i
ANALISIS FINANSIAL HUTAN RAKYAT POLA AGROFORESTRY DI DUSUN KALIMBUA
DESA TONGKO KECAMATAN BAROKO KABUPATEN ENREKANG
SKRIPSI
SRI HENDRIANI 105 9500 63 115
PROGRAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2022
ii
ANALISIS FINANSIAL HUTAN RAKYAT POLA AGROFORESTRY DI DUSUN KALIMBUA
DESA TONGKO KECAMATAN BAROKO KABUPATEN ENREKANG
SKRIPSI
Untuk Memenuhi Persyaratan
Memperoleh Gelar Sarjana S-1 Pada Program Studi Kehutanan
SRI HENDRIANI 105 9500 63 115
PROGRAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2022
iii
HALAMAN PENGESAHAN
Judul : Analisis Finansial Hutan Rakyat Pola Agroforestry di Dusun Kalimbua, Desa Tongko, Kecamatan Baroko, Kabupaten Enrekang
Nama : Sri Hendriani
Nim : 105950063115
Jurusan : Kehutanan
Fakultas : Pertanian
Makassar, Januari 2022
Telah diperiksa dan disetujui oleh:
Dosen Pembimbing:
Pembimbing I Pembimbing II
Dr. Ir. Hajawa, M.P. Dr. Ir. Hikmah, S.Hut., M.Si., IPM.
NIDN: 0003066407 NIDN: 0011077101
iv
Diketahui Oleh:
Dekan Fakultas Pertanian Ketua Program Studi Kehutanan
Dr. Ir. Hj. Andi Khaeriyah, M.Pd. Dr. Ir. Hikmah, S.Hut., M.Si., IPM.
NIDN: 0926036803 NIDN: 0011077101
PENGESAHAN KOMISI PENGUJI
Judul : Analisis Finansial Hutan Rakyat Pola Agroforestry di Dusun Kalimbua Desa Tongko Kecamatan Baroko Kabupaten Enrekang
Nama : Sri Hendriani
Nim : 105950063115
Jurusan : Kehutanan
Fakultas : Pertanian
SUSUNAN KOMISI PENGUJI
NAMA TANDA TANGAN
Dr. Ir. Hajawa, M.P.
Pembimbing I
(………)
v Dr. Ir. Hikmah, S.Hut., M.Si., IPM.
Pembimbing II
(………)
Dr. Ir. Irma Sribianti, S.Hut., M.P., IPM.
Penguji I
(………)
Muthmainnah, S.Hut., M.Hut.
Penguji II
(………)
Tanggal Lulus: 25 Januari 2022
vi
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul:
ANALISIS FINANSIAL HUTAN RAKYAT POLA AGROFORESTRY DI
DUSUN KALIMBUA DESA TONGKO KECAMATAN BAROKO
KABUPATEN ENREKANG
Adalah benar merupakan hasil karya sendiri yang belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari Penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka dibagian akhir skripsi.
Makassar, Januari 2022
Sri Hendriani 105950063115
vii
Hak Cipta Unismuh Makassar, Tahun 2022
@ Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber
a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyususnan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah.
b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar Unismuh Makassar.
2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk laporan apa pun tanpa izin Unismuh Makassar.
viii
ABSTRAK
Sri Hendriani, 105950063115. Analisis Finansial Hutan Rakyat Pola Agroforestry di Dusun Kalimbua Desa Tongko Kecamatan Baroko Kabupaten Enrekang. Dibawah bimbingan Hajawa dan Hikmah.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan secara finansial Hutan Rakyat Pola Agroforestry di Dusun Kalimbua Desa Tongko Kecamatan Baroko Kabupaten Enrekang. Penelitian ini di laksanakan di Dusun Kalimbua, Desa Tongko, Kecamatan Baroko, Kabupaten Enrekang. Sampel yang diambil sebanyak 4 pola Hutan Rakyat pola agroforestry. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah menggunakan data primer dan data sekunder. Berdasarkan hasil penelitian pola I dengan masa pengelolaan 12 tahun dengan NPV sebesar Rp127.836.803,00, B/C Ratio 1,8592 dan nilai IRR 19,81%. Pola II masa pengelolaan 10 tahun nilai NPV Rp46.134.622,00, B/C Ratio 1,3623 dan Nilai IRR 15,42%. Pola III dimana masa pengelolaan 15 tahun dengan nilai NPV Rp316.201.454,00, B/C Ratio 3,1007 dan nilai IRR 28,87%. Pola IV masa pengelolaan 8 tahun dengan nilai NPV Rp14.079538,00, B/C Ratio 1,2312 dan nilai IRR 10,34%. Jadi, keempat pola ini memenuhi ketiga aspek ekonomi yaitu nilai NPV > 0, B/C Ratio > 1, dan nilai IRR diatas suku bunga yang berlaku saat ini yaitu 7%. Sehingga, keempat pola ini dinyatakan layak dikembangkan secara finansial.
Kata Kunci: Analisis Finansial, Net Present Value (NPV), Benefit Cost Ratio (B/C Ratio), Internal Rate of Return (IRR)
ix
ABSTRACT
Sri Hendriani, 105950063115. Financial Analysis of Community Forest Agroforestry Patterns in Kalimbua Hamlet, Tongko Village, Baroko District, Enrekang Regency. Under the guidance of Hajawa and Hikmah.
This study aims to determine the financial feasibility of Agroforestry Pattern Community Forests in Kalimbua Hamlet, Tongko Village, Baroko District, Enrekang Regency. This research was carried out in Kalimbua Hamlet, Tongko Village, Baroko District, Enrekang Regency. The samples taken were 4 community forest patterns with agroforestry patterns. The data collection technique used is primary data and secondary data. Based on the results of the research pattern I with a management period of 12 years with an NPV of Rp127.836.803,00, B/C Ratio of 1.8592 and an IRR value of 19.81%. Pattern II for the 10 years management period, the NPV value is Rp46.134.622,00, the B/C Ratio is 1.3623 and the IRR is 15.42%. Pattern III where the management period is 15 years with an NPV value of Rp316.201.454,00, B/C Ratio of 3,1007 and an IRR value of 28.87%. Pattern IV has a management period of 8 years with an NPV value of Rp14.079538,00, B/C Ratio of 1.2312 and an IRR value of 10.34%.
So, the four patterns fulfill three economic aspects, namely the NPV value > 0, B/C Ratio > 1, and the IRR value above the current interest rate of 7%. Thus, the four patterns are declared feasible to be developed financially.
Keywords: Financial analysis, Net Present Value (NPV), Benefit Cost Ratio (B/C Ratio), Internal Rate of Return (IRR)
x
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allaah SWT. Atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Finansial Hutan Rakyat Pola Agroforestry di Dusun Kalimbua, Desa Tongko, Kecamatan Baroko, Kabupaten Enrekang” dapat diselesaikan.
Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan skripsi ini banyak mengalami kendala, namun berkat bantuan, bimbingan, kerjasama berbagai pihak dan berkah dari Allah SWT. sehingga kendala-kendala yang dihadapi tersebut dapat diatasi. Untuk itu, penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada:
1. Ayah dan Ibu tercinta sebagai orang tua yang senantiasa memberikan dukungan serta mendoakan saya dalam mengerjakan tugas saya saebagai mahasiswa.
2. Ibunda Dr. Ir. Hikmah, S.Hut., M.Si., IPM. selaku ketua program studi kehutanan fakultas pertanian Universitas Muhammadiyah Makassar.
3. Ibunda Dr. Ir. Hajawa, M.P. selaku pembimbing I (satu) dan Ibunda Dr. Ir.
Hikmah, S.Hut., M.Si.,IPM. selaku pembimbing II (dua) saya.
4. Terima kasih kepada semua teman-teman saya yang selalu dan meluangkan waktu membantu memberikan informasi, dukungan dan suport dalam menyusun skripsi ini.
xi
Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih jauh dari sempurna, namun penulis berharap kiranya skripsi ini dapat berguna bagi semua pihak.
Makassar, Januari 2022
Penulis
xii
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ... i
HALAMAN JUDUL ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN KOMISI PENGUJI ... iv
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... v
HAK CIPTA ... vi
ABSTRAK ... vii
KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xiv
DAFTAR TABEL ... xv
DAFTAR LAMPIRAN ... xviii
I. PENDAHULUAN ... 1
1.1.Latar Belakang ... 1
1.2.Rumusan Masalah ... 2
1.3.Tujuan Penelitian ... 2
1.4.Manfaat Penelitian ... 3
II. TINJAUAN PUSTAKA ... 4
2.1.Agroforestry ... 4
2.1.1. Pengertian Agroforestry ... 4
2.1.2. Pola Agroforestry ... 4
2.1.3. Klasifikasi Agroforestry ... 5
2.2.Jenis-Jenis Tanaman ... 10
2.2.1. Gmelina (Gmelina arborea Roxb.) ... 10
2.2.2. Gamal (Gliricidia sepium) ... 11
xiii
2.2.3. Lamtor (Leucaena leucocephala L.) ... 13
2.2.4. Suren (Toona sureni) ... 14
2.2.5. Nangka ((Artocarpus heterophyllus) ... 16
2.2.6. Mengkirai (Trema orientalis) ... 17
2.2.7. Uru (Elmerillia ovalis) ... 19
2.2.8. Kopi (Coffea sp.) ... 20
2.2.9. Cengkeh (Syzigium aromaticum) ... 22
2.2.10. Pisang (Musa paradisiaca L.) ... 23
2.3.Analisis Finansial ... 25
2.4.Aspek Penilaian Kelayakan Finansial ... 27
2.5.Kerangka Pikir ... 29
III. METODE PNELITIAN ... 31
3.1.Waktu dan Tempat ... 31
3.2.Objek, Subjek dan Alat Penelitian ... 31
3.3.Penentuan Sampel Responden ... 31
3.4.Teknik Pengumpulan Data ... 32
3.5.Analisis Data ... 32
IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN ... 35
4.1.Geografi dan Demografi ... 35
4.1.1. Geografis ... 35
4.1.2. Iklim ... 35
4.2.Keadaan Sosial, Ekonomi dan Budaya ... 35
4.2.1. Penduduk ... 35
4.2.2. Tingkat Pendidikan ... 36
4.2.3. Mata Pencaharian ... 36
4.2.4. Agama dan Kondisi Sosial Masyarakat ... 36
4.2.5. Sarana dan Prasarana Desa... 37
4.3.Pembagian Wilayah Desa ... 37
V. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 38
5.1.Deskripsi Tipe Agroforestry di Dusun Kalimbua Desa Tongko Kecamatan Baroko Kabupaten Enrekang ... 38
xiv
5.2.Biaya Pengelolaan Agroforesty di Dusun Kalimbua Desa Tongko
Kecamatan Baroko Kabupaten Enrekang ... 39
5.2.1. Biaya Pola I (Agrosilvopastural Suren) ... 40
5.2.2. Biaya Pola II ( Agrosilvikultur Gamal) ... 46
5.2.3. Biaya Pola III (Agrosilvikultur Suren) ... 51
5.2.4. Biaya Pola IV (Agrosilvikultur Gmelina) ... 59
5.3.Penerimaan Pengelolaan Agroforestry ... 64
5.3.1. Penerimaan Pola I ... 64
5.3.2. Penerimaan Pola II ... 65
5.3.3. Penerimaan Pola III ... 66
5.3.4. Penerimaan Pola IV... 67
5.4.Keuntungan Pengelolaan Agroforestry ... 67
5.4.1. Keuntungan Pola I ... 68
5.4.2. Keuntungan Pola II ... 68
5.4.3. Keuntungan Pola III ... 69
5.4.4. Keuntungan Pola IV ... 70
5.5.Analisis Finansial ... 71
5.5.1. Net Present Value (NPV) dan Net Benefit Cost Ratio (B/C Ratio) ... 71
5.5.2. Internal Rate of Returns (IRR) ... 75
VI. PENUTUP ... 80
6.1.Kesimpulan ... 80
6.2.Saran ... 81
DAFTAR PUSTAKA ... 82
xv
DAFTAR GAMBAR
No. Teks Hal
1.
Gmelina (Gmelina arborea Roxb.) ... 102.
Gamal (Gliricidiasepium) ... 113.
Lamtoro (Leucaena leucocephala L.) ... 134. Suren (Toona sureni) ... 14
5. Nangka (Artocarpus heterophyllus) ... 16
6.
Mengkirai (Trema orientalis) ... 177.
Uru (Elmerrillia ovalis) ... 198.
Kopi (Coffea sp.) ... 209.
Cengkeh (Syzigiumaromaticum) ... 2210.
Pisang (Musa paradisiaca L.) ... 2311.
Diagram Kerangka Pikir ... 3012.
Responden Pola I ... 10513.
Responden Pola II ... 10514.
Responden Pola III ... 10615.
Responden Pola IV ... 106xvi
DAFTAR TABEL
No. Teks Hal
1. Jumlah Penduduk Sesuai Dengan Dusun/Lingkungan ... 36
2. Biaya Tidak Tetap Alat dan Bahan Pola I ... 40
3. Jenis Pengeluaran Alat dan Bahan Pola I ... 41
4. Bibit Pola I ... 41
5. Rata-Rata Jumlah Bibit dan Ternak Pola I ... 42
6. Biaya Tidak Tetap (Variabel Cost) Pola I... 42
7. Biaya Tetap Alat dan Bahan Pola I ... 44
8. Biaya Penyusutan Pola I ... 45
9. Biaya Tetap (Fixet Cost) Pola I ... 45
10. Biaya Tidak Tetap Alat dan Bahan Pola II ... 46
11. Jenis Pengeluaran Alat dan Bahan Pola II ... 47
12. Bibit Pola II ... 47
13. Rata-Rata Jumlah Bibit Pola II ... 48
14. Biaya Tidak Tetap (Variabel Cost) Pola II ... 48
15. Biaya Tetap Alat dan Bahan Pola II ... 50
16. Biaya Penyusutan Pola II ... 50
17. Biaya Tetap (Fixet Cost) Pola II ... 52
18. Biaya Tidak Tetap Alat dan Bahan Pola III ... 52
19. Jenis Pengeluaran Alat dan Bahan Pola III ... 53
20. Bibit Pola III ... 54
21. Rata-Rata Jumlah Bibit Pola III ... 54
22. Biaya Tidak Tetap (Variabel Cost) Pola III ... 55
23. Biaya Tetap Alat dan Bahan Pola III ... 57
24. Biaya Penyusutan Pola III ... 58
25. Biaya Tetap (Fixet Cost) Pola III ... 58
26. Biaya Tidak Tetap Alat dan Bahan Pola IV ... 59
27. Jenis Pengeluaran Alat dan Bahan Pola IV ... 59
xvii
28. Bibit Pola IV ... 60
29. Rata-Rata Jumlah Bibit Pola IV ... 60
30. Biaya Tidak Tetap (Variabel Cost) Pola IV ... 61
31. Biaya Tetap Alat dan Bahan Pola IV ... 62
32. Biaya Penyusutan Pola IV ... 62
33. Biaya Tetap Pola (Fixet Cost) IV ... 63
34. Biaya Total (Total Cost) ... 63
35. Penerimaan atau Ratio (Rt) Pola I ... 64
36. Penerimaan atau Ratio (Rt) Pola II ... 65
37. Penerimaan atau Ratio (Rt) Pola III ... 66
38. Penerimaan atau Ratio (Rt) Pola IV ... 67
39. Keuntungan atau Benefit (Bt) Pola I ... 68
40. Keuntungan atau Benefit (Bt) Pola II ... 69
41. Keuntungan Benefit ( Bt) Pola III ... 69
42. Keuntungan Benefit ( Bt) Pola IV ... 70
43. Net Present Value (NPV) dan Net Benfit Cost Ratio (B/C Ratio) Pola I ... 72
44. Net Present Value (NPV) dan Net Benfit Cost Ratio (B/C Ratio) Pola II ... 72
45. Net Present Value (NPV) dan Net Benfit Cost Ratio (B/C Ratio) Pola III ... 73
46. Net Present Value (NPV) dan Net Benfit Cost Ratio (B/C Ratio) Pola IV ... 74
47. Rekap Hasil Net Present Value (NPV) dan Net Benefit Cost Ratio (B/C Ratio) dari Pola I, II, III dan IV ... 74
48. Internal Rate of Return (IRR) Pola I Suku Bunga 19% ... 75
49. Internal Rate of Return (IRR) Pola I Suku Bunga 20% ... 76
50. Internal Rate of Return (IRR) Pola II Suku Bunga 15% ... 76
51. Internal Rate of Return (IRR) Pola II Suku Bunga 16% ... 76
52. Internal Rate of Return (IRR) Pola III Suku Bunga 28% ... 77
53. Internal Rate of Return (IRR) Pola III Suku Bunga 29% ... 77
xviii
54. Internal Rate of Return (IRR) Pola IV Suku Bunga 10% ... 78
55. Internal Rate of Return (IRR) Pola IV Suku Bunga 11% ... 78
56. Internal Rate of Returns (IRR) ... 79
57. Analisis Finansial Hutan Rakyat Pola Agroforestri ... 79
xix
DAFTAR LAMPIRAN
No. Teks Hal
1. Data Primer ... 84 2. Olah Data ... 90 3. Dokumentasi Penelitian ... 105
1
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menurut keputusan Menhut No.49/kpts-II/1997, salah satu usaha berbasis lahan adalah hutan rakyat yaitu hutan yang dimiliki oleh rakyat, dengan luas minimal 0,25 ha dengan penutupan tajuk tanaman kayu-kayuan dan atau jenis tanaman lainnya, dan atau pada tanaman tahun pertama dengan tanaman sebanyak minimal 500 tanaman perhektar.
Selanjutnya menurut Purwanto dkk, (2004) karakter hutan rakyat antara lain yaitu luas lahan rata-rata sempit dengan beragam jenis tanaman yang memiliki daur yang tidak menentu, teknik silvikultur sederhana dan memungkinkan pengembanagan dengan biaya rendah, meskipun hasilnya kurang optimal.
Salah satu pengelolaan hutan rakyat yaitu dengan pola agroforestry.
Agroforestry adalah istilah kolektif untuk berbagai sistem dan teknologi penggunaan lahan yang dilaksanakan pada satu kesatuan lahan dengan memadukan tanaman berkayu dengan tanaman pertanian dan/atau hewan (sapi) dan/atau ikan yang dilakukan secara bersamaan atau bergantian untuk menciptakan yang ekologis dan untuk menciptakan interaksi ekonomi antara berbagai komponen yang ada (Rohadi dkk, 2013).
Sistem agroforestry dapat meningkatkan produksi dan pendapatan karena memiliki hasil yang dapat diperoleh harian, mingguan, bulanan, musiman dan tahunan. Pekerjaan dalam sistem ini juga semakin berkelanjutan (Diniyati, 2009).
2 Pola budidaya agroforestry dapat dikatakan berhasil apabila upaya tersebut dapat meningkatkan produktivitas, berkelanjutan, dan dapat dengan mudah diadopsi oleh petani untuk pembangunan dalam skala yang lebih besar.
Oleh karena itu, jenis-jenis agroforestri sangat dipengaruhi oleh aspek sosial, ekonomi dan budaya petani.
Sebagian besar masyarakat Desa Tongko mata pencahariannya adalah pertanian (tanaman semusim) dan perkebunan (jangka panjang) salah satunya dengan sistem agroforestri. Sistem agroforestry telah lama dikenal dan dipraktikkan oleh masyarakat Dusun Kalimbua Desa Tongko Kecamatan Baroko Kabupaten Enrekang dalam bercocok tanam. Hal ini dimanfaatkan hasilnya untuk meningkatkan pendapatan dan pemenuhan dalam kebutuhan hidup secara berkelanjutan.
Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis finansial hutan rakyat pola agroforestri di Dusun Kalimbua Desa Tongko Kecamatan Baroko Kabupaten Enrekang untuk mengetahui apakah layak untuk dikembangkan.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada penelitian ini, yaitu apakah hutan rakyat pola agroforestry di Dusun Kalimbua Desa Tongko Kecamatan Baroko Kabupaten Enrekang layak dikembangkan bila ditinjau dari aspek finansial.
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui kelayakan secara finansial hutan rakyat pola agroforestry yang ada di Dusun Kalimbua Desa Tongko Kecamatan Baroko Kabupaten Enrekang.
3 1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan masyarakat dapat mengetahui manfaat kelayakan secara finansial untuk dikembangkan dengan pola agroforestry yang ada ada di Dusun Kalimbua, Desa Tongko, Kecamatan Baroko, Kabupaten Enrekang.
4
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Agroforestry
2.1.1 Pengetian Agroforestry
Agroforestry merupakan sistem tata guna lahan terpadu yang menjaga keseimbangan antara kegiatan produksi dan pelestarian lingkungan, dengan kombinasi hasil pangan, ternak, pohon dan memiliki peran sosial untuk mengurangi potensi konflik penggunaan lahan, dan dilakukan dengan pemahaman multidisiplin keilmuan (Rohadi dkk, 2013).
Sebagai sistem pemanfaatan lahan yang telah disesuaikan dengan kearifan lokal masyarakat, agroforestry dapat berkontribusi terhadap strategi pembangunan nasional dengan memberikan peluang kerja, mengentaskan kemiskinan, meningkatan ekonomi daerah, dengan tetap menjaga keseimbangan lingkungan. Kontribusi agroforestry tersebut diwujudkan di tingkat lokal dalam bentuk kontribusi terhadap penyediaan lapangan kerja, pengembangan ekonomi lokal dan peningkatan ketahanan lingkungan yang selanjutnya dapat diperluas pada tingkat nasional (Rohadi dkk, 2013).
2.1.2 Pola Agroforestry
Mustofa dkk. (2003), menyatakan bahwa pemilihan jenis pohon dan pola tanam merupakan hal yang penting di dalam pengelolaan hutan agroforestry. Pola tanam ini dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman pada tegakan, karena pada sistem agroforestry terjadi persaingan unsur hara dan cahaya.
5 Pemilihan jenis tumbuhan yang akan dikembangkan dalam suatu kawasan atau lahan hutan sangat penting karena kesalahan pemilihan jenis dari segi ekologi dapat menyebabkan gagalnya pertumbuhan jenis terpilih di lapangan. Selain itu persyaratan utama dalam pemilihan jenis adalah kecocokan antara persyaratan ekologis jenis tanaman dengan sifat tempat tumbuhnya seperti ketinggian tempat, iklim (suhu, curah hujan, toleransi jenis pohon terhadap sinar matahari) dan sifat-sifat tanah (Mustofa dkk, 2003).
Menurut Mustofa dkk. (2003), pola penggunaan ruang dalam sistem agroforestry dapat dibagi menjadi 4 yaitu:
1. Trees Along Border, yaitu model penanaman pohon di bagian pinggir dan tanaman pertanian berada di tengah lahan.
2. Alternative Rows, yaitu kombinasi antara satu baris pohon dengan beberapa baris tanaman pertanian secara berselang-seling.
3. Alternative Strips atau Alley Cropping, yaitu kombinasi dimana dua baris pohon dan tanaman pertanian ditanam secara berselang-seling.
4. Random Mixture, yaitu pengaturan antara pohon dan tanaman pertanian secara acak.
2.1.3 Klasifikasi Agroforestry
Klasifikasi agroforestyi menurut Mustofa dkk. (2003), dapat didasarkan pada berbagai aspek sesuai dengan perspektif dan kepentingannya.
Klasifikasi ini tidak dimaksudkan untuk menunjukkan kompleksitas agoroforestri dibandingkan budidaya tunggal (monokultur, baik di sektor kehutanan ataupun di sektor pertanian). Namun klasifikasi ini sebenarnya akan
6 sangat membantu dalam menganalisis setiap bentuk pelaksanaan agroforestry yang dijumpai dilapangan secara lebih mendalam, guna mengoptimalkan fungsi dan manfaatnya bagi masyarakat atau para pemilik lahan.
a. Klasifikasi berdasarkan komponen penyusunnya
Klasifikasi agroforestry yang paling umum, tetapi juga paling mendasar adalah dari segi komponen yang menyusunnya. Komponen penyusun utama agroforestry adalah komponen kehutanan, pertanian, perkebunan dan/atau peternakan. Ditinjau dari komponennya, agroforestri dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Agrisilvikultur
Agrisilvikultur adalah sistem agroforestry yang memadukan komponen kehutanan (tanaman berkayu) dengan komponen pertanian (tanaman bukan kayu). Tanaman kayu dimaksudkan untuk siklus panjang dan tanaman non-kayu adalah semusim. Dalam agrisilvikultur, penanaman pohon atau pohon multiguna dengan tujuan untuk melindungi lahan pertanian.
2. Silvopastural
Sistem agroforestry yang mencakup komponen kehutanan (tanaman berkayu) dengan komponen ternak disebut sebagai sistem silvopastural. Beberapa contoh silvopastural antara lain: Pohon atau perdu pada padang rumput atau produksi terpadu antara ternak dan produk kayu.
7 3. Agrosilvopastura
Sistem agrosilvopastura adalah perpaduan antara komponen kayu dengan pertanian atau perkebunan dan peternakan dalam satu kesatuan pengelolaan lahan. Tegakan hutan alam bukan merupakan sistem agrosilvopastura, meskipun ketiga komponen pendukung tersebut juga dapat ditemukan pada ekosistem yang bersangkutan.
Pengkombinasian dalam agrosilvopastura dilakukan secara terencana untuk mengoptimalkan fungsi produksi dan jasa (khususnya komponen kayu) kepada masyarakat. Kombinasi yang memungkinkan juga didukung oleh regenerasi alami dan satwa liar.
b. Klasifikasi berdasarkan orientasi ekonomi 1. Agroforestry skala subsistem
Sesuai dengan skalanya yang subsistem, maka bentuk-bentuk agroforestry dalam klasifikasi ini diusahakan oleh pemilik lahan sebagai upaya mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Utamanya tentu saja berkaitan dengan upaya pemenuhan kebutuhan pangan keluarga.
Agroforestry dengan skala subsistem ini secara umum merupakan agroforestry yang tradisional, dengan beberapa ciri-ciri penting yang bisa dijumpai adalah:
8 a. Lahan yang diusahakan terbatas;
b. Jenis yang dibudidayakan beragam dan biasanya hanya merupakan jenis lokal non-komersial, bahkan Endemic dan ditanam atau dipelihara dari permudaan alam dalam jumlah terbatas;
c. Pengaturan penanaman tidak beraturan (acak);
d. Pemeliharaan atau perawatan serta aspek pengelolaan lainnya tidak intensif.
2. Agroforestry skala semi komersial
Di daerah yang aksesibilitasnya mulai terbuka, terutama bagi kelompok masyarakat yang memiliki motivasi ekonomi tinggi dalam pemanfaatan lahan, terdapat kecenderungan peningkatan produktivitas dan kualitas produk yang dapat dipasarkan secara tunai.
Namun, dengan investasi yang terbatas, jangkauan pemasaran produk yang belum meluas, dan ditambah dengan gaya hidup yang masih subsistem, jaminan pemenuhan kebutuhan sehari-hari tetap menjadi dasar pertimbangan yang paling penting. Pentingnya risiko kegagalan ini dapat dilihat dari terjaganya keanekaragaman jenis tanaman pada lahan usaha.
3. Agroforestry skala komersial
Pada orientasi skala komersial, kegiatan ditekankan untuk memaksimalkan produk utama, yang biasanya hanya dari satu jenis tanaman saja dalam kombinasi yang dijumpai. Ciri-ciri yang dimiliki
9 biasanya tidak jauh berbeda antar berbagai bentuk implementasi, baik dalam lingkup pertanian ataupun kehutanan, yaitu antara lain:
a. Komposisi hanya terdiri dari 2-3 kombinasi jenis tanaman, di mana salah satunya merupakan komoditi utama (sedangkan komponen lainnya berfungsi sebagai unsur pendukung);
b. Dikembangkan pada skala yang cukup luas (investasi besar) dan menggunakan input teknologi yang memadai;
c. Memiliki rantai usaha tingkat lanjut yang jelas dan trorgannisir (penanganan dan perdagangan pascapanen);
d. Menuntut manajemen yang professional.
c. Klasifikasi berdasarkan sistem produksi
1. Agroforestry berbasis hutan. Agroforestry berbasis hutan pada dasarnya adalah berbagai bentuk agroforestry yang dimulai dengan pembukaan sebagian areal hutan dan/atau semak belukar untuk kegiatan pertanian, dan dikenal dengan sebutan agoforestri.
2. Agroforestry berbasis pada pertanian. Agroforestry berbasis pertanian dianggap lebih teratur dibandingkan dengan agroforestry dengan produk utama tanaman pertanian atau peternakan tergantung sistem produksi pertanian dominan di daerah tersebut. Komponen kehutanan merupakan elemen pendukung bagi peningkatan produktivitas atau sustainabilitas sistem.
3. Agroforestry berbasis rumah tangga. Agroforestry yang dikembangkan diarea pekarangan disebut juga dengan agroforestry pekarangan
10 (Homestead Agroforestry) di Bangladesh. Di Indonesia, yang terkenal adalah model Kebun Talun di Jawa Barat. Sedangkan di Kalimantan Timur, ada kebun pekarangan tradisional yang dimiliki oleh satu keluarga besar.
2.2 Jenis-Jenis Tanaman
2.2.1 Gmelina (Gmelina arborea Roxb.)
Gambar 1. Gmelina (Gmelina arborea Roxb.)
Gmelina (Gmelina arborea Roxb.) termasuk tanaman penghasil kayu yang produktif. Banyak ditanam sebagai tanaman pelindung, sebagian besar dimanfaatkan sebagai tanaman komersil (Sukajadi, 2012).
a. Sistematika Tanaman Gmelina
Sistematika tanaman Gmelina (Gmelina arborea Roxb.) sebagai berikut (Sukajadi, 2012).
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Sub kelas : Asteridae
11
Ordo : Lamiales
Famili : Verbenaceae
Genus : Gmelina
Spesies : Arborea Roxb
b. Morfologi Gmelina (Gmelina arborea Roxb.)
Buah Gmelina (Gmelina arborea Roxb.) berupa buah berdaging, kulit mengkilat, mesokarp lunak, agak manis sedangkan bijinya keras seperti batu, permukaan licin, satu ujung bulat, ujung yang lain runcing.
Buah terdiri dati 4 ruang, jarang dijumpai 5 ruang, sedikitnya satu ruang berisi benih, jarang dalam satu buah terdiri dari biji batu (Martawijaya, 2005).
Tanaman Gmelina (Gmelina arborea Roxb.) berbunga dan berbuah setiap tahun. Di sebaran alami beriklim musim, mulai berbunga pada musim kemarau ketika pohon menggugurkan daun. Di luar sebaran alami beriklim musim, periode pembungaan dan pembuahan tidak jelas, bunga dan buah terlihat kira-kira sepanjang tahun (Martawijaya, 2005).
2.2.2 Gamal (Gliricidia sepium)
Gambar 2. Gamal (Gliricidiasepium)
Tanaman Gamal (Gliricidiasepium) adalah nama jenis perdu dari kerabat polong-polongan. Penyebaran alami tidak jelas karena telah
12 dibudidayakan sejak lama, tetapi bukti kuat menunjukkan bahwa penyebarannya terbatas pada hutan musim kering gugur daun di dataran rendah pesisir Pasifik dan beberapa lembah pedalaman di Amerika Tengah dan Meksiko. Tanaman ini sekarang sudah menyebar di seluruh daerah tropika termasuk Indonesia (Direktorat Perbenihan Tanaman Hutan, 2002).
a. Sistematika Tanaman Gamal (Gliricidia sepium)
Sistematika tanaman Gamal (Gliricidia sepium), sebagai berikut (Plantus, 2008).
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Fabales
Famili : Fabaceae
Subfamili : Faboideae
Genus : Gliricidia
Spesies : G. sepium
b. Morfologi Gamal (Gliricidia sepium)
Gamal (Gliricidia sepium) memiliki akar tunggang yang bisa tumbuh menembus tanah, Gamal bisa tumbuh di tipe tanah yang kurang subur, tanah asam dan tererosi. Gamal diperbanyak dengan stek dan memiliki sistem perakaran yang lateral (Tjitrosoepomo, 2011).
Batang tunggal atau bercabang, jarang yang menyemak tinggi serta tinggi mencapai 2-15 m, batang tegak dan memiliki diameter pangkal
13 batang 5-30 cm. Kulit batang coklat keabu-abuan dengan alur-alur kecil pada batang yang sudah tua (Tjitrosoepomo, 2011).
Daun Gamal umumnya berwarna hijau dan berfungsi sebagai penangkap energi dari cahaya matahari melalui fotosintesis. Helaian daun berwarna hijau dibagian atasnya, tipis dan berwarna keputihan di sisi bawahnya. Helai daun, pelepah daun dan tulang daun kadang-kadang bergaris merah. Dan daun akan berguguran di musim kemarau (Tjitrosoepomo, 2011).
2.2.3 Lamtoro (Leucaena leucocephala L.)
Gambar 3. Lamtoro (Leucaena leucocephala L.)
Lamtoro (Leucaena leucocephala L.) adalah salah satu jenis polong- polongan serba-guna yang paling banyak ditanam dalam pola pertanaman campuran (wanatani) (Siregar, 2005).
a. Sistematika Tanaman Lamtoro (Leucaena leucocephala L.)
Sistematika tanaman Lamtoro (Leucaena leucocephala L.) menurut Purwanto (2007) adalah:
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta Classis : Magnoliopsida
14 Sub classis : Rosidae
Ordo : Fabales
Famili : Mimosaceae
Genus : Leucaena
Spesies : Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit.
b. Morfologi Lamtoro (Leucaena leucocephala L.)
Lamtoro (Leucaena leucocephala L.), tanaman ini merupakan pohon yang pertumbuhannya mampu mencapai tinggi 5-15 m. Batangnya berwarna putih kecokelatan atau cokelat kemerah-merahan (Purwanto, 2007).
Daunnya kecil, tulang daun menyirip ganda dua dengan jumlah pasang 4-8 pasang, tiap sirip tangkai daun mempunyai 11-22 helai anak daun (Purwanto, 2007).
Buahnya mirip dengan buah petai, namun ukurannya jauh lebih kecil dan berpenampang lebih tipis. Warna biji hijau dan akhirnya coklat kehijauan atau coklat tua apabila kering (Purwanto, 2007).
2.2.4 Suren (Toona sureni)
Gambar 4. Suren (Toona sureni)
Pohon Suren (Toona sureni) banyak dijumpai di hutan-hutan primer maupun sekunder, dan banyak tumbuh di hutan pedesaan, sering ditemukan di
15 sepanjang sungai di daerah bukit dan lereng-lereng, pada ketinggian 1.200–
2.700 mdpl (Djam’an, 2002).
a. Sistematika Tanaman Suren (Toona sureni)
Sistematika pohon Suren (Toona sureni) menurut Dephut (2002) diklasifikasikan kedalam:
Super Divisi : Spermatophyta
Divis : Magnoliophytha
Kelas : Magnoliopsida Sub Kelas : Rosidae
Ordo : Sapindales
Famili : Meliaceae
Genus : Toona
Spesieas : Toona sureni Merr.
b. Morfologi Suren (Toona sureni)
Suren (Toona sureni) memiliki bentuk batang lurus dengan bebas cabang mencapai 25 m dan tinggi pohon dapat mencapai 40-60 m. Kulit batang kasar dan pecah-pecah berwarna coklat dan batang berbanir mencapai 2 m. Daun suren berbentuk oval, letak daunnya duduk menyirip tunggal pada pohon berdiameter 1-2 m. Kedudukan bunga adalah terminal, dimana keluar dari ujung batang pohon (Djam’an, 2002).
Buah masak ditandai dengan warna kulit buah berubah dari hijau menjadi coklat tua kusam dan kasar, apabila pecah akan terlihat seperti bintang (Djam’an, 2002).
16 Warna benih coklat, bersayap pada satu sisi sehingga benihnya akan terbang terbawa angin. Berbunga 2 kali dalam setahun yaitu bulan Februari-Maret dan September-Oktober (Djam’an, 2002).
2.2.5 Nangka (Artocarpus heterophyllus)
Gambar 5. Nangka (Artocarpus heterophyllus)
Nangka (Artocarpus heterophyllus) umumnya memiliki tinggi berukuran sedang, sampai sekitar 20 m. Walaupun ada yang mencapai 30 m, batang bulat, silindris, sampai berdiameter 1 m (Sulassih et al, 2013).
a. Sistematika Tanaman Nangka (Artocarpus heterophyllus)
Sistematika tanaman Nangka (Artocarpus heterophyllus) menurut (Sulassih et al, 2013).
Kingdom : Plantae
Filum : Mognoliophyta
Kelas : Mognoliopsida
Ordo : Rosales
Family : Moraceae
Genus : Arthocarpus
Species : Artocarpus heterophyllus
17 b. Morfologi Tanaman Nangka (Artocarpus heterophyllus)
Akar pohon Nangka termasuk ke dalam tunggang karena akar lembaganya tumbuh terus menjadi akar pokok yang bercabang-cabang menjadi akar yang lebih kecil lagi. Batang tanaman Nangka merupakan pohon yang berkayu keras, yang berbentuk bulat, silindris, dan berdiameter sampai sekitar 1 m (Sulassih et al, 2013).
Daun Nangka merupakan daun tunggal dan berbentuk bulat memanjang, ujung daun berbentuk meruncing, memiliki daging daun yang tipis lunak dan juga permukaan atas daun licin dan mengkilap dengan warna hijau tua. Sedangkan permukaan bawah daun kasar dan berwarna hijau muda. (Sulassih et al, 2013).
Buah Nangka merupakan buah majemuk dan berbentuk gelendong memanjang. Daging buah ini berwarna kuning keemasan apabila telah masak. Namun ketika buah nangka masih muda, buahnya berwarna putih dan coklat (Sulassih dkk, 2013).
2.2.6 Mengkirai (Trema orientalis)
Gambar 6. Mengkirai (Trema orientalis)
Tanaman Mengkirai (Trema orientalis) telah terdistribusi ke seluruh daerah yang memiliki iklim tropis, dan juga banyak tumbuh di Indonesia.
18 Dalam bidang industri, kayu Mengkirai dapat dimanfaatkan dalam pembuatan kertas karna memiliki kandungan serat yang tinggi (Tjitrosoepomo, 2013).
a. Sistematika Tanaman Mengkirai (Trema orientalis)
Sistematika tanaman Mengkirai (Trema orientalis) menurut (Tjitrosoepomo, 2013).
Kingdom : Plantae
Divisi : Tracheopyta Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Urticales
Famili : Ulmaceae
Genus : Trema
Spesies : Trema orientalis (L.) Blume b. Morfologi Mengkirai (Trema orientalis)
Akar Mengkirai berupa akar tunggang. Batang mengkirai berupa batang berkayu dengan tinggi pohon dapat mencapai 10-25 m dan diameter 5-30 cm, daun tunggal (Tjitrosoepomo, 2013).
Bunga Mengkirai berada pada ketiak daun yang membentuk malai, buah sejati tunggal berdaging dan ukuran biji berkisar antara 1,5-2,5 mm.
Mengkirai (Terma orientalis) dapat berproduksi generatif (berbunga dan berbuah) pada usia muda, merupakan pakan burung sehingga pemencarannya cukup luas dan bersimbiosis dengan fungi Mikoriza arbuskula (Tjitrosoepomo, 2013).
19 2.2.7 Uru (Elmerrillia ovalis)
Gambar 7. Uru (Elmerrillia ovalis)
Uru (Elmerrillia ovalis) adalah salah satu tanaman identitas Indonesia.
Bunga ini merupakan flora endemik khas Sulawesi. Persebaran Uru meliputi daerah Sulawesi dan Maluku (Rombang dkk, 2012).
a. Sistematika tanaman Uru (Elmerrillia ovalis)
Sistematika Tanaman Uru (Elmerrillia ovalis) menurut (Rombang dkk, 2012).
Kerajaan : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Magnoliales
Famili : Magnoliaceae
Genus : Elmerrillia
Spesis : Elmerrillia ovalis (Miq.) Dandy b. Morfologi Uru (Elmerrillia ovalis)
Tumbuhan Uru (Elmerrillia ovalis) mempunyai batang yang lurus dan berwarna coklat muda. Batang silinder, kulit luar mengelupas dan pecah-pecah berwarna putih kecoklatan. Tinggi pohon dapat mencapai 45
20 m dengan tinggi bebas cabang 12-16 m dan diameter mencapai 200 cm (Rombang dkk, 2012).
Daun berjenis daun tunggal, disebut daun tunggal karena setiap tangkai daunnya hanya menyokong satu buah daun saja. Bunga tumbuh di ketiak daun dan berwarna putih kekuningan tangkai bunga berbulu halus (Rombang dkk, 2012).
Buah memiliki bentuk lonjong dan terdapat empat biji pada setiap buah yang dimilikinya. Tumbuhan ini berkembangbiak secara generatif menggunakan biji (Rombang dkk, 2012).
2.2.8 Kopi (Coffea sp.)
Gambar 8. Kopi (Coffea sp.)
Kopi (Coffea sp.) merupakan salah satu jenis tanaman perkebunan yang sudah lama dibudidayakan dan memiliki nilai ekonomis yang lumayan tinggi. Kopi berasal dari Afrika, yaitu daerah pegunungan di Etopia.
(Rahardjo, 2012).
a. Sistematika tanaman Kopi (Coffea sp.)
Sistematika tanaman Kopi (Coffea sp.) menurut (Najiyanti dan Danarti, 2004).
21
Kingdom : Lantae
Sub kingdom : Tracheobionita Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub Kelas : Astridae
Ordo : Rubiaceace
Genus : Coffea
Spesies : Arabica robusta b. Morfologi Kopi (Coffea sp.)
Kopi (Coffea sp.) adalah spesies tanaman berbentuk pohon yang termasuk dalam family Rubiaceae dan genus Coffea. Tanaman ini tumbuh tegak, bercabang dan tingginya dapat mencapai 12 m (Najiati dan Danarti, 2004).
Daun Kopi berwarna hijau mengkilap yang tumbuh berpasangan dengan berlawanan arah. Kopi berbunga setelah berumur sekitar 3 tahun.
Mula-mula bunga keluar dari ketiak daun yang terletak pada batang utama atau cabang reproduksi (Najiyati dan Danarti, 2004).
Buah terdiri dari daging buah dan biji. Pada umumnya buah mengandung dua butir biji, tetapi terkadang hanya mengandung satu butir biji atau bahkan tidak berbiji (hampa) karena bakal biji tidak berkembang secara sempurna. Biji terdiri dari kulit biji dan lembaga (Najiyati dan Danarti, 2004).
22 2.2.9 Cengkeh (Syzigiumaromaticum)
Gambar 9. Cengkeh (Syzigiumaromaticum)
Tanaman Cengkeh (Syzigiumaromaticum) ini merupakan tanaman perkebunan tropis dengan family Myrtaceae. Karena iklim tropislah yang menjadi kebutuhan tanaman Cengkeh, maka dari itu Indonesia dari dulu hingga sekarang merupakan negara penghasil Cengkeh terbesar di dunia dan negara-negara Eropa mengimpor Cengkeh dari Indonesia (Sutriyono. 2017).
a. Sistematika Tanaman Cengkeh (Syzigiumaromaticum)
Sistematika tanaman cengkeh (Syzigiumaromaticum), menurut (Sutriyono, 2017).
Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Bangsa : Myrtales
Suku : Myrtaceae
Marga : Syzygium
Jenis : Syzygium aromaticum (L.) Merr. & Perry
23 b. Morfologi Cengkeh (Syzigiumaromaticum)
Daunnya berbentuk lonjong dan berbunga pada bagian ujungnya.
Termasuk daun majemuk. Batang biasanya memiliki panjang 10-15 m.
Batang berbentuk bulat. Permukaan batangnya kasar biasanya memiliki cabang-cabang yang dipenuhi banyak ranting atau dapat dikatakan lebat rantingnya (Sutriyono, 2017).
Bentuk akar tunggangnya termasuk berbentuk tombak pada akar tumbuh cabang yang kecil-kecil. Pohon Cengkeh mampu menghasilkan biji setelah penanaman 5 tahun. Bijinya terdiri dari kulit, tali pusar, dan inti biji (Sutriyono, 2017).
Bunga Cengkeh muncul pada ujung ranting daun dengan tangkai pendek dan bertandan. Bunga Cengkeh termasuk bunga majemuk yang berbatas karena ujung ibu tangkainya selalu ditutup bunga (Sutriyono, 2017).
2.2.10 Pisang (Musa paradisiaca L.)
Gambar 10. Pisang (Musa paradisiaca L.)
Pisang (Musa paradisiaca L.) merupakan salah satu dari berbagai jenis buah-buahan tropis yang berada dan banyak dikembangkan di Indonesia.
24 Syarat tumbuh yang toleran dalam lingkungan yang luas dan juga teknik budidaya yang relatif mudah membuat pisang banyak dibudidayakan (Sunandar, 2018).
a. Sistematika Tanaman Pisang (Musa paradisiaca L.)
Sistematika tanaman Pisang (Musa paradisiaca L.), menurut (Sunandar, 2018).
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta Super Divisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Liliopsida Sub Kelas : Commelinidae
Ordo : Zingiberales
Famili : Musaceae
Genus : Musa
Spesies : Musa paradisiaca L.
b. Morfologi Tanaman Pisang (Musa paradisiaca L.)
Tanaman Pisang (Musa paradisiaca L.) sistem perakaran yang berada pada tanaman Pisang umumnya keluar dan tumbuh dari bonggol bagian samping dan bagian bawah, berakar serabut, dan tidak berakar tunggan. Batang Pisang dibedakan menjadi dua macam yaitu batang asli yang disebut bongol dan batang semu atau juga batang palsu (Sunandar, 2018).
25 Bentuk daun pada umumnya panjang, lonjong, dengan lebar yang tidak sama, bagian ujung daun tumpul, dan tepinya tersusun rata. Bunga Pisang atau yang sering disebut dengan jantung pisang keluar dari ujung batang. Buah Pisang tersusun dalam tandan tiap tandan terdiri atas beberapa sisir dan tiap sisir terdapat 6-22 buah. Buah Pisang umumnya tidak berbiji dan bersifat triploid (Sunandar, 2018).
2.3 Analisis Finansial
Analisis finansial bertujuan untuk mengetahui perkiraan dari segi pendanaan dan arus kas, sehingga dapat diketahui layak atau tidaknya bisnis yang dijalankan. Analisis finansial merupakan suatu analisis yang membandingkan antara biaya dan manfaat untuk menentukan apakah suatu bisnis akan menguntungkan selama umur bisnis (Suswarsono, 2000).
Analisis finansial menurut Maulidah (2012), mengkaji beberapa analisis kelayakan finansial yang digunakan yaitu, Net Benefit Cost Ratio (Net B/C Ratio), Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR) dan Payback Period (PP), Laba rugi dan Analisis Sensitivitas.
1. Net Present Value (NPV)
Net Present Value (NPV) adalah selisih antara nilai sekarang dari penerimaan dengan nilai sekarang investasi. Dana invesatsi akan kembali melalui penerimaan-peneriman berupa keuntungan di masa yang akan datang.
Untuk menilai layak tidaknya suatu keputusan investasi, maka dana investasi harus bisa ditutup dengan penerimaan bersih yang sudah dipresent value-kan.
26 Kriteria penilaian untuk Net Present Value (NPV) adalah sebagai berikut:
a. jika NPV > 0, maka usaha yang dijalankan layak untuk dilaksanakan;
b. Jika NPV<0, maka usaha yang dijalankan tidak layak untuk dilaksanakan;
c. Jika NPV = 0, maka usaha yang dijalankan tidak rugi dan tidak untung.
2. Internal Rate of Return (IRR)
Internal Rate of Return (IRR) adalah tingkat suku bunga maksimum yang dapat dibayar oleh bisnis untuk sumberdaya yang digunakan karena bisnis membutuhkan dana lagi untuk biaya-biaya operasi dan investasi dan bisnis baru sampai pada tingkat pulang modal.
Internal Rate of Return (IRR) digunakan untuk mencari tingkat bunga yang menyamakan nilai sekarang dari arus kas yang diharapkan di masa datang, atau penerimaan kas, dengan mengeluarkan investasi awal.
Kriteria dari Internal Rate of Return (IRR) adalah:
a. Jika IRR = tingkat bunga berlaku, maka usaha tidak dapat mendapatkan untung atau rugi.
b. Jika IRR < tingkat bunga berlaku, maka usaha tersebut tidak layak diusahakan.
c. Apabila IRR > tingkat tingkat bunga berlaku, maka usaha tersebut layak untuk diusahakan.
3. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C Ratio)
Net Benefit Cost Ratio (Net B/C Ratio) adalah perbandingan antara present value yang dari Net Benefit yang positif dengan present value dari Net Benefit yang negatif.
27 Kriteria dari Net Benefit Cost Ratio (Net B/C Ratio):
a. Jika Net B/C Ratio > 1, maka investasi layak karena memberikan keuntungan.
b. Jika Net B/C < 1, maka investasi tidak layak diusahakan karena setiap pengeluaran akan menghasilkan penerimaan yang lebih kecil dari pengeluaran.
c. Jika Net B/C = 1, berarti usaha tidak untung dan tidak rugi.
4. Discount Factor (DF)
Discount Factor (DF) merupakan besaran yang tergantung pada Discount rate atau bunga. Semakin besar nilai Discount rate, semakin kecil Discount Factor (DF), sehingga present value nya menjadi semakin kecil juga. Discount Factor (DF) dihitung beerdasarkan Discount rate. Discount rate adalah tingkat keuntungan yang diharapkan atau tingkat kemampuan pengembalian minimum.
2.4 Aspek Penilaian Kelayakan Finansial
Aspek-aspek yang dipertimbangkan dalam studi kelayakan finansial adalah (Kusumedi, 2010).
a. Aspek Hukum
Hasil studi kelayakan dalam aspek hukum dapat berupa informasi mengenai bentuk jenis perusahaan, identitas pelaksana bisnis, bisnis apa yang akan dikerjakan, dan tempat yang mempengaruhi peraturan-peraturan yang berlaku menyangkut investasi yang dilakukan.
28 b. Aspek Pasar dan Pemasaran
Agar dapat berjalan atau beroperasi secara baik suatu investasi baik jasa maupun produk harus dapat dijual.
c. Aspek Keuangan
Aspek keuangan diperhitungkan sebagai salah satu aspek yang dikaji dalam suatu studi kelayakan untuk menentukan rencana investasi melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan.
d. Aspek Teknis/Operasional
Penilaian kelayakan terhadap aspek ini juga penting untuk dilakukan sebelum suatu usaha dijalankan.
e. Aspek Manajemen/Organisasi
Dalam aspek ini juga termasuk aspek sumberdaya manusia (SDM) yang diperlukan dalam merencanakan dan menjalankan investasi.
f. Aspek Ekonomi Sosial
Aspek Ekonomi sosial sebagai salah satu aspek dari lingkungan luar yang mempengaruhi keputusan investasi perlu dikaji dalam suatu studi kelayakan investasi.
g. Aspek Finansial
Dalam analisa finansial proyek dilihat dari sudut badan atau orang yang menanam modalnya dalam proyek atau yang berkepentingan langsung dalam proyek.
29 h. Aspek Dampak Lingkungan (AMDAL)
Lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan hidup yang akan menerima dampak langsung dari kegiatan investasi yang dilakukan.
2.5 Kerangka Pikir
Hutan rakyat adalah hutan yang dibangun dan dikelola oleh rakyat.
Keberadaan hutan ini biasanya berada di tanah adat, meskipun ada juga hutan yang dikelola rakyat berada di tanah negara atau kawasan hutan negara. Hutan rakyat menjadi harapan bagi kelestarian hutan pada umumnya. Salah satu cara melestarikan hutan rakyat yaitu dengan pola agroforestri.
Agroforestry adalah sistem penggunaan lahan yang mengkombinasikan tanaman hutan, tanaman pertanian atau perkebunan dan peternakan dalam waktu yang bersamaan. Salah satu Komponen penyusun agroforestry adalah agrosilvopastura dan agrisilvikultur. Agrosilvopastura adalah sistem penggunaan lahan yang mengkombinasika tanaman kehutanan, tanaman perkebunan atau pertanian dan ternak. Agrisilvikultur adalah sistem penggunaan lahan yang mengkombinasikan tanaman hutan dengan tanaman perkebunan atau pertanian.
Penelitian ini akan mengkaji tanaman hutan, tanaman perkebunan, dan peternakan. Kemudian menganalisis biaya operasional menyangkut biaya tetap dan biaya tidak tetap. Demikian pula akan menguraikan mengenai penerimaan, sehingga dari biaya dan penerimaan kita dapat menghitung keuntungan dengan menghitung Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net Benefit Cost Ratio (B/C Ratio) dan Discount Factor (DF) untuk mengetahui apakah kegiatan agroforestri secara finansial layak untuk dikembangkan.
30 Gambar 11. Diagram Kerangka Pikir
Biaya Tetap
Net Present Value (NPV)
Hutan Rakyat
Pola Agroforestry
Tanaman Perkebunan Peternakan
Pendapatan
Kelayakan Finansial Pola Agroforestri Tanaan Hutan
Agrisilvikultur
Agrosilvopastura
Biaya Tidak Tetap
Internal Rate of Return (IRR)
Benevit Cost Ratio (B/C Ratio)
Discount Factor (DF)
31
III. Metode Penelitian
3.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan penelitian ini direncanakan pada bulan November 2019 sampai dengan Januari 2020, bertempat di Dusun Kalimbua Desa Tongko Kecamatan Baroko Kabupaten Enrekang. Pemeilihan lokasi dilakukan secara sengaja (Purposive) yaitu di Desa yang mempunyai hutan rakyat yang diusahakan secara agroforestri dengan berbagai jenis tanaman kehutanan, tanaman perkebunan dan peternakan.
3.2 Objek, Subjek dan Alat Penelitian a. Objek dan Subjek penelitian
Adapun objek penelitian ini adalah Hutan Rakyat Pola Agroforestry di Dusun Kalimbua, Desa Tongko, Kecamatan Baroko, Kabupaten Enrekang. Sedangkan subjek dalam penelitian ini adalah petani.
b. Alat penelitian
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kamera, alat tulis dan kuisioner sebagai bahan acuan dalam pengumpulan data melalui proses wawancara terhadap responden.
3.3 Penentuan Sampel Responden
Responden itu sendiri adalah petani pemilik hutan rakyat pola agroforestry. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu dengan metode Purpossive Seampling. Metode pengumpulan data Purpossive Sampling, baik
32 digunakan untuk responden dan pengamatan dilapangan. Sampel responden ditentukan dari jumlah responden yaitu sebanyak jumlah pola agroforestry yakni:
1. Pola I dan pola II dengan system agrosilvopastural yakni dengan beragam jenis tanaman kehutanan bersama dengan tanaman perkebunan dan peternakan di lapangan.
Responden pola I berjumlah 3 orang petani dan pola II berjumlah 2 orang petani.
2. Pola III dan pola IV dengan agrosilvikultur dengan beragam jenis tanaman kehutanan bersama dengan tanaman perkebunan di lapangan. Pola III dengan responden 5 orang petani dan pola IV dengan responden 1 orang petani.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh melalui wawancara menggunakan kuisioner dan pengamatan dilapangan. Data sekunder meliputi data statistik untuk memperoleh informasi seperti data keadaan umum lokasi penelitian dari kantor Desa dan pemerintahan/instansi.
3.5 Analisis Data
Data yang terkumpul dianalisis melalui analisis kelayakan finansial hutan rakyat pola agroforestri berdasarkan data biaya dan pendapatan. Kriteria investasi yang digunakan yaitu nilai Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR) dan Benefit Cost Ratio (B/C Ratio). Usaha hutan rakyat pola agroforestri
33 diprioritaskan pelaksanaannya (kelayakan), apabila nilai NPV>0, BCR>1 dan IRR lebih besar dari suku bunga yang berlaku (Gray et al., 2007).
Adapun rumus-rumus yang digunakan dalam analisis finansial tersebut sebagai berikut:
1. Net Present Value (NPV)
Kriteria penilaian untuk Net Present Value (NPV) adalah sebagai berikut (Kusumedi dkk, 2010):
a. jika NPV > 0, maka usaha yang dijalankan layak untuk dilaksanakan;
b. Jika NPV< 0, maka usaha yang dijalankan tidak layak untuk dilaksanakan;
c. Jika NPV = 0, maka usaha yang dijalankan tidak rugi dan tidak untung.
NPV
∑
( )Keterangan:
NPV = Net Present Value
Bt = Manfaat yang dipeoleh setiap tahun Ct = Biaya pada tahun ke t
i = Tingkat bunga berlaku (Diskon Rate) yang ditetapkan t = Periode/tahun ke...
n = Jumlah tahun 2. Internal Rate of Return (IRR)
Kriteria penilaian dari Internal Rate of Return (IRR) adalah sebagai berikut (Kusumedi dkk, 2010):
a. Jika IRR = tingkat suku bunga berlaku, maka usaha tidak dapat mendapatkan untung atau rugi.
b. Jika IRR < tingkat suku bunga berlaku, maka usaha tersebut tidak layak diusahakan.
34 c. Apabila IRR > tingkat suku tingkat bunga berlaku, maka usaha tersebut
layak untuk diusahakan.
IRR = i1 + (
– ) (i2 – i1) Keterangan:
IRR = Internal Rate of Return NPV = Net Present Value
i2 = Diskon faktor (tingkat suku bunga) pertama di mana diperoleh NPV negative
i1 = diskon faktor (tingkat suku bunga) pertama di mana diperoleh NPV positif
3. Benefit-Cost Ratio (B/C Ratio)
Kriteria penilaian dari Net Benefit Cost Ratio (Net B/C Ratio) sebagai berikut (Nadeak dkk, 2013):
a. Jika Net B/C Ratio > 1, maka investasi layak karena memberikan keuntungan.
b. Jika Net B/C < 1, maka investasi tidak layak diusahakan karena setiap pengeluaran akan menghasilkan penerimaan yang lebih kecil dari pengeluaran.
c. Jika Net B/C = 1, berarti usaha tidak untung dan tidak rugi.
B/C Ratio =
∑
( )
∑ ( )
Keterangan:
BCR = Benefit Cost Rasio
Bt = Manfaat (Benefit) pada tahun ke-t Ct = Biaya (Cost) pada tahun ke-t 4. Discount Factor (DF)
DF =
∑
( )
35 Keterangan:
i = Tingkat bunga berlaku (Diskon Rate) yang ditetapkan t = Periode/tahun ke...
n = Jumlah tahun
36
IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN
4.1 Geografis dan Demografi 4.1.1 Geografis
Desa Tongko merupakan Desa yang berada di Kecamatan Baroko Kabupaten Enrekang Provinsi Sulawesi Selatan. Desa Tongko terletak ± 40 Km dari Ibukota Kabupaten Enrekang, dan 2 Km dari Ibukota Kecamatan Baroko denga luas wilayah 9,14 Km2,dengan batas-batas sebagai berikut:
a. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Masalle b. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Baroko
c. Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Benteng Alla’ Utara d. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Masalle 4.1.2 Iklim
Keadaan iklim di Desa Tongko terdiri dari musim hujan dan kemarau.
Dimana musim hujan biasanya terjadi antara Bulan November sampai dengan April, musim kemarau anatara Bulan Mei sampai dengan Oktober.
4.2 Keadaan Sosial, Ekonomi dan Budaya 4.2.1 Penduduk
Desa Tongko terletak di Kecamatan Baroko, Kabupaten Enrekang dengan jumlah penduduk sebanyak ± 2.941 jiwa, laki-laki sebanyak 1.489 jiwa dan perempuan sebanyak 1.452 jiwa dengan jumlah 784 Kepala Keluarga. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini:
37 Tabel 1. Jumlah Penduduk Sesuai Dengan Dusun/Lingkungan
No Nama Dusun Jumlah Jiwa
Kepala Keluarga
L P Total
1 Dusun Bubun Bia 306 206 512 176
2 Dusun Rano 145 325 470 157
3 Dusun Buntu Dea 477 417 894 210
4 Dusun Pasak Dalle 154 139 293 77
5 Dusun Kalimbua 407 365 772 164
Jumlah 1.489 1.452 2.941 784
Sumber: KantorDesa Tongko, 2019 4.2.2 Tingkat Pendidikan
Sistem pengetahuan wilayah Desa Tongko walaupun jauh dari ibu kota kabupaten akan tetapi masyarakat Desa Tongko adalah masyarakat yang ingin maju. Masyarakat Desa Tongko terbuka dan menerima segala informasi dan teknologi yang masuk ke daerahnya.
4.2.3 Mata Pencaharian
Mata pencaharian masyarakat Desa Tongko antara lain yaitu petani, pedagang, PNS (Pegawai Negeri Sipil), honorer, karyawan, karyawan swasta dan sopir. Akan tetapi masyarakat Desa Tongko lebih banyak mata pencaharianya sebagai petani. Masyarakat memanfaatkan lahan-lahan yang ada untuk ditanami baik tanaman jangka panjang (perkebunan) maupun tanaman semusim (pertanian). Masyarakat juga sebagian memelihara ternak.
4.2.4 Agama dan Kondisi Sosial Masyarakat
Sebagian besar masyarakat Desa Tongko beragama islam dan selebihnya beragama kristen. Mengenai kegiatan sosial yang dilakukan masyarakat berupa gotong royong. Masyarakat Desa Tongko memiliki sifat gotong royong yang tinggi untuk saling membantu dalam pertanian, pembangunan.
38 4.2.5 Sarana dan Prasarana Desa
Desa Tongko memiliki sarana dan prasarana umum yaitu Kantor Desa, Masjid, dan Sekolah, dan pada sektor kesehatan Desa Tongko memiliki sarana berupa pustu.
4.3 Pembagian Wilayah Desa
Desa Tongko terbagi atas 5 Dusun yaitu Dusun Bubun Bia, Dusun Rano, Dusun Buntu Dea, Dusun Pasak Dalle dan Dusun Kalimbua. Jumlah penduduk Desa Tongko sebanyak ± 2.941 jiwa, laki-laki berjumlah 1.489 jiwa dan perempuan 1.452 jiwa dengan jumlah 784 Kepala Keluarga.
39
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Deskripsi Tipe Agroforestry di Dusun Kalimbua Desa Tongko Kecamatan Baroko Kabupaten Enrekang
Agroforestry merupakan kombinasi antara aneka jenis pepohonan dengan tanaman semusim dengan/tanpa ternak atau hewan. Salah satu model pertanian berkelanjutan yang tepat guna, sesuai dengan keadaan petani yaitu dengan sistem agroforestry. Pengembangan pertanian komersial khususnya tanaman semusim, menuntut terjadinya perubahan sistem produksi secara total menjadi sistem monokultur dengan masukan energi, modal, dan tenaga kerja dari luar yang relatif besar yang tidak sesuai untuk kondisi petani.
Pengelolaan pola agroforetry tanaman pertanian atau perkebunan dan tanaman kehutanan di Dusun Kalimbua, Desa Tongko, Kecamatan Baroko, Kabupaten Enrekang merupakan salah satu hasil pertanian sebagai peningkat perekonomian masyarakatnya yang bermata pencaharian sebagai petani. Sistem pengelolaan pola agroforestry yang digunakan adalah agrosilvopastural dan agrisilvikultur.
1. Agrosilvopastural
Sistem agrosilvopastural adalah pengombinasian komponen berkayu (kehutanan) dengan perkebunan atau prtanian dan sekaligus peternakan pada unit manajemen lahan yang sama. Pengembangan agrosilvopastural dapat memperluas wilayah tutupan lahan sehingga dapat memperkecil laju erosi tanah.
Sistem agrosilvopastural yang dikembangkan petani di Dusun Kalimbua, Desa Tongko, Kecamatan Baroko, Kabupaten Enrekang yakni kombinasi tanaman
40 kayu (kehutanan) dengan pekebunan (tanaman jangka panjang) dan peternakan yang dikandangkan pada lahan yang sama.
2. Agrisilvikultur
Agrisilvikultur adalah sistem agroforestry yang mengkombinasikan tanaman kehutanan dengan tanaman pertanian atau perkebunan. Agrosilvikultur merupakan pola penggunaan lahan yang terdiri atas kombinasi tanaman pertanian dengan tanaman kehutanan dalam ruang dan waktu yang sama.
Sistem agrisilvikultur yang dikembangkan petani di Dusun Kalimbua, Desa Tongko, Kecamatan Baroko, Kabupaten Enrekang adalah kombinasi tanaman kayu (kehutanan) dengan tanaman perkebunan (tanaman jangka panjang) di lahan yang sama.
5.2 Biaya Pengelolaan Agroforestry di Dusun Kalimbua, Desa Tongko, Kecamatan Baroko, Kabupaten Enrekang
Biaya pengelolaan merupakan biaya yang besarnya ditentukan oleh jumlah produk yang diprosuksi. Biaya pengelolaan terdiri dari biaya tetap (Fixet Cost), biaya tidak tetap (Variabel Cost) dan biaya total (Total Cost).
Biaya pengelolaan pola agroforetry di Dusun Kalimbua, Desa Tongko, Kecamatan Baroko, Kabupaten Enrekang merupakan salah satu hasil perkebunan sebagai peningkat perekonomian masyarakatnya yang bermata pencaharian sebagai petani.