H. Shalat Qashar
I. Shalat Dalam Kondisi Perang
Pelaksanaan shalat dalam kondisi perang dilaksanakan dengan membagi pasukan menjadi dua kelompok. Satu kelompok shalat bersama imam, sedangkan yang satu kelompok berjaga- jaga menghadapi musuh. Bila kelompok pertama selesai shalat satu rakaat bersama imam, mereka salam dan keluar dari barisan shalat.
Selanjutnya kelompok kedua datang menggantikan kelompok pertama menyempurnakan shalat bersama imam satu rakaat lagi. Jadi, masing-masing kelompok shalat satu rakaat bersama imam, sedangkan imam sendiri shalat dua rakaat.
Ketentuan ini terdapat dalam Al-Quran surat al-Nisaa’ ayat 102,
⬧◆
☺⬧⬧
⬧
◼❑◼
→⧫⬧
⬧
⧫➔
◆◆
⧫☺⬧
⬧⬧
❑❑◆⬧
→◆◆
⧫◆
111
⬧
⧫
⬧
❑
❑⬧
➔⧫
➔◆◆
➔◆◼
⧫☺⬧◆
◆
❑⬧
❑➔→⬧
⧫
⬧
➔◆
⧫❑➔☺◆⬧
→◼⧫
⬧
◼◆
◆
→◼⧫
⧫
⬧
❑➔⬧
⧫⬧
➔◆
◆◼
⧫
⧫⬧
⧫
Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu.
Dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata- senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu.
Asbab al-Nuzul Ayat
Ibnu Jarir meriwayatkan yang bersumber dari ‘Ali RA, katanya, Sekelompok orang dari bani Najar bertanya kepada Rasulullah SAW, Kami tengah berpergian, bagaimana caranya kami shalat? Maka Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan ayat, Jika kamu berpergian. Setelah itu Nabi berperang, lalu Beliau melaksanakan shalat Zhuhur. Lantas kaum musyrik berkata, Sungguh sekarang Muhammad dan para sahabatnya membelakangi kamu, mengapa kamu tidak menyerang mereka saja?
Salah sorang dari kaum musyrik berkata, Sesungguhnya di belakang mereka itu ada sekelompok lain yang akan menggantikannya. Ibnu Jarir berkata, Maka di antara kedua shalat itu Allah meurunkan ayat, Jika kamu khawatir diganggu oleh orang- orang kafir, maka diturunkanlah ayat mengenai shalat khawuf.
Pada redaksi ayat ini tampak bahwa khitab ayat ini ditujukan kepada seseorang, yaitu kepada nabi Muhammad SAW secara spesifik, karena mukhatab-nya dalam bentuk tunggal .... تنـك اذ ءاـف. Tetapi menurut pendapat al-Syaukani (I, 1964: 508), Khitab ayat ini ditujukan kepada Nabi SAW dan orang-orang sesudahnya sebagai pemangku urusan hukumnya (komandan perang). Hal ini relevan dengan ayat نم ذـخ
112
ةــق دـص مـهلاومْا (Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, Q. S. 9: 103). Pendapat inilah yang diperpegangi oleh mayoritas ulama. Namun demikian, Abu Yusuf dan Ismail bin ‘Alaih menentang pendapat tersebut. Menurut pendapat keduanya, Tidak relevan mengaitkan apa yang diperintahkan kepada Nabi SAW yang memiliki keistimewaan yang luar biasa disamakan dengan orang lain. Pendapat ini ditolak.
Karena Allah menyuruh kita mengikuti Rasul-Nya dan mendasarkan amal ibadah kepadanya. Rasulullah SAW sendiri telah bersabda, ىلـصْا ىنوـمـتـيْار اـمـك اوـلـص (Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat). Dan para sahabat sangat memahami makna-makna Al-Quran. Setelah Beliau meninggal para sahabat melaksanakan shalat sebagaimana yang mereka kenal dari Beliau.
Menurut jumhur mufassirin, cara pelaksanaan shalat dalam kondisi perang
ialah bila telah selesai serakaat, maka diselesaikan satu rakaat lagi sendiri, dan Nabi duduk menunggu golongan yang kedua. Yaitu rakaat yang pertama, sedang rakaat yang kedua mereka selesaikan sendiri pula dan mereka mengakhiri sembahyang mereka bersama-sama Nabi. Cara sembahyang khawuf seperti tersebut pada ayat 102 ini dilakukan dalam keadaan yang masih mungkin mengerjakannya, bila keadaan tidak memungkinkan untuk mengerjakannya, maka sembahyang itu dikerjakan sedapat- dapatnya, walaupun dengan mengucapkan tasbih saja. (Depag, 1971: 138).
Shalat khawuf memiliki banyak jenis. Kadang-kadang musuh berada di arah kiblat dan kadang-kadang tidak pada arah itu. Shalat pun ada terdiri atas empat rakaat, ada yang tiga rakaat seperti shalat Maghrib, dan ada yang dua rakaat seperti shalat Shubuh dan safar. Shalat ini adakalanya yang dilakukan secara berjemaah. Kadang situasi perang juga berkecamuk sehingga mereka tidak dapat berjemaah, sehingga mengerjakannya sendiri-sendiri, baik sambil menghadap kiblat maupun tidak, baik sambil berkendaraan maupun berdiri. Dalam kondisi berkecamuk perang seperti ini, mereka boleh berdiri sambil melakukan tebasan bertubi-tubi terhadap musuh di tengah-tengah shalat, (Ibnu Katsir, II, 1983; 378)
Ada ulama yang mengatakan, Dalam kondisi perang itu, mereka dapat menegerjakan shalat satu rakaat berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas, seperti telah dikemukakan di atas. Pendapat ini juga dipegang oleh Ahmad bin Hanbal dan sejumlah tabiin. Dari Muhammad bin Nashar al-Marwazi diriwayatkan bahwa dia melihat pelaksanaan shalat Shubuh hanya satu rakaat dalam keadaan takut. Pendapat ini dipegang pula oleh Ibnu Hazm. Ibnu Rahawih berpendapat bahwa dalam kondisi baku hantam, cukuplah satu rakaat shalat dengan menggunakan isyarat, (Ibnu Katsir, II, 1983; 387).
Ada pula ulama yang membolehkan untuk menangguhkan pelaksanaan shalat karena alasan perang, sebagaimana Nabi SAW menangguhkan pelaksanaan shalat Zhuhur dan ‘Ashar dalam perang Ahzab. Beliau mendirikan kedua shalat itu setelah terbenam matahari. Sesudah itu, Beliau shalat Maghrib, kemudian shalat Isya. Tetapi jumhur ulama berpendapat bahwa praktek menangguhkan shalat itu sudah di-nasakh oleh adanya shalat khawuf, karena pada saat itu ayat mengenai shalat khawuf belum diturunkan. Setelah itu diturunkan ayat tentang shalat khawuf, maka di-nasakh-kan praktek menangguhkan shalat. Inilah pendapat yang benar, (Ibnu Katsir, II, 1983:
379).
113