Hakikat dan Landasan
E. Peran LPTK (S1 PG-PAUD) dalam Menyiapkan Guru/
3. Sosok Utuh Kompetensi Guru PAUD
Sebagaimana telah dipaparkan di atas, kompetensi akademik dan kompetensi profesional seorang guru merupakan dua aspek yang terintegrasi, sehingga pembentukannya tidak dapat dipisahkan. Sehubungan dengan itu, maka sosok utuh kompetesi profesional guru PAUD meliputi kemampuan: mengenal anak secara
mendalam, menguasai profil perkembangan fisik dan psikologis anak, menyelenggarakan kegiatan bermain yang memicu tumbuh kembang anak sebagai pribadi yang utuh, yang meliputi kemampuan: merancang kegiatan yang memicu perkembangan anak, mengimplementasikan kegiatan yang memicu perkembangan anak, menilai proses dan hasil kegiatan yang memicu perkembangan peserta anak, serta melakukan perbaikan secara berkelanjutan berdasarkan hasil penilaian terhadap proses dan hasil kegiatan yang memicu perkembangan anak, dan mengembangkan profesionalitas secara berkelanjutan.
4. Kompetensi Akademik Guru PAUD
Berdasarkan sosok utuh kompetensi profesional guru PAUD, dapat dijabarkan kompetensi akademik guru PAUD sebagai berikut: mengenal anak secara mendalam, memahami perkembangan anak (mengenali dan mengidentifikasi kebutuhan, potensi serta permasalahannya); menyelenggarakan kegiatan belajar melalui bermain yang memicu tumbuhkembang anak sebagai pribadi yang utuh (wawasan pendidikan dan pembelajaran anak, bidang pengembangan); memiliki kebiasaan untuk mengembangkan profesionalitas secara berkelanjutan.
Setelah menguasai kompetensi akademik yang ditempuh dalam program pendidikan guru prajabatan terintegrasi, dengan beban studi minimal 144 sks, maka para calon guru menempuh program pengalaman lapangan di Kelompok Bermain/TPA atau di Taman Kanak-kanak. Selama proses pengalaman lapangan tersebut, para calon guru PAUD menerapkan kompetensi akademik yang telah dikuasainya dalam konteks yang otentik di KB/TPA atau TK, selama sekitar 1 (satu) semester dengan bobot minimal 18 sks. Jika pada akhir pengalaman lapangan dia lulus dalam ujian praktik, maka calon guru ini telah menguasai kompetensi profesional guru PAUD, dan layak mendapat sertifikat pendidik.
5. Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini
Agar mampu melaksanakan tugas sebagai pendidik anak usia dini, guru PAUD harus dipersiapkan melalui Pendidikan Guru PAUD (PG-PAUD). Sehubungan dengan itu, perlu upaya yang terencana dan sistematis untuk menyiapkan PG-PAUD. Seiring dengan kebijakan pemerintah di bidang PAUD, maka untuk membangun dan mengembangkan PAUD, berbagai kebijakan telah dikeluarkan oleh pemerintah, mulai dari sistem perundang- undangan, sampai dengan hal-hal yang bersifat teknis operasional. Berbagai ketentuan tentang pendidikan bagi anak usia dini termuat dalam UU RI No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, khususnya ketentuan- ketentuan yang berkaitan dengan seluruh jenjang pendidikan, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), sampai dengan jenjang pendidikan tinggi. Pada Pasal 28 ditetapkan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal. Pendidikan Anak Usia Dini dalam pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-kanak/Raudatul Athfal (TK/RA), Pendidikan bagi anak usia dini dalam jalur nonformal berbentuk Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA) atau bentuk lain yang sederajat; sedangkan pendidikan bagi anak usia dini dalam jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.
Sebagai implementasi dari undang-undang tersebut, Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, dan Undang-undang No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen, dimana salah satu ketentuannya menyebutkan bahwa pendidik anak usia dini wajib memiliki kualifikasi akademik pendidikan minimum D-IV atau S1 serta kompetensi sebagai pendidik. Para calon guru yang telah memiliki kualifikasi akademik S1 dan kompetensi sebagai pendidik, selanjutnya harus mengikuti uji kompetensi untuk mendapatkan sertifikat pendidik. Selain perundang-undangan, telah ditetapkan pula kebijakan pemerintah berkenaan dengan tugas dan ekspektasi kinerja guru PAUD (Ditjen Dikti, 2006). Arah kebijakan tersebut berkenaan dengan pengembangan konsep PAUD, pengembangan pendidikan guru anak usia dini, pengembangan anak sesuai dengan potensinya secara optimal, serta pengembangan sarana dan prasarananya.
Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini
Program Pengenalan Lapangan
Pembentukan penguasaan kompetensi profesional guru PAUD diselenggarakan melalui PPL yang merupakan muara program yang memberi kesempatan kepada mahasiswa S-1 PG-PAUD untuk menerapkan segala pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai yang diperoleh dari semua mata kuliah ke dalam kehidupan dan proses pembelajaran di KB atau TK/RA. Mahasiswa yang memilih konsentrasi KB melakukan PPL di KB, sedangkan yang memilih konsentrasi TK/RA melakukan PPL di TK/RA. PPL dilakukan secara bertahap dan sistematis di bawah bimbingan para dosen pembimbing dan guru pamong.
Mahasiswa
Mahasiswa Program S-1 PG PAUD berasal dari lulusan SMA dan yang sederajat, atau D-II PGTK. Seiring dengan terbitnya surat keputusan tentang Penyelenggaraan Program S-1 PG PAUD, maka bagi perguruan tinggi yang selama ini menyelenggarakan program pendidikan baik Diploma 2 PGTK dan program S1 PAUD dan S1 PGTK dihimbau untuk melakukan penyesuaian seperlunya.
Untuk lebih menghayati tentang pentingnya keberadaan Program Studi S1 PG-PAUD maka Standar Kompetensi Lulusan (SKL) perlu diarahkan pada pemahaman secara komprehensif bagi para calon guru/
pendidik tentang paradigma, tujuan dan serta proses pendidikan dan pembelajaran bagi anak sejak usia dini.
Merujuk pada Undang-undang Dasar 1945 Pasal 31 yang berbunyi: “Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan dan pembelajaran” dan diperkuat oleh Undang-undang RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 dijelaskan bahwa fungsi dan tujuan pendidikan nasional:
“Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab; sedangkan penjabaran lebih lanjut tentang tujuan Pendidikan Anak Usia Dini menurut Departemen Pendidikan Nasional adalah:
“Untuk membantu mengembangkan seluruh potensi dan kemampuan fisik, intelektual, emosional, moral dan agama secara optimal dalam lingkungan pendidikan yang kondusif, demokratis dan kompetitif”.
Selanjutnya berdasarkan hak anak yang tertuang dalam Undang-undang RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Pasal 9 Ayat 1 dijelaskan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pembelajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya.
Berdasarkan sejumlah rujukan tersebut jelaslah bahwa setiap warga negara Indonesia yang hidup di bumi pertiwi ini wajib memperoleh pendidikan yang berlangsung secara terus-menerus dan berlangsung seumur hidup. Untuk itu, berkaitan dengan tujuan pendidikan bagi anak usia dini, maka dapat dimaknai bahwa setiap lembaga pendidikan anak usia dini baik formal, informal ataupun nonformal bertanggung jawab untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif, demokratis dan kompetitif agar semua potensi dan dimensi perkembangan yang ada dalam diri anak dapat berkembang dengan optimal.
Kesemua usaha pendidikan di atas dengan dilakukan dalam rangka mengaktualisasikan seluruh potensi yang tersembunyi (the hidden potency) dalam diri masing-masing anak sehingga akan terwujud dalam bentuk perilaku nyata yang dapat diamati (the actual potency). Secara operasional, Bredekamp dan kawan- kawan (1992:11-12) menyatakan bahwa tujuan program pendidikan bagi anak usia dini harus mencakup seluruh domain mulai dari emosional, sosial, kognitif, fisik dan harus mencakup sikap dan disposisi yang dikehendaki, keterampilan dan proses, pengetahuan dan pemahaman. Selanjutnya tujuan program anak usia dini tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:
(1) mengembangkan konsep diri dan sikap positif terhadap belajar, kontrol diri dan rasa memiliki;
(2) mengembangkan keingintahuan tentang dunia, kepercayaan diri sebagai individu, kreativitas dan imaji- nasi dan inisiatif pribadi;
(3) mengembangkan relasi timbal balik antara kepercayaan dan respek bersama terhadap orang tua dan te- man sebaya,
Sesuai dengan ketentuan yang berlaku, sebagaimana tertuang dalam Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, serta Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, tenaga pendidik PAUD dipersyaratkan memiliki kualifikasi akademik minimum S-1 dalam bidang yang sesuai. Untuk keperluan ini diselenggarakan program S-1 Pendidikan Guru PAUD dengan rambu-rambu (Naskah Akademik S1 PG-PAUD, Dirjen DIKTI, 2007) sebagai berikut:
Tujuan Program S-1 PG PAUD
Penyelenggaraan Program S-1 PG-PAUD bertujuan untuk menghasilkan guru berkualifikasi Sarjana (S-1) yang memiliki kompetensi sebagai guru PAUD yang mampu bertugas baik sebagai guru KB atau guru TK/RA, maupun guru KB dan guru TK/RA sekaligus.
Standar Kompetensi Lulusan
Sebagai suatu bentuk layanan ahli dengan kemampuan untuk mengambil keputusan non-rutin dalam pelaksanaan tugasnya, Standar Kompetensi lulusan S1 PG-PAUD secara utuh terdiri atas: (1) sosok utuh kompetensi profesional guru PAUD, yang terkait dan tak terpisahkan dari (2) kompetensi akademik guru PAUD, serta (3) kompetensi profesional guru PAUD.
Kompetensi Profesional Guru PAUD
Kompetensi profesional adalah kemampuan menerapkan kompetensi akademik dalam situasi otentik di KB/TPA dan TK/RA. Kemampuan ini dicerminkan antara lain dalam menyesuaikan rancangan permainan sesuai dengan situasi yang dihadapi (keputusan situasional) atau melakukan berbagai perubahan dalam penyelenggaraan kegiatan sesuai dengan situasi yang berkembang (mengambil keputusan transaksional).
Berbekal penguasaan kompetensi akademik yang ditempuh dalam program pendidikan guru prajabatan terintegrasi dengan beban studi minimum 144 sks, kompetensi profesional guru PAUD dikembangkan melalui program pengalaman lapangan di KB, di TK/RA, atau di KB dan TK/RA sesuai dengan konsentrasi yang dipilih. Selama proses pengalaman lapangan tersebut, para calon guru PAUD menerapkan kompetensi akademik yang telah dikuasainya dalam konteks yang otentik di KB/TPA dan TK/RA untuk mengembangkan kemampuan profesionalnya sekitar satu semester dengan bobot sekitar 18 sks. Bagi mahasiswa yang memilih dua konsentrasi (KB/TPA dan TK/ RA) bobot sks PPL menjadi sekitar 36 sks yang ditempuh dalam waktu sekitar 2 semester. Pengalaman lapangan dilakukan di KB/TPA atau TK/RA yang memenuhi syarat. Keberhasilan pelaksanaan kegiatan ini memberikan hak kepada lulusan S-1 PG PAUD untuk memperoleh sertifikat pendidik melalui uji kompetensi.
Lama dan Beban Studi S-1 PG PAUD
Pendidikan Guru PAUD meliputi dua tahap, yaitu pendidikan akademik dan pendidikan profesional.
Pendidikan akademik memiliki beban studi minimal 144 sks, dengan lama studi minimal 8 semester. Setelah menyelesaikan tahap ini lulusan mendapat gelar Sarjana Pendidikan. Pendidikan profesional ditempuh oleh lulusan yang berkeinginan menjadi guru PAUD. Program ini merupakan pendidikan profesi yang ditempuh selama 1 semester dengan beban studi 18 sks bagi yang memilih satu konsentrasi dan 2 semester dengan beban studi 36 sks bagi yang memilih dua konsentrasi.
Program Konsentrasi
Untuk melengkapi lulusan PG-PAUD dengan kemampuan profesional sebagai guru KB, atau guru TK/RA, atau guru KB dan guru TK/RA sekaligus dapat disiapkan program konsentrasi yang sesuai dengan kebutuhan dan pilihan calon guru, seperti konsentrasi KB, TK/RA, atau KB dan TK/RA (memilih keduanya). Program konsentrasi dapat dipilih sesuai dengan minat dan kemampuan mahasiswa setelah mereka menyelesaikan seluruh mata kuliah bersama.
Program Pengenalan Lapangan
Pembentukan penguasaan kompetensi profesional guru PAUD diselenggarakan melalui PPL yang merupakan muara program yang memberi kesempatan kepada mahasiswa S-1 PG-PAUD untuk menerapkan segala pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai yang diperoleh dari semua mata kuliah ke dalam kehidupan dan proses pembelajaran di KB atau TK/RA. Mahasiswa yang memilih konsentrasi KB melakukan PPL di KB, sedangkan yang memilih konsentrasi TK/RA melakukan PPL di TK/RA. PPL dilakukan secara bertahap dan sistematis di bawah bimbingan para dosen pembimbing dan guru pamong.
Mahasiswa
Mahasiswa Program S-1 PG PAUD berasal dari lulusan SMA dan yang sederajat, atau D-II PGTK. Seiring dengan terbitnya surat keputusan tentang Penyelenggaraan Program S-1 PG PAUD, maka bagi perguruan tinggi yang selama ini menyelenggarakan program pendidikan baik Diploma 2 PGTK dan program S1 PAUD dan S1 PGTK dihimbau untuk melakukan penyesuaian seperlunya.
Untuk lebih menghayati tentang pentingnya keberadaan Program Studi S1 PG-PAUD maka Standar Kompetensi Lulusan (SKL) perlu diarahkan pada pemahaman secara komprehensif bagi para calon guru/
pendidik tentang paradigma, tujuan dan serta proses pendidikan dan pembelajaran bagi anak sejak usia dini.
Merujuk pada Undang-undang Dasar 1945 Pasal 31 yang berbunyi: “Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan dan pembelajaran” dan diperkuat oleh Undang-undang RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 dijelaskan bahwa fungsi dan tujuan pendidikan nasional:
“Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab; sedangkan penjabaran lebih lanjut tentang tujuan Pendidikan Anak Usia Dini menurut Departemen Pendidikan Nasional adalah:
“Untuk membantu mengembangkan seluruh potensi dan kemampuan fisik, intelektual, emosional, moral dan agama secara optimal dalam lingkungan pendidikan yang kondusif, demokratis dan kompetitif”.
Selanjutnya berdasarkan hak anak yang tertuang dalam Undang-undang RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Pasal 9 Ayat 1 dijelaskan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pembelajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya.
Berdasarkan sejumlah rujukan tersebut jelaslah bahwa setiap warga negara Indonesia yang hidup di bumi pertiwi ini wajib memperoleh pendidikan yang berlangsung secara terus-menerus dan berlangsung seumur hidup. Untuk itu, berkaitan dengan tujuan pendidikan bagi anak usia dini, maka dapat dimaknai bahwa setiap lembaga pendidikan anak usia dini baik formal, informal ataupun nonformal bertanggung jawab untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif, demokratis dan kompetitif agar semua potensi dan dimensi perkembangan yang ada dalam diri anak dapat berkembang dengan optimal.
Kesemua usaha pendidikan di atas dengan dilakukan dalam rangka mengaktualisasikan seluruh potensi yang tersembunyi (the hidden potency) dalam diri masing-masing anak sehingga akan terwujud dalam bentuk perilaku nyata yang dapat diamati (the actual potency). Secara operasional, Bredekamp dan kawan- kawan (1992:11-12) menyatakan bahwa tujuan program pendidikan bagi anak usia dini harus mencakup seluruh domain mulai dari emosional, sosial, kognitif, fisik dan harus mencakup sikap dan disposisi yang dikehendaki, keterampilan dan proses, pengetahuan dan pemahaman. Selanjutnya tujuan program anak usia dini tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:
(1) mengembangkan konsep diri dan sikap positif terhadap belajar, kontrol diri dan rasa memiliki;
(2) mengembangkan keingintahuan tentang dunia, kepercayaan diri sebagai individu, kreativitas dan imaji- nasi dan inisiatif pribadi;
(3) mengembangkan relasi timbal balik antara kepercayaan dan respek bersama terhadap orang tua dan te- man sebaya,
Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini
a. Pengertian Program PPG
Menurut UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pendidikan profesi adalah pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus. Dengan demikian program PPG adalah program pendidikan yang diselenggarakan untuk lulusan S-1Kependidikan dan S-1/D-IV Non Kependidikan yang memiliki bakat dan minat menjadi guru, agar mereka dapat menjadi guru yang profesional sesuai dengan standar nasional pendidikan dan memperoleh sertifikat pendidik
Sesuai pasal 1 ayat 2 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 8 Tahun 2009 tentang Pendidikan Profesi Guru disebutkan bahwa program pendidikan profesi guru prajabatan yang selanjutnya disebut program Pendidikan Profesi Guru (PPG) adalah program pendidikan yang diselenggarakan untuk mempersiapkan lulusan S1 kependidikan dan S1/D IV non kependidikan yang memiliki bakat dan minat menjadi guru agar menguasai kompetensi guru secara utuh sesuai dengan standar nasional pendidikan sehingga dapat memperoleh sertifikat pendidik profesional pada pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
b. Landasan Penyelenggaraan Program PPG
Merujuk pada bahan seminar dan sosialisasi Pendidikan Profesi Guru (Kemendiknas, Dirjen Dikti, 2010) landasan penyelenggaraan program PPG sangatlah kuat dan patut untuk dilaksanakan. Perundang-undangan dan peraturan pemerintah yang terkait dengan hal tersebut adalah (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional; (2) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen; (3) Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan; (4) Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru; (5) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru; (6) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 8 Tahun 2009 tentang Program Pendidikan Profesi Guru Pra-Jabatan; (7) Naskah Akademik Program PPG Pra-Jabatan; (8) Panduan Penyelenggaraan Program PPG Pra-Jabatan.
c. Tujuan Program PPG
Mengacu pada pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, tujuan umum program PPG adalah menghasilkan calon guru yang memiliki kemampuan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu mengembangkan potensi mahasiswa didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Tujuan khusus program PPG seperti yang tercantum dalam pasal 2 Permendiknas Nomor 8 Tahun 2009 adalah untuk menghasilkan calon guru yang memiliki kompetensi dalam merencanakan, melaksanakan, dan menilai pembelajaran; menindaklanjuti hasil penilaian, melakukan pembimbingan, dan pelatihan mahasiswa didik serta melakukan penelitian, dan mampu mengembangkan profesionalitas secara berkelanjutan.
d. Program PPG PAUD
Berkenaan dengan PPG bagi pendidik yang melayani anak usia dini (berdasarkan UU No.20 Tahun 2003, adalah anak sejak lahir- 6 tahun), dianggap mengasuh, membimbing dan mendidik anak usia dini adalah hal yang mudah, siapapun dapat melakukannya tanpa harus mengikuti pendidikan tinggi apalagi memiliki sertifikat sebagai Pendidik. Itu berarti, siapapun dengan latar belakang pendidikan dari manapun dapat menjadi guru, tanpa perlu tanpa adanya legalisasi kompetensi dari masyarakat dan pemerintah.
Alasan lainnya adalah berkaitan dengan kualitas, performa dan kesejahteraan guru yang saat ini sudah menjadi guru di berbagai Lembaga PAUD terutama di TK.
Apabila ditinjau dari segi kualitas, guru anak usia dini di Indonesia belum sesuai dengan apa yang diharapkan dalam PP No. 14 tahun 2005 dan PP No 19 tahun 2005, yaitu berkualifikasi minimal S1 atau DIV dan memiliki kompetensi pedagogik, sosial, kepribadian dan profesional.
(4) memahami perspektif orang lain, dan merundingkan dan menerapkan aturan dalam kehidupan;
(5) memahami dan respek terhadap pelbagai sosial dan budaya;
(6) mengetahui tentang peran masyarakat dan sosial;
(7) menggunakan bahasa untuk berkomunikasi secara efektif yang berguna bagi upaya belajar dan berpikir;
(8) menjadi individu yang memahami dan memperoleh kepuasan, selain memperoleh informasi, melalui membaca dan menulis;
(9) berpikir secara kritis, memberi alasan, dan memecahkan masalah;
(10) membangun pengertian tentang relasi di antara objek, orang, dan kejadian, seperti mengklasifikasikan, mengurutkan, bilangan, ruang, dan waktu;
(11) membangun pengetahuan tentang dunia fisik, memanipulasi objek untuk sesuatu pengaruh teertentu yang dikehendaki, dan memahami hubungan sebab akibat;
(12) memperoleh pengetahuan; serta
(13) mengapresiasi mengenai seni, kemanusiaan, dan ilmu pengetahuan.
Dalam perkembangan selanjutnya, dampak dari kebutuhan yang sangat besar terhadap pendidik/ guru anak usia dini yang mampu melayani anak secara profesional, maka baik pemerintah dan lembaga non pemerintah telah menggulirkan berbagai program peningkatan kinerja guru melalui program singkat, seperti seminar, workshop, lokakarya, magang dan atau kursus.