MEMAHAMI METODE – METODE FILSAFAT
Disusun untuk memenuhi tugas pada mata kuliah:
Filsafat Umum Dosen Pengampu:
Ibnu Ali, S.Pd.I, M.Fil.I
Disusun oleh:
Moh. Wakid Taufiqurrohman Liana Safitri Zein Zuhud Abdullah
2022020100088 2022020100058 2022020100089 2022020100082
PROGRAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM MADURA
2023
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji Syukur Alhamdulillah senantiasa kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-nya, sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini guna memenuhi tugas untuk mata kuliah Filsafat Umum , dengan judul “Memahami Metode - Metode Filsafat”.
Saya menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini tidak terlepas dari bantuan banyak pihak yang dengan tulus memberikan doa, saran dan kritik sehingga makalah ini dapat terselesaikan.
Saya menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna dikarenakan terbatasnya pengalaman dan pengetahuan yang saya miliki. Oleh karena itu, kami mengharapkan segala bentuk saran serta masukan bahkan kritik yang membangun dari berbagai pihak. Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Pamekasan, 12 Oktober 2023 Penyusun,
(Kelompok VI)
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...i
DAFTAR ISI... ii
BAB I PENDAHULUAN...1
1.1 Latar Belakang... 1
1.2 Rumusan Masalah...3
1.3 Tujuan...3
BAB II PEMBAHASAN...4
A. Pengertian Metode Filsafat...4
B. Metode Intuitif...4
C. Metode Dialektika... 5
D. Metode Induktif-Deduktif...6
E. Metode Positivisme...7
F. Metode Kontemplatif...8
G. Metode Analitis...9
BAB III PENUTUP... 11
3.1 Kesimpulan...11
3.2 Saran... 11
DAFTAR PUSTAKA...12
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Untuk memahami metode-metode filsafat, penting untuk memahami terlebih dahulu apa itu metode filsafat. Metode filsafat merujuk pada cara atau teknik yang digunakan dalam mempelajari dan menganalisis masalah filosofis.
Metode-metode ini membantu filsuf dalam merumuskan argumen, mempertanyakan asumsi, dan mencapai pemahaman yang lebih mendalam tentang konsep dan pertanyaan filosofis.
Metode Intuitif, metode ini menggunakan intuisi dan akal sehat untuk memahami masalah filosofis. Filsuf yang menggunakan metode ini mencoba mencapai pemahaman melalui naluri dan pemikiran intuitif mereka sendiri.
Metode Dialektika, Metode ini melibatkan perdebatan dan dialog antara dua pihak atau lebih dengan pandangan yang berbeda dalam memahami masalah filosofis. Dalam metode ini, filsuf mencoba untuk mencapai pemahaman yang lebih baik melalui pertukaran gagasan, mempertanyakan argumen satu sama lain, dan mencari sintesis atau pemecahan masalah yang baru.
Metode Induktif-Deduktif, metode ini melibatkan penggunaan logika dan rasionalitas untuk memahami masalah filosofis. Metode induktif digunakan untuk mengumpulkan data dan fakta melalui pengamatan dan eksperimen, sedangkan metode deduktif digunakan untuk menarik kesimpulan logis dari premis-premis yang diberikan.
Metode Positivisme, metode ini menggunakan pendekatan ilmiah untuk memahami masalah filosofis. Filsuf yang menggunakan metode ini mencoba untuk mencapai pemahaman yang akurat tentang dunia melalui pengamatan, eksperimen, dan pengujian hipotesis. Metode ini berlandaskan pada pengumpulan data empiris dan pemahaman yang berdasarkan bukti-bukti yang dapat diamati.
Metode Kontemplatif, metode ini melibatkan refleksi dan pemikiran mendalam tentang masalah filosofis. Filsuf menggunakan metode ini untuk mempertanyakan keyakinan, nilai-nilai, dan pengalaman pribadi mereka sendiri. Mereka menggunakan refleksi diri untuk mencapai pemahaman yang lebih dalam tentang diri mereka sendiri dan dunia di sekitar mereka.
Metode Analitis, metode ini melibatkan pemecahan masalah melalui analisis konsep dan bahasa yang digunakan dalam argumen filosofis. Filsuf yang menggunakan metode ini memecah masalah menjadi komponen- komponen yang lebih kecil, mengidentifikasi asumsi-asumsi yang terlibat, dan mengeksplorasi implikasi logis dari argumen tersebut. Metode analitis menggunakan logika dan analisis bahasa untuk memperjelas dan memahami argumen filosofis.
Dalam memahami metode-metode filsafat, penting untuk diingat bahwa tidak ada satu metode yang benar atau sempurna. Filsafat melibatkan penelitian yang tak terbatas dan berbagai metode dapat digunakan secara bersamaan atau bergantian untuk mencapai pemahaman yang lebih dalam tentang pertanyaan- pertanyaan filosofis yang kompleks.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari metode filsafat ? 2. Apa pengertian dari metode intuitif ? 3. Apa pengertian dari metode dialektika ?
4. Apa pengertian dari metode induktif-deduktif ? 5. Apa pengertian dari metode positivisme ? 6. Apa pengertian dari metode kontemplatif ? 7. Apa pengertian dari metode analitis ? 1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari metode filsafat.
2. Untuk mengetahui pengertian dari metode intuitif.
3. Untuk mengetahui pengertian dari metode dialektika.
4. Untuk mengetahui pengertian dari metode induktif-deduktif.
5. Untuk mengetahui pengertian dari metode positivisme.
6. Untuk mengetahui pengertian dari metode kontemplatif.
7. Untuk mengetahui pengertian dari metode analitis.
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Metode Filsafat
Kata metode itu sendiri berasal dari bahasa Yunani Methodos yang berarti sebuah cara, arah atau jalan. Kalau diperluas, pengertian metode berdasarkan asal kata tersebut adalah sebuah cara, arah atau jalan yang ditempuh untuk mencapai sebuah tujuan. Sedangkan filsafat itu merupakan sebuah sarana berpikir yang banyak melibatkan akal dalam aktivitasnya.
Jadi, yang dimaksud dengan metode filsafat itu adalah sebuah cara atau prosedur bagaimana orang itu berpikir filsafat yang dengan cara tersebut bisa sampai pada tujuan filsafat itu sendiri.
B. Metode Intuitif
Secara umum, pengertian intuitif adalah penggunaan intuisi yang berupa mengetahui apa yang terjadi selanjutnya yang didapat dari pola-pola yang tidak disadari sebelumnya. Intuisi dapat dikategorikan dalam salah satu kemampuan psikis yang dimiliki manusia. Kemampuan tersebut bisa jadi sudah ada sejak lahir. Orang-orang berjiwa intuitif dapat memprediksi masa depan dan memiliki kemampuan firasat yang kuat atau seperti meramal.
Plotinus dan Bergson biasanya dicatat sebagai filosof yang mengamalkan dan menganjurkan metode ini. Metode intuitif ini menggunakan cara yaitu dengan pemakaian simbol-simbol untuk berusaha melaksanakan pembersihan intelektual bersama dengan penyucian moral, sehingga tercapai suatu pemikiran yang jernih.1
1 Fadhil Lubis, Pengantar Filsafat Umum, Ar Ruzz Media, 2015, HLM. 24.
C. Metode Dialektika
Tokoh terkenal metode ini adalah Hegel, hingga terkadang metode ini disebut dengan ‘Hegelian Method’. Nama lengkapnya adalah George Willhelm Friedrich Hegel (1770-1831). Metode Dialektika ini menurut Hegel adalah metode yang memahami dan memecahkan persoalan berdasarkan tiga elemen yaitu tesa, antitesa, dan sintesa. Tesa adalah suatu persoalan atau problem tertentu, sedangkan antitesa adalah suatu reaksi, tanggapan, ataupun komentar kritis terhadap tesa. Dari kedua elemen tersebut kemudian munculah sintesa, yaitu suatu kesimpulan. Metode ini bertujuan untuk mengembangkan proses berfikir secara dinamis dan memecahkan persoalan yang muncul karena adanya argumen yang kontradiktif atau berhadapan sehingga dicapai kesepakatan yang rasional.
Filsafat Hegel termasuk aliran idealisme yang menekankan pada subyektifitas. Subyektifitas itu meliputi seluruh kenyataan yang self-sufficient (cukup dengan dirinya sendiri/swapsembada), hingga dikenal kata-katanya
“Yang nyata adalah sama dengan yang dipikirkan”, jadi “Pikiran adalah Kenyataan”.2
Seluruh kenyataan tidak lain dan tidak bukan adalah penampakan diri dari akal yang tidak terbatas. Akal itu ialah pikiran yang memikirkan dirinya sendiri dan mengaktualisir dirinya dalam proses sejarah. Dalam kesatuan proses itu, akhirnya semua pertentangan dapat disesuaikan.
2 Adnan Gunawan, Filsafat Umum, Filsafat Umum, 2020, HLM. 83.
Jalan untuk memahami kenyataan ialah dengan mengikuti gerakan pikiran atau konsep. Ikuti saja gerak dinamika pikiran itu sendiri, maka seluruh perkembangan sejarah akan mudah dipahami.
D. Metode Induktif-Deduktif
Induktif adalah metode untuk menyimpulkan pertanyaan-pertanyaan hasil observasi yang disimpulkan dalam suatu pertanyaan umum. Metode induktif banyak diterapkan pada ilmu-ilmu empiris. Suatu inferensi disebut induktif ketika berawal dari pernyataan-pernyataan tunggal, misalnya, gambaran tentang hasil pengamatan dan penelitian sampai pada pernyataan-pernyataan universal.
Dalam metode induksi, setelah diperoleh pengetahuan dari hasil pengujian suatu benda, maka pengetahuan itu dapat digunakan untuk hal lainnya. Contoh: logam kalau dipanasi akan mengembang. Bertolak dari teori ini, kita akan tahu bahwa logam lainnya jika dipanasi juga akan mengembang.3
Deduktif diartikan sebagai metode yang menyimpulkan bahwa data-data empiris harus diolah lebih lanjut dalam suatu sistem pernyataan yang runtun.
Hal-hal yang harus ada dalam metode ini adalah perbandingan logis antar kesimpulan. Ada penyelidikan bentuk logis teori untuk mengetahui apakah sebuah teori mempunyai sifat empiris atau ilmiah. Terdapat perbandingan dengan teori-teori lain dan ada penguji teori dan secara empiris ada kesimpulan yang bisa ditarik dari teori tersebut. Dengan kata lain, metode deduktif yaitu suatu cara berpikir yang dimulai dari premis-premis umum atau mayor untuk kemudian diperoleh kesimpulan-kesimpulan yang lebih khusus atau kesimpulan-kesimpulan yang tidak melampaui premis-premis mayornya.4
3 Saudi, Pengantar Filsafat Ilmu,.., hlm. 100.
4 Adnan Gunawan, Filsafat Umum, Filsafat Umum, 2020, HLM. 117.
E. Metode Positivisme
Filsafat positivisme yang dipaparkan Agust Comte melontarkan kritik keras terhadap metodologi pengetahuan yang sistematis, hal tersebut berkembang subur pada abad pertengahan yaitu penganut metafisika. Berbeda dengan konsep meatafisika, positivisme melatari pengetahuan dengan kajian fakta objektif (nyata, tepat, pasti, berguna serta mutlak) sedangkan metafisika, menurut Comte tidak dapat membuktikan kebenaran pernyataanya secara indrawi (pengamatan dan percobaan). Aliran positivisme juga bisa disebut sebagai ilmiah, inilah asal muasal berkembangan teori positif lainnya seperti hukum positif dan penelitian ilmiah dimana keduanya akan dianggap benar jika bisa dibuktikan secara ilmiah bukan dugaan apalagi dongeng belaka.5
Hukum tiga tahap yang dipopulerkan Auguste Comte terbagi atas berbagai perkembangan pemikiran manusia dari zaman ke zaman menjadi tiga tahap.
Pertama, tahap teologis atau fiktif. Dalam tahap ini pengetahuan manusia didasarkan pada kepercayaan akan adanya penguasa adikodrati yang mengatur dan menggerakkan gejala-gejala alam. Manusia selalu berusaha untuk mencari dan menemukan sebab yang pertama dan tujuan akhir segala sesuatu yang ada.
Kedua, tahap metafisik atau abstrak. Dalam tahap ini pengetahuan dan asas-asas abstrak yang mengganti kedudukan kuasa-kuasa adikodrati. Metafisika merupakan pengetahuan puncak pada masa ini. Ketiga, tahap positif atau ilmiah.
Dalam tahap ini pengetahuan manusia berdasarkan atas fakta-fakta. Berdasar pengamatan dan dengan penggunaan akalnya manusia dapat menentukan hubungan-hubungan persamaan dan atai urutan yang terdapat pada fakta-fakta.
5 Fadhil Lubis, Pengantar Filsafat Umum, Ar Ruzz Media, 2015, HLM. 119.
Tahap positif merupakan tahap dimana jiwa manusia sampai pada pengetahuan yang tidak lagi abstrak, tetapi pasti, jelas, dan bermanfaat.
F. Metode Kontemplatif
Kontemplatif adalah istilah yang digunakan dalam filsafat untuk menggambarkan sebuah proses pemikiran mendalam dan reflektif yang melibatkan pengamatan dan analisis yang teliti terhadap suatu subjek atau fenomena.
Dalam filsafat umum, kontemplatif mengacu pada upaya manusia untuk memahami realitas secara mendalam dengan menggunakan pikiran yang kritis dan reflektif. Ini melibatkan pengamatan dan analisis yang mendalam terhadap fenomena, ide, atau masalah yang kompleks.6 Tujuan dari kontemplatif adalah untuk mencapai pemahaman yang lebih dalam dan pengetahuan yang lebih luas tentang subjek yang dipelajari.
Kontemplatif juga melibatkan pemikiran yang reflektif dan introspektif, di mana individu mempertimbangkan secara mendalam tentang pikiran, perasaan, dan pengalaman mereka sendiri. Hal ini memungkinkan mereka untuk memahami diri mereka sendiri dengan lebih baik dan mengembangkan pemahaman yang lebih dalam tentang keberadaan dan tujuan hidup.
Secara keseluruhan, pengertian kontemplatif adalah sebuah proses pemikiran yang mendalam dan reflektif yang bertujuan untuk mencapai pemahaman yang lebih dalam tentang realitas, baik melalui analisis kritis maupun melalui praktik meditasi dan refleksi yang mendalam.
6 Adnan Gunawan, Filsafat Umum, Filsafat Umum, 2020, HLM. 26.
adalah
memikirkan
sesuatu sedalam- dalamnyA. Jelas sekali,
hal ini sesuai dengan sifat dadan watak
fillsafat. Dalam belakatidak
perlu
menghubungi ada
langsung dengan obyeknya. Sejarah obyeknya telah
dibatasi oleh jarak waktu yang
kadang-karang sangat jauh,
dengan demikian, tidak akan pernah menjadi
hambatan bagi pemikiran
perenungan
(kontemplatif).Per enungan
ini dapat
dilakukan dimana pun dan kapan
pun. Untuk
memperbaikiung perenungan agar tercapai
kensentrasi
pemikiran
diperlukan
suasana yang hening, tenang dan kesendirian
G. Metode Analitis
Dalam filsafat umum, "analitis" mengacu pada aliran pemikiran yang menekankan pada analisis konseptual, logika formal, dan pemahaman yang jelas tentang bahasa dalam rangka memahami dan memecahkan masalah filosofis.7 Filsafat analitis berasal dari karya-karya ahli logika seperti Gottlob Frege, Bertrand Russell, dan Ludwig Wittgenstein pada awal abad ke-20. Mereka menyadari pentingnya logika dan analisis dalam pemecahan masalah filosofis dan mengembangkan metode tersebut. Filsuf analitis sering menggunakan argumen logis dan alat formal lainnya untuk memastikan pemahaman yang jelas dan koheren tentang konsep yang mereka analisis.
Selain itu, filsafat analitis juga menekankan pentingnya logika formal.
Logika formal digunakan untuk memeriksa kesahihan argumen dan memastikan kesesuaian antara pernyataan dan kesimpulan yang diambil. Dalam analitis, logika formal dianggap sebagai alat utama untuk membangun dan mengevaluasi argumen filosofis. Melalui logika formal, filsuf analitis berusaha untuk membangun argumen yang kuat dan valid untuk mendukung atau menolak klaim-klaim filosofis.
7 Fadhil Lubis, Pengantar Filsafat Umum, Ar Ruzz Media, 2015, HLM. 97.
Selain itu, penting untuk dicatat bahwa bahasa juga menjadi fokus penting dalam filsafat analitis. Bahasa dianggap sebagai alat komunikasi yang penting dalam filsafat, dan pemahaman yang jelas tentang penggunaan kata-kata, frasa, dan pernyataan sangat ditekankan.
Dalam analisis bahasa, penting untuk memahami definisi kata, struktur kalimat, dan konsekuensi logis dari pernyataan filosofis.8
Secara keseluruhan, pengertian analitis adalah aliran pemikiran dalam filsafat yang menekankan pada analisis konseptual, logika formal, dan pemahaman bahasa dalam rangka memahami dan memecahkan masalah filosofis. Aliran pemikiran ini telah memberikan kontribusi yang signifikan bagi perkembangan filsafat modern dan terus menjadi aliran berpengaruh dalam filsafat.
8Adnan Gunawan, Filsafat Umum, Filsafat Umum, 2020, HLM. 39.
BAB III PENUTUP
2.1 Kesimpulan
Metode filsafat merujuk pada cara atau teknik yang digunakan dalam mempelajari dan menganalisis masalah filosofis.
Metode Intuitif, metode ini menggunakan intuisi dan akal sehat untuk memahami masalah filosofis.
Metode Dialektika, Metode ini melibatkan perdebatan dan dialog antara dua pihak atau lebih dengan pandangan yang berbeda dalam memahami masalah filosofis.
Metode Induktif-Deduktif, metode ini melibatkan penggunaan logika dan rasionalitas untuk memahami masalah filosofis.
Metode Positivisme, metode ini menggunakan pendekatan ilmiah untuk memahami masalah filosofis.
Metode Kontemplatif, metode ini melibatkan refleksi dan pemikiran mendalam tentang masalah filosofis.
Metode Analitis, metode ini melibatkan pemecahan masalah melalui analisis konsep dan bahasa yang digunakan dalam argumen filosofis.
2.2 Saran
Penting untuk memahami perkembangan dan evolusi pemikiran filosofis dari masa ke masa. Dengan mempelajari sejarah filsafat, kita dapat mengidentifikasi argumen-argumen, dan perdebatan-perdebatan yang mendasari pemikiran filosofis modern.
DAFTAR PUSTAKA
Adnan Gunawan. “Filsafat Umum.” Filsafat Umum, vol. 19, 2020.
Lubis, Fadhil. “Pengantar Filsafat Umum.” Ar Ruzz Media, vol. 52, no. 1, 2015.
Saudi, Pengantar Filsafat Ilmu, Bogor: PT. IPB Press, 2016.