• Tidak ada hasil yang ditemukan

tugas akhir - IAIN Repository - IAIN Metro Lampung

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "tugas akhir - IAIN Repository - IAIN Metro Lampung"

Copied!
84
0
0

Teks penuh

(1)

MACET DALAM PEMBERIAN KREDIT USAHA RAKYAT (KUR) PADA PT BANK RAKYAT INDONESIA UNIT BANTUL CABANG METRO

Oleh:

TRIA SEPTIANA NPM. 14127848

Program: D3 Perbankan Syariah Fakultas: Ekonomi dan Bisnis Islam

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) METRO

1438 H / 2017 M

(2)

ii

FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN TERJADINYA KREDIT MACET DALAM PEMBERIAN KREDIT USAHA RAKYAT (KUR) PADA

PT BANK RAKYAT INDONESIA UNIT BANTUL CABANG METRO

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Ahli Madya (A.Md)

Oleh:

TRIA SEPTIANA NPM. 14127848

Pembimbing : Dra. Hj. Siti Nurjanah, M.Ag

Program D3 Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) METRO

1438 H / 2017 M

(3)

iii

(4)

iv

(5)

v ABSTRAK

FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN TERJADINYA KREDIT MACET DALAM PEMBERIAN KREDIT USAHA RAKYAT (KUR) PADA

PT BANK RAKYAT INDONESIA UNIT BANTUL CABANG METRO

Oleh:

TRIA SEPTIANA

Pemerintah berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat baik dari sektor perekonomian maupun sektor lainnya. Melalui program-program pemerintah dari sektor ekonominya yaitu Kredit Usaha Rakyat atau KUR ini diharapkan masyarakat akan merasa mudah untuk bisa mengembangkan usahanya. Sehingga kehidupan masyarakat akan menjadi sejahtera.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan mengenai faktor-faktor apa sajakah yang dapat menyebabkan terjadinya kredit macet pada pemberian Kredit Usaha Rakyat di Bank Rakyat Indonesia Unit Bantul Cabang Metro. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data wawancara dan observasi. Wawancara dilakukan terhadap orang-orang yang melakukan pinjaman KUR di Bank Rakyat Indonesia Unit Bantul.

Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya kredit macet pada pemberian KUR diantaranya karena faktor internal bank seperti Kelemahan dalam analisa kredit, Realisasi kredit yang tidak tepat waktu, Plafon kredit yang tidak sesuai kebutuhan nasabah, Itikad tidak baik dari petugas BRI, Bank terlalu ekspansif. Sedangkan dari faktor eksternal yaitu Usaha nasabah mengalami kemerosotan, Itikad tidak baik dari debitur, Musibah hama/penyakit, Musibah kebakaran, serta Jaminan atas nama orang lain bukan atas nama debitur.

(6)

vi

ORISINILITAS PENELITIAN

Yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : TRIA SEPTIANA NPM : 14127848

Program : D-3 Perbankan Syariah Fakultas : Ekonomi dan Bisnis Islam

Menyatakan bahwa Tugas Akhir ini secara keseluruhan adalah hasil penelitian saya kecuali bagian-bagian tertentu yang dirujuk dari sumbernya dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Metro, Oktober 2017 Yang Menyatakan,

Tria Septiana NPM. 14127848

(7)

vii MOTTO































Artinya: “Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, Maka berilah tangguh sampai Dia berkelapangan. dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (Q.S Al-Baqoroh: 280)1.

1 Kementerian Agama RI, Al-Qur’an Tajwid dan Terjemahnya Dilengkapi dengan Asbabun Nuzul dan hadist Shahih, (Syaamil Qur’an: Bandung, 2010), h. 47

(8)

viii

PERSEMBAHAN

Allhamdulillahirobbilalamin Segala ketulusan hati dan penuh syukur kehadirat Allah SWT, Peneliti mempersembahkan karya ini kepada orang-orang yang setia mendampingi serta melewati hari-hari perjuangan selama ini, terkhusus untuk:

1. Kepada Pembimbing Tugas Akhir yaitu Ibu Dra.Hj. Siti Nurjanah, M.Ag yang telah membimbing peneliti dengan kesabaran dan penuh kasih sayang serta yang selalu mendo’akan keberhasilannya.

2. Pembimbing Akademik yaitu Ibu Nurhidayati, M.H yang telah memberikan arahan dan juga nasehat serta yang telah mendampingi peneliti mulai dari awal masuk ke IAIN Metro.

3. Kepada kedua Orang Tua Peneliti yaitu Bapak Suratman dan Ibu Sudarmi yang telah mendidik dan menyayangi dari kecil dengan penuh kasih sayang serta yang selalu mendoakan keberhasilan dan kebahagiaannya.

4. Kakak yang peneliti sayangi yaitu Dedi Setyawan dan Dwi Puji Astuti yang selalu mengharapkan keberhasilannya.

5. Terima Kasih juga untuk teman-teman se-angkatan D-III PBS Leni Nur Octaviana, Intan Novita Sari, Ranti Juwita Sari, Gusti Riyandhi, Sri Bulan terima kasih telah menjadi teman yang selalu membantu saya.

6. Terima kasih juga kepada teman-teman lainnya yang mendukung dan memberi semangat kepada peneliti.

7. Almamater IAIN Metro.

(9)

ix

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb

Alhamdulillah, puji syukur peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga peneliti bisa menyelesaikan Tugas Akhir ini. Tujuan penelitian Tugas Akhir ini sebagai persyaratan untuk menyelesaikan program diploma tiga (D-3) Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Metro Lampung. Dalam upaya penyelesaian Tugas Akhir ini, peneliti telah menerima banyak bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak.

Oleh karenanya peneliti mengucapkan banyak terima kasih kepada : 1. Ibu Prof. Dr. Hj Enizar, M. Ag selaku Rektor IAIN Metro.

2. Ibu Widhiya Ninsiana, M.Hum selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Metro.

3. Ibu Zumaroh, M. E. Sy selaku Ketua Jurusan D-III Perbankan Syariah 4. Ibu Dra.Siti Nurjanah, M.Ag selaku Pembimbing Tugas Akhir

5. Ibu Nurhidayati, M.H selaku Pembimbing Akademik 6. Bapak dan Ibu Dosen serta Karyawan IAIN Metro.

7. Bapak Ngatijo selaku Kepala Unit BRI dan semua karyawan Bank Rakyat Indonesia Unit Bantul Cabang Metro yang telah memberikan izin kepada peneliti untuk mengadakan penelitian serta membantu dan membimbing dalam meneliti.

(10)

x

Peneliti menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam tugas akhir ini, sehingga kritik dan saran sangat peneliti harapkan demi perbaikan di masa yang akan datang. Peneliti berharap semoga hasil penelitian yang telah dilakukan dapat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan mengenai faktor penyebab terjadinya kredit macet dan cara mengatasi kredit macet.

Wassalamuallaikum Wr.Wb

Metro, Oktober 2017 Peneliti,

Tria Septiana NPM. 14127848

(11)

xi DAFTAR ISI

HALAMAN DEPAN ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

ABSTRAK ... v

ORISINILITAS PENELITIAN ... vi

MOTTO ... vii

PERSEMBAHAN ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Pertanyaan Penelitian ... 6

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 6

D. Metode Penelitian... 7

1. Jenis Penelitian ... 8

2. Sifat Penelitian ... 8

3. Sumber Data ... 8

4. Teknik Pengumpulan Data ... 9

5. Teknik Analisis Data ... 11

E. Sistematika Pembahasan ... 12

BAB II LANDASAN TEORI ... 13

A. Kredit Macet... 13

1. Pengertian Kredit Macet ... 13

2. Prinsip Pemberian Kredit ... 14

B. Kredit Usaha Rakyat (KUR) ... 16

1. Pengertian KUR ... 16

2. Sejarah KUR Bank Rakyat Indonesia ... 17

3. Obyek KUR Mikro ... 20

4. Syarat dan Ketentuan KUR Mikro ... 21

5. Tabel Angsuran KUR PT Bank Rakyat Indonesia ... 23

C. Faktor-fakor yang menyebabkan terjadinya Kredit Macet ... 23

D. Langkah-langkah Mengatasi Kredit Macet ... 25

(12)

xii

BAB III PEMBAHASAN ... 30

A. Sejarah PT Bank Rakyat Indonesia Unit bantul Cabang Metro ... 30

B. Visi dan Misi PT Bank Rakyat Indonesia Unit Bantul Cabang Metro ... 32

C. Struktur Organisasi PT Bank Rakyat Indonesia Unit Bantul Cabang Metro ... 32

D. Pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat di PT Bank Rakyat Indonesia Unit Bantul cabang Metro ... 36

E. Analisis terhadap faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya Kredit Macet dalam Pemberian Kredit Usaha Rakyat di PT Bank Rakyat Indonesia Unit Bantul Cabang Metro ... 39

1. Faktor Internal ... 39

2. Faktor Eksternal ... 41

BAB IV PENUTUP ... 45

A. Kesimpulan ... 45

B. Saran ... 46 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN

(13)

xiii

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Angsuran Kredit Usaha Rakyat Unit Bantul Cabang Metro ... 23

(14)

xiv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1 Struktur Organisasi PT Bank Rakyat Indonesia Unit Bantul

Cabang Metro ... 33

(15)

xv

DAFTAR LAMPIRAN

1. Surat Bimbingan Tugas Akhir 2. Kartu Konsultasi Bimbingan 3. Alat Pengumpul Data (APD) 4. Outline

5. Surat Keterangan PPL 6. Sertifikat PPL

7. Surat Keterangan Bebas Pustaka 8. Daftar Riwayat Hidup

(16)

Pada era modern ini, Sektor perbankan memiliki posisi strategis sebagai lembaga keuangan. Lembaga yang semakin menyatu dengan ekonomi regional, nasional, dan ekonomi internasional yang perkembangannya bergerak cepat dengan tantangan yang semakin kompleks2.

Industri perbankan merupakan institusi kepercayaan. Dalam kegiatannya, bank melakukan penghimpunan dana dan penyaluran dana juga memberikan penawaran jasa perbankan lainnya antara lain jasa layanan guna memenuhi kebutuhan dan kepuasan kepada nasabah. Pelayanan merupakan salah satu upaya bank agar selalu diminati dan diingat oleh nasabahnya. Program pelayanan kepada nasabah merupakan upaya bank untuk memberikan pelayanan terbaik sehingga nasabah nyaman untuk melakukan transaksi dengan bank tersebut demi tercipta nasabah yang loyal terhadap bank tersebut3.

Dalam menjalankan fungsi bank tersebut sebagian kalangan masyarakat memandang bahwa dengan sistem konvensional ada hal-hal yang tidak sesuai dengan keyakinan masyarakat Indonesia yang mayoritas agama Islam khususnya yang menolak adanya penetapan imbalan dan penetapan beban yang dikenal dengan bunga. Namun pada prakteknya pun perbankan syariah secara

2 https://www. Infoperbankan.com hari Sabtu, 22 April 2017

3 Ikatan Bankir Indonesia, Memahami Bisnis bank, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2013), Edisi 1, h. 189

(17)

tidak langsung masih menerapkan system yang sama seperti perbankan konvensional4.

Bank adalah salah satu badan usaha finansial yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat banyak5.

Menurut UU No 10 tahun 1998 bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak6.

Perbankan mengalami perkembangan yang cukup signifikan, hingga sampai saat ini berkembanglah perbankan syariah. Bank syariah merupakan bank yang kegiatannya mengacu pada hukum islam, dan dalam kegiatannya tidak membebankan bunga, maupun tidak membayar bunga kepada nasabah7.

Dalam undang-undang No. 21 tahun 2008 tentang perbankan syariah pasal 1 disebutkan bahwa perbankan syariah adalah segala sesuatu yang menyangkut bank syariah dan unit usaha syariah, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya8.

4 https://www. Infoperbankan.com hari Sabtu, 22 April 2017

5 Herman Darmawi, Manajemen Perbankan, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2012), h. 1

6 Kasmir.Bank dan lembaga keuangan lainnya. (Jakarta: PT Rajawali Pers , 2013), h. 68

7 Ismail, Manajemen Perbankan Dari Teori Menuju Aplikasi, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010) Edisi Pertama, h. 20

8 Khaerul Umam, Manajemen Perbankan Syariah, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2013) h. 15

(18)

Dalam Undang-Undang No 7 tahun 1992 keberadaan perbankan islam dipahami sebagai bank bagi hasil, serta perbankan islam harus tunduk kepada peraturan perbankan umum yang biasa kita sebut bank konvensional9.

Undang-Undang No. 10 tahun 1998 menjadi dasar hukum penerapan dual banking system di indonesia, efek dari hal tersebut adalah perbankan islam tidak berdiri sendiri (mandiri), sehingga dalam operasionalisasinya masih menginduk kepada bank konvensional. Jika demikian adanya perbankan islam hanya menjadi salah satu bagian dari program pengembangan bank konvensional10.

Bank konvensional dengan bank syariah memiliki beberapa hal persamaan, terutama dalam hal sisi teknis penerimaan uang, mekanisme transfer, teknologi computer yang digunakan, persyaratan umum pembiayaan, dan syarat-syarat umum untuk mendapat pembiayaan seperti KTP, NPWP, Proposal, laporan keuangan dsb. Sedangkan perbedaannya bank konvensional menggunakan akad konvensional, tidak tedapat Dewan Pengawas, investasi halal dan haram, lebih kepada profit oriented, hubungan dengan nasabah dalam bentuk kreditur dan debitur, dan memakai system bunga. Jika yang di perbankan syariah itu kebalikannya penghimpunan dan penyaluran dana harus sesuai dengan fatwa Dewan Pengawas Syariah, melakukan investasi yang halal saja, hubungan dengan nasabah dalam bentuk kemitraaan, berdasarkan prinsip

9 Rivai Veithzal; Arviyan Arifin, Islamic Banking: Sebuah Teori, Konsep Dan Aplikasi, ( Jakarta: Bumi Aksara, 2010) h. 105

10 Rivai Veithzal; Arviyan Arifin, Islamic Banking: Sebuah Teori, Konsep Dan Aplikasi, ( Jakarta: Bumi Aksara, 2010) h. 106

(19)

bagi hasil, jual beli atau sewa, dan tidak hanya beorientasi pada profit saja namun demi kemakmuran dan kebahagiaan dunia akherat.11

Sektor perdagangan di Indonesia yang menjadi jumlah terbesar yaitu Unit Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Untuk itu, pemerintah mencanangkan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada tanggal 5 November 2007 dengan fasilitas penjaminan kredit dari Pemerintah melalui PT Askrindo dan Perum Jamkrindo. Adapun bank pelaksana yang menyalurkan KUR ini adalah Bank BRI, Bank Mandiri, Bank BNI, Bank BTN, Bank Syariah Mandiri, Bank Bukopin, dan BNI Syariah. Dengan adanya program KUR diharapkan UMKM dan Koperasi (UMKM-K) dapat menerima fasilitas pembiayaan terutama bagi UMKM-K yang memiliki usaha yang layak.

UMKM dan koperasi yang diharapkan dapat mengakses KUR adalah yang bergerak di sektor usaha produktif antara lain: pertanian, perikanan dan kelautan, perindustrian, kehutanan dan jasa keuangan simpan pinjam.

Memperhatikan arah kebijakan pemerintah dan mempertimbangkan pencapaian KUR selama tujuh tahun terakhir, presiden telah menetapkan keputusan presiden nomor 19 tahun 2015 tentang Komite Kebijakan Pembiayaan bagi UMKM. Dalam rangka melaksanakan keputusan presiden tersebut telah ditetapkan pedoman pelaksanaan KUR dalam peraturan menteri koordinator bidang perekonomian selaku ketua Komite Kebijakan Pembiayaan bagi usaha mikro, kecil dan menengah nomor 6 tahun 2015 tentang pedoman pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat, serta peraturan menteri keuangan nomor

11 Amir Machmud; Rukmana, Bank Syariah; Teori, Kebijakan Dan Study Empiris Di Indonesia, (Jakarta: Erlangga, 2010) h.11-12

(20)

146/PMK.05/2015 tanggal 30 juli 2015 perihal tata cara pelaksanaan subsidi bunga untuk Kredit Usaha Rakyat12.

Kredit Usaha Rakyat ini ditujukan untuk membantu ekonomi usaha rakyat kecil dengan cara memberi pinjaman untuk usaha yang didirikannya. Dalam melakukan pinjaman tentunya adanya sebuah perjanjian antara debitur dan kreditur. Seorang pemohon harus mengetahui hak dan kewajiban yang akan timbul dari masing-masing pihak. Sebelum kredit diberikan, untuk meyakinkan bank bahwa si nasabah dapat benar-benar dipercaya maka bank melakukan analisis kredit terlebih dahulu.

Pemberian kredit tanpa dianalisis terlebih dulu akan sangat membahayakan bank, nasabah akan dengan mudah memberikan data-data fiktif sehingga kredit tersebut sebenarnya tidak layak untuk diberikan. Akibatnya jika salah dalam menganalisis maka kredit yang disalurkan akan sulit untuk ditagih dengan kata lain macet. Namun faktor salah analisis ini bukanlah merupakan penyebab utama terjadinya kredit macet walaupun sebagian terbesar kredit macet diakibatkan salah dalam mengadakan analisis13.

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dan menyusunnya menjadi sebuah Tugas Akhir dengan judul

"Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kredit macet dalam pemberian Kredit Usaha Rakyat (KUR) di PT Bank Rakyat Indonesia Unit Bantul Cabang Metro "

B. Pertanyaan Penelitian

12 Surat Edaran, Nomor: S. 21 –DIR/ADK/08/2015, h. 1

13 Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), cet ke-14 h. 86

(21)

Berdasarkan uraian dan latar belakang di atas, maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut :

1. Apa sajakah faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kredit macet dalam pemberian Kredit Usaha Rakyat (KUR) di PT BRI Cabang Metro Unit Bantul?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Adapun tujuan dan manfaat yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah : 1. Secara Teoritis

a. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan bagi peneliti mengenai pelaksanaan pemberian Kredit Usaha Rakyat (KUR) beserta permasalahan yang ditimbulkan.

b. Untuk memperoleh data dan informasi secara lebih jelas dan lengkap sebagai bahan untuk menyusun penulisan Tugas Akhir di bidang Perbankan Syariah di Institut Agama Islam Negeri Metro.

c. Dapat bermanfaat selain sebagai bahan informasi juga sebagai literatur atau bahan informasi ilmiah.

2. Secara Praktis

a. Memberikan masukan atau sumbangan pemikiran kepada pihak-pihak terkait, mengenai pelaksanaan pemberian Kredit Usaha Rakyat (KUR) beserta permasalahan yang ditimbulkan karenanya.

b. Untuk memberikan pemikiran alternatif yang diharapkan dapat digunakan sebagai bahan informasi.

(22)

D. Metodologi Penelitian

Metodologi adalah proses, prinsip dan prosedur yang di gunakan untuk mendekati problem dan mencari jawaban. Metodologi adalah suatu pendekatan umum untuk mengkaji topic penelitian. Metodologi penelitian adalah tekhnik- tekhnik penelitian14.

Metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitiannya. Seperti sudah dijelaskan, variasi metode dimaksud adalah angket, wawancara, pengamatan atau observasi, tes dan dokumentasi15.

Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Berdasarkan hal tersebut ada empat kunci yang perlu diperhatikan yaitu, cara ilmiah, data, tujuan, dan kegunaan16.

1. Jenis Penelitian

Mengacu pada perumusan masalah, maka penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian field research yaitu peneliti langsung datang kelokasi di BRI Unit Bantul. Dalam hal ini, peneliti berusaha menguraikan tentang pelaksanaan prosedur pemberian Kredit Usaha Rakyat (KUR) beserta permasalahan yang ditimbulkan karenanya.

14 Deddy Mulyana, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010), Cet. Ketujuh h. 145

15Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), Edisi Revisi, h. 203

16Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, Dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2009), Cet Ke-7, h. 2

(23)

2. Sifat Penelitian

Penelitian yang dilakukan peneliti bersifat deskriptif. Penelitian deskriptif bertujuan membuat pencandraan (deskripsi) secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu17.

3. Sumber Data

Sumber data dalam yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah : a. Sumber Data Primer

Sumber Data primer yaitu kata-kata dan tindakan orang-orang yang diamati atau yang diwawancarai18. Hasil wawancara tersebut dengan bapak Ngatijo selaku Kepala Unit BRI Bantul, ibu Nurani pegawai/

Mantri KUR, bapak Rama Rihandi selaku CS/ PA KUR, serta bapak Sariman dan ibu Rusmina sebagai nasabah Kredit Usaha Rakyat.

b. Sumber Data Sekunder

Sumber Data sekunder adalah sumber data tertulis yang berupa buku, majalah ilmiah, arsip, dokumen pribadi dll19. Yaitu antara lain mencakup lembar permohonan Kredit Usaha Rakyat di PT Bank Rakyat Indonesia Unit Bantul, literatur, catatan, laporan penelitian, dan sumber lain yang relevan dan berkaitan dengan masalah yang diteliti.

17 Edi Kusnadi, Metodologi Penelitian, (Metro: Ramayana Pers & STAIN Metro, 2008), h. 16

18 Lexy J. Moleong, Metodologi penelitian kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), cet. Ke-30, h. 157

19 Lexy J. Moleong, Metodologi penelitian kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), h. 159 cet. Ke-30

(24)

4. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah:

a. Wawancara

Interview atau wawancara adalah sebuah dialog yang dilakukan pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara20. Wawancara tersebut yaitu dengan bapak Ngatijo selaku Kepala Unit BRI Bantul, ibu Nurani sebagai Petugas/ Mantri KUR, bapak Rama Rihandi sebagai CS/ PA KUR serta bapak Sariman dan ibu Rusmina sebagai nasabah KUR.

Jenis interview yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah interview bebas terpimpin, yaitu kombinasi antara interview bebas dan terpimpin. Dalam melaksanakan interview pewawancara membawa pedoman yang hanya merupakan garis besar tentang hal- hal yang akan ditanyakan21.

b. Studi Kepustakaan

1) Pengumpulan Data: Langkah pengumpulan data ini sesuai dengan teknik pengumpulan data yang telah diuraikan di atas, yang terdiri dari wawancara dan studi kepustakaan.

20Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), Edisi Revisi, h. 198

21 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), Edisi Revisi, h. 199

(25)

2) Reduksi data: Reduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya22.

3) Penyajian data, Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart, dan sejenisnya. Namun yang paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif23.

c. Penarikan kesimpulan/ verifikasi

Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif menurut Miles dan Huberman adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya.

Tetapi apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh bukti-bukti valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel24.

Penarikan kesimpulan dalam penelitian bukanlah merupakan suatu karangan atau diambil dari pembicaraan-pembicaraan lain namun

22 Sugiyono, Metode Penelitian Manajemen, (Bandung: Alfabeta, 2013), Cet Ke-1, h. 405 23 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, Dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2009), Cet Ke-7, h. 249

24 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, Dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2009), Cet Ke-7, h. 252

(26)

harus mendasarkan diri atas semua data yang diperoleh dalam kegiatan penelitian25.

5. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data merupakan upaya yang dilakukan dengan cara bekerja dengan data, menemukan pola, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, menemukan apa yang dapat diceritakan26. Analisis data bersifat induktif yaitu berangkat dari kasus-kasus yang bersifat khusus berdasarkan pengalaman nyata (ucapan/perilaku, subjek penelitian/ situasi lapangan penelitian untuk kemudian dirumuskan menjadi model, konsep, teori, prinsip, proposisi/definisi yang bersifat umum27.

25 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), Edisi Revisi, h. 385

26 Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009) h. 248

27 Deddy Mulyana, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010), cet ke-7, h. 156

(27)

A. Kredit Macet

1. Pengertian Kredit Macet

Kredit macet adalah pinjaman kredit yang terdapat tunggakan pembayaran pokok atau bunga yang telah melampaui 180-270 hari. Dapat dikatakan kredit macet apabila terdapat tunggakan angsuran pokok dan bunga yang telah melampaui 270 hari atau, kerugian operasional ditutup dengan pinjaman baru atau, dari segi hukum maupun kondisi pasar, jaminan tidak dapat dicairkan pada nilai wajar28.

Pembiayaan digolongkan macet apabila tidak memenuhi kriteria lancar, kurang lancar dan diragukan atau memenuhi kriteria diragukan tetapi jangka waktu 21 bulan sejak digolongkan diragukan belum ada pelunasan atau usaha penyelamatan, pembiayaan tersebut penyelesaiannya telah diserahkan kepada Pengadilan Negeri atau Badan Urusan Piutang Negara (BUPN) atau telah diajukan penggantian rugi kepada perusahaan asuransi kredit atau di Badan Arbitrase Syari’ah29.

28 Hermansyah, Hukum Perbankan Nasional Indonesia, (Jakarta: Prenada Media Group, 2005), Edisi Kedua h. 68

29 Muhammad, Manajemen Bank Syariah, (Yogyakarta: UPP STIM YKPN, 2011), Edisi Revisi Kedua, h. 314

(28)

2. Prinsip Pemberian Kredit

Kredit merupakan salah satu bisnis utama bank yang memiliki risiko, namun disisi lain memberikan pendapatan dari pemberian kredit tersebut, oleh karena itu pemberian kredit harus dilaksanakan pejabat/pegawai kredit yang mengerti dan memahami mengenai dasar-dasar perkreditan30. Agar kredit yang diberikan berkualitas dan tepat maka bank harus melakukan penilaian terhadap calon debitur dengan prinsip 5 C yaitu sebagai berikut:

a. Character

Character ialah keadaan waktu atau sifat calon debitur, baik dalam kehidupan pribadi maupun lingkungan usaha. Kegunaan dari penelitian terhadap karakter ini adalah untuk mengetahui sampai sejauh mana iktikad/kemampuan customer untuk memenuhi kewajibannya sesuai dengan perjanjian yang telah ditetapkan31.

Konsep karakter dalam kaitannya dengan transaksi kredit berarti kesediaan untuk melunasi kredit, memiliki niat yang kuat untuk menepati kewajiban sesuai dengan persyaratan dalam perjanjian32.

b. Capital

Capital atau modal merupakan jumlah modal yang dimiliki oleh calon debitur atau jumlah dana, yang akan disertakan dalam proyek yang dibiayai oleh calon debitur. Semakin besar modal yang dimiliki dan disertakan oleh calon debitur dalam objek pembiayaan akan semakin

30 Ikatan Bankir Indonesia (IBI), Memahami Bisnis Bank, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2013), h. 114

31 Khaerul Umam, Manajemen Perbankan Syariah, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2013) h.

234

32 Herman Darmawi, Manajemen Perbankan, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2012), h. 108

(29)

meyakinkan bagi bank akan keseriuasan calon debitur dalam mengajukan kredit. Bank dapat mengetahui modal nasabah dengan melihat laporan keuangan debitur serta uang muka yang dibayarkan dalam memperoleh kredit33.

c. Capacity

Capacity adalah kemampuan yang dimiliki calon nasabah dalam menjalankan usahanya guna memperoleh laba yang diharapkan. Capacity adalah kemampuan calon nasabah debitor untuk mengelola kegiatan usahanya dan mampu melihat prospektif masa depan, sehingga usahanya akan dapat berjalan dengan baik dan memberikan keuntungan, yang menjamin bahwa ia mampu melunasi utang kreditnya dalam jumlah dan jangka waktu yang telah ditentukan34.

d. Collateral

Collateral atau jaminan adalah barang atau sesuatu yang dapat dijadikan jaminan pada saat seseorang akan melakukan peminjaman dana dalam bentuk kredit ke sebuah perbankan atau leasing35.

Penilaian terhadap collateral ini dapat ditinjau dari dua segi yaitu:

1) Segi ekonomis, yaitu nilai ekonomis dari barang-barang yang akan diagunkan,

2) Segi yuridis, yaitu apakah agunan tersebut memenuhi syarat- syarat yuridis untuk dipakai sebagai agunan.

33 Ismail, Manajemen Perbankan Dari Teori Menuju Aplikasi, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010), Edisi Pertama, h. 114

34 Hermansyah, Hukum Perbankan Nasional Indonesia, (Jakarta: Prenada Media Group, 2005), Edisi Kedua h. 64

35 Irham Fahmi, Manajemen Perkreditan, (Bandung: Alfabeta, 2014) h. 18

(30)

e. Condition Of Economy

Condition of economy adalah situasi dan kondisi politik, social, ekonomi, dan budaya yang mepengaruhi keadaan perekonomian yang kemungkinan suatu saat memengaruhi kelancaran perusahaan calon nasabah36. Untuk mendapatkan gambaran mengenai hal tersebut, perlu diadakan penelitian mengenai beberapa hal berikut:

1) Keadaan conjungtur

2) Peraturan-peraturan pemerintah

3) Situasi, politik dan perekonomian dunia 4) Keadaan lain yang memengaruhi pemasaran

B. Kredit Usaha Rakyat (KUR) 1. Pengertian KUR

KUR adalah singkatan dari Kredit Usaha Rakyat yang Merupakan produk pinjaman BRI yang diberikan kepada para pelaku usaha mikro, ini adalah program kerjasama antara Pemerintah dan BRI dalam menyalurkan dana pinjaman sebagai modal usaha. Nasabah dapat mengajukan pinjaman modal Rp 1 juta sampai batas maksimal Rp25 juta dengan jangka waktu hingga 36 bulan. Pengajuan dapat dilakukan di kantor cabang bank BRI terdekat di Daerah dengan melengkapi persyaratannya37.

KUR adalah kredit modal kerja (KMK) atau kredit investasi dengan plafon kredit sampai Rp 25.000.000,- yang diberikan kepada usaha mikro,

36 Khaerul Umam, Manajemen Perbankan Syariah, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2013) h.

237

37 https://www.infoperbankan.com/bri/kur-bri.html hari sabtu, 22 April 2017 jam 17.00

(31)

kecil menengah, koperasi (UMKM-K) yang memiliki usaha produktif yang akan mendapat penjaminan dari perusahaan penjamin. UMKM-K harus merupakan usaha produktif yang layak.

2. Sejarah KUR BRI

Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) memiliki peran dan kontribusi yang cukup besar dalam perekonomian Indonesia, yaitu menyediakan lapangan kerja terbesar dan menyumbang pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2012.

Dalam lima tahun mendatang pemerintah mengupayakan peningkatan kontribusi UMKM dalam perekonomian. Salah satu program pemerintah dalam meningkatkan peran UMKM dalam perekonomian adalah dengan meningkatkan akses pembiayaan perbankan kepada UMKM. Pendanaan UMKM tersebut memerlukan sinergi dan kerjasama yang melibatkan berbagai kementerian/ lembaga, pemerintah daerah dan dunia usaha.

Kerjasama tersebut dilengkapi dengan pengembangan skema pembiayaan, basis data dan informasi bersama, serta sistem monitoring dan evaluasi yang terpadu.

Sejak tahun 2007 sampai dengan Desember 2014 kinerja penyaluran KUR dalam memberikan pembiayaan kepada UMKM sangat baik yaitu sebesar Rp. 178,8 triliun dengan total debitur sebanyak 12,4 juta debitur.

Sedangkan pada tahun 2014 jumlah kredit yang dapat disalurkan adalah Rp.

40,2 triliun kepada 2,4 juta debitur. Pencapaian ini telah melampaui target penyaluran tahunan.

(32)

Melalui Rapat Koordinasi Komite Kebijakan Pembiayaan bagi UMKM tanggal 13 Mei 2015 maka disepakati untuk segera meluncurkan produk KUR Mikro dengan suku bunga kepada end user sebesar 21% efektif per tahun. Hal tersebut ditindaklanjuti dengan penerbitan Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 4 Tahun 2015 tentang Pedoman Pelaksanaan KUR Mikro yang diundangkan tanggal 25 Mei 2015.

Pada tanggal 16 Juni 2015 diselenggarakan Rapat Kabinet Terbatas yang salah satu keputusannya adalah menurunkan suku bunga KUR menjadi 12% efektif per tahun. Sebagai tindak lanjut arahan tersebut, Komite Kebijakan melakukan kembali kajian untuk menentukan bentuk dan besaran subsidi yang sesuai bagi program KUR. Melalui rapat koordinasi Komite Kebijakan Pembiayaan Bagi UMKM tanggal 26 Juni 2015, diputuskan bahwa KUR akan disalurkan dalam 2 jenis yaitu KUR Mikro dan KUR Ritel. Bentuk subsidi yang diberikan pemerintah adalah subsidi bunga dengan penyalur awal adalah BRI, Bank Mandiri, dan BNI. Akan dikaji lebih lanjut untuk pembiayaan TKI.

Memperhatikan arah kebijakan pemerintah dan mempertimbangkan pencapaian KUR selama tujuh tahun terakhir, Presiden telah menetapkan Keputusan Presiden Nomor 19 tahun 2015 tentang Komite Kebijakan Pembiayaan bagi UMKM.bahwa dalam rangka melaksanakan Keputusan Presiden tersebut telah ditetapkan Pedoman Pelaksanaan KUR dalam Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Komite Kebijakan Pembiayaan bagi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Nomor 6

(33)

tahun 2015 tentang Pedoman Pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat, serta Peraturan Menteri Keuangan Nomor 146/PMK.05/2015 tanggal 30 Juli 2015 perihal Tata Cara Pelaksanaan Subsidi bunga untuk Kredit Usaha Rakyat38.

Dalam rangka percepatan pelaksanaan KUR, diterbitkan pula Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 6 Tahun 2015 tentang Pedoman Pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat yang diundangkan tanggal 7 Agustus 2015. Sebagai landasan pembayaran subsidi bunga maka dikeluarkan pula Peraturan Menteri Keuangan Nomor 146 Tahun 2015 yang diundangkan tanggal 30 Juli 2015. Penetapan Bank Pelaksana KUR ditetapkan dalam Keputusan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Komite Kebijakan Pembiayaan Bagi UMKM Nomor 186 Tahun 2015.

Pada Oktober 2015, Pemerintah melakukan evaluasi dalam pelaksanaan Program KUR Tahun 2015. Sebagai upaya meningkatkan dan memperluas pelaksanaan penyaluran KUR Tahun 2015 dan agar alokasi plafon tahunan KUR Tahun 2015 dapat dicapai secarai optimal, serta untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, Komite Kebijakan melakukan perubahan regulasi sebagai langkah relaksasi Program KUR.

Beberapa regulasi yang dikeluarkan yaitu Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 8 Tahun 2015 tentang Pedoman Pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat dan Keputusan Menteri Koordinator

38 Surat Edaran, Nomor: S. 21 –DIR/ADK/08/2015, h. 1

(34)

Bidang Perekonomian Nomor 188 Tahun 2015 tentang Penetapan Penyalur Kredit Usaha Rakyat dan Perusahaan Penjamin Kredit Usaha Rakyat.

Peraturan tersebut menjadi payung hukum baru dalam pelaksanaan Program KUR.

Landasan operasional KUR adalah instruksi Presiden Nomor 5 tahun 2008 tentang fokus program ekonomi tahun 2008-2009 untuk menjamin implementasi atau percepatan pelaksanaan KUR dan nota kesepahaman bersama MOU antar departemen teknis, perbankan dan perusahaan penjaminan yang ditandatangani pada tanggal 9 oktober 2007. KUR mensyaratkan bahwa agunan pokok kredit adalah proyek yang dibiayai.

Namun karena agunan tambahan yang dimiliki oleh UMKM-K pada umumnya kurang, maka sebagian ditanggulangi dengan program penjaminan. Besarnya cakupan penjaminan maksimal 70% dari plafon kredit. Sumber dana KUR sepenuhnya berasal dari dana komersial bank39.

3. Obyek KUR Mikro

Calon debitur KUR mikro adalah individu yang melakukan usaha mikro berupa usaha produktif dan layak, namun tidak memiliki agunan tambahan sebesar yang dipersyaratkan bank. Setiap debitur hanya dapat menerima KUR mikro dengan total akumulasi plafond termasuk suplesi atau perpanjangan maksimal Rp 75.000.000,- per debitur dari BRI/ perbankan yang menyalurkan KUR.

39 www. Bri.co.id diakses hari Selasa, 13 Juni 2017 pukul 07.15

(35)

Penyaluran KUR mikro dilaksanakan dengan mengacu kepada basis data yang dihimpun dari sumber kementrian teknis, pemerintah daerah, perbankan dan perusahaan penjamin. Penerapan penggunaan basis data dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan tingkat kesiapan System Informasi Kredit Program (SIKP). Mengingat kewajiban penggunaan SIKP dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan tingkat kesiapannya, maka penyaluran KUR mikro tetap dapat dilakukan tanpa menggunakan SIKP sampai dengan kesiapan penggunaannya. Penggunaan SIKP dalam penyaluran KUR mikro diatur melalui surat tersendiri.

Penyaluran KUR mikro hanya dapat dilaksanakan di BRI Unit atau teras BRI. Sektor ekonomi yang dapat dibiayai KUR mikro yaitu seluruh bidang usaha mikro disektor pertanian, perikanan, perdagangan dan industri.

Sumber dana KUR mikro berasal sepenuhnya dari dana BRI. Calon debitur KUR mikro diwajibkan untuk dilakukan pengecekan Sistem Informasi Debitur Bank Indonesia (SID BI)40.

4. Syarat Dan Ketentuan KUR Mikro

a. Berkarakter baik dan mempunyai usaha produktif atau layak, namun tidak memiliki/ menyediakan agunan tambahan sebesar yang dipersyaratkan bank. Telah melakukan usaha secara aktif minimal 6 bulan, berdasarkan atas hasil pemeriksaan oleh mantri.

b. Tidak sedang menerima kredit/pembiayaan modal kerja dan investasi dari perbankan atau tidak sedang menerima kredit program dari

40 Surat Edaran Direksi No: S. 21 –DIR/ADK/08/2015 h. 3

(36)

pemerintah kecuali kredit usaha rakyat (KUR) Mikro, yang dibuktikan dengan hasil Sistem Informasi Debitur Bank Indonesia (SID BI) pada saat permohonan kredit diajukan.

c. Dapat sedang menerima kredit konsumtif (kredit kepemilikan rumah, kredit kendaraan bermotor, dan kartu kredit) serta sedang menerima KUR Mikro di BRI dengan kolektibilitas 6 bulan terakhir lancar.

d. Dapat menerima KUR Mikro sepanjang total eksposur kredit yang dinikmati tidak melebihi maksimal plafond sebesar Rp 25.000.000

e. Memiliki identitas diri seperti KTP, Kartu Keluarga. Memiliki Surat Izin Usaha Mikro dan Kecil (IUMK) yang diterbitkan pemerintah daerah setempat atau Surat Keterangan Usaha dari kelurahan atau RT/RWdan Surat Keterangan Domisili.

f. Pelayanan KUR mikro harus tetap didasarkan pada prinsip kehati-hatian dan asas-asas pemberian kredit yang sehat, yaitu berdasarkan kelayakan usaha dan kemampuan calon debitur41.

5. Tabel Angsuran KUR PT Bank Rakyat Indonesia Unit Bantul Nominal

Pinjaman

6 bulan (sekali lunas)

12 bulan 18 bulan 24 bulan 1.000.000 1.042.900 87.500 59.600 45.700 2.000.000 2.085.800 174.900 119.100 91.400 3.000.000 3.128.600 262.400 178.700 137.100 4.000.000 4.171.500 349.800 238.300 182.700 5.000.000 5.214.300 437.300 297.900 228.400 6.000.000 6.257.100 524.700 357.400 274.100 7.000.000 7.300.000 612.200 417.000 319.800 8.000.000 8.342.800 699.600 476.600 365.500 9.000.000 9.385.700 787.100 536.200 411.200

41 Surat Edaran Direksi No: S. 21 –DIR/ADK/08/2015 h. 4

(37)

10.000.000 10.428.500 874.500 595.700 456.800 11.000.000 11.471.300 962.000 655.300 502.500 12.000.000 12.514.200 1.049.400 714.900 548.200 13.000.000 13.557.000 1.136.900 774.400 593.900 14.000.000 14.599.900 1.224.300 834.000 639.600 15.000.000 15.642.700 1.311.800 893.600 685.300 16.000.000 16.685.500 1.399.200 953.200 730.900 17.000.000 17.728.400 1.486.700 1.012.700 776.600 18.000.000 18.771.200 1.574.100 1.072.300 822.300 19.000.000 19.814.100 1.661.600 1.131.900 868.000 20.000.000 20.856.900 1.749.000 1.191.400 913.700 21.000.000 21.899.700 1.836.500 1.251.000 959.400 22.000.000 22.942.600 1.923.900 1.310.600 1.005.000 23.000.000 23.985.400 2.011.400 1.370.200 1.050.700 24.000.000 25.028.300 2.098.800 1.429.700 1.096.400 25.000.000 26.071.100 2.186.300 1.489.300 1.142.100

Tabel 2.1 Tabel Angsuran KUR42

C. Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Terjadinya Kredit Macet

Kredit macet dapat terjadi berawal dari kredit bermasalah seperti faktor intern dan ekstern. Faktor ekstern (nasabah) yaitu:

a. Itikad tidak baik dari debitur, Menurunnya usaha debitur yang akan mengakibatkan turunnya kemampuan debitur untuk membayar angsuran.

b. Pengelolaan usaha debitur tidak berjalan dengan baik, Penggunaan kredit tidak sesuai dengan tujuan semula.

c. Akibat perubahan eksternal lingkungan seperti perubahan kebijakan pemerintah berupa peraturan perundangan, kenaikan harga/biaya-biaya, dan lain sebagainya yang berpengaruh secara langsung atau tidak langsung terhadap usaha debitur.

42 Dokumentasi Bank Rakyat IndonesiaUnit Bantul, hari Rabu 19 April 2017

(38)

d. Riwayat nasabah, riwayat nasabah menjadi satu-satunya dasar keputusan kredit, sehingga mengabaikan analisa kredit.

e. Pemutusan hubungan kerja (PHK)43.

Selain faktor-faktor diatas penyebab lainnya yang mempengaruhi terjadinya kredit macet adalah faktor intern (Bank):

1) Kelemahan dalam analisa kredit, ini bisa disebabkan oleh berbagai hal diantaranya yaitu lemahnya kebijakan dan SOP analisa kredit, kurangnya kemampuan pegawai dalam menganalisa kredit dan kurangnya informasi yang diterima bank.

2) Bank terlalu ekspansif, untuk mengejar target penyaluran kredit bank mengabaikan aspek analisa yang baik atau menurunkan tingkat kehati- hatiannya.

3) Itikad tidak baik dari petugas BRI, Kekurangmampuan petugas BRI unit dalam pengelolaan pemberian kredit mulai dari pengajuan permohonan sampai kredit dicairkan, Kelemahan dan kurang efektifnya petugas BRI unit dalam membina debitur.

4) Asal ada agunan, bank hanya melihat agunan sebagai dasar keputusan pemberian kredit, sehingga faktor-faktor analisa yang lainnya terabaikan.

5) Realisasi kredit yang tidak tepat waktu, keputusan dan pencairan kredit yang terlalu lama, menyebabkan nasabah tidak dapat mengalokasikan dananya sesuai dengan kebutuhannya.

43 Surat Keputusan, No. S. 277 –DIR/ADK/12/2011, h. 1

(39)

6) Plafon kredit yang tidak sesuai kebutuhan nasabah. Plafon kredit yang terlalu kecil menyebabkan nasabah tidak dapat menggunakan dananya dengan optimal, sehingga mungkin akan menghambat usahanya.

Sedangkan plafon kredit yang terlalu besar menyebabkan nasabah tidak dapat memenuhi kewajibannya44.

D. Langkah-Langkah Mengatasi Kredit Macet

1. Tindakan untuk Mencegah Timbulnya Kredit Macet

Beberapa langkah konkrit dalam tindakan konservatif tersebut adalah : a. Mengikuti prosedur pemberian kredit dengan baik

b. Hindari sikap subjektivitas dalam pemberian kredit.

c. Seorang AO harus memiliki prinsip sendiri berdasarkan analisis yang dilakukannya.

d. Jangan segan-segan menolak suatu permohonan kredit kalau memang dari hasil analisis diperoleh kesimpulan tidak layak untuk dibiayai oleh bank.

e. Lengkapi dokumentasi sebelum kredit direalisasi.

f. Seorang AO/ mantri harus menyadari bahwa tidak semua keinginan nasabah dapat dan harus dipenuhi oleh bank.

g. Memantau perkembangan aktivitas rekening debitur pada bank.

h. Melakukan kunjungan ke debitur secara teratur secara periodik.

44 http://usaha-umkm.blogspot.co.id/2009/09 hari Selasa, 13 Juni 2017 pukul 07.15

(40)

i. Untuk kredit yang berbentuk cicilan seperti Term Loan, KPR, dll AO dapat melakukan pemantauan dengan memperhatikan ketertiban cicilan setiap periode angsuran45.

2. Upaya Penyelamatan terhadap Kredit Macet

a. Rescheduling yaitu Suatu tindakan yang diambil dengan cara memperpanjang jangka waktu kredit atau jangka waktu angsuran. Kredit yang memperoleh fasilitas rescheduling hanyalah debitur yang memenuhi persyaratan tertentu antra lain, usaha debitur mememiliki prospek untuk bangkit kembali dan debitur menunjukan itikad baik.

Dalam proses rescheduling ini tunggakan pokok dan bunga di jumlahkan (dikapitalisasi) untuk kemudian di jadwalkan kembali pembayaran untuk di buat perjanjian rescheduling tersendiri.

b. Reconditioning Yaitu perubahan sebagian atau seluruh syarat-syarat kredit yang tidak terbatas pada perubahan jadwal pembayaran, jangka waktu dan persyaratan lainya sepanjang tidak menyangkut perubahan maksimal saldo kredit. Dalam reconditioning ini dapat pula diberikan kepada debitur keringanan berupa pembebasan sebagian bunga tertunggak atau penghentian perhitungan bunga bagi debitur yang bersifat jujur, terbuka dan kooperatif serta usahanya masih potensial dapat beroperasi dengan menguntungkan namun mengalami kesulitan keuangan.

45 Surat Keputusan, No. S. 277 –DIR/ADK/12/2011, h. 7

(41)

Maksudnya adalah bank mengubah berbagai persyaratan seperti;

Kapitalisasi bunga, Penundaan pembayaran bunga sampai waktu tertentu, Penurunan suku bunga, Pembebasan bunga, Kombinasi dari berbagai alternative, dan Penyitaan jaminan.

c. Restructuring Merupakan tindakan bank kepada nasabah dengan cara menambah modal nasabah dengan pertimbangan nasabah memang membutuhkan tambahan dana dan usaha yang dibiayai memang masih layak. Tujuan dari restrukturisasi kredit yaitu untuk penyelamatan kredit sekaligus menyelamatkan usaha debitur agar kembali sehat46.

3. Upaya dari Mantri untuk Menangani Kredit Macet

a. Setiap bulan minimal 1x petugas harus melakukan kunjungan untuk memantau usahanya serta melakukan penagihan terhadap debitur.

Khusus untuk debitur yang kreditnya telah dihapusbukukan (daftar hitam/DH) maka dilakukan pembinaan minimal 1x dalam setahun atau minimal 50 debitur per BRI unit dalam setahun.

b. Mengingat pemberian kredit kepada bekas debitur daftar hitam dianggap mengandung risiko yang cukup tinggi, maka Pinca/MBM/AMBM/Kaunit perlu lebih intensif dalam melakukan pembinaan maupun pengawasan.

c. Pada saat pelaksanaan penghapusbukuan kredit, kaunit harus meyakini bahwa putusan tersebut telah diputus oleh pejabat yang berwenang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

46 Hermansyah, Hukum Perbankan Nasional Indonesia, (Jakarta: Prenada Media Group, 2005), Edisi Kedua h. 76

(42)

d. Terhadap kredit yang telah dihapusbukukan, Pinca/MBM/AMBM/kaunit harus memastikan bahwa pelaksanaan penghapusbukuan kredit tersebut telah dilakukan sesuai dengan ketentuan.

e. Terhadap kredit yang telah dihapusbukukan dan dihentikan penagihannya, Pinca/AMBM/MBM/Kaunit harus memastikan bahwa proses pelaksanaan penghentian penagihan kredit tersebut telah sesuai dengan ketentuan47.

4. Pengelolaan terhadap Kredit yang telah Dihapusbukukan

Kredit yang telah dihapusbukukan adalah kredit yang secara akuntansi telah dikeluarkan pencatatannya dari rekening aktiva BRI Unit, namun secara Yuridis kredit tersebut masih merupakan aset BRI Unit yang secara terus-menerus tetap harus ditagih pelunasannya dan harus diselesaikan oleh debitur yang bersangkutan.

a. Penyelesaian secara damai yaitu dapat diselesaikan secara bertahap (angsuran) atau lunas sekaligus berdasarkan kesepakatan antara debitur dan kreditur (Bank) sesuai dengan ketentuan yang berlaku dengan melalui pemberian fasilitas keringanan bunga dan penjualan agunan dibawah tangan. Penjualan agunan dibawah tangan maksudnya adalah debitur masih diberikan kesempatan untuyk menawarkan/ menjual sendiri agunannya.

b. Penyelesaian melalui jalur hukum yaitu apabila upaya restrukturisasi/

penyelesaian secara damai sudah diupayakan secara maksimal dan belum

47 Surat keputusan No. S. 277 –DIR/ ADK/ 12/ 201, h. 5

(43)

memberikan hasil atau debitur tidak menunjukkan itikad baiknya dalam menyelesaikan kredit maka penyelesaian dilakukan melalui jalur hukum.

Penyelesaian melalui saluran hukum harus didasarkan pada keyakinan bahwa posisi BRI dari segi yuridis kuat dan beban biaya beracara (litigasi) yang ringan48.

48 Surat Keputusan, No. S. 277 –DIR/ADK/12/2011 h. 9

(44)

A. Sejarah PT Bank Rakyat Indonesia Unit Bantul Cabang Metro

Bank Rakyat Indonesia (BRI) adalah salah satu bank milik pemerintah yang terbesar di Indonesia. Pada awalnya Bank Rakyat Indonesia (BRI) didirikan di Purwokerto, Jawa Tengah oleh Raden Bei Aria Wirjaatmadja dengan nama De Poerwokertosche Hulp en Spaarbank der Inlandsche Hoofden atau "Bank Bantuan dan Simpanan Milik Kaum Priyayi Purwokerto", suatu lembaga keuangan yang melayani orang-orang berkebangsaan Indonesia (pribumi). Lembaga tersebut berdiri tanggal 16 Desember 1895, yang kemudian dijadikan sebagai hari Kelahiran BRI.

Pada periode setelah kemerdekaan RI, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 1 tahun 1946 Pasal 1 disebutkan bahwa BRI adalah sebagai Bank Pemerintah pertama di Republik Indonesia. Dalam masa perang mempertahankan kemerdekaan pada tahun 1948, kegiatan BRI sempat terhenti untuk sementara waktu dan baru mulai aktif kembali setelah perjanjian Renville pada tahun 1949 dengan berubah nama menjadi Bank Rakyat Indonesia Serikat. Pada waktu itu melalui PERPU No. 41 tahun 1960 dibentuklah Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN) yang merupakan peleburan dari BRI, Bank Tani Nelayan dan Nederlandsche Maatschappij (NHM). Kemudian berdasarkan Penetapan Presiden (PenPres) No. 9 tahun

(45)

1965, BKTN diintegrasikan ke dalam Bank Indonesia dengan nama Bank Indonesia Urusan Koperasi Tani dan Nelayan.

Setelah berjalan selama satu bulan, keluar Penetapan Presiden No. 17 tahun 1965 tentang pembentukan bank tunggal dengan nama Bank Negara Indonesia. Dalam ketentuan baru itu, Bank Indonesia Urusan Koperasi, Tani dan Nelayan (eks BKTN) diintegrasikan dengan nama Bank Negara Indonesia unit II bidang Rural, sedangkan NHM menjadi Bank Negara Indonesia unit II bidang Ekspor Impor (Exim).

Berdasarkan Undang-Undang No. 14 tahun 1967 tentang Undang-undang Pokok Perbankan dan Undang-undang No. 13 tahun 1968 tentang Undang- undang Bank Sentral, yang intinya mengembalikan fungsi Bank Indonesia sebagai Bank Sentral dan Bank Negara Indonesia Unit II Bidang Rular dan Ekspor Impor dipisahkan masing-masing menjadi dua Bank yaitu Bank Rakyat Indonesia dan Bank Ekspor Impor Indonesia. Selanjutnya berdasarkan Undang-undang No. 21 tahun 1968 menetapkan kembali tugas-tugas pokok BRI sebagai bank umum.

Sejak 1 Agustus 1992 berdasarkan Undang-Undang Perbankan No. 7 tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah RI No. 21 tahun 1992 status BRI berubah menjadi perseroan terbatas. Kepemilikan BRI saat itu masih 100% di tangan Pemerintah Republik Indonesia. Pada tahun 2003, Pemerintah Indonesia memutuskan untuk menjual 30% saham bank ini, sehingga menjadi perusahaan publik dengan nama resmi PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., yang masih digunakan sampai dengan saat ini.

(46)

Bank Rakyat Indonesia adalah salah satu bank terbesar yang ada di Indonesia dan merupakan milik pemerintah. Dalam memasarkan produknya, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk. mendirikan kantor cabang dan kantor unit di seluruh Indonesia. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk.

Unit Bantul Cabang Metro adalah salah satu kantor unit yang ada di Indonesia yang bertempat di Jl. Iring Mulyo, Kec.Metro Selatan, Kotamadya

Kota Metro, Lampung yang memiliki karyawan sebanyak 11 orang49.

B. Visi dan Misi PT Bank Rakyat Indonesia Unit Bantul Cabang Metro 1. Visi

a. Menjadi bank komersial terkemuka yang selalu mengutamakan kepuasan nasabah.

2. Misi

a. Melakukan kegiatan perbankan yang terbaik dengan mengutamakan pelayanan kepada usaha mikro, kecil dan menengah untuk menunjang peningkatan ekonomi masyarakat.

b. Memberikan pelayanan prima kepada nasabah melalui jaringan kerja yang tersebar luas dan didukung oleh sumber daya manusia yang professional dan teknologi informasi yang handal dengan melaksanakan manajemen risiko serta praktek Good Corporate Governance (GCG) yang sangat baik.

49 www. Bri.co.id diakses hari Selasa, 13 Juni 2017 pukul 08.00

(47)

c. Memberikan keuntungan dan manfaat yang optimal kepada pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders)50.

C. Struktur Organisasi PT Bank Rakyat Indonesia Unit Bantul Cabang Metro

Struktur organisasi secara umum diartikan suatu kegiatan untuk menyusun pembagian kerja supaya dapat dilakukan dengan mudah sesuai dengan tujuan.

Didalam struktur organisasi ini menunjukan suatu garis perintah dan hubungan antar bagian sehingga dapat dilihat bagian itu mempunyai tugas masing- masing.

Gambar 3. 1 Struktur Organisasi PT Bank Rakyat Indonesia Unit Bantul

Sumber: BRI Unit Bantul Metro

Susunan organisasi PT Bank Rakyat Indonesia Unit Bantul Metro terdiri dari:

50 www. Bri.co.id diakses hari Selasa, 13 Juni 2017 pukul 08.00

KA UNIT NGATIJO

TELLER DINI NURMALIA DEKSMAN

1. RAMA RIHANDI 2. DESI KARLINA 3. RITA DWIYANI S.

MANTRI 1. NURANI 2. DANI S.

3. IDI PANGESTU 4. RESTI LARASATI

(48)

1. Kepala PT Bank Rakyat Indonesia Unit bantul Cabang Metro (KA UNIT)

KA UNIT merupakan seorang pimpinan yang selalu memberikan arahan, contoh dan juga motivasi untuk melaksanakan fungsi manajemen di Bank Rakyat Indonesia Unit Bantul dalam mengimplementasikan strategi pengembangan kinerja bisnis mikro dengan menciptakan dan memanfaatkan peluang untuk mencapai RKA dan meningkatkan pertumbuhan bisnis mikro.

Tugas dan Wewenang

a. Kepala Unit membawahi mantri-mantri, deskman, dan teller.

b. Melaksanakan prosedur kredit.

c. Mendiskusikan Rapat Kerja Anggaran dengan Unit Bisnis Manajerial dan menegosiasikan dengan Assistant Manajer Bisnis Mikro/Pimpinan Cabang.

d. Mengoptimalkan kinerja BRI Unit.

e. Berperan serta secara aktif dalam strategi pengembangan bisnis serta menjalin hubungan professional dengan debitur dan dana dari masyarakat yang terkait.

f. Menyampaikan masalah-masalah yang timbul berkaitan dengan kredit kepada atasannya.

(49)

g. Bertanggung jawab atas kebenaran analisis kredit yang akan diputus Assistant Manajer Bisnis Mikro dan Pimpinan Cabang dan memutus kredit sesuai dengan kewenangannya51.

2. Mantri

Mantri adalah seorang petugas yang mempunyai kewajiban untuk melaksanakan pemasaran produk bisnis (pinjaman, simpanan, dan jasa bank lainnya).

Tugas dan Wewenang

a. Melaksanakan prosedur kredit di Unit kerjanya.

b. Mempelajari dan melakukan analisis terhadap potensi ekonomi di wilayah kerjanya.

c. Mempersiapkan dan melaksanakan rencana bisnis prioritas terhadap debitur dan menetapkan prioritas pembinaan atas debitur yang di kelolanya.

d. Bertindak sebagai pemrakarsa/penganalisa dan perekomendasi untuk setiap permohonan kredit.

e. Melaporkan situasi dan kondisi bisnis debitur baik yang masih lancar maupun memburuk serta memberikan usul saran pemecahan atau penanggulangannya (RTL) dan menindak lanjuti RTL yang sudah diputus Kaunit52.

51 Berdasarkan wawancara dengan bapak Ngatijo selaku Kepala Unit Bank Rakyat Indonesia Bantul hari Jum’at, 7 April 2017

52 Berdasarkan wawancara dengan bapak Ngatijo selaku Kepala Unit Bank Rakyat Indonesia Bantul hari Jum’at, 7 April 2017

(50)

3. Deskman/Customer service

Customer service adalah pelayanan yang disediakan oleh suatu perusahaan untuk melayani kebutuhan dan memberikan kepuasan kepada pelanggan yang biasanya meliputi penerimaan order/pesanan barang, menjawab pertanyaan-pertanyaan atau memberikan informasi, dan penanganan keluhan-keluhan yang berhubungan dengan produk yang ditawarkan oleh perusahaan yang bersangkutan.

Tugas dan Wewenang

a. Menata usaha register-register yang berkaitan dengan pemberian kredit.

b. Menata usaha register pemberantasan tunggakan.

c. Memberikan pelayanan administrasi kepada nasabah atau calon nasabah pinjaman dengan sebaik-baiknya.

d. Mengelola penyimpanan berkas-berkas pinjaman dan melakukan review dokumen sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

e. Mengerjakan semua laporan BRI yang berkaitan dengan kredit53. 4. Teller

Teller merupakan seorang petugas dari pihak bank yang berfungsi untuk melayani nasabah dalam hal transaksi keuangan perbankan kepada semua nasabahnya. Teller adalah Petugas bank yang bertanggung jawab untuk menerima simpanan, mencairkan cek, dan memberikan jasa pelayanan perbankan lain kepada masyarakat.

53 Berdasarkan wawancara dengan bapak Ngatijo selaku Kepala Unit Bank Rakyat Indonesia Bantul hari Jum’at, 7 April 2017

(51)

Tugas dan Wewenang

a. Membuat aplikasi tambahan kas awal dan menerima uang dari supervisor, Menerima uang setoran dari nasabah dan mencocokan dengan tanda setoran.

b. Meneliti keabsahan bukti yang diterima masuk kelengkapan MCS sebesar dibayarkan kepada yang berhak, Mengesahkan dalam OLSIB dan menandatangani bukti kas atas transaksi yang melebihi batas wewenangnya.

c. Meminta pengesahan/flat bayar kepada pejabat yang berwenang atas transaksi yang melebihi batas wewenangnya.

d. Mengelola dan menyetorkan uang fisik kas kepada Supervisor baik selama pelayanan kas maupun akhir hari, Memelihara kerjakan register perincian sisa kas.

e. Membayar biaya-biaya hutang, realisasi kredit dan transaksi lainnya yang kwitansinya telah disahkan oleh pejabat yang berwenang54. Dalam melaksanakan tugasnya sebagai Kepala Unit, Mantri, Deksman dan Teller tentu tidak terlepas dari prosedur yang telah ditetapkan. Kepala Unit Bank Rakyat Indonesia unit Bantul selalu menghimbau untuk melaksanakan tugasnya secara teliti dan hati-hati, serta mempunyai prinsip untuk tidak bekerja hanya mengejar target semata tetapi juga harus saling membantu dan melindungi antar pekerja lain.

54 Berdasarkan wawancara dengan bapak Ngatijo selaku Kepala Unit Bank Rakyat Indonesia Bantul hari Jum’at, 7 April 2017

(52)

D. Pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat di PT Bank Rakyat Indonesia Unit Bantul Cabang Metro

Bank Rakyat Indonesia Unit Bantul dalam melaksanakan Kredit Usaha Rakyat tentunya menerapkan prinsip kehati-hatian. Prinsip kehati-hatian bank (prudential bank) merupakan penentu dalam proses permohonan kredit, sehingga berpengaruh terhadap perjanjian kredit yang akan dibuat dengan nasabah sebagai debitur. Salah satu aspek dari prinsip kehati-hatian tersebut yang merupakan bagian pertama dari analisa kredit yaitu aspek character.

Pelaksanaan pemberian Kredit Usaha Rakyat pada BRI Unit Bantul Cabang Metro melalui beberapa tahapan yaitu:

1. Tahap Prakarsa dan Permohonan Kredit

Calon debitur mengajukan permohonan Kredit Usaha Rakyat (KUR) secara tertulis kepada pihak BRI. Calon debitur KUR datang ke kantor BRI Unit Bantul, kemudian dengan dibantu oleh Customer Service, calon debitur KUR mengisi formulir pendaftaran atau formulir pengajuan permohonan KUR yang sudah disediakan pihak bank, kemudian ditandatangani oleh pemohon. Setelah itu berkas diperiksa oleh CS dan diserahkan kepada Ka Unit55.

2. Tahap Analisis Kredit/ Tahap Evaluasi

Pada tahap pemeriksaan, setelah syarat-syarat dilengkapi, pihak BRI Unit Bantul dalam hal ini Mantri (account officer) akan melakukan checking/

analisis serta peninjauan langsung ke lapangan tentang layak atau

55 Berdasarkan wawancara dengan bapak Rama Rihandi selaku CS/ PA KUR, hari Senin 17

April 2017

(53)

tidaknya calon debitur diberikan pinjaman dengan menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan permohonan KUR tersebut. Mantri juga melakukan pemeriksaan terhadap agunan atau jaminan yang akan dijaminkan56.

3. Tahap Penetapan dan Tipe Struktur

Pada tahap ini Mantri setelah melakukan analisis terhadap debitur maka akan membuat usulan tipe dan struktur kredit seperti pola pembayaran angsuran serta dalam jangka waktu berapa debitur tersebut dapat mengembalikan pinjaman itu.

4. Tahap Pemrakarsa

Tugas seorang Mantri pada tahap ini yaitu memberikan rekomendasi- rekomendasi kredit terhadap debitur yang mengajukan pinjaman tersebut.

5. Tahap Pemberian Keputusan

Tahap ini, calon debitur akan memperoleh keputusan kredit yang berisi persetujuan akan adanya pemberian Kredit Usaha Rakyat sesuai dengan analisis yang telah dilakukan. Sebelum pemberian putusan Kepala Unit Bantul wajib meneliti dan memastikan bahwa dokumen-dokumen yang berkaitan atau yang mendukung pemberian keputusan kredit masih berlaku lengkap, sah, dan berkekuatan hukum. Biasanya pemberian putusan dilakukan 3-5 hari setelah pendaftaran permohonan Kredit Usaha Rakyat diajukan.

56 Berdasarkan wawancara dengan Ibu Nurani selaku Mantri, hari Rabu 19 April 2017

Gambar

Tabel 2.1 Tabel Angsuran KUR 42
Gambar 3. 1 Struktur Organisasi PT Bank Rakyat Indonesia Unit Bantul

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Usaha penilaian terhadap nilai-nilai budaya kerja memiliki hubungan yang nyata dan kinerja karyawan yang mampu diharapkan mampu mendorong karyawan untuk melakukan tugas dan tanggung

BRISyariah Kantor Cabang TanjungKarang menyediakan layanan perbankan melalui media elektronik yaitu telepon, yang digunakan untuk memberikan kepuasan kepada pihak nasabah melalui