Sehubungan dengan pelanggaran pengunjung Puskesmas..72 4.37 Gambaran tanggapan responden terhadap indikator empati terkait pemberian pelayanan yang tepat dalam pemberian pelayanan kepada pasien..83 4.48 Gambaran tanggapan responden terhadap indikator daya tanggap terkait penyediaan tenaga puskesmas .
Latar Belakang
Mereka berharap Puskesmas mampu memberikan jaminan kepada warga masyarakat sekitar bahwa mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang sangat dibutuhkan. Pelayanan kesehatan dalam jumlah yang cukup akan mampu disediakan oleh pengelola negara secara tidak langsung dan meringankan negara.
Rumusan Masalah
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI tahun 2017 mengenai data dasar puskesmas diketahui bahwa tenaga kesehatan medis di Puskesmas Mannanti sudah mencukupi. Latar belakang di atas, hal inilah yang mendorong perlunya dilakukan penelitian dengan judul penelitian: “Revitalisasi Prasarana Kualitas Pelayanan Puskesmas di Puskesmas Mannanti Kabupaten Sinjai”.
Tujuan Penelitian
Namun banyaknya dokter dan perawat yang kurang tanggap dalam memberikan pelayanan kesehatan sehingga mengakibatkan masyarakat mengeluh. Tuntutan tersebut seperti mencari jalan keluar dengan harapan dan ambisi agar kualitas pelayanan Puskesmas semakin optimal dan sangat memuaskan masyarakat.
Manfaat Penelitian
Konsep Prasarana
Menurut Osborn dan Gebler (1995), kualitas layanan mencakup karakteristik seperti: non-prosedural (birokrasi), terdistribusi dan terdesentralisasi, dan berorientasi pada pelanggan. 2006:6), mengatakan bahwa kualitas pelayanan prima tercermin dari: (1) transparansi, yaitu pelayanan yang terbuka, muda dan. Oleh karena itu, tergantung pada pemahaman konsumen atau pelayanan yang diberikan, baik atau buruknya kualitas pelayanan yang diberikan oleh penyedia jasa (penyedia jasa).
Kerangka pikir
Definisi Operasional
Revitalisasi kelembagaan merupakan upaya yang dilakukan suatu lembaga atau lembaga untuk meningkatkan kinerjanya di masa depan atau upaya menata kembali bagian-bagian penyusun suatu organisasi atau lembaga agar kinerjanya lebih baik. Revitalisasi kelembagaan akan terukur jika mampu menciptakan lingkungan yang menarik dan budaya organisasi yang baik, bukan sekedar mempercantik tempat. Kegiatan perancangan dan pengembangan lembaga tersebut menciptakan lingkungan sosial yang otentik (pembuatan tempat), kemudian harus didukung oleh pengembangan kelembagaan yang cukup baik.
Staf Puskesmas Mannanti harus mempunyai kemampuan untuk melaksanakan pelayanan yang dijanjikan secara akurat dan andal. Kesediaan staf Puskesmas Mannanti untuk membantu pelanggan dan memberikan pelayanan secara cepat dan tepat kepada pasien yang membutuhkan atau merespon pelayanan. Pengetahuan, kesopanan dan kemampuan petugas Puskesmas Mannanti menimbulkan kepercayaan dan keyakinan masyarakat untuk berobat.
Hipotesis
Populasi penelitian ini adalah masyarakat di Puskesmas Mannanti Kecamatan Tellulimpoe Kabupaten Sinjai. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 50 orang pengguna jasa Puskesmas.
Instrumen Penelitian
Dalam penelitian ini tanggapan terhadap setiap item instrumen penelitian ini pada skala kesukaan mempunyai gradasi dari positif hingga sangat negatif.
Teknik pengumpulan data
Kuesioner merupakan beberapa pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti melaporkan tentang pribadinya atau hal-hal yang diketahui mengenai masalah penelitian yang sedang dilakukan. Teknik pengumpulan data sekunder merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui pemeriksaan bahan pustaka yang diperlukan untuk menunjang data primer. Studi kepustakaan merupakan akumulasi data yang diperoleh dari buku-buku ilmiah, pendapat para ahli yang mempunyai relevansi dengan permasalahan yang diteliti.
Studi dokumenter, yaitu akumulasi data yang diperoleh dengan menggunakan catatan tertulis di lokasi penelitian serta sumber-sumber lain yang berkaitan dengan masalah yang akan diselidiki dengan instansi terkait.
Teknik Pengabsahan Data
Dalam pengukuran untuk pengumpulan data, kita dapat menggunakan kuesioner yang valid dan reliabel dengan seluruh itemnya.
Teknik Analisis data
Bidang Kependudukan
Jumlah penduduk Kecamatan Tellu Limpoe sekitar 32.829 jiwa pada tahun 2011, jumlah penduduk ini mengalami peningkatan sebesar 16,84% dalam kurun waktu 10 tahun (jumlah penduduk mencapai 28.098 jiwa pada tahun 2000). Dengan luas wilayah 147,30 km2, Kecamatan Tellu Limpoe mempunyai kepadatan penduduk sekitar 233 jiwa per km pada tahun 2009 (rata-rata kepadatan penduduk per tahun sekitar 200 jiwa per km), desa/kelurahan dengan kepadatan penduduk tertinggi pada tahun 2009 adalah Desa Sao Tengah.
Sarana dan Prasarana
Untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat Kecamatan Tellu Limpoe, pemerintah mengalokasikan 4 dokter umum, satu dokter gigi, 18 perawat kesehatan masyarakat, 10 bidan yang masing-masing tersebar di hampir seluruh desa/kelurahan di Kecamatan Tellu Limpoe. Kecamatan Tellu Limpoe mempunyai potensi pertanian yang cukup besar, dengan luas areal persawahan mencapai 2.249 Ha, dengan 50% wilayah menggunakan sistem irigasi sederhana, 37% menggunakan sistem irigasi non PU, dan 23% merupakan sawah tadah hujan. sawah, sehingga rata-rata produksi padi per tahun adalah 194.439 ton. Selain pertanian, sektor perkebunan merupakan ladang yang mempunyai potensi besar, dengan luas perkebunan 10.749 Ha, produksi sektor perkebunan antara lain kelapa 793 ton, cengkeh 702 ton, dan buah naga 275 ton.
Dalam bidang peternakan, jenis hewan ternak yang banyak dipelihara adalah sapi, kuda, dan unggas (ayam, itik, dan angsa). Pada bab gambaran umum puskesmas terdapat beberapa penjelasan mengenai kondisi dan bab yang menggambarkan puskesmas secara keseluruhan, dan pada bagian ini akan dibahas penjelasan mengenai visi dan misi, nilai-nilai dan budaya. . A. Pernyataan misi ini merupakan motivasi untuk memenuhi tugas dan tanggung jawab yang dilaksanakan dengan baik oleh seluruh pemangku kepentingan Puskesmas Mannati sebagaimana tertuang dalam setiap pernyataan misi.
Tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan, puskesmas juga mempunyai kewajiban untuk memberikan pembinaan mengenai kesehatan masyarakat itu sendiri, yang dituangkan dalam misi pertama. Merupakan kewajiban dan komitmen seluruh pemangku kepentingan puskesmas untuk mencapai visi dan misi masing-masing puskesmas.
Pengumpulan Data
Deskripsi Data Identitas Responden
Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa dari 50 responden masyarakat, responden terbanyak adalah perempuan yaitu sebanyak 28 orang (56%), sedikit berbeda dengan responden laki-laki sebanyak 22 orang (44%). Rata-rata usia masyarakat yang harus mengurus kepemilikan sertifikatnya tidak terlalu tua. Dari tabel di atas terlihat bahwa jumlah responden terbanyak terdapat pada kelompok umur 23-28 tahun yaitu sebanyak 21 orang (42%).
Analisis Data
Variabel Revitalisasi Prasarana
Berdasarkan Tabel 4.12 tanggapan responden mengenai indikator intervensi fisik dengan total skor 1,026 atau skor rata-rata sebesar 205,2 dari 5 item pernyataan yang diperoleh pada indikator ini. Berdasarkan tabel 4.13 mengenai rehabilitasi ekonomi lingkungan sekitar puskesmas diperoleh tanggapan tertinggi yaitu setuju dengan persentase 60% atau 30 orang. Berdasarkan tabel 4.14 mengenai renovasi bangunan rumah lingkungan diperoleh tanggapan tertinggi dengan persentase 48% atau 24 orang yang menjawab setuju, sedangkan tanggapan terendah diperoleh 3% atau 6 orang yang menjawab tidak setuju.
Berdasarkan tabel 4.15, mengenai kelayakan penggunaan dana anggaran untuk renovasi puskesmas, jumlah tanggapan maksimal adalah 58% atau 29 orang. Berdasarkan tabel 4.19 mengenai implementasi budaya sambut pegawai PZZ dalam pemberian pelayanan diperoleh hasil tertinggi sebesar 44% atau 22 orang menjawab setuju. Berdasarkan tabel 4.20 mengenai pemanfaatan budaya sapa pegawai di PZZ dalam pemberian pelayanan, hasil jawaban tertinggi sebesar 56% atau 28 orang menjawab setuju.
Berdasarkan tabel 4.21 mengenai implementasi budaya pegawai puskesmas dalam pemberian pelayanan, respon tertinggi sebanyak 56% atau 28 orang yang menjawab setuju, sedangkan jawaban terendah sebanyak 6% atau 3 orang yang ragu dan tidak setuju. Berdasarkan tabel 4.24 tanggapan responden mengenai indikator intervensi fisik dengan jumlah skor 1,040 atau skor rata-rata sebesar 208 dari 5 item pernyataan yang diperoleh pada indikator ini.
Variabel Kualitas Pelayanan
Berdasarkan tabel 4.32 mengenai pemberian pelayanan penuh perhatian, tanggapan tertinggi sebanyak 60% atau 30 orang yang menjawab setuju, sedangkan tanggapan terendah sebanyak 6% atau 3 orang yang menjawab kurang setuju. Berdasarkan tabel 4.34 mengenai tingkat keparahan kemampuan pegawai, respon tertinggi sebanyak 48% atau 24 orang yang menjawab setuju sedangkan jawaban terendah sebanyak 6% atau 3 orang yang menjawab tidak setuju. Berdasarkan tabel 4.35 waktu pemberian pelayanan, respon tertinggi sebanyak 58% atau 29 orang yang menjawab setuju sedangkan respon terendah sebanyak 6% atau 3 orang yang menjawab kurang setuju.
Berdasarkan tabel 4.39 mengenai pelayanan yang diberikan, tanggapan tertinggi sebanyak 56% atau 28 orang yang setuju, sedangkan tanggapan terendah sebanyak 6% atau 3 orang yang tidak setuju. Berdasarkan tabel 4.40 pada pemberian pelayanan, respon tertinggi sebesar 62% atau sebanyak 31 orang yang menjawab setuju. Berdasarkan tabel 4.45 pada pemberian pelayanan cepat, respon tertinggi sebanyak 48% atau sebanyak 24 orang yang menjawab setuju, sedangkan.
Berdasarkan Tabel 4.46 mengenai kesiapan pegawai, respon tertinggi sebanyak 58% atau 29 orang yang menjawab setuju, dan respon terendah sebanyak 6% atau 3 orang yang menjawab kurang setuju. Berdasarkan Tabel 4.48 pada pembicaraan di tempat kerja, respon tertinggi sebanyak 60% atau 30 orang yang menjawab setuju, sedangkan respon terendah sebanyak 4% atau 2 orang yang menjawab tidak setuju. Berdasarkan Tabel 4.51 mengenai berbicara di tempat kerja, respon tertinggi sebanyak 56% atau 28 orang yang menjawab setuju, sedangkan respon terendah sebanyak 6% atau 3 orang yang menjawab tidak setuju.
Berdasarkan tabel 4.52 mengenai pelayanan sopan kepada pasien, respon tertinggi sebanyak 64% atau 32 orang yang menjawab setuju sedangkan respon terendah sebanyak 2% atau 1 orang yang menjawab tidak setuju.
Jika nilai variabel revitalisasi infrastruktur ditingkatkan maka kualitas pelayanan di Puskesmas Mannanti Kabupaten Sinjai akan meningkat. Pada model regresi linier sederhana ini kita akan melihat besarnya kontribusi variabel independen terhadap variabel dependen dengan melihat besarnya koefisien determinasi total. Berdasarkan tabel 4.61 dapat dikemukakan bahwa kontribusi terhadap revitalisasi infrastruktur sebesar 0,967 atau 96,7% terhadap kualitas pelayanan di Puskesmas Mannanti Kabupaten Sinjai sedangkan 3,3% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
Faktor lain yang tidak disebutkan merupakan faktor eksternal yang belum dibuktikan dalam penelitian dan faktor tersebut mungkin dapat diketahui melalui penelitian lain. Hasil uji t pada Tabel 4.21 menjelaskan bahwa nilai signifikansi revitalisasi infrastruktur sebesar 0,000 kurang dari 0,05, sedangkan nilai t sebesar 37,605. Artinya variabel revitalisasi infrastruktur mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kualitas pelayanan di Puskesmas Mannanti Kabupaten Sinjai.
Nilai koefisien regresi variabel revitalisasi infrastruktur bernilai positif 1,543 yang menunjukkan bahwa variabel revitalisasi infrastruktur berpengaruh positif terhadap kualitas pelayanan di Puskesmas Mannanti Kabupaten Sinjai. Dengan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa revitalisasi infrastruktur berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas pelayanan di Puskesmas Mannanti Kabupaten Sinjai.
Pembahasan
Berdasarkan hasil rata-rata tersebut dapat disimpulkan bahwa indikator kualitas pelayanan (tangibilitas, empati, kehandalan, daya tanggap dan kepercayaan) Puskesmas Mannanti Kabupaten Sinjai termasuk dalam kategori baik. Hal ini menunjukkan bahwa jika indikator revitalisasi infrastruktur bernilai konstan atau sama dengan nol (0), maka nilai kualitas pelayanan sebesar 7,753. Hal ini menunjukkan bahwa nilai revitalisasi infrastruktur berpengaruh positif terhadap kualitas pelayanan di Puskesmas Mannanti Provinsi Sinjai.
Artinya jika variabel nilai revitalisasi infrastruktur meningkat maka kualitas pelayanan di Puskesmas Mannanti Kabupaten Sinjai akan meningkat. Uji determinasi menunjukkan kontribusi revitalisasi infrastruktur sebesar 0,967 atau 96,7% terhadap kualitas pelayanan di Puskesmas Mannanti Kabupaten Sinjai, sedangkan 3,3% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Hasil uji t menjelaskan nilai signifikansi revitalisasi infrastruktur sebesar 0,000 kurang dari 0,05 sedangkan t hitung sebesar 37,605.
PENUTUP
Kesimpulan
Saran
Administrasi publik dan kualitas pelayanan publik Pidato pengukuhan jabatan profesor administrasi publik.