• Tidak ada hasil yang ditemukan

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBERFAKULTASUSHULUDDIN,ADAB DAN HUMANIORAMARET2019

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBERFAKULTASUSHULUDDIN,ADAB DAN HUMANIORAMARET2019"

Copied!
77
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Fokus Kajian

Apakah kedudukan wanita dalam perspektif pelbagai bangsa dan agama dalam kitab al-Mar’atu fi al-Qur’an. Apakah pendirian Abbas Mahmud al-Akkad tentang kedudukan wanita dalam kitab al-Mar’atu fi al-Qur’an.

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Dapat memperkaya wawasan dan memperdalam kajian tafsir terkait kedudukan perempuan menurut tafsir Abbas Mahmud Al-Aqqad dalam kitab Tafsir Al-Mar'atu fi Al-Quran. Penelitian ini dihadirkan dalam rangka memberikan sumbangsih ilmiah dan penyadaran terhadap pemahaman dan informasi mengenai kedudukan perempuan yang mempunyai kedudukan dan keistimewaan yang berpengaruh dalam keluarga, masyarakat dan negara guna mengurangi permasalahan bias gender. Dapat menambahkan karya penelitian yang dapat dijadikan sumbangsih ilmiah yang bersifat strategis dan cukup nyata untuk dijadikan bahan pertimbangan penelitian selanjutnya.

Definisi Istilah

Sebab Al-Quran menekankan bahwa derajat keluhuran laki-laki dan perempuan dilihat dari ketakwaannya, bukan dari perbedaan biologisnya. 15Uki Sukiman, Resepsi Sastra Novel Sarah Karya Abbas Mahmud Al Aqqad, Skripsi Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga, 2010), 10. 16 Barbara Freyer Stowaser, Reinterpretasi Gender, Perempuan dalam Al-Qur'an, Hadits, Terjemahan :H .

Abbas Mahmud al-Aqqad adalah seorang pemikir, filsuf dan cendekiawan sekaligus jurnalis ulung pada akhir abad 19 dan 20. Putra Ibrahim Mahmud al-Aqqad lahir pada hari Jumat di kota Aswan. Ia termasuk dalam daftar mufassir kontemporer penulis tafsir tematik bertajuk al-Mar'atu fi al-Qur'an (Wanita dalam Al-Qur'an), dan banyak menyumbangkan pemikirannya bagi perkembangan agama dan masyarakat.

Beberapa gurunya antara lain Muhammad Abduh, Syekh Fahruddin Muhammad, Sa'ad Zaglul dan Abdullah Nadim al-Aqqad. Al-Mar'atu fi al-Qur'an merupakan kitab tafsir yang ditulis oleh al-Aqqad (sapaan akrab Abbas Mahmud), kitab yang bercorak maudhu'i (tematik) yang merupakan hasil renungan dari karya pengarangnya. pikiran.

Metode Penelitian

Artinya, penelitian ini mengasumsikan bahwa realitas empiris terjadi dalam konteks sosial budaya, saling berhubungan satu sama lain. Sumber data primer penelitian ini adalah kitab dan tulisan Abbas Mahmud al-Aqqad, khususnya al-Mar'ah fi al-Quran.

Sistematika Pembahasan

BAB Kedua: Bab ini merupakan tinjauan pustaka yang menyebutkan beberapa penelitian terdahulu dan menjelaskan kajian teoritis yang digunakan sebagai alat analisis dalam meneliti kedudukan perempuan, serta biografi dan gambaran umum terkait komentator dan karya tulisnya. Bab Tiga: Pembahasan, merupakan bab yang mulai fokus pada persoalan-persoalan yang berkaitan dengan kedudukan perempuan, antara lain. Ayat-ayat yang berkaitan dengan kedudukan perempuan, pandangan beberapa bangsa dan agama tentang kedudukan perempuan, sebagaimana akan dijelaskan dalam kitab tersebut, dan tafsir Abbas Mahmud al-Aqqad dalam tafsirnya tentang al-Mar'atu fi al- Al-Qur'an tentang kedudukan wanita.

KAJIAN KEPUSTAKAAN

Kajian Teori

Ulama generasi awal umumnya menguasai ilmu-ilmu yang diperlukan untuk menafsirkan Al-Qur’an, seperti bahasa Arab, balaghah dan lain sebagainya. Pun pada masa para sahabat Nabi, mereka menyaksikan dan merasakan langsung situasi dan kondisi turunnya ayat-ayat Al-Qur’an. Namun bukan berarti mereka menafsirkan Al-Qur'an secara sembarangan tanpa menggunakan metode.

Ada empat metode tafsir yang populer dalam kajian tafsir, antara lain metode ijmali; adalah metode penafsiran yang menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an sedemikian rupa sehingga menyampaikan makna global. Agar jelas, penafsir membahas ayat demi ayat sesuai urutan mushaf, kemudian menjelaskan makna global ayat tersebut dengan bahasa yang mudah dipahami. Metode Tahlili, yaitu metode tafsir yang bertujuan untuk menjelaskan isi ayat-ayat Al-Qur'an dari segala aspeknya.

Pentafsiran juga dilakukan mengikut susunan mushaf, jurubahasa memulakan langkahnya dengan menjelaskan makna kosa kata diikuti penjelasan makna global, kemudian aspek munasabah ayat-ayat dan sebab-sebab nuzulnya juga dijelaskan. , kemudian dikemukakan berbagai-bagai riwayat Nabi atau Sahabat, diikuti dengan pendapat tafsir dengan kecenderungan masing-masing. Ketiga, kaedah muqaran ialah dengan mengemukakan tafsiran ayat-ayat al-Quran yang dikarang oleh sejumlah ahli tafsir kemudian membandingkannya.25 Kaedah ini juga menerangkan perbandingan antara ayat, ayat dengan hadis dan ayat dengan tafsirannya. 26 Keempat, kaedah Maudhu'i iaitu kaedah. Kedua, kumpulkan dan ikuti ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah yang dinyatakan, ayat Makkyah dan ayat Madaniyyah.

Ketiga, susun ayat-ayatnya secara berurutan mengikut kronologi pada waktu turunnya, disertai dengan asbab nuzul, jika ada. Ketujuh, mengkaji ayat-ayat secara tematik dan menyeluruh dengan menghimpun ayat-ayat yang mengandungi makna yang sama, mengkompromikan antara yang umum ('am) dan yang khusus (Khas), antara yang mutlak dan muqayyad, menyelaraskan ayat-ayat yang kelihatan bertentangan, menjelaskan ayat nasikh dan mansukh supaya semua. ayat-ayat itu bertemu secara pertemuan tanpa perbezaan atau percanggahan atau tindakan memaksa beberapa ayat menjadi makna yang sebenarnya salah. Baqir al-Sadr menyebut terdapat dua langkah utama dalam mengaplikasikan kaedah maudhu’i iaitu pertama menentukan tema melalui pembacaan realiti atau dalam bahasa Baqir al-Sadr yabda’u min al-waqi’.

Menurutnya, seorang penafsir yang menggunakan metode Maudhu'i harus memulainya dengan membaca permasalahan yang sebenarnya terjadi di masyarakat agar penafsirannya dapat menjadi solusi atas permasalahan tersebut.28 Kedua, penafsir melakukan dialog dengan Al-Qur'an. Dari langkah-langkah prosedural yang ditawarkan keduanya, secara umum terdapat tiga langkah pokok dalam penerapan metode tafsir Maudhu’i. Pertama, mufassir menentukan topik yang akan dibicarakan, kemudian ia membacakan ayat-ayat yang berkaitan dengan topik tersebut, kemudian mufassir menjelaskan dan menafsirkan ayat-ayat tersebut untuk menemukan jawaban atas topik tersebut.

Biografi Abbas Mahmud Al-Aqqad

Salah satu pengalaman tak terlupakannya adalah ketika seorang musafir Muslim asal Inggris, Majur Dicksun, menghadiahkannya dua buku, Tarjamah Al-Qur'an dan The French Revolution karya Thomas Carlyle. Di sisi lain, al-Aqqad dapat dilihat sebagai ulama yang paling antusias dan bersemangat untuk mengeksplorasi konsep Al-Qur'an tentang umat dan bagaimana umat Islam menjadi pemimpin di masa depan. Sayakun (1959), Falsafat Al-Qur'aniyyat (Filsafat Al-Qur'an) dan Al-Insan fi Al-Qur'anen (Manusia dalam Al-Qur'an.

Al-Quran membuka jalan seluas-luasnya bagi akal manusia untuk melakukan diskusi dan penelitian guna menyempurnakan kepribadiannya. Seperti kitab tafsir Al-Mar'atu fi Al-Qur'an yang penjelasannya ditujukan untuk wanita dan tidak menunjukkan urutan pembahasan seperti tafsir pada umumnya. Kedudukan wanita menurut pandangan berbagai agama dan bangsa dalam kitab al-Mar’atu fi al-Qur’an.

44 Urwatul Wusqa, majalah berjudul Wanita: Kedudukan dan Tinjauan Karir Hidupnya Menurut Al-Qur'an dan Hadits, 174. Pandangan Abbas Mahmud al-Aqqad tentang kedudukan perempuan dalam kitab al-Mar'atu fi al - Alquran. Maka kemudian Al-Quran datang ke negeri ini, hingga ke seluruh pelosok negeri, dengan hak-hak yang ditentukan bagi perempuan yang belum pernah ada sebelumnya dalam pedoman syariah atau pedoman agama, dan yang paling mulia di antaranya adalah Allah yang membesarkan mereka. dari kehinaan menuju kedudukan yang manusiawi seutuhnya, dari keturunan Adam dan Hawa yang terbebas dari godaan dan sifat-sifat binatang.64.

Namun, yang baru dari cerita dalam Al-Qur'an ini adalah bahwa godaan tersebut tidak disalahkan pada Hawa, melainkan pada Setan. Ada penegasan dalam Al-Qur'an bahwa setiap laki-laki dan perempuan yang mengamalkan prinsip-prinsip Islam akan mendapat pahala yang sepadan dengan usahanya. Jika wanita yang menganut agama lain tidak diperbolehkan mempelajari kitab suci agamanya, maka Allah SWT dalam Islam bahkan memasukkan salah satu surah dalam Al-Qur'an yang banyak berbicara tentang wanita, yaitu surah an-Nisa pada urutan keempat doa sebagai - Suwar fi al-Mushaf73.

Memang baru belakangan ini para pengamat Barat mulai menyadari bahwa Al-Qur'an secara umum memperbaiki posisi perempuan Arab, tidak seburuk yang sering digambarkan oleh orang-orang Barat (Keddie; t.t.: .26). Mereka mengaitkan posisi tercela perempuan Islam, bukan karena peristiwa yang terjadi di masyarakat mereka, namun karena ajaran yang terkandung dalam Al-Qur'an, yang secara signifikan menurunkan status perempuan. 77 Al-Qur'an dan Terjemahannya (revisi terbaru) Kementerian Agama Republik Indonesia dengan transliterasi Arab-Latin (Rumy).

Al-Qur'an juga menjelaskan bahwa dilarang keras bagi seorang muslim untuk menulari anak perempuan dengan cara memperlambat atau bahkan membatasi pertumbuhan dan perkembangannya.82. Kedudukan perempuan menurut Abbas Mahmud al-Aqqad dalam kitab al-Mar'atu fi al-Qur'an sangat memperhatikan kedudukan dan persepsi kodrati seorang perempuan. Salah satu keprihatinan Al-Qur’an mengenai kedudukan perempuan adalah adanya lafadz yang selain perempuan juga menunjukkan lafadz kepada laki-laki.

Metode Maudhu’i dalam Tafsir Al Qur’an (Studi Banding Pemikiran Muhammad Baqir Al Sadr dan Abdul Hayy Al Farmawi)”.

Referensi

Dokumen terkait

Rekomendasinya adalah bahwa tataran normative pendidikan Islam yang bersumber dari al-Qur‟an dan hadis memberikan peluang terhadap laki-laki dan perempuan untuk

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh antara Kemampuan Guru dalam Memahami Karakteristik Mata Pelajaran Al-Qur'an Hadits Kelas VIII (X) dengan Ketepatan

Diantara keputusan tersebut yaitu, (1) Mengaku bahwa : “Islam memberikan hak-hak yang sama kepada perempuan dan laki-laki sebagaimana telah ditegaskan dalam Al-Qur’an

Ayat-ayat tersebut mengindikasikan terbantahnya teori al-s}arfah yang memandang kemukjizatan al-Qur‟an‎ tidak‎ berasal‎ dari‎ diri‎ sendiri‎ tetapi‎

Skripsi yang berjudul “Efektivitas Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS) Terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits Pada Siswa Kelas VIII Semester 1 Madrasah

Analisa atau pembahasan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Pelaksanaan Metode Bagdadiyah dalam Pembelajaran Membaca Al-Qur‟an yaitu dengan cara santri atau siswa maju untuk

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1 peran guru dalam meningkatkan disiplin belajar mata pelajaran Al-Qur’an Hadits siswa di Madrasah Ibtidaiyah As-Salam Lagan Bungin adalah guru

Kesimpulan Setelah melakukan penelitian dengan mengumpulkan data-data yang diperlukan dan melakukan analisis dengan teori yang telah dipaparkan, yaitu mengenai pembelajaran nilai