• Tidak ada hasil yang ditemukan

Profil Kurikulum Pendidikan Multikultural Pesantren Ciganjur

Dalam dokumen Siti Mas'ulah - Repository IAIN Bengkulu (Halaman 190-200)

BAB VII PENUTUP

B. Landasan Paradigma Pendidikan Pesantren Multikultural KH. Abdurrahman Wahid

5. Profil Kurikulum Pendidikan Multikultural Pesantren Ciganjur

Pesantren multikutlural dibangun dengan merumuskan dan mendasarkan diri pada visi dan misi tujuan yang mencerminkan kurikulum multikultural. Demikian juga identifikasi materi pembelajaran yang bermuatan multikultural dilakukan dengan mempertimbangan keragaman peserta didik, karakteristik mata pelajaran, relevansi dengan kondisi aktual, dan aktualitas materi pelajaran.310

Pesantren Ciganjur Jakarta pada dasarnya sudah ada sejak 1999 yang berada dalam Yayasan Wahid Hasyim, namun pesantren itu mulai menerima santri dan aktif sejak tahun 2003. Santri pesantren Ciganjur umumnya didominasi dari para mahasiswa senior dari semua jurusan Program Studi S-1 yang mencerminkan keragaman latarbelakang pendidikan dan sosial-budaya. Tujuannya adalah untuk menyiapkan peserta didik yang mampu membidangi beberapa hal penting yang dibutuhkan terutama di kalangan pesantren sehingga lahir santri yang memiliki kedalaman ilmu agama Islam dan menguasai ilmu-ilmu umum. Para santri berasal dari Jawa, Madura, Lampung dan wilayah

310 Yaya Suryana dan A Rusdiana, Pendidikan Multikultural…, h. 315.

lainnya dengan latar pendidikan formal yang bermacam- macam mencerminkan latarbelakang santri yang majemuk.

Sebagian besar santri berstatus mahasiswa dari UIN Syarif Hidayatullah, LIPIA, dan PTIQ dan sebagian juga sudah berstatus sebagai sarjana, sebagian santri ada yang masih berpikir hendak kemana kuliah, sebagian santri ada yang masih berpikir arah masa depan hidupnya, dan juga ada santri yang murni ingin menjadi santri Gus Dur. Jadi, para santri 90% berasal dari lulusan pesantren-pesantren di Jombang, Kediri, Kudus, Banten, dan Lampung, Banyuwangi, Magelang dan wilayah lainnya. Pengurus pesantren Ciganjur dengan luwes menerima santri dari beragam latar belakang dan daerah serta etnis, sehingga program pendidikan dan pengajaran pesantren Ciganjur disusun berdasarkan kecenderugan para santri mukim. Pesantren Ciganjur mengajarkan kurikulum pendidikan agama Islam yang menyerap potensi-potensi kearifan lokal untuk menghadapi arus globalisme dan gerakan puritanisme Islam. Pesantren Ciganjur merupakan lembaga pendidikan Islam yang menyiapkan iklim belajar berbagai hal penting dan dengan bimbingan para pengasuh. Santri Ciganjur sebagaimana tradisi santri pesantren Indonesia memiliki tradisi masak, makan dan minum kopi bersama, gojlokan dan guyonan sambil mengelilingi meja karambol, main catur, serta jagongan dan bahtsul masail.311

Dalam tahapan pengembangan kurikulum multikultural, pesantren Ciganjur di antaranya telah menentukan sumber belajar yang bermuatan multikultural.

Sumber belajar sebagai rujukan, objek dan bahan belajar bermuatan multikultural yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran di pesantren. Penentuan sumber belajar bermuatan multikultural didasarkan pada kemampuan santri yang memiliki komptensi dasar, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.312 Kurikulum pesantren Ciganjur dalam

311 https://pesantrenciganjur.wordpress.com/profil/, diakses 31 Oktober 2020

312 Yaya Suryana dan A Rusdiana, Pendidikan Multikultural.., h. 317.

menetapkan program mata pelajaran ilmu agama Islam bersumber ilmu akhlak bersumber pada kitab al-Hikam karya Ibnu Athoillah, ilmu akidah bersumber pada Kitab al-Milāl wa al-Nihāl karya al-Syahrastani, ilmu sejarah bersumber pada kitab al-Muqaddimah karya Ibnu Khaldun, tafsir Aḥkām karya al-abūnī yang mana kegiatan pembelajaran itu berjalan sejak masa Gus Dur yang membimbing mata pelajaran ilmu agama Islam dan ilmu-ilmu terkait. Adapun saaat ini, di antara di bawah bimbingan Dr. M. Luthfi Zuhdi (Ketua Program Pusat Kajian Islam dan Timur Tengah Universiras Indonesia/PKTTI-UI) pada setiap Ahad pagi yang diadakan pengajian yang mengulas Peta Pergerakan dan pemikiran Arab Kontemporer dan kitab al-Muqaddimah karya Ibnu Khaldun serta tafsir Ahkam karya al-Shabuni, dan KH Said Aqiel Siraj membimbing pengajian kitab Misykāt al-Anwār dan kitab al-Milāl wa al-Nihāl. 313

Sesuai dengan pemikiran Yaya Suryana dan A Rusdiana, kurikulum pengajaran pesantren Ciganjur itu pada dasarnya sudah merepresentasikan prinsip-prinsip materi kurikulum pendidikan pesantren multikultural, yakni (a) materi kitab al-Milāl wa al-Nihāl menyajikan konten pendapat dan pemikiran akidah dari banyak perspektif dan juga menawarkan komparasi pemikiran akidah; (b) kitab al- Muqaddimah menawarkan penafsiran yang tidak tunggal atas kebenaran sejarah hidup manusia, tetapi dilihat dari beragam sudut pandang; (c) tafsir Aḥkām karya al-Ṣabūnī menawarkan beragam penafsiran terhadap ayat-ayat al-Qur’an; (e) kitab Misykāt al-Anwār menawarkan pandangan yang mencerminkan keseimbangan antara pemahaman persamaan dan perbedaan dalam kehidupan beragama kaitannya berhubungan dengan Tuhan, sedang manusia dalam hubungan horizontal sesama manusia berkedudukan setara.314

313 https://pesantrenciganjur.wordpress.com/profil/, diakses 31 Oktober 2020

314 Yaya Suryana dan A Rusdiana, Pendidikan Multikutlural: Sebuah Upaya Penguatan Jati Diri Bangsa, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2015), h. 311.

Tabel J

Kurikulum Pesantren Multikultural Gus Dur di Pesantren Ciganjur

Nama kitab Deskripsi Singkat Kitab al-Milāl wa al-Nihāl

karya al-Syahrastani (Ilmu Akidah)

Kitab ini mengulas sejarah sekte, agama dan kepercayaan dunia secara sistematis dan memberikan wawasan yang luas mengenai perbedaan padangan akidah di kalangan umat beragama dan Muslim315

Kitab al-Muqaddimah karya Ibnu Khaldun (Ilmu Sejarah Kebudayaan Islam)

Mengulas kritik atas peradaban ilmuwan Arab-Muslim, hukum- hukum sosial, lembaga-lembaga keislaman, dan karakter ilmu pengetahuan. Kitab ini telah meletakkan dasar-dasar ilmu sosial, bahwa masyarakat merupakan elemen yang dinamis dan berubah, tidak pernah berhenti.316

Kitab Tafsir ayat-ayat Aḥkām karya al-Ṣabūnī

Kitab tafsir ahkam ini merupakan karya terbaik di kalangan ulama tafsir yang mengulas pandangan ayat-ayat hukum dalam al-Qur’an dan juga bantahan terhadap orang-orang yang memusuhi doktrin Islam.

Kitab Misykāt al-Anwār karya Abū Ḥāmid Muḥammad al- Ghazālī (w. 1111)

Kitab tafsir bercorak sufistik yang mengulas daya jiwa dan rasionalitas manusia dalam hubungannya dengan Tuhan-nya. Tafsir sufistik ini berupaya menggali makan batin atau makna kontekstual ayat-ayat al-qur’an.317

315 https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/04/23/m2wvlk-almilal- wa-alnihal-ensiklopedia-agama-dan-kepercayaan-1, diakses 31 Oktober 2020

316 https://republika.co.id/berita/pkyimo313/almuqaddimah-karya-abadi-ibnu-khaldun, diakses 31 Oktober 2020

317 Mulyadhi Kartanegara, Misykat Al-Anwar: Tafsir Sufistik Tentang Cahaya, https://kalimahsawa.id/misykat-al-anwar-tafsir-sufistik-tentang-cahaya/, diakses 31 Oktober 2020

BAB V

KONSTRUKSI PARADIGMA PENDIDIKAN PESANTREN MULTIKULTURAL KH. ABDURRAHMAN WAHID A. Paradigma Sejarah Kebudayaan Islam Multikultural

Dalam kurikulum pendidikan agama Islam, ada perbedaan antara aliran Islam radikal dan aliran Islam moderat. Penelitian Charlene Tan mengenai kurikulum pendidikan agama Islam mengemukakan bahwa ada perbedaan kurikulum pendidikan agama Islam di pesantren di Ngruki, Solo, dan di pondok pesantren Tebuireng Jombang. Orientasi kurikulum pendidikan agama Islam pesantren Ngruki baik kurikulum tertulis maupun tersembunyi dimaksudkan untuk mengarahkan peserta didik menjadi bagian dari gerakan untuk menegakkan agama Islam sebagai sistem politik di Indonesia. Materi kurikulum PAI tentang pembinaan ideologi dan indoktrinasi negara Islam dapat dijumpai dalam beberapa buku teks yang dibagikan dan diajarkan pada semua siswa di SMP dan SMA terutama materi pelajaran akidah, fikih (hukum Islam), dan buku teks Islam lainnya. Indoktrinasi melalui hidden kurikulum dilakukan dalam bentuk budaya pembelajaran yang bersifat monologis. Para peserta didik dilarang 'membantah' apapun yang disajikan oleh Guru atau ustadz. Hubungan erat antara guru dan siswa/murid kemudian menjadi instrumen efektif dalam memfasilitasi transformasi ilmu pengetahuan secara cepat pada pola pikir peserta didik secara tidak sadar. Semua materi dan sistem pembelajaran itu kemudian mendapatkan legitimasi akhir dan penguatan dari pidato dan arahan (tausiyah) dari pimpinan pondok pesantren.318

Sementara itu, kurikulum pendidikan agama Islam di pesantren Tebuireng Jombang disusun untuk menjadi landasan dalam mendidik dan menumbuhkan toleransi, moderasi dan rasa cinta tanah air. Kurikulum PAI di

318 Husniyatus Salamah Zainiyati, ‘Curriculum, Islamic Understanding and Radical Islamic Movements in Indonesia’, Journal of Indonesian Islam, 2016

<https://doi.org/10.15642/JIIS.2016.10.2.285-308>.; h.290-291

pesantren Tebuireng Jombang mempunyai desain kurikulum tidak jauh berbeda dengan pesantren Ngruki, yakni kurikulum tertulis dan pendekatan terselubung. Namun demikian, muatan kurikulum dan pengajaran PAI berbeda secara signifikan. pesantren Tebuireng yang juga menerapkan sistem pendidikan formal berupa sekolah formal menganut sistem pendidikan nasional dan kurikulumnya yang diadopsi. Sistem pendidikan itu terintegrasi dalam tatanan dan sistem nilai yang diajarkan kepada para santri di pesantren. Kondisi dan karakteristik peserta didik di Tebuireng lebih ramah dan sopan ketika mereka berkomunikasi pada para tamu yang datang ke sekolah mereka walaupun berbeda latarbelakang dan minat.319 Adanya dua kecenderungan paradigma pendidikan agama Islam yang berkembang di dua pesantren tersebut dapat ditemukan relevansinya dalam pemikiran pendidikan agama Islam dalam dunia pesantren yang berwawasan multikultural yang digagas Gus Dur.

Terkait dengan persoalan kurikulum sejarah Islam yang bermuatan multikultural. Hal itu tidak lepas dari sejarah hidup Islam lahir dan berkembang. Makkah sebagai tempat lahirnya agama Islam merupakan sebuah kota metropolitan yang memiliki posisi strategis di kawasan kota-kota di negara Arab, baik dari segi tradisi maupun letaknya secara georafis.

Makkah merupakan kota yang menjadi penghubung dalam jalur perdagangan antara Yaman dan Syria. Keberadaan Ka’bah di pusat kota menjadikan Makkah sebagai pusat peradaban keagamaan Arab. Ka’bah yang dikelilingi 360 berhala menjadi pusat ziarah. Hubungan agama dan masyarakat Arab terbangun berdasarkan identitas suku masyarakat jazirah Arab yang lingkungannya berada dalam daerah padang pasir. Sejak sebelum Islam, Ka’bah sudah menjadi pusat ziarah dan ibadah pemeluk agama asli penduduk Makkah dan orang Yahudi yang bertempat tinggal di daerah sekitarnya. Ketika Ka’bah menjadi pusat lalu lintas

319 Zainiyati (2016): h.290-291

ziarah dan ibadah, maka pengaturan diperlukan untuk menjaga dan mengatur para peziarah dan orang yang mau ibadah, sehingga pemerintahan dibentuk yang terdiri dari suku Jurhum (sebagai pemegang kekuasaan politik) dan suku Ismail (keturunan Nabi Ibrahim). Pemerintahan Jazirah Arab itu lalu beralih ke suku Khuza’ah dan akhirnya beralih ke suku Quraisy. Suku Qurasy itu kemudian memimpin urusan politik dan urusan peribadatan di Ka’bah.320

Di Jazirah Arab, asal usul keturunan warga Jazirah Arab berasal dari dua kelompok besar, yaitu Qahṭaniyun (keturunan qahtan) dan Adnaniyun (keturunan Islam Ibn Ibrahim). Masyarakat Jazirah Arab terdiri dari penduduk yang menetap dan tidak menetap dalam budaya suku Badui.

Masyarakat Arab membentuk kabilah dan antar kabilah memiliki karakter untuk selalu berperang dan budaya berperang itu berlanjut hingga agama Islam datang. Budaya perang itu menyebabkan budaya Arab tidak berkembang dan miskin warisan budaya yang bisa dipelajari. Budaya Arab yang berkembang ketika itu hanyalah budaya syair.

Dinamika budaya Arab terjadi karena adanya pertemuan budaya dengan bangsa-bangsa sekitar melalui jalur perdagangan, kerajaan Protektorat, Hirah dan Ghassan, dan melalui penyebaran misi agama Yahudi dan Kristen.

Walaupun agama Yahudi dan Kristen telah disebarkan lebih awal ke Jazirah Arab, bangsa Arab masih tetap memeluk agama asli yang dianut yang mempercayai dewa yang berbentuk dewa atau patung.321

Syair bagi masyarakat bangsa Arab Jahiliyah memiliki fungsi yang beragam digunakan untuk menyampaikan ekspresi dan emosi serta berbagai informasi terkait dengan kehidupannya, sehingga syair di kalangan masyarakat Arab menjadi diwān al-‘Arab (catatan sejarah bangsa Arab). Sesuai dengan karakter budaya Arab yang suka berperang, Syair Arab banyak memuat peristiwa perang yang dikenal dengan sebutan Ayyâm al-'Arab,

320 Yamin, (2017): h. 109.

321 Yamin, (2017): h. 109.

sehingga perang dan damai ditentukan dengan eksistensi syair. Dalam kajian sosiologi sastra dan analisis wacana, syair dan perang memiliki hubungan yang erat yang termuat dalam tema syair (aghrâd al-syi'r), misalnya air mata (al-dumû') dan tangisan (al-bukâ) yang memuat bait-bait syair Jahiliyah yang menggambarkan kepedihan dan kegelisahan orang yang sedang ditinggal mati dalam peperangan, bahkan syair gazal yang memiliki muatan syair percintaan tidak lepas dari persoalan perang. Syair ghazal yang memiliki orientasi personal tetapi memiliki dampak kolektif dalam persoalan perang. Etos perang (ḥamâsah), tangguh, dan pengobat rasa sakit menjadi pondasi dasar syair. Dalam sudut padang perang, cinta dapat mengubah persepsi terhadap pecundang menjadi pejuang.322

Syair Arab memiliki kualitas sastra yang tinggi baik dari sisi isi maupun gaya bahasanya. Syair sebagai karya sastra pada dasarnya sudah berkembang dan mendarah daging di masyarakat Jazirah Arab, sebagaimana peradaban maju sudah ada di kerajaan Romawi dan Persia. Syair Arab memiliki unsur seni tinggi yang memuat unsur emosi, imajinasi, ide dan keindahan gaya bahasa. Dengan demikian, bangsa Arab Jahiliyah pada dasarnya memiliki kualitas peradaban yang maju, nilai-nilai moralitas universal yang bersumber dari pengalaman hidup ataupun nilai-nilai keimanan. Nilai-nilai moralitas mereka bukan bersumber dari keyakinan terhadap Tuhan, tetapi bersumber dari pengalaman hidup.323

Masyarakat Jazirah Arab memiliki keunggulan dalam bidang syair dan kemampuan menghafal. Kehadiran Nabi Muhammad Saw memiliki pengaruh penting terhadap masyarakat Arab dalam segala aspek kehidupan masyarakat. Dalam waktu relatif singkat, Nabi Saw berhasil melakukan dakwah terhadap masyarakat Arab jahiliyah.

322 Nur Hamim, ‘Syair Ratapan (Ritsâ) dan Cinta (Ghazal) dalam Budaya Perang Bangsa Arab Jahiliyah: Kajian Sosiologi Sastra’, Nuansa, Vol 9 No 2 (2012).

323 Cahya Buana, ‘Nilai-Nilai Moralitas dalam Syair Jahiliyah Karya Zuhair Ibnu Abi Sulma’, Buletin Al-Turas, Vol 23 No 1(2017)<https://doi.org/10.15408/bat.v23i1.4803>: h. 87.

Dakwah Nabi Saw sebagian dilakukan dengan melakukan perubahan keadaan dan sebagian melanjutkan dalam sinaran ajaran Islam. Nabi Muhammad Saw lahir pada tahun gajah tanggal 12 Rabi’ul Awwal. Pada usia 6 tahun, Nabi Saw telah menjadi yatim piatu. Di usia muda, Nabi Saw menjalani hidupnya sebagai penggembala kambing. Melalui aktivitas penggembalaan ini, Nabi Saw kemudian mendapatkan ruang untuk berpikir dan merenung yang menjadikan dirinya jauh dari segala hal yang berhubungan dengan nafsu duniawi, sehingga sejak muda Nabi sudah dijuluki al-Amin (orang yang terpercaya). Di samping itu, ketika berusia 35 tahun, Nabi Saw mendapat gelar sebagai orang bijaksana karena mampu menyelesaikan perselisihan tentang tempat Hajar Aswad di antara kelompok suku yang ada di Makkah.324

Pada usia baru beranjak 12 tahun, Nabi Saw melakukan perjalanan dagang ke Syiria (Syam) yang dipimpin oleh Abu Thalib. Dalam perjalanan di Bushra sebelah Selatan Syiria, Nabi Saw bertemu dengan pendeta Kristen Buhairah yang melihat tanda-tanda kenabian sesuai dengan cerita-cerita agama Kristen. Ketika Nabi Saw berusia 25 tahun, beliau berangkat lagi ke Syiria dengan membawa dagangan Khadijah yang mendapatkan laba besar. Setelah itu, Khadijah melamar Nabi Saw, ketika beliau berusia 25 tahun, sedang Khadijah berusia 40 tahun. Dalam pernikahan Nabi Saw dengan Khadijah memperoleh enam orang anak, dua putra dan empat orang putri, yakni Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kulsum dan Fatimah. Namun, putra laki-laki Nabi Saw yang berjumlah dua orang meninggal waktu kecil. Nabi Saw tidak menikah lagi selama masa pernikahannya dengan Khadijah hingga Khadijah wafat. Berada beberapa kilometer di Utara Makkah, Nabi Saw lalu menerima wahyu Allah yang pertama melalui malaikat Jibril di Gua Hira pada tanggal 17 Ramadhan 611 M, yakni saat usia Nabi masuk yang ke-40 tahun, Allah Swt

324 Yamin, (2017): h. 111.

memilih Muhammad sebagai Nabi. Ketika wahyu kedua turun, Nabi Saw diperintahkan untuk menyeru umat manusia pada satu agama.325

Pada periode Makkah, Nabi Saw menyampaikan dakwah lebih menampilkan keteladanan dan aspek kemanusiaan yang dilakukan dengan cara diam-diam dan terang-terangan. Setelah dakwah Nabi Saw mulai dilakukan dengan terang-terangan, para pemimpin Quraisy mulai melakukan perlawanan dan menghalangi kegiatan dakwah Nabi Saw baik secara diplomatik maupun kekerasan.

Penambahan jumlah pemeluk agama Islam yang diajarkan Nabi Saw telah menimbulkan perlawanan yang semakin sengit dan keras dari kelompok Quraisy. Di samping aspek politik, juga aspek ekonomi menjadi motif perlawanan dari kelompok Qurasy. Pemahat dan penjual patung mengalami penurunan omset setelah kehadiran agama Islam yang melarang menyembah berhala atau patung.326

Periode Madinah adalah periode dimana Nabi Saw memiliki ruang yang lebih mudah menyebarkan ajaran agama Islam dan masyarakat Madinah lebih terbuka menerima kehadiran agama Islam. Madinah menjadi daerah yang mana warganya memiliki peradaban lebih maju dan mampu menerima perubahan sosial. Penduduk Yatsrib (Madinah) sebelum Islam terdiri dari dua suku bangsa yaitu Arab dan Yahudi. Nabi Saw kemudian menyampaikan agama Islam kepada penduduk Madinah karena mereka telah mendengar ajaran taurat dari kaum Yahudi dan tidak asing dengan ajaran Nabi, maka mereka menyatakan masuk Islam. Mereka juga berjanji untuk mengajak penduduk Yastrib yang lain untuk masuk Islam. Sejak itu, Nabi Saw dan Islam menjadi bahan pembicaraan masyarakat Arab Yatsrib (Madinah). Setelah peristiwa Isra’ Mi’raj, Nabi Saw mendapatkan kemenangan dalam menjalankan dakwah Islam. Kaum Quraisy terpukul setelah mengetahui bahwa Nabi telah melakukan perjanjian dengan kaum Yatsrib,

325 Yamin, (2017): h. 112.

326 Yamin, (2017): h. 113-114; Banks (eds), (2010): h. 20-21.

Dalam dokumen Siti Mas'ulah - Repository IAIN Bengkulu (Halaman 190-200)