• Tidak ada hasil yang ditemukan

Suasan yang Diperlukan dalam Perawatan

N/A
N/A
Yunita Fitriani

Academic year: 2024

Membagikan " Suasan yang Diperlukan dalam Perawatan"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI...ii

KATA PENGANTAR...iii

BAB I PENDAHULUAN...1

1. Latar Belakang...1

2. Rumusan Masalah...3

3. Tujuan...3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA...4

A. Konsep Kecemasan...4

1. Pengertian Kecemasan...4

2. Epidemologi Kecemasan...4

3. Penyebab Kecemasan...4

4. Tanda dan Gejala Kecemasan...5

5. Faktor-Fakor Kecemasan...6

6. Klasifikasi Kecemasan...7

7. Penatalaksanaan...9

BAB III KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN...11

A. Pengkajian...11

1. Identitas Klien...11

2. Faktor Predisposisi...11

3. Faktor Presipitasi...12

4. Mekanisme Koping...12

5. Perilaku...13

BAB IV PENUTUP...16

(3)

DAFTAR PUSTAKA...17

(4)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Esa, karena telah melimpahkan rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan sehingga makalah ini bisa selesai pada waktunya. Sebagai satu persyaratan kelulusan mata kuliah ”Asuhan Keperawatan Pada Individu Dengan Masalah Kecemasan” di program S1 Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Jakarta. Terima kasih juga kami ucapkan kepada teman-teman yang telah berkontribusi dengan memberikan ide-idenya sehingga makalah ini bisa disusun dengan baik dan rapi.

Kami berharap semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan para pembaca. Namun terlepas dari itu, kami memahami bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga kami sangat mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun demi terciptanya makalah selanjutnya yang lebih baik lagi.

Jakarta, 9 Maret,2024

(5)

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

Ansietas merupakan keadaan emosi dan pengalaman subyektif individu. Keduanya adalah energi dan tidak dapat diamati secara langsung. Seorang perawat menilai pasien ansietas berdasarkan perilaku tertentu. Selain itu, seseorang dapat tumbuh dari ansietas jika seseorang berhasil berhadapan, berkaitan dengan, dan belajar diri menciptakan pengalaman ansietas (Stuart,2016).

Gangguan kecemasan ditandai dengan kekhawatiran berlebih, gairah berlebihan, dan ketakutan yang kontraproduktif dan melemahkan adalah beberapa kondisi kejiwaan yang paling umum di dunia barat (Simpson dkk, 2010).

Gangguan kecemasan merupakan gangguan kejiwaan yang paling banyak terjadi dan berhubungan dengan beban yang tinggi penyakit. Dengan prevalensi 12 bulan sebesar 10,3 %, spesifik Fobia (terisolasi) adalah gangguan kecemasan yang paling umum, meskipun orang menderita fobia terisolasi jarang mencari pengobatan. Gangguan panik dengan atau tanpa agoraphobia (PDA) adalah jenis paling umum berikutnya prevalensi 6,0% diikuti oleh gangguan kecemasan social (SAD, disebut juga fobia social 2,7%) dan gangguan kecemasan umum (GAD 2,2 %). Buktinya kurangnya tentang gangguan ini menjadi lebih sering terjadi dalam beberapa decade terakhir.

Jumlah Perempuan 1,5% hingga dua kali lebih banyak dibandingkan laki-laki mengalami diagnose gangguan kecemasan. Pada usia timbulnya gangguan kecemasan berbeda-beda pada setiap orang. Gangguan kecemasan akan perpisahan dan spesifik fobia mulai dari masa kanak-kanak dengan usia 7 tahun, diikiuti gangguan social (SAD) usia 13 tahun, agoraphobia tanpa serangan panik pada usia 20 tahun, dan gangguan panik terjadi pada usia 24 tahun. Secara umum, wanita lebih rentan mengalami gangguan emosi yang dimulai pada masa remaja, diantanya 1,5-2 kali lebih mungkin mengalami gangguan kecemasan dibandingkan pria (Bandelow dkk, 2017).

(6)

Di identifikasi total 48 ulasan dan menggambarkan prevalensi kecemasan di seluruh subkelompok dan lingkungan populasi, seperti yang dilaporkan oleh penelitian ini.

Meskipun perkiraan prevalensi pada penelitian primer mempunyai heterogenitas yang tinggi, terdapat bukti yang muncul dan meyakinkan mengenai prevalensi yang substantial gangguan kecemasan secara umum (3,8–25%), dan khususnya pada wanita (5,2–8,7%), dewasa muda (2,5–9,1%); penderita penyakit kronis (1,4–70%);

dan individu dari budaya Euro/Anglo (3,8–10,4%) dibandingkan individu dari Indo/Asia (2,8%), Afrika (4,4%), Eropa Tengah/Timur (3,2%), Afrika Utara/Timur Tengah (4,9%), dan budaya Ibero/Latin (6,2%).

Dalam Riskesdes tahun 2018 menuliskan bahwa prevelensi gejala depresi dan ansietas di Indonesia diperkirakan sebesar 9,8% dan di Jawa Timur terdapat sekitar 6,82%. Menurut Data Center for Disease Control and Prevention pada tahun 2011 prevelensi masalah psikososial ansietas lebih dari 15%. Sedangkan National Comordibity Study ansietas per 12 bulan diperkirakan 17,7 % (Liaviana, dkk. 2016 dalam (Aadabiyah 2020).

Gangguan kecemasan mencakup interaksi faktor psikososial, misalnya kesulitan masa kanak-kanak, stres, atau trauma, dan kerentanan genetik, yang bermanifestasi dalam disfungsi neurobiologis dan neuropsikologis. Merupakan fakta biomarker potensial untuk gangguan kecemasan di bidang neuroimaging, genetika, neurokimia, neurofisiologi, dan neurokognisi telah dirangkum dalam dua makalah konsensus baru-baru ini. Meskipun ada penelitian neurobiologis yang komprehensif dan berkualitas tinggi di bidang gangguan kecemasan, ulasan ini menunjukkan hal itu biomarker spesifik untuk gangguan kecemasan belum ada diidentifikasi. Oleh karena itu, sulit memberikan rekomendasi untuk biomarker tertentu (misalnya, polimorfisme genetik) yang dapat membantu mengidentifikasi orang yang berisiko mengalami kecemasan kekacauan.

(7)

Menurut Idaiani (2015) dampak ketika seseorang mengalami kecemasan yang berkepanjangan dapat menimbulkan resiko gangguan mental, emosional dan gangguan jiwa. Masalah tersebut dapat dicegah dengan pemberian asuhan keperawatan pada individu tersebut dengan peningkatan kemampuan dan penurunan tanda gejala kecemasan. Salah satu cara untuk menurunkan kecemasan dengan melakukan terapi distraksi dan relaksasi.

Dalam terapi yang harus dilakukan pada kalangan orang memiliki kecemasan yaitu salah satunya dengan pemberian terapi farmakologis

Hasil tulisan Hikmawati, Mubin dan Livana (2013) menunjukkan bahwa teknik lima jari dapat menurunkan respon fisiologis terhadap kecemasan atau stres sebesar 60%.

Berdasarkan hasil evaluasi, pendapat ahli dan tulisan sebelumnya, penulis menyimpulkan bahwa terapi kecemasan umum dapat mengurangi respons kecemasan yang dialami pengunjung dengan penyakit fisik dan merupakan respons kognitif yang berfokus pada meringankan kondisi tersebut.

2. Rumusan Masalah

Bagaimana melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan masalah ansietas.

3. Tujuan

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui mampu melakukan Asuhan Keperawatan Pada Individu Dengan Kecemasan.

2. Tujuan Khusus

a) Melakukan pengkajian keperawatan terhadap klien dengan masalah ansietas

b) Menentukan masalah keperawatan pada klien dengan masalah ansietas c) Menyusun rencana keperawatan untuk memecahkan masalah yang

ditemukan pada kliendengan masalah stroke.

(8)

d) Melakukan tindakan Asuhan keperawatan pada klien dengan masalah stroke.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Kecemasan

1. Pengertian Kecemasan

Kecemasan adalah suatu perasaan khawatir yang berlebihan dan tidak jelas, juga merupakan suatu respon terhadap stimuli eksternal maupun internal yang menimbulkan gejala emosional, kognitif, fisik, dan tingkah laku. Gangguan kecemasan pada anak-anak dan remaja memiliki dasar etiologi lingkungan dan perkembangan yang cukup besar (McLeod et al, 2007), dalam gangguan kecemasan memiliki cici-ciri ketakutan atau kekhawatiran yang berlebihan dan gangguan perilaku terkait termasuk dengan gangguan kecemasan berpisah, fobia sosial dan spesifik, serta gangguan kecemasan umum (Ayano et al, 2021).

2. Epidemologi Kecemasan

Sekitar 6 dari populasi umum mengalami gangguan cemas. GAD adalah gangguan yang paling sering ditemui, terjadi pada 2 sampai 4 persen populasi. Gangguan ansietas lainnya adalah fobia agoraphobia, fobia social, fobia spesifik, gangguan panik dan gangguan obsessive compulsive disorder, OCD. Gangguan ansietas lebih sering terjadi pada wanita dan usia lansia. Angka yang lebih rendah terjadi pada laki-laki mudan dan para orang lansia, walaupun angka yang lebih rendah pada usia lebih dari 65 tahun mungkin disebabkan karena kesulitan yang lebih besar mendeteksi ansietas dengan instrument standar pada populasi ini. Gangguan ansietas juga dihubungkan dengan kesulitan sosio-ekonomi.

3. Penyebab Kecemasan

Gangguan kecemasan seperti ini dapat mempengaruhi kesehatan mental lainnya, kecemasan merupakan hasil dari interaksi yang kompleks antara faktor sosial, psikologis, dan biologis. Siapa pun dapat mengalami gangguan kecemasan, tetapi

(9)

orang yang pernah mengalami pelecehan, kehilangan yang parah, atau pengalaman buruk lainnya lebih mungkin untuk mengalaminya. Gangguan kecemasan berkaitan erat dengan dan dipengaruhi oleh kesehatan fisik. Dampak kecemasan sebagai berikut:

a. Ketegangan fisik

b. Hiperaktivitas sistem saraf

c. Penggunaan alkohol yang berbahaya juga merupakan faktor risiko penyakit seperti penyakit kardiovaskular.

4. Tanda dan Gejala Kecemasan

Orang dengan gangguan kecemasan dapat mengalami ketakutan atau kekhawatiran yang berlebihan tentang situasi tertentu (misalnya, serangan panik atau situasi sosial) atau, dalam kasus gangguan kecemasan umum, tentang berbagai situasi sehari-hari.

Mereka biasanya mengalami gejala-gejala ini dalam jangka waktu yang lama setidaknya selama beberapa bulan.

Gejala lain dari gangguan kecemasan yaitu:

a. Kesulitan berkonsentrasi atau membuat Keputusan b. Merasa mudah tersinggung, tegang atau gelisah c. Mengalami mual atau gangguan perut

d. Mengalami jantung berdebar-debar, berkeringat, gemetar atau gemetar kesulitan tidur.

e. Merasa ada bahaya yang akan datang, panik, atau malapetaka.

f. Gangguan kecemasan meningkatkan risiko depresi dan gangguan penggunaan zat serta risiko pikiran dan perilaku bunuh diri.

5. Tipe Gangguan Kecemasan

Ada beberapa klasifikasi gangguan kecemasan sebagai berikut:

a. Generalized Anxiety Disorder (GAD)

Gangguan kecemasan umum yaitu kekhawatiran yang terus-menerus dan berlebihan tentang kegiatan atau peristiwa sehari-hari. Ini tidak sama dengan sesekali mengkhawatirkan sesuatu atau mengalami kecemasan akibat peristiwa

(10)

kehidupan yang penuh tekanan. Orang yang hidup dengan GAD sering mengalami kecemasan selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Gejala GAD meliputi:

 Merasa gelisah, lelah, atau gelisah

 Mudah lelah

 Mengalami kesulitan berkonsentrasi

 Menjadi mudah tersinggung

 Mengalami sakit kepala, nyeri otot, sakit perut, atau nyeri yang tidak dapat dijelaskan

 Kesulitan mengendalikan perasaan khawatir

 Mengalami masalah tidur, seperti kesulitan untuk tertidur atau tetap tertidur

b. Panic Disorder

Gangguan panik yaitu serangan panik dan ketakutan akan serangan panik yang berkelanjutan. Orang dengan gangguan panik sering mengalami serangan panik yang tidak terduga. Serangan panik adalah periode rasa takut, ketidaknyamanan, atau rasa kehilangan kendali yang hebat dan tiba-tiba meskipun tidak ada bahaya atau pemicu yang jelas. Tidak semua orang yang mengalami serangan panik akan mengalami gangguan panik. Orang dengan gangguan panik sering khawatir mengenai kapan serangan berikutnya akan terjadi dan secara aktif berusaha mencegah serangan di masa depan dengan menghindari tempat, situasi, atau perilaku yang mereka kaitkan dengan serangan panik. Serangan panik dapat terjadi beberapa kali dalam sehari, atau bahkan beberapa kali dalam setahun.

Selama serangan panik, seseorang mungkin mengalami:

 Jantung berdebar atau berdebar kencang

 Berkeringat

 Gemetar atau kesemutan

 Nyeri dada

 Perasaan akan datangnya malapetaka

(11)

 Perasaan tidak terkendali

c. Social Anxiety Disorder

Gangguan kecemasan sosial yaitu ketakutan dan kekhawatiran tingkat tinggi tentang situasi sosial yang mungkin membuat orang tersebut merasa dipermalukan, malu, atau ditolak. Bagi orang-orang dengan gangguan kecemasan sosial, ketakutan terhadap situasi sosial mungkin terasa begitu kuat sehingga seolah-olah berada di luar kendali mereka. Bagi sebagian orang, ketakutan ini mungkin menghalangi mereka untuk pergi bekerja, bersekolah, atau melakukan aktivitas sehari-hari.

Orang dengan gangguan kecemasan sosial mungkin mengalami:

 Memerah, berkeringat, atau gemetar

 Jantung berdebar atau berdebar kencang

 Sakit perut

 Postur tubuh yang kaku atau berbicara dengan suara yang terlalu lembut

 Kesulitan melakukan kontak mata atau berada di dekat orang yang tidak mereka kenal

 Perasaan minder atau takut orang lain akan menilainya secara negatif d. Agoraphobia

Yaitu ketakutan yang berlebihan, kekhawatiran dan penghindaran terhadap situasi yang dapat menyebabkan seseorang panik atau merasa terjebak, tidak berdaya atau malu.

Orang dengan agorafobia memiliki ketakutan yang sangat besar terhadap dua atau lebih situasi berikut:

 Menggunakan transportasi umum

 Berada di ruang terbuka

 Berada di ruang tertutup

 Berdiri dalam antrean atau berada di tengah keramaian

(12)

 Berada di luar rumah sendirian

Orang-orang dengan agorafobia sering kali menghindari situasi-situasi ini, sebagian karena mereka berpikir untuk bisa pergi mungkin sulit atau tidak mungkin jika mereka mengalami reaksi seperti panik atau gejala-gejala memalukan lainnya. Dalam bentuk agorafobia yang paling parah, seseorang dapat tinggal di rumah.

e. Separation Anxiety Disorder

Gangguan kecemasan berpisah yaitu ketakutan atau kekhawatiran yang berlebihan tentang berpisah dengan orang yang memiliki ikatan emosional yang dalam dengan seseorang. Orang dengan gangguan kecemasan berpisah takut berada jauh dari orang-orang terdekatnya. Mereka sering khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi pada orang yang mereka cintai saat mereka tidak bersama. Ketakutan ini membuat mereka menghindari kesendirian atau jauh dari orang yang mereka cintai. Mereka mungkin mengalami mimpi buruk tentang perpisahan atau merasa tidak enak badan ketika perpisahan akan segera terjadi.

f. Specific Phobias

Fobia spesifik yaitu ketakutan yang intens dan tidak rasional terhadap objek atau situasi tertentu yang mengarah pada perilaku menghindar dan kesusahan yang signifikan. Seperti namanya, orang yang memiliki fobia spesifik memiliki ketakutan yang kuat terhadap, atau merasa sangat cemas terhadap, jenis objek atau situasi tertentu. Beberapa contoh fobia spesifik termasuk ketakutan akan:

 Penerbangan

 Ketinggian

 Hewan tertentu, seperti laba-laba, anjing, atau ular

 Menerima suntikan

 Darah g. Selective Mutism

Mutisme selektif yaitu ketidakmampuan yang konsisten untuk berbicara dalam situasi sosial tertentu, meskipun memiliki kemampuan untuk berbicara dengan nyaman di lingkungan lain, terutama yang mempengaruhi anak-anak. Mutisme

(13)

selektif terjadi ketika orang gagal berbicara dalam situasi sosial tertentu meskipun memiliki kemampuan bahasa yang normal. Mutisme selektif biasanya terjadi sebelum usia 5 tahun dan sering dikaitkan dengan rasa malu yang ekstrim, ketakutan akan rasa malu dalam pergaulan, sifat kompulsif, penarikan diri, perilaku melekat, dan amarah. Orang yang didiagnosis dengan mutisme selektif seringkali juga didiagnosis dengan gangguan kecemasan lainnya.

6. Penatalaksanaan Pada Gangguan Kecemasan

Gangguan kecemasan umumnya diobati dengan psikoterapi atau obat-obatan. Dalam mengatasi gangguan kecemasan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

Beberapa pentalaksanaan gangguan kecemasan menggunakan psikoterapi yaitu:

a. Psikoterapi

Psikoterapi atau "terapi bicara" dapat membantu penderita gangguan kecemasan.

Agar efektif, psikoterapi harus diarahkan pada kecemasan spesifik klien dan disesuaikan dengan kebutuhan klien.

b. Terapi perilaku kognitif

Terapi perilaku kognitif (CBT) adalah contoh salah satu jenis psikoterapi yang dapat membantu penderita gangguan kecemasan. Terapi ini mengajarkan cara-cara berpikir, berperilaku, dan bereaksi terhadap situasi yang berbeda untuk membantu klien mengurangi rasa cemas dan takut. CBT telah dipelajari dengan baik dan merupakan standar emas untuk psikoterapi.

Terapi pemaparan adalah metode CBT yang digunakan untuk mengobati gangguan kecemasan. Terapi eksposur berfokus pada menghadapi ketakutan yang mendasari gangguan kecemasan untuk membantu orang terlibat dalam aktivitas yang selama ini mereka hindari. Terapi eksposur terkadang digunakan bersama dengan latihan relaksasi.

c. Terapi penerimaan dan komitmen

Dalam pengobatan lain untuk beberapa gangguan kecemasan adalah dengan terapi penerimaan dan komitmen (ACT). ACT mengambil pendekatan yang berbeda dari CBT terhadap pikiran negatif. Terapi ini menggunakan strategi seperti kesadaran

(14)

dan penetapan tujuan untuk mengurangi ketidaknyamanan dan kecemasan.

Dibandingkan dengan CBT, ACT adalah bentuk perawatan psikoterapi yang lebih baru, sehingga lebih sedikit data yang tersedia mengenai keefektifannya.

Adapun penatalaksanaan menggunakan pengobatan untuk gangguan kecemasan untuk itu obat tidak menyembuhkan gangguan kecemasan, tetapi dapat membantu meringankan gejalanya. Penyedia layanan kesehatan, seperti psikiater atau penyedia layanan kesehatan primer, dapat meresepkan obat untuk mengatasi kecemasan.

Beberapa negara bagian juga mengizinkan psikolog yang telah menerima pelatihan khusus untuk meresepkan obat psikiatri. Beberapa obat-obatan untuk mengurangi gejala kecemasan:

1) Antidepresan

Antidepresan digunakan untuk mengobati depresi, tetapi juga dapat membantu mengobati gangguan kecemasan. Obat ini dapat membantu memperbaiki cara otak klien menggunakan bahan kimia tertentu yang mengendalikan suasana hati atau stres. Akan tetapi klien mungkin perlu mencoba beberapa obat antidepresan yang berbeda sebelum menemukan obat yang dapat memperbaiki gejala klien dan memiliki efek samping yang dapat dikendalikan. Antidepresan memerlukan waktu beberapa minggu untuk mulai bekerja, jadi penting untuk memberikan kesempatan kepada obat tersebut sebelum mengambil kesimpulan tentang efektivitasnya. Jika klien mulai mengonsumsi antidepresan, jangan berhenti mengonsumsinya tanpa bantuan penyedia layanan kesehatan.

Penyedia layanan kesehatan klien dapat membantu klien mengurangi dosis secara perlahan dan aman. Menghentikannya secara tiba-tiba dapat menyebabkan gejala putus obat. Dalam beberapa kasus, anak-anak, remaja, dan orang dewasa yang berusia di bawah 25 tahun dapat mengalami peningkatan pikiran atau perilaku untuk bunuh diri ketika mengonsumsi obat antidepresan, terutama pada beberapa minggu pertama setelah memulai atau ketika dosisnya diubah. Oleh karena itu, orang-orang

(15)

dari segala usia yang menggunakan antidepresan harus diawasi dengan ketat, terutama selama beberapa minggu pertama pengobatan.

2) Obat anti-kecemasan

Obat anti-kecemasan dapat membantu mengurangi gejala kecemasan, serangan panik, atau rasa takut dan khawatir yang berlebihan. Obat anti- kecemasan yang paling umum disebut benzodiazepin. Meskipun benzodiazepin terkadang digunakan sebagai pengobatan lini pertama untuk gangguan kecemasan umum, obat ini memiliki manfaat dan kekurangan.

Benzodiazepin efektif dalam meredakan kecemasan dan bekerja lebih cepat daripada obat antidepresan. Namun, beberapa orang membangun toleransi terhadap obat-obatan ini dan membutuhkan dosis yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi untuk mendapatkan efek yang sama. Beberapa orang bahkan menjadi ketergantungan terhadap obat ini. Untuk menghindari masalah ini, penyedia layanan kesehatan biasanya meresepkan benzodiazepin untuk waktu yang singkat.

Jika orang tiba-tiba berhenti mengonsumsi benzodiazepin, mereka mungkin mengalami gejala putus obat, atau kecemasan mereka dapat kembali. Oleh karena itu, benzodiazepin harus dihentikan secara perlahan.

Penyedia layanan kesehatan klien dapat membantu klien mengurangi dosis secara perlahan dan aman.

3) Beta-Bloker

Meskipun beta-blocker paling sering digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi, obat ini dapat membantu meringankan gejala fisik kecemasan, seperti detak jantung yang cepat, gemetar, gemetar, dan memerah. Obat-obatan ini dapat membantu orang mengendalikan gejala fisik ketika dikonsumsi dalam waktu singkat. Obat-obatan ini juga dapat digunakan "sesuai kebutuhan" untuk mengurangi kecemasan akut, termasuk untuk mencegah beberapa bentuk kecemasan kinerja yang dapat diprediksi.

4) Memilih obat yang tepat

(16)

Beberapa jenis obat dapat bekerja lebih baik untuk jenis gangguan kecemasan tertentu, sehingga orang harus bekerja sama dengan penyedia layanan kesehatan untuk mengidentifikasi obat mana yang terbaik untuk mereka. Zat-zat tertentu seperti kafein, beberapa obat flu yang dijual bebas, obat-obatan terlarang, dan suplemen herbal dapat memperparah gejala gangguan kecemasan atau berinteraksi dengan obat yang diresepkan. Orang harus berbicara dengan penyedia layanan kesehatan, sehingga mereka dapat mempelajari zat mana yang aman dan mana yang harus dihindari.

Memilih obat yang tepat, dosis obat, dan rencana perawatan harus dilakukan di bawah perawatan ahli dan harus didasarkan pada kebutuhan seseorang dan situasi medis mereka. Anda dan penyedia layanan kesehatan Anda dapat mencoba beberapa obat sebelum menemukan obat yang tepat.

d. Dukungan (kelompok)

Beberapa orang dengan gangguan kecemasan mungkin mendapat manfaat dari bergabung dengan kelompok swadaya atau kelompok pendukung dan berbagi masalah dan pencapaian mereka dengan orang lain. Kelompok pendukung tersedia baik secara langsung maupun online. Namun, saran apa pun yang Anda terima dari anggota kelompok pendukung harus digunakan dengan hati-hati dan tidak menggantikan rekomendasi pengobatan dari penyedia layanan kesehatan.

e. Tekhnik manajemen stress

Teknik manajemen stres, seperti olahraga, perhatian penuh, dan meditasi, juga dapat mengurangi gejala kecemasan dan meningkatkan efek psikoterapi. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang bagaimana teknik-teknik ini bermanfaat bagi perawatan Anda dengan berbicara dengan penyedia layanan kesehatan.

(17)

BAB III

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN A. Pengkajian

1. Identitas Klien

Dalam pengkajian ini meliputi

Nama :

Tempat tanggal lahir : Jenis kelamin :

Umur :

Status perkawinan :

Agama :

Suku :

Pekerjaan :

Alamat :

2. Faktor Predisposisi

Menurut beberapa teori terjadinya factor predisposisi yaitu:

a. Teori Psikonalisa

Ansietas adalah konflik emosional yang terjadi antara 2 elemen kepribadian yaitu id dan superego. Id mewakili dorongan insting dan implus primitive, sedangkan surego mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan oleh norma-norma budaya seseorang. Ego berfungsi menengahi tuntutan dari dua elemen yang bertentangan dan fungsi ansietas adalah mengingatkan ego bahwa ada bahaya.

b. Teori Interpersonal

Ansietas timbul dari perasaan takut terhadap tidak adanya penerimaan dan penolakan interpersonal. Ansietas berhubungan dengan perkembangan trauma, seperti perpisahan dan kehilangan, yang menimbulkan kelemahan spesifik. Orang yang mengalami harga diri rendah terutama mudah mengalami perkembangan ansietas yang berat.

(18)

c. Teori Perilaku

Ansietas merupakan produk frustasi yaitu segala sesuatu yang mengganggu kemampuan sesorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Pakar perilaku menganggap sebagai dorongan belajar berdasarkan keinginan dari dalam untuk menghindari kepedihan. Individu yang terbiasa dengan kehidupan dini dihadapkan pada ketakutan berlebihan lebih sering menunjukan ansietas dalam kehidupan selanjutnya.

d. Kondisi Keluarga

Ansietas merupakan hal yang biasa ditemui dikeluarga. Ada tumpeng tindih dalam gangguan ansietas dan antara gangguan ansietas dengan depresi. Factor ekonomi, latar belakang pendidikan berpngaruh terhadap terjadinya ansietas.

e. Kondisi Biologis

Keadaan biologis menunjukan bahwa otak mengandung reseptor khusus untuk benzodiasepin, obat-obatan yang meningkatkan neuroregulatory inhibisi asam-asam gama amino butirat (GABA), yang berperan penting dalam mekanisme biologis yang berhubungan dengan ansietas.

3. Faktor Presipitasi

Factor presipitasi dibedakan menjadi:

a. Ancaman terhadap integritas seseorang meliputi ketidakmampuan fisiologis yang akan dating atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktivitas hidup sehari- hari.

b. Ancaman terhadap system diri seseorang dapat membahayakan identitas, harga diri, dan fungsi social yang terintegrasi seseorang.

4. Mekanisme Koping

Tingakt ansietas sedang dan berat menimbulkan 2 jenis mekanisme koping sebagai berikut:

(19)

a. Reaksi yang berorientasi pada tugas yaitu upaya yang disadari dan berorientasi pada Tindakan untuk memenuhi secara realistic tuntutan situasi stress, kompromi untuk mengganti tujuan atau mengorbankan kebutuhan personal

b. Mekanisme pertahanan ego membantu mengatasi ansietas ringn dan sedang, tetapi berlangsung tidak sadar dan melibatkan penipuan diri dan distorsi realitas dan bersifat maladaptive.

5. Perilaku

Kecemasan dapat diekspresikan secara langsung melalui perubahan fisiologi dan perilaku secara tidak langsung melalui timbulnya gejala atau mekanisme koping dalam Upaya melawan kecemasan. Intensietas perilaku akan meningkat sejalan dengan peningkatan tingkat kecemasan.

Respon fisiologis terhadap ansietas meliputi:

a. System kardiovaskuler

Jantung berdebar, palpitasi, tekanan darah meningkat, rasa ingin pingsan, tekanan darah menurun, denyut nadi menurun.

b. System respirasi:

Nafas cepat, sesak nafas, tekanan pada dada, nafas dangkal, sensasi tercekik c. Neuromuskuler:

Reflek meningkat, reaksi terkejut, mata berkedip-kedip, insomnia, kelemahan umum

d. Gizi:

Kehilangan nafsu makan, menolak makan, rasa tidak nyaman pada abdomen, nyeri abdomen, mual, nyeri ulu hati, diare

e. Perkemihan:

Sering bak, f. Kulit

Berkeringat dingin, gatal, rasa panas dingin pada kulit, wajah pucat.

(20)

3.1 Analisa Data a. Data Subjektive

Klien mengatakan: perasaan saya gelisah, berdebar-debar, sering bak, mengalami ketegangan fisik, panik, tidak dapat kosentrasi, tidak percaya diri

b. Data Objektive

Klien tampak: gelisah, pucat, mulut kering, suara tremor, sering mondar-mandir sambil berbicara sendiri atau kepada orang lain tetapi tidak direspon, menarik diri dari lingkungan interpersonal.

3.2 Diagnosa Keperawatan a. Ansietas (D.0080) 3.3 Rencana Keperawatan

a. Tujuan dan kriteria hasil

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam maka diharapkan Tingkat ansietas menurun dengan kriteria hasil (L.09093):

1) Verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun 2) Perilaku gelish menurun

3) Perilaku tegang menurun 4) Keluhan pusing menurun 5) Anoreksia menurun 6) Frekuensi nadi menurun 7) Tekanan darah menurun 8) Konsentrasi membaik 9) Pola tidur membaik

10) Perasaan keberdayaan membaik a. Intervensi:

Terapi Relaksasi Observasi

(21)

1) Identifikasi penurunan tingkat energi, ketidakmampuan berkonsentrasi, atau gejala lain yang mengganggu kemampuan kognitif

2) Identifikasi teknik relaksasi yang pernah efektif digunakan yaitu relaksasi nafas dalam dan hypnosis 5 jari

3) Identifikasi kesedihan, kemampuan dan penggunaan teknik sebelumnya

4) Identifikasi ketegangan otot, frekuensi nadi, tekanan darah sebelum dan sesudah Latihan

5) Monitor respon pasien terhadap terapi relaksasi yang diberikan Terapeutik

1) Ciptakan lingkungan tegang dan tanpa gangguan dengan cara pencahayaan dan suhuh ruangan yang nyaman

2) Berikan informasi tertulis tentang persiapan dan prosedur Teknik relaksasi 3) Gunakan pakaian yang longgar

Edukasi

1) Jelaskan tujuan, manfaat, batasan dan jenis relaksasi 2) Jelaskan secara rinci tentang relaksasi yang diberikan 3) Anjurkan rileks dan merasakan sensasi relaksasi

4) Anjurkan sering mengulangi atau melatih Teknik yang dipilih.

(22)

BAB IV PENUTUP

Anxiety disorder atau gangguan kecemasan merupakan salah satu gangguan yang sering ditemui di kalangan remaja. Rasa cemas itu merupakan rasa yang pasti dialami oleh semua orang, dan rasa itu menjadi alarm tersendiri untuk tubuh kita setiap kali kita dihadapkan dengan situasi yang berbahaya atau mengancam. Tubuh kita mengeluarkan reaksi fight–flight; apakah kita akan melawan rasa itu atau justru kabur dari masalah yang kita akan atau sedang hadapi. Ada banyak jenis gangguan kecemasan berlebih dengan gejala-gejala yang berbeda. Tetapi, ada satu ciri umum yang memiliki kesamaan diantara gejala-gejala tersebut yaitu rasa gelisah yang berkepanjangan dan rasanya seperti intens sekali, dan rasa itu tidak sebanding dengan situasi yang sedang dihadapi dan biasanya hal-hal itu mempengaruhi kehidupan sehari-hari dan kebahagiaan seseorang.

(23)

DAFTAR PUSTAKA

Remes et al. 2016, Prevalensi Anxiety Disorders In Adult Populations. UK Nasional Institute For Health Research.

Bandelow et al. 2017. Treatment Of Anxiety Disorders. Vol 19. No.2 . Riskesdas. 2018, Prevalensi Gejala Depresi Dan Ansietas. Indonesia

Yulianti et al. 2007, Kesehatan Jiwa Dan Psikiatri: Pedoman Klinis Perawat, Ed. 2. Jakarta At a Glance Psikiatri. 2009, Gangguan Ansietas. Jakarta

Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standa Intervensi Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.

Referensi

Dokumen terkait

Enni Afriani : Konsep Perawatan Fraktur Mandibula, 2000... Enni Afriani : Konsep Perawatan Fraktur

Perawatan Rehabilitasi untuk Individu dengan Skizofrenia yang Memiliki Masalah Defisit Perawatan Diri Tujuan dari pembahasan ini adalah untuk menguji beberapa prinsip umum

Skripsi ini membahas tentang model matematis epidemi HIV/AIDS yang melibatkan perawatan yang mempertimbangkan beberapa populasi yaitu jumlah individu yang rentan

Rencana perawatan pada pasien endentulous sebagian harus mempertimbangkan keadaaan rongga mulut pasien karena pada setiap individu memiliki perbedaan masalah yang

Materi ini membahas tentang perawatan stoma, termasuk definisi, tujuan, indikasi, persiapan alat, dan prosedur

Makalah ini membahas tentang sifat dan kualitas kepemimpinan yang dibutuhkan untuk

Makalah yang berisi tentang perawatan saluran akar pada

Makalah yang membahas tentang metodologi kerja perawatan area lapangan panas bumi dan pengangkatan silika sumur produksi di PLTP Dieng Unit