• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Praktikum Higiene Industri Psikososial

N/A
N/A
Pruestine Azzah Trisnawan

Academic year: 2024

Membagikan "Laporan Praktikum Higiene Industri Psikososial"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM HYGIENE INDUSTRI PSIKOSOSIAL

Disusun Oleh :

Nama Pruestine Azzah Trisnawan

NRP 0522040114

Kelas K3IID

Tanggal Kamis, 8 Juni 2023

Dosen Pengampu

1. Aulia Nadia Rachmat, S.ST., M.T 2. Dr. Indri Santiasih, S.KM., M.T

TEKNIK KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA

2023

(2)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Di setiap tempat kerja, tenaga kerja selalu dihadapkan pada ancaman faktor bahaya yang dapat membahayakan kesehatan dan kesejahteraan mereka. Salah satu faktor bahaya yang perlu diperhatikan adalah faktor bahaya psikososial. Bahaya psikososial merupakan masalah yang banyak terjadi di tempat kerja. Menurut WHO, psikososial di tempat kerja adalah respon ketika individu dihadapkan dengan tekanan dan tuntutan kerja yang tidak sesuai dengan kemampuan serta pengetahuan pekerja. Tekanan di tempat kerja tidak bisa dihindari karena tuntutan lingkungan kerja dan tanggung jawab. Namun, ketika tekanan di tempat kerja menjadi berlebih atau tidak terkendali, dapat mengarah kepada terjadinya resiko psikososial (Tresnawati, et al., 2021).

Ratusan juta tenaga kerja diseluruh dunia saat bekerja pada kondisi yang tidak nyaman dan dapat mengakibatkan gangguan kesehatan. Menurut ILO (2018) setiap tahun terjadi 1,1 juta kematian yang disebabkan oleh penyakit atau yang disebabkan oleh pekerja.

Sekitar 300.000 kematian terjadi dari 250 juta kecelakaan dan sisanya adalah kematian karena penyakit akibat kerja dimana diperkirakan terjadi 160 juta penyakit akibat hubungan pekerjaan baru setiap tahun. Penyakit Akibat Kerja yang selanjutnya disingkat PAK yaitu penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau lingkungan kerja yang dalam (Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 1993) disebut penyakit yang timbul karena hubungan kerja.

Sebanyak 10% PAK di dunia adalah akibat kondisi psikososial pekerja yang tidak baik.

Penyebab yang bersifat psikososial pada pekerja dapat berupa stress psikis, monotoni kerja, dan tuntutan pekerjaan (WHO dalam Kemala, 2018).

Resiko psikososial saat ini telah disebut sebagai “Epidemi Kesehatan Abad ke-21” oleh WHO dan diperkirakan merugikan bisnis Amerika hingga 300 miliar dolar per tahun dalam hal kecelakaan, ketidakhadiran, pergantian pekerja, hilangnya produktivitas, biaya medis, hukum, dan asuransi, penghargaan kompensasi, hingga gugatan (Borkowski, 2016). Banyak orang tidak menyadari bahwa gejala psikososial timbul dalam kehidupannya. Masalah psikososial di tempat kerja yang dapat mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan mencakup bahaya dan tuntutan seperti: sedikit pengaruh pada kondisi kerja; tidak ada pengaruh pada urutan pekerjaan tugas yang dilakukan; kurangnya kontrol atas kondisi kerja; kurangnya informasi dan keterlibatan dalam isu-isu yang lebih luas yang

(3)

mempengaruhi organisasi dan pekerjaan mereka. Gejala ini dapat mempengaruhi sisi perilaku, fisiologis, psikologis, dan kognitif pada individu (Robbins et al, 2013).

Perusahaan dan pengelola perlu memperhatikan faktor-faktor psikososial ini dalam merancang kebijakan dan praktik yang mendukung kesejahteraan pekerja. Ini termasuk menciptakan lingkungan kerja yang positif, memberikan dukungan sosial yang memadai, mempromosikan keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi, serta menyediakan peluang pengembangan karier yang memadai. Dengan memperhatikan aspek psikososial, perusahaan dapat meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas pekerja, serta menciptakan budaya kerja yang sehat dan berkelanjutan.

Oleh karena itu, penting untuk dilakukan pemahaman terhadap studi literatur terkait faktor – faktor yang dapat menyebabkan meningkatnya resiko psikososial di tempat kerja sehingga tindakan pencegahan dan pengendalian lebih lanjut dapat segera dilaksanakan dan mampu meminimalisir terjadinya penyakit akibat kerja (PAK) yang ditimbulkan pekerja sehingga mampu menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat.

1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana cara mengukur kondisi psikososial suatu pekerja?

2. Apa faktor yang mempengaruhi kondisi psikososial pekerja di tempat kerja?

3. Bagaimana bentuk pengendalian yang dapat dilakukan apabila pekerja didapati memiliki kondisi psikososial yang kurang baik?

1.3 TUJUAN

1. Untuk mengetahui cara mengukur kondisi psikososial suatu pekerja.

2. Untuk mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi konsidi psikososial pekerja di tempat kerja.

3. Untuk mengetahui cara pengendalian terhadap pekerja yang memiliki kondisi psikososial kurang baik.

1.4 RUANG LINGKUP

Pengukuran psikososial pada praktikum kali ini dilakukan melalui media Google Form yaitu dengan mengisi survei yang bersasaran pada pekerja atau karyawan khususnya satpam yang bekerja di Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya yang akan dilaksanakan

(4)

pada Kamis, 8 Juni 2023 pukul 08.00-10.30 WIB. Dimana tujuan praktikum ini adalah untuk mengukur tingkat psikososial suatu pekerja di tempat kerja agar tidak melebihi NAB (Nilai Ambang Batas) dan tidak menimbulkan PAK (Penyakit Akibat Kerja) pada pekerja.

Adapun nama kelompok yang akan melakukan praktikum psikososial sebagai berikut:

1. Ahmad Rizal Firmansyah (0522040099) 2. Mohammad Sulistyo M.W (0522040108) 3. Muhamad Ali Ro’is (0522040109) 4. Pruestine Azzah Trisnawan (0522040114) 5. Reggina Angel Arifin (0522040118) 6. Zpetnaz Prudentia (0522040124)

(5)

BAB 2 DASAR TEORI

2.1 Definisi Psikososial

Menurut (Khasanah, et al., 2019) Perkembangan psikososial adalah perubahan yang terjadi pada kepribadian, emosi serta hubungan sosial. Menurut satu sumber, psikososial dapat didefinisikan sebagai faktor-faktor yang terkait dengan lingkungan sosial seseorang atau interaksi dengan orang lain yang mempengaruhi perilaku individu, baik secara negatif maupun positif (Djohan, 2006: 216). Erik H. Erikson, seorang ahli psikoanalisis, mengidentifikasi delapan tahap perkembangan psikososial yang dialami seseorang. Empat tahap pertama terjadi selama masa bayi dan anak-anak, membentuk dasar kepribadian, tahap kelima terjadi saat remaja, dan tiga tahap terakhir terjadi saat dewasa dan usia tua.

Setiap tahap perkembangan psikososial memiliki komponen yang positif dan negatif, dan Erikson menekankan bahwa faktor sosial mempengaruhi perkembangan manusia (Nurdiansyah, 2011: 264).

Menurut undang-undang kesehatan dan praktik kedokteran (2009: 70), masalah psikososial terjadi ketika ada perubahan sosial yang mempengaruhi kesehatan mental atau kejiwaan seseorang. Oleh karena itu, masalah atau risiko psikososial dapat timbul sebagai akibat dari interaksi sosial yang buruk. Sebaliknya, interaksi sosial yang baik dapat memiliki dampak positif secara psikososial.

Dampak negatif dari psikososial merupakan salah satu jenis bahaya yang berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan di tempat kerja (Jeyaratnam dan Koh, 2009: 14). Faktor psikososial dapat menyebabkan perubahan psikologis dan sosial dalam kehidupan individu, yang secara signifikan berkontribusi terhadap gangguan fisik dan mental (Kementerian Kesehatan, 2011). Faktor-faktor psikososial sering kali tidak disadari oleh para pekerja, dan penelitian tentang psikososial di tempat kerja masih terbatas. Meskipun demikian, diketahui bahwa psikososial memiliki berbagai aspek. Sebagai contoh, sebuah penelitian dilakukan tentang hubungan antara dukungan sosial, sebagai salah satu faktor psikososial, dan tingkat stres kerja pada perawat di rumah sakit swasta di Yogyakarta (Almasitoh, 2011).

Dalam buku "Ultra Metabolisme," disebutkan bahwa faktor psikososial dapat menjadi pemicu stres, yaitu peristiwa sosial atau psikologis yang menyebabkan tekanan pada seseorang (Hyman, 2006: 158). Psikososial juga diketahui dapat menyebabkan gangguan muskuloskeletal dan penyakit psikosomatis yang berkontribusi pada peningkatan penyakit

(6)

terkait pekerjaan (Irwandi, 2007). Dari beberapa pernyataan yang telah disampaikan, dapat disimpulkan bahwa dampak negatif psikososial tidak terbatas pada stres kerja saja. Risiko psikososial ini dapat menyebabkan peningkatan tingkat stres di lingkungan kerja dan berkontribusi pada peningkatan kecelakaan kerja.

2.2 Standar Psikososial

Menurut Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 5 Tahun 2018, standar diagnosa yang dikenakan untuk mendiagnosis stress kerja ialah dengan survei, responden diminta untuk mengindikasikan seberapa sering kondisi – kondisi tertentu menyebabkan stress dengan menggunakan skala berikut:

1 = Bila kondisi yang diuraikan tidak pernah menimbulkan stress.

2 = Bila kondisi yang diuraikan jarang sekali menimbulkan stress.

3 = Bila kondisi yang diuraikan jarang menimbulkan stress.

4 = Bila kondisi yang diuraikan kadang-kadang menimbulkan stress.

5 = Bila kondisi yang diuraikan sering menimbulkan stress.

6 = Bila kondisi yang diuraikan sering kali menimbulkan stress.

7 = Bila kondisi yang diuraikan selalu menimbulkan stress.

Berikut data tabel pernyataan dalam kuisioner diagnosis stress kerja untuk menentukan tingkat stress pekerja.

Tabel 2.1 Survei Standar Faktor Psikologi Diagnosis Stress Kerja 1 Tujuan tugas – tugas dan pekerjaan saya tidak

jelas. 1 2 3 4 5 6 7

2 Saya mengerjakan tugas-tugas atau proyek –

proyek yang tidak perlu. 1 2 3 4 5 6 7

3 Saya harus membawa pulang pekerjaan ke rumah setiap sore hari atau akhir pekan agar dapat mengejar waktu.

1 2 3 4 5 6 7

4 Tuntunan – tuntunan mengenai mutu

pekerjaan terhadap saya keterlaluan. 1 2 3 4 5 6 7 5 Saya tidak mempunyai kesempatan yang

memadai untuk maju dalam organisasi ini. 1 2 3 4 5 6 7 Sumber: (Kemenaker, 2018)

(7)

Lanjutan Tabel 2.1 Survei Standar Faktor Psikologi Diagnosis Stress Kerja 6 Saya bertanggung jawab untuk

pengembangan karyawan lain. 1 2 3 4 5 6 7 7 Saya tidak jelas kepada siapa harus melapor

dan atau siapa yang melapor kepada saya. 1 2 3 4 5 6 7 8 Saya terjepit di tengah – tengah antara atasan

dan bawahan saya. 1 2 3 4 5 6 7

9 Saya menghabiskan waktu terlalu banyak untuk pertemuan – pertemuan yang tidak penting yang menyita waktu saya.

1 2 3 4 5 6 7

10 Tugas – tugas yang diberikan kepada saya

terlalu sulit dan atau terlalu kompleks. 1 2 3 4 5 6 7 11 Kalau saya ingin naik pangkat saya harus

mencari pekerjaan pada satuan kerja lain. 1 2 3 4 5 6 7 12 Saya bertanggung jawab untuk membimbing

dan/atau membantu bawahan saya menyelesaikan problemnya.

1 2 3 4 5 6 7

13 Saya tidak mempunyai wewenang untuk melaksanakan tanggung jawab pekerjaan saya.

1 2 3 4 5 6 7

14 Jalur perintah yang formal tidak dipatuhi. 1 2 3 4 5 6 7 15 Saya bertanggung jawab atas semua proyek

pekerjaan dalam waktu bersamaan yang hampir tidak dapat dikendalikan.

1 2 3 4 5 6 7

16 Tugas – tugas tampaknya makin hari menjadi

makin kompleks. 1 2 3 4 5 6 7

17 Saya merugikan kemajuan karir saya dengan

menetap pada organisasi ini. 1 2 3 4 5 6 7 18 Saya bertindak atau membuat keputusan –

keputusan yang mempengaruhi keselamatan dan kesejahteraan orang lain.

1 2 3 4 5 6 7

19 Saya tidak mengerti sepenuhnya apa yang

diharapkan dari saya. 1 2 3 4 5 6 7

Sumber: (Kemenaker, 2018)

(8)

Lanjutan Tabel 2.1 Survei Standar Faktor Psikologi Diagnosis Stress Kerja 20 Saya melakukan pekerjaan yang diterima

oleh satu orang tapi tidak diterima oleh orang lain.

1 2 3 4 5 6 7

21 Saya benar – benar mempunyai pekerjaan yang lebih banyak daripada yang biasanya dapat dikerjakan dalam sehari.

1 2 3 4 5 6 7

22 Organisasi mengharapkan saya melebihi keterampilan dan atau kemampuan yang saya miliki.

1 2 3 4 5 6 7

23 Saya hanya mempunyai sedikit kesempatan untuk berkembang dan belajar pengetahuan dan keterampilan baru dalam pekerjaan saya.

1 2 3 4 5 6 7

24 Tanggung jawab saya dalam organisasi ini

lebih mengenai orang daripada barang. 1 2 3 4 5 6 7 25 Saya tidak mengerti bagian yang diperankan

pekerjaan saya dalam memenuhi tujuan organisasi keseluruhan.

1 2 3 4 5 6 7

26 Saya menerima permintaan – permintaan yang saling bertentangan dari satu orang atau lebih.

1 2 3 4 5 6 7

27 Saya merasa bahwa saya betul – betul tidak

punya waktu untuk istirahat berkala. 1 2 3 4 5 6 7 28 Saya kurang terlatih dan atau kurang

pengalaman untuk melaksanakan tugas – tugas saya secara memadai.

1 2 3 4 5 6 7

29 Saya merasa karir saya tidak berkembang. 1 2 3 4 5 6 7 30 Saya bertanggung jawab atas hari depan

(karir) orang lain. 1 2 3 4 5 6 7

Sumber: (Kemenaker, 2018)

(9)

Tabel 2.2 Skor Diagnosis Stress Kerja

Jenis Skor Faktor Total

Skor TP Ketaksaan peran 1+7+13+19+25

Skor KP Konflik peran 2+8+14+20+26

Skor BB Kuantitatif Beban berlebih kuantitatif 3+9+15+21+27 Skor BB Kualitatif Beban berlebih kualitatif 4+10+16+22+28

Skor PK Pengembangan karir 5+11+17+23+29

Skor TJO Tanggung jawab terhadap orang lain 6+12+18+24+30 Sumber: (Kemenaker, 2018)

Dengan kesimpulan,

Skor ≤ 9 : derajat stress RINGAN Skor 10 – 24 : derajat stress SEDANG Skor > 24 : derajat stress BERAT

2.3 Dampak Buruk Faktor Psikososial Bagi Pekerja

Dampak faktor psikososial bagi pekerja dapat sangat signifikan. Faktor – faktor psikososial yang negatif dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan dan kesejahteraan pekerja. Beberapa dampak yang dapat timbul meliputi:

1) Stress kerja

Faktor psikososial yang tidak sehat atau tekanan yang berlebihan di tempat kerja dapat menyebabkan tingkat stress yang tinggi pada pekerja. Hal ini dapat berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental mereka.

2) Ansietas (Gangguan Cemas/Gangguan Ansietas Menyeluruh)

Pada gangguan ansietas, pasien akan memperlihatkan gejala fisik yang berkaitan dengan ketegangan, seperti: sefalgia, jantung berdebar keras, insomnia. Selain gejala-gejala tersebut, terdapat ciri lain yang dapat diketahui dengan pemeriksaan fisik, antara lain (Kementerian Kesehatan, 2011):

• Ketegangan mental (cemas, bingung, rasa tegang atau gugup, konsentrasi menurun).

• Ketegangan fisik (gelisah, sefalgia, tremor, tidak bisa santai).

• Muncul gejala fisik (pusing, berkeringat, denyut jantung cepat, mulut kering, nyeri perut). Gejala – gejala tersebut dapat berlangsung selama berbulan –

(10)

bulan dan sering muncul kembali bagi beberapa orang yang mempunyai rasa kekhawatiran secara kronik.

3) Kepuasan kerja rendah

Ketidakpuasan kerja dapat muncul akibat faktor psikososial yang tidak memadai, seperti kurangnya dukungan, ketidakadilan, atau ketidakjelasan peran. Kondisi ini dapat menyebabkan pekerja merasa tidak puas dengan pekerjaan mereka, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi motivasi, kinerja, dan retensi tenaga kerja.

4) Gangguan Somatoform Akibat Kerja

Gangguan somatoform merujuk pada sekelompok gangguan yang ditandai oleh adanya gejala fisik, seperti nyeri, mual, dan pusing, namun tidak memiliki penyebab medis yang jelas. Gangguan ini tidak disengaja atau disadari secara sengaja.

Individu yang mengalami gangguan somatoform akan menghadapi kesulitan emosional dan keluhan fisik yang mengganggu, karena penyebabnya tidak dapat diatasi sepenuhnya melalui pengobatan medis (Kementerian Kesehatan, 2011).

5) Konflik interpersonal

Kondisi psikologi yang buruk dapat menyebabkan konflik antar-individu di tempat kerja. Ketegangan sosial, kurangnya komunikasi yang efektif, atau kurangnya dukungan tim dapat menciptakan lingkungan kerja yang tidak sehat dan mempengaruhi hubungan antar-pekerja.

6) Burnout

Lingkungan kerja yang penuh tekanan, beban kerja yang berlebihan, dan kurangnya kontrol dapat menyebabkan kelelahan emosional dan fisik yang berkelanjutan, yang dikenal sebagai burnout. Kondisi mental pekerja yang tidak seimbang dapat menjadi faktor resiko utama dalam perkembangan burnout.

7) Gangguan Penyalahgunaan Napza dan Alkohol

Gangguan penyalahgunaan narkotika, obat – obatan terlarang, dan alkohol adalah kondisi di mana seseorang mengembangkan kecanduan atau ketergantungan pada zat – zat tersebut dengan dampak yang merugikan pada kesehatan fisik, mental, dan sosial mereka. Gangguan penyalahgunaan napza dan alkohol sering kali menyebabkan gangguan dalam kehidupan sehari – hari individu tersebut dan

(11)

dapat berdampak negatif pada hubungan personal maupun pekerjaan. Gejala telah terjadinya ketergantungan dapat dilihat dari:

• Adanya keinginan atau dorongan yang kuat untuk menggunakan zat adiktif.

• Kesulitan dalam mengendalikan perilaku menggunakan zat terlarang.

• Keadaan putus zat secara fisiologis ketika dilakukan penghentian penggunaan zat dengan menunjukkan gejala yang khas.

• Terbukti adanya toleransi, berupa peningkatan zat adiktif yang diperlukan untuk memperolek efek yang sama ketika biasanya diperoleh dengan dosis yang lebih rendah.

• Sering mengabaikan minat terhadap hal lain akibat penggunaan zat adiktif.

• Tetap menggunakan zat meskipun ia menyadari efek merugikan yang ditimbulkan bagi kesehatan.

8) Penurunan kinerja dan produktivitas

Memburuknya kondisi psikologi pekerja yang menimbulkan stress, konflik, dan ketidakpuasan kerja dapat mengganggu fokus, kreativitas, dan efisiensi kerja dan hal tersebut mampu berdampak pada penurunan kinerja dan produktivitas pekerja.

2.4 Pengendalian Resiko Faktor Psikologi

Faktor psikologi merupakan faktor yang memengaruhi kinerja tenaga kerja di tempat kerja, yang dipengaruhi oleh hubungan interpersonal, peran, dan tanggung jawab terhadap pekerjaan. Penting untuk melakukan pengukuran dan pengendalian faktor psikologi di tempat kerja yang memiliki potensi bahaya terkait faktor psikologi.

Potensi bahaya faktor psikologi meliputi beberapa hal, antara lain:

a. Ketidakjelasan atau ketaksaan dalam peran.

b. Konflik peran.

c. Beban kerja berlebih secara kualitatif.

d. Beban kerja berlebih secara kuantitatif.

e. Kurangnya pengembangan karir.

f. Tanggung jawab terhadap orang lain.

Jika hasil pengukuran menunjukkan adanya potensi bahaya, maka langkah pengendalian harus dilakukan sesuai dengan standar yang berlaku. Pengendalian dapat dilakukan setelah dilakukan penilaian risiko dan identifikasi faktor – faktor yang

(12)

berkontribusi terhadapnya. Pengendalian faktor psikologi dilakukan melalui manajemen stress yang mencakup beberapa langkah, antara lain:

a. Pemilihan, penempatan, dan pendidikan pelatihan yang sesuai bagi tenaga kerja.

b. Program kebugaran bagi tenaga kerja.

c. Program konseling dan komunikasi organisasional yang memadai.

d. Memberikan kebebasan kepada tenaga kerja untuk memberikan masukan dalam proses pengambilan keputusan.

e. Merubah struktur organisasi, fungsi, atau merancang ulang pekerjaan yang ada.

f. Menggunakan sistem pemberian imbalan yang tepat.

g. Pengendalian lainnya yang sesuai dengan kebutuhan.

Dengan melaksanakan langkah – langkah pengendalian tersebut, diharapkan faktor psikologi yang berpotensi membahayakan tenaga kerja dapat dikurangi atau dihilangkan, sehingga menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan produktif.

(13)

BAB 3

METODE PRAKTIKUM

3.1 Prosedur Pengukuran

Prosedur pengukuran tingkat stress pada mahasiswa dilakukan menggunakan survei.

Berikut merupakan langkah untuk melakukan praktikum psikososial :

1. Membuat kuisioner/survei sesuai dengan ketentuan Permenaker Nomor 05 Tahun 2015 yang terdiri dari 30 pertanyaan melalui Google Form.

Google Form dapat diakses melalui link berikut:

2. Membagikan link Google Form yang sudah dibuat kepada responden.

3. Responden mengisi survei dengan memilih angka dengan skala 1-7 sesuai dengan apa yang dirasakan oleh responden.

4. Menghitung skor dari jawaban responden berdasarkan kategorinya yaitu ketaksaan peran, konflik peran, beban berlebih kuantitatif, beban berlebih kualitatif, pengembangan karir, dan tanggung jawab terhadap orang lain.

Dari skor yang telah didapatkan, menarik kesimpulan apakah skor tersebut masuk dalam derajat stress ringan, sedang, ataupun berat.

3.2 Diagram Alir Praktikum

Membuat kuisioner/survei psikologi melalui google form

Meminta izin kepada responden yang telah ditentukan apakah bersedia untuk mengisi kuisioner tersebut

A Mulai

(14)

Melakukan perhitungan skor dari jawaban responden

Responden mengisi survei yang telah diberikan

Menganalisis tingkat stress yang dialami responden

Membuat kesimpulan

Menyusun laporan resmi A

Selesai

Membagikan link survei kepada responden

Menentukan hasil perhitungan apakah sudah memenuhi standar Lakukan

pengendalian Tidak

Ya

(15)

BAB 4

ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

4.1. Analisa Data Hasil Pengukuran

Berdasar data hasil pengukuran yakni dengan survei faktor psikososial untuk mengetahui tingkat stress satpam yang bekerja di Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya yang datanya disimpan dalam bentuk anonim, dilakukan analisa data tersebut mengenakan acuan dari Permenaker Nomor 5 Tahun 2018 sehingga diperoleh data pengukuran sebagai berikut.

1. Satpam 1

2. Satpam 2

Faktor Skor Total

Ketaksaan Peran (TP) 2+2+1+4+3 12

Konflik Peran (KP) 2+1+2+2+1 8

Beban Berlebih Kuantitatif (BBKuan) 3+3+1+2+1 13 Beban Berlebih Kualitatif (BBKual) 1+2+3+2+1 9

Pengembangan Karir (PK) 1+1+1+1+1 5

Tanggung Jawab Terhadap Orang Lain (TJO) 1+4+2+1+1 9

Faktor Skor Total

Ketaksaan Peran (TP) 1+1+1+1+1 5

Konflik Peran (KP) 1+1+1+1+1+2 6

Beban Berlebih Kuantitatif (BBKuan) 1+2+1+1+1 6 Beban Berlebih Kualitatif (BBKual) 1+1+1+1+1 5

Pengembangan Karir (PK) 1+1+1+1+1 5

Tanggung Jawab Terhadap Orang Lain (TJO) 1+1+1+1+1 5

(16)

3. Satpam 3

4. Satpam 4

5. Satpam 5

4.2. Pembahasan

Berdasarkan analisa data hasil pengukuran kelima responden dengan acuan

Permenaker Nomor 5 Tahun 2018, tingkat stress pekerja menurut ketentuan tersebut adalah skor ≤ 9 dikategorikan sebagai derajat stress ringan, skor 10 hingga 24 termasuk dalam derajat stress sedang, dan apabila skor > 24 maka dikategorikan sebagai derajat stress berat.

Faktor Skor Total

Ketaksaan Peran (TP) 2+3+7+4+4 20

Konflik Peran (KP) 1+4+4+3+3 15

Beban Berlebih Kuantitatif (BBKuan) 3+5+3+1+4 16 Beban Berlebih Kualitatif (BBKual) 4+4+1+1+4 14

Pengembangan Karir (PK) 2+3+4+5+3 17

Tanggung Jawab Terhadap Orang Lain (TJO) 4+1+4+4+3 16

Faktor Skor Total

Ketaksaan Peran (TP) 4+2+7+7+7 27

Konflik Peran (KP) 5+1+1+7+7 21

Beban Berlebih Kuantitatif (BBKuan) 1+7+7+7+1 23 Beban Berlebih Kualitatif (BBKual) 2+7+7+7+1 24

Pengembangan Karir (PK) 1+7+7+7+7 22

Tanggung Jawab Terhadap Orang Lain (TJO) 1+7+1+1+1 11

Faktor Skor Total

Ketaksaan Peran (TP) 2+7+5+1+3 18

Konflik Peran (KP) 3+1+6+1+4 15

Beban Berlebih Kuantitatif (BBKuan) 1+5+5+3+1 15 Beban Berlebih Kualitatif (BBKual) 3+5+3+1+1 13

Pengembangan Karir (PK) 4+2+7+4+4 21

Tanggung Jawab Terhadap Orang Lain (TJO) 5+2+3+1+5 16

(17)

Dari perhitungan data di atas, tingkatan faktor psikososial stress kerja satpam yang berada di Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya ditampilkan dalam tabel berikut.

Tabel 4.2 Data Tingkat Stress Kerja Satpam di PPNS

Seperti yang terlihat pada tabel 4.2, tingkat stress kerja satpam di PPNS bervariasi di tiap kategorinya masing – masing, namun mayoritas pekerja mengalami stress kerja tingkat sedang. Kondisi faktor psikologi ketaksaan peran pada tiap responden memiliki tingkatan stress yang terberat berdasarkan data yang telah diperoleh. Dikarenakan data hasil analisis tersebut, diketahui bahwa satpam yang bekerja di PPNS mengalami kondisi psikologi akibat stress pekerjaan yang tidak baik, maka diperlukan adanya pengendalian terhadap permasalahan ini sesuai dengan hierarki pengendalian hygiene industry.

4.3. Analisa Berdasarkan AREP

Sesuai konsep hierarki hygiene industry, terdapat empat tahapan yakni AREP, Anstisipasi, Rekognisi, Evaluasi, Pengendalian.

a. Antisipasi

Pada tahap antisipasi dilakukan analisa dan mengumpulkan informasi – informasi mengenai potensi bahaya apa saja yang dapat terjadi di lokasi tempat pengambilan data. Saat melakukan praktikum dan pengambilan data, kami membagikan kuisioner berupa survei google form yang bersasar pada pekerja khususnya satpam di Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya untuk mengamati tingkat stress pekerja tersebut. Dari hasil pengamatan kami, ditemukan potensi – potensi sumber bahaya yang perlu diperhatikan yakni kondisi kesehatan mental maupun fisik pekerja yang berpengaruh pada tingkat stress pekerja tersebut yang dapat mempengaruhi keefektivan dan kesejahteraan pekerja dalam melakukan pekerjaan sehari – harinya.

Responden Skor

TP KP BBKuan BBKual PK TJO

Satpam 1 12 8 13 9 5 9

Satpam 2 5 6 6 5 5 5

Satpam 3 20 15 16 14 17 16

Satpam 4 27 21 23 24 22 11

Satpam 5 18 15 15 13 21 16

Keterangan Derajat Stress Kerja

Ringan Sedang Berat

(18)

Hal lainnya yang mampu mempengaruhi dapat timbul ialah kemampuan responden dalam berpartisipasi di lingkungan tempat kerjanya.

b. Rekognisi

Pada tahap ini dilakukan kegiatan pengenalan dan pengukuran faktor – faktor bahaya yang telah ditemukan untuk memperoleh metode yang logis. Pada praktikum psikososial ini, diberikan survei yang berisi kondisi tingkatan pekerja dari 1 hingga 7 yakni mulai dari kondisi pernyataan tidak pernah menimbulkan stress, hingga kondisi pernyataan yang disebutkan selalu menimbulkan stress.

Survei yang ada dibagikan kepada 5 responden untuk menentukan tingkat psikososial stress kerja yang dapat timbul pada pekerja khususnya pada satpam yang bekerja di PPNS. Dari data yang diperoleh sebagai berikut:

Tabel 4.3 Total Skor Hasil Survei untuk Setiap Responden

Keterangan:

TP = Ketaksaan Peran KP = Konflik Peran

BBKuan = Beban Berlebih Kuantitatif BBkual = Beban Berlebih Kualitatif PK = Pengembangan Karir

TJO = Tanggung Jawab Terhadap Orang Lain

c. Evaluasi

Pada tahap evaluasi data survei tersebut, terdapat analisa terhadap hasil rekognisi dengan dilakukannya perbandingan antara data dengan standar Permenaker Nomor 5 Tahun 2018 yakni peraturan yang berlaku dalam tingkat standar psikososial pekerjaan. Berikut hasil analisa data :

Kategori Skor

Satpam 1 Satpam 2 Satpam 3 Satpam 4 Satpam 5

TP 12 5 20 27 18

KP 8 6 15 21 15

BBKuan 13 6 16 23 15

BBKual 9 5 14 24 13

PK 5 5 17 22 21

TJO 9 5 16 11 16

(19)

Tabel 4.4 Evaluasi Total Skor Responden

Keterangan:

TP = Ketaksaan Peran KP = Konflik Peran

BBKuan = Beban Berlebih Kuantitatif BBkual = Beban Berlebih Kualitatif PK = Pengembangan Karir

TJO = Tanggung Jawab Terhadap Orang Lain

Dari data tabel diatas, dapat dilihat bahwa derajat tingkat stress pekerja satpam di PPNS cukup terbebani dengan stress kerja. Mayoritas dari satpam mengalami derajat stress kerja tingkat sedang. Hasil yang diperoleh dari kelima responden, yaitu 1 responden dengan keterangan stress ringan dan 3 responden dengan keterangan stress sedang, dan 1 responden dengan keterangan stress berat. Kondisi psikososial pekerja dengan tingkat stress kerja terendah atau teringan ialah responden 2 yaitu Satpam 2 sebesar 5,3. Sedangkan kondisi psikososial dengan stress kerja tertinggi terdapat pada responden ke empat yakni Satpam 4 dengan rerata skornya mencapai angka 21,3. Dari hasil data evaluasi tersebut, maka diperlukannya pengendalian lebih lanjut terhadap para pekerja.

d. Pengendalian

Sesuai hierarki pengendalian dapat dituliskan berikut pengendalian yang dapat dilakukan.

Responden Skor Rata

Rata Ket

TP KP BBKuan BBKual PK TJO

Satpam 1 12 8 13 9 5 9 9,3 SEDANG

Satpam 2 5 6 6 5 5 5 5,3 RINGAN

Satpam 3 20 15 16 14 17 16 16,3 SEDANG

Satpam 4 27 21 23 24 22 11 21,3 BERAT

Satpam 5 18 15 15 13 21 16 16,3 SEDANG

Keterangan Derajat Stress Kerja

Ringan Sedang Berat

(20)

Eliminasi

Eliminasi tidak dapat dilakukan karena dihilangkannya faktor sosial di tempat kerja adalah hal yang tidak dapat dilakukan.

Substitusi

Substitusi tidak dapat dilakukan karena dihilangkannya faktor sosial di tempat kerja adalah hal yang tidak dapat dilakukan.

Rekayasa teknik

Rekayasa teknik tidak dapat dilakukan karena dihilangkannya faktor sosial di tempat kerja adalah hal yang tidak dapat dilakukan.

Pengendalian administrasi

Untuk mengendalikan faktor psikologi, dapat dilakukan pengendalian administrasi melalui manajemen stres dengan mengimplementasikannya sebagai berikut:

1) Menyeleksi, menempatkan, dan memberikan pendidikan dan pelatihan yang cocok bagi pekerja.

2) Melakukan program kebugaran untuk pekerja.

3) Menyediakan program konseling dan memastikan komunikasi ditempat kerja yang memadai.

4) Memberikan kebebasan kepada pekerja untuk memberikan masukan dalam pengambilan keputusan.

5) Mengubah struktur organisasi, fungsi, atau merancang ulang pekerjaan yang telah ada dan menyesuaikannya agar lebih efektif.

6) Menggunakan sistem pemberian imbalan yang sesuai.

Manajemen APD

Manajemen Alat Pelindung Diri (APD) tidak dapat dilakukan, karena pada resiko bahaya psikososial hanya melibatkan bahaya psikis pekerja dan tidak melibatkan bahaya fisik.

(21)

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN

Dari praktikum psikososial yang telah kami lakukan, diperoleh kesimpulan sebagai berikut.

1. Faktor bahaya psikososial dapat diukur dengan menggunakan kuesioner yang berisi serangkaian pertanyaan terkait dengan berbagai jenis gangguan. Terdapat 30 pertanyaan yang dapat ditemukan pada lampiran Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No. 05 Tahun 2018, halaman 205 – 206. Setiap pertanyaan dalam kuesioner dilengkapi dengan skala linier berangka 1-7, dengan keterangan yang terlampir untuk setiap angka skala tersebut.

2. Apa faktor yang mempengaruhi kondisi psikososial pekerja di tempat kerja?

Faktor – faktor yang mempengaruhi kondisi psikososial pekerja di tempat kerja diantaranya adalah:

a. Ketidakjelasan atau ketaksaan dalam peran.

b. Konflik peran.

c. Beban kerja berlebih secara kualitatif.

d. Beban kerja berlebih secara kuantitatif.

e. Kurangnya pengembangan karir.

f. Tanggung jawab terhadap orang lain.

3. Guna mencegah terjadinya gangguan kesehatan pada pekerja yang dikarenakan oleh faktor bahaya psikososial, pengendalian diperlukan sesuai dengan anjuran Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 5 Tahun 2018 sebagai berikut:

a. Menyeleksi, menempatkan, dan memberikan pendidikan dan pelatihan yang cocok bagi pekerja.

b. Melakukan program kebugaran untuk pekerja.

c. Menyediakan program konseling dan memastikan komunikasi ditempat kerja yang memadai.

d. Memberikan kebebasan kepada pekerja untuk memberikan masukan dalam pengambilan keputusan.

(22)

e. Mengubah struktur organisasi, fungsi, atau merancang ulang pekerjaan yang telah ada dan menyesuaikannya agar lebih efektif.

f. Menggunakan sistem pemberian imbalan yang sesuai.

5.2 SARAN

Dalam melaksanakan praktikum psikososial, disarankan untuk melakukan wawancara dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti.

(23)

DAFTAR PUSTAKA

Tresnawati, L. and Erwandi, D., 2021. Kajian Literatur Sistematis Faktor Psikososial yang Berhubungan dengan Risiko Psikososial pada Pekerja. Health Information: Jurnal Penelitian, 13(2), pp.151-164.

Kemala, A., 2018. Faktor psikososial lingkungan kerja (studi kasus) pada karyawan pabrik ssp Pt. X. Jurnal psikologi, 11(1).

Khasanah, U.A., Livana, P.H. and Indrayati, N., 2019. Hubungan Perkembangan Psikososial dengan Prestasi Belajar Anak Usia Sekolah. Jurnal Ilmu Keperawatan Jiwa, 2(3), pp.157-162.

Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No. 5 Tahun 2018. 2018. Tentang Keselamatan dan Kesehatan Lingkungan Kerja.

Kementerian Kesehatan. 2011. Seri Pedoman Tatalaksan Penyakit Akibat Kerja bagi Petugas Kesehatan : Gangguan Kesehatan Akibat Faktor Psikososial di Tempat Kerja.

(24)

LAMPIRAN

- Laporan Sementara Praktikum Psikososial Link:

https://docs.google.com/spreadsheets/d/1KG8SFvxE7rPQjAxrk5w1POgUaq0uh36Eomz kmBMhNYE/edit?usp=sharing

Gambar

Tabel 2.1 Survei Standar Faktor Psikologi Diagnosis Stress Kerja  1  Tujuan tugas – tugas dan pekerjaan saya tidak
Tabel 2.2 Skor Diagnosis Stress Kerja
Tabel 4.2 Data Tingkat Stress Kerja Satpam di PPNS
Tabel 4.4 Evaluasi Total Skor Responden

Referensi

Dokumen terkait

Laporan praktikum

Laporan praktikum mikrobiologi

Laporan Praktikum Bioteknologi

Laporan Praktikum Hidrodinamika

Laporan praktikum Avometer diserahkan untuk memenuhi tugas mata kuliah praktikum pengukuran listrik dan

Laporan praktikum teknologi

Laporan Praktikum Operasi Teknik Kimia

Format penulisan laporan