• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI PROGRAM PENANGGULANGAN TB PARU DENGAN STRATEGI DIRECTLY OBSEVED TREATMENT SHORTCOURSE DI PUSKESMAS KOTA BUKITTINGGI TAHUN 2022

N/A
N/A
Fini Asfionita

Academic year: 2023

Membagikan "IMPLEMENTASI PROGRAM PENANGGULANGAN TB PARU DENGAN STRATEGI DIRECTLY OBSEVED TREATMENT SHORTCOURSE DI PUSKESMAS KOTA BUKITTINGGI TAHUN 2022"

Copied!
79
0
0

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTASI PROGRAM PENANGGULANGAN TB PARU DENGAN STRATEGI DIRECTLY OBSEVED TREATMENT

SHORTCOURSE DI PUSKESMAS KOTA BUKITTINGGI

TAHUN 2022

PROPOSAL

OLEH:

FINI ASPIONITA 1813201040

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN UNIVERSITAS

FORT DE KOCK BUKITTINGGI

TAHUN 2021

(2)

PERNYATAAN PERSETUJUAN

Judul : Implementasi Program Penanggulangan Tb Paru Dengan Strategi Directly ObsevedTreatment Shortcourse Di Puskesmas Kota Bukittinggi Tahun 2022”.

Nama : Fini Aspionita

Nim : 1813201040

Proposal ini telah disetujui untuk diseminarkan dihadapan Tim Penguji Universitas Fort De Kock Bukittinggi pada tanggal

Bukittinggi,

Komisi Pembimbing

Pembimbing I

Nurhayati, S.ST, M.Biomed

Pembimbing II

Adriani, S.Kp, M.KES

(3)
(4)

KATA PENGANTAR

Puji Syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan Proposal Penelitian dengan judul Analisis Program Penanggulangan TB Paru di Puskesmas kota Bukittinggi tahun 2022. Penulisan Proposal ini merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam rangka untuk menyelesaikan pendidikan dan memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat di Universitas Fort De Kock Bukittinggi.

Dalam penyusunan Proposal ini penulis banyak mendapatkan bimbingan, arahan, dan dukungan dari berbagai pihak. Terutama kepada Ibu Nurhayati, S.ST.M.Biomed selaku dosen pembimbing I yang telah mengarahkan, membimbing, dan memberi masukan kepada penulis dalam menyelesaikan Proposal ini dan Ibu Adriani, S.Kp, M.Kes selaku dosen pembimbing II yang telah memberikan masukan dan informasi yang sangat bermanfaat dalam penulisan Proposal ini.

Pada kesempatan ini perkenankan penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat :

1. Ibu Dr. Ns. Hj. Evi Hasnita, S.Pd, M.Kes, selaku Rektor Universitas Fort De Kock Bukittinggi.

2. Ibu Oktavianis, S.ST, M.Biomed selaku Dekan Fakultas Kesehatan Universitas Fort De Kock Bukittinggi.

(5)

3. Bapak Nurdin SKM, MPH selaku ketua Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Universitas Fort De Kock Bukittinggi yang telah banyak memberikan motivasi kepada kami selama perkuliahan.

4. Terima Kasih Kepada Ibu Kepala Puskesmas yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian di wilayah kerja puskesmas

5. Dosen dan Staf Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Universitas Fort De Kock Bukittinggi.

6. Teristimewa kedua orang tua dan keluarga tercinta atas dorongan moril dan materil serta do’a yang tulus sehingga penulis dapat menyelesaikan Proposal ini.

7. Penulis menyadari bahwa Skripsi ini masih terdapat kekurangan. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun darisemua pihak dalam rangka penyempurnaan proposal ini.Akhir kata, penulis berharap skripsi ini dapat memberikan kontribusi yang positif dan bermanfaatbagi pembaca.

Bukittinggi, 18 Februari 2022

Fini Aspionita

(6)

DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN

KATA PENGANTAR . ...i

DAFTAR ISI ...iii

DAFTAR LAMPIRAN...vi

DAFTAR BAGAN...vii

DAFTAR ISTILAH...viii

DAFTAR TABEL...x

BAB I PENDAHULUAN ...1

A. Latar Belakang ...1

B. Rumusan Masalah ...6

C. Tujuan Penelitian ...7

D. Manfaat Penelitian . ...8

E. Ruang lingkup ...9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...10

A. Tuberkulosis ...10

1. Pengertian Tuberkulosis ...10

2. Penyebab Tuberkulosis ...10

3. Penularan Tuberkulosis ...12

4. Gejala-Gejala TB Paru . ...13

5. Klasifikasi dan Tipe Pasien TB ...14

6. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Tuberkulosis ...18

B. Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas)...21

(7)

1. Pengertian Puskesmas ...21

2. Upaya Kesehatan Masyarakat dan Upaya Kesehatan Perseorangan.22 3. Prinsip Penyelenggaraan Puskesmas ...23

4. Tugas, Fungsi dan Wewenang Puskesmas ...25

5. Puskesmas dalam Program Penanggulangan TB Paru ...27

C. Program Penanggulangan Tuberkulosis ...28

1. Kebijakan Pengendalian TB Paru ...31

2. Kegiatan Tata Laksana dan Pencegahan TB Paru ...34

D. Tatalaksana TB Paru ...34

1. Penemuan Kasus Tuberkulosis ...34

2. Pemeriksaan Dahak (Sputum) ...38

3. Diagnosis TB Paru . ...39

4. Pengobatan TB Paru ...40

5. Pengawasan Menelan Obat (PMO) ...41

6. Pemantauan dan Hasil Pengobatan TB Paru ...42

7. Pengendalian Infeksi Tuberkulosis pada Sarana Layanan ...44

8. Pencegahan TB ...47

E. Monitoring dan Evaluasi Program TB ...48

F. Kerangka Teori ...49

BAB III KERANGKA KONSEP ...51

A. Kerangka Berfikir ...51

B. Alur Berfikir ...52

(8)

BAB IV METODE PENLITIAN ...55

A. Desain penelitian ...55

B. Tempat dan Waktu Penlitian ...55

1. Tempat Penelitian ...55

2. Waktu penelitian ...56

C. Instrument Penelitian ...56

D. Informan Penelitian ...57

E. Teknik /Cara Pengumpulan Data ...58

F. Instrument Penelitian... 61

G. Metode Analisa Data ... 62 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(9)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Lembar Penjelasan Penlitian

Lampiran 2 : Lembar Pedoman Menjadi Informan Lampiran 3 : Lembar Persetujuan Menjadi Informan Lampiran 4 : Lembar Pedoman Wawancara

(10)

DAFTAR BAGAN

Nomor Bagan

Bagan 2.1 Kerangka Teori ...50 Bagan 2.2 Kerangka Konsep ...51

(11)

DAFTAR ISTILAH

Singkatan : Singkatan dari

AIDS : Acquired Immune Deficiency Syndrome

BTA : Basil Tahan Asam

B/BKPM : Balai Besar/Balai Kesehatan Paru Masyarakat

CNR : Case Notification Rate

Depkes : Departemen Kesehatan

DOT : Directly Observed Therapy

DOTS : Directly Observed Treatment Shortcourse

DPM : Dokter Praktek Mandiri

FKTP : Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama

FKRTL : Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut GERDUNAS TB : Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan

Tuberkulosis

HIV : Human Immunodeficiency Virus

IUATLD : International Union Against TB and Lung Diseases

Kemenkes : Kementerian Kesehatan Kepmenkes : Keputusan Menteri Kesehatan

KPP : Kelompok Puskesmas Pelaksana

Lapas : Lembaga Pemasyarakatan

MDR : Multi Drug Resistance

(12)

MOTT : Mycobacterium Other Than Tuberculosis

OAT : Obat Anti Tuberkulosis

TB : Tuberkulosis

Permenkes : Peraturan Menteri Kesehatan

PMO : Pengawas Menelan Obat

PPI : Penatalaksanaan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi

PPM : Puskesmas Pelaksana Mandiri

PPTI : Perhimpunan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia

PRM : Puskesmas Rujukan Mikroskopis

PS : Puskesmas Satelit

Puskesmas : Pusat Kesehatan Masyarakat

Renstra : Rencana Strategis

RSP : Rumah Sakit Paru

SPO : Standar Prosedur Operasional

SPS : Sewaktu, Pagi, Sewaktu

UKM : Upaya Kesehatan Masyarakat

UKP : Upaya Kesehatan Perseorangan

WHO : World Health Organization

(13)

DAFTAR TABEL

Nomor Tabel

Tabel 4.1 Matrik Wawancara

(14)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tuberkulosis (TB) termasuk dalam kategori penyakit menular yang menjadi penyebab tingginya jumlah kesakitan bahkan sampai pada kematian. TB masih menjadi suatu masalah kesehatan masyarakat secara menyeluruh dari tingkatan tertinggi higga yang paling rendah.

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit yang menginfeksi tubuh terutama bagian paru-paru yaitu dengan adanya bakteri Mycobacterium tuberculosis dan TB ekstrapulmonar hanya sedikit kasus dan TB Paru ini dapat ditularkan secara langsung. Dalam waktu belakangan ini TB berada pada posisi salah satu penyakit penyebab kematian yang ada di dunia dari 10 kasus tertinggi yang ada (WHO, 2017).

Secara global, diperkirakan 10 juta orang menderita TB pada tahun 2019. Meskipun terjadi penurunan kasus baru TB, tetapi tidak cukup cepat untuk mencapai target Strategi END TB tahun 2020, yaitu pengurangan kasus TB sebesar 20% antara tahun 2015 – 2020. Pada tahun2015 – 2019 penurunan kumulatif kasus TB hanya sebesar 9% (WHO, Global Tuberculosis Report,2020). Secara global kematian akibat TB per tahun menurun secara global, tetapi tidak mencapai target Strategi END TB tahun 2020 sebesar 35% antara tahun 2015 – 2020. Jumlah kematian kumulatif antara tahun 2015 – 2019 sebesar 14%, yaitu kurang dari

(15)

setengah dari target yang ditentukan (WHO, Global Tuberculosis Report, 2020).

Jumlah kasus baru TB di Indonesia sebanyak 420.994 kasus pada tahun 2017 (data per 17 Mei 2018). Berdasarkan jenis kelamin, jumlahkasus baru TBC tahun 2017 pada laki-laki 1,4 kali lebih besar dibandingkan pada perempuan. Bahkan berdasarkan Survei Prevalensi Tuberkulosis prevalensi pada laki-laki 3 kali lebih tinggi dibandingkan pada perempuan. Begitu juga yang terjadi di negara-negara lain. Hal ini terjadi kemungkinan karena laki-laki lebih terpapar pada fakto risiko TBC misalnya merokok dan kurangnya ketidak patuhan minum obat. Survei ini menemukan bahwa dari seluruh partisipan laki-laki yang merokok sebanyak 68,5% dan hanya 3,7% partisipan perempuan yang merokok.

(Kemenkes RI 2018).

Berdasarkan Profil Dinas Kesehatan Provinsi Sumatra Barat pada tahun 2017, terdapat sebanyak 6.392 dengan jumlah kasus laki-laki sebanyak 4.722 dan jumlah kasus perempuan sebanyak 4.442 kasus. TB Paru dan pada tahun 2017 yang terjadi di 19 kabupaten/kota (Kota Padang tercatat 978 kasus, Kabupaten Pasaman Barat 788 kasus, Kabupaten Pasaman Timur 506 Kasus, Kabupaten Pesisir Selatan 833 kasus, Kabupaten Dhamasraya 400 kasus, Kabupaten Solok Selatan 115 kasus, Kota Solok 49 kasus, Kabupaten Solok 249 kasus, Kota Bukittinggi 246 kasus, Kota Payakumbuh 210 kasus, Kabupaten Lima Puluh Kota 390 kasus, Kota Sawahlunto 92 Kasus, Kabupaten Sijunjung 263 kasus, dan

(16)

Kota Padang Panjang 161 kasus, Padang pariaman 700 kasus, Pasaman 506 kasus, Mentawai 157 kasus, Agam 683 kasus, Tanah datar 318 kasus ).

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi angka temuan TB di Kota Bukittinggi masih rendah. Pada tahun 2019 sebesar 68,08%.

Pada tahun 2020 mengalami penurunan 36,70%. Mengalami penurunan lagi pada tahun 2021 sebesar 32,75%. Sedangkan angka kesembuhan Kota Bukittinggi tahun 2019 32,40%, mengalami kenaikan pada tahun 2020 sebesar 44,57%, dan mengalami penurunan pada tahun 2021 sebesar 32,00%, dimana nilai target yang harus dilampaui yaitu 85% (Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi).

Data Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi Tahun 2021, terdapat 4.945 perkiraan suspek target terduga TB Paru, dan jumlah Suspek TB Paru sebanyak 1078 orang dengan BTA Positif sebanyak 96 orang penderita TB Paru. Jumlah TB MDR sebanyak 3 orang, Jumlah yang meninggal karena TB Paru sebanyak 1 orang dengan angka kesembuhan yang telah tercapai 32,00% yang mana artinya masih jauh dalam mencapai target yang telah ditetapkan pada Peraturan Menteri Kesehatan No 67 Tahun 2016 Tentang Penanggulangan Tuberkulosis yaitu ≥ 85%.

Data Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi Tahun 2021 terdapat 6 Puskesmas yang angka penemuan kasus yang masih rendah dalam mencapai target minimal nasional yaitu 70% dari 7 Puskesmas. Jumlah

(17)

Kasus TB terbanyak pada tahun 2021 di Kota Bukittinggi yaitu di puskesmas Tigo Baleh sebesar 22 kasus, kemudian Puskesmas Guguk Panjang dengan jumlah kasus sebesar 14 kasus, dan Puskesmas Mandiangin dengan jumlah kasus sebesar 12 kasus. Puskesmas Plus Mandiangin 10 kasus, Rasimah Ahmad 8 kasus, Nilam Sari 8 kasus, Gulai Bancah 5 kasus.

Dilihat dari kondisi tersebut, diperlukan adanya upaya program penanggulangan penyakit TB. Sejak tahun 1995, Program Pemberantasan TB telah dilaksanakan secara bertahap di Puskesmas dengan penerapan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcouse) yang direkomendasikan oleh WHO dan telah menjadi program TB paru secara nasional. Penanggulangan dengan strategi DOTS dapat memberikan angka kesembuhan yang tinggi dan merupakan strategi kesehatan dengan pembiayaan yang efektif. Strategi DOTS terdiri dari 5 komponen kunci, yaitu: (1) Komitmen politis dari pemerintah untuk menjalankan program TB, (2) Penemuan kasus dengan pemeriksaan mikroskopik, (3) Pemberian obat yang diawasi secara langsung/DOT (Directly Observed Therapy), (4) Kesinambungan persediaan obat, (5) Sistem monitoring serta pencatatan dan pelaporan yang baik (Kemenkes RI, 2014).

Dari lima komponen strategi DOTS penemuan pasien TB merupakan langkah pertama dalam kegiatan tatalaksana pasien TB. Penemuan dan penyembuhan pasien TB menular, secara bermakna akan dapat

(18)

menurunkan kesakitan dan kematian akibat TB, penularan TB di masyarakat dan sekaligus merupakan kegiatan pencegahan penularanTB yang paling efektif di masyarakat (Depkes RI, 2011)

Hasil penlitian yang dilakukan oleh Deri Zarwita dkk pada tahun 2019 dengan judul analisis implementasi penemuan pasien TB paru dalam program penganggulangan TB paru di puskesmas balai selasa didapatkan bahwa SDM yang ada di puskesmas Balai Selasa sudah mencukupi secara kuantitas, hanya saja koordinator TB paru memiliki tugas rangkap, hal ini disebabkan dengan perencanaan penempatan tenaga, menajemen puskesmas belum melakukan analisis jabatan yang dapat melihat beban kerja masing-masing penaganggung jawab program. (Deri Zarwita, Rosfita Rasyid, Abdiana 2019)

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Aboy pada tahun 2013 dengan judul implemtasi program penanggulangan tuberkulosisi di puskesmas kampong dalam kota Pontianak ditemukan bahwa pada organisasi pelaksana program penanggulangan penyakit TB sudah berjalan sesuai dengan prosedur tapi belum bias berjalan baik dan laporan yang dibutuhkan oleh menajer belum dihasilkan secara lengkap. Sedangkan untuk aspek dalam menginterprestasikan program penanggulangan TB di puskesmas sebagian perawat belum memahami sepenuhnya prosedur penanggulangan TB dikarenakan mereka kurang mendapatkan pelatihan.

(Aboy 2013).

(19)

Suatu Kejadian Penyakit dipengaruhi oleh berbagai factor ruang yang antara lain meliputi ketinggian permukiman tanah, iklim, suhu, kepadatan dan perilaku penduduk, budaya dan arah kecepatan angin dan sebagainya. Kejadian Penyakit TB Paru di Kota Bukittinggi merupakan fenomena yang bersandar pada basis wilayah, yang mana kota Bukittinggi dengan kepadatan penduduk tinggi, dan memiliki wilayah pariwisata mengakibatkan masih tingginya penemuan Kasus TB paru di Kota Bukittinggi.

Berdasarkan hal tersebut di atas maka peneliti tertarik untuk melaksanakan penelitian tentang bagamana Implementasi Program Penanggulangan TB Paru Dengan Strategi DOTS Di Puskesmas Kota Bukittinggi Tahun 2022 yang dilihat dari sudut pandang penderita TB Paru sebagai klien yang merasakan langsung dampak dari pelaksanaan program penanggulangan TB Paru tersebut.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah Bagaimana “Implementasi Program Penanggulangan TB Paru Dengan Strategi DOTS Di Puskesmas Kota Bukittinggi Tahun 2022”

(20)

C. TUJUAN PENILTIAN 1. Tujuan umum

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Bagaimana Implementasi Program Penanggulangan TB Paru Dengan Strategi DOTS Di Puskesmas Kota Bukittinggi Tahun 2022.

2. Tujuan khusus

1) Untuk mengetahui bagaimana input (sumberdaya manusia, dana, sarana dan prasarana) dari penyebab masalah Implementasi Program Penanggulangan TB Paru Dengan Strategi DOTS Di Puskesmas Kota Bukittinggi Tahun 2022.

2) Untuk mengetahui proses (Komitmen Politis, penanggulangan TB paru dengan penjaringan suspek penemuan kasus melalui pemeriksaan dahak mikroskopis, pemberian obat yang diawasi secara langsung, persedian OAT, pencatatan dan pelaporan ) tentang penyebab masalah Implementasi Program Penanggulangan TB Paru Dengan Strategi DOTS Di Puskesmas Kota Bukittinggi Tahun 2022.

3) Untuk mengetahui output dari Implementasi Program Penanggulangan TB Paru Dengan Strategi DOTS Di Puskesmas Kota Bukittinggi Tahun 2022.

(21)

D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini terbagi 4 (empat) yaitu manfaat bagi peneliti, institusi pendidikan, pasien, dan dinas kesehatan.

1. Bagi tempat penelitian

a. Memberikan informasi dan masukan kepada Puskesmas yang ada di Kota Bukittinggi mengenai input, proses dan output tentang penyebab masalah implementasi program penanggulangan TB paru dengan strategi DOTS.

b. Sebagai bahan bacaan dan wawasan bagi petugas puskesmas dalam hal pemahaman dan upaya penanggulangan TB paru.

2. Bagi Peneliti

a. Untuk mengembangkan dan menambah wawasan peneliti tentang Implementasi Program Penanggulangan TB Paru Dengan Strategi DOTS Kota Bukittinggi tahun 2022. Serta dapat mengembangkan kemampuan peneliti dalam membuat proposal program S1 Kesehatan Masyarakat.

(22)

b. Mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di bangku perkuliahan.

3. Bagi Institusi Pendidikan

Sebagai bahan masukan penelitian selanjutnya dalam permasalahan yang berbeda dan sebagai bahan informasi untuk penelitian lebih lanjut berkaitan dengan Implementasi Program Penanggulangan TB Paru Dengan Strategi DOTS serta menambah referensi bagi mahasiswa Universitas Fort De kock Bukittinggi.

4. Bagi Dinas Kesehatan

Menambah informasi serta menentukan tindak lanjut mengenai penyebab masalah implementasi program penanggulangan TB Paru di Puskesmas kota Bukittinggi.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini dilakukan oleh mahasiswa Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Fort De Kock Bukittinggi untuk Implementasi Program Penanggulangan TB Paru Dengan Strategi DOTS di Puskesmas Kota Bukittinggi tahun 2022. Desain penelitian yang

(23)

dilakukan adalah metode kualitatif dengan model pendekatan deskriptif analitik, melalui wawancara mendalam (in depth interview). Dengan jumlah informan 10 orang yaitu, Kepala Dinas Kesehatan Kota

Bukittinggis, Staf bidang P2P Dinas Kesehatan kota Bukittinggi, Kepala Puskesmas Kota Bukittinggi, penanggung jawab program TB puskesmas Kota Bukittinggi, 2 orang keluarga penderita, dan 2 orang penderita TB yang ada di Kota Bukittinggi. Analisis data dilakukan dengan cara prosedur analisis data, triangulasi data, analisa dilapangan, analisa setelah pengumpulan data, dan mekanisme penyotiran data. Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Juli.

(24)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tuberkulosis

1. Pengertian Tuberkulosis

Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh kuman dari kelompok Mycobacterium yaitu Mycobacterium tuberculosis. Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif melalui percik renik dahak yang dikeluarkannya. Pasien TB dengan BTA negatif juga masih memiliki kemungkinan menularkan penyakit TB. Infeksi akan terjadi apabila orang lain menghirup udara yang mengandung percik renik dahak yang infeksius tersebut. Pada waktu batuk atau bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei / percik renik).

Sekali batuk dapatmenghasilkan sekitar 3000 percikan dahak (Kemenkes RI, 2014).

2. Penyebab Tuberkulosis

Tuberkulosis adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh kuman dari kelompok Mycobacterium yaitu Mycobacterium tuberculosis. Terdapat beberapa spesies Mycobacterium tuberculosis, antara lain: M. africanum, M. bovis, M. leprae dsb. yang juga dikenal sebagai Bakteri Tahan Asam (BTA). Kelompok bakteri Mycobacterium selain Mycobacterium tuberculosis yang bisa

10

(25)

menimbulkan gangguan pada saluran nafas dikenal sebagai MOTT (Mycobacterium Other Than Tuberculosis) yang terkadang bisa mengganggu penegakan diagnosis dan pengobatan TB. Untuk itu pemeriksaan bakteriologis yang mampu melakukan identifikasi terhadap Mycobacterium tuberculosis menjadi sarana diagnosis ideal untuk TB (Kemenkes RI, 2014).

Secara umum sifat kuman TB (Mycobacterium tuberculosis) antara lain adalah sebagai berikut (Kemenkes RI, 2014):

1) Berbentuk batang dengan panjang 1-10 mikron, lebar 0,2-0,6 mikron.

2) Bersifat tahan asam dalam pewarnaan dengan metode Ziehl Neelsen.

3) Memerlukan media khusus untuk biakan, antara lain Lowenstein Jensen, Ogawa.

4) Kuman nampak berbentuk batang berwarna merah dalam pemeriksaan di bawah mikroskop.

5) Tahan terhadap suhu rendah sehingga dapat bertahan hidup dalam jangka waktu lama pada suhu antara 4 C sampai minus 70 C.

6) Kuman sangat peka terhadap panas, sinar matahari dan sinar ultraviolet.

7) Paparan langsung terhadap sinar ultraviolet, sebagian besar kuman akan mati dalam waktu beberapa menit.

(26)

8) Dalam dahak pada suhu antara 30-37 C akan mati dalam waktu lebih kurang 1 minggu.

9) Kuman dapat bersifat dormant (“tidur”/tidak berkembang) 3. Penularan Tuberkulosis

Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif melalui percik renik dahak yang dikeluarkannya. Namun, bukan berarti bahwa pasien TB dengan hasil pemeriksaan BTA negatif tidak mengandung kuman dalam dahaknya. Hal tersebut bisa saja terjadi oleh karena jumlah kuman yang terkandung dalam contoh uji ≤ dari 5.000 kuman/cc dahak sehingga sulit dideteksimelalui pemeriksaan mikroskopis langsung. Pasien TB dengan BTA negatif juga masih memiliki kemungkinan menularkan penyakit TB. Tingkat penularan pasien TB BTA positif adalah 65%, pasien TB BTA negatif dengan hasil kultur positif adalah 26% sedangkan pasien TB dengan hasil kultur negatif dan foto toraks positif adalah 17% (Kemenkes RI, 2014).

Infeksi akan terjadi apabila orang lain menghirup udara yang mengandung percik renik dahak yang infeksius tersebut. Pada waktu batuk atau bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei/percik renik). Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak. Daya penularan dari seseorang penderita TB ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari paru-parunya (Kemenkes RI, 2014).

(27)

4. Gejala-Gejala TB Paru

Gejala TB dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu gejala sistemik dan gejala respiratorik (Aditama, 2002).

a. Gejala sistemik pada umumnya penderita akan mengalami demam tidak tinggi selama lebih satu bulan, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun, malaise, berke ringat malam hari tanpa kegiatan fisik.

b. Gejala respiratorik atau gejala saluran pernapasan adalah batuk. Batuk bisa berlangsung secara terus-menerus selama 3 minggu atau lebih. Hal ini terjadi apabila sudah melibatkan brochus. Gejala respiratorik lainnya adalah batuk produktif sebagai upaya untuk membuang ekskresi peradangan berupa dahak (sputum). Kadang gejala respiratorik ini ditandai dengan batuk berdarah disebabkan karena pembuluh darah pecah, akibat luka dalam alveoli yang sudah lanjut. Apabila kerusakan sudah meluas, timbul sesak nafas dan apabila pleura sudah terkena, maka disertai pula dengan rasa nyeri pada dada.

Gejala-gejala tersebut diatas dapat dijumpai pula pada penyakit paru selain TB, seperti bronkiektasis, bronkitis kronis, asma, kanker paru, dan lain-lain. Mengingat prevalensi TB di Indonesia saat ini masih tinggi, maka setiap orang yang datang ke UPK dengan gejala tersebut diatas, dianggap sebagai seorang tersangka (suspek) pasien

(28)

TB, dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung.

5. Klasifikasi dan Tipe Pasien TB

Klasifikasi pasien TB dibedakan berdasarkan: lokasi anatomi dari penyakit, riwayat pengobatan sebelumnya, hasil pemeriksaan uji kepekaan obat dan status HIV. Maksud dan tujuan menentukan klasifikasi dan tipe pasien TB adalah:

1) Pencatatan dan pelaporan pasien yang tepat

2) Penetapan paduan pengobatan yang tepat

3) Standarisasi proses pengumpulan data untuk pengendalian TB

4) Evaluasi proporsi kasus sesuai lokasi penyakit, hasil pemeriksaan bakteriologis dan riwayat pengobatan

5) Analisis kohort hasil pengobatan

6) Pemantauan kemajuan dan evaluasi efektivitas program TB secara tepat baik dalam maupun antar kabupaten/kota, provinsi, nasional dan global.

(29)

a. Klasifikasi berdasarkan Lokasi anatomi dari penyakit

1) TB Paru adalah TB yang terjadi pada parenkim (jaringan) paru. Milier TB dianggap sebagai TB Paru karena adanya lesi pada jaringan paru.

2) TB Ekstra paru adalah TB yang terjadi pada organ selain paru, misalnya: pleura, kelenjar limfe, abdomen, saluran kencing, kulit, sendi, selaput otak dan tulang.

b. Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya

1) Pasien baru TB adalah pasien yang belum pernah mendapatkan pengobatan TB sebelumnya atau sudah pernah menelan OAT namun kurang dari 1 bulan (< dari 28 dosis).

2) Pasien yang pernah diobati TB adalah pasien yang sebelumnya pernah menelan OAT selama 1 bulan atau lebih (≥ dari 28 dosis). Pasien ini selanjutnya diklasifikasikan berdasarkan hasil pengobatan TB terakhir, yaitu:

i. Pasien kambuh adalah pasien TB yang pernah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap dan saat ini didiagnosis TB berdasarkan hasil

(30)

pemeriksaan bakteriologis atau klinis (baik karena benar-benar kambuh atau karena reinfeksi)

ii. Pasien yang diobati kembali setelah gagal adalah pasien TB yang pernah diobati dan dinyatakan gagal pada pengobatan terakhir.

iii. Pasien yang diobati kembali setelah putus berobat (lost to follow-up) adalah pasien yang pernah diobati dan dinyatakan lost to follow-up (klasifikasi ini sebelumnya dikenal sebagai pengobatan pasien setelah putus berobat/default).

iv. Lain-lain adalah pasien TB yang pernah diobati namun hasil akhir pengobatan sebelumnya tidak diketahui.

3) Pasien yang riwayat pengobatan sebelumnya tidak diketahui

c. Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan uji kepekaan obat Pengelompokan pasien disini berdasarkan hasil uji kepekaan contoh uji dari Mycobacterium tuberculosis terhadap OAT dan dapat berupa:

(31)

1) Mono resisten (TB MR) yaitu resisten terhadap salah satu jenis OAT lini pertama saja.

2) Poli resisten (TB PR) yaitu resisten terhadap lebih dari satu jenis OAT lini pertama selain Isoniazid (H) dan Rifampisin (R) secara bersamaan.

3) Multi drug resisten (TB MDR) yaitu resisten terhadap Isoniazid (H) dan Rifampisin (R) secara bersamaan.

4) Extensive drug resisten (TB XDR) adalah TB MDR yang sekaligus juga resisten terhadap salah satu OAT golongan fluorokuinolon dan minimal salah satu dari OAT lini kedua jenis suntikan (Kanamisisn, Kapreomisin dan Amikasin).

5) Resisten Rifampisin (TB RR) yaitu resisten terhadap Rifampisin dengan atau tanpa resisten terhadap OAT lain yang terdeteksi menggunakan metode genotip (tes cepat) atau metode fenotip (konvensional)

d. Klasifikasi berdasarkan status HIV

1) Pasien TB dengan HIV positif (pasien ko-infeksi TB/HIV) adalah pasien TB dengan:

(32)

i. Hasil tes HIV positif sebelumnya atau sedang mendapatkan ART (Anti Retroviral Therapy), atau

ii. Hasil tes HIV positif pada saat diagnosis TB.

2) Pasien TB dengan HIV negatif adalah pasien TB dengan:

i. Hasil tes HIV negatif sebelumnya, atau

ii. Hasil tes HIV negatif pada saat diagnosis TB.

3) Pasien TB dengan status HIV tidak diketahui adalah pasien TB tanpa ada bukti pendukung hasil tes HIV saat diagnosis TB ditetapkan (Kemenkes RI, 2014).

6. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Tuberkulosis

Semua tempat pelayanan kesehatan perlu menerapkan upaya pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) TB untuk memastikan berlangsungnya deteksi segera, tindakan pencegahan dan pengobatan seseorang yang dicurigai atau dipastikan menderita TB. Upaya tersebut berupa pengendalian infeksi dengan 4 pilar yaitu ; pengendalian manajerial, pengendalian administratif, pengendalian lingkungan dan pengendalian dengan alat pelindung diri. PPI TB pada kondisi/situasi khusus adalah pelaksanaan pengendalian infeksi pada

(33)

rutan/lapas, rumah penampungan sementara, barak-barak militer, tempat-tempat pengungsi, asrama dan sebagainya. Misalnya di rutan/lapas skrining TB harus dilakukan ada saat WBP baru(warga penghuni baru), dan kontak sekamar.

a. Pengendalian Manajerial.

Pihak manajerial adalah pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan, kepala dinas kesehatan propinsi dan kabupaten/kota dan/atau atasan dari institusi terkait. Komitmen, kepemimpinan dan dukungan manajemen yang efektif berupa penguatan dari upaya manajerial bagi program PPI TB yang meliputi:

1) Membuat kebijakan pelaksanaan PPI TB

2) Membuat SPO (Standar Prosedur Operasional) mengenai alur pasien untuk semua pasien batuk, alur pelaporan dan surveilans

3) Membuat perencanaan program PPI TB secara komprehensif

4) Memastikan desain dan persyaratan bangunan serta pemeliharaannya sesuai PPI TB

5) Menyediakan sumber daya untuk terlaksananya program PPI TB (tenaga, anggaran, sarana dan prasarana) yang dibutuhkan

6) Monitoring dan evaluasi

7) Melakukan kajian di unit terkait penularan TB

(34)

8) Melaksanakan promosi pelibatan masyarakat dan organisasi masyarakat terkait PPI TB

b. Pengendalian administratif

Adalah upaya yang dilakukan untuk mencegah/mengurangi pajanan kuman M. tuberculosis kepada petugas kesehatan, pasien, pengunjung dan lingkungan dengan menyediakan, mendiseminasikan dan memantau pelaksanaan standar prosedur dan alur pelayanan.

Upaya ini mencakup:

1) Strategi TEMPO (TEMukan pasien secepatnya, Pisahkan secara aman, Obati secara tepat)

2) Penyuluhan pasien mengenai etika batuk

3) Penyediaan tisu dan masker, tempat pembuangan tisu serta pembuangan dahak yang benar

4) Pemasangan poster, spanduk dan bahan untuk komunikasi, informasi dan edukasi (KIE)

5) Skrining bagi petugas yang merawat pasien TB c. Pengendalian lingkungan

Adalah upaya peningkatan dan pengaturan aliran udara/ventilasi dengan menggunakan teknologi untuk mencegah penyebaran dan mengurangi atau menurunkan kadar percik renik di udara. Upaya pengendalian dilakukan dengan menyalurkan

(35)

percik renik ke arah tertentu (directional airflow) dan atau ditambah dengan radiasi ultraviolet sebagai germisida.

d. Pengendalian dengan alat pelindung diri

Penggunaan alat pelindung diri pernapasan oleh petugas kesehatan di tempat pelayanan sangat penting untuk menurunkan risiko terpajan, sebab kadar percik renik tidak dapat dihilangkan dengan upaya administratif dan lingkungan. Petugas kesehatan menggunakan respirator dan pasien menggunakan masker bedah.

Petugas kesehatan dan pengunjung perlu mengenakan respirator jika berada bersama pasien TB di ruangan tertutup. Pasien atau tersangka TB tidak perlu menggunakan respirator tetapi cukup menggunakan masker bedah untuk melindungi lingkungan sekitarnya dari droplet (Kemenkes RI, 2014).

B. Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) 1. Pengertian Puskesmas

Pusat Kesehatan Masyarakat yang selanjutnya disebut Puskesmas menurut Permenkes RI No. 75 Tahun 2014 adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya

(36)

2. Upaya Kesehatan Masyarakat dan Upaya Kesehatan Perseorangan

Upaya Kesehatan Masyarakat yang selanjutnya disingkat UKM adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan menanggulangi timbulnya masalah kesehatan dengan sasaran keluarga, kelompok, dan masyarakat. Upaya Kesehatan Perseorangan yang selanjutnya disingkat UKP adalah suatu kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan pelayanan kesehatan yang ditujukan untuk peningkatan, pencegahan, penyembuhan penyakit, pengurangan penderitaan akibat penyakit dan memulihkan kesehatan perseorangan.

Upaya kesehatan masyarakat meliputi upaya kesehatan masyarakat esensial dan upaya kesehatan masyarakat pengembangan.

Upaya kesehatan masyarakat esensial meliputi:

a. Pelayanan promosi kesehatan

b. Pelayanan kesehatan lingkungan

c. Pelayanan kesehatan ibu, anak, dan keluarga berencana

d. Pelayanan gigi, dan

e. Pelayanan pencegahan dan pengendalian penyakit.

(37)

Sedangkan upaya kesehatan masyarakat pengembangan merupakan upaya kesehatan masyarakat yang kegiatannya memerlukan upaya yang sifatnya inovatif dan/atau bersifat ekstensifikasi dan intensifikasi pelayanan, disesuaikan dengan prioritas masalah kesehatan, kekhususan wilayah kerja dan potensi sumber daya yang tersedia di masing-masing puskesmas.

Upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama dilaksanakan dalam bentuk:

a. Rawat jalan

b. Pelayanan gawat darurat

c. Pelayanan satu hari (one day care)

d. Home care dan/atau

e. Rawat inap berdasarkan pertimbangan kebutuhan pelayanan kesehatan (Permenkes RI No. 75 tahun 2014).

3. Prinsip Penyelenggaraan Puskesmas

Prinsip penyelenggaraan puskesmas meliputi:

a. Paradigma sehat

Puskesmas mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk berkomitmen dalam upaya mencegah dan

(38)

mengurangi resiko kesehatan yang dihadapi individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.

b. Pertanggungjawaban wilayah

Puskesmas menggerakkan dan bertanggung jawab terhadap pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya.

c. Kemandirian masyarakat

Puskesmas mendorong kemandirian hidup sehat bagi individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.

d. Pemerataan

Puskesmas menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang dapat diakses dan terjangkau oleh seluruh masyarakat di wilayah kerjanya secara adil tanpa membedakan status sosial, ekonomi, agama, budaya dan kepercayaan.

e. Teknologi tepat guna,

Puskesmas menyelenggarakan pelayanan kesehatan dengan memanfaatkan teknologi tepat guna yang sesuai dengan kebutuhan pelayanan, mudah dimanfaatkan dan tidak berdampak buruk bagi lingkungan.

f. Keterpaduan dan kesinambungan

Puskesmas mengintegrasikan dan mengoordinasikan penyelenggaraan UKM dan UKP lintas program dan lintas sektor serta melaksanakan sistem rujukan yang didukung

(39)

dengan manajemen puskesmas (Permenkes RI No. 75 tahun 2014).

4. Tugas, Fungsi dan Wewenang Puskesmas

Puskesmas mempunyai tugas melaksanakan kebijakan kesehatan untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya dalam rangka mendukung terwujudnya kecamatan sehat.

Dalam melaksanakan tugas, puskesmas menyelenggarakan fungsi penyelenggaraan UKM tingkat pertama di wilayah kerjanya dan penyelenggaraan UKP tingkat pertama di wilayah kerjanya.

Dalam menyelenggarakan fungsi penyelenggaraan UKM, puskesmas berwenang untuk:

a. Melaksanakan perencanaan berdasarkan analisis masalah kesehatan masyarakat dan analisis kebutuhan pelayanan yang diperlukan

b. Melaksanakan advokasi dan sosialisasi kebijakan kesehatan

c. Melaksanakan komunikasi, informasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan d. Menggerakkan masyarakat untuk mengidentifikasi dan

menyelesaikan masalah kesehatan pada setiap tingkat perkembangan masyarakat yang bekerjasama dengan sektor lain terkait

(40)

e. Melaksanakan pembinaan teknis terhadap jaringan pelayanan dan upaya kesehatan berbasis masyarakat f. Melaksanakan peningkatan kompetensi sumber daya

manusia puskesmas

g. Memantau pelaksanaan pembangunan agar berwawasan kesehatan

h. Melaksanakan pencatatan, pelaporan, dan evaluasi terhadap akses, mutu, dan cakupan pelayanan kesehatan, dan

i. Memberikan rekomendasi terkait masalah kesehatan masyarakat, termasuk dukungan terhadap sistem kewaspadaan dini dan respon penanggulangan penyakit.

Dalam menyelenggarakan fungsi penyelenggaraan UKP, puskesmas berwenang untuk:

a. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar secara komprehensif, berkesinambungan dan bermutu

b. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang mengutamakan upaya promotif dan preventif

c. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang berorientasi pada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat

d. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang mengutamakan keamanan dan keselamatan pasien, petugas dan pengunjung

(41)

e. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dengan prinsip koordinatif dan kerja sama inter dan antar profesi

f. Melaksanakan rekam medis

g. Melaksanakan pencatatan, pelaporan, dan evaluasi terhadap mutu dan akses pelayanan kesehatan

h. Melaksanakan peningkatan kompetensi tenaga kesehatan i. Mengoordinasikan dan melaksanakan pembinaan fasilitas

pelayanan kesehatan tingkat pertama di wilayah kerjanya, dan j. Melaksanakan penapisan rujukan sesuai dengan indikasi medis

dan sistem rujukan (Permenkes RI No. 75 tahun 2014).

5. Puskesmas dalam Program Penanggulangan TB Paru

Dalam upaya penanggulangan tuberkulosis KPP (kelompok puskesmas pelaksana) terdiri dari:

a. Puskesmas Satelit (PS)

Puskesmas Satelit adalah puskesmas yang tidak memiliki laboratorium sendiri. Fungsi puskesmas ini adalah melakukan pengambilan dahak, pembuatan sediaan sampai fiksasi sediaan dahak. Kemudian sediaan dahak tersebut dikirim ke Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PRM) untuk dibaca hasilnya (Kemenkes RI, 2014).

(42)

b. Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PRM)

Puskesmas rujukan mikroskopis adalah puskesmas yang sudah memiliki laboratorium sendiri. Puskesmas rujukan mikroskopis biasanya dikelilingi oleh 5 puskesmas satelit. Fungsi dari PRM adalah sebagai puskesmas rujukan dalam pemeriksaan slide sediaan dahak dan pelaksana pemeriksaan dahak untuk tuberkulosis (Kemenkes RI, 2014).

c. Puskesmas Pelaksana Mandiri (PPM)

Pada geografis yang sulit, dibentuk puskesmas pelaksana mandiri.

Puskesmas pelaksana mandiri ini berfungsi seperti puskesmas rujukan mikroskopis, hanya saja pada puskesmas ini tidak bekerja sama dengan puskesmas satelit (Kemenkes RI, 2014)

C. PROGRAM PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

Sejalan dengan meningkatnya kasus TB, pada awal tahun 1990-an WHO dan IUATLD (International Union Against TB and Lung Diseases) mengembangkan strategi pengendalian TB yang dikenal sebagai strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-course). Strategi DOTS terdiri dari 5 komponen kunci, yaitu:

1) Komitmen politis, dengan peningkatan dan kesinambungan pendanaan.

2) Penemuan kasus melalui pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya.

(43)

3) Pengobatan yang standar, dengan supervisi dan dukungan bagi pasien.

4) Sistem pengelolaan dan ketersediaan OAT yang efektif.

5) Sistem monitoring, pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program.

WHO telah merekomendasikan strategi DOTS sebagai strategi dalam pengendalian TB sejak tahun 1995.

Bank Dunia menyatakan strategi DOTS sebagai salah satu intervensi kesehatan yang secara ekonomis sangat efektif (cost-effective). Integrasi ke dalam pelayanan kesehatan dasar sangat dianjurkan demi efisiensi dan efektifitasnya (Kemenkes RI, 2014).

Fokus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan pasien, prioritas diberikan kepada pasien TB tipe menular. Strategi ini akan memutuskan rantai penularan TB dan dengan demikian menurunkan insidens TB di masyarakat. Menemukan dan menyembuhkan pasien merupakan cara terbaik dalam upaya pencegahan penularan TB (Kemenkes RI, 2014).

(44)

Berdasarkan Kemenkes RI (2014), strategi nasional dalam penanggulangan TB paru di Indonesia antara lain:

a. Visi

“Menuju masyarakat bebas masalah TB, sehat, mandiri dan berkeadilan”

b. Misi

1) Meningkatkan pemberdayaan masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat dan madani dalam pengendalian TB.

2) Menjamin ketersediaan pelayanan TB yang paripurna, merata, bermutu dan berkeadilan.

3) Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumberdaya pengendalian TB.

4) Menciptakan tata kelola program TB yang baik.

c. Tujuan

Tujuan dalam pengendalian TB Paru adalah untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat TB dalam rangka pencapaian tujuan pembangunan kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

(45)

d. Target

Merujuk pada target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang ditetapkan pemerintah setiap 5 tahun. Pada RPJMN 2015-2019 maka diharapkan penurunan jumlah kasus TB per 100.000 penduduk dari 297 menjadi 245, Persentase kasus baru TB paru BTA (+) yang ditemukan dari 73%

menjadi 90% dan Persentase kasus baru TB paru BTA (+) yang disembuhkan dari 85% menjadi 88%. Target utama pengendalian TB pada tahun 2015-2019 adalah penurunan insidensi TB yang lebih cepat dari hanya sekitar 1 - 2% per tahun menjadi 3 - 4% per tahun dan penurunan angka mortalitas > 4 - 5% pertahun.

Diharapkan pada tahun 2020 Indonesia bisa mencapai target penurunan insidens sebesar 20% dan angka mortalitas sebesar 25% dari angka insidens tahun 2015.

1. Kebijakan Pengendalian TB Paru

Kebijakan penanggulangan TB Paru mencakup:

1) Pengendalian TB di Indonesia dilaksanakan sesuai dengan azas desentralisasi dalam kerangka otonomi dengan kabupaten/kota sebagai titik berat manajemen program, yang meliputi: perencanaan, pelaksanaan,

(46)

monitoring dan evaluasi serta menjamin ketersediaan sumber daya (dana, tenaga, sarana dan prasarana).

2) Pengendalian TB dilaksanakan dengan menggunakan strategi DOTS sebagai kerangka dasar dan memperhatikan strategi global untuk mengendalikan TB (Global Stop TB Strategy).

3) Penguatan kebijakan ditujukan untuk meningkatkan komitmen daerah terhadap program pengendalian TB.

4) Penguatan pengendalian TB dan pengembangannya ditujukan terhadap peningkatan mutu pelayanan, kemudahan akses untuk penemuan dan pengobatan sehingga mampu memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya TB resistan obat.

5) Penemuan dan pengobatan dalam rangka pengendalian TB dilaksanakan oleh seluruh Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dan Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL), meliputi:

Puskesmas, Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta, Rumah Sakit Paru (RSP), Balai Besar/Balai Kesehatan Paru Masyarakat (B/BKPM), Klinik Pengobatan serta Dokter Praktek Mandiri (DPM).

6) Pengobatan untuk TB tanpa penyulit dilaksanakan di FKTP. Pengobatan TB dengan tingkat kesulitan yang

(47)

tidak dapat ditatalaksana di FKTP akan dilakukan di FKRTL dengan mekanisme rujuk balik apabila faktor penyulit telah dapat ditangani.

7) Pengendalian TB dilaksanakan melalui penggalangan kerja sama dan kemitraan diantara sektor pemerintah, non pemerintah, swasta dan masyarakat dalam wujud Gerakan Terpadu Nasional Pengendalian TB (Gerdunas TB).

8) Peningkatan kemampuan laboratorium diberbagai tingkat pelayanan ditujukan untuk peningkatan mutu dan akses layanan.

9) Obat Anti Tuberkulosis (OAT) untuk pengendalian TB diberikan secara cuma-cuma dan dikelola dengan manajemen logistik yang efektif demi menjamin ketersediaannya.

10) Ketersediaan tenaga yang kompeten dalam jumlah yang memadai untuk meningkatkan dan mempertahankan kinerja program.

11) Pengendalian TB lebih diprioritaskan kepada kelompok miskin dan kelompok rentan lainnya terhadap TB.

12) Pasien TB tidak dijauhkan dari keluarga, masyarakat dan pekerjaannya.

(48)

13) Memperhatikan komitmen terhadap pencapaian target strategi global pengendalian TB (Kemenkes RI, 2014).

2. Kegiatan Tatalaksana dan Pencegahan TB Paru

Menurut Kemenkes RI (2011) kegiatan penanggulangan TB paru terdiri atas:

a. Penemuan Kasus Tuberkulosis

b. Pengobatan Tuberkulosis

c. Pemantauan dan Hasil Pengobatan Tuberkulosis

d. Pengendalian Infeksi pada sarana layanan

e. Pencegahan Tuberkulosis

D. Tatalaksana TB Paru

1. Penemuan Kasus Tuberkulosis

Penemuan kasus TB paru bertujuan untuk mendapakan kasus TB melalui serangkaian kegiatan mulai dari penjaringan terhadap suspek TB, pemeriksaan fisik dan laboratorium, menentukan diagnosis dan menentukan klasifikasi penyakit dan tipe pasien TB, sehingga dapat dilakukan pengobatan agar sembuh dan tidak menularkan penyakitnya kepada orang lain. Kegiatan penemuan

(49)

pasien terdiri dari penjaringan suspek, diagnosis, penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien. Kegiatan ini membutuhkan adanya pasien yang memahami dan sadar akan gejala TB, akses terhadap fasilitas kesehatan dan adanya tenaga kesehatan yang kompeten yang mampu melakukan pemeriksan terhadap gejala dan keluhan tersebut. Penemuan pasien merupakan langkah pertama dalam kegiatan tatalaksanapasien TB. Penemuan dan penyembuhan pasien TB menular, secara bermakna akan dapat menurunkan kesakitan dan kematian akibat TB, penularan TB di masyarakat dan sekaligus merupakan kegiatan pencegahan penularan TB yang paling efektif di masyarakat (Kemenkes RI, 2011).

Strategi dalam menemukan penderita TB paru menurut Kemenkes RI (2011), antara lain :

a. Penemuan pasien TB, secara umum dilakukan secara pasif dengan promosi aktif. Penjaringan tersangka pasien dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan; didukung dengan penyuluhan secara aktif, baik oleh petugas kesehatan maupun masyarakat, untuk meningkatkan cakupan penemuan tersangka pasien TB.

Pelibatan semua layanan dimaksudkan untuk mempercepat penemuan dan mengurangi keterlambatan pengobatan.

b. Penemuan secara aktif dapat dilakukan terhadap:

(50)

i. kelompok khusus yang rentan atau beresiko tinggi sakit TB seperti pada pasien dengan HIV (orang dengan HIV AIDS)

ii. kelompok yang rentan tertular TB seperti di rumah tahanan, lembaga pemasyarakatan (para narapidana), mereka yang hidup pada daerah kumuh, serta keluarga atau kontak pasien TB, terutama mereka yang dengan TB BTA positif.

iii. pemeriksaan terhadap anak dibawah lima tahun pada keluarga TB harus dilakukan untuk menentukan tindak lanjut apakah diperlukan pengobatan TB atau pegobatan pencegahan.

iv. Kontak dengan pasien TB resistan obat

c. Penerapan manajemen tatalaksana terpadu bagi kasus dengan gejala dan tanda yang sama dengan gejala TB, seperti pendekatan praktis menuju kesehatan paru (PAL = practical approach to lung health), manajemen terpadu balita sakit (MTBS), manajemen terpadu dewasa sakit (MTDS) akan membantu meningkatkan penemuan kasus TB dilayanan kesehatan, mengurangi terjadinya “misopportunity” kasus TB dan sekaligus dapat meningkatkan mutu layanan.

(51)

d. Tahap awal penemuan dilakukan dengan menjaring mereka yang memiliki gejala:

i. Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah, batuk darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makanmenurun, berat badan menurun, malaise, berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik, demam meriang lebih dari satu bulan.

ii. Gejala-gejala tersebut diatas dapat dijumpai pula pada penyakit paru selain TB, seperti bronkiektasis, bronkitis kronis, asma, kanker paru,dan lain-lain. Mengingat prevalensi TB di Indonesia saat ini masih tinggi, maka setiap orang yang datang ke Fasyankes dengan gejala tersebut diatas, dianggap sebagai seorang tersangka (suspek) pasien TB, dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung.

iii. Suspek TB MDR adalah semua orang yang mempunyai gejala TB paru dengan salah satu atau lebih kriteria suspek dibawah ini:

(52)

1) Pasien TB yang gagal pengobatan kategori 2 (kasus kronik)

2) Pasien TB tidak konversi pada pengobatan kategori 2.

3) Pasien TB dengan riwayat pengobatan TB di fasyankes Non DOTS.

4) Pasien TB gagal pengobatan kategori 1.

5) Pasien TB tidak konversi setelah pemberian sisipan.

6) Pasien TB kambuh.

7) Pasien TB yang kembali berobat setelai lalai/default.

8) Pasien TB dengan riwayat kontak erat pasien TB MDR

9) ODHA dengan gejala TB-HIV.

2. Pemeriksaan Dahak (Sputum)

a. Pemeriksaan Dahak Mikroskopis

(53)

Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakkan diagnosis, menilai keberhasilan pengobatan dan menentukan potensi penularan. Pemeriksaan dahak untuk penegakan diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan berupa Sewaktu - Pagi - Sewaktu (SPS):

- S (sewaktu): dahak dikumpulkan pada saat suspek pasien TB datang berkunjung pertama kali ke fasilitas pelayanan kesehatan. Pada saat pulang, suspek membawa sebuah pot dahak untuk menampung dahak pagi pada hari kedua.

- P (Pagi): dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua, segera setelah bangun tidur. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di fasilitas pelayanan kesehatan.

- S (sewaktu): dahak dikumpulkan di fasilitas pelayanan kesehatan pada hari kedua, saat menyerahkan dahak pagi.

b. Pemeriksaan Biakan

Peran biakan dan identifikasi M. Tuberkulosis pada pengendalian TB adalah untuk menegakkan diagnosis TB pada pasien tertentu, yaitu Pasien TB Ekstra Paru, Pasien Tb Anak dan Pasien TB BTA Negatif.

(54)

Pemeriksaan tersebut dilakukan jika keadaan memungkinkan dan tersedialaboratorium yang telah memenuhi standar yang ditetapkan (Kemenkes RI, 2011).

3. Pengobatan TB Paru

Pengobatan TB adalah salah satu upaya paling efisien untuk mencegah penyebaran lebih lanjut dari kuman TB. Tujuan pengobatan TB adalah untuk menyembuhkan pasien dan memperbaiki produktivitas serta kualitas hidup, mencegah terjadinya kematian oleh karena TB atau dampak buruk selanjutnya, mencegah terjadinya kekambuhan TB, menurunkan penularan TB, dan mencegah terjadinya dan penularan TB resisten obat. Pengobatan TB terdiri dari tahap awal dan tahap lanjutan (Kemenkes RI, 2014).

Pada tahap awal, pengobatan diberikan setiap hari. Paduan pengobatan pada tahap ini dimaksudkan untuk secara efektif menurunkan jumlah kuman yang ada dalam tubuh pasien dan meminimalisir pengaruh dari sebagian kecil kuman yang mungkin sudah resisten sejak sebelum pasien mendapatkan pengobatan.

Pengobatan tahap awal pada semua pasien baru, harus diberikan selama 2 bulan. Pada umumnya dengan pengobatan secara teratur dan tanpa adanya penyulit, daya penularan sudah sangat menurun setelah pengobatan selama 2 minggu. Sedangkan pengobatan pada tahap lanjutan merupakan tahap yang penting untuk membunuh sisa-sisa kuman yang masih ada dalam tubuh khususnya kuman persister

(55)

sehingga pasien dapat sembuh dan mencegah terjadinya kekambuhan (Kemenkes RI, 2014).

4. Diagnosis TB paru

Gejala dan keluhan tergantung pada organ yang terkena, misalnya kaku kuduk pada meningitis TB, nyeri dada pada pleura (pleuritis), pembesaran kelenjar limfe superfisialis pada limfadenitis TB serta deformitas tulang belakang (gibbus) pada spondilitis TB dan lain-lainnya.

Diagnosis pasti pada pasien TB ekstra paru ditegakkan dengan pemeriksaan klinis, bakteriologis dan atau histopatologis dari contoh uji yang diambil dari organ tubuh yang terkena (Kemenkes RI, 2011)

5. Pengawasan Menelan Obat (PMO)

Untuk mencegah munculnya kuman resisten obat, maka sangat penting dipastikan bahwa pasien menelan seluruh obat yang diberikan sesuai anjuran dengan cara pengawasan langsung oleh seorang PMO (Pengawas Menelan Obat) agar mencegah terjadinya resistensi obat.

Pilihan tempat pemberian pengobatan sebaiknya disepakati bersama pasien agar dapat memberikan kenyamanan. Sebaiknya PMO adalah petugas kesehatan, misalnya bidan di desa, perawat, pekarya, sanitarian, juru imunisasi, dan lain lain. Bila tidak ada petugas kesehatan yang memungkinkan, PMO dapat berasal dari kader kesehatan, guru, anggota PPTI (Perhimpunan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia), PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga),

(56)

atau tokoh masyarakat lainnya atau anggota keluarga. Persyaratan PMO menurut Kemenkes RI (2014) adalah:

1) Seseorang yang dikenal, dipercaya dan disetujui, baik oleh petugas kesehatan maupun pasien, selain itu harus disegani dan dihormati oleh pasien.

2) Seseorang yang tinggal dekat dengan pasien.

3) Bersedia membantu pasien dengan sukarela.

4) Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan-sama dengan pasien.

Tugas seorang PMO menurut Kemenkes RI (2014) adalah:

a) Mengawasi pasien TB agar menelan obat secara teratur sampai selesai pengobatan.

b) Memberi dorongan kepada pasien agar mau berobat teratur c) Mengingatkan pasien untuk periksa ulang dahak pada waktu

yang telah ditentukan.

d) Memberi penyuluhan pada anggota keluarga pasien TB yang mempunyai gejala-gejala mencurigakan TB untuk segera memeriksakan diri ke unit pelayanan kesehatan.

6. Pemantauan dan Hasil Pengobatan TB Paru a. Pemantauan kemajuan pengobatan TB

Pemantauan kemajuan dan hasil pengobatan pada orang dewasa dilaksanakan dengan pemeriksaan ulang dahak secara

(57)

mikroskopis. Untuk memantau kemajuan pengobatan dilakukan pemeriksaan dua contoh uji dahak (sewaktu dan pagi). Hasil pemeriksaan dinyatakan negatif bila ke-2 contoh uji dahak tersebut negatif. Bila salah satu contoh uji positif atau keduanya positif, hasil pemeriksaan ulang dahak tersebut dinyatakan positif (Kemenkes RI, 2014).

Hasil dari pemeriksaan mikroskopis semua pasien sebelum memulai pengobatan harus dicatat. Pemeriksaan ulang dahak pasien TB BTA positif merupakan suatu cara terpenting untuk menilai hasil kemajuan pengobatan. Setelah pengobatan tahap awal, tanpa memperhatikan hasil pemeriksaan ulang dahak apakah masih tetap BTA positif atau sudah menjadi BTA negatif, pasien harus memulai pengobatan tahap lanjutan (tanpa pemberian OAT sisipan apabila tidak mengalami konversi). Pada semua pasien TB BTA positif, pemeriksaan ulang dahak selanjutnya dilakukan pada bulan ke 5. Apabila hasilnya negatif, pengobatan dilanjutkan hingga

seluruh dosis pengobatan selesai dan dilakukan pemeriksaan ulang dahak kembali pada akhir pengobatan (Kemenkes RI, 2014).

b. Hasil Pengobatan Pasien TB

Menurut Kemenkes RI (2014), dalam hasil pengobatan pasien TB dibagi 6 kriteria, antara lain :

1) Sembuh, yaitu pasien TB paru dengan hasil pemeriksaan bakteriologis positif pada awal pengobatan yang hasil

(58)

pemeriksaan bakteriologis pada akhir pengobatan menjadi negatif dan pada salah satu pemeriksaan sebelumnya.

2) Pengobatan lengkap, yaitu pasien TB yang telah menyelesaikan pengobatan secara lengkap dimana pada salah satu pemeriksaan sebelum akhir pengobatan hasilnya negatif namun tanpa ada bukti hasil pemeriksaan bakteriologis pada akhir pengobatan.

3) Gagal, yaitu pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan atau kapan saja apabila selama dalam pengobatan diperoleh hasil laboratorium yang menunjukkan adanya resistensi OAT.

4) Meninggal, yaitu pasien TB yang meninggal oleh sebab apapun sebelum memulai atau sedang dalam pengobatan.

5) Putus berobat (loss to follow-up), yaitu pasien TB yang tidak memulai pengobatannya atau yang pengobatannya terputus selama 2 bulan terus menerus atau lebih.

6) Tidak dievakuasi, yaitu pasien TB yang tidak diketahui hasil akhir pengobatannya. Termasuk dalam kriteria ini adalah

”pasien pindah (transfer out)” ke kabupaten/kota lain dimana hasil akhir pengobatannya tidak diketahui oleh kabupaten/kota yang ditinggalkan.

(59)

7. Pengendalian Infeksi Tuberkulosis pada Sarana Layanan

Semua tempat pelayanan kesehatan perlu menerapkan upaya pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) TB untuk memastikan berlangsungnya deteksi segera, tindakan pencegahan dan pengobatan seseorang yang dicurigai atau dipastikan menderita TB. Upaya tersebut berupa pengendalian infeksi dengan 4 pilar yaitu ; pengendalian manajerial, pengendalian administratif, pengendalian lingkungan dan pengendalian dengan alat pelindung diri.

PPI TB pada kondisi/situasi khusus adalah pelaksanaan pengendalian infeksi pada rutan/lapas, rumah penampungan sementara, barak-barak militer, tempat-tempat pengungsi, asrama dan sebagainya. Misalnya di rutan/lapas skrining TB harus dilakukan ada saat WBP baru(warga penghuni baru), dan kontak sekamar.

1) Pengendalian Manajerial.

Pihak manajerial adalah pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan, kepala dinas kesehatan propinsi dan kabupaten/kota dan/atau atasan dari institusi terkait. Komitmen, kepemimpinan dan dukungan manajemen yang efektif berupa penguatan dari upaya manajerial bagi program PPI TB yang meliputi:

a. Membuat kebijakan pelaksanaan PPI TB

b. Membuat SPO (Standar Prosedur Operasional) mengenai alur pasien untuk semua pasien batuk, alur pelaporan dan surveilans

(60)

c. Membuat perencanaan program PPI TB secara komprehensif

d. Memastikan desain dan persyaratan bangunan serta pemeliharaannya sesuai PPI TB

e. Menyediakan sumber daya untuk terlaksananya program PPI TB (tenaga, anggaran, sarana dan prasarana) yang dibutuhkan

f. Monitoring dan evaluasi

g. Melakukan kajian di unit terkait penularan TB

h. Melaksanakan promosi pelibatan masyarakat dan organisasi masyarakat terkait PPI TB

2) Pengendalian administratif

Adalah upaya yang dilakukan untuk mencegah/mengurangi pajanan kuman M. tuberculosis kepada petugas kesehatan, pasien, pengunjung dan lingkungan dengan menyediakan, mendiseminasikan dan memantau pelaksanaan standar prosedur dan alur pelayanan.

Upaya ini mencakup:

a. Strategi TEMPO (TEMukan pasien secepatnya, Pisahkan secara aman, Obati secara tepat)

b. Penyuluhan pasien mengenai etika batuk

c. Penyediaan tisu dan masker, tempat pembuangan tisu serta pembuangan dahak yang benar

(61)

d. Pemasangan poster, spanduk dan bahan untuk komunikasi, informasi dan edukasi (KIE)

e. Skrining bagi petugas yang merawat pasien TB

3) Pengendalian lingkungan

Adalah upaya peningkatan dan pengaturan aliran udara/ventilasi dengan menggunakan teknologi untuk mencegah penyebaran dan mengurangi atau menurunkan kadar percik renik di udara. Upaya pengendalian dilakukan dengan menyalurkan percik renik ke arah tertentu (directional airflow) dan atau ditambah dengan radiasi ultraviolet sebagai germisida.

4) Pengendalian dengan alat pelindung diri

Penggunaan alat pelindung diri pernapasan oleh petugas kesehatan di tempat pelayanan sangat penting untuk menurunkan risiko terpajan, sebab kadar percik renik tidak dapat dihilangkan dengan upaya administratif dan lingkungan. Petugas kesehatan menggunakan respirator dan pasien menggunakan masker bedah.

Petugas kesehatan dan pengunjung perlu mengenakan respirator jika berada bersama pasien TB di ruangan tertutup. Pasien atau tersangka TB tidak perlu menggunakan respirator tetapi cukup menggunakan masker bedah untuk melindungi lingkungan sekitarnya dari droplet (Kemenkes RI, 2014).

8. Pencegahan TB

(62)

Masalah TB paru banyak berkaitan dengan masalah pengetahuan dan perilaku masyarakat. Oleh karena itu perlu dilakukan pemberian informasi kepada masyarakat. Penyuluhan TB paru dapat dilaksanakan dengan menyampaikan pesan penting secara langsung ataupun menggunakan media. Penyuluhan langsung bisa dilakukan perorangan dan masyarakat. Sementara penyuluhan tidak langsung dengan menggunakan media, dalam bentuk bahan cetak (leaflet, poster, atau spanduk) dan media massa (media cetak dan media elektronik) (Depkes RI, 2002).

E. Monitoring dan Evaluasi Program TB

Monitoring dan evaluasi program TB merupakan salah satu fungsi manajemen untuk menilai keberhasilan pelaksanaan program TB.

Monitoring dilakukan secara berkala sebagai deteksi awal masalah dalam pelaksanaan kegiatan program sehingga dapat segera dilakukan tindakan perbaikan. Evaluasi dilakukan untuk menilai sejauh mana pencapaian tujuan, indikator,dan target yang telah ditetapkan. Evaluasi dilakukan dalam rentang waktu lebih lama, biasanya setiap 6 bulan sampai dengan 1 tahun (Kemenkes RI, 2014).

Pelaksanaan monitoring dan evaluasi merupakan tanggung jawab masing-masing tingkat pelaksana program, mulai dari fasilitas kesehatan, kabupaten/kota, provinsi hingga pusat. Seluruh kegiatan program harus dimonitor dan dievaluasi dari aspek masukan (input), proses, maupun

(63)

keluaran (output) dengan cara menelaah laporan, pengamatan langsung dan wawancara ke petugas kesehatan maupun masyarakat sasaran (Kemenkes RI, 2014)

F. Kerangka Teori

Implementasi penanggulangan TB dengan strategi DOTS dapat diukur menggunakan teori Edward III sesuai dengan tujuan yang telah dicantumkan maka dapat disusun kerangka pikir penelitian sebagai berikut :

(64)

Bagan 2.1

Kerangka Teori. Sumber Azwar (2010), Kemenkes (2016), Edwar III (1984) Kebijakan Kesehatan

Kebijakan penanggulangan TB Permenkes No. 67 Tahun 2016

Strategi DOTS

PROSES

1. Komitmen Politis

2. Penemuan Kasus melalui pemerisaan dahak

mikroskopis

3. Pemberian obat yang di awasi secara langsung 4. Ketersediaan OAT 5. Pencatatan dan pelaporan

KELUARAN

1. Angka Penemuan Kasus

2. Angka Keberhasilan pengobatan

MASUKAN 1. Kebijakan 2. SDM 3. Dana

4. Sarana dan Prasarana

DAMPAK

TB akan menjadi masalah kesehatan yang kasusunya selalu meningkat

Umpan Balik

(65)

BAB III

KERANGKA KONSEP

A. Kerangka Berfikir

Berdasarkan tujuan penelitian ini maka peneliti membatasi kerangka pikir penelitian ini dimana yang menjadi input pada penelitian ini adalah, Sdm, dana, sarana dan prasarana. Proses pada penelitian ini adalah komitmen politis, penemuan kasus melalui pemeriksaan dahak mikroskopis, pemberian Obat yang diawasi secara langsung, ketersedian obat, pencatatan dan pelaporan. Sedangkan output dari penelitian ini adalah angka penemuan kasus dan angka keberhasilan pengobatan.

Adapun alur pikir peneltian ini terlihat pada bagan sebagai berikut:

Bagan 3.1 kerangka berfikir

Output : Pelayanan dan Keberhasilan Program

Penanggulangan TB Paru

Proses:

1. Komitmen Politis 2. Penemuan Kasus

melalui pemeriksaan dahak mikroskopis 3. Pemberian obat yang

di awasi secara langsung

4. Ketersediaan OAT 5. Pencatatan dan

pelaporan Input :

1. Kebijakan 2. SDM 3. Dana 4. Sarana dan

Prasarana

(66)

Berdasarkan kerangka berpikir diatas, dapat dilihat bahwa kerangka penelitian ini terdiri dari input, proses dan output. Adapun yang dinilai dari komponen tersebut adalah sebagai berikut :

1. Input

a. Kebijakan

Kebijakan adalah rangkaian konsep dan asas yang menjadi pedoman dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak.

b. Sumber Daya Manusia

Sumber daya manusia (SDM) adalah salah satu faktor yang sangat penting bahkan tidak dapat dilepaskan dari sebuah organisasi, baik institusi maupun perusahaan.SDM juga merupakan kunci yang menentukan perkembangan perusahaan.Pada hakikatnya, SDM berupa manusia yang dipekerjakan di sebuah organisasi sebagai penggerak, pemikir dan perencana untuk mencapai tujuan organisasi itu.

Pengertian SDM dapat dibagi menjadi dua, yaitu pengertian mikro dan makro.Pengertian SDM secara mikro adalah individu yang bekerja dan menjadi anggota suatu perusahaan atau institusi dan biasa disebut sebagai pegawai, buruh, karyawan, pekerja, tenaga kerja dan lain sebagainya.

Sedangkang pengertian SDM secara makro adalah penduduk

(67)

suatu negara yang sudah memasuki usia angkatan kerja, baik yang belum bekerja maupun yang sudah bekerja.

c. Sarana dan prasarana

Sarana dan prasarana termasuk didalamnya yaitu : tersedianya OAT, peralatan untuk pemeriksaan laboratorium (pot dahak, kaca sediaan), formulir pencatatan dan pelaporan untuk menunjang keberhasilan pengobatan TB Paru dengan strategi DOTS.

d. Dana

Pendanaan adalah adanya materi dalam bentuk uang yang digunakan untuk pelaksanaan program penanggulangan TB Paru.

2. Proses

1. Komitmen Politis

Komitmen politis dari pemerintah adalah keputusan pemerintah untuk menjadikan tuberkolosis sebagai prioritas penting atau utama dalam program kesehatannya,termasuk dukungan dana.

2. Pmeriksaan dahak melalui pemeriksaan Dahak mikrokopis.

Proses penanggulangan TB Paru adalah langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, yang ditujukan untuk melindungi kesehatan masyarakat, menurunkan angka kesakitan, kecacatan atau

(68)

kematian, memutuskan penularan, mencegah resistensi obat dan mengurangi dampak negative yang ditimbulkan akibat Tuberculosis.

3. Pemberian obat

Pemberian obat yang diawasi secara langsung oleh PMO.

4. Ketersediaan obat

Kesinambungan persediaan OAT, 5. Pencatatan dan pelaporan

Sistem monitoring serta pencatatan dan pelaporan untuk pemantauan serta hasil pengobatan TB.

3. Output

Output Adalah untuk pengetahui angka penemuan kasus dan angka kesembuhan TB paru.

Referensi

Dokumen terkait

Untuk tercapainya tujuan tersebut puskesmas sebagai pelaksana program penanggulangan TB Paru di masyarakat perlu melakukan evaluasi terhadap kegiatan yang dilakukan dalam

Dari keseluruhan responden yang menjadi sampel dalam penelitian ini (30 responden), menunjukkan bahwa secara keseluruhan pelaksanaan program penanggulangan TB Paru dengan

Jenis penelitian ini adalah explanatory research, yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh motivasi kerja terhadap tingkat kinerja petugas TB Paru Puskesmas dalam Penemuan

Penemuan penderita TB Paru secara aktif yang dilakukan di Puskesmas Balai Selasa hanya bila ada instruksi dari Dinas Kesehatan Kabupaten dan Dinas Kesehatan Provinsi,

Dari uji Chi Square memperoleh hasil x² = 0,05, p value 0,004, Ho ditolak, yang bertujuan untuk menguji hubungan antara masa kerja responden dengan praktik penemuan suspek TB

Berdasarkan data awal yang diperoleh dari tingginya angka penderita tuberkulosis paru di Kecamatan Luyo di wilayah kerja puskesmas batupanga, tidak terlepas dari

Bagaimana sistem monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh dinas kesehatan terhadap puskesmas dalam program penanggulangan TB paru.. Kepala Puskesmas Batang

Variabel yang diteliti meliputi 1 standar dan sasaran kebijakan meliputi kejelasan standar program dan sasaran dalam implementasi penemuan kasus TB Paru, 2 sumber daya menunjuk kepada