pendidikan formal. Pengurus pesantren hanya menggunakan buku pedoman dan buku rekapan hasil hafalan santri setiap harinya, di mana kalkulasi tersebut dibuat dalam kurun waktu dua tahun yang dipecah setiap tahunnya. Selanjutnya, promes yang digunakan hanya sebatas target hafalan santri pada perolehan juz dan banyaknya surat yang telah dihafalkan.
Dengan demikian, pondok pesantren tahfidz Nahdlatul Tholabah Jember dalam manajemen perencanaan pembelajaran Tahfidz juga tidak jauh berbeda siklusnya. Dalam prakteknya dilapangan, para pemangku kebijakan sudah mencerminkan proses manajemen perencanaan pembelajaran Tahfidz meskipun secara formal rangkaian proses manajemen tidak secara terskema seperti lembaga pendidikan formal.
Pertama, dalam memanajemen perencanaan pembelajaran, kiai sebagai tokoh sentral menetapkan garis-garis besar kebijakan program tahfidz, dan selebihnya diberikan penugasan kepada para asatid yang telah memiliki mendasarkan pada visi misi dan tujuan pondok pesantren Tahfidz Nahdlatul Tholabah Jember, karena visi, misi dan tujuan tersebut menjadi pijakan dasar bagaimana program pembelajaran tahfidz dilaksanakan. Kedua, menyiapkan perencanaan rekrutmen dan seleksi
152Herman Efendi, Wawancara, Jember, 13 Desember 2020
santri melalui tes dan pilihan program tahfidz, menyiapkan kaderisasi pendidik, menyiapkan penempatan/ pemondokan serta program pembinaan. Ketiga pesantren memiliki rencana yang sifatnya strategis dengan berfokus pada upaya mempertahankan basis kultur pesantren yang melekat ditengah-tengah masyarakat dan karakteristik khas pesantren dengan program tahfidz, program/ kurikulum yang diperuntukkan bagi santri mukim/ mondok) Keempat, menyusun program pembelajaran Tahfidz memperhatikan kebijakan yang telah ditetapkan.
Gambar 4.15 Manajemen Perencanaan Program Tahfidz Al-qur’an di pondok pesantren Nahdlatut Tholabah Nahdlatul Tholabah153
i. Pelaksanaan Program Tahfidz Al-qur’an
Pada bagian ini akan disajikan temuan hasil penelitian selama penelitian berlangsung khususnya yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran di dua
153 Dokumentasi, Pondok Pesantren Yasinat Jember
objek riset yakni di pondok pesantren Bahrussyifa lumajang dan pondok pesantren Nahdlatut Tholabah Jember. Hasil penelitian tersebut diperoleh melalui wawancara, observasi dan dokumentasi dilembaga tersebut secara berkelanjutan selama melakukan riset sehingga dapat peroleh gambaran hasil penelitian sesuai focus penelitian. Kegiatan observasi dilakukan secara langsung melalui pengamatan, trianggulasi dari beberapa sumber khususnya berkiatan dengan pelaksanaan pembelajaran tahifdz pada kedua objek. Kemudian kegiatan Wawancara dilakukan sesuai dengan infoman kunci/dengan berbagai pihak yang terkait yang terlibat langsung dalam kegiatan, baik dalam aspek manajemen maupun dalam tataran praktek. Sedangkan untuk mendukung akurasi data wawancara dan observasi peneliti menggali dokumen-dokumen terkait sehingga dapat mendukung data yang dipeoleh sebelumnya. Oleh karena itu pada bagian pertama mengurai objek riset di pondok pesantren Bahrusysyifa dan bagian kedua dipondok pesantren nahdlatut Tholabah Jember dapat diuraikan sebagai berikut:
3. Manajemen pelaksanaan pembelajaran Tahfidz di Pesantren