• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Praktikum Farmakokinetik Validas (1)

N/A
N/A
221.04@ SALSABILA RAHMA REFFANANA

Academic year: 2025

Membagikan "Laporan Praktikum Farmakokinetik Validas (1)"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOKINETIK

MODUL 1

PENGEMBANGAN METODE ANALISIS OBAT DALAM SAMPEL BIOLOGIS Validasi Metode Analisis Penentuan Kurva Kalibrasi Dengan Spektrofotometri A. TUJUAN

Melakukan validasi metode analisis sampel dengan penentuan kalibrasi dengan spektrofotometri untuk memastikan bahwa metode yang digunakan sidaj sesiao dengan tujuan penggunaan dan memberikan hasil yang dapat dipercaya.

B. PRINSIP

Validasi metode analisis sampel Paracetamol menggunakan Spektrofotometri dengan parameter linieritas, Limit of Detection (LOD) dan Limit of Quantitation (LOQ).

C. DASAR TEORI

Tahap awal dalam penelitian farmakokinetik adalah penentuan kadar obat dalam sampel biologis, karena parameter farmakokinetik obat tersebut diperoleh berdasarkan hasil pengukuran kadar obat utuh dan atau hasil uraian (metabolitik) dalam sampel biologis seperti darah, urine, saliva, dan lain-lain. Metode analisis yang digunakan untuk menentukan kuantitatif kadar obat dalam sampel biologis merupakan hal yang sangat penting dalam evaluasi dan intepretasi data farmakokinetik. Oleh karena itu metode analisis yang tervalidasi merupakan suatu kebutuhan mutlak untuk memperoleh hasil yang dapat dipercaya.

Tahap untuk mendapatkan metode analisis yang valid untuk diaplikasikan dalam suatu penelitian farmakokinetik meliputi pengembangan metode analisis dan validasi metode analisis yang digunakan. Dalam tahap pengembangan perlu diperhatikan apakah untuk obat yang akan diteliti belum pernah ada metode analisis untuk penentuan kadar obat tersebut dalam matriks biologis yang akan digunakan. Jika memang belum ada metode analisis yang telah dikembangkan, maka perlu diperhatikan struktur dan sifat fisikokimia obat yang akan diteliti. Apakah ada metode analisis untuk metode lain dengan struktur yang mirip dengan matriks biologis yang sama. Jika ada, data ini merupakan suatu awal untuk memulai suatu pengembangan metode analisis. Dalam banyak kasus, metode analisis untuk penelitian farmakokinetik dapat diadaptasi dari suatu atau beberapa metode analisis yang telah dipublikasikan dengan melakukan sedikit ataupun berbagai modifikasi untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.

(2)

1. Metode kimia, contohnya : HPLC (High Performance Liquid Chromatography), GC (Gas Chromatography), LC-MS (Liquid Chromatography Mass Spectrophotometry).

2. Metode bilogis, yang didasarkan pada prosedur immunoassay (RIA, radioimmunoassay), enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) dan metode mikrobiologi.

Pengembangan metode analisis meliputi evaluasi dan optimasi berbagai tahapan, seperti penyiapan sampel, pemisahan analit atau obat yang diteliti, deteksi dan kuantifikasi.

Validasi suatu metode anlisis dilakukan untuk menjamin bahwa metode yang akan digunakan adalah valid dan terpercaya. Beberapa parameter digunakan untuk mengevaluasi validitas dan metode yang dikembangkan, antara lain: perolehan kembali (recovery) obat dari matriks biologi yang digunakan, presisi dan akurasi. Persyartan yang dituntut bagi suatu metode tersebut dapat memberikan nilai perolehan kembali yang tinggi (75-90% atau lebih), kesalahan acak dan kesalahan sistemik kurang dari (10%).

Kepekaan dan selektivitas peralatan merupakan kriteria lain yang penting, hal mana nilainya akan sangat tergantung dari alat pengukur yang digunakan. Stabilitas obat akan diteliti dalam matriks sampel juga harus diperhatikan.

Berbagai sampel biologis dapat diambil untuk penentuan kadar obat dalam tubuh untuk penelitian farmakokinetik, sebagai contoh : darah, urin, feses, saliva, jaringan tubuh, cairan blister, cairan spinal, dan cairan sinovial. Darah merupkan sampel biologis yang paling umum digunakan dan mengandung berbagai protein seperti albumin dan globulin. Pada umumnya bukan darah utuh (whole blood) tetapi plasma ataupun serum yang digunakan untuk penentuan kadar obat. Serum diperoleh dengan membiarkan darah untuk menggumpal dan supernatan yang dikumpulkan setelah sentrifugasi adalah serum.

Sedangkan plasma diperoleh dengan penambahan antokoagulan pada darah yang diambil dan supernatan yang diperoleh setelah sentrifugasi merupakan plasma. Jadi plasma dan serum dibedakan dari protein yang dikandungnya.

Adanya kandungan protein dalam sampel biologis yang akan dianalisamenyebabkan dibutuhksnnys suatu tahap perlakuan awal dan atau penyiapan sampel sebelum penentuan kadar obat dapat dilakukan. Hal ini untuk mengisolasi atau memisahkan obat akan diteliti dari matriks sampel yang diperoleh. Protein, lemak, garam, dan senyawa endogen dalam sampel akan mengganggu penetuan kadar obat yang bersangkutan dan

(3)

selain itu dalam hal analisa menggunakan metode seperti HPLC adanya zat-zat tersebut dapat merusak kolom HPLC sehingga usia kolom menjadi lebih singkat.

Berbagai prosedur untuk mendenaturasi protein dapat digunakan sebagai perlakuan awal sampel biologis yang diperoleh dari suatu penelitian farmakokinetik, meliputi penggunaan senyawa yang disebut sebagai zat pengendap protein (protein precipitating agent) sepeti, asaam tungstat, ammonium sulfat, asam trikloroasetat (trichoroacetic acid, TCA) , asam perkolat, metanol, dan asetonitril. Penggunaan pelarut organik seperti metanol dan asetonitril sebgai zat pengendap protein sangat umum digunakan terutama yang melibatkan metode analisis HPLC. Penggunaan metanol dan asetonitril mempunyai suatu keuntungan karena kompatibilitasnya dengan berbagai eluen yang digunakan dalam metode HPLC.

Metode isolasi atau pemisahan obat yang banyak digunakan dalam penelitian farmakokinetik adalah ekstrasi padat-cair (solid-phase extraction) dan ekstraksi cair-cair.

Ekstraksi padat-cair menggunakan catridge khusus untuk memisahkan obat dan sampel dengan volume yang relatif kecil (0,1-1 ml) yang tersedia secara komersial dengan harga yang cukup mahal. Ekstraksi cair-cair merupakan suatu metode yang paling banyak digunakan karena relatif cepat, simple, dan murah dibandingkan dengan ekstraksi padat- cair pada umumnya diikuti dengan proses pemekatan obat yang akan dianalisa.

Pemilihan pelarut pengekstraksi dalam ekstraksi cair-cair harus didasarkan pada sifat fisikokimia obat maupun metabolit yang akan diisolasi. Berbagai faktor dapat menjadi pertimbangan dalam seleksi pelarut yang akan digunakan, antara lain:

1. Immisible (tidak bercampur) dengan air

2. Mempanyai kemampuan melarutkan obat yang dinginkan dalam jumlah yang besar sehingga memberikan nilai recovery yang besar

3. Mempunyai titik didih yang relatif rendah sehingga waktu evaporasi pelarut dapat lebih singkat

4. Sedapat mungkin volume yang digunakan untuk ekstraksi adalah minimal sehingga akan menekan biaya yang dikeluarkan

5. Jika memungkinkan gunakan pelarut dengan berat jenis yang lebih kecil dan berat jenis air schingga proses pemisahan pelarut organik akan lebih mudah karena pelarut organik akan berada pada lapisan atas.

Linieritas merupakan kemampuan suatu metode untuk memperoleh hasil-hasil uji yang secara langsung proporsional dengan konsentrasi analit pada kisaran yang

(4)

menghubungkan antara respon (Y) dengan konsentrasi (X). Linieritas dapat diukur dengan melakukan pengukuran tunggal pada konsentrasi yang berbeda-beda. Data yang diperoleh selanjutnya diproses dengan metode kuadrat terkecil, untuk selanjutnya dapat ditentukan nilai kemiringan (Slope), intersep, dan koefisien korelasinya (Gandjar dan Rohman, 2007).

Linieritas juga dapat dilakukan dengan mengukuran absorbansi larutan pembanding, kemudian dibuat kurva hubungan antara kadar vs serapan dan ditentukan persamaan regresi linier serta koefesien korelasi (x) dan koefesien korelasi dari fungsi (Vxo).

Koefesien fungsi regresi dapat dihitung menggunakan rumus dibawah ini (Harmita, 2004):

Sy/x = √∑ – Keterangan :

Sy/x : Simpangan Baku residual

Batas deteksi didefinisikan sebagai konsentrasi analit terendah dalam sampel yang masih dapat dideteksi, meskipun tidak selalu dapat dikuantifikasi. Definisi batas deteksi yang paling umum digunakan dalam kimia analisis adalah bahwa batas deteksi merupakan kadar analit yang memberikan respon sebesar respon blanko (yb) ditambah dengan 3 simpangan baku blanko (3Sb).

Limit Of Detection seringkali diekspresikan sebagai suatu konsentrasi pada rasionya 2 atau 3 dibanding 1. ICH mengenalkan suatu konvensi metode signal to noise ratio ini, meskipun demikian ICH juga menggunakan 2 metode pilihan lain untuk menentukan LOD yakni metode non instrumental visual dan dengan metode perhitungan.

Metode non instrumental visual digunakan pada teknik kromatografi lapis tipis dan pada metode titrimetri. LOD juga dapat dihitung berdasarkan pada standar deviasi (SD) respon dan kemiringan (Slope,S) kurva baku pada level yang mendekati LOD sesuai dengna rumus, LOD = 3,3 (SD/S). Standar deviasi respon dapat ditentukan berdasarkan pada SD blanko, pada SD residual dari garis regresi atau standar deviasi intersep y pada garis regresi (Gandjar dan Rohman, 2007).

Batas kuantifikasi didefinisikan sebagai konsentrasi analit terendah dalam sampel yang dapat ditentukan dengan presisi dan akurasi yang dapat diterima pada kondisi operasional metode yang digunakan. LOQ juga diekspresikan sebagai konsentrasi (dengan akurasi dan presisi juga dilaporkan). Kadang-kadang rasio signal tunoise 10:1 digunakan untuk menentukan LOQ. Perhitungan LOQ dengan rasio signal to noise 10:1

(5)

merupakan aturan umum, namun LOQ merupakan suatu kompromi antara konsentrasi dengan presisi dan akurasi yang dipersyaratkan. Sehingga konsentrasi LOQ menurun maka presisi juga menurun. Jika presisi tinggi dipersyaratkan, maka konsentrasi LOQ yang lebih tinggi harus dilaporkan.

ICH mengenalkan metode rasio signal to noise ini, namun sebagai mana dalam perhitungan LOD, ICH juga menggunakan 2 metode untuk menentukan LOQ yaitu metode non instrumental visual dan metode perhitungan. Metode perhitungan didasarkan pada standar deviasi respon (SD) dan slope (S) kurva baku sesuai dengan rumus: LOQ = 10 (SD/S) standar deviasi respon dapat ditentukan berdasarkan standar deviasi blanko pada standar deviasi residual garis rekresi linier atau dengan standar deviasi intersep-y pada garis regresi (Gandjar dan Rohman, 2007).

D. TUGAS PENDAHULUAN

1. Tuliskan pembuatan dapar phospat pH 7,4 dan perhitungannya!

Jawab :

Dibuat dengan mencampur 50mL KH2PO4 0,2 M dengan sejumlah 39,1mL NaOH 0,2N dan diencerkan dengan air bebas karbondioksida P secukupnya hingga 200mL (Source: FI edisi III hal 755).

Pembuatan dapar phospat pH 7,4 sebanyak 2 L KH2PO4 =

KH2PO4 =

0,2 M =

Gram KH2PO4 =

Gram KH2PO4 = 13,608 gram

NaOH =

NaOH =

0,2 N =

Gram NaOH =

(6)

Gram NaOH = 3,128 gram

Jadi pembuatan dapar phospat pH 7,4 sebanyak 2 L dibuat dengan menimbang KH2PO4 sebanyak 13,608 gram kemudian dilarutkan dalam 500mL air bebas karbondioksida, menimbang NaOH sebanyak 3,128 gram kemudian dilarutkan dalam 391 mL air bebas karbon dioksida. Campurkan kedua larutan dan tambahkan air bebas karbondioksia secukupnya hingga 2L.

2. Jelaskan perhitungan dan pembuatan larutan induk Paracetamol 1000 bpj sebanyak 100mL!

Jawab :

Paracetamol 1000 bpj = 1000 μg / mL Pembuatan untuk volume 100 mL

Paracetamol 1000 bpj = 100.000 μg /100 mL

= 100 mg / 100 mL

Jadi penimbangan paracetamol untuk pembuatan larutan induk paracetamol 1000 bpj sebanyak 100mL adalah 100mg, kemudian dilarutkan dalam pelarut yang sesuai secukupnya hingga 100mL

3. Jelaskan perhitungan 1 seri set pengenceran larutan induk konsentrasi 2,4,6,10, 12 ppm sebanyak 50mL!

Jawab :

Pengenceran Paracetamol induk 1000 bpj menjadi 100 bpj sebanyak 100mL

V1 . C1 = V2 . C2

V1 . 1000 bpj = 100mL . 100 bpj

V1 = 10 mL

Pengenceran paracetamol 100 bpj menjadi beberapa seri konsentrasi : Pengenceran konsentrasi 2 bpj

V1 . C1 = V2 . C2

V1 . 100 bpj = 50mL . 2 bpj

V1 = 1 mL

Pengenceran knsentrasi 4 bpj

V1 . C1 = V2 . C2

V1 . 100 bpj = 50mL . 4 bpj

V1 = 2 mL

(7)

Pengenceran konsentrasi 6 bpj

V1 . C1 = V2 . C2

V1 . 100 bpj = 50mL . 6 bpj

V1 = 3 mL

Pengenceran konsentrasi 10 bpj

V1 . C1 = V2 . C2

V1 . 100 bpj = 50mL . 10 bpj

V1 = 5 mL

Pengenceran konsentrasi 12 bpj

V1 . C1 = V2 . C2

V1 . 100 bpj = 50ml . 12 bpj

V1 = 6 ml

E. ALAT & BAHAN

Alat 1. Mikropipet

2. Spektrofotometri UV-Vis 3. Kuvet

4. Beaker glass 5. Pengaduk kaca Bahan 1. Paracetamol

2. NaOH 3. KH2PO4 4. Aquadest 5. HCl 6. NaNO3

7. Asam amidosulfonat

(8)

F. PROSEDUR KERJA

1. Pembuatan larutan baku dapar phospat pH 7,4

2. Pembuatan pereaksi warna

Kalibrasi wadah 2L Timbang 13,608 gram KH2PO4

Larutkan dengan aquades hingga volume 500mL (A)

Timbang 3,128 gram NaOH Larutkan dengan

aquades hingga volume 391mL (B) Campurkan larutan

A dan B, tambahkan aquadest sebelum

tanda batas

Ukur pH hingga pH ± 7,4

Tambahkan aquades hingga

tanda batas.

Tambahkan 0,5mL HCL 6N

Tambahkan 1 mL NaNO3 10%

Vortex selama 1 menit, lalu diamkan

selama 5 menit

Tambahkan 1mL asam amidosulfonat

15%

Tambahkan 2,5 mL NaOH 10%

Diamkan 3 menit didalam es

(9)

3. Pembuatan kurva kalibrasi Paracetamol 1

4. Pembuatan kurva kalibrasi Paracetamol 2 Membuat larutan

induk PCT 1000bpj sebanyak 100 mL

Lakukan pengenceran PCT 100 bpj dalam 100mL

Encerka PCT 100 bpj menjadi

beberapa seri konsentrasi

Membuat larutan 2, 4, 6, 10, dan 12 bpj sebanyak

50mL Tambahkan

masing-masing dapar posphat pH

7,4 10mL Aduk masing-

masing larutan hingga homogen

Ukur absorbansi larutan tersebut menggunakan spektrofotmetri UV

dengan λ 243nm

Membuat larutan induk PCT

1000bpj sebanyak 100 mL

Encerka PCT 1000 bpj menjadi

beberapa seri konsentrasi

Membuat larutan 20, 40, 60, 100,

dan 120 bpj sebanyak 10mL

Tambahkan masing-masing dapar posphat pH

7,4 10mL Tambahkan

pereaksi warna Aduk masing-

masing larutan hingga homogen

Ukur absorbansi larutan tersebut menggunakan spektrofotmetri Vis

dengan λ 435nm

(10)

G. DATA PENGAMATAN 1. Paracetamol 243 nm

Gambar 1. Kurva baku Paracetamol 1 pada panjang gelombang 243nm

Tabel 1. Nilai LOD dan LOQ pada Paracetamol 1 Konsentrasi

(bpj)(x)

absorbansi

(y) y’ y−y′ |y-y'|2

Blanko (0) (0)

2 0.098 0.1091 -0.0111 0.0001

4 0.255 0.2297 0.0253 0.0006

6 0.323 0.3503 -0.0273 0.0007

8 0.506 0.4709 0.0351 0.0012

10 0.558 0.5915 -0.0335 0.0011

12 0.724 0.7121 0.0119 0.0001

∑ 0.0040

SD 0.0283

LOD 1.4080

LOQ 4.6932

y = 0.0603x - 0.0115 R² = 0.9845

0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8

0 2 4 6 8 10 12 14

Absorbansi

Konsentrasi (ppm)

Kurva Baku PCT 243 nm

(11)

Perhitungan :

Persamaan regresi linier : y = 0.0603x - 0.0115 Konsentrasi 2 ppm

y’ = 0.0603x - 0.0115

= (0.0603 . 2) – 0.0115

= 0.1091

y-y’ = 0.098 – 0.1091

= -0.0111 (y-y’)2 = (-0.0111)2

= 0.0001

SD = √∑

SD = √

SD = √

SD = √

SD = 0.0283

LOD =

LOD =

LOD = 1.4080

LOQ =

LOQ =

LOQ = 4.6932

(12)

2. Paracetamol 435 nm

Gambar 2. Kurva baku Paracetamol 2 pada panjang gelombang 435nm

Tabel 1. Nilai LOD dan LOQ pada Paracetamol 2 Konsentrasi

(bpj) (x)

Absorban

(y) y’ y−y′ |y-y'|2

Blanko (0) 0

20 0.057 0.0616 -0.0046 0.0000212

40 0.135 0.1396 -0.0046 0.0000212

60 0.225 0.2176 0.0074 0.0000548

80 0.311 0.2956 0.0154 0.0002372

100 0.391 0.3736 0.0174 0.0003028

120 0.438 0.4516 -0.0136 0.0001850

∑ 0.0008220

SD 0.0128215

LOD 9.8627264 LOQ 32.8757548 y = 0.0039x - 0.0164

R² = 0.9931

0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25 0.3 0.35 0.4 0.45 0.5

0 20 40 60 80 100 120 140

Absorbansi

Konsentrasi (ppm)

Kurva Baku PCT 435nm

(13)

Perhitungan :

Persamaan regresi linier : y = 0.0039x - 0.0164 Konsentrasi 20 ppm

y’ = 0.0039x - 0.0164

= (0.0039 . 20) – 0.0164

= 0.0616

y-y’ = 0.057 - 0.0616

= -0.0046 (y-y’)2 = (-0.0046)2

= 0.0000212

SD = √∑

SD = √

SD = √

SD = √

SD = 0.01282

LOD =

LOD =

LOD = 9.8627

LOQ =

LOQ =

LOQ = 32.8757

(14)

H. PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini dilakukan validasi metode analisis Paracetamol dengan parameter linieritas atau rentang, Limit of Detection (LOD) dan Limit of Quantitation (LOQ) menggunakan Spektrofotometri UV-Vis. Validasi merupakan konfirmasi melaluui bukti pemeriksaan dan telah sesuai dengan tujuan pengujian. Validasi metode analisis bertujuan untuk memastikan dan mengkonfirmasi bahwa metode analisis sesuai untuk peruntukannya. Perlunya dilakukan validasi metode analisis karena elemen penting dari control kualitas, validasi membantu memberikan jaminan bahwa pengukuran dapat diandalkan.

Validasi metode analisis dilakukan dengan penentuan kadar paracetamol secara Spektrofotometri UV-Vis. Analisis paracetamol menggunakan spektrofotometri karena senyawa paracetamol merupakan senyawa organic yang memiliki gugus kromofor yang menyebabkan serapan elektron dan gugus auksokrom yang terikat pada gugus kromofor yang akan mempengaruhi panjang gelombang dan intensitas serapan maksimalnya.

Percobaan dilakukan dengan membuat larutan induk paracetamol 1000 ppm sebanyak 100 mL, kemudian diencerkan menjadi 100 ppm sebanyak 100 mL.

Selanjutnya dibuat beberapa seri konsnetrasi 2 ppm, 4 ppm, 6 ppm, 8 ppm, 10 ppm, dan 12 ppm masing-masing sebanyak 50ml. Tambahkan 10mL padar phospat pH 7,4 kemudian homogenkan. Tujuan penambahan dapar phospat pH 7,4 untuk membuat keadaan pengujian darah sama dengan keadaan darah didalam tubuh. Ukur masing- masing konsentrasi menggunakan spektrofotometri UV dengan panjang gelombang 243nm. Nilai absorbansi yang diperoleh dapat dilihat pada Tabel 1. Hasil perhitungan regresi linier diperoleh persamaan y = 0.0603x – 0.0115 dengan koefesien korelasi (r) sebesar 0.9922.

Pada percobaan kedua dilakukan dengan membuat larutan induk paracetamol dengan konsentrasi 1000 ppm sebanyak 100mL, kemudian dienceran mencari 6 seri konsentrasi yaitu 20 ppm, 40 ppm, 60 ppm, 80 ppm, 100 ppm, dan 120 ppm sebanyak 10 mL. Tambahkan dapar phospat pH 7,4 10 mL, kemudian tambahkan pereaksi warna.

Penambahan pereaksi warna diperlukan karena analisis menggunakan sinar tampak yang memiliki syarat sampel harus berwarna dan memiliki gugus kromofor. Selanjutnya sampel dianalisis menggunakan spektrofotometri Visible pada panjang geombang 345 nm. Nilai absorbansi yang diperoleh dapat dilihat pada tabel 2. Hasil perhitungan regresi linier diperoleh persamaan y = 0.0039x – 0.0164 dengan koefesien korelasi (r) sebesar 0.9965.

(15)

Linieritas merupakan kemampuasn metode untuk memperoleh hasil uji yang secara langsung proporsional dengan konsentrasi analit pada kisaran yang diberikan. Syarat nilai koefesien korelasi (r) harus memiliki nilai -1 r Linieritas diperoleh dengan mengukur absorbansi larutan pembanding, kemudian dibuat kurva hubungan antara kadar vs serapan. Nilai linieritas dari paracetamol λ 243 nm adalah 0.9922 dan paraceramol λ 435 nm sebesar 0.9965. Nilai tersebut bernilai positif artinya menggambarkan semua titik percobaan terletak pada satu garis lurus yang kemiringannya positif.

Parameter lain yang divalidasi adalah LOD dan LOQ. LOD adalah konsentrasi analit terendah dalam sampel yang masih dapat dideteksi meskipun tidak selalu dapat dikuantifikasi, sedangkan LOQ adalah konsentrasi analit terendah dalam sampel yang dapat ditentukan secara kuantitatif dengan presisi dan akurasi yang diterima (Gandjar dan Rohman, 2007). Penentuan nilai LOD dan LOQ dalam praktikum diperlukan untuk menentukan nilai yang akan dideteksi. Pentingnya dilakukan pengujian parameter tersebut agar dapat mengetahui batas nilai terkecil sampel yang masih dapat dideteksi pada spektrofotometri UV-Vis dan nilai kuantitas terkecil dari sampel yang masih dapat mempengaruhi kriteria kecermatan dan keseksamaan.

Dari hasil praktikum paracetamol λ 243 nm memiliki nilai LOD 1,4080 ppm dan paracetamol λ 435 nm memiliki nilai LOD 9.8627 ppm. Artinya nilai tersebut menunjukan jumlah analit terkecil yang masih dapat dideteksi dan memberika respon signifikan pada alat spektrofotometri Uv-Vis. Sedangkan nilai LOQ paracetamol λ 243 nm diperoleh sebesar 4.6932 ppm dan pracetamol λ 435 nm nilai LOQ 32.8757 ppm yang artinya jumlah analit terendah dalam sampel yang dapat ditentukan dengan presisi dan akurasi yang dapat diterima pada kondisi operasional metode digunakan.

Dari hasil diperoleh bahwa alat spektrofotometri UV memiliki sensitifitas yang lebih baik karena dapat mendeteksi sampel pada konsentrasi 1,4080 ppm dan pada konsentrasi 4,6932 ppm dapat mengukur kadar dalam sampel. Sehingga apabila konsentrasi sampel berada dibawahnya, alat tidak dapat mendeteksi analit. Bila konsentrasi diatasnya, maka alat dapat mendeteksi tetapi presisi dan akurasi yang diperoleh kurang baik dan tidak dapat dipertanggung jawabkan.

(16)

I. SKESIMPULAN

Dari hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa :

1. Pengukuran paracetamol menggunakan spektrofotometri UV-Vis pada λ 243 nm diperoleh nilai r = 0.9922, LOD =1.4080 ppm, dan LOQ = 4.6932 ppm.

2. Pengukuran paracetamol menggunakan spektrofotometri UV-Vis pada λ 435 nm diperoleh nilai r = 0.9965, LOD = 9.8627 ppm, dan LOQ = 32.8757 ppm.

3. Validasi metode analisis paracetamol menggunakan spektrofotometri UV pada panjang gelombang 243 nm memiliki sensitifitas yang lebih baik dibandingkan analisis paracetamol menggunakan spektrofotometri Vis pada panajng gelombang 435 nm.

J. DAFTAR PUSTAKA

Gandjar, I Gholib., dan Abdul Rohman. 2007. Kimia Farmasi Analisi. Pustaka Pelajar.

Yogyakarta.

Harmita. 2004. Petunjuk Pelaksanaan Validasi Metode dan Cara Perhitungan. Jurnal Majalah Ilmu Kefarmasian. Vol. 1 No. 3 : 117-135.

Referensi

Dokumen terkait

Artinya: Mengurangi nilai pada variable: Contoh: $a-=5; sama artinya dengan $a=$a-5; Operator *=. Artinya: Mengalikan nilai pada variable: Contoh: $a*=5; sama artinya dengan

Energi ini biasanya berasal dari nyala hasil pembakaran campuran gas asetilen-udara atau asetilen-N 2 O, tergantung suhu yang dibutuhkan untuk membuat unsur analit

Sedangkan frekuensi karakter resesif yang paling tinggi adalah bentuk dagu lurus dengan nilai 0,97 dan yang terendah adalah tidak adanya rambut pada ruas jari dengan nilai 0,07..

Nilai FMC pada benih kacang panjang yang paling rendah adalah 53.95 yang direndam pada larutan KNO3 dan CaCl,hasil terendah pada perendaman selama 48 jam adalah 51 % yang

Kadar fosfat dalam sampel ditentukan dengan kurva standar yang dibuat dengan larutan standar fosfat pada berbagai tingkat konsentrasi... Nilai koefisien determinasi

Kita dapat membandingkan dengan klasifikasi air sadah dari tabel yang ada pada buku panduan praktikum bahwa sampel air ini memilki klasifikasi kesadahan karena nilai dari PPM

Nilai skor terendah pada indikator no 8 Kesesuaian antara biaya yang dibayarkan dengan biaya yang ditetapkan dengan skor 194 Pada bagian kami tidak terdapat biaya yang ditentukan dalam

• Pada grafik tersebut tentukan suatu garis base level yang ditentukan dari harga rata-rata nilai tertinggi dan terendah koreksi harian, dengan rumusan : • Hv = hasil pengukuran