• Tidak ada hasil yang ditemukan

1 Ki Hajar Dewantara

4. Yuliani Nurani

Yuliani Nurani binti Haji Ahmad Nurani dilahirkan di Kota Palembang, Sumatera Selatan, 16 Juli 1966. Masa kecil dilalui di kota kelahirannya Palembang sampai menamatkan Sekolah Dasar. Selanjutnya mengikuti kepindahan orangtua ke Curug, Tangerang dan berhasil menamatkan SLTP Negeri 1 dan SLTA Negeri 1 di kota tersebut. Pada tahun 1985 mengikuti pendidikan di IKIP Jakarta pada program studi Psikologi Pendidikan, lulus tahun 1989; Pada tahun 1996 lulus dari Magister Teknologi Pendidikan dan Tahun 2008 menjadi Doktor Pertama dari Program Studi Teknologi Pendidikan dengan spesialisasi Pendidikan Anak Usia Dini di Universitas Negeri Jakarta.

Bekerja sebagai tenaga edukatif pada Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Jakarta. Pernah diberi kepercayaan untuk menduduki jabatan sebagai Pembantu Dekan Bidang Akademik pada Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Jakarta. Selain itu, pernah juga menjabat sebagai Ketua Program Studi PG PAUD Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta. Ketua Tim Ad-hoc akreditasi Program Studi PG PAUD hingga mendapatkan peringkat A.

Pernah mengikuti Pendidikan Non Formal/Kursus tentang Early Intervention For Early Childhood Education, di Monash University, Australia. Selain itu, permah mengikuti Kursus dibidang Pemberdayaan Perempuan “Woman Empowerment and Parenting in Early Childhood Education” di Manila, Philippine.

Selanjutnya, mendapatkan pendidikan dan latihan tentang Penjaminan Mutu “Quality Insurance in Education” di Beijing, China.

Ketua Tim Pengembang Instrumen Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak Usia Dini (ITPPA) dari tahun 2018-2019 dan masih terus berlangsung sampai saat ini. Sekjen Ikatan Profesi Teknologi Pendidikan Indonesia (IPTPI). Disamping itu, selama 2 periode dipercaya menjadi Ketua Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (HIMPAUDI) wilayah Provinsi DKI Jakarta. Serta Pengurus Pusat Asosiasi Program Studi PGPAUD (APG-PAUD) Indonesia.

Karya akademik yang telah dihasilkan sebagai Tridharma Perguruan Tinggi dalam bidang Pengajaran, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat sangatlah siginifikan, diantaranya: (1) Pengembangan Model Keterampilan Mengajar (Teaching Skill) Guru PAUD berbasis Komunikasi Efektif (In Service Training Teacher); (2) Pengembangan Model Kurikulum Keterampilan Hidup Anak Usia Dini Berbasis Budaya Lokal dalam Rangka Mewujudkan Generasi Emas 2045; (3) Penerapan Model Permainan Integratif Membaca, Menulis dan Berhitung; (4) Pengembangan Profil Kemampuan Anak Usia Dini (lahir-8 tahun); (5) Pengembangan Media Gelaran Sentra Berbasis Kecerdasan Jamak pada Lembaga PAUD; (6) Pengembangan Inovasi Permainan Wayang Film Berbasis Kecerdasan Jamak pada Lembaga PAUD; (7) Pengembangan Kreativitas Anak Usia Dini melalui Kegiatan di Sentra Bermain pada Taman Kanak-Kanak; (8) Studi Penelurusan Alumni Program Studi PG-PAUD FIP UNJ selama 5 Tahun; (9) Pengembangan Model Program Kegiatan Bermain berbasis Kecerdasan Jamak dalam Meningkatkan Kreativitas Anak Usia Dini (Disertasi, tahun 2008); (10) Membangun Ekosistem Pendidikan Anak Usia Dini di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) di DKI Jakarta. Serta banyak dan beragam penelitian dan pengabdian masyarakat lainnya.

Yuliani, juga rajin menulis buku rujukan, modul cetak dan atau modul online yang dimanfaatkan secara nasional diantaranya: (1) Kompetensi Dasar Mengajar; (2) Seri Perangkat Kurikulum KB-TK ; (3) Seri Modul Kegiatan Belajar KB-TK; (4) Seri Manejemen Berbasis Sekolah KB-TK; (5) Mencerdaskan Perilaku Anak Usia Dini; (6) Mozaik Teknologi Pendidikan: Kontributor tulisan Aplikasi TP pada Pendidikan Anak Usia Dini (Pengembangan KBK melalui Penerapan Model Pembelajaran Sentra untuk mengembangkan Multi Kecerdasan); (7) Pengembangan Kognitif bagi Anak Usia Dini; (8) Konsep Dasar PAUD ; (9) Mengajar dengan Portofolio; (10) Bermain Kreatif berbasis Kecerdasan Jamak; (11) Media Pembelajaran;

(12) Model Kurikulum PAUD; (13) Modul Online PPG tentang Kajian PAUD; (14) Modul Online PPG generating trend). Develonpental interface artinya seberapa besar interaksi antara faktor nature dan

nurture dalam diri seseorang yang memengaruhi perkembangannya (Semiawan, 2007;3).

Selanjutnya Semiawan (2003:29-35) Paradigm Shift in Early Childhood Education, mengalami perubahan terus (constant flux) yang dipengaruhi oleh: (1) Family centered program; (2) Two generation program (work with children and family) ; (3) Collaborative efforts with other agencies;

(4) Ecological/Holistic Approach: Phisical, Social, Emotion, cognitive needs; (5) Child centered program: Fokus on child need (SEN = Spesial Education Need) dan Family need ( SAL= Student Active Learning); (6) Psikodelik (extention of the mind), aplikasinya learning while playing yang sesuai dengan perkembangan anak ( DAP= Developmentally Approriate Practice).

Pendidikan usia dini dulu, sekarang dan akan datang sangat terkait dengan multicultural education, bukan bagian dari tetapi berasal dari. Dalam layanan pendidikan usia dini, anak harus mendapat kesempatan yang sama. Hal ini yang sering diabaikan oleh pemerintah. Pada anak usia dini masih banyak hal penting yang belum muncul yang diistilahkan oleh Dellor dengan treasure within, sedangkan Conny mengistilahkan dengan hidden excellence in person hood

Rasional kemengapaan Pendidikan Usia dini terkait dengan akar-akarnya dari pohon ilmu pendidikan, yaitu filsafat, psikologi, sosiologi dan anthropologi. Conny mengembangkan pendapat Toffler membagi perubahan zaman berdasarkan era agraris di mana waktu tidak terlalu diperhatikan, kemudian era industri di mana konsep waktu sangat diperhatikan/efisiensi waktu, tetapi muncul keserakahan secara material, selanjutnya era informatika di mana ketelitian dan kecermatan menjadi kunci utama dan era respiritualisasi di mana mulai ada kesadaran (mind shift) untuk terwujudnya nilai-nilai baru. Era respiritualisasi hanya terjadi pada sebagian masyarakat yang menyadari perlu adanya perbaikan-perbaikan keadaan yang disebabkan oleh kerusakan atau penyimpangan (co-creating new values), negara Indonesia sedang berada di keempat era tersebut. Mengapa respiritualisasi tidak selalu muncul pada setiap orang karena ada sisi gelap dari manusia berupa arogansi dan kebodohan. Sisi gelap ini dapat menghambat penanjakan mental seseorang.

Pembelajaran Anak Usia Dini

Menurut Semiawan (2007:19) pendidikan bagi anak pada usia-usia ini adalah belajar sambil bermain. Bagi anak bermain adalah kegiatan yang serius, namun mengasyikkan. Melalui bermain, semua aspek perkembangan anak dapat ditingkatkan. Melalui bermain secara bebas, anak dapat berekspresi dan bereksplorasi untuk memperkuat hal-hal yang sudah diketahui dan menemukan hal-hal baru. Melalui permainan anak juga dapat mengembangkan semua potensinya secara optimal, baik potensi fisik maupun mental, intelektual, dan spiritual. Bermain adalah medium, di mana anak menyatakan jati dirinya, bukan saja dalam fantasinya, tetapi juga benar nyata secara aktif. Permainan adalah alat bagi anak untuk menjelajah dunianya, dari yang tidak ia kenali sampai pada yang ia ketahui, dan dari yang tidak dapat diperbuatnya hingga mampu melakukannya. Secara tegas dapat dikatakan bahwa belajar melalui bermain bagi anak usia dini merupakan prasyarat penting bila orang tua menginginkan anaknya sehat mental.

Di Indonesia, program pengembangan anak usia dini masih sangat rendah. Salah satu indikatornya adalah masih rendahnya tingkat partisipasi pendidikan prasekolah. Rendahnya angka partisipasi ini juga dipengaruhi oleh terbatas dan tidak meratanya penyebaran sarana pendidikan prasekolah.

4. Yuliani Nurani

Yuliani Nurani binti Haji Ahmad Nurani dilahirkan di Kota Palembang, Sumatera Selatan, 16 Juli 1966. Masa kecil dilalui di kota kelahirannya Palembang sampai menamatkan Sekolah Dasar. Selanjutnya mengikuti kepindahan orangtua ke Curug, Tangerang dan berhasil menamatkan SLTP Negeri 1 dan SLTA Negeri 1 di kota tersebut. Pada tahun 1985 mengikuti pendidikan di IKIP Jakarta pada program studi Psikologi Pendidikan, lulus tahun 1989; Pada tahun 1996 lulus dari Magister Teknologi Pendidikan dan Tahun 2008 menjadi Doktor Pertama dari Program Studi Teknologi Pendidikan dengan spesialisasi Pendidikan Anak Usia Dini di Universitas Negeri Jakarta.

Bekerja sebagai tenaga edukatif pada Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Jakarta. Pernah diberi kepercayaan untuk menduduki jabatan sebagai Pembantu Dekan Bidang Akademik pada Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Jakarta. Selain itu, pernah juga menjabat sebagai Ketua Program Studi PG PAUD Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta. Ketua Tim Ad-hoc akreditasi Program Studi PG PAUD hingga mendapatkan peringkat A.

Pernah mengikuti Pendidikan Non Formal/Kursus tentang Early Intervention For Early Childhood Education, di Monash University, Australia. Selain itu, permah mengikuti Kursus dibidang Pemberdayaan Perempuan “Woman Empowerment and Parenting in Early Childhood Education” di Manila, Philippine.

Selanjutnya, mendapatkan pendidikan dan latihan tentang Penjaminan Mutu “Quality Insurance in Education” di Beijing, China.

Ketua Tim Pengembang Instrumen Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak Usia Dini (ITPPA) dari tahun 2018-2019 dan masih terus berlangsung sampai saat ini. Sekjen Ikatan Profesi Teknologi Pendidikan Indonesia (IPTPI). Disamping itu, selama 2 periode dipercaya menjadi Ketua Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (HIMPAUDI) wilayah Provinsi DKI Jakarta. Serta Pengurus Pusat Asosiasi Program Studi PGPAUD (APG-PAUD) Indonesia.

Karya akademik yang telah dihasilkan sebagai Tridharma Perguruan Tinggi dalam bidang Pengajaran, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat sangatlah siginifikan, diantaranya: (1) Pengembangan Model Keterampilan Mengajar (Teaching Skill) Guru PAUD berbasis Komunikasi Efektif (In Service Training Teacher); (2) Pengembangan Model Kurikulum Keterampilan Hidup Anak Usia Dini Berbasis Budaya Lokal dalam Rangka Mewujudkan Generasi Emas 2045; (3) Penerapan Model Permainan Integratif Membaca, Menulis dan Berhitung; (4) Pengembangan Profil Kemampuan Anak Usia Dini (lahir-8 tahun); (5) Pengembangan Media Gelaran Sentra Berbasis Kecerdasan Jamak pada Lembaga PAUD; (6) Pengembangan Inovasi Permainan Wayang Film Berbasis Kecerdasan Jamak pada Lembaga PAUD; (7) Pengembangan Kreativitas Anak Usia Dini melalui Kegiatan di Sentra Bermain pada Taman Kanak-Kanak; (8) Studi Penelurusan Alumni Program Studi PG-PAUD FIP UNJ selama 5 Tahun; (9) Pengembangan Model Program Kegiatan Bermain berbasis Kecerdasan Jamak dalam Meningkatkan Kreativitas Anak Usia Dini (Disertasi, tahun 2008); (10) Membangun Ekosistem Pendidikan Anak Usia Dini di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) di DKI Jakarta. Serta banyak dan beragam penelitian dan pengabdian masyarakat lainnya.

Yuliani, juga rajin menulis buku rujukan, modul cetak dan atau modul online yang dimanfaatkan secara nasional diantaranya: (1) Kompetensi Dasar Mengajar; (2) Seri Perangkat Kurikulum KB-TK ; (3) Seri Modul Kegiatan Belajar KB-TK; (4) Seri Manejemen Berbasis Sekolah KB-TK; (5) Mencerdaskan Perilaku Anak Usia Dini; (6) Mozaik Teknologi Pendidikan: Kontributor tulisan Aplikasi TP pada Pendidikan Anak Usia Dini (Pengembangan KBK melalui Penerapan Model Pembelajaran Sentra untuk mengembangkan Multi Kecerdasan); (7) Pengembangan Kognitif bagi Anak Usia Dini; (8) Konsep Dasar PAUD ; (9) Mengajar dengan Portofolio; (10) Bermain Kreatif berbasis Kecerdasan Jamak; (11) Media Pembelajaran;

(12) Model Kurikulum PAUD; (13) Modul Online PPG tentang Kajian PAUD; (14) Modul Online PPG

Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini

mengeksplorasi berbagai pengalaman dengan berbagai suasana, hendaklah memperhatikan keunikan anak- anak dan disesuaikan dengan tahap perkembangan kepribadian anak. Contoh: jika anak dibiasakan untuk berdoa sebelum melakukan kegiatan baik di rumah maupun lingkungan sekolah dengan cara yang paling mudah dimengerti anak, sedikit demi sedikit anak pasti akan terbiasa untuk berdoa walaupun tidak didampingi oleh orang tua ataupun guru mereka.

Terkait dengan tumbuh kembang anak, Yuliani telah melakukan penelitian longitudinal terhadap ketiga anaknya selama mereka berada pada periode masa anak usia dini. Berdasarkan hasil penelitiannya inilah beliau membuat video yang diberi judul: “Untuk Kita Renungkan Kelahiran Seorang Anak: Bannu Yusaafa N’Attailah”. Beliau berharap para orangtua yang memiliki anak usia dini dapat menonton video tersebut dan turut menerapkan sejumlah program stimulasi dini untuk mencerdaskan anak, untuk menstimulasi otak kiri dan otak kanan anak sehingga tercipta anak yang cerdas, kreatif, namun tetap dapat menjadi anak baik, manis dan ramah hanya dengan metode sederhana yaitu OED: Observasi-Eksplorasi- Dikembangkan.

Pandangan tentang PAUD

Pendidikan Anak Usia Dini adalah layanan yang diberikan pada anak sedini mungkin sejak anak dilahirkan kedunia ini sampai lebih kurang anak berusia enam-delapan tahun. Pendidikan pada masa-masa ini merupakan sesuatu hal yang penting untuk mendapatkan perhatian dari semua pihak yang bertanggungjawab terhadap tumbuh kembang anak, terutama orangtua dan atau orang dewasa lainnya yang berada dekat dengan anak. Ibarat menanam sebuah pohon, maka bukan saja benih yang baik yang akan menentukan subur tidaknya pohon tersebut, tetapi juga dipengaruhi oleh lahan tempat dimana pohon itu tumbuh dan tentunya orang yang memelihara tanaman tersebut. Demikian pula dengan tumbuh kembang anak usia dini, selain bibit yang baik dari kedua orangtuanya berupa potensi bawaan, ditentukan pula lingkungan dimana anak tersebut tumbuh dan berkembang. Apabila lingkungan memberikan stimulasi dan pengaruh yang baik, maka anak akan tumbuh dan berkembang dengan baik. Sebaliknya, walaupun anak memiliki potensi bawaan yang baik, tetapi lingkungan tidak mendukung perkembangannya maka potensi bawaan tersebut tidak akan pernah terwujud dan menjadi apa-apa.

Menurut beliau penyebaran Program PAUD di seluruh Indonesia sudahlah baik, namun pencapaian tersebut baru pada tataran data kuantitatif. Artinya banyak tumbuh berjamuran Lembaga PAUD dari kota, desa sampai ke pelosok negeri, namun secara kualitatif yang bicara tentang mutu pendidikan belumlah sesuai harapan. Untuk itu berbagai pihak baik pemerintah, organisasi masyarakat, tokoh masyarakat, LSM dan semua pihak yang perduli dan bertanggungjawab terhadap Pengembangan Anak Usia di Indonesia perlu bersatu padu dalam membuat program-prorgam terpadu secara berkesinambungan. Melalui Otonomi Daerah perlu diberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi kemajuan program PAUD sesuai dengan potensi yang dimilikinya termasuk Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Alam (SDA).

Pandangan tentang Pendidik/ Guru di Lembaga PAUD

Dalam ekspose hasil penelitiannya, Yuliani pernah menyindir bahwa Pendidik/ Guru diberbagai Lembaga Pendidikan baik di TK, KB, SPS dan atau Lembaga PAUD lainnya yang berbasis industri, agama, perkantoran dan beragam jenis satuan PAUD lainnya yang terdapat di lingkungan bahwa guru sebagai ‘agen perubahan’ belumlah berfungsi secara professional dalam menjalankan perannya sebagai Guru Anak Usia Dini. Kompetensi yang dimaksud sebagai agen perubahan dalam pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini meliputi kompetensi pedagogis, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial. Dari keempat kompetensi tersebut, Yuliani lebih menyoroti pada pengembangan kompetensi professional yang wajib dimiliki oleh para Pendidik/Guru.

Selanjutnya, Yuliani tidak tinggal diam menghadapi kenyataan ini, beliau terus berpikir dan berkarya untuk mengubah situasi pembelajaran yang tampak belum kondusif tersebut. Beliau melahirkan ide brilliant tentang Pendekatan Saintifik dan Tematik Integratif; (15) Seri Keterampilan Mengajar berbasis Komunikasi

Efektif. Serta banyak dan beragam buku rujukan dan modul lainnya.

Penghargaan akademik yang didapat oleh Yuliani, pernah menerima Satya Lencana Karya Satya Pengabdian selama 20 Tahun dari Presiden Republik Indonesia. Penghargaan lainnya berupa Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) diantaranya Panduan Penggunaan Model Keterampilan Mengajar Guru PAUD berbasis Komunikasi Efektif (No. Pencatatan : 090517); Seri Perangkat Keterampilan Mengajar (No. Pencatatan : 000128607) yang kemudian dirincikan lagi menjadi: (1) Keterampilan Membuka Pembelajaran; (2) Keterampilan Bertanya; (3) Keterampilan Menjelaskan; (4) Keterampilan Memberikan Penguatan; (5) Keterampilan Mengadakan Variasi; (6) Keterampilan Menggunakan Media; (7) Keterampilan Mengadakan Interaksi; (8) Keterampilan Mengelola Kelas; (9) Keterampilan Mengelola Kelompok Kecil dan (10) Ketermpilan Menutup Pembelajaran (Nomor Pencatatan: 000128608-00128616). Pengembangan lebih lanjut dari HAKI ini telah dikembangkan juga Pedoman Penggunaan Smartphone dalam Praktek Keterampilan Mengajar dan Media Video Pembelajarannya.

Pandangan tentang Anak Usia Dini

Dalam bahasa kiasannya, Yuliani mengungkapkan pendapatnya tentang anak usia dini : Anak adalah buah hati orangtua, dari kalangan manapun mereka berasal, dari desa, dari kota, orang kaya, orang miskin, bahkan orang miskin habis sekalipun selalu mendambakan anak yang “sehat, cerdas, ceria dan berahlak mulia”. Semboyan PAUD di Indonesia tersebut mudah diucapkan, namun tidaklah semudah membalikkan telapak tangan untuk merealisasikannya. Kita semua yang cinta dan peduli pada anak usia dini tentunya menyadari bahwa yang namanya anak itu hanyalah titipan dari Sang Maha Pencipta. Titipan yang harus disyukuri, harus dirawat, diasuh dan dididik dengan penuh cinta kasih dan tanggungjawab. Sebagai mahluk yang beragama tentunya kita semua percaya bahwa suatu saat kelak, entah kapan waktunya, tetapi pasti akan terjadi, kita sebagai orangtua akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang telah kita perbuat dan kita lakukan terhadap anak-anak yang telah lahir ke dunia. Sudahkah kita menyiapkan mereka untuk menjadi anak yang berguna bagi dirinya sendiri, keluarganya, dan masyarakat, serta menjadi hamba Tuhan yang selalu patuh akan perintah dan larangan-NYA; sehingga suatu hari mereka akan menjadi manusia sempurna

“insan paripurna yang memiliki akhlakul kharimah”. Apabila hal itu sudah terjadi, maka lengkap sudah kehidupan ini (seperti iklan properti, red ! ), bahagia di dunia, di akhirat masuk surga !.

Menurut Yuliani, masa pendidikan anak usia dini merupakan peletak dasar atau pondasi awal bagi pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya. Dibutuhkan situasi dan kondisi yang kondusif pada saat memberikan stimulasi dan upaya-upaya pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan anak yang berbeda satu dengan yang lainnya (individual differences). Jadi karena anak berbeda maka kurikulumnya berbeda pula.

Selanjutnya, Yuliani berpendapat bahwa sesuai dengan keunikan dan pertumbuhan anak usia dini maka penyelenggaraan pendidikan bagi anak usia dini disesuaikan dengan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini. Upaya PAUD bukan hanya dari sisi pendidikan saja, tetapi termasuk upaya pemberian gizi, kesehatan, perawatan, pengasuhan dan perlindungan pada anak sehingga dalam pelaksanaan PAUD dilakukan secara terpadu dan komprehensif. Nah, di Indonesia PAUD Holistik Integratif seperti itu belumlah dapat dilaksanakan secara terpadu/terintegrasi dan berkesinambungan. Butuh kepedulian dan penyatuan program dari berbagai instansi perintah dan atau pihak-pihak lain non pemerinah.

Beliau juga mengatakan bahwa Pendidikan pada anak usia dini pada dasarnya meliputi seluruh upaya dan tindakan yang dilakukan oleh pendidik dan orang tua dalam proses perawatan, pengasuhan dan pendidikan pada anak dengan menciptakan aura dan lingkungan dimana anak dapat mengeksplorasi pengalaman yang memberikan kesempatan kepadanya untuk mengetahui dan memahami pengalaman belajar yang diperolehnya dari lingkungan, melalui cara mengamati, meniru dan bereksperimen yang berlangsung secara berulang-ulang dan melibatkan seluruh potensi dan kecerdasan anak. Oleh karena anak merupakan pribadi yang unik dan melewati berbagai tahap perkembangan kepribadian, maka lingkungan yang diupayakan oleh pendidik dan orang tua yang dapat memberikan kesempatan pada anak untuk

mengeksplorasi berbagai pengalaman dengan berbagai suasana, hendaklah memperhatikan keunikan anak- anak dan disesuaikan dengan tahap perkembangan kepribadian anak. Contoh: jika anak dibiasakan untuk berdoa sebelum melakukan kegiatan baik di rumah maupun lingkungan sekolah dengan cara yang paling mudah dimengerti anak, sedikit demi sedikit anak pasti akan terbiasa untuk berdoa walaupun tidak didampingi oleh orang tua ataupun guru mereka.

Terkait dengan tumbuh kembang anak, Yuliani telah melakukan penelitian longitudinal terhadap ketiga anaknya selama mereka berada pada periode masa anak usia dini. Berdasarkan hasil penelitiannya inilah beliau membuat video yang diberi judul: “Untuk Kita Renungkan Kelahiran Seorang Anak: Bannu Yusaafa N’Attailah”. Beliau berharap para orangtua yang memiliki anak usia dini dapat menonton video tersebut dan turut menerapkan sejumlah program stimulasi dini untuk mencerdaskan anak, untuk menstimulasi otak kiri dan otak kanan anak sehingga tercipta anak yang cerdas, kreatif, namun tetap dapat menjadi anak baik, manis dan ramah hanya dengan metode sederhana yaitu OED: Observasi-Eksplorasi- Dikembangkan.

Pandangan tentang PAUD

Pendidikan Anak Usia Dini adalah layanan yang diberikan pada anak sedini mungkin sejak anak dilahirkan kedunia ini sampai lebih kurang anak berusia enam-delapan tahun. Pendidikan pada masa-masa ini merupakan sesuatu hal yang penting untuk mendapatkan perhatian dari semua pihak yang bertanggungjawab terhadap tumbuh kembang anak, terutama orangtua dan atau orang dewasa lainnya yang berada dekat dengan anak. Ibarat menanam sebuah pohon, maka bukan saja benih yang baik yang akan menentukan subur tidaknya pohon tersebut, tetapi juga dipengaruhi oleh lahan tempat dimana pohon itu tumbuh dan tentunya orang yang memelihara tanaman tersebut. Demikian pula dengan tumbuh kembang anak usia dini, selain bibit yang baik dari kedua orangtuanya berupa potensi bawaan, ditentukan pula lingkungan dimana anak tersebut tumbuh dan berkembang. Apabila lingkungan memberikan stimulasi dan pengaruh yang baik, maka anak akan tumbuh dan berkembang dengan baik. Sebaliknya, walaupun anak memiliki potensi bawaan yang baik, tetapi lingkungan tidak mendukung perkembangannya maka potensi bawaan tersebut tidak akan pernah terwujud dan menjadi apa-apa.

Menurut beliau penyebaran Program PAUD di seluruh Indonesia sudahlah baik, namun pencapaian tersebut baru pada tataran data kuantitatif. Artinya banyak tumbuh berjamuran Lembaga PAUD dari kota, desa sampai ke pelosok negeri, namun secara kualitatif yang bicara tentang mutu pendidikan belumlah sesuai harapan. Untuk itu berbagai pihak baik pemerintah, organisasi masyarakat, tokoh masyarakat, LSM dan semua pihak yang perduli dan bertanggungjawab terhadap Pengembangan Anak Usia di Indonesia perlu bersatu padu dalam membuat program-prorgam terpadu secara berkesinambungan. Melalui Otonomi Daerah perlu diberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi kemajuan program PAUD sesuai dengan potensi yang dimilikinya termasuk Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Alam (SDA).

Pandangan tentang Pendidik/ Guru di Lembaga PAUD

Dalam ekspose hasil penelitiannya, Yuliani pernah menyindir bahwa Pendidik/ Guru diberbagai Lembaga Pendidikan baik di TK, KB, SPS dan atau Lembaga PAUD lainnya yang berbasis industri, agama, perkantoran dan beragam jenis satuan PAUD lainnya yang terdapat di lingkungan bahwa guru sebagai ‘agen perubahan’ belumlah berfungsi secara professional dalam menjalankan perannya sebagai Guru Anak Usia Dini. Kompetensi yang dimaksud sebagai agen perubahan dalam pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini meliputi kompetensi pedagogis, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial. Dari keempat kompetensi tersebut, Yuliani lebih menyoroti pada pengembangan kompetensi professional yang wajib dimiliki oleh para Pendidik/Guru.

Selanjutnya, Yuliani tidak tinggal diam menghadapi kenyataan ini, beliau terus berpikir dan berkarya untuk mengubah situasi pembelajaran yang tampak belum kondusif tersebut. Beliau melahirkan ide brilliant tentang Pendekatan Saintifik dan Tematik Integratif; (15) Seri Keterampilan Mengajar berbasis Komunikasi

Efektif. Serta banyak dan beragam buku rujukan dan modul lainnya.

Penghargaan akademik yang didapat oleh Yuliani, pernah menerima Satya Lencana Karya Satya Pengabdian selama 20 Tahun dari Presiden Republik Indonesia. Penghargaan lainnya berupa Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) diantaranya Panduan Penggunaan Model Keterampilan Mengajar Guru PAUD berbasis Komunikasi Efektif (No. Pencatatan : 090517); Seri Perangkat Keterampilan Mengajar (No. Pencatatan : 000128607) yang kemudian dirincikan lagi menjadi: (1) Keterampilan Membuka Pembelajaran; (2) Keterampilan Bertanya; (3) Keterampilan Menjelaskan; (4) Keterampilan Memberikan Penguatan; (5) Keterampilan Mengadakan Variasi; (6) Keterampilan Menggunakan Media; (7) Keterampilan Mengadakan Interaksi; (8) Keterampilan Mengelola Kelas; (9) Keterampilan Mengelola Kelompok Kecil dan (10) Ketermpilan Menutup Pembelajaran (Nomor Pencatatan: 000128608-00128616). Pengembangan lebih lanjut dari HAKI ini telah dikembangkan juga Pedoman Penggunaan Smartphone dalam Praktek Keterampilan Mengajar dan Media Video Pembelajarannya.

Pandangan tentang Anak Usia Dini

Dalam bahasa kiasannya, Yuliani mengungkapkan pendapatnya tentang anak usia dini : Anak adalah buah hati orangtua, dari kalangan manapun mereka berasal, dari desa, dari kota, orang kaya, orang miskin, bahkan orang miskin habis sekalipun selalu mendambakan anak yang “sehat, cerdas, ceria dan berahlak mulia”. Semboyan PAUD di Indonesia tersebut mudah diucapkan, namun tidaklah semudah membalikkan telapak tangan untuk merealisasikannya. Kita semua yang cinta dan peduli pada anak usia dini tentunya menyadari bahwa yang namanya anak itu hanyalah titipan dari Sang Maha Pencipta. Titipan yang harus disyukuri, harus dirawat, diasuh dan dididik dengan penuh cinta kasih dan tanggungjawab. Sebagai mahluk yang beragama tentunya kita semua percaya bahwa suatu saat kelak, entah kapan waktunya, tetapi pasti akan terjadi, kita sebagai orangtua akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang telah kita perbuat dan kita lakukan terhadap anak-anak yang telah lahir ke dunia. Sudahkah kita menyiapkan mereka untuk menjadi anak yang berguna bagi dirinya sendiri, keluarganya, dan masyarakat, serta menjadi hamba Tuhan yang selalu patuh akan perintah dan larangan-NYA; sehingga suatu hari mereka akan menjadi manusia sempurna

“insan paripurna yang memiliki akhlakul kharimah”. Apabila hal itu sudah terjadi, maka lengkap sudah kehidupan ini (seperti iklan properti, red ! ), bahagia di dunia, di akhirat masuk surga !.

Menurut Yuliani, masa pendidikan anak usia dini merupakan peletak dasar atau pondasi awal bagi pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya. Dibutuhkan situasi dan kondisi yang kondusif pada saat memberikan stimulasi dan upaya-upaya pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan anak yang berbeda satu dengan yang lainnya (individual differences). Jadi karena anak berbeda maka kurikulumnya berbeda pula.

Selanjutnya, Yuliani berpendapat bahwa sesuai dengan keunikan dan pertumbuhan anak usia dini maka penyelenggaraan pendidikan bagi anak usia dini disesuaikan dengan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini. Upaya PAUD bukan hanya dari sisi pendidikan saja, tetapi termasuk upaya pemberian gizi, kesehatan, perawatan, pengasuhan dan perlindungan pada anak sehingga dalam pelaksanaan PAUD dilakukan secara terpadu dan komprehensif. Nah, di Indonesia PAUD Holistik Integratif seperti itu belumlah dapat dilaksanakan secara terpadu/terintegrasi dan berkesinambungan. Butuh kepedulian dan penyatuan program dari berbagai instansi perintah dan atau pihak-pihak lain non pemerinah.

Beliau juga mengatakan bahwa Pendidikan pada anak usia dini pada dasarnya meliputi seluruh upaya dan tindakan yang dilakukan oleh pendidik dan orang tua dalam proses perawatan, pengasuhan dan pendidikan pada anak dengan menciptakan aura dan lingkungan dimana anak dapat mengeksplorasi pengalaman yang memberikan kesempatan kepadanya untuk mengetahui dan memahami pengalaman belajar yang diperolehnya dari lingkungan, melalui cara mengamati, meniru dan bereksperimen yang berlangsung secara berulang-ulang dan melibatkan seluruh potensi dan kecerdasan anak. Oleh karena anak merupakan pribadi yang unik dan melewati berbagai tahap perkembangan kepribadian, maka lingkungan yang diupayakan oleh pendidik dan orang tua yang dapat memberikan kesempatan pada anak untuk