• Tidak ada hasil yang ditemukan

Filsafat Pendidikan Hakekat Tujuan Pendidikan

N/A
N/A
Khilmi Zuhroni

Academic year: 2024

Membagikan "Filsafat Pendidikan Hakekat Tujuan Pendidikan"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

1

HAKEKAT TUJUAN PENDIDIKAN

Oleh : Khilmi Zuhroni

Disampaikan Pada Mata Kuliah Filsafat Pendidikan

STKIP MUHAMMADIYAH SAMPIT

2019

(2)

2

HAKIKAT TUJUAN PENDIDIKAN

A. Pendahuluan

Manusia adalah makhluk yang dapat berkembang dan berproduksi. Proses produksi manusia tidak hanya secara kuantitatif tapi juga harus secara kualitatif. Agar perkembangan manusia menjadi manusia itu manusiawi dibutuhkan upaya humanisasi. Ada pendapat mengatakan bahwa salah satu upaya untuk memanusiakan manusia adalah melalui proses pendidikan.

Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial, jadi dalam kehidupannya dia selalu berinteraksi dengan manusia yang lainnya.

Upaya humanisasi manusia melalui proses pendidikan melibatkan banyak manusia lainnya. Di rumah yang berperan besar adalah orang tua. Di sekolah yang berperan besar adalah para guru, sedangkan di lingkungan masyarakat yang berperan dalam pendidikan adalah teman pergaulannya.

Selain itu faktor individu juga berperan juga menentukan hasil dari upaya tersebut.

Manusia tidak bisa lepas dari pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu sektor penting dalam pembangunan di setiap negara. Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas dalam pasal 1 disebutkan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, mengembangkan segala potensi yang dimiliki peserta didik melalui proses pembelajaran.

(3)

3

Dalam pasal 4 dijelaskan bahwa peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu. Dengan demikian pendidikan adalah segala daya upaya dan semua usaha untuk membuat masyarakat dapat mengembangkan potensi peserta didik agar memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, berkepribadian, memiliki kecerdasan, berakhlak mulia, serta memiliki keterampilan yang diperlukan sebagai anggota masyarakat dan warga Negara.

Bendara Raden Tumenggung Harya Suwardi Soerjaningrat yang lebih dikenal dengan nama Ki Hadjar Dewantara (1961: 2) mengatakan dalam bukunya bahwa usaha-usaha pendidikan (tari) ditujukan pada (a) halusnya budi, (b) cerdasnya otak dan (c) sehatnya badan. Ketiga usaha itu akan menjadikan lengkap dan laras bagi manusia. Dengan demikian pendidikan merupakan usaha untuk membentuk manusia yang utuh lahir dan batin, yaitu cerdas, sehat, dan berbudi pekerti luhur.

Ki Hadjar Dewantara juga menegaskan bahwa pendidik harus memiliki konsep 3 kesatuan sikap yang utuh, yakni ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani.

Pengertiannya, bahwa sebagai pendidik harus mampu menjadi tauladan bagi peserta didiknya, pendidik juga mampu menjaga keseimbangan, juga dapat mendorong, dan memberikan motivasi bagi peserta didiknya.

Trilogi pendidikan ini diserap sebagai konsep “kepemimpinan Pancasila”. Menurut Syah dalam Chandra (2009: 33) dikatakan bahwa pendidikan berasal dari kata dasar “didik” yang mempunyai arti memelihara dan memberi latihan. Kedua hal tersebut memerlukan adanya ajaran, tuntunan, dan pimpinan tentang kecerdasan pikiran. Pengertian pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan perilaku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.

(4)

4

Dengan melihat definisi tersebut, sebagian orang mengartikan bahwa pendidikan adalah pengajaran karena pendidikan pada umumnya membutuhkan pengajaran dan setiap orang berkewajiban mendidik.

Secara sempit mengajar adalah kegiatan secara formal menyampaikan materi pelajaran sehingga peserta didik menguasai materi ajar.

B. Pembahasan

1. Hakikat pendidikan

Pendidikan adalah proses pembelajaran sebagai upaya untuk mengembangkan aktivitas dan kreativitas peserta didik dengan interaksi yang menghasilkan pengalaman belajar. Di Indonesia menginginkan pendidikan yang lebih baik, hal inilah yang melatar belakangi terjadinya pergantian kurikulum secara terus-menerus.

Hakekat pendidikan Secara formal pendidikan itu dilaksanakan sejak usia dini sampai perguruan tinggi. Adapun secara hakiki pendidikan dilakukan seumur hidup sejak lahir hingga dewasa. Waktu kecil pun dalam UU 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pendidikan anak usia dini yang nota bene anak-anak kecil sudah didasari dengan pendidikan yang mengajarkan nilai-nilai moral yang baik agar dapat membentuk kepribadian dan potensi diri sesuai dengan perkembangan anak. Dalam PP 27 tahun 1990 bab 1 pasal 1 ayat 2, disebutkan bahwa sekolah untuk peserta didik yang masih kecil adalah salah satu bentuk pendidikan pra sekolah yang menyediakan program pendidikan dini bagi anak usia 4 tahun sampai memasuki pendidikan dasar (Harianti, 1996:

12).

Di samping itu terdapat 6 fungsi pendidikan (Depdiknas 2004: 4), yaitu:

1) Mengenalkan peraturan dan menanamkan disiplin kepada anak.

2) Mengenalkan anak pada dunia sekitarnya.

3) Menumbuhkan sikap dan perilaku yang baik.

(5)

5

4) Mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi.

5) Mengembang ketrampilan, kreativitas, dan kemampuan yang dimiliki anak.

6) Menyiapkan anak untuk memasuki pendidikan dasar.

Dari beberapa uraian di atas inilah, maka pendidikan yang menanamkan nilai-nilai positif akan tepat dimulai ketika anak usia dini.

Dengan demikian pendidikan bagi peserta didik yang masih kecil merupakan landasan yang tepat sebelum masuk pada pendidikan yang lebih tinggi. Pendidikan anak usia dini merupakan pendidikan awal yang sesuai dengan tujuan untuk mengembangkan sosialisasi anak, menumbuhkan kemampuan sesuai dengan perkembangannya, mengenalkan lingkungan kepada anak, serta menanamkan disiplin, karena secara tidak langsung dapat menanamkan atau mentransfer nilai- nilai moral dan nilai sosial kepada anak.

Jadi dari uraian konsep pendidikan seperti tersebut dalam pendahuluan, dapat dipahami makna dan kepentingan pendidikan secara hakiki bagi manusia. Pendidikan bagi manusia dapat diuraikan sebagai berikut.

1) Manusia sebagai makhluk Tuhan.

2) Manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

3) Manusia secara kodrati memiliki potensi yang dibawa sejak lahir.

4) Manusia merupakan suatu proses.

5) Manusia sebagai makhluk individu.

Dapat disimpulkan bahwa hakekat pendidikan adalah pendidikan untuk manusia dan dapat diperoleh selama manusia lahir hingga dewasa.

Manusia mengusahakan proses yang terus menerus. Manusia melakukan rekonstruksi pengalaman dan sekaligus merupakan proses pertumbuhan

(6)

6

yang mengarah ke pertumbuhan selanjutnya. Hal ini disebut proses of continues reconstruction of expressi.

Relevansi tersebut merupakan tuntutan sejak kecil, remaja, hingga dewasa. Masa relevansi juga sejak di pendidikan dasar sampai perguruan tinggi, dan masa dunia kerja. Masa relevansi itu terus menerus secara kontinuitas.

Masa penyesuaian diri adalah masa fleksibilitas luwes yang disesuaikan dengan kebutuhan diri pada masanya. Artinya manusia harus bisa dan mampu serta mau menyesuaikan dengan keadaan lingkungannya. Lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, desa, kota.

Manusia juga harus menyesuaikan diri dengan segala situasinya, berpendidikan ataukah kurang perpendidikan, miskin atau kaya.

Di samping itu juga ia harus menyesuaikan diri dengan tempat atau penyesuaiakan diri secara geografis. Cita-cita manusia itu harus sesuai dengan tanggung jawab manusia dan pendidikannya, baik pendidikan formal maupun pendidikan masyaraka/lingkungan.

1) Manusia terlahir dengan ketidakberdayaan 2) Manusia memiliki kelebihan dan kekurangan

3) Manusia memiliki potensi yang seharusnya dapat berkembang tetapi punya kelemahan

4) Proses memanusia-kan dirinya sendiri sebagai manusia 5) Pendidikan sepanjang hayat

6) Pemenuhan jati diri meliputi: kematangan (kedewasaan) biologis, psikologis, paedagogis dan sosiologis.

7) Manusaia memiliki upaya sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui bimbingan pengajaran agar menguasai kemampuan sesuai dengan peran yang harus dimainkan manusia.

(7)

7 2. Tujuan dan Dasar Pendidikan

Pengertian Tujuan Pendidikan : Dalam setiap kegiatan yang disadari pelaksanaannya, memerlukan tujuan yang diharapkan.

Pendidikan sebagai sebuah usaha sadar tentunya memerlukan tujuan yang dirumuskan. Karena tanpa tujuan, maka pelaksanaan pendidikan akan kehilangan arah. Tujuan pendidikan dijadikan sebagai sebuah pedoman bagaimanakah proses pendidikan seharusnya dilaksanakan, dan hasil apa yang diharapkan dalam proses pendidikan.

Setiap kegiatan yang terencana, pendidikan memiliki kejelasan tujuan yang ingin dicapai. Sulit dibayangkan dalam benak, jika ada suatu kegiatan tanpa memiliki kejelasan tujuan. Demikian pentingnya tujuan tersebut tidak mengherankan jika dijumpai banyak kajian yang sungguhsungguh di kalangan para ahli mengenai tujuan tersebut.

Berbagai buku yang mengkaji pendidikan senantiasa berusaha merumuskan tujuan baik secara umum dan secara khusus.

a. Tujuan

Secara bahasa tujuan adalah arah, haluan, jurusan, maksud. Suatu contoh adalah ketika orangtua menyekolahkan anaknya agar menjadi cerdas dan berakhlaq, maka tujuan dia mendidik anaknya ke sekolah adalah untuk hal tersebut. Dalam skala yang lebih besar pendidikan diatur oleh pemerintah baik sistem maupun managemennya.

Di indonesia berdasarkan undang-undang nomor 2 tahun 1989 disebutkan bahwa pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan mannusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan,kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggungjawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

(8)

8

Contoh lain tujuan pendidikan yang dipegang oleh negara adalah konsep tujuan pendidikan di Amerika yang di keluarkan pada tahun 1989 juga.

Mereka menggunakan, konsep "clear, concise, target" untuk menyusun tujuan pendidikan mereka. Dalam konsep ini adalah bahwa tujuan pendidikan itu harus jelas, ada kontroling dalam pelaksanaannya serta hasil yang akan dicapai dalam waktu tertentu.

Ide tentang hal ini sebelumnya sudah dikritik sekali oleh Ivan Illich, dengan ide “de-sekolah-isasi masyarakat” , karena pendidikan di Amerika telah mengharuskan sekolah menjadi satu-satunya tempat belajar dan hanya kebanyakan melahirkan output akademik dengan biaya yang sangat mahal.

Dalam bertahan hidup seseorang harus belajar dimanapun dan kapanpun dan tidak harus dalam kerangkeng bangku sekolah. Karena itulah Illich mengusulkan untuk bebas dari sekolah formal.

Pendidikan dimanapun dan kapanpun pada esensinya adalah sama.

Hal ini di ungkapakan oleh Robert Maynard Hutchins yaitu bahwa : Satu tujuan pendidikan adalah mengeluarkan unsur-unsur kemanusiaan yang sama dalam diri kita. Unsur unsur itu pada dasranya tidak berbeda meski tempat dan waktunya berlain-lainan.

Jadi, anggapan bahwa manusia harus dididik untuk hidup di tempat atau di zaman tertentu, menyesuaikan manusia dengan lingkungan tertentu, adalah gagasan asing dan tidak sesuai dengan konsepsi pendidikan sejati.

b. Dasar

Tujuan pendidikan menurut UU No. 2 Tahun 1985 adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia yang seutuhnya, yaitu bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, memiliki pengetahuan, sehat jasmani dan rohani, memiliki budi pekerti luhur,

(9)

9

mandiri, kepribadian yang mantap, dan bertanggung jawab terhadap bangsa.

3. Tujuan Pendidikan Nasional

Tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi siswa agar dapat berpikir secara rasional, dan berakhlak mulia dalam kaitannya dengan nilai-nilai Pancasila, yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran, kebaikan, keindahan, dan religius, serta konstruktif dan kreatif agar mampu bertanggung jawab untuk memajukanbangsa Indonesia dalam menyesuaikan diri dengan tuntutan masyarakat modern didasarkan pada demokrasi dan keadilan.

Tujuan Pendidikan Nasional Kemudian tujuan pendidikan nasional Indonesia sesuai dengan undang-undang No. 20 tahun 2003 yaitu, Pendidikan diupayakan dengan berawal dari manusia apa adanya (aktualisasi) dengan mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang apa adanya (potensialitas), dan diarahkan menuju terwujudnya manusia yang seharusnya atau manusia yang dicita-citakan (idealitas).

Tujuan pendidikan itu tiada lain adalah manusia yang beriman dan bertaqwa kapada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, cerdas, berperasaan, berkemauan, dan mampu berkarya; mampu memenuhi berbagai kebutuhan secara wajar, mampu mngendalikan hawa nafsunya;

berkepribadian, bermasyarakat dan berbudaya. Implikasinya, pendidikan harus berfungsi untuk mewujudkan (mengembangkan) berbagai potensi yang ada pada manusia dalam konteks dimensi keberagaman, moralitas, moralitas, individualitas/personalitas, sosialitas dan keberbudayaan secara menyeluruh dan terintegrasi. Dengan kata lain, pendidikan berfungsi untuk memanusiakan manusia.

Dalam hal ini pendidikan diharapkan mampu mengembangkan wawasan anak terhadap ideologi, politik, agama, ekonomi, sosial, budaya, dan pertahanan secara tepat dan benar, sehingga dapat membawa kemajuan individu, masyarakat dan negara guna menciptakan

(10)

10

pembangunan nasional. Pemahaman terhadap aspek-aspek demikian tidak boleh menyimpang dari tujuan dan kerangka pembangunan nasional. Jika, pembangunan nasional bertujuan untuk menciptakan pembangunan manusia Indonesia yang berilmu pengetahuan berteknologi dan beriman bertaqwa, pendidikan nasional tentunya harus berupaya untuk menuju ke arah pembangunan tersebut (Idi. 2014:71).

C. Kesimpulan

Hakikat pendidikan, adalah proses pembelajaran sebagai upaya untuk mengembangkan aktivitas dan kreativitas peserta didik dengan interaksi yang menghasilkan pengalaman belajar. Tujuan Pendidikan,dalam setiap kegiatan yang disadari pelaksanaannya, memerlukan tujuan yang diharapkan. Pendidikan sebagai sebuah usaha sadar tentunya memerlukan tujuan yang dirumuskan.

Tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi siswa agar dapat berpikir secara rasional, dan berakhlak mulia dalam kaitannya dengan nilai-nilai Pancasila, yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran, kebaikan, keindahan, dan religius, serta konstruktif dan kreatif agar mampu bertanggung jawab untuk memajukanbangsa Indonesia dalam menyesuaikan diri dengan tuntutan masyarakat modern didasarkan pada demokrasi dan keadilan. Keempat nya memiliki pengertian masing-masing namun mempunyai keterkaitan.

(11)

11

Daftar Pustaka

Idi, Abdullah. 2001. The Conditions For Learning at University: A Comparasion Between Indonesia and Tasmania, Australia.

Palembang: Unsri Pers.

Idi, Abdullah. 2014. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers.

Lickona, Thomas. 2013. Pendidikan Karakter. Bandung: Nusa Media.

Mulyasa. 2008. Menjadi Guru Profesional: Menciptakan Pembelajaran Kreatif Dan Menyenangkan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mulyasa. 2012. Manajemen pendidikan karakter. Jakarta: Bumi aksara.

Mulyasa. 2012. Manajemen Pendidikan Karakter. Jakarta: Bumi Aksara.

S. Nasution. 2009. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara Pers.

Sastrawijaya, A.Tresna. 1991. Pengembangan Program Pembelajaran.

Jakarta: Rineka Cipta.

Referensi

Dokumen terkait

Deskripsi Mata Kuliah : Mata kuliah ini membahas tentang konsep dasar filsafat dan filsafat pendidikan, tiga landasan utama filsafat pendidikan, landasan filsafati

Kompetensi yang diharapakan dari mata kuliah ini adalah (1) Mahasiswa mampu mendeskripsikan hakekat filsafat dan filsafat pendidikan; (2) Mahasiswa mampu menunjukkan hubungan

Pada hakikatnya filsafat pendidikan islam adalah sebuah bahasan yang menarik untuk di bahas, yang mana ini di karenakan filsafat pendidikan islam itu sendiri bisa

Teks ini membahas tentang filsafat dalam pendidikan jasmani dan

Makalah ini membahas dinamika filSAFAT HUKUM di

Makalah ini membahas tentang hakikat pendidikan dan ilmu

Makalah ini membahas sejarah perkembangan pemikiran filsafat Yunani dan pengaruhnya terhadap perkembangan filsafat Islam, serta dampaknya terhadap peradaban dan ilmu

6 KESIMPULAN Filsafat pendidikan merupakan disiplin ilmu yang membahas dasar, metode, dan tujuan pendidikan melalui tiga aspek utama: ontologi, epistemologi, dan aksiologi.. Ontologi