• Tidak ada hasil yang ditemukan

I N F O R M a S I P E R K R E D I T a N L E M B a G a P E N G ... - Sikepo

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "I N F O R M a S I P E R K R E D I T a N L E M B a G a P E N G ... - Sikepo"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

Mengolah data kredit dan/atau data lain

LPIP

Informasi Perkreditan

Ritel Komersial

UMKM Ditetapkan OJK

LPIP

Persetujuan Prinsip

Izin Usaha

Permohonan Permohonan

Pelaksanaan Usaha Laporan

kepada OJK

Data Kredit dari OJK

Kerjasama dengan Lembaga Keuangan atau Non Lembaga

Keuangan Penghimpunan Pengolahan Pendistribusian

Pihak yang dapat memperoleh

melakukan pengawasan terhadap LPIP

LEMBAGA PENGELOLA

INFORMASI PERKREDITAN

POJK NO 42/POJK.03/2019

Menghimpun data kredit dan/atau data lain

Data Kredit: kondisi fasilitas penyediaan dana, pembiayaan dari LJK Non Bank, dan fasilitas lain

Data Lain: menggambarkan kemampuan pihak tertentu dalam memenuhi kewajiban keuangan

KATEGORI DEBITUR/NASABAH ISI INFORMASI PERKREDITAN Kelayakan

Rekam jejak reputasi Kemampuan

Karakter

Informasi lain untuk menilai kemampuan Debitur/Nasabah

Memiliki Izin Usaha dari OJK Badan Hukum Perseroan Terbatas

Modal disetor minimal Rp50 Miliar (bukan pinjaman)

Pemegang Saham berbentuk badan hukum Indonesia

Kepemilikan masing-masing pemegang saham maksimal 51%

dari Modal Disetor Direksi dan Dewan Komisaris

harus memenuhi syarat integritas, kompetensi, dan reputasi keuangan

Jumlah anggota Direksi paling sedikit 3 orang

Jumlah anggota Dewan

Komisaris paling sedikit 2 orang

60 Hari Kerja Berlaku 18 Bulan 80 Hari Kerja Maks 60

Hari Kerja*

10 Hari Kerja

*Jika setelah melewati batas waktu 60 Hari Kerja LPIP belum melaksanakan kegiatan usaha, izin usaha menjadi tidak berlaku.

PERIZINAN LPIP SYARAT

SUMBER DATA PENGELOLAAN DATA

Antara lain mencakup:

INFORMASI PERKREDITAN Lembaga Keuangan anggota LPIP

Non Lembaga Keuangan yang menjadi sumber data LPIP LPIP lain

Debitur atau Nasabah Pihak lain

SANKSI PELAPORAN

LAPORAN

Laporan Bulanan (statistik data LPIP)

Laporan Semesteran (laporan keuangan LPIP)

Laporan Tahunan (informasi umum, laporan keuangan, dll) Rencana Bisnis Tahunan

Laporan Insidentil

Denda keterlambatan penyampaian laporan

SANKSI ADMINISTRATIF Teguran tertulis

Denda Penghentian layanan Pencabutan izin usaha

(2)

RINGKASAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN

Ketentuan: Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 42/POJK.03/2019 Tentang Lembaga Pengelola Informasi Perkreditan

Berlaku: 31 Desember 2019

Ringkasan:

POJK Nomor 42/POJK.03/2019 tentang Lembaga Pengelola Informasi Perkreditan (POJK LPIP) merupakan konversi dari Peraturan Bank Indonesia No.15/1/PBI/2013 tentang Lembaga Pengelola Informasi Perkreditan. Beberapa penyesuaian pada POJK LPIP, antara lain:

a. Perubahan frasa Bank Indonesia menjadi Otoritas Jasa Keuangan.

b. Perubahan frasa “sanksi kewajiban membayar” menjadi “sanksi administratif berupa denda”.

c. Perubahan terminologi yang sebelumnya menggunakan Bahasa Inggris menjadi Bahasa Indonesia, seperti disaster recovery plan, audit trail, server, end user computing menjadi rencana pemulihan bencana, jejak audit, peladen, komputasi pengguna akhir.

d. Perubahan Konstruksi Pasal-Pasal mengenai Sanksi

e. Mengubah kata “wajib” menjadi “harus” untuk norma yang sifatnya persyaratan (tidak ada sanksi) dan sebaliknya.

f. Penyesuaian definisi “Penyediaan Dana” menjadi “Fasilitas Penyediaan Dana” sesuai dengan POJK No.18/POJK.03/2017 tentang Pelaporan dan Permintaan Informasi Debitur melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan.

g. Penyesuaian definisi “Lembaga Keuangan” sesuai dengan tata cara penyusunan peraturan perundang-undangan.

h. Penyelarasan pengaturan jabatan rangkap untuk anggota Direksi dan/atau anggota Dewan Komisaris baik tenaga kerja asing dengan non tenaga kerja asing.

i. Penyesuaian mekanisme pencabutan izin usaha LPIP baik secara self liquidation maupun pencabutan izin usaha oleh OJK.

Pokok-pokok pengaturan dalam POJK ini adalah sebagai berikut:

1. Bentuk kegiatan usaha LPIP adalah menghimpun dan mengolah data kredit dan/atau data lainnya untuk menghasilkan informasi perkreditan. Informasi perkreditan yang dihasilkan memuat kelayakan Debitur atau Nasabah untuk memperoleh Fasilitas Penyediaan Dana;

rekam jejak reputasi Debitur atau Nasabah dalam memenuhi kewajiban penyediaan dana;

kemampuan Debitur atau Nasabah untuk memenuhi kewajiban penyediaan dana; karakter Debitur atau Nasabah; dan informasi lain yang dapat digunakan untuk menilai kemampuan Debitur atau Nasabah.

2. Pengaturan mengenai kelembagaan Lembaga Pengelola Informasi Perkreditan, antara lain:

a. Pendirian Lembaga Pengelola Informasi Perkreditan.

b. Setoran modal pendirian dan penambahan modal disetor.

c. Persyaratan calon pemegang saham dan perubahan komposisi pemegang saham.

d. Persyaratan dan proses pengajuan calon Direksi dan Dewan Komisaris serta perubahan susunan kepengurusan.

e. Penggunaan Tenaga Kerja Asing.

f. Penggabungan, Peleburan atau Pengambilalihan.

g. Penghentian dan Pencabutan Izin Usaha.

3. Hak LPIP adalah dapat menghimpun serta mengolah Data Kredit dan Data Lain untuk menghasilkan Informasi Perkreditan. Sedangkan kewajiban LPIP adalah menjaga akurasi,

(3)

keterkinian, keamanan, dan kerahasiaan data; memiliki sistem yang andal; memiliki kebijakan dan prosedur operasional yang dituangkan dalam pedoman tertulis; dan.

memiliki pedoman yang harus dipatuhi oleh setiap pihak yang menggunakan Informasi Perkreditan.

4. Pengelolaan data oleh LPIP yang mencakup antara lain sumber data, pengeloaan dan pemanfaatan data, pengkinian data serta kewajiban LPIP terhadap data dan integritas data.

5. Informasi Perkreditan yang mencakup antara lain kewajiban menghasilkan Informasi Perkreditan, informasi yang dimuat pada Informasi Perkreditan, pemberian Informasi Perkreditan, dan pihak-pihak yang dapat memperoleh Informasi Perkreditan.

6. Pengawasan Lembaga Pengelola Informasi Perkreditan yang terdiri dari Pengawasan Langsung berupa pemeriksaan rutin atau insidentil, dan Pengawasan Tidak Langsung berupa laporan rutin dan laporan insidentil.

(4)

Frequently Asked Questions

POJK No.42/POJK.03/2019 Tentang Lembaga Pengelola Informasi Perkreditan

1. Apa latar belakang penerbitan POJK ini?

POJK ini diterbitkan dalam rangka penyesuaian dan harmonisasi dengan peraturan perundang-undangan lain antara lain Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 18/POJK.03/2017 tentang Pelaporan Permintaan Informasi Debitur melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan (POJK SLIK) serta penegasan kewenangan OJK terhadap pengaturan LPIP.

2. Apa saja pokok-pokok pengaturan dalam POJK ini?

POJK ini mengatur aspek perizinan dan pengawasan LPIP, serta operasional dari LPIP.

Pengaturan perizinan antara lain permodalan, kepemilikan saham, kepengurusan, serta proses perizinan yang harus dilalui oleh LPIP sebelum dapat beroperasi. Berkaitan dengan aspek pengawasan, mengatur mengenai laporan-laporan yang wajib disampaikan LPIP mengenai operasionalnya, serta jenis pengawasan yang dilakukan oleh OJK. Sedangkan yang berkaitan dengan operasional LPIP, mengatur mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan LPIP dalam kegiatan operasional, antara lain pengelolaan data/informasi, keamanan dan keakuratan data/informasi, serta perlindungan terhadap kepentingan masyarakat.

3. Apa saja persyaratan pendirian LPIP?

Pihak yang akan mendirikan LPIP harus memenuhi beberapa persyaratan antara lain:

a. Bentuk badah hukum LPIP Perseroan Terbatas;

b. Modal disetor LPIP minimal Rp50 Milyar;

c. Kepemilikan saham maksimal oleh satu pihak adalah ≤ 51%;

d. Pihak yang dapat menjadi pemegang saham LPIP adalah badan hukum Indonesia.

4. Apakah dimungkinkan LPIP dimiliki oleh pihak asing?

Pihak asing dimungkinkan dimiliki oleh pihak asing dengan memiliki badan hukum Indonesia yang memegang saham LPIP. Namun demikian, pihak asing yang akan masuk dalam industri ini wajib memiliki pengalaman mengenai informasi perkreditan.

5. Apakah anggota Direksi dapat merangkap jabatan di tempat lain?

Anggota direksi hanya dapat merangkap jabatan sebagai direktur, anggota dewan komisaris, atau pejabat eksekutif dari perusahaan, organisasi, atau lembaga yang bersifat nirlaba.

6. Apakah LPIP dapat menggunakan Tenaga Kerja Asing?

LPIP dapat memanfaatkan tenaga kerja asing dalam menjalankan kegiatan usaha untuk jabatan sebagai anggota direksi, anggota dewan komisaris, tenaga ahli atau konsultan, dengan tetap memperhatikan pengaturan pada POJK ini.

7. Apakah LPIP dapat memperoleh data dari non Lembaga Keuangan?

LPIP dapat memperoleh data Untuk memperluas dan memperkaya cakupan data secara langsung berdasarkan perjanjian dan/atau peraturan perundang-undangan.

8. Bagaimana pengaturan mengenai aspek keamanan dan keakuratan data/informasi yang dikelola LPIP?

Pengaturan agar LPIP menjaga keakuratan dan keamanan data/informasi yang dikelola, antara lain:

a. Kewajiban LPIP untuk memiliki sistem yang andal, kebijakan dan prosedur operasional, dan aturan main yang ditaati oleh pihak yang menggunakan data/informasi;

(5)

b. LPIP tidak dapat melakukan pengkinian data, kecuali untuk alasan-alasan yang telah diatur dalam POJK;

c. LPIP tidak dapat memindahkah data, baik dalam wilayah atau di luar wilayah Indonesia;

d. LPIP wajib menempatkan peladen dan pangkalan data di dalam wilayah Indonesia;

e. OJK melakukan pengawasan baik secara langsung maupun maupun tidak langsung terhadap LPIP.

(6)

PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN TENTANG

LEMBAGA PENGELOLA INFORMASI PERKREDITAN

(7)

L A T A R B E L A K A N G K O N V E R S I K E T E N T U A N

2

Sesuai Undang-Undang No.21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan (UU OJK), fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan, perizinan, dan pengawasan terhadap LPIP telah beralih dari Bank Indonesia ke OJK sejak 31 Desember 2013.

Peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang LPIP saat ini masih berupa Peraturan Bank Indonesia (PBI).

Diperlukan konversi PBI menjadi POJK untuk menegaskan kewenangan OJK terhadap pengaturan LPIP sekaligus dalam rangka harmonisasi dan penyesuaian terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku saat ini, antara lain Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 18/POJK.03/2017 tentang Pelaporan Permintaan Informasi Debitur melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan (POJK SLIK).

(8)

P O K O K – P O K O K P E R U B A H A N ( U M U M ) 3

No Hal PBI LPIP RPOJK LPIP Dasar Pertimbangan

1 Perubahan frasa Bank Indonesia menjadi Otoritas Jasa Keuangan

Bank Indonesia Otoritas Jasa Keuangan Penegasan kewenangan OJK

sesuai dengan UU OJK 2 Perubahan frasa “sanksi kewajiban

membayar” menjadi “sanksi administratif berupa denda”

Sanksi kewajiban membayar Sanksi administratif berupa denda Penyesuaian dengan UU OJK

3 Perubahan terminologi yang sebelumnya menggunakan Bahasa Inggris menjadi Bahasa Indonesia

Terdapat penggunaan terminologi dalam Bahasa Inggris seperti disaster recovery plan, audit trail, server, end user computing, dll

Terminologi dalam Bahasa Inggris dikonversi ke dalam Bahasa Indonesia menjadi rencana pemulihan bencana, jejak audit, peladen, komputasi pengguna akhir, dll

Penyesuaian dengan Peraturan Presiden (Perpres) No. 63 Tahun 2019 tentang Penggunaan Bahasa Indonesia.

4 Perubahan Konstruksi Pasal-Pasal mengenai Sanksi

Pasal-pasal mengenai sanksi dikumpulkan dalam satu bab khusus sanksi.

Pasal-pasal mengenai sanksi tersebar pada masing-masing bab yang mengatur norma.

Mengikuti tata cara penyusunan peraturan perundang-undangan sesuai dengan pola terbaru KEMENKUMHAM

5 Mengubah kata “wajib” menjadi

“harus” untuk norma yang sifatnya persyaratan (tidak ada sanksi) dan sebaliknya.

Terdapat kata wajib pada norma yang sifatnya persyaratan seperti : a. Bentuk hukum LPIP wajib berupa

perseroan terbatas.

b. Direksi dan dewan komisaris LPIP wajib memenuhi persyaratan ...dst

Diubah menjadi :

a. Bentuk hukum LPIP harus berupa perseroan terbatas.

b. Direksi dan dewan komisaris LPIP harus memenuhi persyaratan ...dst

Mengikuti tata cara penyusunan peraturan perundang-undangan

3

(9)

P O K O K – P O K O K P E R U B A H A N ( K H U S U S ) 4

No Hal PBI LPIP RPOJK LPIP Dasar Pertimbangan

1 Pengertian Penyediaan Dana (Pasal 1 angka 5 PBI LPIP)

Penyediaan Dana adalah penanaman dana lembaga keuangan baik dalam mata uang Rupiah maupun valuta asing, dalam bentuk kredit, surat berharga, penempatan,

penyertaan modal,

penyertaan modal sementara, tagihan lainnya, dan transaksi rekening administratif, serta bentuk penyediaan dana

lainnya yang dapat

dipersamakan dengan itu, termasuk pembiayaan syariah.

Fasilitas Penyediaan Dana adalah penyediaan dana yang diterima oleh Debitur, baik dalam rupiah maupun valuta asing dalam bentuk kredit atau pembiayaan, surat berharga, dan transaksi rekening administratif serta bentuk fasilitas lain yang dapat dipersamakan dengan

itu termasuk yang

berdasarkan prinsip syariah sebagaimana diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan.

Disesuaikan dengan definisi fasilitas penyediaan dana pada POJK SLIK

4

(10)

P O K O K – P O K O K P E R U B A H A N ( K H U S U S ) 5

No Hal PBI LPIP RPOJK LPIP Dasar Pertimbangan

2 Pengertian Lembaga Keuangan

(Pasal 1 angka 7 PBI LPIP)

Lembaga Keuangan adalah lembaga yang melakukan kegiatan di bidang keuangan meliputi:

Bank Umum sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 dan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, termasuk kantor cabang dari bank yang berkedudukan di luar negeri;

Bank Perkreditan Rakyat yang selanjutnya disingkat BPR sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 dan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah;

Lembaga Pembiayaan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2009 tentang Lembaga Pembiayaan;

Koperasi sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012 tentang Perkoperasian;

Perusahaan Perasuransian sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian; dan

Lembaga atau perusahaan lainnya, yang melakukan kegiatan Penyediaan Dana atau yang dapat dipersamakan dengan itu.

Lembaga Keuangan adalah lembaga yang melakukan kegiatan di bidang Keuangan.

Jenis-jenis Lembaga Keuangan dijelaskan pada bagian penjelasan pasal pada saat frasa Lembaga Keuangan yang telah didefinisikan sebelumnya digunakan untuk pertama kali.

Mengikuti tata cara penyusunan peraturan perundang-undangan sesuai dengan pola terbaru KEMENKUMHAM.

5

(11)

P O K O K – P O K O K P E R U B A H A N ( K H U S U S ) 6

No Hal PBI LPIP RPOJK LPIP Dasar Pertimbangan

3 Syarat TKA

(Pasal 14 ayat (2) PBI LPIP)

Untuk Tenaga Kerja Asing yang menjabat sebagai anggota Direksi dan/atau anggota Dewan Komisaris, selain

memenuhi ketentuan

sebagaimana dimaksud pada ayat (1), berlaku pula ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10.

Tenaga Kerja Asing yang menjabat sebagai anggota Direksi dan/atau anggota Dewan Komisaris, selain

memenuhi ketentuan

sebagaimana dimaksud pada ayat (1), berlaku pula ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 dan Pasal 11 ayat (3).

Penyelarasan dengan pengaturan jabatan rangkap untuk anggota Direksi dan/atau anggota Dewan Komisaris non TKA mengingat pengaturan rangkap jabatan untuk TKA sebagai anggota Direksi dan/atau anggota Dewan Komisaris terkesan lebih ringan dari pada yang non TKA (lokal).

Pengaturan mengenai anggota Direksi dan/atau Dewan Komisaris diatur pada pasal 10, pasal 11, dan pasal 12, yaitu:

a. Pasal 10: syarat anggota Direksi dan/atau Dewan Komisaris

b. Pasal 11: jumlah Direksi dan rangkap jabatan Direksi

c. Pasal 12: jumlah Dewan Komisaris

6

(12)

P O K O K – P O K O K P E R U B A H A N ( K H U S U S ) 7

No Hal PBI LPIP RPOJK LPIP Dasar Pertimbangan

4 Mekanisme

Pencabutan Izin Usaha oleh OJK (Pasal 74 ayat (2) PBI LPIP)

(1) Otoritas Jasa Keuangan berwenang mencabut izin usaha yang telah diberikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) huruf b dengan menerbitkan surat keputusan, apabila:

a. LPIP melakukan pelanggaran ketentuan dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan ini dengan sanksi berupa pencabutan izin usaha;

dan/atau

b. terdapat putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap.

(2) Pencabutan izin usaha sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) mengacu pada ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 72 ayat (2) dan Pasal 73.

Otoritas Jasa Keuangan berwenang mencabut izin usaha yang telah diberikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2) huruf b dengan menerbitkan surat keputusan, dalam hal:

a. LPIP melakukan pelanggaran ketentuan dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan ini dengan sanksi berupa pencabutan izin usaha;

dan/atau

b. terdapat putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap.

Catatan:

Pasal 17 ayat (2) huruf b PBI LPIP bergeser menjadi Pasal 18 ayat (2) huruf b RPOJK LPIP

a. Sesuai Pasal 9 UU OJK, OJK

berwenang untuk

melakukan pancabutan izin usaha.

b. Mekanisme pencabutan izin usaha oleh OJK seharusnya tidak merujuk pada pasal mengenai self liquidation.

c. Sesuai peraturan perundang-undangan tentang Perseroan Terbatas, mekanisme pencabutan izin usaha diserahkan kepada masing-masing otoritas, misalnya pencabutan izin usaha perbankan dan perasuransian.

7

(13)

P O K O K - P O K O K P E N G A T U R A N

8 Kegiatan Usaha LPIP

Kelembagaan LPIP 1

2

Perizinan LPIP 3

Perubahan Modal Disetor, Pemegang Saham, Direksi dan/atau Dewan Komisaris 4

Hak dan Kewajiban LPIP 5

Pengelolaan Data oleh LPIP 6

Informasi Perkreditan 7

Penanganan dan Penyelesaian Pengaduan 8

Pengawasan 10

Penghentian dan Pencabutan Izin Usaha 11

Ketentuan Penutup

12

(14)

P O K O K - P O K O K P E N G A T U R A N N O . 1 ( B a b I I - K e g i a t a n U s a h a L P I P )

9

Kegiatan usaha yang dilakukan oleh LPIP terdiri atas:

a. menghimpun data kredit dan/atau data lain; dan b. mengolah data kredit dan/atau data lain,

untuk menghasilkan informasi perkreditan.

Informasi perkreditan yang dihasilkan oleh LPIP dapat bersifat individual maupun agregat, yang memuat antara lain mengenai:

a. kelayakan debitur atau nasabah untuk memperoleh fasilitas penyediaan dana;

b. rekam jejak reputasi debitur atau nasabah dalam memenuhi kewajiban penyediaan dana;

c. kemampuan debitur atau nasabah untuk memenuhi kewajiban penyediaan dana;

d. karakter debitur atau nasabah; dan

e. informasi lain yang dapat digunakan untuk menilai kemampuan debitur atau nasabah.

(15)

P O K O K - P O K O K P E N G A T U R A N N O . 2 ( B a b I I I - K e l e m b a g a a n L P I P )

10

Harus berupa Perseroan Terbatas Badan

Hukum

Modal disetor untuk pendirian LPIP paling sedikit Rp50 Miliar

Sumber dana kepemilikan LPIP tidak boleh berasal dari pinjaman dan/atau dari dan untuk tujuan pencucian uang.

Modal Disetor

Pemegang saham harus BHI, yang dimiliki oleh BHI atau BHI dengan BHA secara kemitraan.

BHA harus memiliki pengalaman di industri pengelolaan informasi perkreditan.

Kepemilikan saham setiap BHI pada 1 LPIP/lebih paling tinggi 51% dari modal disetor Pemegang

Saham

Direksi dan dewan komisaris harus memenuhi persyaratan integritas, kompetensi, dan reputasi keuangan.

Jumlah anggota:

a. Direksi, paling sedikit 3 orang

b. Dewan komisaris, paling sedikit 2 orang atau paling banyak sama dengan jumlah direksi

Paling rendah 50% anggota direksi dan/atau dewan komisaris merupakan WNI.

Direksi hanya dapat rangkap jabatan pada perusahaan, organisasi, atau lembaga yang bersifat nirlaba.

Direksi dan/atau

Dewan Komisaris

(16)

P O K O K - P O K O K P E N G A T U R A N N O . 2 ( B a b I I I - K e l e m b a g a a n L P I P )

11

LPIP dapat memanfaatkan TKA hanya untuk jabatan sebagai anggota direksi, anggota dewan komisaris, tenaga ahli, atau konsultan.

Penggunaan TKA wajib mendapat persetujuan OJK.

Dalam menggunakan TKA LPIP wajib:

a. mempertimbangkan ketersediaan tenaga ahli atau konsultan lokal;

b. menyediakan 2 (dua) orang tenaga ahli atau konsultan lokal untuk mendampingi setiap TKA; dan

c. memperhatikan peraturan perundang-undangan mengenai ketenagakerjaan.

Syarat yang harus dipenuhi oleh TKA:

a. memenuhi kualifikasi keahlian;

b. tidak memiliki jabatan di Lembaga Keuangan yang berkedudukan di Indonesia atau di luar Indonesia; dan

c. memiliki pengetahuan mengenai ekonomi, bahasa, dan budaya Indonesia.

Tenaga Kerja Asing

Pelanggaran terhadap ketentuan mengenai modal disetor, pemegang saham, direksi, dewan komisaris, dan/atau TKA, dikenai:

a. teguran tertulis

b. sanksi lanjutan berupa teguran tertulis kedua, teguran tertulis ketiga, atau CIU, apabila pelanggaran terhadap ketentuan mengenai modal disetor, pemegang saham, direksi, dan/atau dewan komisaris, menyebabkan terganggunnya operasional LPIP secara signifikan.

Sanksi

(17)

P O K O K - P O K O K P E N G A T U R A N N O . 3 ( B a b I V - P e r i z i n a n L P I P )

12

Tahap Perizinan SLA % Setoran Modal Masa Berlaku

Persetujuan Prinsip 60 hari kerja 30% dari modal disetor minimum 18 bulan Izin Usaha 80 hari kerja 100% dari modal disetor minimum 60 hari kerja

(18)

P O K O K - P O K O K P E N G A T U R A N N O . 4

( B a b V - P e r u b a h a n M o d a l D i s e t o r , P e m e g a n g S a h a m , D i r e k s i d a n / a t a u D e w a n K o m i s a r i s )

13

Jenis Perubahan Persyaratan SLA Kewajiban Pelaporan

Penambahan Modal Disetor Lapor OJK - 10 hari kerja sejak penambahan Pemegang Saham Persetujuan OJK - 10 hari kerja setelah efektif

Direksi/Dewan Komisaris Persetujuan OJK 30 hari kerja 10 hari kerja setelah efektif Penggabungan, peleburan,

dan pengambilalihan (MKA) Persetujuan OJK 60 hari kerja 10 hari kerja setelah efektif Dalam hal terdapat anggota direksi dan/atau anggota dewan komisaris

yang akan berhenti dan/atau mengundurkan diri, LPIP wajib memastikan persyaratan mengenai direksi dan dewan komisaris tetap terpenuhi.

Pemberhentian dan/atau pengunduran diri anggota direksi dan/atau anggota dewan komisaris wajib dilaporkan kepada OJK paling lambat 10 hari kerja sejak tanggal efektif

Sanksi:

LPIP yang tidak memenuhi ketentuan mengenai perubahan modal disetor, pemegang saham, direksi atau dewan komisaris, dan/atau MKA, dikenai teguran tertulis

(19)

14

Sanksi:

LPIP yang tidak memenuhi ketentuan mengenai kewajiban LPIP, dikenai teguran tertulis

P O K O K - P O K O K P E N G A T U R A N N O . 5 ( B a b V I - H a k d a n K e w a j i b a n )

Dapat menghimpun serta mengolah data kredit dan data lain untuk

menghasilkan informasi perkreditan LPIP yang telah

memperoleh izin usaha

Hak Kewajiban

Menjaga akurasi, keterkinian, keamanan, dan kerahasiaan data

Memiliki sistem yang andal

Memiliki SOP

Memiliki pedoman untuk dipatuhi setiap pengguna informasi perkreditan

(20)

15

P O K O K - P O K O K P E N G A T U R A N N O . 6 ( B a b V I I - P e n g e l o l a a n D a t a )

Sumber Data Jenis Data Keterangan

OJK Data kredit (SLIK) Dikenakan biaya perolehan data

Lembaga Keuangan Data kredit (selain dari OJK) Berdasarkan perjanjian dan peraturan perundang-undangan

Non Lembaga Keuangan Data lain Berdasarkan perjanjian dan peraturan perundang-undangan

Untuk pelaksanaan tugas, OJK dapat meminta data yang diperoleh LPIP secara langsung dari lembaga keuangan dan nonlembaga keuangan

LPIP wajib melakukan upaya untuk meyakini bahwa pemanfaatan data kredit dan data lain dimaksud telah diinformasikan oleh sumber data kepada debitur atau nasabah yang bersangkutan.

Keterbukaan informasi Permintaan data oleh OJK

(21)

16

P O K O K - P O K O K P E N G A T U R A N N O . 6 ( B a b V I I - P e n g e l o l a a n D a t a )

1. Tidak terbatas pada penghimpunan, pengolahan, dan pendistribusian data.

2. Wajib berpedoman pada peraturan perundang-undangan mengenai informasi dan transaksi elektronik.

3. Wajib melakukan langkah untuk menjaga akurasi, keterkinian, keamanan, dan kerahasiaan data.

4. LPIP dilarang:

a. dengan sengaja mengubah data yang diperoleh LPIP dari sumber data; dan/atau

b. memindahkan, menyalin, dan/atau membuat dapat diaksesnya data kepada pihak lain atau oleh pihak lain, di dalam atau di luar wilayah Republik Indonesia.

5. Larangan tersebut tidak berlaku bagi LPIP dalam hal:

a. Sumber data tidak dapat melakukan pengkinian data; dan/atau

b. LPIP melaksanakan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap.

6. Larangan pemindahan data kepada LPIP lain di dalam wilayah Republik Indonesia tidak berlaku dalam hal telah didasarkan perjanjian dan telah memperoleh persetujuan dari sumber data.

7. LPIP dapat melakukan pengkinian data dalam hal sumber data:

8. LPIP wajib menempatkan peladen dan pangkalan data di dalam wilayah Republik Indonesia.

Pengelolaan data oleh LPIP

Syarat Mekanisme

CIU Permohonan tertulis dari likuidator

Secara teknis tidak mampu melakukan

pengkinian data karena sebab lain Permohonan tertulis dari sumber data atau debitur/nasabah

(22)

17

P O K O K - P O K O K P E N G A T U R A N N O . 6 ( B a b V I I - P e n g e l o l a a n D a t a )

1. LPIP dapat menggunakan jasa pihak lain untuk mendukung pelaksanaan kegiatan operasional LPIP.

2. LPIP wajib memastikan bahwa pihak lain dimaksud menerapkan prinsip pengelolaan data dan informasi perkreditan sebagaimana diatur dalam POJK ini dan ketentuan pelaksanaannya.

Pengelolaan data oleh LPIP

a. LPIP yang tidak memenuhi ketentuan mengenai pengelolaan data, dikenai sanksi teguran tertulis.

b. LPIP tidak melakukan langkah pengamanan untuk menjaga akurasi, keterkinian, keamanan, dan kerahasiaan data, dikenai sanksi:

1) teguran tertulis dan denda sebesar Rp250.000/debitur atau nasabah, dengan denda paling banyak sebesar Rp100 juta; dan/atau

2) penghentian layanan informasi perkreditan yang tidak akurat dalam jangka waktu yang ditetapkan oleh OJK.

c. menyebabkan kerugian bagi Sanksi Administratif

(23)

18

P O K O K - P O K O K P E N G A T U R A N N O . 7 ( B a b V I I I - I n f o r m a s i P e r k r e d i t a n )

1. LPIP wajib menghasilkan Informasi Perkreditan yang mempunyai nilai tambah.

2. Informasi Perkreditan dilarang memuat data yang:

a. sedang dalam proses pengaduan atau klarifikasi keakuratan;

b. tidak diketahui sumbernya;

c. tidak diketahui secara jelas identitasnya;

d. mengandung unsur suku, agama, ras dan antar golongan; dan

e. dinyatakan rahasia berdasarkan peraturan perundang-undangan lain.

3. Periode data kredit yang diolah LPIP:

a. paling singkat untuk posisi 2 tahun ke belakang terhitung sejak tanggal kondisi terkini; dan

b. khusus data kredit mengenai tunggakan, tetap diolah oleh LPIP s.d. fasilitas tersebut dilunasi atau dihapustagihkan oleh Lembaga Keuangan.

4. Informasi perkreditan wajib mencantumkan:

a. data jumlah permintaan an. debitur atau nasabah tertentu, paling singkat 1 tahun ke belakang terhitung sejak tanggal kondisi terkini; dan

b. data mengenai informasi perkreditan an. debitur atau nasabah tertentu yang menjadi obyek pengaduan, paling singkat 1 tahun sejak tanggal diselesaikannya pengaduan.

5. Jadwal retensi penyimpanan seluruh data yang dikelola oleh LPIP wajib berpedoman pada peraturan perundang- undangan mengenai dokumen perusahaan.

6. LPIP wajib menyediakan informasi perkreditan dalam Bahasa Indonesia. Dalam hal dibutuhkan, LPIP dapat menyediakan informasi perkreditan dalam bahasa lainnya.

(24)

19

P O K O K - P O K O K P E N G A T U R A N N O . 7 ( B a b V I I I - I n f o r m a s i P e r k r e d i t a n )

Pihak Tujuan Penggunaan Mekanisme Permintaan

Lembaga keuangan (anggota) a. kelancaran proses penyediaan dana untuk menilai kondisi keuangan debitur atau calon debitur

b. penerapan manajemen risiko

c. pemenuhan peraturan perundang-undangan

Perjanjian

Nonlembaga keuangan

(sumber data) a. memperlancar dan mengamankan kegiatan operasional

b. pemenuhan peraturan perundang-undangan.

Perjanjian

LPIP lain Hanya untuk pelaksanaan kegiatan usaha LPIP Perjanjian Debitur atau nasabah Hanya atas nama debitur atau nasabah yang

bersangkutan Berdasarkan tata cara yang

dipersyaratkan LPIP Pihak lain Pelaksanaan fungsi dan tugas sebagaimana dimaksud

dalam peraturan perundang-undangan Secara tertulis disertai maksud dan tujuan permintaan dan nama pejabat yang berwenang

Pihak yang dapat memperoleh informasi perkreditan

(25)

20

P O K O K - P O K O K P E N G A T U R A N N O . 7 ( B a b V I I I - I n f o r m a s i P e r k r e d i t a n )

LPIP dapat mengenakan biaya terhadap pemberian informasi perkreditan. Pengenaan biaya dimaksud tidak berlaku dalam hal permintaan diajukan:

a. untuk verifikasi pengaduan terhadap kesalahan data dalam informasi perkreditan yang telah dikoreksi;

b. untuk melaksanakan perintah dari pengadilan; dan/atau

c. oleh pihak lain dalam rangka pelaksanaan peraturan perundang-undangan.

d. Debitur atau nasabah dapat memperoleh informasi perkreditan tanpa dikenakan biaya oleh LPIP sebanyak 1 kali dalam kurun waktu 12 bulan.

Biaya perolehan informasi perkreditan

a. LPIP yang tidak memenuhi ketentuan mengenai informasi perkreditan, dikenai sanksi teguran tertulis.

b. LPIP yang berdasarkan hasil pemeriksaan OJK terbukti memberikan informasi perkreditan kepada pihak yang tidak sesuai dengan POJK ini, dikenai sanksi:

1) teguran tertulis; dan

2) denda sebesar Rp50 juta/informasi perkreditan, dengan denda paling banyak sebesar Rp1 Miliar.

Sanksi Administratif

(26)

21

P O K O K - P O K O K P E N G A T U R A N N O . 8

( B a b I X - P e n a n g a n a n d a n P e n y e l e s a i a n P e n g a d u a n )

Mekanisme Penyelesaian Pengaduan

1. LPIP wajib menindaklanjuti pengaduan yang diajukan oleh setiap pihak mengenai ketidakakuratan data pada informasi perkreditan yang dihasilkan oleh LPIP dengan melakukan penelitian atas permasalahan yang diadukan:

a. berdasarkan dokumen dan/atau data yang dimiliki oleh LPIP; atau b. berkoordinasi dengan pihak yang menjadi sumber data LPIP.

2. Dalam hal berdasarkan hasil penelitian dan koordinasi, diketahui bahwa ketidakakuratan disebabkan:

a. Ketidakakuratan hasil olahan LPIP, LPIP wajib melakukan koreksi; atau b. Ketidakakuratan data dari:

1) Lembaga keuangan anggota LPIP/nonlembaga keuangan sumber data LPIP, LPIP meneruskan pengaduan kepada lembaga tersebut, dengan tembusan OJK; atau

2) Lembaga keuangan bukan anggota LPIP, LPIP meneruskan pengaduan kepada OJK.

3. LPIP wajib memiliki kebijakan dan prosedur tertulis yang paling sedikit meliputi:

a. penerimaan pengaduan;

b. penanganan dan penyelesaian pengaduan;

c. pemantauan penanganan dan penyelesaian pengaduan; dan d. perangkat organisasi yang menangani pengaduan.

4. LPIP wajib menyelesaikan pengaduan paling lama 20 hari kerja sejak tanggal diterimanya pengaduan oleh LPIP dan dapat diperpanjang 20 hari kerja.

5. LPIP wajib menginformasikan batas waktu penyelesaian pengaduan kepada debitur atau nasabah.

6. Dalam hal pengaduan telah diselesaikan, LPIP menginformasikan hasil penyelesaian pengaduan secara tertulis dan/atau menggunakan sarana teknologi informasi sesuai permintaan debitur atau nasabah.

7. LPIP wajib memberikan tanda terhadap data dalam informasi perkreditan yang sedang dalam proses pengaduan s.d. pengaduan selesai.

8. LPIP wajib mengadministrasikan seluruh pengaduan yang diterima.

(27)

22

P O K O K - P O K O K P E N G A T U R A N N O . 8

( B a b I X - P e n a n g a n a n d a n P e n y e l e s a i a n P e n g a d u a n )

LPIP yang tidak memenuhi ketentuan mengenai penanganan dan penyelesaian pengaduan, dikenai sanksi teguran tertulis.

LPIP yang menyelesaikan pengaduan melewati batwa waktu yang ditetapkan, dikenai sanksi teguran tertulis dan denda sebesar Rp250.000/pengaduan.

(28)

23

P O K O K - P O K O K P E N G A T U R A N N O . 9 ( B a b X - P e n g a w a s a n )

• Dilakukan melalui pemeriksaan yang dilakukan secara berkala (1 tahun sekali) dan apabila diperlukan.

• Dapat dilakukan oleh pihak lain yang ditunjuk OJK.

• Cakupan pemeriksaan:

1.Teknologi yang digunakan

2.Kepatuhan terhadap peraturan perundang- undangan

3.Pengamanan data

4.Penanganan pengaduan

5.hal yang dipandang perlu OJK.

• Pemeriksaan LPIP wajib memberikan keterangan dan data yang diminta, kesempatan untuk melihat semua pembukuan, dokumen, sarana fisik terkait kegiatan usaha, dan hal lain yang diperlukan OJK.

Pengawasan Langsung

• Dilakukan melalui penelitian, analisis dan evaluasi terhadap:

1. Laporan bulanan 2. Laporan semesteran 3. Laporan tahunan

4. Rencana bisnis tahunan

5. Laporan lain yang bersifat insidentil

Pengawasan Tidak Langsung

(29)

24

P O K O K - P O K O K P E N G A T U R A N N O . 9 ( B a b X - P e n g a w a s a n )

Jenis Laporan Cakupan Batas Waktu

Penyampaian Terlambat (jika) Tidak Menyampaikan (jika)

Bulanan Data statistik total:

a. debitur/nasabah b. fasilitas

c. anggota dan sumber data

d. Permintaan informasi perkreditan e. Penanganan pengaduan

5 hari kerja setelah berakhirnya bulan laporan

Disampaikan setelah batas waktu s.d. akhir bulan

Belum disampaikan s.d.

akhir bulan

Semesteran Laporan keuangan 1 bulan setelah

periode laporan

(1 s.d. 31 Juli atau 1 s.d. 31 Januari)

Disampaikan setelah batas waktu tetapi belum melampaui 1 bulan sejak

batas waktu

penyampaian

Belum disampaikan s.d.

akhir bulan sejak batas waktu penyampaian

Tahunan a. informasi umum

b. laporan keuangan tahunan c. opini akuntan publik

d. aspek pengungkapan lain yang diwajibkan dalam SAK

tanggal 31 Mei tahun

berikutnya Disampaikan tanggal 1 s.d. 30 Juni tahun berikutnya

Belum disampaikan s.d.

tanggal 30 Juni tahun berikutnya

Rencana Bisnis

Tahunan a. kebijakan dan strategi manajemen b. proyeksi laporan keuangan dan asumsi

yang digunakan c. rencana permodalan

d. rencana pengembangan teknologi sistem informasi

e. rencana penerbitan produk dan/atau pelaksanaan aktivitas baru.

Akhir bulan November sebelum tahun

rencana bisnis tahunan dimulai

Disampaikan tanggal 1

s.d. 31 Desember Belum disampaikan s.d.

tanggal 31 Desember

(30)

25

P O K O K - P O K O K P E N G A T U R A N N O . 9 ( B a b X - P e n g a w a s a n )

Jenis Pelanggaran Jenis Laporan Sanksi Denda

Terlambat Menyampaikan Laporan Bulanan Rp100.000/hari kerja keterlambatan Semesteran Rp1 juta/hari kerja keterlambatan Tahunan Rp1 juta/hari kerja keterlambatan Rencana Bisnis Tahunan Rp1 juta/hari kerja keterlambatan Tidak Menyampaikan Laporan Bulanan Rp5.000.000/laporan

Semesteran Rp50 juta/laporan

Tahunan Rp50 juta/laporan

Rencana Bisnis Tahunan Rp50 juta/laporan Sanksi:

LPIP yang melanggar ketentuan mengenai cakupan dan batas waktu penyampaian laporan, dikenai sanksi teguran tertulis

LPIP yang dikenai sanksi karena tidak menyampaikan laporan, tetap harus menyampaikan laporan tersebut kepada OJK

(31)

26

P O K O K - P O K O K P E N G A T U R A N N O . 1 0

( B a b X I - P e n g h e n t i a n d a n P e n c a b u t a n I z i n U s a h a )

1. Permohonan LPIP (Self Liquidation)

2. CIU oleh OJK

Dalam hal:

a. LPIP melakukan pelanggaran ketentuan dalam POJK ini dengan sanksi berupa pencabutan izin usaha; dan/atau

b. terdapat putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap.

Tahapan:

a. LPIP wajib menyampaikan permohonan beserta dokumen pendukung b. Penerbitan surat pengehentian kegiatan usaha LPIP oleh OJK

c. Penyelesaian seluruh kewajiban LPIP dan pengumuman rencana pembubaran LPIP di surat kabar

d. Permohonan pencabutan izin usaha oleh LPIP wajib disertai laporan penyelesaian seluruh kewajiban LPIP

e. Penerbitan surat keputusan CIU oleh OJK dan permintaan pembubaran LPIP sesuai peraturan perundangan-undangan

Sanksi

Teguran tertulis, apabila LPIP tidak

melaksanakan ketentuan mengenai self

liquidation

(32)

27

P O K O K - P O K O K P E N G A T U R A N N O . 1 1 ( B a b X I I - K e t e n t u a n P e n u t u p )

Ketentuan lebih lanjut mengenai kepemilikan LPIP, pedoman penggunaan Informasi Perkreditan, kebijakan dan prosedur operasional, perolehan Informasi Perkreditan, penanganan dan penyelesaian pengaduan, dan/atau penyusunan dan penyampaian laporan tertulis ditetapkan oleh OJK.

Pada saat POJK ini mulai berlaku:

a. PBI Nomor 15/I/PBI/2013 tentang Lembaga Pengelola Informasi Perkreditan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 36, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5402) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku; dan

b. Ketentuan pelaksanaan dari Peraturan Bank Indonesia Nomor 15/I/PBI/2013 tentang Lembaga Pengelola Informasi Perkreditan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 36, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5402) masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan ini.

POJK ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

(33)

28

TERIMA KASIH

Referensi

Dokumen terkait

Faktor lingkungan tidak mampu mencegah atau mengurangi penyalahgunaan narkotika dan psikotropika bahkan membuka kesempatan pemakaian narkotika dan psikotropika. Yang dimaksud

[r]

[r]

• AVERAGE IF, sebuah fungsi untuk mencari nilai rata-rata yang terdapat pada suatu range data, namun range yang diambil didasarkan pada kategori yang kita inginkan..

Berdasarkan disposisi Sekretaris Daerah Kabupaten Blora tentang Pelaksanaan Pelatihan Bendahara Keuangan Daerah yang dilaksanakan oleh Badan Kepegawaian Daerah

Diseminasi informasi Umum (Pengenalan) Program TK oleh Duta Transformasi kepada unit masing-masing. CTO

BDT untuk Program Perlindungan Sosial adalah sistem data elektronik yang memuat informasi sosial, ekonomi, dan demografi dari sekitar 24,5 juta rumah tangga atau

Pemeliharaan pada saat shutdown testing adalah berupa pengujian individu yaitu, pengujian yang dilakukan untuk mengetahui kinerja dan karakteristik relai itu