• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VII PENUTUP

E. Sistematika Pembahasan

4. Pesantren

berbasis nilai. Bagian dari pendidikan Islam adalah pesantren yang memiliki ciri khas tersendiri.

hanya kecerdasan intelektual saja tetapi juga kecerdasan emosional dan spiritual.52

Dalam perkembangan mutakhir, pendidikan pesantren melakukan beragam inovasi dalam sistem pembelajaran. Pendidikan pesantren membuka diri atas perkembangan zaman, sehingga sistem pendidikan pesantren bukan hanya berbasis pada sistem pengajaran sorogan, wetonan, dan bandongan, tetapi juga menerapkan program pembelajaran/pendidikan modern (klasikal) dan pendidikan formal yang memiliki aturan sebagaimana pendidikan umum seperti pendidikan madrasah, sekolah, bahkan perguruan tinggi. Walaupun sistem pendidikan modern diakomodir pesantren, tetapi tradisi pesantren tetap berjalan bahkan semakin maju dengan adanya relasi intensif antara tradisi lama dengan tradisi modern. Hal itu sesuai dengan adagium, “al-muḥāfaẓah `alā al-qadîm al-ṣāliḥ wa al-akhẑu bi al-jadîd al-aṣlaḥ” (memelihara tradisi lama yang baik dan mengakomodir tradisi baru yang lebih baik).53 Salah satu tokoh pendidik yang menggagas masuknya pelajaran agama ke sekolah umum dan pengetahuan umum ke pesantren adalah KH. A. Wahid Hasyim, ayah dari Gus Dur. Di pesantren tebuireng, KH.

A. Wahid Hasyim mendirikan lembaga pendidikan madrasah yang memuat materi kurikulum sekitar 70%

merupakan mata pelajaran non-agama.54

Pendidikan pesantren itu menerapkan sistem pendidikan sekolah formal yang berciri khas keagamaan ini yang mengajarkan ilmu-ilmu sains dan rasional seperti ilmu ukur, aljabar, falak, dan matematika. Selain itu, materi ilmu agama Islam menjadi materi pokok wajib.55 Eksistensi pesantren sebagai sub-kultur pendidikan Indonesia

52 Imam Suprayogo, Pesantren dan Format Pendidikan Islam Masa Depan, http://Rektor.Uin- Malang.Ac.Id/Index.Php/Artikel/439-21-07-2008.Html, diakses 8 Juni 2012.

53 Suprayogo (2012)

54 Nugroho Dewanto dan Redaksi Kpg (Tim Penyuting), Wahid Hasyim Untuk Republik dari Tebuireng, (Jakarta: Tempo, 2011): h. 64 -77.

55 Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren: Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai, (Jakarta: LP3ES, 1985), h. 122-123.

awalnya belum mendapat perhatian dari pemerintah maupun masyarakat, terutama di zaman Orde Baru.

Namun demikian, sejak era reformasi, pesantren memperoleh perhatian dari pemerintah maupun masyarakat. Pesantren kemudian mendapatkan anggaran biaya operasional pendidikan bagi siswa atau mahasiswa, guru atau dosen, bahkan sarana prasarananya juga mendapat dukungan. Di masyarakat, tren sekolah-sekolah Islam atau madrasah menjadi indikasi bahwa masyarakat Islam Indonesia memerlukan pendidikan Islam sebagaimana yang dikembangkan di dunia pesantren.

Eksistensi pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan56 memiliki karakter yang berbeda dengan pola kehidupan umum di negeri ini, terdapat elemen-elemen penunjang yang menjadi pendukung kehidupan pesantren, pendidikan tata nilai yang tersendiri dan simbol, sehingga masyarakat menilai pesantren sebagai alternatif ideal pendidikan bagi perubahan hidup masyarakat dan interaksi antara berbagai nilai menjadi sebuah nilai-nilai baru.57

Pesantren adalah kultur budaya pendidikan yang unik yang terdiri dari beberapa unsur berupa bangunan, rumah kediaman pengasuh atau kiai (bahasa Jawa), ajengan (bahasa sunda), bendara atau ra (bahasa Madura), langgar/surau atau masjid, tempat pengajaran (madrasah) dan asrama santri. Dalam pembangunan pesantren, tidak ada pola tertentu yang diikuti, sehingga penambahan bangunan berjalan alamiah.

Faktor-faktor kesehatan dan kesegaran jasmani juga belum terlalu menjadi perhatian, namun pada masa belakangan ini sudah mulai ada usaha peningkatan dalam pendidikan jasmaniah dan kesehatan lingkungan.58

56 Dhofier (1985): h. 51.

57 Abdurrahman Wahid, Islam Kosmopolitan: Nilai-Nilai Indonesia dan Transformasi Kebudayaan, Ed.

Agus Maftuh A, (Jakarta: The Wahid Institute, 2007):h. 89-90.

58 Wahid (2007): h. 90.

Jadwal pelajaran pesantren bergerak sesuai cara kehidupan tersendiri yang dimiliki oleh masing-masing pesantren. Pertama, kegiatan santri di pesantren bergerak mengikuti periode ibadah shalat wajib lima waktu.

Dimensi waktu pesantren bergerak di antara waktu ibadah shalat lima waktu dan kegiatan pengajian pesantren.

Kegiatan lain tunduk dan disesuaikan dengan waktu penga- jian, ukuran lamanya, dan ketetapan waktunya bisa tengah hari atau malam hari. Dimensi waktu tersendiri ini terlihat pada masa belajar di pesantren yang berbasis pada penguasaan ilmu, sehingga seorang santri selama masih membutuhkan bimbingan pengajian kiai, maka ia akan terus belajar di pesantren.59

Corak tersendiri pelajaran pesantren dapat dilihat dari struktur pengajaran yang diberikan, yakni pelajaran yang berulang dari tingkat ke tingkat, dalam jangka waktu bertahun-tahun walaupun kitab yang diajarkan berlainan, yakni mulai dari kitab kecil (mukhtasarât),60 pengajian kitab sedang (mutawassithât), dan kitab-kitab yang tingkatannya lebih tinggi seperti ilmu tasawuf, Kitâb al-ῌikâm, atau kitab fikih, I’anah al-Thâlibîn dan Iqnâ’.

Standar keilmuan yang dicapai adalah ketundukan seorang santri kepada kiai dan kemampuan memperoleh ilmu dari kiai.61

Sistem pembelajaran yang unik ini akhirnya melahirkan gaya hidup dan pemikiran yang unik pula bagi para santrinya.62 Salah satu ciri unik santri adalah obsesi mendapatkan ridha Allah Swt yang menjadi tujuan dalam mencari ilmu dan belajar ilmu di pesantren yang seringkali

59 Wahid (2007): h. 92; Prisma Pemikiran Gus Dur, (Yogayakarta: LKiS, 2000).

60 Wahid (2007): h. 91.

61 Wahid (2007): h. 92; GregBarton, Biografi Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid, terjemahan Lie Hua, (Yogyakarta: LKiS, 2010); GregBarton, Gagasan Islam Liberal di Indonesia: Pemikiran Neo-Modernisme Nurcholish Madjid, Djohan Efendi, Ahmad Wahid, dan Abdurrahman Wahid, terj. Nanang Tahqiq, (Jakarta: Paramadina, 1999).

62Abdurrahman Wahid, Islamku, Islam Anda, Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi, (Jakarta: The Wahid Institute, 2006): h. 226.

menekankan pada aspek keikhlasan. Para santri dididik belajar hidup sederhana (qana’ah), terutama berhubungan dengan materi, sedangkan obsesi untuk mempersiapkan kepentingan hidup di akhirat sangat besar. Sikap dan pandangan ini dapat menjadi benteng dari budaya hidup hedonistik dari budaya global.63 Oleh sebab itu, sistem pendidikan pesantren sangat diperlukan pada dekade akhir-akhir ini dalam menghadapi berbagai kerumitan hidup umat, baik persoalan sosial-politik, budaya, ekonomi, hukum ataupun aspek lainnya.64

Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang lahir dari budaya Indonesia dan memiliki daya tahan yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan dan perubahan sosial-budaya. Pesantren tetap eksis berperan hingga kini dalam mendidik dan mengajarkan ilmu-ilmu kepada para santrinya dalam sebuah lokasi yang dikenal dengan pondok/asrama santri, yang dilengkapi dengan masjid/mushala, madrasah, bahkan ada rumah kiai/pengasuh, sehingga hubungan santri dan kiai sangat dekat sekali serta egalitarian sesama santri, bahkan dengan lingkungan sekitar karena sejarahnya pesantren itu lahir dari masyarakat, misalnya tanahnya berasal dari hibah atau wakaf dari masyarakat setempat, sehingga pesantren kemudian memiliki kedekatan dengan masyarakat setempat dan keterikatan layanan pendidikan bagi putra- putri masyarakat sekitar. Dalam dunia pesantren, Majdid mengemukakan muatan keilmuan yang diajarkan di pesantren meliputi ilmu akidah, ilmu fikih, ilmu al qur’an ḥadiṣ, bahkan tārīkh atau sejarah kebudayaan Islam.65

63 Wahid (2007): h. 93

64Abdurrahman Wahid, ”Universalisme Islam dan Kosmopolitanisme Peradaban Islam”, dalam Budhy Munawar-Rachman (Ed.), Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah, (Jakarta:

Paramadina, 1995); Abdurrahman Mas’ud, Intelektual Pesantren: Perhelatan Agama dan Tradisi, (Yogyakarta: Lkis, 2004); ZuhairiMisrawi, Hadratusssyaikh Hasyim Asy’arie: Moderatisme, Keumatan dan Kebangsaan, (Jakarta: Kompas, 2010); Nurcholish Madjid, Bilik-Bilik Pesantren: Ssebuah Potret Perjalanan Sejarah, (Jakarta: Paramadina, 1997).

65Mahfudhoh Rif ’Atul et.al., ‘Multikulturalisme Pesantren di Antara Pendidikan Tradisional dan Modern’, Jurnal Studi Islam, Vol. 6 No 1, (2015): h. 101-103; Nurcholis Madjid, ‘Bilik-Bilik

Pondok pesantren pada awalnya berfungsi sebagai gerakan pendidikan Islamisasi yang memiliki fokus pada tiga unsur pendidikan, yaitu mengajarkan keimanan dengan membiasakan ibadah, tabligh dengan mengajarkan ilmu dan amal, dan partisipasi dalam mewujudkan kemaslahatan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam proses pengajarannya, pondok pesantren berusaha mendidik peserta didik dan masyarakat agar bisa menguasai ilmu agama Islam, yang meliputi di antaranya ilmu fikih, ilmu tafsir, ilmu ḥadiṡ, dan ilmu tauhid, bahkan sejarah Islam yang dilakukan dengan membaca kitab-kitab Islam klasik yang diajarkan di surau atau masjid kepada masyarakat lingkungan sekitarnya. Lama kelamaan makin terkenal sang kiai tersebut dan pengaruhnya makin luas sehingga santri berdatangan dari berbagai daerah untuk belajar ilmu agama. Adapun tipologi pesantren dapat dikategorikan menjadi tiga macam: Pertama, pesantren tradisional (salafiyah), yaitu pesantren yang mempertahankan sistem pengajaran agama melalui kitab yang ditulis oleh ulama abad ke 15 M dengan menggunakan bahasa Arab yang dikenal dengan kitab kuning dan berjalan dengan alamiah yang menentukan kurikulumnya adalah kiai-nya. Kedua, pesantren modern (khalâfiyah), yaitu pondok pesantren yang berusaha memadukan pendidikan klasikal dan sekolah ke dalam pengajaran pondok pesantren, sehingga program pengajian kitab-kitab kuning dan juga sekolah berjalan bersama. Ketiga, pondok pesantren komprehensif, yaitu pondok pesantren yang memadukan pengajaran tradisional dan pengajaran modern yang kemudian dilengkapi dengan pengajaran yang memberikan perhatian terhadap masyarakat sebagai tanggung jawab dari keagamaannya, misalnya melengkapi dengan

Pesantren’, Dian Rakyat, 1997; Muhammad Idris Usman, ‘Pesantren Sebagai Lembaga Pendidikan Islam: Sejarah Lahir, Sistem Pendidikan dan Perkembangannya Masa Kini’, Jurnal Al-Hikmah, Vol 14. No 1,(2013): h. 101-102.

didirikannya pusat pelatihan bisnis, pusat pelatihan pertanian, pusat pelatihan peternakan dan lainnya.66

Berdasarkan tipologi pesantren tersebut, undang- undang republik Indonesia nomor 18 tahun 2019 tentang pesantren mengakomodir ketiga tipologi tersebut sebagai lembaga pendidikan Islam yang memiliki tujuan untuk mengajarkan ilmu agama untuk melahirkan ahli ilmu agama yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berilmu, mandiri, memiliki pemahaman agama dan keberagamaan moderat, cinta tanah air, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat, sehingga fungsi pesantren meliputi pendidikan, dakwah dan pemberdayaan masyarakat.

Sesuai dengan pasal 5 UU tersebut, sistem pendidikan pesantren meliputi: Pertama, pesantren melaksanakan pendidikan dalam bentuk pengkajian Kitab Kuning. Kedua, pesantren melaksanakan pendidikan dalam bentuk Dirasah Islamiyah dengan pola pendidikan muallimin.

Ketiga, pesantren melaksanakan pendidikan dalam bentuk lainnya yang terintegrasi dengan pendidikan umum.

Adapun unsur sistem pendidikan pesantren meliputi kiai, santri yang bermukim di pesantren, pondok atau asrama, masjid atau mushala, dan kajian kitab kuning atau Dirasah Islamiyah dengan pola pendidikan muallimin.

Berdasarkan uraian tersebut, pendidikan pesantren yang dimaksud di sini adalah sistem pendidikan khusus yang lahir dari budaya asli Indonesia yang memiliki karakter tersendiri yang mampu menjadi pertahanan dalam mengajarkan ilmu agama Islam yang berwawasan multikultural yang menjadi kebutuhan masyarakat Indonesia terutama di bidang keilmuan akidah, ilmu fikih, ilmu al qur’an ḥadiṡ, dan bahkan sejarah kebudayaan Islam.

Dalam dokumen Siti Mas'ulah - Repository IAIN Bengkulu (Halaman 53-59)